Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24140 | 19 Feb 2026
Klinis : bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan fleudo penumo thorak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan Efusi Pleura (Pneumothorax)
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Dalam konteks efusi pleura atau pneumothorax, kondisi ini terjadi karena penekanan mekanis pada jaringan paru oleh cairan (efusi) atau udara (pneumothorax) di rongga pleura, yang membatasi ekspansi paru dan mengganggu mekanisme batuk serta pertukaran gas.
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : SLKI 3201: Manajemen Jalan Napas. Tujuan akhir dari intervensi keperawatan adalah memastikan jalan napas pasien tetap paten dan bersih dari obstruksi. Pada pasien dengan efusi pleura atau pneumothorax, ini mencakup pencapaian dan pemeliharaan kepatenan jalan napas meskipun ada kompresi eksternal pada paru. Indikator keberhasilannya meliputi suara napas yang bersih atau sesuai kondisi dasar di area paru yang masih dapat berkembang, tidak adanya atau berkurangnya suara napas tambahan seperti stridor atau mengi akibat sekresi yang tertahan, serta kemampuan pasien untuk mengeluarkan sekresi secara efektif jika batuk masih memungkinkan. Selain itu, parameter seperti saturasi oksigen dalam rentang target, frekuensi dan irama pernapasan yang membaik, serta pengurangan tanda-tanda distress pernapasan (seperti penggunaan otot bantu napas, nasal flaring, sianosis) menjadi tolok ukur penting. SLKI ini berfokus pada hasil pemulihan fungsi jalan napas melalui pengurangan faktor kompresi dan optimalisasi fungsi paru yang tersisa.
Kode SIKI: 4320
Deskripsi : SIKI 4320: Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan ini merupakan serangkaian tindakan sistematis untuk memastikan, mempertahankan, atau memulihkan kepatenan jalan napas pada pasien dengan ancaman atau gangguan obstruksi. Pada kondisi efusi pleura/pneumothorax, tindakan spesifik meliputi: 1) **Pemantauan dan Pengkajian**: Memantau status pernapasan secara ketat (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas), auskultasi suara napas secara berkala untuk mendeteksi area penurunan/hilangnya suara napas dan bunyi tambahan, memonitor saturasi oksigen dan tanda-tanda vital, serta mengobservasi adanya sianosis dan kecemasan. 2) **Posisi**: Menempatkan pasien pada posisi yang memfasilitasi ekspansi paru maksimal, seperti posisi semi-Fowler atau duduk tinggi, serta mungkin memiringkan ke sisi yang sehat untuk mengurangi tekanan pada paru yang terdampak (kecuali kontraindikasi). 3) **Manajemen Sekresi**: Melakukan fisioterapi dada (jika diindikasikan dan aman), mengajarkan dan membimbing latihan napas dalam serta batuk efektif, serta melakukan penghisapan jalan napas (suction) jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekresi sendiri. 4) **Terapi Oksigen**: Memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan dan resep untuk mempertahankan oksigenasi yang adekuat. 5) **Kolaborasi dan Persiapan Tindakan**: Berkolaborasi dengan tim medis dalam persiapan dan perawatan tindakan invasif seperti pemasangan *water-sealed drainage* (WSD) atau torakostomi untuk mengeluarkan udara/cairan dari rongga pleura, yang merupakan tindakan definitif untuk mengatasi penyebab tidak efektifnya bersihan jalan napas. 6) **Edukasi dan Dukungan**: Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang kondisi, tujuan tindakan, serta pentingnya melaporkan segera jika sesak bertambah berat. 7) **Manajemen Nyeri**: Mengelola nyeri dada secara adekuat karena nyeri dapat membatasi pernapasan dalam dan batuk, sehingga memperburuk bersihan jalan napas. Intervensi ini bersifat dinamis dan terus-menerus dievaluasi berdasarkan respons pasien, dengan tujuan akhir mendukung resolusi efusi/pneumothorax dan pemulihan fungsi jalan napas yang independen.
-
Article No. 24141 | 19 Feb 2026
Klinis : Keluhan: Mengeluh nyeri perut berulang dan sesak napas pada usia kehamilan 29 minggu. Riwayat kesehatan: Pernah keguguran 2x 2. Riwayat Obstetri Bad Obstetric History (BOH) dengan dua kali aborsi spontan sebelumnya pada usia gestasi 4 bulan 3. Data Laboratorium dan Diagnostik •Serologi : Hasil tes TORCH positif untuk rubella IgG dan CMV IgG •USG Janin: Polyhydramnios, edema subkutan pada kepala, leher, dan wajah (hydrops fetalis). Efusi pleura bilateral, ascites, serta kelainan thorax. •Kondisi janin: infusiensi fetoplasenta dan absent and diastolic flow pada arteri umbilikalis 4. Pemeriksaan Fisik •TD 110/80 mmHg •RR 16x/menit •Nadi 76x/menit • Suhu tubuh normal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Berdasarkan SDKI, SLKI, SIKI
Berdasarkan data pasien yang diberikan, berikut adalah rumusan diagnosa keperawatan, luaran keperawatan, dan intervensi keperawatan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) melalui standar SDKI, SLKI, dan SIKI.
Analisis Data Pasien:
- Keluhan Ibu: Nyeri perut berulang, sesak napas (usia kehamilan 29 minggu).
- Riwayat Obstetri: Bad Obstetric History (BOH) dengan dua kali aborsi spontan sebelumnya pada usia gestasi 4 bulan.
- Data Laboratorium: Serologi TORCH positif (Rubella IgG dan CMV IgG). Ini mengindikasikan infeksi masa lalu, namun dalam konteks hydrops fetalis, perlu dipertimbangkan kemungkinan reaktivasi atau infeksi primer yang terjadi selama kehamilan ini yang menyebabkan komplikasi janin.
- USG Janin: Polyhydramnios, edema subkutan pada kepala, leher, dan wajah (hydrops fetalis). Efusi pleura bilateral, ascites, serta kelainan thorax.
- Kondisi Janin: Insufisiensi fetoplasenta dan absent end-diastolic flow pada arteri umbilikalis (menunjukkan gawat janin/kompromi sirkulasi janin yang berat).
- Pemeriksaan Fisik Ibu: TD, RR, Nadi, Suhu dalam batas normal. Keluhan nyeri perut dan sesak napas pada ibu kemungkinan besar berkaitan dengan distensi uterus akibat polyhydramnios dan penekanan diafragma.
Dari data di atas, kondisi janin sangat kritis dan menjadi prioritas utama. Hydrops fetalis, insufisiensi fetoplasenta, dan absent end-diastolic flow adalah tanda-tanda gawat janin yang berat dan mengancam jiwa janin.
1. Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia (SDKI)
SDKI adalah panduan sistematis untuk merumuskan diagnosa keperawatan berdasarkan data klinis pasien. Diagnosa keperawatan yang paling relevan dan prioritas utama untuk kasus ini adalah:
Kode SDKI
Diagnosa Keperawatan
Definisi
Data Pendukung pada Pasien
D.0021
Risiko Gawat Janin
Berisiko mengalami kondisi janin yang mengancam kehidupan akibat gangguan keseimbangan suplai oksigen dan kebutuhan oksigen janin.
- Faktor Risiko:
- Insufisiensi plasenta (terbukti dari insufisiensi fetoplasenta dan absent end-diastolic flow pada arteri umbilikalis).
- Infeksi
-
Article No. 24143 | 19 Feb 2026
Klinis : Keluhan : Mengeluh nyeri perut berulang dan sesak napas pada usia kehamilan 29 minggu. Riwayat kesehatan: Pernah keguguran 2x 2. Riwayat Obstetri Bad Obstetric History (BOH) dengan dua kali aborsi spontan sebelumnya pada usia gestasi 4 bulan 3. Data Laboratorium dan Diagnostik •Serologi : Hasil tes TORCH positif untuk rubella IgG dan CMV IgG •USG Janin: Polyhydramnios, edema subkutan pada kepala, leher, dan wajah (hydrops fetalis). Efusi pleura bilateral, ascites, serta kelainan thorax. •Kondisi janin: infusiensi fetoplasenta dan absent and diastolic flow pada arteri umbilikalis 4. Pemeriksaan Fisik •TD 110/80 mmHg •RR 16x/menit •Nadi 76x/menit • Suhu tubuh normal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: