Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25130 | 16 Apr 2026
Klinis : Diagnosa utama global development delay
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Global Development Delay (Keterlambatan Perkembangan Global)
Kode SDKI: 0019
Deskripsi Singkat: Risiko keterlambatan perkembangan
Kode SLKI: 4306
Deskripsi : Perkembangan anak meningkat
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Fasilitasi perkembangan
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Keterlambatan Perkembangan (Kode 0019)
Diagnosa keperawatan SDKI 0019, "Risiko keterlambatan perkembangan," didefinisikan sebagai kondisi individu yang rentan mengalami keterlambatan dalam mencapai tonggak perkembangan fisik, kognitif, sosial, atau emosional yang diharapkan, yang dapat membahayakan kesehatan. Pada kasus Global Development Delay (GDD), kondisi ini bukan lagi sekadar risiko, tetapi telah menjadi masalah aktual. Namun, dalam konteks asuhan keperawatan yang berfokus pada peningkatan potensi dan pencegahan komplikasi lebih lanjut, penggunaan diagnosis "risiko" tetap relevan. Hal ini menekankan pada kerentanan anak untuk tidak mencapai perkembangan optimal di masa mendatang jika tidak diberikan intervensi yang tepat. Fokus perawat adalah mengidentifikasi area keterlambatan yang spesifik (motorik kasar/halus, bicara-bahasa, sosial-emosional, kognitif, aktivitas hidup sehari-hari) dan faktor-faktor yang memperberat, untuk kemudian merencanakan intervensi yang meminimalkan dampak dari keterlambatan tersebut dan memaksimalkan kemampuan anak.
Luaran Keperawatan (SLKI): Perkembangan Anak Meningkat (Kode 4306)
Luaran SLKI 4306, "Perkembangan anak meningkat," didefinisikan sebagai kemajuan dalam pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia. Luaran ini menjadi tujuan utama dari asuhan keperawatan pada anak dengan GDD. Peningkatan perkembangan di sini tidak selalu berarti mengejar ketertinggalan hingga setara dengan anak seusianya, tetapi lebih pada kemajuan yang bermakna dari titik awal kemampuan anak. Indikator luaran ini sangat komprehensif, mencakup: menunjukkan peningkatan keterampilan motorik kasar dan halus; menunjukkan peningkatan kemampuan komunikasi dan bahasa (reseptif dan ekspresif); menunjukkan peningkatan interaksi sosial dan respons emosional yang sesuai; menunjukkan peningkatan kemampuan kognitif seperti perhatian, memori, dan pemecahan masalah sederhana; serta mencapai tonggak perkembangan baru yang disesuaikan dengan potensi dan rencana intervensinya. Pengukuran luaran ini dilakukan melalui observasi terstruktur, alat skrining perkembangan, dan laporan dari orang tua/pengasuh tentang pencapaian anak.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Fasilitasi Perkembangan (Kode 4410)
Intervensi keperawatan SIKI 4410, "Fasilitasi perkembangan," didefinisikan sebagai memfasilitasi perkembangan yang optimal dengan menyediakan dukungan, sumber daya, dan lingkungan yang meningkatkan perkembangan. Intervensi ini adalah tindakan inti untuk mencapai luaran perkembangan anak yang meningkat. Aktivitasnya bersifat holistik dan kolaboratif. Pertama, Assessment: melakukan skrining perkembangan secara berkala menggunakan alat standar (seperti KPSP/Kuesioner Pra Skrining Perkembangan) dan observasi mendalam untuk memetakan kekuatan dan kelemahan anak. Kedua, Stimulasi: merancang dan menerapkan aktivitas stimulasi yang spesifik sesuai area keterlambatan, misalnya terapi bermain untuk motorik dan sosial, latihan komunikasi, atau aktivitas sensori-integrasi. Ketiga, Edukasi dan Pemberdayaan Keluarga: mengajarkan orang tua/keluarga teknik stimulasi yang dapat dilakukan di rumah, pentingnya konsistensi, dan cara menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung eksplorasi. Keempat, Kolaborasi dan Rujukan: bekerja sama dalam tim multidisiplin (dokter anak, terapis fisik, okupasi, wicara, psikolog, guru pendidikan khusus) untuk memastikan anak mendapatkan intervensi yang komprehensif. Kelima, Advokasi: mendukung keluarga dalam mengakses layanan kesehatan, pendidikan, dan dukungan sosial yang diperlukan. Inti dari intervensi ini adalah memampukan anak dan keluarganya untuk terlibat aktif dalam proses perkembangan, dengan perawat sebagai fasilitator, pendidik, dan koordinator asuhan.
-
Article No. 25131 | 16 Apr 2026
Klinis : Pasien post op craniotomy, hemoglobin 12,7, leukosit 14.040
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Perubahan Perfusi Jaringan Otak Pasca Craniotomy
Kode SDKI: 0026 - Risiko Infeksi
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap invasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 3920 - Manajemen Infeksi
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengurangi risiko dan mengendalikan penyebaran mikroorganisme infeksius. Pada pasien post-craniotomy dengan leukosit 14.040 (meningkat), fokus SLKI ini adalah pada pencegahan infeksi pada luka operasi, saluran napas, saluran kemih, dan aliran darah. Tindakan spesifik meliputi: 1) Teknik aseptik ketat dalam perawatan luka insisi kepala dan drain (jika ada), memantau tanda-tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, nyeri, drainase purulen, dan demam. 2) Mempertahankan kebersihan tangan sebelum dan setelah kontak dengan pasien atau lingkungannya. 3) Manajemen garis infus dan kateter dengan prinsip steril, mengganti balutan sesuai protokol, dan mengupayakan pemindahan secepat mungkin. 4) Melakukan toilet mulut dan perawatan kebersihan diri untuk mengurangi reservoir mikroorganisme. 5) Memantau tanda-tanda sistemik infeksi seperti peningkatan leukosit berkelanjutan, demam, dan perubahan status mental. 6) Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis atau terapeutik sesuai resep dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. 7) Edukasi pada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda infeksi yang perlu dilaporkan. Target luaran adalah luka operasi sembuh tanpa tanda infeksi, nilai leukosit kembali dalam rentang normal, dan tidak ada tanda-tanda infeksi sistemik.
Kode SIKI: 4501 - Pemantauan Neurologis
Deskripsi : Tindakan sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan data tentang fungsi sistem saraf. Pada pasien post-craniotomy, pemantauan neurologis ketat adalah inti dari asuhan keperawatan. Tindakan ini mencakup: 1) Pemantauan Tingkat Kesadaran (GCS/Glasgow Coma Scale) secara rutin dan berkala untuk mendeteksi penurunan dini. Perubahan kesadaran adalah tanda paling sensitif terhadap peningkatan tekanan intrakranial atau komplikasi lain. 2) Pemeriksaan pupil (ukuran, bentuk, kesamaan, dan reaksi terhadap cahaya) untuk menilai fungsi batang otak. Pupil anisokor (tidak sama) atau reaksi lambat adalah tanda bahaya. 3) Pemantauan fungsi motorik dan sensorik, termasuk kekuatan otot (skala 0-5), pola pernapasan, dan respons terhadap nyeri. Kelemahan pada salah satu sisi tubuh (hemiparesis) dapat mengindikasikan perdarahan atau edema. 4) Pemantauan tanda-tanda vital, khususnya pola napas (apakah ada Cheyne-Stokes, hiperventilasi, atau apnea) dan tekanan darah (menghindari hipertensi yang dapat memperburuk edema atau hipotensi yang menyebabkan hipoperfusi). 5) Observasi adanya kejang dan dokumentasi karakteristiknya. 6) Memantau drainase cairan serebrospinal (jika ada drain) untuk jumlah, warna, dan konsistensi. Drainase yang berlebihan atau berdarah perlu dilaporkan. 7) Mengkaji nyeri kepala, mual, dan muntah proyektil yang dapat menjadi tanda peningkatan tekanan intrakranial. Tindakan ini dilakukan secara komprehensif dan terdokumentasi dengan baik untuk memungkinkan deteksi dini dan intervensi cepat terhadap setiap perubahan neurologis, sehingga mencegah kerusakan otak permanen.
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: 0020 - Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat menyebabkan ketidakadekuatan nutrisi dan oksigenasi untuk mempertahankan fungsi jaringan otak.
Kode SLKI: 0802 - Pemeliharaan Perfusi Serebral
Deskripsi : Intervensi untuk mempromosikan aliran darah yang adekuat ke otak. Pada pasien pasca craniotomy, otak sangat rentan terhadap edema, perdarahan, atau vasospasme yang dapat mengganggu perfusi. SLKI ini meliputi: 1) Memposisikan kepala pasien pada elevasi 15-30 derajat dengan kepala dalam posisi netral (menghindari fleksi, ekstensi, atau rotasi) untuk memfasilitasi drainase vena dan menurunkan tekanan intrakranial. 2) Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, menghindari cairan hipotonik yang dapat memperberat edema serebral. 3) Memantau dan mempertahankan tekanan darah rata-rata (MAP) dalam rentang yang ditentukan (biasanya 80-100 mmHg) untuk menjamin tekanan perfusi serebral (CPP) yang adekuat. Kolaborasi pemberian obat vasoaktif jika diperlukan. 4) Menghindari faktor-faktor yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial (TIK) seperti batuk, mengejan, fleksi kepala, dan kompresi vena jugularis. 5) Memberikan oksigenasi yang adekuat untuk mencegah hipoksia serebral. 6) Mengelola nyeri dan agitasi dengan tepat karena dapat meningkatkan TIK. 7) Kolaborasi dalam pemberian obat-obatan seperti manitol atau hipertonik saline untuk mengurangi edema sesuai resep. 8) Memantau hasil pemeriksaan gas darah dan saturasi oksigen. Target luaran adalah pasien mempertahankan tingkat kesadaran yang baik, fungsi neurologis stabil atau membaik, dan tidak ada tanda-tanda peningkatan TIK yang mengancam perfusi otak.
Kode SIKI: 4501 - Pemantauan Neurologis
Deskripsi : (Deskripsi sama seperti di atas, karena SIKI Pemantauan Neurologis adalah tindakan kritis yang mendukung kedua diagnosa tersebut. Dalam konteks perfusi serebral, pemantauan ini secara khusus mengevaluasi kecukupan aliran darah ke otak). Tindakan sistematis dan berkelanjutan untuk mengumpulkan data tentang fungsi sistem saraf. Pada konteks risiko perfusi tidak efektif, fokusnya adalah mendeteksi tanda-tanda awal iskemia atau hipoksia otak. Ini termasuk: 1) Trend pengukuran GCS; penurunan skor GCS sebanyak 2 poin atau lebih adalah tanda kegawatan yang mungkin mengindikasikan penurunan perfusi. 2) Perubahan pada pupil, seperti dilatasi unilateral atau respons yang lambat, dapat menunjukkan herniasi akibat peningkatan TIK yang menghambat perfusi. 3) Perkembangan defisit motorik baru (seperti kelemahan sisi tubuh) atau peningkatan defisit yang ada. 4) Pemantauan tanda-tanda vital dengan cermat: hipertensi dengan bradikardia (refleks Cushing) adalah tanda klasik peningkatan TIK yang berat; hipotensi sangat berbahaya karena mengurangi tekanan perfusi serebral. 5) Observasi pola pernapasan; adanya periodik breathing seperti Cheyne-Stokes menunjukkan disfungsi batang otak. 6) Memantau keluhan subjektif pasien jika kooperatif, seperti sakit kepala hebat yang memberat atau penglihatan kabur. Pemantauan neurologis yang ketat dan berkelanjutan ini memungkinkan perawat untuk mengevaluasi efektivitas intervensi pemeliharaan perfusi dan segera melaporkan setiap penyimpangan, sehingga tindakan penyelamatan seperti imaging ulang atau intervensi bedah dapat dilakukan tepat waktu.
-
Article No. 25132 | 16 Apr 2026
Klinis : Pasien dengan penurunan kesadaran KU : lemah, kes : somnolen TD 133/80 mmHg HR 109 x/mnt RR 37 x/mnt S 36,9 C SPO2 58 % Status generalis Mata RC +/+, isokor 3mm/3mm, CA -/- Mulut bibir kering (+) Thorax SDV +/+ RBH -/- RBK -/- WHZ -/- Abdomen supel, BU (+), NT (-) Ext atas akral hangat , CRT < 2 detik, oedem -/- Ext Bawah akral hangat , CRT < 2 detik, oedem -/- Status Neurologis Sensorik sde Kekuatan motorik : lateralisasi (-) Refleks fisiologis: +3/+3// +3/+3 Refleks patologis: (-/-//-/-) Nistagmus: (-) Parese NC. XII (-) Parese NC. VII (-) Blink to threat (-) Visual pursuit (-) Voluntary eye movement (-) Meningeal sign (-) Hasil Lab Darah Rutin (15/04/26) Darah Rutin Hemoglobin 13.90 Eritrosit 4.37 Hematokrit 40.4 Lekosit 7.14 Trombosit 338 Golongan Darah A Elektrolit Natrium (Na) 140 Kalium (K) 3.8 Chlorida (Cl) 107 Calsium (Ca2+) 1.1 pH 7.55 Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu 123 Fungsi Hati AST (SGOT) 30 ALT (SGPT) 14 Fungsi Ginjal Ureum 36.4 Kreatinin 0.87 Hasil CT scan kepala non-kontras (15/04/26) Kesan : - Infark cerebri di periventrikuler dextra cornu anterior dengan gambaran atrophy cerebri Hasil Rontgen Thorax (15/04/26) Kesan : - Cardiomegali dan pulmo normal - Elongatio aortae dan aortosklerosis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0012
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana terjadi kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada kasus ini, ditandai dengan SpO2 yang sangat rendah (58%) dan frekuensi napas yang meningkat (37x/menit) sebagai upaya kompensasi tubuh. Hipoksemia berat ini sangat mungkin berkontribusi besar terhadap status kesadaran somnolen pasien, karena otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen. Faktor risiko yang mendukung adalah adanya cardiomegali yang dapat mengganggu fungsi pompa jantung dan mempengaruhi sirkulasi darah ke paru, serta kondisi neurologis (infark serebri) yang dapat mempengaruhi pusat pengaturan pernapasan.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Pertukaran Gas Membaik. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: saturasi oksigen dalam rentang normal (≥95%), frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20x/menit), tidak ada sianosis, dan gas darah arteri dalam batas normal. Pada pasien ini, tujuan utamanya adalah meningkatkan SpO2 dari 58% ke target minimal 90% sebagai stabilisasi awal, kemudian ke target normal. Pemantauan ketat terhadap pola napas, warna kulit/mukosa, dan tanda vital lainnya juga merupakan bagian dari luaran ini. Pencapaian luaran ini akan secara langsung mendukung perbaikan status kesadaran.
Kode SIKI: I.08031
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan yang harus dilakukan meliputi: 1) Mempertahankan jalan napas paten dengan posisi yang tepat (misalnya, semi-fowler atau lateral jika ada risiko aspirasi). 2) Melakukan fisioterapi dada jika diperlukan. 3) Mengelola terapi oksigen sesuai resep (dalam kondisi ini sangat kritis, memerlukan pemberian oksigen dengan alat aliran tinggi atau mungkin bantuan ventilasi). 4) Memantau status pernapasan dan oksimetri nadi secara terus menerus. 5) Melakukan suction untuk membersihkan sekret jika ada. 6) Kolaborasi pemberian bronkodilator atau terapi lain sesuai indikasi. Intervensi ini bersifat mendesak untuk mengatasi ancaman hipoksia yang mengancam jiwa.
Kondisi: Penurunan Kesadaran
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Keadaan penurunan kemampuan dalam memberikan respons terhadap rangsangan dari lingkungan. Pada pasien ini, kesadaran somnolen (hanya dapat dibangunkan dengan rangsang kuat dan segera tertidur kembali) merupakan temuan sentral. Penyebabnya multifaktorial, dengan hipoksemia berat (SpO2 58%) sebagai faktor utama yang dicurigai. Selain itu, hasil CT scan menunjukkan adanya infark serebri di periventrikel kanan, yang secara langsung merusak jaringan otak dan mengganggu fungsi sistem aktivasi retikularis yang mengatur kesadaran. Kombinasi kerusakan struktural otak dan gangguan fisiologis (hipoksia) saling memperberat kondisi penurunan kesadaran ini.
Kode SLKI: L.03002
Deskripsi : Status Neurologis Membaik. Luaran yang diharapkan mencakup: tingkat kesadaran yang membaik (dari somnolen menuju compos mentis), fungsi kognitif dan persepsi sensorik membaik, serta tanda-tanda neurologis dalam batas normal. Secara spesifik, tujuan jangka pendek adalah mencegah memburuknya kesadaran dan mempertahankan respons terhadap rangsangan. Pemantauan ketat menggunakan skala seperti Glasgow Coma Scale (GCS) sangat penting. Peningkatan kesadaran akan mengikuti perbaikan pertukaran gas dan stabilisasi kondisi neurologis.
Kode SIKI: I.08026
Deskripsi : Pemantauan Neurologis. Intervensi ini meliputi: 1) Mengkaji tingkat kesadaran secara teratur dan berkala menggunakan alat ukur baku (GCS). 2) Memantau ukuran dan reaksi pupil (isokor, CA -/- pada pasien ini masih normal). 3) Mengkaji fungsi motorik dan sensorik (kekuatan motorik, refleks). 4) Memantau tanda-tanda vital dan tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial (walau pada laporan tidak ada, tetapi harus diwaspadai pada kondisi infark). 5) Melindungi pasien dari cedera akibat disorientasi atau penurunan kesadaran. 6) Kolaborasi dalam pemberian terapi untuk mengatasi penyebab dasar (neurologis dan pernapasan). Pemantauan yang cermat diperlukan untuk mendeteksi perubahan yang bisa mengancam jiwa.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: D.0021
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana seseorang berisiko mengalami ketidakmampuan mempertahankan tekanan darah dalam batas normal yang dapat mengganggu fungsi tubuh. Meskipun tekanan darah saat ini masih dalam batas (133/80 mmHg), terdapat beberapa faktor risiko yang signifikan: pertama, takikardia (HR 109x/mnt) dapat menjadi respons kompensasi terhadap hipoksia berat atau kegagalan pompa jantung dini. Kedua, adanya cardiomegali dan elongatio aortae dari hasil rontgen thorax menunjukkan kemungkinan disfungsi jantung atau peningkatan afterload. Ketiga, kondisi neurologis (infark serebri) dapat mengganggu regulasi otonom tekanan darah. Pasien berisiko mengalami hipotensi akibat kegagalan sirkulasi atau hipertensi sekunder akibat respons stres tubuh.
Kode SLKI: L.03005
Deskripsi : Status Sirkulasi Membaik. Luaran yang diharapkan adalah tekanan darah dan denyut nadi dalam rentang normal yang dapat diterima untuk pasien, pengisian kapiler baik (CRT < 2 detik sudah baik), dan tidak ada tanda syok. Target spesifik adalah menstabilkan denyut jantung mendekati normal (60-100x/mnt) dan mempertahankan tekanan darah yang adekuat untuk perfusi organ, terutama otak dan ginjal. Pemantauan ketat terhadap kecenderungan perubahan tekanan darah dan denyut nadi sangat penting untuk deteksi dini dekompensasi.
Kode SIKI: I.08029
Deskripsi : Pemantauan Hemodinamik. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Mengukur dan mendokumentasikan tekanan darah, denyut nadi, frekuensi napas, dan suhu secara teratur dan berkala. 2) Memantau kualitas denyut nadi dan pengisian kapiler. 3) Mengobservasi warna kulit, kehangatan ekstremitas (akral hangat saat ini baik). 4) Memantau keseimbangan cairan (balance cairan). 5) Mengkaji respons terhadap terapi yang diberikan. 6) Kolaborasi dalam pemberian terapi farmakologi untuk mengontrol tekanan darah atau denyut jantung jika diperlukan. Intervensi ini bertujuan mendeteksi secara dini setiap perubahan hemodinamik yang dapat memperburuk kondisi pasien.
-
Article No. 25133 | 16 Apr 2026
Klinis : Pasien dengan penurunan kesadaran KU : lemah, kes : coma TD : 142/90 HR : 118 RR : 17 S : 38,9 SPO2 : 96 Status generalis Mata RC +/+, isokor 3mm/3mm, CA -/- Mulut bibir kering (+) Thorax SDV +/+ RBH -/- RBK -/- WHZ -/- Abdomen supel, BU (+), NT (-) Ext atas akral hangat , CRT < 2 detik, oedem -/- Ext Bawah akral hangat , CRT < 2 detik, oedem -/- Status Neurologis Sensorik sde Kekuatan motorik : lateralisasi (-) Refleks fisiologis: +3/+3// +3/+3 Refleks patologis: (-/-//-/-) Nistagmus: (-) Parese NC. XII (-) Parese NC. VII (-) Blink to threat (-) Visual pursuit (-) Voluntary eye movement (-) Meningeal sign (-) Hasil Lab Darah Rutin (15/04/26) Darah Rutin Hemoglobin 9.35 Eritrosit 3.48 Hematokrit 27.8 Lekosit 8.66 Trombosit 440 Golongan Darah B ELEKTROLIT Natrium (Na) 131 Kalium (K) 3.6 Chlorida (Cl) 93 Calsium (Ca2+) 1.1 pH 7.64 Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu 128 Fungsi Hati AST (SGOT) 28 ALT (SGPT) 10 Fungsi Ginjal Ureum 53.5 Kreatinin 1.74 Hasil CT scan kepala non-kontras (15/04/26) Kesan : - Infark cerebri luas di frontotemporoparietalis sinistra kemungkinan disertai adanya transformasi hemoragis dengan gambaran oedema cerebri yang menyempitkan ventrikel lateralis sinistra dan mendeviasi linea mediana ke arah dextra Hasil Rontgen Thorax (15/04/26) Kesan : - Cardiomegali dan pulmo normal - Elongatio aortae dan aortosklerosis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Otak
Kode SDKI: D.0014
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah dan oksigen ke jaringan otak yang dapat mengakibatkan gangguan fungsi otak.
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Perfusi jaringan otak efektif, ditandai dengan: tingkat kesadaran sesuai kapasitas, fungsi kognitif sesuai kapasitas, tanda-tanda vital dalam batas yang dapat diterima, tidak ada peningkatan tekanan intrakranial, dan hasil pemeriksaan diagnostik dalam batas normal.
Kode SIKI: I.14049
Deskripsi : Mempertahankan kepala dalam posisi netral dan elevasi kepala tempat tidur 30-45 derajat, kecuali ada kontraindikasi. Intervensi ini bertujuan untuk mempromosikan aliran balik vena dari otak, mengurangi tekanan intrakranial, dan mengoptimalkan tekanan perfusi serebral. Pada pasien dengan stroke iskemik luas yang disertai edema serebral dan deviasi garis tengah seperti dalam kasus ini, posisi elevasi kepala sangat krusial untuk mengurangi kongesti vena dan tekanan pada jaringan otak yang sehat. Posisi ini harus dipertahankan dengan hati-hati, memastikan alignment tulang belakang leher tidak tertekuk, untuk tidak menghambat aliran darah arteri maupun vena. Pemantauan tanda-tanda neurologis dan hemodinamik harus dilakukan sebelum dan sesudah perubahan posisi untuk memastikan toleransi pasien. Intervensi ini merupakan tindakan dasar dan fundamental dalam manajemen pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial atau risiko gangguan perfusi serebral.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0027
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal sebagai respons terhadap ketidakmampuan tubuh dalam mempertahankan keseimbangan antara produksi dan pelepasan panas.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal, ditandai dengan: suhu tubuh 36-37,5°C, kulit hangat tidak kemerahan, denyut nadi dan pernapasan dalam rentang normal, tidak ada keluhan menggigil atau perasaan panas.
Kode SIKI: I.03020
Deskripsi : Memberikan terapi dingin (kompres hangat/tepid sponge). Intervensi ini dilakukan untuk meningkatkan kehilangan panas tubuh melalui proses konduksi dan evaporasi. Pada pasien dengan suhu 38.9°C dan kondisi stroke akut, hipertermia dapat memperburuk outcome neurologis karena meningkatkan metabolisme otak, memperluas area kerusakan iskemik (eksitotoksisitas), dan memperberat edema serebral. Kompres hangat (bukan air dingin/es) di area lipatan tubuh (ketiak, lipat paha) dan dahi direkomendasikan untuk menghindari vasokonstriksi pembuluh darah kulit yang justru dapat memerangkap panas. Tindakan ini harus disertai pemantauan suhu tubuh berkala untuk menilai efektivitas dan mencegah hipotermia iatrogenik. Pengelolaan lingkungan (ruangan sejuk) dan pemberian antipiretik sesuai instruksi dokter juga merupakan bagian dari penatalaksanaan hipertermia yang komprehensif pada kasus ini.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0009
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Jalan napas paten, ditandai dengan: suara napas bersih, tidak ada sianosis, frekuensi napas dalam rentang normal, mampu batuk efektif, dan gas darah arteri dalam batas normal.
Kode SIKI: I.04023
Deskripsi : Melakukan penghisapan lendir jalan napas. Pada pasien dengan penurunan kesadaran (koma), refleks batuk dan kemampuan untuk membersihkan sekresi sendiri sangat terganggu atau hilang. Akumulasi sekret di saluran napas dapat menyebabkan obstruksi, atelektasis, hipoksia, dan pneumonia aspirasi. Hipoksia akan sangat merugikan jaringan otak yang sedang mengalami iskemia. Penghisapan lendir dilakukan dengan teknik steril dan atraumatik untuk mencegah infeksi dan trauma mukosa. Prinsipnya adalah melakukan suction hanya bila diperlukan (bukan rutin terjadwal), berdasarkan auskultasi suara napas tambahan atau monitor adanya sekret. Durasi suction tidak lebih dari 10-15 detik dan harus didahului dengan pre-oksigenasi untuk mempertahankan saturasi oksigen (SpO2). Pada pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial, stimulasi selama suction dapat meningkatkan tekanan tersebut, sehingga perlu dilakukan dengan hati-hati dan mungkin memerlukan pemberian sedasi sesuai instruksi.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0022
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Bebas dari infeksi, ditandai dengan: suhu tubuh dalam rentang normal, tidak ada tanda-tanda lokal infeksi (rubor, kalor, dolor, tumor, functio laesa), hasil pemeriksaan laboratorium dalam batas normal (misalnya hitung leukosit), dan tidak ada drainase purulen.
Kode SIKI: I.15017
Deskripsi : Mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan tindakan pada pasien. Intervensi ini adalah langkah paling dasar, sederhana, namun paling efektif dalam memutus rantai penularan infeksi nosokomial. Pada pasien koma dengan kondisi kritis, terdapat beberapa faktor risiko infeksi tinggi seperti immobilisasi, kemungkinan pemasangan berbagai alat invasif (IV line, kateter urine, selang NGT, selang endotrakeal), dan status hipermetabolik akibat stroke dan hipertermia. Tangan perawat merupakan media utama perpindahan mikroorganisme. Mencuci tangan dengan teknik yang benar menggunakan sabun dan air mengalir atau handrub berbasis alkohol secara konsisten pada lima momen (sebelum kontak pasien, sebelum tindakan aseptik, setelah terpapar cairan tubuh, setelah kontak pasien, dan setelah kontak lingkungan sekitar pasien) secara signifikan mengurangi risiko infeksi silang. Intervensi ini melindungi pasien yang sangat rentan dan juga melindungi tenaga kesehatan serta pasien lainnya.
Kondisi: Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Kebutuhan nutrisi terpenuhi, ditandai dengan: berat badan dalam rentang normal, tidak ada penurunan berat badan yang tidak diinginkan, kadar albumin dan hemoglobin dalam batas normal, serta mampu menghabiskan porsi makan sesuai kebutuhan.
Kode SIKI: I.06025
Deskripsi : Memberikan nutrisi melalui selang (enteral). Pada pasien koma, pemenuhan nutrisi tidak dapat dilakukan melalui oral. Pemberian nutrisi enteral (melalui NGT) harus dimulai secepatnya setelah kondisi hemodinamik stabil, untuk mempertahankan integritas mukosa usus, mendukung fungsi imun, dan menyediakan substrat energi untuk proses penyembuhan. Status laboratorium pasien (Hb 9.35 g/dL menunjukkan anemia, albumin tidak diperiksa tetapi berisiko rendah pada kondisi akut) mengindikasikan kebutuhan dukungan nutrisi. Nutrisi enteral diberikan secara bertahap, dimulai dari formula isotonik dengan laju pemberian lambat yang kemudian dinaikkan sesuai toleransi hingga mencapai target kalori dan protein harian. Posisi kepala elevasi 30-45 derajat selama dan setelah pemberian sangat penting untuk mencegah refluks dan aspirasi. Pemantauan tanda-tanda intoleransi (distensi abdomen, residu lambung tinggi, diare) harus dilakukan secara rutin.
-
Article No. 25134 | 16 Apr 2026
Klinis : Hari ini : lemes, masih diare ku lemah TD:136/72 N:160 S:36,4 RR:25 SPO2:98 Status Generalisata Mata : CA -/- SI -/- Thorax : SDV +/+ rh -/-, wh -/-, S1S2 reguler, BJ (-) Abdomen : supel, BU (+) timpani, NT (-), Ext atas : Akral hangat +/+, pucat -/-, CRT <2dt Ext bawah : Akral hangat +/+, pucat -/-, CRT <2dt Lab RSSP Darah Rutin (8/4/26) Hb 13.22 Eritrosit 4.70 Hematokrit 39.5 MCV 84.0 MCH 28.1 MCHC 33.4 RDW 11.45 Leukosit 16.55 Neutrofil 90.2 Limfosit 6.1 Monosit 3.2 Eosinofil 0.02 Basofil 0.4 Total Neutrofil 14.93 Total Limfosit 1.02 Total Monosit 0.53 Total Eosinofil 0.00 Total Basofil 0.07 Trombosit 247 MPV 6.99 GDS 461 Ureum 56.3 Kreatinin 0.90 CK-MB 22 Golongan darah A Glukosa stik (13/4/26 06.17) -> 150 (13/4/26 05.00) -> 206 (14/4/26) -> 297 (15/4/26) -> 309 Ro Thorax (13/4/26) Kesan : - Cardiomegali dan Pulmo normal - Diafragma dextra letak tinggi , et causa proses infradiafragma Cek IGRA (14/4/26) → menunggu hasil Cek TCM & Resistensi (14/4/26) → menunggu hasil
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Risiko perubahan kadar glukosa darah di luar rentang normal.
Kode SLKI: L.03107
Deskripsi : Kadar glukosa darah dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.01202
Deskripsi : Memantau kadar glukosa darah.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya patogen yang menyerang tubuh.
Kode SLKI: L.03095
Deskripsi : Bebas dari tanda dan gejala infeksi.
Kode SIKI: I.01200
Deskripsi : Memantau tanda dan gejala infeksi.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Kondisi ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk memulai atau mempertahankan aktivitas sehari-hari yang dibutuhkan.
Kode SLKI: L.03004
Deskripsi : Toleransi aktivitas meningkat.
Kode SIKI: I.01005
Deskripsi : Memantau respons terhadap aktivitas.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0002
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: L.03002
Deskripsi : Status nutrisi membaik.
Kode SIKI: I.01002
Deskripsi : Memantau asupan nutrisi dan cairan.
-
Article No. 25116 | 15 Apr 2026
Klinis : pasien baru datang dengan keluhan sesak nafas sejak sore, keringat dingin, lemasRPD: PJK (+), HT (-), DM (-) RPD asam lambung Ku lemah, Kes CM TD : 117/73 Tekanan Darah 117/73 Suhu 36 Nadi 85 x/menit Pernafasan 24 x/menit Berat Badan Kg Tinggi Badan cm Mata CA -/-, SI -/- Thorax sdv +/+ wh +/+ rh +/+ Abdomen supel, BU (+), NT (+) epigastrium, undulasi (-) Ext atas akral hangat +/+, edem +/+ Ext Bawah akral hangat +/+, edem +/+ LAB HEMATOLOGI Darah Rutin - Hemoglobin 7.44 L g/dL 12.2 ~ 18.1 - Eritrosit 3.38 L juta/µL 4.04 ~ 6.13 - Hematokrit 23.8 L % 37.7 ~ 53.7 - Glukosa Darah Sewaktu 97 mg/dL < 200 Fungsi Hati - AST (SGOT) 73 H U/l < 37 - ALT (SGPT) 25 U/l < 42 Fungsi Ginjal - Ureum 40.7 mg/dL 10 ~ 50 - Kreatinin 0.74 mg/dL 0.6 ~ 1.1 Index Eritrosit - MCV 70.4 L fL 80 ~ 97 - MCH 22.0 L pg 27 ~ 31.2 - MCHC 31.3 L g/dL 31.8 ~ 35.4 - Lekosit 6.97 ribu/µL 4.6 ~ 10.2 - Trombosit 198 ribu/µL 150 ~ 450 - RDW-CV 17.28 H % 11.5 ~ 14.5 - MPV 7.83 fL 0 ~ 99.9 Hitung Jenis - Neutrofil 92.7 H % 37 ~ 80 - Limfosit 2.5 L % 19 ~ 48 - Monosit 4.2 % 0 ~ 12 - Eosinofil 0.02 % 0 ~ 7 - Basofil 0.6 % 0 ~ 2.5 - Total Neutrofil 6.46 ribu/µL 1,5 ~ 7 - Total Lymphosit 0.18 L ribu/µL 1 ~ 3,7 - Total Monosit 0.29 ribu/µL - Total Eosinofil 0.00 ribu/µL - Total Basofil 0.04 Gol. Darah (A B O) - Golongan Darah B KIMIA KLINIK ELEKTROLIT - Natrium (Na) 124 L mmol/L 135 ~ 150 - Kalium (K) 3.9 mmol/L 3.5 ~ 5.1 - Chlorida (Cl) 93 L mmol/L 98 ~ 109 - Calsium (Ca2+) 1.0 L mmol/L 1.1 ~ 1.4 - pH 7.41 13/4/2026 Foto Ro thoraks PA Thorax :AP, supine, simetris, inspirasi dan kondisi cukup, Hasil: - Tampak infiltrat di parenkim pulmo sinistra - Tampak opasitas homogen di hemithorax dextra - Diafragma dan sinus CF sinistra normal - Cor : tak valid dinilai Kesan : - Bronchopneumonia dengan efusi pleura dextra - Besar cor tak valid dinilai USG thoraks 14/4/2026 Telah dilakukan pemeriksaan USG thorax dengan marker ,pada penderita dengan klinis efusi pleura dextra, Hasil : - Supradiafragma dextra : tampak lesi anechoic di cavum pleura dextra, septa (+), volume : 822 ml . KESAN : Efusi pleura dextra, capsulated type, volume cairan l.k : 822 ml
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Keseimbangan Cairan & Elektrolit terkait Efusi Pleura dan Anemia
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Diagnosa Keperawatan "Gangguan Pertukaran Gas" didefinisikan sebagai kondisi dimana terjadi gangguan pada proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida antara alveoli dan sistem vaskular pulmonal. Pada pasien ini, kondisi ini secara langsung terkait dengan adanya efusi pleura dekstra yang masif (volume ~822 ml) dan infiltrat pneumonia di paru kiri. Efusi pleura menyebabkan kompresi jaringan paru, mengurangi luas permukaan alveoli yang efektif untuk pertukaran gas, sehingga mengakibatkan hipoksemia. Hal ini dimanifestasikan secara klinis melalui keluhan sesak napas (dispnea) dan temuan fisik takipnea (pernapasan 24x/menit). Selain itu, hasil analisis gas darah menunjukkan pH normal (7.41) namun data elektrolit dan hematologi mengarah pada kompleksitas kondisi. Gangguan pertukaran gas ini diperberat oleh kondisi anemia (Hb 7.44 g/dL) yang mengurangi kapasitas pengangkutan oksigen darah, menciptakan lingkaran setan dimana jantung harus bekerja lebih keras (nadi 85x/menit) untuk mengirimkan oksigen yang tidak adekuat ke jaringan, yang menjelaskan gejala lemas dan keringat dingin. Riwayat PJK juga menjadi faktor komorbid yang memperburuk toleransi tubuh terhadap kondisi hipoksia ini.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan (SLKI) "Perbaikan Pertukaran Gas" dengan kriteria: frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20x/menit), tidak ada dispnea atau penggunaan otot bantu pernapasan, dan saturasi oksigen (SpO2) >94% pada udara ruangan. Target spesifik untuk pasien ini adalah penurunan frekuensi pernapasan dari 24x/menit mendekati rentang normal, hilangnya keluhan sesak napas, serta peningkatan saturasi oksigen yang stabil setelah intervensi drainase efusi dan terapi oksigen. Selain itu, luaran terkait status sirkulasi dan kenyamanan juga penting, seperti nadi dalam rentang normal (60-100x/menit), kulit hangat dan kering (mengatasi keringat dingin), serta penurunan kecemasan yang sering menyertai perasaan sesak napas. Pencapaian luaran ini akan menunjukkan keberhasilan dalam mengatasi hambatan mekanik (efusi) dan meningkatkan difusi gas.
Kode SIKI: I.08229, I.08002, I.09005
Deskripsi : Intervensi keperawatan (SIKI) yang utama adalah: I.08229: Manajemen Jalan Napas - Meliputi pemantauan pola, frekuensi, dan usaha pernapasan; pemberian oksigen sesuai indikasi; serta memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau miring ke sisi yang sehat (jika mungkin) untuk memaksimalkan ekspansi paru yang tidak terkena efusi. I.08002: Manajemen Nyeri - Meski tidak disampaikan keluhan nyeri, adanya nyeri tekan (NT +) di epigastrium dan ketidaknyamanan akibat sesak memerlukan manajemen nyeri non-farmakologis seperti teknik relaksasi napas untuk mengurangi konsumsi oksigen dan kecemasan. I.09005: Manajemen Keseimbangan Cairan dan Elektrolit - Ini adalah intervensi kritis mengingat hasil laboratorium: hiponatremia (Na 124 mmol/L), hipokloremia (Cl 93 mmol/L), dan hipokalsemia (Ca 1.0 mmol/L). Intervensi mencakup pemantauan ketat tanda vital dan status hidrasi, kolaborasi pemberian terapi cairan dan koreksi elektrolit secara intravena dengan kecepatan yang hati-hati (karena ada efusi dan risiko overload cairan), serta memonitor output urin. Penting juga untuk mengidentifikasi penyebab ketidakseimbangan ini, apakah terkait asupan, efek samping terapi, atau kondisi lain. Intervensi tambahan yang relevan adalah I.06020: Edukasi Kesehatan untuk menjelaskan prosedur tindakan (seperti torakosintesis jika diperlukan), proses penyakit, dan pentingnya melaporkan setiap perburukan sesak. Seluruh intervensi dilakukan dengan pendekatan holistik, mempertimbangkan kelemahan pasien (ku lemah) dan riwayat penyakit penyerta (PJK, asam lambung).
-
Article No. 25117 | 15 Apr 2026
Klinis : Seorang laki-laki berusia 57 tahun dirawat dengan keluhan perut membesar dan terasa tidak nyaman. Hasil pengkajian: mual sejak 2 minggu yang lalu, nafsu makan menurun, BB menurun 5 kg (dalam 1 bulan), frekuensi napas 21 x/menit, frekuensi nadi 89 x/menit, TD 100/75 mmHg. Pasien riwayat minum alkohol sejak 20 tahun yang lalu.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Diagnosa keperawatan ini merujuk pada keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada pasien ini, faktor risiko utama adalah riwayat konsumsi alkohol kronis (selama 20 tahun), yang merupakan penyebab umum sirosis hepatis dan gangguan penyerapan nutrisi. Manifestasi klinis yang mendukung adalah penurunan berat badan yang signifikan (5 kg dalam 1 bulan), penurunan nafsu makan, mual, serta perut membesar yang mengindikasikan kemungkinan asites akibat penyakit hati. Tekanan darah yang cenderung rendah (100/75 mmHg) juga dapat menjadi tanda dari status nutrisi yang buruk. Kondisi ini berisiko memperburuk fungsi hati, menurunkan kekebalan tubuh, menghambat penyembuhan, dan meningkatkan morbiditas.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah status nutrisi klien membaik. Secara spesifik, tujuan dari intervensi keperawatan adalah untuk mencapai asupan nutrisi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan dan toleransi klien. Indikator pencapaian luaran ini dapat meliputi: berat badan klien stabil atau mengalami peningkatan bertahap menuju berat badan ideal, keluhan mual dan tidak nyaman pada perut berkurang, nafsu makan klien membaik yang ditandai dengan kemampuan menghabiskan porsi makanan yang disajikan, serta nilai-nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin dan hemoglobin) menunjukkan perbaikan. Pencapaian luaran ini memerlukan waktu dan tergantung pada tingkat keparahan penyakit hati yang mendasarinya. Perawat akan memantau parameter tersebut secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan.
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama adalah Manajemen Nutrisi. Intervensi ini meliputi serangkaian tindakan yang komprehensif. Pertama, perawat akan berkolaborasi dengan ahli gizi untuk melakukan pengkajian kebutuhan nutrisi yang mendetail, menghitung kebutuhan kalori, protein, dan mikronutrien berdasarkan kondisi pasien. Kedua, perencanaan diet disesuaikan, biasanya dengan diet tinggi kalori dan tinggi protein, namun hati-hati pada kondisi ensefalopati hepatikum (dibatasi protein). Diet diberikan dalam porsi kecil namun sering (small frequent feeding) untuk mengatasi mual dan perut kembung. Ketiga, memodifikasi lingkungan makan yang nyaman, bebas bau yang memicu mual, dan mendukung posisi yang tepat saat makan. Keempat, memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi, jenis makanan yang dianjurkan dan dihindari (terutama pantang alkohol mutlak), serta cara mengatasi mual. Kelima, memantau dan mencatat asupan makanan dan cairan setiap hari, serta memantau berat badan secara teratur. Keenam, kolaborasi pemberian suplemen nutrisi (enteral atau parenteral) jika asumsi oral sangat tidak adekuat, serta pemberian obat antiemetik sesuai resep untuk mengendalikan mual. Seluruh tindakan ini dilakukan dengan pendekatan holistik, mempertimbangkan kondisi psikologis pasien dan dukungan keluarga, untuk mencapai tujuan perbaikan status nutrisi.
-
Article No. 25118 | 15 Apr 2026
Klinis : Anak usia 9 bulan 10 hari panjang badan dan berat badan sulit naik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 00002
Deskripsi Singkat: Keadaan di mana individu berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Status Nutrisi: Asupan nutrisi dan cairan adekuat sesuai kebutuhan tubuh. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Berat badan sesuai dengan usia, jenis kelamin, dan potensi pertumbuhan (misalnya, berada dalam kurva pertumbuhan yang sesuai). 2) Tanda-tanda klinis nutrisi adekuat (misalnya, kulit kenyal, turgor baik, rambut berkilau, membran mukosa lembab). 3) Asupan makanan dan cairan sesuai dengan kebutuhan yang direkomendasikan. 4) Tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi seperti kelelahan, apatis, atau penurunan berat badan yang tidak diinginkan. 5) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin, hemoglobin) dalam rentang normal. Pada bayi dan anak, parameter khusus termasuk kenaikan berat badan dan panjang/tinggi badan yang adekuat sesuai kurva standar WHO, perkembangan psikomotor yang sesuai usia, serta kepatuhan terhadap jadwal imunisasi sebagai indikator kesehatan secara keseluruhan.
Kode SIKI: 0801
Deskripsi : Manajemen Nutrisi: Tindakan untuk memfasilitasi atau memberikan nutrisi yang seimbang. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Mengkaji status nutrisi secara komprehensif, termasuk riwayat diet, pola makan, alergi, kebiasaan, dan faktor penghambat asupan. 2) Memantau asupan dan output nutrisi serta cairan secara berkala. 3) Menimbang berat badan secara teratur dan memplotkan pada kurva pertumbuhan (misalnya, Kartu Menuju Sehat/KMS). 4) Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan nutrisi spesifik serta merencanakan diet. 5) Memberikan pendidikan kesehatan kepada orang tua/pengasuh tentang pentingnya nutrisi seimbang, pemberian ASI/MPASI yang tepat, frekuensi, dan porsi sesuai usia. 6) Mendemonstrasikan dan mengajarkan teknik pemberian makan yang tepat untuk bayi dan anak. 7) Menciptakan lingkungan yang nyaman dan bebas stres selama waktu makan. 8) Memodifikasi tekstur dan jenis makanan sesuai dengan kemampuan dan perkembangan anak (misalnya, MPASI sesuai tahap). 9) Memantau tanda-tanda klinis dehidrasi atau malnutrisi (turgor kulit, ubun-ubun, mata cekung). 10) Memberikan dukungan emosional dan motivasi kepada orang tua terkait kesulitan pemberian makan. 11) Mengidentifikasi dan mengatasi faktor penyebab sulit makan, seperti infeksi, gangguan pencernaan, atau masalah psikososial. 12) Merujuk ke tenaga kesehatan lain (dokter, gizi) jika ditemukan masalah medis yang mendasari (seperti gagal tumbuh/failure to thrive). 13) Mendorong dan mendukung pemberian ASI eksklusif hingga 6 bulan dan dilanjutkan dengan MPASI yang adekuat. 14) Memantau perkembangan dan pencapaian milestone anak sebagai indikator tidak langsung kecukupan nutrisi.
Kondisi: Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan
Kode SDKI: 00113
Deskripsi Singkat: Penyimpangan dari norma pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia.
Kode SLKI: 1301
Deskripsi : Status Perkembangan: Kemampuan mencapai tonggak perkembangan (milestone) sesuai usia. Kriteria hasil meliputi: 1) Mencapai milestone perkembangan sesuai usia dalam area motorik kasar, motorik halus, bahasa, dan sosialisasi. 2) Menunjukkan perilaku dan keterampilan yang sesuai dengan tahap perkembangan. 3) Berat badan, panjang/tinggi badan, dan lingkar kepala sesuai dengan kurva pertumbuhan standar. 4) Interaksi sosial yang sesuai usia dengan pengasuh dan lingkungan. 5) Eksplorasi lingkungan secara aktif dan aman sesuai usia. 6) Orang tua/pengasuh memahami tahap perkembangan anak dan mampu merangsangnya dengan tepat.
Kode SIKI: 1301
Deskripsi : Promosi Perkembangan: Memfasilitasi pencapaian milestone perkembangan yang optimal. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Melakukan skrining perkembangan menggunakan alat yang terstandar (seperti Kuesioner Pra Skrining Perkembangan/KPSP). 2) Mengkaji riwayat prenatal, natal, dan postnatal yang dapat memengaruhi perkembangan. 3) Memantau dan mendokumentasikan pertumbuhan fisik (berat, panjang, lingkar kepala) secara berkala pada kurva standar. 4) Mengobservasi dan mendokumentasikan pencapaian milestone perkembangan (misalnya, tengkurap, duduk, merangkak, babbling, mengenali orang tua). 5) Memberikan stimulasi perkembangan yang sesuai usia (stimulasi motorik, sensorik, kognitif, dan sosial) melalui bermain dan interaksi. 6) Mendidik dan mendemonstrasikan kepada orang tua cara memberikan stimulasi yang tepat di rumah. 7) Mengidentifikasi faktor risiko dan hambatan perkembangan (misalnya, nutrisi tidak adekuat, penyakit kronis, kurang stimulasi). 8) Berkolaborasi dengan tim kesehatan (dokter, terapis) jika ditemukan keterlambatan perkembangan. 9) Mendorong lingkungan yang aman dan mendukung untuk eksplorasi. 10) Memberikan dukungan emosional dan informasi kepada orang tua tentang perkembangan normal dan cara mengoptimalkannya. 11) Menekankan pentingnya nutrisi yang adekuat sebagai dasar untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. 12) Merujuk ke program intervensi dini atau layanan spesialis jika diperlukan. 13) Memantau perkembangan secara berkelanjutan untuk mendeteksi penyimpangan secara dini.
Kondisi: Ansietas (pada Orang Tua/Pengasuh)
Kode SDKI: 00146
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar-samar atau ancaman yang tidak jelas diketahui asalnya, disertai dengan respons otonom (sumbernya sering tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu).
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Ansietas: Kemampuan mengelola perasaan gugup, khawatir, atau ancaman. Kriteria hasil meliputi: 1) Mengenali dan mengungkapkan perasaan ansietas. 2) Menunjukkan perilaku koping yang adaptif untuk mengurangi ansietas. 3) Tanda-tanda fisiologis ansietas (seperti takikardia, tremor, berkeringat) berkurang atau terkontrol. 4) Fungsi sehari-hari tidak terganggu secara signifikan oleh ansietas. 5) Mampu mengidentifikasi sumber ansietas dan mencari solusi atau bantuan. 6) Menunjukkan relaksasi dan ketenangan dalam menghadapi situasi yang menegangkan.
Kode SIKI: 1401
Deskripsi : Pengurangan Ansietas: Meminimalkan perasaan khawatir, takut, dan gelisah. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Mengkaji tingkat ansietas orang tua, termasuk tanda verbal dan nonverbal, serta dampaknya terhadap perawatan anak. 2) Menciptakan lingkungan yang terapeutik dan mendukung untuk mengekspresikan perasaan. 3) Mendengarkan secara aktif dan empatik terhadap kekhawatiran orang tua. 4) Memberikan informasi yang akurat, jelas, dan jujur tentang kondisi anak, rencana perawatan, dan prognosis. 5) Melibatkan orang tua dalam perencanaan dan pemberian perawatan kepada anak untuk meningkatkan rasa kontrol. 6) Mengajarkan teknik relaksasi sederhana (seperti napas dalam, distraksi). 7) Membantu orang tua mengidentifikasi sumber dukungan sosial (keluarga, teman). 8) Memvalidasi perasaan orang tua bahwa kekhawatiran mereka adalah hal yang wajar. 9) Meningkatkan rasa percaya diri orang tua dalam merawat anak dengan memberikan pendidikan kesehatan dan pelatihan keterampilan perawatan. 10) Membantu orang tua menetapkan harapan yang realistis terkait pertumbuhan dan perkembangan anak. 11) Merujuk pada konseling atau dukungan psikososial jika ansietas berat atau menetap. 12) Memantau dan mendukung interaksi positif antara orang tua dan anak untuk mengurangi kecemasan kedua belah pihak.
-
Article No. 25121 | 15 Apr 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons inflamasi terhadap mikroorganisme patogen.
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : Pasien bebas dari infeksi. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5 – 37,5°C). 2) Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, nyeri, atau drainase pus. 3) Hasil pemeriksaan laboratorium (seperti leukosit) dalam batas normal. 4) Mampu mendemonstrasikan perilaku pencegahan penularan infeksi (misalnya, menutup mulut saat batuk, membuang dahak di tempat yang aman). 5) Menunjukkan kepatuhan terhadap regimen terapi obat anti-tuberkulosis (OAT) jangka panjang. Pada pasien tuberkulosis, SLKI ini sangat krusial karena penyakit ini bersifat infeksius dan memerlukan pengobatan yang tuntas. Perawat berperan dalam edukasi untuk mencegah penularan kepada orang lain dan memastikan keberhasilan terapi, yang pada akhirnya akan menghilangkan risiko infeksi. Pencapaian SLKI ini ditandai dengan terkendalinya pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis, hilangnya gejala sistemik seperti demam, dan negatifnya hasil pemeriksaan dahak secara berulang.
Kode SIKI: I.05080
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Memantau tanda-tanda vital, terutama suhu, secara teratur untuk mendeteksi demam sebagai tanda respons infeksi. 2) Mengajarkan dan memastikan pasien menerapkan etika batuk (menggunakan masker, menutup mulut dengan tisu atau lengan atas) dan kebersihan tangan. 3) Menginstruksikan cara pembuangan dahak yang aman (dibakar atau ditimbun) untuk memutus rantai penularan. 4) Memastikan isolasi droplet di awal pengobatan sampai dinyatakan tidak menular. 5) Memantau kepatuhan minum OAT dan efek sampingnya, serta memberikan edukasi tentang pentingnya pengobatan lengkap meskipun gejala sudah membaik. 6) Kolaborasi dalam pengambilan spesimen dahak untuk pemeriksaan laboratorium. 7) Meningkatkan asupan nutrisi pasien untuk mendukung sistem imun. 8) Mengatur sirkulasi udara yang baik di ruangan. Intervensi ini bersifat komprehensif, tidak hanya berfokus pada aspek klinis mikrobiologis, tetapi juga pada aspek perilaku dan lingkungan untuk mengendalikan sumber infeksi dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0093
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.03015
Deskripsi : Pertukaran gas efektif. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Saturasi oksigen (SpO2) ≥ 95% dalam udara ruangan. 2) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20 kali/menit). 3) Tidak mengeluh sesak napas (dispnea) baik saat istirahat maupun aktivitas ringan. 4) Tidak ditemukan sianosis. 5) Suara napas bersih (clear) atau kembali normal di seluruh lapang paru seiring pengobatan. 6) Hasil analisis gas darah dalam batas normal. Pada pasien dengan lesi di paru akibat TB, proses pertukaran gas terganggu karena konsolidasi jaringan dan peradangan yang mengurangi luas permukaan alveoli yang efektif. SLKI ini bertujuan memulihkan fungsi pernapasan hingga pasien dapat mempertahankan keseimbangan oksigen dan karbon dioksida tanpa distress pernapasan. Pencapaiannya bersifat bertahap, seiring dengan respons terapi OAT yang mengurangi inflamasi dan kerusakan jaringan.
Kode SIKI: I.08013
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Mengatur posisi pasien semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi paru. 2) Memantau status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu), saturasi oksigen, dan tanda sianosis. 3) Melakukan fisioterapi dada dan latihan batuk efektif untuk membantu pengeluaran sekret/dahak yang menghambat jalan napas. 4) Mengajarkan teknik pernapasan dalam dan bibir mengerucut (pursed-lip breathing) untuk meningkatkan ventilasi. 5) Memastikan asupan cairan yang adekuat (kecuali kontraindikasi) untuk mengencerkan dahak. 6) Kolaborasi pemberian terapi oksigen jika diperlukan berdasarkan hasil pemeriksaan saturasi atau gas darah. 7) Memonitor respons terapi dan melaporkan jika ada perburukan sesak. Intervensi ini bertujuan mempertahankan jalan napas paten, mengoptimalkan ventilasi, dan memfasilitasi pengeluaran sekret sehingga pertukaran gas dapat berlangsung lebih efektif.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: L.02032
Deskripsi : Status nutrisi membaik. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Peningkatan berat badan menuju berat badan ideal secara bertahap. 2) Nilai indeks massa tubuh (IMT) dalam kategori normal (18,5 – 25,0 kg/m²). 3) Asupan makanan dan cairan dapat memenuhi kebutuhan harian yang dianjurkan. 4) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin dan hemoglobin) dalam batas normal. 5) Tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi seperti kelemahan, kulit kering, atau rambut tipus. Pada pasien TB, anoreksia (kehilangan nafsu makan), demam, dan proses infeksi yang meningkatkan metabolisme basal menyebabkan katabolisme protein dan penurunan berat badan yang signifikan. Pencapaian SLKI ini sangat penting karena status nutrisi yang baik mendukung sistem imun dan mempercepat proses penyembuhan, serta meningkatkan toleransi terhadap pengobatan.
Kode SIKI: I.01280
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Melakukan pengukuran antropometri (berat badan, IMT) secara berkala. 2) Memantau asupan dan output cairan serta kalori harian. 3) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet tinggi kalori dan tinggi protein sesuai kemampuan dan preferensi pasien. 4) Memberikan makanan dalam porsi kecil namun sering untuk mengatasi anoreksia. 5) Menciptakan lingkungan makan yang nyaman dan bebas bau yang dapat memicu mual. 6) Memberikan edukasi tentang pentingnya nutrisi dalam proses penyembuhan TB. 7) Memantau hasil laboratorium seperti albumin dan hemoglobin. 8) Kolaborasi pemberian suplemen nutrisi atau vitamin jika diperlukan. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan aspek monitoring, terapi diet, dan edukasi untuk mengatasi masalah nutrisi yang merupakan komorbid umum dan faktor prognostik penting dalam kesembuhan tuberkulosis.
-
Article No. 25122 | 15 Apr 2026
Klinis : Ny.H usia 50 tahun datang ke IRD dengan keluhan nyeri dada kiri yang tidak berkurang dengan istirahat sejak tadi pagi. Berdasarkan pengkajian didapatkan data: nyeri menjalar ke lengan dan punggung kiri, skala nyeri 7, pasien tampak gelisah, diaphoresis dan wajah gerimis. Berdasarkan pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan tekanan 140/90 mmHg, Nadi=120x/menit, Respiratory rate (RR)= 28x/menit dan suhu tubuh 37,6°C.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Sindrom Koroner Akut (Infark Miokard Akut dengan elevasi segmen ST - IMAEST)
Kode ICD-10: I21.9
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan infark miokard akut (serangan jantung) yang tidak spesifik, dengan kecurigaan kuat mengarah ke IMA dengan elevasi segmen ST (STEMI) berdasarkan presentasi klinis. Gejala khas meliputi nyeri dada kiri yang tidak membaik dengan istirahat, menjalar ke lengan dan punggung kiri, dengan skala nyeri tinggi (7). Tanda-tanda otonom seperti gelisah, diaphoresis (keringat berlebihan), dan wajah gerimis sangat menonjol. Tanda vital menunjukkan respons stres sistemik: takikardia (nadi 120x/menit), takipnea (RR 28x/menit), hipertensi ringan (140/90 mmHg), dan demam ringan yang dapat terjadi pada infark miokard. Kombinasi nyeri dada iskemik yang berkepanjangan dengan gejala sistemik yang berat sangat mengindikasikan oklusi akut arteri koroner yang menyebabkan kerusakan otot jantung. Kode I21.9 digunakan dalam konteks pelatihan ini sebagai placeholder awal, mewakili Infark Miokard Akut yang belum ditentukan lokasi pastinya. Dalam praktik kodifikasi resmi, kode yang lebih spesifik (seperti I21.0 untuk dinding anterior atau I21.1 untuk inferior) harus ditetapkan setelah konfirmasi elektrokardiografi (EKG) dan biomarker jantung.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***