Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24200 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Tuberkulosis Paru
Kode ICD-10: A15.0
Deskripsi Singkat : Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang terutama menyerang jaringan paru-paru. Kondisi ini ditandai dengan gejala seperti batuk kronis (sering berdahak dan bisa berdarah), demam, berkeringat di malam hari, penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan, dan sesak napas. Diagnosis didukung oleh temuan klinis seperti suara napas bronkial, gambaran lesi (seperti infiltrat, kavitas, atau nodul) pada rontgen dada, dan konfirmasi melalui pemeriksaan dahak (BTA). Kode ICD-10 A15.0 secara spesifik mengacu pada "Tuberkulosis paru, dikonfirmasi secara bakteriologis dan histologis". Penggunaan kode ini mengindikasikan bahwa diagnosis tuberkulosis paru telah dipastikan melalui metode konfirmatori seperti pemeriksaan mikroskopis dahak (BTA), kultur, atau pemeriksaan histologis jaringan, yang membedakannya dari diagnosis klinis semata. Kode ini termasuk dalam bab "Penyakit infeksi dan parasit" dan blok "Tuberkulosis", memungkinkan pelacakan epidemiologis dan manajemen kasus yang akurat. Penting untuk mencatat lokasi dan jenis konfirmasi untuk pemilihan kode yang tepat dalam sistem klasifikasi penyakit.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24201 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen, khususnya Mycobacterium tuberculosis, yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 1920
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Tindakan untuk mencegah dan mengurangi risiko penyebaran infeksi. Pada pasien dengan TB paru, SLKI ini berfokus pada upaya mencegah penularan ke orang lain dan mencegah infeksi sekunder pada pasien sendiri. Intervensi keperawatan mencakup edukasi tentang etika batuk (menutup mulut dengan tisu atau lengan baju), pembuangan dahak yang aman, penggunaan masker yang benar terutama saat berinteraksi, dan pentingnya ventilasi udara yang baik di ruangan. Perawat juga memastikan pasien memahami protokol pengobatan untuk mencapai kesembuhan dan mengurangi masa penularan. Selain itu, perawat mengidentifikasi orang-orang yang memiliki kontak erat dengan pasien untuk direkomendasikan pemeriksaan lebih lanjut. Penerapan kewaspadaan isolasi droplet atau udara sesuai kebijakan rumah sakit juga merupakan bagian kritis dari SLKI ini. Tujuannya adalah memutus rantai penularan Mycobacterium tuberculosis di komunitas.
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Tindakan untuk mempertahankan jalan napas paten dan meningkatkan pertukaran gas. Pada pasien TB paru dengan batuk berdahak dan sesak napas, SIKI ini sangat relevan. Intervensi dimulai dengan pengkajian pola pernapasan, karakter batuk, dan sifat sputum. Perawat mengajarkan dan mendorong teknik batuk efektif untuk membantu mengeluarkan sekret. Posisi semi-Fowler atau duduk dapat diatur untuk memudahkan ekspansi dada dan mengurangi kerja napas. Hidrasi adekuat dianjurkan untuk mengencerkan dahak. Perawat juga memantau status oksigenasi melalui tanda-tanda vital dan warna kulit, serta memberikan terapi oksigen sesuai instruksi. Suctioning dapat dilakukan jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekret sendiri. Edukasi tentang pentingnya kepatuhan minum obat anti-tuberkulosis (OAT) diberikan karena pengobatan yang tepat adalah kunci utama perbaikan kondisi jalan napas dengan mengurangi peradangan dan jumlah bakteri. Pemantauan terhadap efek samping OAT yang dapat mempengaruhi pernapasan juga dilakukan.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0002
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 3110
Deskripsi : Manajemen Pernapasan: Tindakan untuk mempromosikan pertukaran gas yang optimal dan fungsi pernapasan. SLKI ini lebih luas dari sekadar membersihkan jalan napas, mencakup upaya meningkatkan fungsi sistem pernapasan secara keseluruhan. Perawat mengkaji frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan, serta penggunaan otot bantu. Latihan napas dalam dan batuk efektif diajarkan dan difasilitasi. Perawat membantu dalam positioning untuk optimasi ventilasi, seperti posisi duduk bersandar atau tidur dengan kepala lebih tinggi. Lingkungan diatur agar bebas dari iritan seperti debu atau asap. Asupan nutrisi dan cairan yang cukup dipantau untuk mendukung energi pernapasan dan pengenceran sekret. Perawat juga memantau respons pasien terhadap terapi medis (seperti bronkodilator jika diberikan dan OAT) dan memberikan edukasi tentang pentingnya istirahat untuk menghemat energi dan mengurangi konsumsi oksigen. Pemantauan gas darah dan saturasi oksigen merupakan evaluasi penting dari SLKI ini.
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Tindakan untuk mempertahankan jalan napas paten dan meningkatkan pertukaran gas. Implementasi SIKI ini untuk diagnosa bersihan jalan napas tidak efektif berfokus pada tindakan langsung membersihkan sekret. Perawat melakukan auskultasi suara napas secara berkala untuk mendeteksi adanya penumpukan sekret (ronkhi, wheezing). Teknik fisioterapi dada seperti perkusi dan vibrasi dapat dilakukan untuk membantu melonggarkan dahak yang kental. Dorongan untuk batuk secara spontan dan teratur diberikan. Jika pasien lemah, bantuan dengan suctioning mungkin diperlukan. Pemberian nebulasi dengan saline normal dapat direkomendasikan untuk melembabkan jalan napas dan mengencerkan dahak. Perawat juga mengevaluasi efektivitas upaya pengeluaran sekret dengan menilai kemudahan bernapas, pengurangan suara napas abnormal, dan penurunan frekuensi batuk tidak produktif. Edukasi pada keluarga tentang cara membantu pasien dalam melakukan teknik pernapasan dan pengaturan posisi juga termasuk dalam SIKI ini.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh, yang dapat menyebabkan penurunan berat badan, kelemahan, dan menghambat penyembuhan.
Kode SLKI: 1100
Deskripsi : Manajemen Nutrisi: Tindakan untuk memfasilitasi asupan makanan dan cairan yang seimbang untuk mendukung kebutuhan metabolik. Pada pasien TB paru dengan anoreksia, SLKI ini dimulai dengan pengkajian pola makan, berat badan, status albumin, dan faktor penghambat nafsu makan (seperti mual, sesak, atau rasa tidak enak akibat obat). Perawat berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet tinggi kalori dan tinggi protein dalam porsi kecil namun sering, disesuaikan dengan toleransi pasien. Makanan disajikan dalam bentuk yang menarik dan mudah dikunyah. Lingkungan makan dibuat nyaman dan bebas dari bau yang tidak sedap. Perawat mendokumentasi asupan makanan dan cairan secara akurat. Edukasi diberikan pada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi dalam proses penyembuhan dan melawan infeksi TB, serta cara memilih makanan yang padat gizi. Suplemen nutrisi oral dapat direkomendasikan. Pemantauan berat badan secara teratur dilakukan untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi.
Kode SIKI: 1050
Deskripsi : Bantuan Makan: Tindakan untuk membantu orang lain dalam mengonsumsi makanan. SIKI ini lebih spesifik pada tindakan langsung membantu pasien yang mungkin lemah, sesak, atau tidak bersemangat untuk makan. Perawat memastikan pasien dalam posisi yang nyaman (biasanya duduk) sebelum makan untuk mencegah aspirasi. Perawat dapat membantu memotong makanan, menyuapi, atau memberikan dorongan verbal untuk menghabiskan makanan. Kecepatan makan diatur agar pasien tidak kelelahan. Kebersihan mulut sebelum dan sesudah makan dijaga untuk meningkatkan nafsu makan. Perawat juga memantau adanya kesulitan menelan (disfagia) dan melaporkannya. Tindakan sederhana seperti menemani pasien makan atau melibatkan keluarga dalam proses pemberian makan dapat meningkatkan motivasi pasien untuk mengonsumsi nutrisi yang dibutuhkan untuk pemulihan dari penyakit kronis dan infeksius seperti tuberkulosis.
-
Article No. 24202 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Hipertermia terkait Proses Penyakit Infeksi Virus Campak
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons inflamasi sistemik terhadap mikroorganisme patogen atau endotoksinnya.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI: Kontrol Infeksi. Tujuan utama adalah mencegah penyebaran infeksi dan mengatasi hipertermia. Perawat akan memantau tanda-tanda vital, khususnya suhu tubuh, setiap 2-4 jam untuk mendeteksi pola demam. Perawat akan mengajarkan dan mendorong orang tua untuk memberikan kompres hangat di aksila dan lipat paha untuk membantu menurunkan suhu tubuh secara fisik. Perawat akan memastikan asupan cairan anak meningkat, baik melalui minuman air putih, susu, atau kuah sup, untuk mencegah dehidrasi yang dipicu oleh demam. Perawat akan mengisolasi pasien sesuai dengan kewaspadaan droplet dan udara, menggunakan masker bagi yang kontak, serta mengajarkan etika batuk dan bersin yang benar (menutup mulut dengan lengan atas) untuk mencegah penularan virus campak ke orang lain. Perawat akan memantau karakteristik ruam dan mukosa mulut untuk mendeteksi tanda-tanda infeksi sekunder pada kulit. Selain itu, perawat akan memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya tirah baring, nutrisi yang adekuat (tinggi kalori dan protein, lembut), serta pentingnya vaksinasi campak untuk anggota keluarga lain yang belum terproteksi.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : SIKI: Manajemen Infeksi. Intervensi keperawatan spesifik dimulai dengan pengukuran suhu yang akurat menggunakan termometer yang sesuai dan pencatatan yang teliti. Perawat akan melaksanakan tindakan isolasi dengan ketat, termasuk menempatkan pasien di ruangan tersendiri jika memungkinkan, atau menjaga jarak minimal 1 meter dari pasien lain, serta menggunakan alat pelindung diri (APD) yang tepat seperti masker bedah/N95. Perawat akan melakukan desinfeksi terhadap lingkungan sekitar pasien dan peralatan yang digunakan. Untuk manajemen hipertermia, perawat akan melaksanakan teknik kompres hangat dengan air suhu biasa (bukan air dingin/es) pada area pembuluh darah besar. Perawat akan mendokumentasikan asupan dan haluaran cairan untuk menilai keseimbangan cairan. Perawat akan memberikan edukasi secara komprehensif kepada keluarga, menjelaskan tentang patofisiologi campak, masa penularan (dari 4 hari sebelum sampai 4 hari setelah ruam muncul), pentingnya menghindari kontak dengan ibu hamil dan bayi yang belum divaksin, serta tanda-tanda bahaya seperti kejang, sesak napas, atau penurunan kesadaran yang mengharuskan segera kembali ke fasilitas kesehatan. Perawat juga akan melakukan perawatan kulit dengan memandikan anak menggunakan air hangat dan sabun lembut, mengeringkan kulit dengan ditepuk-tepuk (tidak digosok), serta memotong kuku anak untuk mencegah garukan yang dapat menyebabkan infeksi sekunder pada ruam. Perawat akan memantau munculnya komplikasi seperti diare, pneumonia, atau ensefalitis dengan waspada. Kolaborasi dengan tim medis dilakukan untuk pemberian terapi suportif seperti antipiretik (parasetamol), suplementasi vitamin A (yang terbukti mengurangi keparahan penyakit campak), dan antibiotik jika ada indikasi infeksi bakteri sekunder. Semua tindakan didokumentasikan secara lengkap untuk evaluasi keberhasilan intervensi dan kelanjutan asuhan.
-
Article No. 24203 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien mengeluh pusing berputar,ketika berubah posisi,hari mual muntah kecoklatan,batuk,pilek pasien riwayat cuci darah 1 Minggu 2 kali,riwayat Hipertensi dan DM
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Vertigo Posisional, Gagal Ginjal Kronik Stadium 5, Hipertensi, dan Diabetes Melitus dengan Komplikasi Ginjal
Kode ICD-10: H81.1, N18.5, I10, E11.22
Deskripsi Singkat : Pasien mengalami kompleksitas kondisi medis yang saling terkait. Keluhan utama pusing berputar yang dipicu perubahan posisi sangat mengarah pada Vertigo Posisional (H81.1), yaitu gangguan keseimbangan akibat masalah di telinga bagian dalam. Riwayat cuci darah dua kali seminggu menunjukkan Gagal Ginjal Kronik Stadium 5 (N18.5), yaitu tahap akhir penyakit ginjal yang memerlukan terapi pengganti ginjal. Hipertensi (I10) dan Diabetes Melitus (E11.22) merupakan komorbiditas utama yang sering menjadi penyebab dasar gagal ginjal diabetik. Mual muntah kecoklatan dapat terkait dengan uremia dari gagal ginjal atau gastroparesis diabetik, sedangkan batuk pilek mungkin merupakan infeksi saluran napas akut yang menyertai. Kode ICD-10 yang diusulkan merepresentasikan rangkaian diagnosis ini: H81.1 untuk gejala vertigo, N18.5 untuk kondisi ginjal terminal, I10 untuk hipertensi, dan E11.22 untuk diabetes melitus tipe 2 dengan komplikasi nefropati. Penatalaksanaan memerlukan pendekatan multidisiplin untuk mengatasi gejala akut (vertigo), mengelola terapi dialisis, dan mengontrol penyakit sistemik (hipertensi dan diabetes) secara ketat.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24204 | 23 Feb 2026
Klinis : pasien ca mammae dengan luka ulkus di mammae kiri , bau sampaikem luar ruangan, riwayat operdarahandi lkuka
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Integritas Kulit/Jaringan
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen atau toksin endogen.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : SLKI 1900: Manajemen Infeksi. Tindakan untuk mencegah atau mengurangi infeksi. Pada pasien dengan ulkus kanker payudara yang berbau busuk dan riwayat perdarahan, fokus SLKI adalah pada pengendalian infeksi dan pencegahan komplikasi. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Melakukan asesmen luka secara komprehensif termasuk lokasi, ukuran, kedalaman, karakteristik eksudat, dan tanda-tanda infeksi (seperti bau, eritema, edema, panas, nyeri). Bau busuk yang menyengat menunjukkan infeksi berat dan kemungkinan nekrosis jaringan. 2) Menerapkan teknik aseptik ketat selama perawatan luka untuk mencegah kontaminasi silang. 3) Melakukan perawatan luka dengan pembersihan menggunakan larutan antiseptik yang sesuai (misalnya, NaCl 0,9% atau antiseptik lain berdasarkan kebijakan dan kondisi luka) dan debridemen jika diperlukan untuk mengangkat jaringan nekrotik yang menjadi media pertumbuhan bakteri. 4) Memilih balutan yang tepat (misalnya, balutan modern seperti hidrofiber dengan silver untuk mengontrol bakteri dan bau, atau balutan karbon untuk menyerap bau) yang dapat mengelola eksudat dan odor. 5) Memantau tanda-tanda sistemik infeksi seperti demam, takikardia, dan peningkatan leukosit. 6) Melakukan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya kebersihan, teknik perawatan luka di rumah jika memungkinkan, dan tanda-tanda infeksi yang harus diwaspadai. 7) Berkolaborasi dengan tim medis untuk pemberian antibiotik sistemik atau topikal sesuai indikasi. 8) Mengelola faktor risiko perdarahan dengan teknik perawatan luka yang lembut dan menggunakan balutan hemostatik jika diperlukan.
Kode SIKI: 4208
Deskripsi : SIKI 4208: Perawatan Luka. Tindakan untuk mempertahankan integritas kulit dan merawat luka. Pada kasus ulkus kanker payudara, perawatan luka merupakan intervensi kritis yang kompleks. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Persiapan: menciptakan lingkungan yang nyaman dan privasi bagi pasien, mencuci tangan, menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap (sarung tangan steril, apron, masker) terutama mengingat bau yang kuat dan risiko paparan cairan tubuh. 2) Asesmen Luka: membuka balutan lama dengan hati-hati, mengobservasi luka (warna jaringan, tipe jaringan di dasar luka, jumlah dan karakter eksudat, bau, kondisi kulit sekitar). Ulkus keganasan sering memiliki tepi yang tidak teratur, dasar luka dengan jaringan nekrotik (hitam/eskar) atau slough (kuning), serta eksudat yang banyak dan berbau. 3) Pembersihan Luka: membersihkan luka dengan teknik irigasi lembut menggunakan larutan steril (NaCl 0,9%) dan syringe untuk mengurangi trauma. Menghindari penggunaan kapas yang dapat meninggalkan serat. Debridemen autolitik, mekanik lembut, atau enzimatik mungkin diperlukan untuk membersihkan luka, namun debridemen bedah harus dikolaborasikan dengan dokter. Perhatian ekstra diberikan karena riwayat perdarahan. 4) Pemilihan dan Aplikasi Balutan: memilih balutan berdasarkan prinsip TIME (Tissue, Infection/Inflammation, Moisture balance, Edge). Untuk mengontrol bau dan infeksi, balutan dengan silver atau metronidazole topikal dapat dipertimbangkan. Untuk mengelola eksudat yang banyak, digunakan balutan penyerap tinggi seperti alginat atau hidrofiber. Balutan harus melindungi kulit sekitar dari maserasi. 5) Dokumentasi: mendokumentasikan temuan, prosedur yang dilakukan, dan respons pasien secara akurat. 6) Edukasi dan Dukungan Psikososial: memberikan penjelasan tentang prosedur perawatan luka untuk mengurangi kecemasan. Memberikan dukungan emosional mengingat luka yang terlihat dan berbau dapat sangat menekan harga diri dan kualitas hidup pasien. Manajemen nyeri sebelum, selama, dan setelah perawatan luka juga harus dilakukan. Tindakan ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan luka yang optimal, mengontrol gejala (bau, eksudat), mencegah komplikasi (infeksi, perdarahan), dan meningkatkan kenyamanan serta kualitas hidup pasien.
-
Article No. 24205 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien mengeluh pusing berputar,ketika berubah posisi,hari mual muntah kecoklatan,batuk,pilek pasien riwayat cuci darah 1 Minggu 2 kali,riwayat Hipertensi dan DM
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 0025
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau fluktuasi tekanan darah arteri sistolik dan/atau diastolik dari rentang yang dianggap normal bagi individu, yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 2402
Deskripsi : Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan. Kriteria hasil: 1) Tekanan darah sistolik dalam rentang yang diharapkan. 2) Tekanan darah diastolik dalam rentang yang diharapkan. 3) Melaporkan tidak adanya gejala hipotensi (misalnya, pusing, sinkop). 4) Melaporkan tidak adanya gejala hipertensi (misalnya, sakit kepala, penglihatan kabur). 5) Mempertahankan tekanan darah yang stabil selama perubahan posisi.
Kode SIKI: 3400
Deskripsi : Pemantauan Tekanan Darah. Intervensi: 1) Identifikasi faktor risiko ketidakstabilan tekanan darah (misalnya, riwayat penyakit, pengobatan, prosedur). 2) Observasi tanda dan gejala hipotensi (misalnya, pusing, kelemahan, penurunan kesadaran, mual, kulit dingin dan lembab). 3) Observasi tanda dan gejala hipertensi (misalnya, sakit kepala, epistaksis, kelelahan, muntah, kejang, penurunan kesadaran). 4) Monitor tekanan darah sesuai kondisi pasien. 5) Bandingkan hasil pengukuran tekanan darah dengan rentang normal pasien dan hasil sebelumnya. 6) Lakukan pengukuran tekanan darah pada posisi yang sama (berbaring, duduk, atau berdiri) dan lengan yang sama setiap pengukuran. 7) Lakukan pengukuran tekanan darah pada kedua lengan dan bandingkan. 8) Anjurkan untuk menghindari manuver valsava. 9) Kolaborasi pemberian terapi untuk mengontrol tekanan darah sesuai indikasi.
Kondisi: Risiko Penurunan Volume Cairan
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko mengalami penurunan volume cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 1104
Deskripsi : Keseimbangan Cairan. Kriteria hasil: 1) Tanda vital dalam rentang normal. 2) Membran mukosa lembab. 3) Turgor kulit elastis. 4) Produksi urin adekuat. 5) Tidak ada rasa haus yang berlebihan. 6) Warna urin kuning muda. 7) Hasil laboratorium terkait keseimbangan cairan dalam rentang normal.
Kode SIKI: 4160
Deskripsi : Manajemen Cairan. Intervensi: 1) Monitor tanda-tanda dehidrasi (misalnya, turgor kulit, membran mukosa, rasa haus, produksi urin, tekanan darah, denyut nadi). 2) Monitor asupan dan haluaran cairan. 3) Timbang berat badan setiap hari dengan skala yang sama, waktu yang sama, dan pakaian yang sama. 4) Anjurkan meningkatkan asupan cairan sesuai toleransi dan batasan penyakit. 5) Kolaborasi pemberian cairan intravena sesuai indikasi. 6) Kolaborasi pemeriksaan laboratorium (misalnya, elektrolit, ureum, kreatinin, hematokrit). 7) Monitor tanda-tanda kelebihan volume cairan (misalnya, edema, crackles, distensi vena jugularis) terutama terkait riwayat cuci darah dan anuria.
Kondisi: Mual
Kode SDKI: 0029
Deskripsi Singkat: Sensasi tidak nyaman di faring, abdomen, atau dada yang dapat disertai keinginan untuk muntah atau tanpa muntah.
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Kontrol Mual. Kriteria hasil: 1) Melaporkan tidak adanya mual. 2) Melaporkan penurunan frekuensi mual. 3) Melaporkan penurunan keparahan mual. 4) Mempertahankan asupan nutrisi dan cairan. 5) Tidak terjadi muntah.
Kode SIKI: 1450
Deskripsi : Manajemen Mual. Intervensi: 1) Identifikasi faktor penyebab mual (misalnya, efek samping pengobatan, gangguan metabolik seperti uremia dari gagal ginjal, gangguan vestibular dari pusing). 2) Observasi frekuensi, durasi, dan faktor pencetus mual. 3) Observasi karakteristik muntahan (warna, volume, frekuensi). Muntah kecoklatan dapat mengindikasikan perdarahan saluran cerna bagian atas yang merupakan komplikasi serius pada pasien gagal ginjal. 4) Anjurkan teknik relaksasi napas dalam. 5) Anjurkan menghindari bau yang kuat. 6) Atur posisi semi-Fowler setelah makan. 7) Berikan perawatan mulut setelah muntah. 8) Kolaborasi pemberian antiemetik sesuai indikasi. 9) Kolaborasi pemeriksaan lebih lanjut untuk muntah kecoklatan.
Kondisi: Ketidakefektifan Bersihan Jalan Napas
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan kebersihan jalan napas.
Kode SLKI: 0410
Deskripsi : Status Pernapasan. Kriteria hasil: 1) Suara napas bersih. 2) Tidak ada sianosis. 3) Tidak menggunakan otot bantu pernapasan. 4) Laju napas dalam rentang normal. 5) Melaporkan tidak adanya sesak napas. 6) Mampu mengeluarkan sekret efektif.
Kode SIKI: 3180
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi: 1) Auskultasi suara napas, catat adanya suara tambahan (ronkhi, wheezing). 2) Observasi karakteristik batuk dan sekret (sputum). 3) Bantu latihan napas dalam dan batuk efektif. 4) Ajarkan teknik batuk yang tepat. 5) Atur posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi paru. 6) Lakukan fisioterapi dada jika diperlukan. 7) Lakukan penghisapan lendir jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekret. 8) Kolaborasi pemberian terapi nebulizer atau obat bronkodilator sesuai indikasi. 9) Anjurkan peningkatan asupan cairan untuk mengencerkan sekret, dengan mempertimbangkan batasan cairan pada pasien cuci darah.
-
Article No. 24206 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan varicella
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Hipertermia terkait Proses Penyakit Infeksius (Campak)
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen atau toksin.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Tujuan: Infeksi dapat dicegah atau dikendalikan. Kriteria hasil: 1) Menunjukkan teknik mencuci tangan yang tepat. 2) Suhu tubuh dalam rentang normal. 3) Tanda-tanda infeksi tidak ada. 4) Hasil laboratorium dalam batas normal. 5) Menggunakan teknik aseptik sesuai indikasi. 6) Menunjukkan perilaku untuk mencegah penularan infeksi. Pada pasien anak dengan dugaan campak (berdasarkan gejala demam tinggi, ruam, bintik Koplik, batuk, dan mata merah), SLKI ini berfokus pada upaya mencegah penyebaran infeksi virus campak yang sangat menular ke orang lain, sekaligus mencegah infeksi sekunder pada pasien sendiri akibat kerusakan kulit dan membran mukosa. Perawat akan mengisolasi pasien, mengajarkan dan memastikan cuci tangan yang efektif pada semua orang yang kontak, memantau tanda-tanda infeksi bakteri sekunder pada ruam kulit, dan memastikan lingkungan bersih. Pencapaian kriteria hasil ditandai dengan tidak adanya demam, ruam mengering tanpa nanah, dan tidak ada penularan ke pasien lain atau pengunjung.
Kode SIKI: 1401
Deskripsi : Manajemen Isolasi. Tindakan: 1) Identifikasi jenis isolasi yang diperlukan sesuai dengan penyakit. 2) Gunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai. 3) Batasi pengunjung. 4) Berikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang prosedur isolasi. 5) Tempatkan pasien di ruangan yang sesuai. 6) Batasi pergerakan pasien keluar dari ruangan. 7) Gunakan teknik pembuangan linen dan sampah yang tepat. 8) Lakukan dekontaminasi peralatan dan lingkungan. Pada kasus campak, isolasi udara (airborne precaution) sangat krusial karena virus menyebar melalui udara. Perawat akan menempatkan pasien di ruang isolasi udara jika tersedia, atau ruangan dengan ventilasi baik dan pintu tertutup. Penggunaan masker N95 atau respirator sangat penting bagi petugas yang masuk. Pengunjung dibatasi secara ketat. Semua alat medis dan non-medis yang digunakan khusus untuk pasien. Edukasi pada keluarga tentang pentingnya isolasi untuk mencegah wabah, mengingat campak sangat menular sejak 4 hari sebelum hingga 4 hari setelah ruam muncul. Tindakan ini langsung menurunkan risiko penularan.
Kondisi: Hipertermia terkait Proses Penyakit Infeksius
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Suhu tubuh meningkat di atas rentang normal.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kontrol Suhu Tubuh. Tujuan: Suhu tubuh kembali normal. Kriteria hasil: 1) Suhu tubuh dalam rentang normal. 2) Kulit hangat dan kering. 3) Nadi dan pernapasan dalam rentang normal. 4) Tidak menggigil. 5) Tidak ada perubahan kesadaran. Pada pasien anak dengan demam tinggi, tujuan utamanya adalah menurunkan suhu untuk mencegah komplikasi seperti kejang demam dan mengurangi ketidaknyamanan. Perawat akan memantau suhu secara berkala, mencatat pola demam, dan menilai tanda vital lain seperti nadi dan pernapasan. Kulit yang tetap hangat namun tidak panas, serta vital sign yang stabil menandakan keberhasilan intervensi. Penting juga memastikan anak tetap sadar dan responsif selama fase demam.
Kode SIKI: 3900
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Tindakan: 1) Monitor suhu tubuh secara teratur. 2) Berikan lingkungan yang nyaman (atur suhu ruangan, sirkulasi udara). 3) Berikan kompres hangat/tepid sponge (hindari air dingin karena dapat menyebabkan menggigil). 4) Anjurkan peningkatan asupan cairan. 5) Kolaborasi pemberian antipiretik sesuai resep. 6) Ganti pakaian/bed cover yang basah karena keringat. 7) Anjurkan tirah baring. Untuk pasien anak campak, manajemen demam harus hati-hati. Kompres hangat di dahi dan ketiak dapat membantu. Asupan cairan yang meningkat (air, jus, susu) sangat vital untuk mengganti cairan yang hilang melalui penguapan dan mencegah dehidrasi. Pemberian parasetamol sesuai dosis berat badan akan dikolaborasikan dengan dokter. Perawat juga akan mengajari orang tua cara mengukur suhu dan pemberian obat yang aman di rumah. Tindakan ini secara langsung menurunkan suhu tubuh dan meningkatkan kenyamanan pasien.
Kondisi: Nyeri Akut terkait Proses Inflamasi dan Lesi pada Membran Mukosa (Kulit dan Mulut)
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat.
Kode SLKI: 1301
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tujuan: Nyeri dapat dikontrol atau dihilangkan. Kriteria hasil: 1) Melaporkan nyeri berkurang atau hilang. 2) Ekspresi wajah rileks. 3) Dapat beristirahat dan tidur dengan nyenyak. 4) Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan. Pada anak dengan ruam kulit gatal dan lesi di mulut (bintik Koplik dapat menjadi nyeri), tujuan perawat adalah mengurangi gatal dan nyeri untuk mencegah garukan yang menyebabkan infeksi sekunder dan meningkatkan asupan nutrisi. Keberhasilan ditandai dengan anak tidak rewel, tidak menggaruk, dapat tidur tenang, dan mau minum/makan meski ada sariawan.
Kode SIKI: 0840
Deskripsi : Manajemen Gatal. Tindakan: 1) Pertahankan kelembaban kulit dengan lotion yang tidak mengandung alkohol. 2) Potong kuku dan jaga kebersihan kuku. 3) Gunakan pakaian longgar dan lembut (katun). 4) Anjurkan mandi dengan air dingin atau hangat (bukan air panas). 5) Kolaborasi pemberian obat antipruritus sesuai resep. 6) Alihkan perhatian dari rasa gatal. 7) Hindari faktor pencetus seperti keringat dan panas. Untuk lesi mulut, tindakan termasuk berikan makanan lunak, dingin, dan tidak asam; anjurkan berkumur air hangat setelah makan; kolaborasi pemberian analgesik topikal untuk mulut jika diresepkan. Tindakan ini langsung mengurangi stimulus nyeri dan gatal, meningkatkan integritas kulit dan mukosa, serta meningkatkan kenyamanan pasien.
-
Article No. 24207 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari,tidak bisa bab mulai kemaren kencing keruh dan nyeri tekan perut sebelah kanan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Peningkatan risiko invasi dan multiplikasi patogen.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Tujuan: Pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi. Kriteria hasil: 1) Suhu tubuh dalam rentang normal. 2) Tidak ada tanda-tanda infeksi lokal (seperti kemerahan, bengkak, nyeri tekan, panas, atau drainase pus). 3) Hasil pemeriksaan penunjang (seperti leukosit) dalam batas normal. 4) Melaporkan peningkatan kenyamanan. 5) Menunjukkan perilaku pencegahan infeksi. Penjelasan: Pada kasus pasien anak ini, demam tinggi selama 3 hari merupakan indikator utama respons sistemik terhadap infeksi. Kencing keruh sangat sugestif terhadap infeksi saluran kemih (ISK), dan nyeri tekan perut kanan bawah menimbulkan kecurigaan apendisitis atau infeksi gastrointestinal lainnya. Ketidakmampuan BAB (konstipasi) dapat menjadi faktor penyerta atau akibat dari proses infeksi dan nyeri. SLKI ini berfokus pada pemantauan tanda-tanda infeksi, pemberian terapi antipiretik dan antibiotik sesuai resep, serta edukasi keluarga untuk mencegah penyebaran infeksi dan mengenali tanda-tanda kegawatan.
Kode SIKI: 4200
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Intervensi: 1) Pantau tanda-tanda vital, terutama suhu, setiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan. 2) Lakukan teknik aseptik ketat pada semua prosedur (misalnya, jika diperlukan kateterisasi). 3) Kolaborasi pemberian terapi antibiotik sesuai resep dokter, pastikan dosis dan waktu pemberian tepat. 4) Anjurkan dan bantu peningkatan asupan cairan oral yang adekuat untuk membantu menurunkan demam dan membersihkan saluran kemih. 5) Ajarkan dan anjurkan kebersihan perorangan yang benar, terutama saat buang air kecil (membersihkan dari depan ke belakang). 6) Lakukan tata laksana demam: kompres hangat di aksila dan lipat paha, pakaian tipis, lingkungan sejuk. 7) Kolaborasi dalam pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratorium (darah lengkap, urinalisis, kultur urin) sesuai instruksi. 8) Ajarkan pada orang tua tanda-tanda infeksi yang perlu dilaporkan segera: demam tidak turun, kejang, anak semakin lemah, nyeri perut bertambah hebat, atau tidak bisa minum. 9) Atasi nyeri dengan pendekatan non-farmakologis (distraksi, posisi nyaman) dan kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep. 10) Pantau pola eliminasi (BAB dan BAK) untuk mengevaluasi adanya retensi urin atau obstipasi lebih lanjut. Penjelasan: Intervensi ini komprehensif untuk menangani sumber infeksi yang diduga (saluran kemih dan/atau usus buntu), mengontrol gejala (demam, nyeri), mencegah komplikasi (sepsis), dan memberdayakan keluarga dalam perawatan. Peningkatan asupan cairan sangat krusial untuk pasien dengan demam dan ISK. Edukasi kebersihan perorangan penting untuk mencegah ISK berulang. Pemantauan ketat terhadap perkembangan nyeri perut kanan bawah esensial untuk mendeteksi kemungkinan apendisitis akut yang memerlukan tindakan bedah.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tujuan: Nyeri pasien teratasi. Kriteria hasil: 1) Melaporkan penurunan nyeri (skala nyeri menurun). 2) Menunjukkan perilaku adaptif terhadap nyeri (tidak menangis, dapat beristirahat, kooperatif selama pemeriksaan). 3) Tanda-tanda fisiologis terkait nyeri (seperti takikardia, gelisah) menurun atau hilang. 4) Ekspresi wajah rileks. Penjelasan: Pasien anak usia 5 tahun mungkin belum dapat menggambarkan nyeri dengan tepat, sehingga pengkajian menggunakan skala nyeri wajah (Faces Pain Scale) sangat diperlukan. Keluhan "nyeri tekan perut sebelah kanan" merupakan indikator nyeri visceral yang signifikan dan memerlukan penanganan segera untuk mencegah penderitaan, mengurangi kecemasan, serta memudahkan pemeriksaan dan pengobatan. Pengelolaan nyeri juga dapat membantu menurunkan respons stres tubuh yang dapat memperburuk kondisi infeksi.
Kode SIKI: 0840
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi: 1) Kaji karakteristik nyeri (lokasi, intensitas menggunakan skala yang sesuai usia, durasi, faktor pencetus dan pereda) setiap 2-4 jam dan setelah intervensi. 2) Ajarkan teknik distraksi untuk mengurangi persepsi nyeri (misalnya, bermain, menonton video, mendengarkan cerita). 3) Atur posisi yang nyaman untuk pasien, biasanya dengan lutut ditekuk untuk mengurangi tegangan pada abdomen. 4) Lakukan sentuhan terapeutik dan berikan lingkungan yang tenang. 5) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai resep dokter (misalnya parasetamol untuk nyeri dan demam, atau analgesik lain sesuai indikasi), evaluasi efektivitas dan efek sampingnya. 6) Hindari tindakan yang menekan atau memberikan tekanan pada area perut kanan bawah. 7) Berikan informasi yang sesuai usia tentang prosedur yang mungkin menimbulkan nyeri. 8) Libatkan orang tua dalam memberikan kenyamanan dan dukungan emosional. Penjelasan: Pendekatan manajemen nyeri pada anak harus holistik, menggabungkan metode farmakologis dan non-farmakologis. Distraksi sangat efektif untuk anak usia prasekolah. Pemberian analgesik tidak hanya menangani nyeri tetapi juga dapat membantu menurunkan demam. Penting untuk tidak memberikan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID) tanpa anjuran dokter karena berisiko jika terdapat gangguan ginjal atau perdarahan. Kolaborasi dengan tim medis diperlukan jika nyeri sangat hebat dan mengindikasikan kondisi bedah seperti apendisitis.
Kondisi: Konstipasi
Kode SDKI: 00011
Deskripsi Singkat: Penurunan frekuensi buang air besar dari biasanya, disertai dengan pengeluaran feses yang keras, kering, dan/atau upaya mengejan yang berlebihan.
Kode SLKI: 0501
Deskripsi : Kontrol Eliminasi Feses. Tujuan: Pasien dapat mencapai eliminasi feses yang adekuat. Kriteria hasil: 1) Melaporkan atau menunjukkan kemampuan untuk defekasi. 2) Konsistensi feses lunak dan berbentuk. 3) Tidak ada ketidaknyamanan atau nyeri saat defekasi. 4) Frekuensi defekasi kembali ke pola biasanya. Penjelasan: Keluhan "tidak bisa bab mulai kemarin" menunjukkan adanya gangguan eliminasi. Konstipasi pada anak dengan demam dan nyeri perut dapat terjadi karena beberapa faktor: asupan cairan dan serat yang kurang selama sakit, imobilisasi, nyeri saat mengejan, atau sebagai gejala dari proses penyakit yang mendasarinya (misalnya, apendisitis dapat menyebabkan ileus paralitik). Mengatasi konstipasi penting untuk mengurangi ketidaknyamanan abdominal dan mencegah komplikasi seperti impaksi.
Kode SIKI: 0450
Deskripsi : Manajemen Konstipasi. Intervensi: 1) Kaji riwayat pola eliminasi biasa dan karakteristik konstipasi saat ini (lama, konsistensi feses terakhir). 2) Tingkatkan asupan cairan oral secara bertahap jika tidak ada kontraindikasi (muntah atau kecurigaan obstruksi). 3) Kolaborasi pemberian diet tinggi serat (buah-buahan seperti pepaya, pir, sayuran) jika kondisi anak memungkinkan dan tidak ada kecurigaan apendisitis akut yang memerlukan puasa. 4) Anjurkan mobilisasi sesuai toleransi (jika tidak terlalu lemah). 5) Lakukan stimulasi peristaltik dengan pijat perut lembut searah jarum jam, jika nyeri perut tidak terlalu hebat. 6) Kolaborasi pemberian laksatif atau supositoria sesuai resep dokter setelah penyebab obstruktif (seperti apendisitis) disingkirkan. 7) Ajarkan dan bantu anak untuk duduk di toilet dengan posisi yang nyaman (kaki menapak) pada waktu-waktu biasanya BAB. 8) Pantau distensi abdomen dan bunyi usus. Penjelasan: Intervensi awal harus fokus pada metode non-farmakologis seperti hidrasi dan pijat. Pemberian serat dan laksatif harus sangat hati-hati dan hanya setelah evaluasi medis menyeluruh, karena pada kasus apendisitis atau obstruksi usus, intervensi tersebut dapat berbahaya. Prioritas utama adalah menangani infeksi dan nyeri, yang seringkai dapat secara tidak langsung memperbaiki motilitas usus.
-
Article No. 24208 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 25 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari,tidak bisa bab mulai kemaren kencing keruh dan nyeri tekan perut sebelah kanan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kolonisasi dan invasi patogen, yang dapat mengganggu integritas pertahanan tubuh.
Kode SLKI: 1910
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Tindakan untuk mencegah, meminimalkan, dan menangani infeksi nosokomial. Pasien akan menunjukkan tanda-tanda infeksi terkontrol atau teratasi, seperti penurunan suhu tubuh, tidak ada tanda peradangan baru, dan hasil laboratorium dalam batas normal. Intervensi keperawatan difokuskan pada pemantauan ketat tanda-tanda vital, khususnya suhu, memastikan teknik aseptik dalam semua prosedur, memberikan edukasi tentang pentingnya kebersihan diri dan lingkungan, serta kolaborasi pemberian terapi antibiotik sesuai resep. Evaluasi dilakukan dengan membandingkan kondisi klinis pasien sebelum dan setelah intervensi, seperti penurunan demam, hilangnya nyeri tekan, dan perbaikan hasil pemeriksaan penunjang.
Kode SIKI: 4200
Deskripsi : Manajemen Infeksi: Tindakan untuk mencegah dan menangani infeksi. Intervensi spesifik meliputi: 1) Memantau tanda-tanda vital setiap 2-4 jam, terutama suhu, untuk mendeteksi perkembangan demam. 2) Melakukan pemeriksaan fisik fokus pada abdomen untuk mengkaji karakteristik nyeri, distensi, dan bunyi usus. 3) Mengobservasi karakteristik urine (warna, kejernihan, bau) dan keluhan disuria. 4) Menerapkan prinsip aseptik ketat dalam perawatan kateter (jika terpasang) atau pengambilan specimen urine. 5) Kolaborasi pemberian antipiretik dan antibiotik spektrum luas sesuai resep dokter, serta memantau efektivitas dan efek sampingnya. 6) Meningkatkan asupan cairan secara oral atau parenteral untuk membantu menurunkan demam dan melancarkan produksi urine. 7) Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya menghabiskan antibiotik, teknik cuci tangan, dan tanda-tanda infeksi yang perlu dilaporkan. 8) Kolaborasi untuk pemeriksaan penunjang seperti tes darah lengkap dan urinalisis untuk memantau perkembangan infeksi. Tindakan ini bertujuan memutus rantai infeksi, mengendalikan penyebaran mikroorganisme, dan mendukung mekanisme pertahanan tubuh pasien.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan akhir yang dapat diantisipasi.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengenali, memonitor, dan mengambil tindakan untuk mengurangi nyeri. Pasien diharapkan melaporkan penurunan skala nyeri, menunjukkan perilaku nyaman (wajah rileks, dapat beristirahat), dan tanda-tanda vital dalam batas normal. Intervensi keperawatan meliputi pengkajian nyeri secara komprehensif menggunakan skala yang sesuai (misal, Numeric Rating Scale), termasuk lokasi, karakter, durasi, dan faktor pencetus. Selanjutnya, perawat akan menerapkan intervensi non-farmakologis seperti teknik distraksi, relaksasi napas dalam, atau kompres hangat pada area abdomen jika tidak kontraindikasi. Perawat juga akan berkolaborasi dalam pemberian analgesik sesuai resep, memantau efektivitasnya, dan mengevaluasi respons pasien terhadap terapi yang diberikan. Edukasi juga diberikan kepada pasien tentang pentingnya melaporkan nyeri secara dini dan metode non-farmakologis yang dapat dilakukan secara mandiri.
Kode SIKI: 1400
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Intervensi spesifik meliputi: 1) Mengkaji nyeri secara komprehensif setiap 2-4 jam atau setelah intervensi, menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Timing). 2) Menciptakan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk mendukung istirahat pasien. 3) Mengajarkan dan mendampingi teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi ketegangan otot dan ansietas yang memperberat nyeri. 4) Melakukan reposisi pasien secara perlahan untuk menemukan posisi yang paling nyaman. 5) Berkolaborasi dalam pemberian analgesik sesuai resep (misal, analgesik non-opioid atau opioid), dengan memantau efek samping seperti sedasi atau depresi pernapasan. 6) Mengevaluasi dan mendokumentasikan respons pasien terhadap intervensi farmakologis dan non-farmakologis 30 menit setelah pemberian obat. 7) Memberikan edukasi bahwa nyeri adalah pengalaman subjektif yang penting untuk dikomunikasikan dan bahwa penggunaan analgesik yang tepat tidak selalu menyebabkan adiksi. Tindakan ini bertujuan memodulasi transmisi nyeri, meningkatkan ambang nyeri, dan meningkatkan kenyamanan pasien.
Kondisi: Konstipasi
Kode SDKI: 00011
Deskripsi Singkat: Penurunan frekuensi defekasi dari biasanya, disertai dengan pengeluaran feses yang keras, kering, dan upaya mengejan.
Kode SLKI: 0501
Deskripsi : Pemulihan Konstipasi: Tindakan untuk mengembalikan pola defekasi normal. Pasien diharapkan dapat melakukan defekasi dengan konsistensi feses lunak, tanpa mengejan berlebihan, dan melaporkan perasaan legah pada abdomen. Intervensi keperawatan diawali dengan pengkajian riwayat pola BAB, kebiasaan diet, asupan cairan, dan tingkat aktivitas. Perawat akan mendorong peningkatan asupan cairan dan serat secara bertahap jika kondisi klinis memungkinkan, serta memfasilitasi mobilisasi atau aktivitas fisik ringan untuk merangsang peristaltik usus. Edukasi tentang pentingnya respons segera terhadap dorongan defekasi juga diberikan. Jika diperlukan, perawat akan berkolaborasi untuk pemberian laksatif atau pelunak feses sesuai resep, dengan mempertimbangkan penyebab konstipasi (dalam hal ini mungkin terkait demam, nyeri, dan kemungkinan infeksi).
Kode SIKI: 0450
Deskripsi : Manajemen Konstipasi: Tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan konstipasi. Intervensi spesifik meliputi: 1) Memantau dan mendokumentasi frekuensi, konsistensi, jumlah, dan warna feses. 2) Mengkaji abdomen terhadap distensi, bising usus, dan nyeri tekan. 3) Meningkatkan asupan cairan minimal 2-3 liter per hari jika tidak ada kontraindikasi (seperti gangguan ginjal atau jantung). 4) Menganjurkan konsumsi makanan tinggi serat seperti buah dan sayur, atau suplemen serat. 5) Mendorong aktivitas ambulasi atau latihan range of motion (ROM) di tempat tidur jika pasien lemah. 6) Mengajarkan teknik pijat abdomen lembut searah jarum jam untuk merangsang peristaltik. 7) Kolaborasi pemberian obat laksatif, supositoria, atau enema sesuai resep dan kebijakan institusi, setelah intervensi non-farmakologis dinilai kurang efektif. 8) Memberikan privasi dan waktu yang cukup bagi pasien saat ke toilet. 9) Mengevaluasi efektivitas intervensi dengan menanyakan perasaan tidak nyaman di perut dan keberhasilan BAB. Tindakan ini bertujuan melunakkan massa feses, meningkatkan motilitas usus, dan memfasilitasi evakuasi isi usus besar dengan nyaman.
-
Article No. 24209 | 23 Feb 2026
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 25 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari,tidak bisa bab mulai kemaren kencing keruh dan nyeri tekan perut sebelah kanan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kerentanan terhadap invasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : SLKI 1901: Kontrol Infeksi. Tujuan utama dari SLKI ini adalah agar pasien mampu mencegah, mendeteksi, dan mengelola risiko infeksi. Pada kasus ini, luaran yang diharapkan adalah pasien dan keluarga dapat memahami dan melakukan upaya pencegahan penyebaran infeksi, mengenali tanda-tanda infeksi yang memburuk, serta mematuhi rencana terapi yang diberikan. Perawat akan mengevaluasi keberhasilan intervensi berdasarkan kemampuan pasien dalam menjaga kebersihan diri, suhu tubuh yang kembali normal, tidak adanya tanda-tanda penyebaran infeksi, dan kepatuhan dalam mengonsumsi obat. Indikator pencapaiannya meliputi perilaku cuci tangan yang benar, penggunaan alat kesehatan yang steril sesuai protokol, serta laporan ketepatan waktu minum obat antibiotik.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : SIKI 4201: Manajemen Infeksi. Intervensi keperawatan ini melibatkan serangkaian tindakan sistematis untuk mengurangi risiko infeksi dan mengendalikan penyebarannya. Pada pasien dengan gejala demam tinggi, disuria, dan nyeri tekan abdomen kanan (mengarah ke kemungkinan infeksi saluran kemih atau apendisitis), intervensi spesifik yang dilakukan perawat antara lain: 1) Memantau tanda-tanda vital terutama suhu tubuh secara berkala untuk menilai perkembangan infeksi. 2) Melakukan pengkajian menyeluruh terhadap lokasi, karakteristik, dan intensitas nyeri untuk membantu diagnosis. 3) Mengajarkan dan mendorong pasien untuk meningkatkan asupan cairan (jika tidak ada kontraindikasi) untuk membantu mengatasi demam dan membersihkan saluran kemih. 4) Melakukan kolaborasi pemberian terapi antibiotik sesuai resep dokter dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. 5) Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang pentingnya menyelesaikan terapi antibiotik hingga tuntas, teknik cuci tangan yang benar, dan cara membuang sekret atau urine dengan aman. 6) Menerapkan prinsip aseptik dalam setiap prosedur perawatan. 7) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium seperti leukosit dan urinalisis. 8) Mengajarkan pasien untuk mengenali tanda-tanda gawat darurat seperti nyeri perut yang semakin hebat, muntah terus-menerus, atau penurunan kesadaran yang mengharuskan segera kembali ke fasilitas kesehatan. Tindakan-tindakan ini bertujuan untuk memutus rantai infeksi, mengontrol sumber infeksi, meningkatkan daya tahan tubuh pasien, dan mencegah komplikasi seperti sepsis.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau durasi singkat.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : SLKI 1401: Kontrol Nyeri. Tujuan dari luaran ini adalah agar tingkat nyeri yang dialami pasien dapat berkurang hingga tingkat yang dapat ditoleransi atau hilang sama sekali. Pada kasus nyeri tekan perut kanan, indikator pencapaiannya meliputi laporan verbal pasien tentang skala nyeri yang menurun (misalnya dari skala 7 menjadi 3 atau kurang), perilaku nonverbal yang menunjukkan kenyamanan (wajah tidak meringis, dapat beristirahat), tanda-tanda vital yang stabil (terutama frekuensi nadi), dan kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas ringan tanpa distraksi nyeri yang signifikan. Perawat akan mengevaluasi keberhasilan manajemen nyeri melalui pengukuran skala nyeri sebelum dan sesudah intervensi, observasi perilaku, serta kemampuan pasien untuk mengikuti rencana terapi.
Kode SIKI: 0810
Deskripsi : SIKI 0810: Manajemen Nyeri. Intervensi ini mencakup tindakan komprehensif untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri akut. Pada pasien dengan nyeri tekan perut kanan, perawat akan melakukan: 1) Pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi (kuadran kanan bawah abdomen), kualitas (tajam, tumpul), intensitas (menggunakan skala 0-10), durasi, dan faktor yang memperberat atau meringankan. 2) Memberikan posisi yang nyaman bagi pasien, seperti semi-Fowler atau dengan menekuk lutut, untuk mengurangi ketegangan otot abdomen. 3) Melakukan distraksi dengan teknik relaksasi napas dalam atau pengalihan perhatian melalui percakapan. 4) Mengkolaborasikan pemberian analgesik sesuai resep dokter (misalnya analgesik non-opioid atau opioid sesuai indikasi), memantau efektivitas, dan mengawasi efek samping seperti sedasi atau depresi pernapasan. 5) Memantau respons pasien terhadap terapi nyeri dan mengevaluasi setiap perubahan karakteristik nyeri yang dapat mengindikasikan perkembangan penyakit (misalnya nyeri menjadi menyebar yang mungkin menandakan perforasi). 6) Memberikan edukasi pada pasien tentang pentingnya melaporkan nyeri secara dini dan tidak menahannya, serta cara menggunakan skala nyeri untuk komunikasi yang efektif. 7) Mengajarkan teknik non-farmakologis sederhana yang dapat dilakukan mandiri. Tindakan ini bertujuan tidak hanya untuk memberikan kenyamanan, tetapi juga untuk mengurangi respons stres tubuh terhadap nyeri yang dapat memperburuk kondisi klinis.
Kondisi: Konstipasi
Kode SDKI: 00011
Deskripsi Singkat: Penurunan frekuensi defekasi dari biasanya disertai dengan pengeluaran feses yang keras, kering, dan upaya mengejan.
Kode SLKI: 0501
Deskripsi : SLKI 0501: Kontrol Eliminasi Feses. Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mencapai pola eliminasi feses yang normal dan teratur. Indikator pencapaiannya meliputi pasien melaporkan keberhasilan defekasi dengan feses yang lunak dan tanpa mengejan berlebihan, frekuensi defekasi kembali sesuai pola normal pasien (misalnya 1 kali dalam 1-2 hari), serta hilangnya perasaan tidak nyaman atau kembung di perut. Perawat akan mengevaluasi berdasarkan laporan pasien, observasi terhadap hasil defekasi (bila memungkinkan), dan pemeriksaan abdomen yang menunjukkan berkurangnya distensi atau nyeri tekan.
Kode SIKI: 0450
Deskripsi : SIKI 0450: Manajemen Konstipasi. Intervensi ini ditujukan untuk memfasilitasi pengeluaran feses yang terhambat dan mencegah kekambuhan. Pada pasien yang tidak bisa BAB mulai kemarin, tindakan perawat meliputi: 1) Mengkaji riwayat pola eliminasi, kebiasaan diet, asupan cairan, dan aktivitas fisik. 2) Melakukan auskultasi bising usus dan palpasi abdomen untuk menilai peristaltik dan adanya distensi atau massa feses. 3) Mendorong peningkatan asupan cairan secara bertahap jika tidak ada kontraindikasi (karena demam dan kemungkinan infeksi dapat menyebabkan dehidrasi yang memperberat konstipasi). 4) Menganjurkan peningkatan asupan serat secara bertahap ketika kondisi akut infeksi mulai membaik. 5) Kolaborasi pemberian laksatif atau supositoria sesuai resep dokter setelah mempertimbangkan kondisi nyeri abdomen (pada kasus nyeri abdomen akut yang belum jelas diagnosisnya, pemberian laksatif harus hati-hati). 6) Memfasilitasi mobilisasi atau aktivitas ringan sesuai toleransi untuk merangsang peristaltik usus. 7) Memberikan edukasi tentang hubungan antara asupan cairan, serat, aktivitas, dan eliminasi. 8) Mengajarkan teknik manajemen nyeri yang efektif karena nyeri dapat menghambat keinginan untuk defekasi. Penting untuk dicatat bahwa pada kasus dengan nyeri perut kanan yang akut, konstipasi bisa menjadi gejala dari kondisi yang mendasarinya (seperti apendisitis), sehingga manajemen konstipasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan selalu dikaitkan dengan pemantauan tanda-tanda kegawatan abdomen.