Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24324 | 06 Mar 2026
Klinis : • Keluhan sakit kepala (memegang kepala bagian depan dan tengkuk). • TD: 173/120 mmHg. • Nadi: 93 x/menit. • Mata tampak merah. • Kolesterol: 270 mg/dL. • Tidak bisa tidur 3 hari. • Mengalami stres psikologis (demonstrasi mahasiswa, teror WA 1 bulan). • Pola makan tidak teratur, sering makan gorengan dan martabak. • Tidak olahraga. • Mengalami mimpi buruk dikejar mahasiswa.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 00016
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan, penurunan, atau fluktuasi tekanan darah dari rentang normal yang telah ditetapkan, yang dapat mengakibatkan kerusakan pada organ tubuh.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan. Penjelasan: Luaran yang diharapkan adalah tekanan darah pasien dapat dikendalikan dalam rentang target yang ditetapkan berdasarkan kondisi klinisnya (misalnya, <140/90 mmHg atau lebih ketat sesuai indikasi). Pada kasus ini, target utamanya adalah menurunkan tekanan darah dari 173/120 mmHg (krisis hipertensi) ke tingkat yang lebih aman dan stabil. Pencapaian luaran ini dinilai melalui pemantauan tekanan darah secara berkala, baik di fasilitas kesehatan maupun mandiri di rumah. Selain nilai tekanan darah, luaran juga mencakup tidak adanya gejala kerusakan organ target seperti sakit kepala hebat, nyeri dada, sesak napas, atau penurunan kesadaran. Stabilitas tekanan darah jangka panjang merupakan kunci untuk mencegah komplikasi seperti stroke, penyakit jantung, atau gagal ginjal.
Kode SIKI: 4320
Deskripsi : Manajemen Hipertensi. Penjelasan: Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan komprehensif untuk membantu pasien mengontrol tekanan darahnya. Pertama, dilakukan pemantauan tekanan darah yang akurat dan berkelanjutan untuk menilai tren dan respons terhadap terapi. Kedua, edukasi kesehatan menjadi pilar utama, meliputi penjelasan tentang hipertensi, faktor risiko (seperti pola makan tinggi lemak jenuh dari gorengan dan martabak, stres, dan kurang aktivitas), serta komplikasi yang mungkin terjadi. Perawat akan berkolaborasi untuk memastikan terapi farmakologis (obat antihipertensi) diberikan dan dipahami aturan minumnya oleh pasien. Intervensi non-farmakologis sangat ditekankan, termasuk konseling gizi untuk modifikasi diet: mengurangi garam, lemak jenuh, dan kolesterol, serta meningkatkan konsumsi serat. Manajemen stres psikologis juga kritis, mengingat pasien mengalami stres berat akibat teror WA dan demonstrasi, yang berkontribusi pada insomnia dan mimpi buruk. Teknik relaksasi, pernapasan dalam, atau rujukan ke konseling psikologis dapat dilakukan. Perawat akan mendorong inisiasi aktivitas fisik ringan dan bertahap sesuai toleransi. Selain itu, intervensi mencakup memfasilitasi istirahat dan tidur yang adekuat, mengatasi insomnia dengan menciptakan rutinitas tidur yang baik dan lingkungan yang kondusif. Semua tindakan ini didokumentasikan dan dievaluasi efektivitasnya secara berkala untuk mencapai luaran tekanan darah yang stabil.
Kondisi: Gangguan Pola Tidur
Kode SDKI: 00044
Deskripsi Singkat:
Kode SLKI: 0402
Deskripsi : Perilaku tidur memadai. Penjelasan: Luaran yang diharapkan adalah pasien dapat mencapai kuantitas dan kualitas tidur yang cukup untuk mendukung kesejahteraan fisik dan psikologis. Secara spesifik, pasien dapat tidur dengan durasi yang cukup (misalnya 6-8 jam per malam) tanpa terbangun berkali-kali, mengalami penurunan frekuensi mimpi buruk (seperti dikejar mahasiswa), dan bangun dengan perasaan segar. Pencapaian luaran ini dinilai dari laporan subjektif pasien tentang perbaikan pola tidur, observasi penurunan tanda-tanda kelelahan di siang hari, serta peningkatan kemampuan konsentrasi dan mood. Tidur yang memadai juga berperan penting dalam regulasi tekanan darah dan sistem stres tubuh.
Kode SIKI: 1850
Deskripsi : Peningkatan Tidur. Penjelasan: Intervensi keperawatan ini bertujuan untuk memfasilitasi tidur yang nyenyak dan istirahat yang cukup. Tindakan dimulai dengan pengkajian mendalam tentang pola tidur, kebiasaan sebelum tidur, dan faktor-faktor penyebab insomnia (stres psikologis, sakit kepala, mimpi buruk). Perawat akan menciptakan lingkungan tidur yang nyaman, tenang, gelap, dan sejuk. Edukasi tentang kebersihan tidur diberikan, seperti menetapkan jadwal tidur-bangun yang konsisten, menghindari kafein dan makanan berat mendekati waktu tidur, serta membatasi paparan gawai. Teknik manajemen stres dan relaksasi (seperti relaksasi otot progresif, guided imagery, atau mendengarkan musik yang menenangkan) diajarkan untuk mengurangi kecemasan dan ketegangan yang mengganggu tidur. Kolaborasi dengan tim medis mungkin diperlukan untuk mengatasi nyeri (sakit kepala) yang mengganggu tidur. Jika mimpi buruk terkait trauma psikologis terus berlanjut, rujukan ke tenaga kesehatan mental perlu dipertimbangkan. Perawat juga akan mendiskusikan pentingnya tidur bagi pemulihan kesehatan dan kontrol tekanan darah.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 00094
Deskripsi Singkat: Kekurangan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: 0301
Deskripsi : Energi untuk aktivitas terpenuhi. Penjelasan: Luaran yang diharapkan adalah pasien memiliki cukup energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan, sesak napas, pusing, atau peningkatan tekanan darah yang signifikan. Pasien dapat secara bertahap meningkatkan tingkat aktivitasnya, dari aktivitas dasar perawatan diri hingga aktivitas ringan di rumah, tanpa menimbulkan gejala yang memberatkan. Toleransi aktivitas dinilai melalui respons tanda vital (terutama denyut nadi dan tekanan darah) sebelum, selama, dan setelah aktivitas, serta laporan subjektif pasien tentang tingkat kelelahannya.
Kode SIKI: 0200
Deskripsi : Manajemen Energi. Penjelasan: Intervensi ini berfokus pada pengaturan penggunaan energi untuk mencegah kelelahan dan mempertahankan fungsi. Perawat akan membantu pasien mengidentifikasi pola aktivitasnya dan mendorong untuk menyeimbangkan antara aktivitas dan istirahat. Pasien diajarkan untuk memprioritaskan aktivitas penting, menyebarkan tugas berat sepanjang hari, dan mengambil waktu istirahat yang cukup di sela aktivitas. Mengingat pasien tidak berolahraga dan dalam kondisi hipertensi berat, perawat akan merencanakan program latihan yang sangat bertahap dan aman, dimulai dari aktivitas ringan seperti jalan kaki santai selama beberapa menit, dengan pemantauan ketat respons tubuh. Edukasi tentang tanda-tanda intoleransi aktivitas (seperti sakit kepala memberat, jantung berdebar, lemas) sangat penting agar pasien tahu kapan harus berhenti. Intervensi ini juga terkait erat dengan manajemen hipertensi dan gangguan pola tidur, karena energi yang rendah dapat diperburuk oleh tidur yang tidak berkualitas dan kondisi hemodinamik yang tidak stabil.
-
Article No. 24325 | 06 Mar 2026
Klinis : pasien dengan stroke infark + dislipidemia + hipertensi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Stroke Infark dengan Dislipidemia dan Hipertensi
Kode SDKI: G.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Perfusi Serebral: Tanda dan gejala perfusi serebral adekuat
Kode SIKI: I.01283
Deskripsi : Pemantauan Perfusi Serebral
Kondisi: Stroke Infark dengan Dislipidemia dan Hipertensi
Kode SDKI: G.0009
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakefektifan Jalan Napas
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Jalan Napas: Jalan napas bersih dan paten
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas
Kondisi: Stroke Infark dengan Dislipidemia dan Hipertensi
Kode SDKI: G.0010
Deskripsi Singkat: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Jalan Napas: Jalan napas bersih dan paten
Kode SIKI: I.01002
Deskripsi : Posisi untuk Memaksimalkan Ventilasi
Kondisi: Stroke Infark dengan Dislipidemia dan Hipertensi
Kode SDKI: G.0019
Deskripsi Singkat: Kerusakan Mobilitas Fisik
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Mobilitas: Kemampuan bergerak secara mandiri atau dengan bantuan terbatas
Kode SIKI: I.03001
Deskripsi : Manajemen Aktivitas
Kondisi: Stroke Infark dengan Dislipidemia dan Hipertensi
Kode SDKI: G.0022
Deskripsi Singkat: Defisit Perawatan Diri
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : Perawatan Diri: Kemampuan melakukan aktivitas perawatan diri
Kode SIKI: I.04001
Deskripsi : Bantuan Perawatan Diri
Kondisi: Stroke Infark dengan Dislipidemia dan Hipertensi
Kode SDKI: G.0083
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Pengendalian Glukosa Darah: Kadar glukosa darah dalam rentang yang diharapkan
Kode SIKI: I.05201
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia
-
Article No. 24326 | 06 Mar 2026
Klinis : Pasien mengeluh nyeri dada kiri skala 3
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi ≤ 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol dan mengurangi nyeri. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan yang komprehensif untuk mengelola pengalaman nyeri pasien. Pertama, perawat melakukan pengkajian nyeri yang menyeluruh dengan menggunakan skala yang sesuai (seperti numerik 0-10, wajah, atau deskriptif) untuk menentukan lokasi, karakteristik, intensitas (dalam kasus ini skala 3), durasi, dan faktor pemicu serta pereda nyeri. Perawat kemudian memantau dan mendokumentasikan respons pasien terhadap intervensi pengobatan nyeri, baik farmakologis maupun non-farmakologis. Tindakan non-farmakologis diajarkan dan difasilitasi, seperti teknik relaksasi napas dalam, distraksi, atau terapi musik. Perawat juga mengatur lingkungan untuk mendukung kenyamanan, seperti memastikan posisi yang nyaman dan mengurangi rangsangan yang tidak perlu. Edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga tentang rencana manajemen nyeri, termasuk penggunaan obat analgetik yang aman dan tepat waktu. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk penatalaksanaan nyeri yang optimal juga merupakan bagian penting dari intervensi ini. Tujuan akhirnya adalah mengurangi persepsi nyeri, meningkatkan tingkat kenyamanan, dan memulihkan fungsi pasien.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol dan mengurangi nyeri. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup beberapa indikator. Pasien mampu melaporkan penurunan intensitas nyeri (misalnya, dari skala 3 menjadi skala 1 atau 0) menggunakan skala nyeri yang ditetapkan. Pasien menunjukkan perilaku yang menunjukkan pengurangan nyeri, seperti ekspresi wajah yang rileks, postur tubuh yang tenang, mampu beristirahat atau tidur dengan nyenyak, dan dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan. Pasien mendemonstrasikan pemahaman dan penggunaan teknik non-farmakologis yang diajarkan untuk mengatasi nyeri. Pasien juga mematuhi regimen terapi analgesik yang diresepkan dan melaporkan efek samping jika ada. Selain itu, pasien menyatakan puas dengan manajemen nyeri yang diterima. Pencapaian hasil ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan efektif dalam mengelola pengalaman nyeri akut pasien, meningkatkan kualitas hidup, dan mencegah komplikasi lebih lanjut yang mungkin timbul akibat nyeri yang tidak terkontrol, seperti peningkatan stres, takikardia, atau hambatan mobilisasi.
-
Article No. 24327 | 06 Mar 2026
Klinis : Pasien mengeluh nyeri dada kiri skala 3
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan atau antisipasi berakhir dalam waktu singkat.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol dan mengurangi nyeri. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan komprehensif yang bertujuan untuk meminimalkan atau menghilangkan pengalaman nyeri akut yang dialami pasien. Fokus utamanya adalah pada penilaian nyeri yang komprehensif dan berkelanjutan, meliputi karakteristik (lokasi, kualitas, intensitas menggunakan skala yang valid), faktor pencetus, dan faktor yang memperberat atau meringankan. Perawat kemudian merencanakan dan melaksanakan intervensi farmakologis (seperti pemberian analgesik sesuai resep, memantau efektivitas dan efek samping) dan non-farmakologis (seperti teknik relaksasi, distraksi, terapi panas/dingin, reposisi, dan penciptaan lingkungan yang nyaman) berdasarkan hasil penilaian. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang manajemen nyeri, termasuk penggunaan skala nyeri dan pentingnya melaporkan nyeri, juga merupakan komponen kunci. Evaluasi keberhasilan intervensi dilakukan secara teratur dengan menilai kembali intensitas nyeri dan respons pasien terhadap terapi yang diberikan, serta menyesuaikan rencana perawatan sesuai kebutuhan untuk memastikan kenyamanan optimal pasien.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Kemampuan untuk mengontrol dan mengurangi nyeri. Kriteria hasil ini mengukur sejauh mana pasien mampu mencapai pengendalian nyeri yang memadai. Hasil yang diharapkan meliputi penurunan skala intensitas nyeri yang dilaporkan pasien (misalnya dari skala 3 menjadi ≤1 pada skala 0-10), penurunan tanda-tanda nonverbal nyeri (seperti wajah meringis, gelisah, postur tubuh melindungi), dan peningkatan kemampuan untuk beristirahat, tidur, serta berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan. Pasien dan/atau keluarga dapat mendemonstrasikan pemahaman tentang rencana manajemen nyeri, termasuk penggunaan teknik non-farmakologis dan kapan harus meminta bantuan untuk nyeri yang tidak terkontrol. Pasien melaporkan kepuasan terhadap penanganan nyeri yang diterima. Pencapaian kriteria ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan efektif dalam memodulasi persepsi nyeri, mengurangi distress, dan meningkatkan kenyamanan serta kualitas hidup pasien selama episode nyeri akut, yang pada akhirnya dapat mempercepat pemulihan.
-
Article No. 24328 | 06 Mar 2026
Klinis : Pasien anak perempuan, usia 5 tahun, mengalami demam tinggi selama 3 hari, ruam merah di kulit, bintik Koplik di mukosa mulut, batuk kering, dan mata merah. Hasil pemeriksaan menunjukkan kemungkinan campak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Hipertermia terkait Proses Penyakit Infeksi Virus Campak
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami invasi oleh agen patogen. Dalam konteks campak, risiko ini sangat tinggi karena virus campak (Morbillivirus) sangat menular dan dapat menyebabkan infeksi sekunder bakteri akibat kerusakan epitel saluran pernapasan dan imunosupresi sementara. Pasien anak usia 5 tahun dengan gejala demam tinggi, ruam, batuk, dan konjungtivitis menunjukkan fase prodromal hingga fase erupsi aktif, di mana virus bereplikasi dan menyebar. Risiko penularan kepada orang lain dan risiko komplikasi infeksi sekunder seperti pneumonia, otitis media, atau ensefalitis pada pasien sendiri menjadi fokus utama. Defisit pengetahuan orang tua tentang penyakit dan penatalaksanaan isolasi juga berkontribusi pada risiko ini.
Kode SLKI: L.03102
Deskripsi : SLKI dengan kode L.03102 adalah "Pengendalian Infeksi". Tujuan dari luaran ini adalah agar infeksi dapat dicegah atau dikendalikan. Pada pasien campak, luaran yang diharapkan meliputi: (1) Suhu tubuh kembali normal secara bertahap, (2) Ruam merah dan bintik Koplik menghilang tanpa infeksi sekunder pada kulit, (3) Tidak ada tanda-tanda komplikasi infeksi bakteri seperti sesak napas, nyeri telinga, atau penurunan kesadaran, (4) Penyebaran virus ke orang lain tercegah melalui isolasi yang adekuat. Indikator pencapaiannya meliputi tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak adanya drainase purulen dari mata atau telinga, kulit bersih dan utuh setelah ruam mengering, serta anggota keluarga/kontak tidak menunjukkan gejala infeksi. Peran perawat adalah memantau tanda-tanda komplikasi, mengajarkan etika batuk, memastikan isolasi, dan memantau kepatuhan terhadap terapi suportif dan simtomatik untuk mencegah kondisi memburuk.
Kode SIKI: I.05280
Deskripsi : SIKI dengan kode I.05280 adalah "Manajemen Hipertermia". Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan untuk membantu menurunkan suhu tubuh pada klien dengan peningkatan suhu di atas rentang normal. Pada pasien anak dengan campak, demam tinggi (hipertermia) adalah respons sistemik terhadap infeksi virus. Tindakan keperawatan yang spesifik meliputi: (1) Memonitor suhu tubuh, nadi, pernapasan, dan status hidrasi secara berkala (setiap 2-4 jam), (2) Memberikan terapi antipiretik sesuai resep dokter (misalnya parasetamol) dengan dosis tepat berdasarkan berat badan, (3) Menerapkan kompres hangat di aksila dan lipat paha, bukan kompres dingin atau alkohol karena dapat menyebabkan menggigil dan ketidaknyamanan, (4) Meningkatkan asupan cairan oral (air, jus, susu) untuk mencegah dehidrasi akibat demam dan anoreksia, (5) Mengatur lingkungan yang nyaman (sirkulasi udara baik, pakaian tipis dan menyerap keringat), (6) Memberikan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya pemberian obat dan cairan, serta tanda-tanda dehidrasi (misalnya, mata cekung, tidak buang air kecil dalam 6-8 jam, lesu). Intervensi ini harus dilakukan dengan hati-hati, mempertimbangkan fase ruam dan kondisi umum anak. Tindakan non-farmakologis seperti kompres harus dilakukan tanpa menggosok kulit yang sedang mengalami ruam untuk mencegah iritasi. Pemantauan ketat terhadap respons terapi dan kemungkinan kejang demam juga merupakan bagian integral dari intervensi ini.
-
Article No. 24329 | 06 Mar 2026
Klinis : mengeluh nyeri, gelisah, tamak meringis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (International Association for the Study of Pain); onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1430
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Meminimalkan ketidaknyamanan dan menderita akibat nyeri akut atau kronis. Intervensi keperawatan dalam SLKI ini mencakup penilaian komprehensif nyeri (lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor presipitasi) baik secara subjektif maupun objektif. Perawat mengobservasi perilaku dan sinyal fisiologis nyeri, seperti ekspresi wajah meringis, postur tubuh, gelisah, dan perubahan tanda vital. Tujuan utama adalah mengurangi persepsi nyeri dan meningkatkan kenyamanan. Ini dilakukan melalui pendekatan farmakologis (pemberian analgesik sesuai resep, memantau efektivitas dan efek samping) dan non-farmakologis (seperti teknik distraksi, relaksasi, terapi musik, kompres hangat/dingin, reposisi, dan penciptaan lingkungan yang tenang). Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang skala nyeri, pelaporan nyeri, dan teknik manajemen nyeri mandiri juga merupakan komponen kritis. Evaluasi berkelanjutan terhadap respons pasien terhadap intervensi yang diberikan sangat penting untuk mencapai outcome yang diharapkan, yaitu penurunan skala intensitas nyeri, penurunan distress, dan peningkatan kemampuan fungsional.
Kode SIKI: 4500
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan keperawatan spesifik yang dilakukan untuk meringankan atau mengurangi nyeri. SIKI ini memberikan kerangka tindakan konkret yang dapat diambil perawat. Pertama, lakukan penilaian nyeri secara komprehensif menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Timing) atau skala nyeri yang valid (numerik, wajah, verbal) sesuai kemampuan pasien. Kedua, kaji faktor-faktor yang memperberat dan meringankan nyeri. Ketiga, observasi dan dokumentasi tanda-tanda nonverbal nyeri seperti yang terlihat pada pasien: gelisah, ekspresi wajah meringis, menangis, postur melindungi area nyeri, dan perubahan pada pola tidur atau nafsu makan. Keempat, lakukan intervensi non-farmakologis sebelum, setelah, atau bersamaan dengan pemberian obat, seperti mengajarkan teknik napas dalam, relaksasi progresif, memberikan distraksi melalui percakapan atau aktivitas, serta mengatur posisi untuk kenyamanan maksimal. Kelima, berikan analgesik sesuai resep dokter secara tepat waktu, perhatikan rute pemberian, dosis, dan frekuensi. Keenam, evaluasi dan dokumentasi efektivitas analgesik (misalnya, penurunan skala nyeri dari 7 ke 3 dalam 30 menit pasca pemberian) dan awasi efek samping seperti mual, sedasi, atau depresi pernapasan. Ketujuh, edukasi pasien untuk melaporkan nyeri secara proaktif dan jangan menahannya. Kedelapan, kolaborasi dengan tim kesehatan lain jika nyeri tidak terkontrol dengan regimen terapi awal. Kesembilan, ciptakan lingkungan terapeutik yang mendukung (reduksi kebisingan, pencahayaan nyaman). Kesepuluh, libatkan keluarga dalam strategi penanganan nyeri, seperti membantu teknik distraksi atau mengingatkan jadwal obat. Tindakan-tindakan ini harus dilakukan secara holistik, berpusat pada pasien, dan berkelanjutan untuk memastikan manajemen nyeri yang optimal.
-
Article No. 24322 | 05 Mar 2026
Klinis : DS: Sesak ((implikasi dari penggunaan oksigen). DO: Diagnosa HAP (Hospital Acquired Pneumonia). X-Ray: Bronchopneumonia Bilateral dan suspek efusi pleura kanan. Terpasang nasal kanul 3 lpm. Perut membesar (asites).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan perubahan membran alveolar-kapiler sekunder akibat pneumonia dan efusi pleura
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas didefinisikan sebagai kondisi ketidakmampuan tubuh untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida secara adekuat antara alveoli paru dan sistem vaskular, yang mengakibatkan hipoksemia atau hiperkapnia. Pada kasus ini, kondisi ini secara langsung terkait dengan proses patologis yang dijelaskan: Hospital Acquired Pneumonia (HAP) dengan temuan bronchopneumonia bilateral menyebabkan konsolidasi dan inflamasi pada parenkim paru, sehingga mengurangi luas permukaan untuk difusi gas. Selain itu, suspek efusi pleura kanan menambah gangguan dengan menekan jaringan paru dan membatasi ekspansi alveoli. Kombinasi kedua kondisi ini menyebabkan ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (V/Q mismatch), di mana area paru yang masih terperfusi dengan darah tidak dapat ter ventilasi dengan baik karena terisi cairan inflamasi (pneumonia) atau tertekan oleh cairan pleura. Pasien yang mengalami sesak dan memerlukan oksigen nasal 3 lpm merupakan manifestasi klinis dari kegagalan sistem pernapasan untuk mempertahankan oksigenasi yang adekuat tanpa bantuan. Tanda-tanda seperti takipnea, penggunaan otot bantu napas, dan penurunan saturasi oksigen (jika diukur) akan menjadi data pendukung. Diagnosa ini menjadi fokus utama karena mengancam jiwa dan memerlukan intervensi segera untuk mencegah hipoksia jaringan dan kegagalan organ.
Kode SLKI: 0400
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan ini bertujuan untuk memastikan patensi jalan napas dan memfasilitasi pertukaran gas yang optimal. Pada pasien dengan HAP dan efusi pleura, jalan napas dapat terganggu oleh sekresi yang meningkat dan kental akibat infeksi, serta oleh kompresi mekanis dari efusi. SLKI ini meliputi serangkaian tindakan seperti: memonitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu), auskultasi suara napas untuk mendeteksi adanya ronki, wheezing, atau area tanpa suara napas (yang dapat mengindikasikan area konsolidasi atau efusi), serta memantau saturasi oksigen secara berkala. Perawat akan memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau tinggi untuk memaksimalkan ekspansi dada dan mengurangi tekanan abdominal pada diafragma, terutama mengingat pasien juga memiliki asites. Terapi oksigen yang diberikan (nasal kanul 3 lpm) harus dipantau keefektifannya dan kesesuaian dengan order dokter. Selain itu, intervensi penting termasuk melakukan fisioterapi dada dan latihan napas dalam untuk membantu mobilisasi sekresi, serta memberikan edukasi dan dukungan untuk batuk efektif jika kondisi pasien memungkinkan. Manajemen jalan napas juga mencakup kolaborasi dengan tim medis untuk terapi nebulizer atau suction jika diperlukan, serta mempersiapkan pasien untuk tindakan lebih lanjut seperti thorakosentesis jika efusi pleura sudah dikonfirmasi dan menyebabkan distress pernapasan yang signifikan.
Kode SIKI: 0400A
Deskripsi : Monitor status pernapasan. Ini adalah tindakan spesifik dan terukur dalam kerangka SLKI Manajemen Jalan Napas. Implementasinya meliputi pengumpulan data objektif dan subjektif secara sistematis dan berkelanjutan untuk mengevaluasi keefektifan pertukaran gas dan respons terhadap terapi. Perawat akan: 1) Mengobservasi pola napas (takipnea, bradipnea, apnea, pernapasan dangkal), upaya napas (retraksi, penggunaan otot sternokleidomastoid), dan adanya sianosis. 2) Melakukan auskultasi suara napas anterior dan posterior minimal setiap 4-8 jam atau sesuai kondisi kritis pasien, mendokumentasikan penemuan seperti ronki basal halus (khas pneumonia) atau suara napas melemah/ hilang di basal paru kanan (mengindikasikan efusi). 3) Memantau dan mencatat nilai saturasi oksigen (SpO2) secara terus-menerus atau berkala, mencatat respons terhadap pemberian oksigen. 4) Memantau tanda-tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah) karena demam dapat meningkatkan kebutuhan metabolik oksigen, dan takikardia dapat menjadi tanda kompensasi hipoksia. 5) Mengkaji tingkat kesadaran, karena kebingungan, gelisah, atau somnolen dapat menjadi tanda awal hipoksia serebral. 6) Mendokumentasikan karakteristik sputum (jumlah, warna, konsistensi) sebagai indikator respons infeksi terhadap antibiotik. 7) Mengevaluasi tingkat dyspnea pasien menggunakan skala numerik atau deskriptif. Data dari SIKI ini menjadi dasar untuk menilai perkembangan atau resolusi kondisi, menentukan kebutuhan modifikasi terapi oksigen, dan mendeteksi dini komplikasi seperti gagal napas. Kriteria hasil dari SIKI ini adalah terkumpulnya data status pernapasan yang akurat dan terdokumentasi sebagai bahan evaluasi dan komunikasi antar profesional kesehatan.
-
Article No. 24314 | 05 Mar 2026
Klinis : sesak nafas (+) berkurang, batuk (+), demam (-) KU: Tampak sakit sedang, E4M6V5= 15 TD:142/81 mmHg N:96x/menit RR:22 x/menit S:36.5C SPO2: 97% NRM 10lpm Kepala : wajah bengkak (-), edem (-) konjungtiva anemis (-/-) sklera ikterik (-/-) Leher : bengkak -/-, krepitasi (-), nyeri (-) kemerahan (-) JVP tidak meningkat Dada: simetris, venektasi (-) Pulmo: I: pengembangan dada kanan sama dengan kiri P: fremitus raba dada kanan sama dengan kiri P: sonor / sonor A: SDV +/+, rbh -/-, rbk +/+, wh +/+ min, egofoni -/- Cor : S1-2 reguler, murmur -, gallop - Abdomen : supel (+) nyeri tekan (-), BU (+) Genital : dbn Ext : edema -/- 27/02/26 Lab Ureum 122.0 Kreatinin 3.59 HEMATOLOGI Darah Rutin Hemoglobin 14.87 Eritrosit 4.82 Hematokrit 44.5 Index Eritrosit MCV 92.3 MCH 30.9 MCHC 33.5 Lekosit 19.07 Trombosit 31 duplo RDW-CV 11.65 MPV 9.91 Hitung Jenis Neutrofil 92.6 Limfosit 2.7 Monosit 4.3 Eosinofil 0.01 Basofil 0.4 Total Neutrofil 17.66 Total Lymphosit 0.51 Total Monosit 0.83 Total Eosinofil 0.00 Total Basofil 0.07 Gol. Darah (A B O) Golongan Darah O KIMIA KLINIK ELEKTROLIT Natrium (Na) 132 Kalium (K) 3.9 Chlorida (Cl) 97 Calsium (Ca2+) 1.0 pH 7.46 Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu 161 Fungsi Ginjal 28/02/26 Rontgen Thorax Kesan : - Cardiomegali dan pulmo normal - Elongatio aortae dan aortosklerosis Pneumonia Komunitas KR IV PSI 95 PPOK eksaserbasi akut derajat sedang dd asma eksaserbasi akut derajat ringan sedang Dengan masalah trombositopenia (AT 31.000), azotermia (Ur 122 Cr 3.59)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Setelah diberikan intervensi keperawatan, pasien menunjukkan perbaikan dalam bersihan jalan napas, yang ditandai dengan: suara napas bersih, tidak ada suara napas adventisius, batuk efektif, sekresi jalan napas minimal, dan tidak ada sianosis. Parameter pernapasan (laju, irama, kedalaman) dalam rentang normal, serta nilai analisis gas darah dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.08110
Deskripsi : Intervensi untuk mempertahankan jalan napas paten. Tindakan ini meliputi: memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (seperti semi-Fowler atau Fowler), mendemonstrasikan dan membantu pasien dalam latihan napas dalam dan batuk efektif, meningkatkan asupan cairan sesuai toleransi untuk mengencerkan sekresi, memberikan humidifikasi udara, melakukan fisioterapi dada dan postural drainage jika diindikasikan, melakukan suction jalan napas jika diperlukan, memantau status pernapasan (suara napas, laju, irama, upaya), memantau analisis gas darah dan saturasi oksigen, serta mengajarkan metode batuk dan pernapasan yang tepat kepada pasien/keluarga.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen, yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Setelah diberikan intervensi keperawatan, pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi. Kriteria hasil meliputi: tanda-tanda vital dalam rentang normal, tidak ada tanda-tanda inflamasi lokal (kemerahan, panas, bengkak, nyeri, gangguan fungsi), tidak ada drainase purulen, hasil laboratorium (seperti leukosit) dalam batas normal, serta menunjukkan perilaku untuk mencegah infeksi (seperti cuci tangan yang benar).
Kode SIKI: I.08229
Deskripsi : Intervensi untuk mencegah dan mengurangi risiko infeksi. Tindakan ini meliputi: mempertahankan teknik aseptik dalam semua prosedur, memantau tanda-tanda vital dan laboratorium (terutama hitung leukosit), meningkatkan pertahanan alamiah host dengan memastikan nutrisi dan hidrasi adekuat, melakukan perawatan luka dengan steril jika ada, mengisolasi pasien jika diperlukan, membatasi pengunjung yang sakit, mendemonstrasikan dan mendorong cuci tangan yang efektif pada pasien, keluarga, dan pengunjung, mengajarkan tanda dan gejala infeksi untuk dilaporkan, serta memastikan imunisasi status sesuai.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan akhir yang dapat diantisipasi.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Setelah diberikan intervensi keperawatan, nyeri pasien teratasi. Kriteria hasil meliputi: pasien melaporkan nyeri berkurang atau hilang dengan skala nyeri yang dapat diterima, tanda-tanda vital stabil, perilaku nyeri (seperti meringis, gelisah, postur tubuh protektif) menurun atau hilang, pasien mampu menunjukkan teknik non-farmakologis untuk mengatasi nyeri, dan fungsi fisik atau aktivitas sehari-hari membaik.
Kode SIKI: I.08034
Deskripsi : Intervensi untuk meredakan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. Tindakan ini meliputi: melakukan penilaian nyeri komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, faktor pencetus dan pereda, serta skala nyeri), mengobservasi petunjuk non-verbal dari ketidaknyamanan, menciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang, memberikan analgesik sesuai resep dan memantau efek sampingnya, menerapkan teknik non-farmakologis (seperti distraksi, relaksasi, kompres hangat/dingin, reposisi), mengajarkan pasien dan keluarga tentang manajemen nyeri, serta mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan.
Kondisi: Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan nutrisi dan pertukaran gas pada tingkat jaringan kapiler akibat penurunan suplai darah.
Kode SLKI: L.09009
Deskripsi : Setelah diberikan intervensi keperawatan, perfusi jaringan perifer pasien adekuat. Kriteria hasil meliputi: nadi perifer teraba kuat dan simetris, warna kulit dan suhu ekstremitas hangat dan normal, pengisian kapiler kurang dari 3 detik, tidak ada edema, nyeri, atau perubahan sensasi pada ekstremitas, serta nilai tekanan darah dalam rentang normal yang diharapkan.
Kode SIKI: I.08073
Deskripsi : Intervensi untuk mempromosikan perfusi perifer yang adekuat. Tindakan ini meliputi: memantau status hemodinamik (tekanan darah, nadi, nadi perifer), memantau warna, suhu, kelembaban, dan pengisian kapiler pada ekstremitas, menghindari posisi yang menekan pembuluh darah, mendorong aktivitas dan latihan sesuai toleransi untuk meningkatkan sirkulasi, menjaga kehangatan pada ekstremitas, mengajarkan pasien untuk menghindari konstriksi (seperti pakaian ketat, menyilangkan kaki), memantau tanda-tanda komplikasi (seperti trombosis), serta berkolaborasi dalam pemberian terapi untuk meningkatkan volume darah atau aliran darah jika diperlukan.
-
Article No. 24315 | 05 Mar 2026
Klinis : pasien DM
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diabetes Melitus (DM)
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Pengendalian Kadar Glukosa Darah: Kemampuan klien dalam mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang target yang ditetapkan. Intervensi keperawatan bertujuan untuk mencapai hasil ini melalui edukasi, pemantauan, dan dukungan terhadap manajemen mandiri. Klien dan keluarga didorong untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi glukosa darah (makanan, aktivitas, obat, stres) dan mengambil tindakan korektif yang tepat. Pemantauan glukosa darah secara teratur, baik mandiri maupun oleh tenaga kesehatan, menjadi dasar evaluasi. SLKI ini juga mencakup pencegahan, deteksi dini, dan penanganan episode hipoglikemia dan hiperglikemia. Keberhasilan tercermin dari pencapaian target HbA1c, frekuensi episode hipo/hiperglikemia yang menurun, serta peningkatan pengetahuan dan keterampilan klien dalam mengelola kondisinya. Peran perawat adalah fasilitator dan pendamping dalam perjalanan pengelolaan DM jangka panjang.
Kode SIKI: I.12521
Deskripsi : Manajemen Diabetes: Serangkaian tindakan keperawatan komprehensif untuk membantu klien dengan diabetes dalam mencapai kontrol metabolik yang optimal dan mencegah komplikasi. Intervensi dimulai dengan pengkajian mendalam yang meliputi riwayat kesehatan, pola makan, aktivitas fisik, pemahaman tentang penyakit, keterampilan self-monitoring blood glucose (SMBG), teknik pemberian insulin (jika ada), serta pemeriksaan fisik (termasuk kaki). Edukasi menjadi pilar utama, mencakup penjelasan tentang patofisiologi DM, pentingnya diet seimbang dengan penghitungan karbohidrat, prinsip aktivitas fisik yang aman, penggunaan obat (oral/insulin) yang benar, teknik dan interpretasi SMBG, serta perawatan kaki. Perawat melakukan demonstrasi dan meminta klien mengulangi (misalnya, menyuntik insulin pada bantalan). Intervensi juga mencakup pemberian dukungan psikososial untuk meningkatkan motivasi dan penerimaan terhadap kondisi kronis. Perawat berkolaborasi dengan dokter, ahli gizi, dan edukator diabetes untuk menyusun rencana individual. Pemantauan tanda-tanda komplikasi akut (hipoglikemia, ketoasidosis) dan kronis (luka kaki, retinopati) serta mendorong skrining rutin merupakan bagian integral. Tindakan keperawatan dilakukan secara berkelanjutan dengan evaluasi dan penyesuaian rencana berdasarkan respons klien.
-
Article No. 24316 | 05 Mar 2026
Klinis : TBC
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan TBC - SDKI, SLKI, SIKI
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi untuk Pasien TBC
Sebagai seorang perawat profesional, pemahaman mendalam mengenai Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) adalah esensial untuk memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif, terstruktur, dan berbasis bukti. Berikut adalah aplikasi ketiga standar tersebut untuk pasien dengan kondisi Tuberkulosis (TBC), dengan fokus pada salah satu diagnosa keperawatan yang paling relevan.
Kondisi Pasien: Tuberkulosis (TBC)
Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini umumnya menyerang paru-paru, namun dapat juga menyerang organ lain. Manifestasi klinis TBC paru seringkali melibatkan respons inflamasi di saluran napas, produksi sputum berlebih, dan kerusakan parenkim paru, yang dapat mengganggu fungsi pernapasan.
1. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI)
SDKI adalah panduan sistematis yang digunakan perawat di Indonesia untuk mengidentifikasi dan menamai masalah kesehatan pasien yang dapat diatasi melalui intervensi keperawatan. SDKI menyediakan daftar diagnosa keperawatan yang terstandardisasi, lengkap dengan definisi, penyebab (etiologi), serta tanda dan gejala (mayor dan minor).
Diagnosa Keperawatan Pilihan untuk Pasien TBC:
Mengingat patofisiologi TBC yang sering melibatkan produksi sputum dan peradangan saluran napas, diagnosa Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif sangat relevan.
Komponen
Detail
Penjelasan dan Relevansi untuk TBC
Kode SDKI
D.0001
Kode unik yang mengidentifikasi diagnosa ini dalam sistem SDKI, memastikan konsistensi pencatatan.
Nama Diagnosa
Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas guna mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada TBC, hal ini sering terjadi akibat peningkatan produksi sputum kental dan peradangan bronkus.
Definisi
Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten.
Definisi ini secara jelas menggambarkan inti masalah yang dihadapi pasien TBC, yaitu kesulitan mengeluarkan dahak yang menumpuk di saluran napas.
Penyebab (Etiologi)
- Sekresi yang tertahan
- Spasme jalan napas
- Disfungsi neuromuskular
- Infeksi (misalnya, TBC)
- Efek agen farmakologis
- Perubahan fisiologis jalan napas
Pada pasien TBC, penyebab utama adalah sekresi yang tertahan akibat produksi sputum berlebih dan kental, serta infeksi yang menyebabkan peradangan dan edema mukosa bronkus.
Gejala dan Tanda Mayor (Objektif & Subjektif)
- Batuk tidak efektif
- Tidak mampu batuk
- Sputum berlebih
- Mengi, ronkhi kering/basah
- Dispnea (sesak napas)
- Gelisah
- Frekuensi napas berubah
- Pola napas berubah
Gejala-gejala ini sangat umum pada pasien TBC. Batuk tidak efektif dan sputum berlebih adalah manifestasi langsung dari upaya tubuh membersihkan jalan napas yang terganggu. Dispnea, mengi/ronkhi menunjukkan adanya obstruksi dan peradangan di saluran napas.
Gejala dan Tanda Minor (Objektif & Subjektif)
- Ortopnea
- Sulit bicara
- Sianosis
- Penurunan kesadaran
Gejala minor ini dapat muncul pada kasus TBC yang lebih parah atau komplikasi, menunjukkan gangguan oksigenasi yang lebih signifikan.
2. Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI)
SLKI adalah standar yang digunakan untuk merumuskan tujuan dan kriteria hasil yang terukur dari intervensi keperawatan. Ini membantu perawat dalam mengevaluasi efektivitas asuhan yang diberikan dan memantau kemajuan pasien.
Luaran Keperawatan untuk Diagnosa Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif:
Luaran yang paling sesuai adalah Bersihan Jalan Napas, dengan tujuan agar jalan napas pasien menjadi paten dan bebas dari obstruksi.