Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24545 | 20 Mar 2026
Klinis : Sesak napas TelaahPasien datang dengan keluhan sesak napas, hal ini dialami 2 hari ini. Sesak napas saat istirahat Riwayat Penyakit Dahulu- OSens : CM VAS : TD : HR : RR : Temp : SpO2 : 99% (room air) STATUS GENERALISATA Mata : CA (-/-), SI (-/-) Mulut : coated tongue (-), faring hiperemis (-), T1/T1 Leher : TVJ R-2cmHg, lymphadenopathy (-) Thoraks : sp ves (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ 1,2 reg, murmur (-) Abdomen : soepel, NT (-), normoperistaltik, normothympani, H/L tidak teraba, NT Mc. Burney (-) Eks : akral hangat, CRT<2, t/v teraba, edem pretibial (-/-) ASusp. CHF
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah suatu keadaan ketika terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen di tingkat alveolus-kapiler, yang dapat mengakibatkan hipoksemia atau hiperkapnia. Pada pasien dengan keluhan sesak napas dan dugaan CHF (Congestive Heart Failure), mekanisme utamanya adalah edema interstisial dan alveolar akibat peningkatan tekanan hidrostatik di kapiler paru. Hal ini menebalkan membran alveolus-kapiler, menghambat difusi oksigen, dan mengurangi compliance paru, sehingga pasien harus berusaha lebih keras untuk bernapas (sesak). Meskipun SpO2 99% pada udara ruangan, sesak napas saat istirahat mengindikasikan adanya peningkatan kerja pernapasan dan kompensasi tubuh yang mungkin belum sepenuhnya terlihat pada saturasi oksigen. Kondisi ini memerlukan pemantauan ketat karena dapat memburuk dengan cepat.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : SLKI 0401 adalah "Peningkatan Fungsi Pernapasan". Tujuan dari luaran ini adalah agar pasien mencapai dan mempertahankan pertukaran gas yang adekuat sesuai dengan kondisinya. Kriteria luaran yang diharapkan meliputi: frekuensi pernapasan (RR) dalam rentang normal untuk usianya, pola pernapasan reguler dan tanpa usaha berlebihan, tidak adanya sianosis atau penggunaan otot bantu pernapasan, saturasi oksigen (SpO2) tetap ≥95% pada udara ruangan atau sesuai target, serta bunyi napas vesikuler jelas di semua lapang paru. Pada kasus ini, meskipun SpO2 normal, target luaran adalah mengurangi sensasi sesak (dispnea) hingga tingkat 0-1 pada skala analog, menstabilkan RR, dan mencegah penurunan saturasi oksigen. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil mengoptimalkan ventilasi dan oksigenasi.
Kode SIKI: 2010
Deskripsi : SIKI 2010 adalah "Manajemen Jalan Napas". Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan untuk memastikan patensi jalan napas dan memfasilitasi pertukaran gas yang optimal. Pada pasien sesak dengan suspensi CHF, tindakan spesifik meliputi: 1) Posisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi (duduk) untuk memaksimalkan ekspansi dada dan mengurangi tekanan abdominal terhadap diafragma, sehingga meningkatkan kapasitas residu fungsional paru. 2) Memantau status pernapasan secara ketat setiap 1-2 jam atau sesuai kebutuhan, meliputi frekuensi, kedalaman, irama, usaha napas, penggunaan otot aksesori, dan bunyi napas (mengauskultasi adanya ronki atau wheezing). 3) Memantau saturasi oksigen secara terus-menerus atau berkala dengan pulse oximetry. 4) Mengajarkan dan mendorong teknik pernapasan dalam dan batuk efektif jika kondisi pasien memungkinkan, untuk mencegah atelektasis dan mobilisasi sekret. 5) Mengatur pemberian oksigen tambahan sesuai order dokter dan memantau efektivitasnya. 6) Kolaborasi pemberian terapi farmakologi seperti diuretik (untung mengurangi edema paru), bronkodilator, atau obat inotropik sesuai resep. 7) Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya posisi, tanda-tanda sesak yang memburuk, dan kapan harus meminta bantuan. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan tindakan independen dan kolaboratif untuk mengatasi penyebab dan gejala gangguan pertukaran gas.
-
Article No. 24546 | 20 Mar 2026
Klinis : pasien mengeluhkan penurunan kesadaran sejak jam 04.00 (4 jam SMRS), mual (+), muntah terus menerus, sulit diajak komunikasi, awalnya sempat pusing cekot cekot, nyeri dada (-), sesak napas (-), keringat dingin (-) RPD: HT tidak terkontrol KU lemah, GCS E2V2M3 TD: 223/114 HR: 103 RR: 20 x/m SB: 36.4 C SpO2: 97% on room air Mata RC +/+ isokor 3mm/3mm JVP 5+2 Thorax SDV +/+ RBH -/- WHZ -/- Abdomen supel, BU (+), NT (-) Ext atas motorik sde, sensorik sde, r. patologis -/- Ext Bawah motorik sde, sensorik sde, r. patologis -/-
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penurunan Perfusi Serebral
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah yang mengancam kehidupan ke otak.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perfusi serebral membaik, ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang yang ditargetkan, 2) Status neurologis stabil atau membaik (kesadaran, GCS, fungsi motorik/sensorik), 3) Tidak ada keluhan sakit kepala hebat, mual, atau muntah yang memberat, 4) Tanda vital dalam batas normal.
Kode SIKI: 3520, 3521, 3522, 3523, 3524, 3525
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengatasi risiko penurunan perfusi serebral meliputi: 1) 3520 - Pemantauan Neurologis: Memantau dan mendokumentasikan status neurologis (tingkat kesadaran/GCS, ukuran dan reaksi pupil, fungsi motorik dan sensorik, tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial) secara berkala dan berkelanjutan. 2) 3521 - Pemantauan Hemodinamik: Memantau dan mendokumentasikan tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu secara ketat untuk mendeteksi ketidakstabilan yang dapat memperburuk perfusi otak. 3) 3522 - Manajemen Hipertensi: Melakukan tindakan untuk menurunkan tekanan darah sesuai protokol/instruksi dokter (seperti pemberian obat antihipertensi, memastikan lingkungan tenang, membatasi aktivitas), dengan penurunan yang terkontrol untuk mencegah hipoperfusi mendadak. 4) 3523 - Manajemen Mual dan Muntah: Memberikan intervensi untuk mengurangi mual dan muntah (posisi, pemberian antiemetik sesuai order) karena muntah dapat meningkatkan tekanan intrakranial. 5) 3524 - Manajemen Lingkungan Terapeutik: Menciptakan lingkungan yang tenang, redup cahaya, dan membatasi pengunjung untuk meminimalkan stimulasi yang dapat meningkatkan tekanan darah dan tekanan intrakranial. 6) 3525 - Kolaborasi Pemberian Obat: Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi farmakologis seperti antihipertensi, anti edema serebral, atau neuroprotektif sesuai kondisi pasien.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat, dari intensitas ringan hingga berat, dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Nyeri terkontrol, ditandai dengan: 1) Melaporkan nyeri berkurang atau hilang (skala nyeri menurun), 2) Ekspresi wajah rileks, dapat beristirahat atau tidur, 3) Tanda vital dalam batas normal, 4) Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan.
Kode SIKI: 1410, 1411, 1412, 1413, 1414
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengatasi nyeri akut meliputi: 1) 1410 - Manajemen Nyeri: Melakukan pendekatan komprehensif untuk mengurangi nyeri melalui kombinasi farmakologis dan non-farmakologis. 2) 1411 - Pemberian Analgesik: Memberikan obat pereda nyeri sesuai dengan resep dokter, memperhatikan dosis, rute, waktu pemberian, dan efek samping. 3) 1412 - Terapi Non-Farmakologis: Menerapkan teknik non-obat seperti distraksi (mengalihkan perhatian), relaksasi napas dalam, terapi musik, atau kompres dingin/panas (jika sesuai dan tidak kontraindikasi) pada area nyeri kepala. 4) 1413 - Pemantauan Nyeri: Menilai karakteristik nyeri (skala, lokasi, durasi, kualitas) secara berkala sebelum dan sesudah intervensi untuk mengevaluasi efektivitas penanganan. 5) 1414 - Pendidikan Manajemen Nyeri: Memberikan penjelasan kepada pasien/keluarga tentang penyebab nyeri, rencana pengobatan, dan teknik non-farmakologis yang dapat dilakukan untuk membantu mengontrol nyeri. Meskipun pasien saat ini sulit berkomunikasi, intervensi non-farmakologis seperti lingkungan tenang dan redup cahaya dapat membantu, dan penilaian nyeri dilakukan melalui observasi perilaku (gelisah, merintih) serta respons fisiologis.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko perubahan tekanan darah sistolik dan/atau diastolik dari rentang normal yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Tekanan darah stabil, ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang yang ditargetkan, 2) Denyut nadi dalam rentang normal, 3) Tidak ada keluhan seperti pusing, sakit kepala, atau penglihatan kabur akibat tekanan darah, 4) Mematuhi terapi dan modifikasi gaya hidup.
Kode SIKI: 3920, 3921, 3922, 3923
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengatasi risiko ketidakstabilan tekanan darah meliputi: 1) 3920 - Pemantauan Tekanan Darah: Mengukur dan mendokumentasikan tekanan darah secara teratur (setiap 15-30 menit dalam kondisi krisis) dengan teknik yang benar, membandingkan dengan nilai baseline. 2) 3921 - Manajemen Terapi Hipertensi: Melaksanakan rencana terapi untuk mengontrol tekanan darah, termasuk pemberian obat antihipertensi sesuai order dengan tepat waktu, memantau efek, dan waspada terhadap efek samping seperti hipotensi mendadak. 3) 3922 - Manajemen Aktivitas: Mengatur aktivitas fisik pasien, membatasi aktivitas yang berat, mendorong tirah baring dalam posisi semi-fowler untuk memfasilitasi sirkulasi dan mengurangi beban jantung. 4) 3923 - Pendidikan Pengelolaan Hipertensi: Memberikan edukasi kepada keluarga (mengingat penurunan kesadaran pasien) tentang pentingnya pengendalian tekanan darah, bahaya hipertensi yang tidak terkontrol (seperti stroke), dan perlunya kepatuhan pengobatan jangka panjang. Intervensi ini sangat krusial mengingat pasien memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol dan saat ini berada dalam kondisi krisis hipertensi berat (TD 223/114) yang mengancam organ target seperti otak.
-
Article No. 24528 | 19 Mar 2026
Klinis : Seorang wanita berusia 73 tahun datang ke Unit Gawat Darurat setelah terjatuh, diikuti nyeri akut pada pinggul kanan dan ketidakmampuan untuk menopang berat badan, tanpa cedera lain. Riwayat medis sebelumnya termasuk disabilitas belajar, osteoartritis, gangguan pendengaran, epilepsi, dan hipertensi, tetapi tidak ada diagnosis diabetes sebelumnya dengan kadar gula darah normal saat masuk. Ia dapat bergerak secara mandiri dengan bantuan satu pengasuh untuk perawatan pribadi dan aktivitas sehari-hari. Pencitraan menunjukkan ia mengalami fraktur leher femur intrakapsular kanan yang diperbaiki keesokan harinya dengan hemiartroplasti pinggul kanan. Dua hari setelah operasi, ia muntah, mengalami cedera ginjal akut (AKI), dan malam harinya saturasi oksigennya turun menjadi 92% dengan oksigen 35%, dan ia mulai menjalani pengobatan untuk pneumonia aspirasi. Ia tetap puasa karena risiko tinggi pneumonia aspirasi berulang. Masukan dari tim terapi wicara dan bahasa (SALT) menyetujui rekomendasi untuk pemasangan selang nasogastrik (NG tube). Kadar natrium serum pasien ditemukan sedikit meningkat (154 mmol/L) pada pemeriksaan gas darah vena (VBG), yang kemudian mendorong dilakukannya pemeriksaan gula darah dan hasilnya 24,8 mmol/L Tidak ada diagnosis diabetes sebelumnya dan pasien tidak menunjukkan gejala diabetes, tetapi mengalami dehidrasi klinis saat pemeriksaan. Urea serum adalah 11,1 mmol/L dan osmolalitas serum dihitung sebesar 343,9 mOsm/kg, dan keton serum/urin tidak signifikan tanpa adanya asidosis. Ia mulai menjalani pengobatan untuk HHS, sesuai pedoman setempat, dan secara bertahap menunjukkan respons. HbA1c ditemukan sebesar 55 mmol/mol dan diagnosis diabetes tipe 2 ditegakkan. Tim diabetes memberikan masukan, dan pasien mulai diberikan insulin reguler 3 hari setelah diagnosis.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Hiperglikemia Hiperosmolar State (HHS) pada Diabetes Mellitus Tipe 2 yang baru didiagnosis, dengan fraktur leher femur dan pneumonia aspirasi
Kode ICD-10: E11.00 (Diabetes mellitus tipe 2 dengan hiperglikemia, tanpa komplikasi) dan R73.9 (Hiperglikemia, tidak spesifik)
Deskripsi Singkat : Pasien mengalami Hiperglikemia Hiperosmolar State (HHS), suatu komplikasi akut diabetes yang mengancam jiwa, ditandai dengan hiperglikemia ekstrem (gula darah 24,8 mmol/L), peningkatan osmolalitas serum (343,9 mOsm/kg), dehidrasi, dan gangguan kesadaran tanpa ketoasidosis signifikan. Kondisi ini muncul pada pasien dengan diagnosis baru Diabetes Mellitus Tipe 2 (HbA1c 55 mmol/mol), yang dipicu oleh stres fisiologis berat akibat fraktur leher femur, operasi hemiartroplasti, dan episode pneumonia aspirasi. Kode E11.00 mencatat diabetes tipe 2 dengan presentasi hiperglikemik akut, sementara R73.9 menambahkan spesifikasi untuk hiperglikemia yang sangat tinggi yang menjadi ciri HHS. Episode ini memerlukan penanganan intensif termasuk rehidrasi dan insulin, dan terjadi dalam konteks komorbiditas kompleks pasien termasuk cedera ginjal akut pasca-operasi. Diagnosis HHS ditegakkan berdasarkan triad: glukosa serum sangat tinggi, osmolalitas serum meningkat, dan tidak adanya asidosis ketotik yang signifikan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24529 | 19 Mar 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Tuberkulosis Paru
Kode ICD-10: A15.0
Deskripsi Singkat : Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang terutama menyerang jaringan paru-paru. Kondisi ini ditandai dengan gejala seperti batuk kronis (sering berdahak dan bisa berdarah), demam, keringat malam, penurunan berat badan, kehilangan nafsu makan, dan sesak napas. Diagnosis didukung oleh temuan klinis seperti suara napas bronkial, gambaran lesi pada radiologi toraks (rontgen), dan konfirmasi melalui pemeriksaan dahak. Kode ICD-10 A15.0 secara spesifik mengklasifikasikan "Tuberkulosis paru, dikonfirmasi secara bakteriologis dan histologis". Penggunaan kode ini mengindikasikan bahwa diagnosis tuberkulosis paru telah ditegakkan dengan metode konfirmasi yang kuat, seperti pemeriksaan mikroskopis dahak (BTA) atau biopsi jaringan, yang membedakannya dari diagnosis klinis semata. Kode ini berada dalam bab "Penyakit Infeksi dan Parasit" dan blok "Tuberkulosis", memungkinkan pelacakan epidemiologis yang akurat dan tata kelola pengobatan yang tepat.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24530 | 19 Mar 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan patogen yang menyerang paru, ditandai dengan adanya lesi, batuk berdahak, demam, dan sesak napas.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Tujuan akhirnya adalah infeksi dapat dikontrol atau dicegah penyebarannya. Indikator yang dapat diamati meliputi: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal; (2) Tanda-tanda vital dalam rentang normal; (3) Tidak ada tanda-tanda infeksi baru; (4) Hasil pemeriksaan laboratorium terkait infeksi menunjukkan perbaikan; (5) Luka (jika ada) menunjukkan proses penyembuhan; (6) Menunjukkan perilaku pencegahan penularan infeksi; (7) Menghindari kontak dengan individu yang rentan; (8) Menggunakan alat pelindung diri dengan benar; (9) Menjaga kebersihan diri dan lingkungan; (10) Mengikuti protokol pengobatan infeksi secara tepat.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Manajemen Batuk Efektif. Intervensi ini bertujuan untuk membantu pasien mengeluarkan sekret dari jalan napas secara efektif. Kegiatan keperawatan meliputi: (1) Monitor frekuensi, karakteristik, dan upaya batuk; (2) Auskultasi suara napas sebelum dan sesudah batuk; (3) Ajarkan dan bantu teknik batuk efektif (batuk dalam dengan napas dalam, diikuti batuk kuat dari dasar paru); (4) Bantu posisi yang memudahkan ekspansi dada dan pengeluaran sekret (misalnya, posisi duduk tegak atau semi-Fowler); (5) Lakukan fisioterapi dada dan postural drainage sesuai indikasi dan kolaborasi; (6) Anjurkan intake cairan yang adekuat (kecuali kontraindikasi) untuk mengencerkan dahak; (7) Ajarkan dan anjurkan latihan napas dalam; (8) Berikan lingkungan dengan kelembaban udara yang adekuat; (9) Kolaborasi pemberian obat mukolitik, ekspektoran, atau bronkodilator sesuai resep; (10) Anjurkan untuk menutup mulut dengan tisu atau lengan saat batuk dan membuang tisu bekas pada tempatnya; (11) Ajarkan pentingnya istirahat untuk menghemat energi dan mencegah kelelahan otot pernapasan.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten, ditandai dengan batuk berdahak, suara napas bronkial, dan sesak napas.
Kode SLKI: 0400
Deskripsi : Status Pernapasan. Tujuan akhirnya adalah pernapasan yang efektif dan adekuat. Indikator yang dapat diamati meliputi: (1) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal; (2) Irama pernapasan reguler; (3) Kedalaman pernapasan adekuat; (4) Penggunaan otot bantu pernapasan tidak ada atau minimal; (5) Suara napas bersih (bebas dari bunyi tambahan seperti ronki, wheezing, atau stridor); (6) Pertukaran gas adekuat (nilai saturasi oksigen dalam rentang normal); (7) Tidak ada sianosis; (8) Ekspansi dada simetris; (9) Batuk efektif; (10) Jalan napas paten.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Manajemen Batuk Efektif. (Deskripsi lengkap sama seperti di atas, berfokus pada upaya membersihkan sekret dari jalan napas).
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat, ditandai dengan sesak napas dan penggunaan otot bantu pernapasan.
Kode SLKI: 0400
Deskripsi : Status Pernapasan. (Deskripsi lengkap sama seperti di atas, sebagai tujuan akhir dari intervensi untuk mencapai pola napas yang efektif).
Kode SIKI: 3201
Deskripsi : Manajemen Pernapasan. Intervensi ini bertujuan untuk memaksimalkan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. Kegiatan keperawatan meliputi: (1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha pernapasan; (2) Auskultasi suara napas; (3) Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, kepala tempat tidur ditinggikan, posisi Fowler); (4) Anjurkan dan bantu latihan napas dalam dan perlahan; (5) Ajarkan teknik pernapasan bibir mengerucut (pursed-lip breathing) untuk mencegah kolaps jalan napas kecil; (6) Monitor status oksigenasi melalui saturasi oksigen (pulse oximetry) dan tanda klinis seperti warna kulit dan membran mukosa; (7) Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan dan resep; (8) Lakukan suction jika diperlukan untuk menjaga jalan napas paten; (9) Anjurkan aktivitas dengan pacing yang tepat untuk menghindari kelelahan dan hipoksia; (10) Ajarkan untuk menghindari faktor pemicu sesak; (11) Lingkungan tenang dan nyaman untuk mengurangi konsumsi oksigen dan kecemasan.
Kondisi: Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 0002
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, ditandai dengan kehilangan nafsu makan dan kondisi penyakit infeksi kronis (TB) yang meningkatkan katabolisme.
Kode SLKI: 1100
Deskripsi : Status Nutrisi. Tujuan akhirnya adalah kebutuhan nutrisi terpenuhi. Indikator yang dapat diamati meliputi: (1) Berat badan dalam rentang normal; (2) Asupan makanan dan cairan sesuai kebutuhan; (3) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin, hemoglobin) dalam rentang normal; (4) Tidak ada tanda malnutrisi (seperti rambut mudah rontok, kulit kering, lesi di mulut); (5) Memiliki energi yang cukup untuk beraktivitas; (6) Menunjukkan perilaku/pola makan yang mendukung pemenuhan nutrisi.
Kode SIKI: 1101
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi ini bertujuan untuk mempertahankan atau memulihkan status nutrisi yang optimal. Kegiatan keperawatan meliputi: (1) Monitor asupan makanan dan cairan (jumlah, jenis, frekuensi); (2) Timbang berat badan secara teratur; (3) Kaji faktor penyebab kurangnya nafsu makan (misal: efek samping obat, sesak, kelelahan); (4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan jenis diet (biasanya tinggi kalori tinggi protein/TKTP untuk pasien TB); (5) Berikan makanan dalam porsi kecil namun sering untuk mengurangi rasa kenyang dan sesak; (6) Sajikan makanan dalam bentuk yang menarik, dengan suhu yang sesuai, dan sesuai kesukaan pasien jika memungkinkan; (7) Ciptakan lingkungan makan yang nyaman, bebas bau tidak sedap; (8) Anjurkan kebersihan mulut sebelum dan sesudah makan untuk meningkatkan nafsu makan; (9) Berikan suplemen nutrisi oral sesuai kolaborasi; (10) Anjurkan keluarga untuk membawakan makanan dari rumah jika sesuai; (11) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi yang adekuat dalam proses penyembuhan dan melawan infeksi; (12) Monitor tanda-tanda perbaikan status nutrisi.
-
Article No. 24531 | 19 Mar 2026
Klinis : • Dehidrasi klinis • Natrium 154 mmol/L (hipernatremia) • Osmolalitas serum 343,9 mOsm/kg • AKI • Riwayat muntah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit: Defisit Volume Cairan dan Hipernatremia
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Kondisi di mana individu mengalami atau berisiko mengalami penurunan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular, disertai dengan peningkatan konsentrasi natrium serum di atas nilai normal (biasanya >145 mmol/L). Pada kasus ini, ditandai dengan dehidrasi klinis, hipernatremia (Na 154 mmol/L), peningkatan osmolalitas serum (343,9 mOsm/kg), riwayat muntah, dan disfungsi ginjal akut (AKI) yang dapat menjadi penyebab atau komplikasi dari kondisi ini.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI ini berfokus pada pemulihan dan pemeliharaan keseimbangan cairan dan elektrolit. Implementasinya mencakup: 1) Pemantauan ketat tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, frekuensi napas, suhu) dan status hemodinamik untuk mendeteksi tanda syok hipovolemik. 2) Pemantauan balance cairan (intake dan output) secara akurat setiap 24 jam, termasuk kehilangan cairan tak kasat mata. 3) Pemantauan status dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, mata, rasa haus, berat badan harian). 4) Pemberian terapi cairan intravena sesuai resep dokter, biasanya dimulai dengan cairan hipotonik (seperti NaCl 0.45%) atau dekstrosa untuk menurunkan natrium serum secara perlahan dan terkendali, dengan kecepatan yang dihitung secara cermat untuk mencegah komplikasi edema serebral. 5) Pemantauan hasil laboratorium serial: natrium serum, kalium, ureum, kreatinin, osmolalitas serum dan urin, untuk menilai respons terapi dan fungsi ginjal. 6) Kolaborasi pemberian terapi untuk mengatasi penyebab (misalnya, antiemetik untuk muntah) dan penanganan AKI. 7) Edukasi pada pasien/keluarga tentang pentingnya intake cairan dan tanda-tanda dehidrasi yang harus diwaspadai.
Kode SIKI: I.01295
Deskripsi : SIKI ini merupakan tindakan spesifik untuk mengatasi hipernatremia. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Menghitung defisit cairan dan laju koreksi natrium yang aman. Koreksi hipernatremia kronis (>48 jam) harus dilakukan secara perlahan, dengan penurunan natrium serum tidak lebih dari 0.5 mmol/L per jam atau 10-12 mmol/L dalam 24 jam untuk mencegah pergeseran cairan ke otak yang berbahaya. 2) Menyiapkan dan memberikan cairan intravena yang telah diresepkan dengan menggunakan infusion pump untuk memastikan akurasi kecepatan tetesan. 3) Memantau respons neurologis pasien secara ketat (tingkat kesadaran, sakit kepala, kelemahan otot, kejang, iritabilitas) karena perubahan osmolalitas yang cepat dapat menyebabkan edema serebral atau penyusutan sel otak. 4) Mengkaji dan mendokumentasikan status hidrasi setiap 1-2 jam pada fase akut, termasuk membran mukosa, produksi urin, dan turgor kulit. 5) Mendorong intake cairan per oral jika pasien sudah sadar dan mampu menelan tanpa muntah, dengan jadwal yang terjadwal. 6) Melakukan perawatan mulut yang sering untuk menjaga kelembaban membran mukosa dan meningkatkan kenyamanan. 7) Memposisikan pasien dengan aman dan nyaman, waspada terhadap risiko jatuh akibat kelemahan atau perubahan kesadaran. 8) Mengkolaborasikan pemasangan kateter urin untuk mengukur output urin per jam (pada AKI atau kondisi kritis) dan memantau berat jenis urin. 9) Memberikan edukasi kepada keluarga tentang kondisi hipernatremia, tujuan terapi cairan yang lambat, dan pentingnya melaporkan segera jika ada perubahan perilaku atau kesadaran pada pasien. Tindakan ini dilakukan secara integratif dengan SLKI untuk mencapai keseimbangan cairan dan elektrolit yang optimal.
-
Article No. 24532 | 19 Mar 2026
Klinis : Seorang wanita berusia 73 tahun datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) setelah mengalami jatuh yang diikuti dengan nyeri hebat pada pinggul kanan serta tidak mampu menumpu berat badan. Tidak ditemukan cedera lain. Riwayat medis sebelumnya meliputi gangguan belajar, osteoartritis, gangguan pendengaran, epilepsi, dan hipertensi, tanpa riwayat diabetes melitus sebelumnya. Pada saat masuk, kadar gula darah pasien dalam batas normal. Pasien sebelumnya dapat berjalan secara mandiri dengan bantuan satu orang caregiver untuk aktivitas sehari-hari. Hasil pemeriksaan pencitraan menunjukkan adanya fraktur leher femur intrakapsular kanan, yang kemudian dilakukan tindakan operasi berupa hemiarthroplasty pada hari berikutnya. Dua hari setelah operasi, pasien mengalami muntah, kemudian berkembang menjadi acute kidney injury (AKI). Pada malam harinya, saturasi oksigen pasien menurun hingga 92% dengan pemberian oksigen 35%, sehingga pasien didiagnosis mengalami pneumonia aspirasi dan diberikan terapi. Pasien tetap dipuasakan (nil by mouth) karena risiko tinggi aspirasi berulang. Tim speech and language therapy (SALT) merekomendasikan pemasangan nasogastric tube (NGT). Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan kadar natrium serum meningkat sedang yaitu 154 mmol/L pada pemeriksaan venous blood gas (VBG). Pemeriksaan gula darah menunjukkan hasil 24,8 mmol/L. Pasien sebelumnya tidak memiliki riwayat diabetes dan tidak menunjukkan gejala khas diabetes, namun secara klinis tampak dehidrasi. Kadar urea serum tercatat 11,1 mmol/L dan osmolalitas serum sebesar 343,9 mOsm/kg. Keton dalam darah dan urin tidak signifikan serta tidak ditemukan adanya asidosis. Berdasarkan hasil tersebut, pasien didiagnosis mengalami Hyperosmolar Hyperglycemic State (HHS) dan mendapatkan terapi sesuai pedoman. Kondisi pasien menunjukkan perbaikan secara bertahap. Pemeriksaan HbA1c didapatkan sebesar 55 mmol/mol sehingga ditegakkan diagnosis diabetes melitus tipe 2. Tim diabetes memberikan penanganan lanjutan, dan pasien mulai diberikan terapi insulin rutin tiga hari setelah diagnosis.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0013
Deskripsi Singkat: Risiko perubahan kadar glukosa darah dari rentang normal, yang dapat mengancam jiwa.
Kode SLKI: L.03121
Deskripsi : Kadar glukosa darah dalam rentang yang diharapkan.
Kode SIKI: I.01248
Deskripsi : Memantau kadar glukosa darah.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Bebas dari tanda dan gejala infeksi.
Kode SIKI: I.05166
Deskripsi : Mempertahankan teknik aseptik.
Kondisi: Risiko Aspirasi
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Risiko masuknya sekret oral, gastric, atau benda asing lainnya ke jalan napas.
Kode SLKI: L.04002
Deskripsi : Bebas dari tanda dan gejala aspirasi.
Kode SIKI: I.01202
Deskripsi : Mempertahankan jalan napas.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan dengan akhir yang dapat diperkirakan atau dapat diatasi.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Kontrol nyeri.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen nyeri.
Kondisi: Defisit Perawatan Diri: Berpakaian/berdandan, Mandi/higiene, Makan, Toileting
Kode SDKI: D.0045
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas mandi/higiene, berpakaian/berdandan, makan, dan toileting secara mandiri.
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : Perawatan diri.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Bantuan perawatan diri.
-
Article No. 24533 | 19 Mar 2026
Klinis : DS: Tidak ada riwayat DM sebelumnya DO: • Glukosa darah 24,8 mmol/L • Diagnosis HHS • HbA1c meningkat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 00079
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan atau penurunan kadar glukosa darah dari rentang normal.
Kode SLKI: 2610
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia: Tindakan kolaboratif untuk mengelola kadar glukosa darah yang tinggi pada pasien dengan risiko atau diagnosis diabetes.
Kode SIKI: 4208
Deskripsi : Pemantauan Glukosa Darah: Pengumpulan dan analisis data pasien untuk mengidentifikasi kadar glukosa darah.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 00027
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: 2020
Deskripsi : Manajemen Keseimbangan Cairan: Promosi keseimbangan cairan dan pencegahan komplikasi akibat asupan cairan yang tidak adekuat atau berlebihan.
Kode SIKI: 0801
Deskripsi : Pemantauan Tanda Vital: Pengumpulan dan analisis data kardiovaskular, pernapasan, dan suhu tubuh untuk menentukan dan mencegah masalah kesehatan.
Kondisi: Kurang Pengetahuan
Kode SDKI: 00126
Deskripsi Singkat: Keterbatasan atau tidak adanya informasi kognitif terkait topik tertentu.
Kode SLKI: 5602
Deskripsi : Pengajaran: Proses Penyakit: Memberikan informasi dan mengajarkan tentang proses penyakit dan potensi komplikasi.
Kode SIKI: 6530
Deskripsi : Pengajaran: Proses Penyakit: Menjelaskan informasi tentang penyakit tertentu sesuai dengan kebutuhan pasien.
-
Article No. 24534 | 19 Mar 2026
Klinis : DS: Tidak ada riwayat DM sebelumnya DO: • Glukosa darah 24,8 mmol/L • Diagnosis HHS • HbA1c meningkat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 00079
Deskripsi Singkat: Risiko terjadinya variasi kadar glukosa darah dari rentang normal, yang dapat mengancam jiwa, pada individu yang berisiko.
Kode SLKI: 1918
Deskripsi : Pasien akan menunjukkan kadar glukosa darah dalam rentang yang ditargetkan, dibuktikan dengan: 1) Menyebutkan tanda dan gejala hipoglikemia dan hiperglikemia, 2) Menyebutkan faktor penyebab ketidakstabilan kadar glukosa darah, 3) Melakukan pemantauan kadar glukosa darah secara mandiri sesuai program, 4) Kadar glukosa darah dalam rentang target, 5) Tidak mengalami episode hipoglikemia atau hiperglikemia berat, 6) Menjelaskan rencana terapi nutrisi dan aktivitas fisik, 7) Mengonsumsi obat sesuai resep, 8) Melaporkan tanda dan gejala hipoglikemia atau hiperglikemia.
Kode SIKI: 4238
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia: 1) Monitor tanda dan gejala hiperglikemia (poliuria, polidipsia, penglihatan kabur, lemas, mual). 2) Lakukan pemantauan glukosa darah sesuai ketentuan (misal: setiap 1-2 jam pada kondisi krisis). 3) Kolaborasi pemberian insulin sesuai protokol. 4) Berikan cairan intravena sesuai resep untuk koreksi dehidrasi. 5) Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, balance cairan). 6) Auskultasi bising usus, monitor mual/muntah. 7) Monitor status neurologis (GCS, orientasi). 8) Ajarkan pasien/keluarga tentang penyebab, gejala, dan pencegahan hiperglikemia. 9) Anjurkan perawatan kaki dan inspeksi harian. 10) Rujuk ke edukator diabetes jika diperlukan. 11) Dokumentasikan temuan dan intervensi. Intervensi ini sangat relevan untuk kondisi HHS (Hyperosmolar Hyperglycemic State) seperti pada pasien, yang merupakan keadaan darurat hiperglikemik dengan dehidrasi berat dan perubahan status mental, meskipun tanpa ketoasidosis signifikan. Fokus intervensi pada koreksi cairan dan elektrolit, penurunan glukosa darah secara bertahap, serta pencegahan komplikasi seperti trombosis dan edema serebral merupakan inti dari manajemen HHS.
-
Article No. 24535 | 19 Mar 2026
Klinis : nyeri dada, sesak mual ( + ) muntah ( - ). ada luka basah dikedua kaki sudah 2 bulan. RPD: pengobatan rutin jantung rs amal sehat Pemeriksaan fisik : KU : Sedang, E4V5M6 Kes : CM TD : 146/116 mmHg S : 36,9°C N : 100 x / menit RR : 24x / menit SpO2 : 85 % on NK 3 lpm Mata : cowong -/- CA -/-, SI -/- Thorax : SDV +/+ rh -/- wh -/-, S1S2 reguler, BJ (-) Abdomen : supel, BU (+), NT (-) epigastrium Ext : Akral hangat +/+, edema +/+ pucat -/-, CRT <2dt akral hngat +/+ , oedema -/- R cruris sin : ulcus DM R pedis dx : ulcus DM
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi ≤ 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI ini berfokus pada upaya untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri yang dialami pasien. Tindakan keperawatan meliputi pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, faktor pencetus dan pereda) menggunakan skala yang sesuai. Perawat akan memodifikasi lingkungan untuk kenyamanan, memberikan edukasi tentang teknik non-farmakologis (seperti distraksi, relaksasi napas dalam, atau posisi yang nyaman), dan berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik sesuai resep dengan memantau efektivitas dan efek sampingnya. Pada kasus ini, nyeri dada yang dialami pasien merupakan gejala utama yang memerlukan manajemen segera untuk mengurangi distress dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti kecemasan yang memperberat beban jantung. Monitoring respons pasien terhadap intervensi yang diberikan adalah kunci untuk mengevaluasi keberhasilan manajemen nyeri.
Kode SIKI: I.08059
Deskripsi : Intervensi ini adalah tindakan spesifik untuk mengelola nyeri. Langkah-langkahnya dimulai dengan pengkajian nyeri secara menyeluruh. Kemudian, perawat akan membantu pasien dalam teknik relaksasi dan distraksi. Posisi pasien diatur untuk memaksimalkan kenyamanan, seperti semi-Fowler jika tidak kontraindikasi untuk mengurangi sesak dan ketegangan dada. Perawat akan mengajarkan pasien untuk melaporkan nyeri secara proaktif. Kolaborasi pemberian obat antiangina atau analgesik sesuai resep dokter dilakukan dengan tepat waktu, disertai monitoring ketat terhadap tanda-tanda vital (terutama TD, N, RR) dan respons terhadap pengobatan. Edukasi juga diberikan tentang pentingnya istirahat dan menghindari aktivitas yang memicu nyeri. Dokumentasi yang akurat mengenai karakteristik nyeri dan respons terhadap intervensi sangat penting untuk penyesuaian rencana perawatan.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas paten.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : SLKI ini bertujuan untuk mempertahankan kepatenan jalan napas dan memastikan pertukaran gas yang adekuat. Tindakan keperawatan meliputi pemantauan status pernapasan (pola, frekuensi, usaha napas, suara napas, dan saturasi oksigen) secara ketat. Perawat akan memposisikan pasien untuk optimalisasi ventilasi (misalnya, posisi duduk/ semi-Fowler), mendukung batuk efektif jika pasien mampu, dan melakukan fisioterapi dada jika diperlukan. Pemberian terapi oksigen sesuai order (seperti nasal kanul 3 lpm yang sedang digunakan) harus dipantau keefektifannya dengan melihat peningkatan SpO2. Pada pasien ini, dengan RR 24x/menit dan SpO2 85% yang masih rendah meski sudah diberi O2, menunjukkan gangguan pertukaran gas yang serius, kemungkinan terkait dengan kondisi jantung (gagal jantung) atau komplikasi lainnya. SLKI ini juga mencakup edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya melaporkan sesak, serta kolaborasi untuk pemeriksaan penunjang seperti analisis gas darah.
Kode SIKI: I.04005
Deskripsi : Intervensi spesifik ini meliputi serangkaian tindakan untuk mengelola jalan napas. Perawat akan memonitor status pernapasan setiap 1-2 jam atau sesuai kebutuhan, mencakup observasi penggunaan otot bantu napas, sianosis, dan tingkat kecemasan. Posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi dipertahankan. Terapi oksigen diberikan sesuai order dengan memastikan alat berfungsi baik dan aliran tepat (3 lpm). Perawat akan mengajarkan dan mendorong napas dalam dan batuk efektif. Suctioning dilakukan hanya jika ada indikasi sekret yang tidak bisa dikeluarkan pasien. Kolaborasi dengan tim medis untuk evaluasi lebih lanjut (seperti foto thorax) dan penyesuaian terapi oksigen atau pemberian obat bronkodilator jika diperlukan. Keamanan pasien adalah prioritas, dan persiapan untuk intubasi mungkin perlu dipertimbangkan jika gagal napas memburuk.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : SLKI ini bertujuan untuk meningkatkan toleransi pasien terhadap aktivitas secara bertahap dan aman. Tindakan keperawatan diawali dengan pengkajian faktor penyebab, seperti nyeri, ketidakseimbangan suplai dan demand oksigen (akibat masalah jantung dan hipoksemia), serta kelemahan umum. Perawat akan memantau respons kardiorespirasi (TD, N, RR, SpO2) sebelum, selama, dan setelah aktivitas. Aktivitas pasien diatur dengan periode istirahat yang cukup. Perencanaan aktivitas bertahap disusun bersama pasien, dimulai dari perawatan diri sederhana di tempat tidur. Pada kasus ini, kondisi jantung (dengan tanda takikardia N:100x/menit) dan hipoksemia (SpO2 85%) sangat membatasi kemampuan aktivitas pasien. SLKI juga mencakup edukasi tentang teknik penghematan energi dan pentingnya menghindari aktivitas yang mendadak berat. Tujuannya adalah mencegah kelelahan berlebih yang dapat memperburuk nyeri dada dan sesak napas.
Kode SIKI: I.09011
Deskripsi : Intervensi ini melibatkan manajemen aktivitas yang terstruktur. Perawat akan membantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kemampuan, menganjurkan istirahat sebelum lelah. Lingkungan diatur agar alat-alat yang sering digunakan mudah dijangkau. Jadwal aktivitas dibuat dengan menyeimbangkan aktivitas dan istirahat. Perawat akan mengajarkan pasien untuk mengenali tanda intoleransi (peningkatan N >20x dari baseline, sesak, pusing, kelelahan ekstrem) dan berhenti beraktivitas jika tanda tersebut muncul. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang mendukung energi juga penting. Motivasi dan dukungan emosional diberikan untuk meningkatkan partisipasi pasien dalam program peningkatan aktivitas yang aman.
Kondisi: Kerusakan Integritas Jaringan
Kode SDKI: D.0487
Deskripsi Singkat: Kerusakan pada membran mukosa, kornea, integumen, atau jaringan subkutan.
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : SLKI ini berfokus pada penyembuhan luka dan mencegah kerusakan lebih lanjut atau infeksi. Tindakan keperawatan meliputi pengkajian luka ulkus DM secara komprehensif (lokasi, ukuran, kedalaman, jaringan dasar, eksudat, tanda infeksi, dan keadaan kulit sekitar). Perawat akan melakukan perawatan luka dengan teknik aseptik, memilih balutan yang sesuai (moist wound healing untuk luka basah), dan melindungi kulit sekitar dari kelembaban. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang perawatan luka, pentingnya kontrol gula darah, nutrisi tinggi protein dan vitamin untuk penyembuhan, serta pencegahan trauma pada kaki sangat krusial. Pada pasien ini, ulkus DM di kedua kaki yang sudah 2 bulan menunjukkan proses penyembuhan yang terganggu, kemungkinan besar terkait dengan penyakit dasar (Diabetes Melitus) dan gangguan sirkulasi perifer. SLKI ini juga mencakup kolaborasi dengan dokter untuk debridemen jika diperlukan dan pemberian antibiotik jika ada infeksi.
Kode SIKI: I.10032
Deskripsi : Intervensi spesifik untuk perawatan luka ini meliputi inspeksi dan pengukuran luka setiap kali ganti balutan. Pembersihan luka dilakukan dengan larutan steril (misalnya NaCl 0,9%), menghilangkan jaringan nekrotik jika ada (debridement), dan mengaplikasikan balutan yang menjaga kelembaban luka (seperti hidrogel atau balutan modern lainnya). Posisi ekstremitas ditinggikan untuk mengurangi edema dan meningkatkan aliran darah balik. Perawat akan memantau tanda-tanda infeksi (rubor, dolor, calor, tumor, pus) secara ketat. Edukasi diberikan tentang cara melindungi kaki, hindari berjalan tanpa alas kaki, dan pemeriksaan kaki sehari-hari. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk diet diabetik dan tinggi protein, serta dengan dokter untuk manajemen glikemik dan terapi antibiotik jika diperlukan, adalah bagian integral dari intervensi ini.