Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24614 | 28 Mar 2026
Klinis : asien g3p2a0 ukj 13 minggu dengan hbsag reaktif, tidak rutin memeriksakan kondisi kesehatannya karena merasa baik-baik saja, tidak ada yang salah dengan dirinya. kemudian bb 45,6 kg tb 150 cm, lla 22 cm. datang dengan rujukan dari puskesmas karena janin tidak teraba dan tidak terlihat saat usg
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Nutrisi pada Kehamilan dengan Hepatitis B dan Keterlambatan Deteksi Pertumbuhan Janin
Kode SDKI: 0205
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 2201
Deskripsi : Pengendalian Infeksi
Kode SIKI: 4201, 4202, 4203, 4204, 4205, 4206, 4207, 4208, 4209, 4210
Deskripsi : Pengendalian Infeksi merupakan serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran infeksi. Pada pasien ini, status HBsAg reaktif menunjukkan infeksi Hepatitis B virus (HBV) yang aktif. Risiko infeksi menjadi fokus utama karena kehamilan menambah kompleksitas penatalaksanaan HBV, termasuk risiko transmisi vertikal (dari ibu ke janin) yang tinggi jika tidak dikelola dengan baik. Intervensi dimulai dengan pengkajian mendalam tentang pengetahuan pasien mengenai Hepatitis B, cara penularan, dan pentingnya pengobatan serta pemantauan. Perawat kemudian memberikan edukasi kesehatan yang komprehensif tentang pentingnya pemeriksaan lanjutan (seperti viral load HBV dan fungsi hati) untuk menentukan kebutuhan terapi antivirus guna menekan risiko transmisi. Edukasi juga mencakup cara pencegahan penularan kepada pasangan dan keluarga, termasuk pentingnya vaksinasi Hepatitis B bagi kontak dekat yang belum terinfeksi. Perawat mengajarkan dan memantau praktik higiene personal dan lingkungan yang baik. Selain itu, perawat berkolaborasi dengan dokter untuk memastikan pasien mendapatkan skrining dan profilaksis yang tepat sesuai protokol, seperti pemberian imunoglobulin (HBIG) dan vaksin Hepatitis B pada bayi segera setelah lahir. Pemantauan tanda-tanda infeksi dan komplikasi hepatik selama kehamilan juga dilakukan secara ketat. Tujuan akhir SLKI ini adalah meminimalkan risiko transmisi virus, mencegah infeksi oportunistik lainnya, dan memastikan pasien memahami serta kooperatif dalam rencana penatalaksanaan jangka panjang.
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Nutrisi pada Kehamilan dengan Hepatitis B dan Keterlambatan Deteksi Pertumbuhan Janin
Kode SDKI: 1103
Deskripsi Singkat: Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Manajemen Nutrisi
Kode SIKI: 4401, 4402, 4403, 4404, 4405, 4406, 4407, 4408, 4409, 4410, 4411, 4412, 4413, 4414, 4415, 4416, 4417, 4418, 4419, 4420
Deskripsi : Manajemen Nutrisi adalah intervensi untuk memastikan asupan makanan dan cairan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolik. Pada pasien ini, data antropometri (BB 45.6 kg, TB 150 cm, LLA 22 cm) mengindikasikan status gizi kurang (IMSA pra-kehamilan sekitar 20.3 kg/m² dan LLA < 23.5 cm). Kondisi ini diperberat oleh kehamilan trimester dua yang meningkatkan kebutuhan kalori dan protein, serta adanya infeksi Hepatitis B yang dapat meningkatkan katabolisme dan menurunkan nafsu makan. Janin yang tidak teraba dan tidak terlihat pada USG sangat mungkin berkaitan dengan gangguan nutrisi ibu yang berat, mengarah pada kemungkinan IUGR (Intrauterine Growth Restriction) atau bahkan missed abortion. Intervensi dimulai dengan pengkajian pola makan, kebiasaan, hambatan, dan pengetahuan gizi pasien. Perawat kemudian menyusun dan mendiskusikan rencana diet tinggi kalori dan tinggi protein yang mudah dicerna, disesuaikan dengan kemungkinan mual atau anoreksia akibat hepatitis. Edukasi diberikan tentang pentingnya nutrisi untuk kesehatan ibu, pertumbuhan janin, dan fungsi hati. Perawat memantau asupan makan dan minum harian, berat badan, serta lingkar lengan atas secara berkala. Kolaborasi dengan ahli gizi sangat penting untuk penyusunan menu detail. Perawat juga memfasilitasi dukungan psikososial dan ekonomi jika terdapat hambatan dalam memperoleh makanan bergizi. Tujuannya adalah mencapai peningkatan berat badan yang adekuat sesuai kurva kehamilan, memperbaiki status gizi (LLA meningkat), dan mendukung pertumbuhan janin yang optimal jika kehamilan masih berlanjut.
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Nutrisi pada Kehamilan dengan Hepatitis B dan Keterlambatan Deteksi Pertumbuhan Janin
Kode SDKI: 0715
Deskripsi Singkat: Kurang Pengetahuan
Kode SLKI: 5601
Deskripsi : Edukasi Kesehatan
Kode SIKI: 6501, 6502, 6503, 6504, 6505, 6506, 6507, 6508, 6509, 6510, 6511, 6512, 6513, 6514, 6515, 6516, 6517, 6518, 6519, 6520
Deskripsi : Edukasi Kesehatan adalah intervensi untuk memfasilitasi pembelajaran dan pengembangan keterampilan yang mendukung perubahan perilaku menuju kesehatan yang lebih baik. Defisit pengetahuan menjadi akar masalah pada pasien ini, ditunjukkan dengan perilaku tidak rutin memeriksakan kesehatan karena merasa baik-baik saja, padahal ia membawa infeksi Hepatitis B kronis dan kemungkinan mengalami gangguan pertumbuhan janin. Kurangnya pemahaman ini berisiko menyebabkan outcome kehamilan yang buruk bagi ibu dan janin. Intervensi edukasi dilakukan dengan pendekatan empati dan tidak menghakimi. Perawat mengkaji tingkat pengetahuan, keyakinan, dan kesiapan belajar pasien. Materi edukasi disusun secara bertahap dan jelas, meliputi: (1) Pemahaman tentang Hepatitis B: sifat penyakit kronis, potensi komplikasi (sirosis, kanker hati), dan pentingnya pemantauan rutin meski tanpa gejala; (2) Dampak Hepatitis B pada kehamilan dan janin: risiko penularan vertikal dan langkah pencegahannya; (3) Pentingnya antenatal care (ANC) rutin untuk memantau kesehatan ibu dan perkembangan janin, termasuk penjelasan mengenai temuan USG yang tidak normal; (4) Prinsip gizi seimbang selama kehamilan dengan kondisi hepatitis; (5) Perencanaan persalinan dan perawatan bayi pasca lahir. Metode edukasi menggunakan ceramah, diskusi, lembar balik, dan demonstrasi jika diperlukan. Perawat memastikan pemahaman pasien dengan teknik teach-back, mendokumentasikan respons, dan merencanakan sesi tindak lanjut. Tujuannya adalah meningkatkan kesadaran pasien, mengubah persepsi "merasa sehat" menjadi "perlu menjaga kesehatan proaktif", dan mendorong kepatuhan terhadap rencana perawatan dan tindak lanjut medis.
-
Article No. 24615 | 28 Mar 2026
Klinis : asien g3p2a0 ukj 13 minggu dengan hbsag reaktif, tidak rutin memeriksakan kondisi kesehatannya karena merasa baik-baik saja, tidak ada yang salah dengan dirinya. kemudian bb 45,6 kg tb 150 cm, lla 22 cm. datang dengan rujukan dari puskesmas karena janin tidak teraba dan tidak terlihat saat usg
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Penurunan Nutrisi pada Kehamilan dengan Hepatitis B dan Keterlambatan Deteksi Pertumbuhan Janin
Kode SDKI: 0206
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 2201
Deskripsi : Pengendalian Infeksi
Kode SIKI: 3401, 3402, 3403, 3404, 3405, 3406, 3407, 3408, 3409
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Tindakan untuk mencegah, memantau, dan mengobati infeksi. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis yang bertujuan memutus rantai penularan infeksi, khususnya penting pada pasien dengan status HBsAg reaktif (hepatitis B) untuk mencegah penularan vertikal ke janin dan horizontal ke orang lain. Penjelasan tindakan: (3401) Melakukan surveilans infeksi dengan memantau tanda-tanda infeksi seperti demam, dan memastikan pemeriksaan laboratorium terkait fungsi hati dan viral load HBV. (3402) Melaksanakan kewaspadaan standar (universal precaution) dalam setiap kontak dengan pasien, termasuk cuci tangan sebelum dan sesudah kontak, menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai seperti sarung tangan saat menangani cairan tubuh. (3403) Melakukan dekontaminasi lingkungan dan peralatan untuk mencegah penyebaran virus hepatitis B yang dapat bertahan di luar tubuh. (3404) Melakukan sterilisasi dan disinfeksi tingkat tinggi pada peralatan yang digunakan. (3405) Mengisolasi pasien sesuai indikasi, meskipun untuk hepatitis B isolasi ketat tidak selalu diperlukan, namun edukasi tentang pencegahan penularan melalui darah dan cairan tubuh sangat vital. (3406) Mengelola terapi antibiotik atau antiviral sesuai program, termasuk koordinasi dengan dokter untuk rencana pemberian terapi antiviral jika diperlukan untuk menekan replikasi virus dan mengurangi risiko penularan ke janin. (3407) Melakukan tindakan pencegahan infeksi pada prosedur invasif, memastikan semua prosedur seperti pengambilan sampel darah dilakukan dengan teknik aseptik. (3408) Melindungi pasien dari infeksi dengan mengedukasi pasien dan keluarga tentang cara mencegah penularan, pentingnya vaksinasi hepatitis B untuk kontak dekat, dan rencana pemberian imunoglobulin dan vaksinasi pada bayi segera setelah lahir. (3409) Mengedukasi pasien, keluarga, dan pengunjung tentang pencegahan infeksi, termasuk tidak berbagi sikat gigi atau alat cukur, serta pentingnya pemeriksaan dan perawatan lanjutan.
Kondisi: Risiko Infeksi dan Penurunan Nutrisi pada Kehamilan dengan Hepatitis B dan Keterlambatan Deteksi Pertumbuhan Janin
Kode SDKI: 1301
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Manajemen Nutrisi
Kode SIKI: 4410, 4411, 4412, 4413, 4414, 4415, 4416, 4417, 4418, 4419, 4420
Deskripsi : Manajemen Nutrisi: Tindakan untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat sesuai kebutuhan metabolik. Pada pasien ini, indikator kuat risiko nutrisi kurang adalah berat badan 45.6 kg dengan tinggi badan 150 cm (IMT ~20.3, berada di batas bawah normal), serta Lingkar Lengan Atas (LLA) 22 cm yang mengindikasikan risiko kekurangan energi protein. Kondisi hepatitis B dapat mempengaruhi nafsu makan dan metabolisme, sementara kehamilan meningkatkan kebutuhan nutrisi. Pertumbuhan janin yang tidak terdeteksi pada usia 13 minggu dapat berkaitan dengan faktor nutrisi ibu. Intervensi meliputi: (4410) Melakukan pengkajian status nutrisi secara komprehensif termasuk riwayat diet, pola makan, mual muntah, dan faktor penghambat asupan. (4411) Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi asupan nutrisi, seperti perasaan "baik-baik saja" yang menyebabkan kunjungan antenatal care tidak rutin, serta kemungkinan anoreksia akibat penyakit hati. (4412) Mengkolaborasikan pemberian nutrisi parenteral atau enteral jika diperlukan, meskipun pada kondisi ini prioritas adalah optimalisasi nutrisi oral. (4413) Memantau asupan dan haluaran cairan serta status hidrasi. (4414) Memantau hasil laboratorium terkait status nutrisi dan fungsi hati (seperti albumin, protein total). (4415) Mengatur lingkungan yang kondusif untuk makan. (4416) Memberikan makanan sesuai kondisi pasien, dalam porsi kecil tapi sering, dengan kandungan protein tinggi dan mudah dicerna untuk mendukung regenerasi sel hati dan pertumbuhan janin, serta membatasi lemak jika ada gejala dispepsia. (4417) Meningkatkan nafsu makan melalui konsultasi gizi untuk menyusun menu yang menarik dan toleran. (4418) Memberikan suplemen nutrisi sesuai kebutuhan, seperti vitamin prenatal dan suplemen zat besi. (4419) Mengedukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi adekuat selama kehamilan dengan hepatitis B, hubungan antara asupan makanan dengan kesehatan janin, dan konsekuensi malnutrisi. (4420) Merujuk ke ahli gizi untuk penatalaksanaan diet spesifik yang memperhatikan kondisi hati dan kehamilan.
Kondisi: Risiko Infeksi dan Penurunan Nutrisi pada Kehamilan dengan Hepatitis B dan Keterlambatan Deteksi Pertumbuhan Janin
Kode SDKI: 0716
Deskripsi Singkat: Ketidakpatuhan
Kode SLKI: 1610
Deskripsi : Peningkatan Kepatuhan
Kode SIKI: 4501, 4502, 4503, 4504, 4505, 4506, 4507, 4508, 4509, 4510
Deskripsi : Peningkatan Kepatuhan: Tindakan untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap regimen terapeutik dan program kesehatan. Pasien memiliki riwayat tidak rutin memeriksakan kehamilan karena merasa sehat, yang menunjukkan potensi ketidakpatuhan terhadap anjuran perawatan antenatal, padahal dirinya membawa kondisi serius (HBsAg reaktif) dan ada indikasi masalah pada janin. Intervensi keperawatan meliputi: (4501) Membangun hubungan saling percaya dan terapeutik dengan pasien. (4502) Mengidentifikasi faktor penyebab ketidakpatuhan, seperti kurangnya pengetahuan, persepsi bahwa dirinya sehat, minimnya dukungan keluarga, atau faktor ekonomi. (4503) Melibatkan pasien dalam perencanaan asuhan dan pengambilan keputusan untuk meningkatkan rasa memiliki. (4504) Menyederhanakan regimen terapi, misalnya dengan membuat jadwal kunjungan yang jelas dan mudah diikuti. (4505) Memberikan penguatan (reinforcement) positif atas setiap usaha pasien mematuhi rencana perawatan. (4506) Mengatur lingkungan untuk mendukung kepatuhan. (4507) Mengedukasi pasien dan keluarga tentang kondisi penyakit (Hepatitis B), potensi komplikasinya pada janin (seperti penularan vertikal, prematuritas), pentingnya pemantauan kehamilan rutin, dan tujuan dari setiap tindakan yang direncanakan. Edukasi harus jelas, menggunakan bahasa sederhana, dan menekankan bahwa merasa sehat bukan jaminan janin dalam keadaan baik, terutama dengan kondisi HBsAg reaktif. (4508) Memodifikasi rencana asuhan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan pasien. (4509) Memantau kepatuhan pasien melalui catatan kunjungan dan laporan mandiri. (4510) Melakukan kunjungan rumah atau telepon follow-up jika memungkinkan, untuk mengingatkan jadwal kontrol dan mengevaluasi kondisi, sehingga meningkatkan akuntabilitas dan dukungan berkelanjutan.
-
Article No. 24616 | 28 Mar 2026
Klinis : asien g3p2a0 ukj 13 minggu dengan hbsag reaktif, tidak rutin memeriksakan kondisi kesehatannya karena merasa baik-baik saja, tidak ada yang salah dengan dirinya. kemudian bb 45,6 kg tb 150 cm, lla 22 cm. datang dengan rujukan dari puskesmas karena janin tidak teraba dan tidak terlihat saat usg
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Kehamilan dengan hasil HBsAg reaktif dan kemungkinan kehamilan mola hidatidosa (blighted ovum / missed abortion)
Kode ICD-10: O98.4 dan O02.0
Deskripsi Singkat : Pasien merupakan ibu hamil pada usia kehamilan 13 minggu (trimester pertama) dengan riwayat kehamilan 3 kali, melahirkan 2 kali, dan tidak pernah abortus (G3P2A0). Diagnosis utama adalah infeksi virus hepatitis B yang dikonfirmasi melalui hasil HBsAg reaktif selama kehamilan. Kode O98.4 mengklasifikasikan "Penyakit virus hepatitis yang menyulitkan kehamilan, persalinan dan nifas", menandakan bahwa kondisi infeksi kronis ini memerlukan pemantauan khusus untuk mencegah penularan vertikal ke janin. Selain itu, berdasarkan keluhan utama janin tidak teraba dan tidak terlihat pada USG, diduga kuat terjadi kehamilan abnormal, kemungkinan besar berupa "Blighted ovum" atau kehamilan mola. Kode O02.0 menggambarkan "Kehamilan mola lainnya dan yang tidak tergolongkan", yang mencakup kehamilan dimana kantung gestasi berkembang tanpa embrio yang viable. Status gizi pasien juga perlu diperhatikan dengan Indeks Massa Tubuh (IMT) 20.3 kg/m² yang berada di batas bawah normal dan Lingkar Lengan Atas (LLA) 22 cm yang mengindikasikan risiko kekurangan energi kronis. Pendekatan penanganan harus mencakup tata laksana terminasi kehamilan yang tidak berkembang dan rencana pencegahan penularan hepatitis B pada kehamilan berikutnya.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24617 | 28 Mar 2026
Klinis : diare
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diare
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan frekuensi dan/atau perubahan konsistensi feses menjadi cair yang melebihi kebiasaan individu, yang dapat disertai dengan urgensi, ketidaknyamanan perut, atau inkontinensia.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Manajemen Diare. Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mencegah atau mengatasi diare, mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, serta meminimalkan ketidaknyamanan dan komplikasi. Intervensi ini mencakup pemantauan frekuensi, volume, dan karakteristik feses; identifikasi faktor penyebab (infeksi, obat-obatan, diet, stres); pemberian edukasi tentang modifikasi diet (misalnya diet BRAT: Banana, Rice, Applesauce, Toast, serta menghindari makanan berminyak, pedas, atau berserat tinggi sementara); peningkatan asupan cairan oral yang aman (cairan rehidrasi oral/ORS, air putih, kaldu bening) untuk mengganti kehilangan cairan; pemberian perawatan higienis pada area perianal untuk mencegah iritasi kulit dan infeksi; kolaborasi pemberian farmakoterapi sesuai resep (seperti antidiare, antibiotik jika disebabkan infeksi bakteri, atau probiotik); serta pemantauan tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit menurun, mukosa kering, penurunan output urin, peningkatan denyut nadi, penurunan kesadaran) dan ketidakseimbangan elektrolit. Perawat juga berperan dalam edukasi pasien dan keluarga mengenai teknik mencuci tangan yang benar, penanganan makanan yang aman, dan kapan harus mencari bantuan medis lebih lanjut.
Kode SIKI: I.04001
Deskripsi : Kriteria Hasil: Manajemen Diare. Hasil yang diharapkan dari intervensi manajemen diare, meliputi: frekuensi dan konsistensi feses kembali normal sesuai kebiasaan individu; pasien menunjukkan tanda-tanda hidrasi yang adekuat (turgor kulit baik, mukosa lembab, output urin adekuat, tanda vital stabil); pasien bebas dari nyeri atau ketidaknyamanan abdomen yang signifikan; area perianal utuh tanpa tanda iritasi, kemerahan, atau kerusakan kulit; pasien dan keluarga memahami penyebab diare, langkah-langkah penanganan di rumah, dan strategi pencegahan; serta pasien mampu mendemonstrasikan perilaku untuk mencegah kekambuhan (seperti mencuci tangan, memilih makanan dan minuman yang aman). Hasil ini dievaluasi melalui pengamatan langsung, wawancara dengan pasien, dan pemeriksaan fisik. Pencapaian kriteria hasil menunjukkan keberhasilan intervensi keperawatan dalam mengatasi masalah diare dan mencegah komplikasi yang lebih serius seperti dehidrasi berat dan syok hipovolemik.
-
Article No. 24618 | 28 Mar 2026
Klinis : diare
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Diare
Kode ICD-10: R19.7
Deskripsi Singkat : Diare mengacu pada peningkatan frekuensi, kelonggaran, atau volume buang air besar, yang merupakan gejala umum dari berbagai kondisi. Kode R19.7 termasuk dalam bab 'Gejala, tanda dan temuan klinis dan laboratorium yang abnormal, tidak diklasifikasikan di tempat lain' (R00-R99). Kode ini digunakan untuk mencatat diare yang tidak spesifik atau belum ditentukan penyebab pastinya. Diare dapat disebabkan oleh infeksi (virus, bakteri, parasit), keracunan makanan, intoleransi makanan, efek samping obat, atau kondisi kronis seperti sindrom iritasi usus besar (IBS) atau penyakit radang usus (IBD). Penting untuk mencatat gejala ini secara akurat karena dapat mengarah pada diagnosis yang lebih spesifik setelah penyelidikan lebih lanjut. Penggunaan kode ini tepat dalam pengaturan awal atau ketika penyebabnya masih dalam penyelidikan. Untuk kasus diare yang telah diketahui penyebabnya (misalnya, diare infeksiosa), kode dari bab penyakit tertentu (seperti A09 untuk 'Diare dan gastroenteritis yang diduga infeksi') harus digunakan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24619 | 28 Mar 2026
Klinis : DS: Klien mengeluhkan kedua kakinya bengkak DO: Tampak adanya Ederma anasarka dan/atau ederma perifer Kadar Hb/Ht turun Klien mengalami oliguria Intake lebih banyak dari output (balans cairan positif)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan
Kode SDKI: 00028
Deskripsi Singkat: Kelebihan Volume Cairan adalah peningkatan retensi cairan dan natrium dari kondisi normal. Kondisi ini ditandai dengan adanya edema (anasarka/perifer), oliguria, ketidakseimbangan intake dan output (intake > output), penurunan kadar hemoglobin/hematokrit akibat hemodilusi, dan dapat disertai sesak napas, peningkatan tekanan darah, dan peningkatan berat badan.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Keseimbangan Cairan. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang diharapkan untuk klien; 2) Tidak ada edema, anasarka, atau krekels; 3) Balans cairan seimbang (intake dan output); 4) Berat badan stabil sesuai tujuan; 5) Bunyi jantung dan paru dalam batas normal; 6) Hasil pemeriksaan diagnostik terkait dalam batas normal (seperti BUN, kreatinin, elektrolit, protein serum, hematokrit); 7) Klien menyatakan pemahaman tentang pembatasan cairan dan diet sesuai resep. Tujuan akhir dari SLKI ini adalah mengembalikan dan mempertahankan keseimbangan cairan tubuh klien melalui pemantauan ketat dan intervensi yang tepat.
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : Manajemen Kelebihan Volume Cairan. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Memantau status cairan dengan ketat melalui balance cairan (intake-output harian), pemantauan berat badan harian dengan skala yang sama dan waktu yang sama, serta pemeriksaan tanda-tanda edema; 2) Memantau tanda-tanda vital dan status pernapasan secara berkala untuk mendeteksi dini komplikasi seperti gagal jantung atau edema paru; 3) Kolaborasi pemberian terapi diuretik sesuai resep dan memantau keefektifan serta efek sampingnya; 4) Melakukan manajemen nutrisi dengan membatasi asupan natrium dan cairan sesuai instruksi; 5) Memposisikan klien untuk memfasilitasi pertukaran gas dan mengurangi edema (misalnya, elevasi ekstremitas yang edema, perubahan posisi periodik); 6) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium seperti elektrolit, BUN, kreatinin, hematokrit, dan albumin; 7) Memberikan pendidikan kesehatan pada klien dan keluarga mengenai pembatasan diet, pentingnya pemantauan berat badan dan edema, serta kepatuhan terhadap terapi obat. Intervensi ini bersifat menyeluruh, mulai dari asesmen, tindakan independen, kolaboratif, hingga edukasi untuk menangani akar penyebab dan gejala kelebihan volume cairan.
-
Article No. 24620 | 28 Mar 2026
Klinis : batuk pilek demam
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Common Cold (Selesma) dengan Demam
Kode ICD-10: J00
Deskripsi Singkat : Kondisi yang dideskripsikan sebagai "batuk pilek demam" secara umum mengarah pada diagnosis nasofaringitis akut atau common cold (selesma) yang disertai gejala sistemik demam. Kode ICD-10 J00 mewakili "Nasofaringitis akut (pilek)". Ini adalah infeksi virus pada saluran pernapasan atas yang sangat menular, terutama menyerang hidung dan tenggorokan. Gejala khas meliputi rinorea (pilek/hidung meler), bersin-bersin, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, dan batuk yang biasanya berdahak atau kering. Kehadiran demam menunjukkan respons sistemik tubuh terhadap infeksi, meskipun demam pada common cold biasanya ringan. Kode ini dikategorikan di bawah "Penyakit pada sistem pernapasan" (J00-J99), khususnya "Infeksi saluran pernapasan atas akut" (J00-J06). Penting untuk dicatat bahwa jika batuk menjadi gejala yang dominan dan menetap, atau jika dicurigai infeksi spesifik seperti influenza, kodifikasi yang lebih tepat (misalnya J11.1 untuk influenza dengan gejala pernapasan lain) mungkin diperlukan setelah evaluasi klinis yang lebih mendalam.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24621 | 28 Mar 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Tuberkulosis Paru
Kode ICD-10: A15.0
Deskripsi Singkat : Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang terutama menyerang jaringan paru-paru. Kondisi ini ditandai dengan gejala seperti batuk berdahak berkepanjangan (lebih dari 2 minggu), demam, sesak napas, kehilangan nafsu makan, dan berkeringat di malam hari. Diagnosis didukung oleh temuan pemeriksaan fisik seperti suara napas bronkial dan konfirmasi melalui pemeriksaan radiologis (rontgen) yang menunjukkan lesi atau infiltrat di paru, seringkali di lobus atas. Kode ICD-10 A15.0 secara spesifik mengklasifikasikan "Tuberkulosis paru, dikonfirmasi secara bakteriologis dan histologis". Kode ini menegaskan bahwa diagnosis tuberkulosis paru telah diverifikasi melalui pemeriksaan mikrobiologis (seperti pemeriksaan dahak BTA) atau histologis, yang merupakan standar konfirmasi. Penggunaan kode ini sangat penting untuk pelaporan epidemiologi, pengobatan yang tepat, dan pengendalian infeksi. Dalam konteks kasus ini dengan gejala klinis dan temuan radiologis yang khas, meski diagnosis awal adalah tuberkulosis paru, penegakan kode A15.0 memerlukan konfirmasi laboratorium lebih lanjut.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24622 | 28 Mar 2026
Klinis : Tn. R (31 tahun) diantar keluarga ke Ruang Janoko pada 2 Februari 2026 karena perilaku yang mengkhawatirkan di rumah. Keluarga mengeluhkan Tn. R sering berbicara sendiri, tertawa tanpa sebab, dan sering terbangun tengah malam sambil menunjuk-nunjuk pojok kamar dengan ekspresi ketakutan. Selama observasi di rumah sakit, pasien terlihat sering menutup telinga dengan kedua tangannya, mulutnya berkomat-kamit, dan konsentrasinya sangat mudah teralih oleh stimulasi yang tidak nyata. Saat dikaji, Tn. R menceritakan pengalamannya: "Mbak, dengar tidak? Ada suara laki-laki besar yang terus memaki saya. Dia bilang saya anak haram dan menyuruh saya pergi jauh-jauh. Suaranya muncul terus, apalagi kalau saya lagi sendirian di kamar. Saya takut, suaranya sangat nyata."
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Halusinasi Pendengaran
Kode SDKI: 0201
Deskripsi Singkat: Persepsi sensori pendengaran tanpa adanya rangsang eksternal.
Kode SLKI: 020101
Deskripsi : Pasien mampu mengidentifikasi halusinasi dan memanfaatkan strategi koping untuk mengontrol halusinasi.
Kode SIKI: 020101
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk membantu pasien mengidentifikasi, mengelola, dan mengurangi dampak halusinasi pendengaran.
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Halusinasi Pendengaran (Kode 0201)
Definisi SDKI ini adalah persepsi sensori pendengaran tanpa adanya rangsang eksternal. Pada Tn. R, kondisi ini sangat jelas terlihat dari data subjektif dan objektif. Ia mendengar suara laki-laki besar yang memaki, menyebutnya anak haram, dan menyuruhnya pergi. Hal ini terjadi tanpa adanya sumber suara yang nyata di lingkungannya. Perilaku berbicara sendiri, tertawa tanpa sebab, dan menutup telinga merupakan respons terhadap persepsi sensori yang salah ini. Halusinasi pendengaran sering kali merupakan gejala dari gangguan psikotik seperti skizofrenia, dan pengalaman Tn. R yang merasa takut serta suara yang muncul terutama saat sendirian merupakan karakteristik umum. Diagnosa ini menjadi fokus karena halusinasi sangat mengganggu integrasi pikirannya dengan realitas, memengaruhi konsentrasi, menimbulkan distress (ketakutan), dan berpotensi menimbulkan perilaku berbahaya jika ia menuruti perintah suara tersebut.
Luaran Keperawatan (SLKI): Kontrol Halusinasi (Kode 020101)
SLKI dengan kode 020101 bertujuan agar pasien mampu mengidentifikasi halusinasi dan memanfaatkan strategi koping untuk mengontrol halusinasi. Luaran ini spesifik dan terukur. Pada Tn. R, tujuan akhirnya adalah mengurangi distress dan meningkatkan fungsi adaptif. Indikator pencapaiannya meliputi: (1) Tn. R dapat menyatakan bahwa suara yang didengar adalah bagian dari penyakitnya (halusinasi), bukan realitas; (2) Tn. R dapat melaporkan penurunan frekuensi, intensitas, dan durasi suara halusinasi; (3) Tn. R dapat menunjukkan perilaku yang menunjukkan pengabaian terhadap suara halusinasi, seperti tidak lagi menutup telinga atau berkomat-kamit menanggapi suara; (4) Tn. R dapat menggunakan minimal satu teknik koping (misalnya, berbicara dengan perawat, mendengarkan musik, atau melakukan aktivitas terstruktur) ketika halusinasi muncul; dan (5) Tn. R dapat berinteraksi dengan orang lain tanpa terinterupsi oleh halusinasinya. Pencapaian luaran ini bertahap, dimulai dari pengenalan hingga pengelolaan aktif.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Manajemen Halusinasi (Kode 020101)
SIKI Manajemen Halusinasi adalah serangkaian tindakan keperawatan yang direncanakan untuk mencapai SLKI di atas. Intervensi ini bersifat holistik dan meliputi:
1. Membangun Hubungan Terapeutik: Pendekatan yang tenang, empatik, dan tidak menghakimi untuk membangun kepercayaan. Validasi perasaan takut Tn. R ("Saya lihat Bapak terlihat takut") tanpa menyetujui isi halusinasinya.
2. Observasi dan Pengkajian Pola Halusinasi: Mencatat pemicu, waktu, frekuensi, isi, intensitas, dan respons emosional Tn. R terhadap halusinasi. Misalnya, apakah suara muncul saat sendirian atau stres?
3. Membantu Pasien Mengidentifikasi Halusinasi: Ketika Tn. R tenang, perawat dapat mendiskusikan pengalamannya dengan pertanyaan seperti, "Apa yang membuat Bapak yakin suara itu nyata?" dan secara perlahan memberikan penjelasan realitas ("Saya di sini tidak mendengar suara itu, mungkin itu adalah gejala dari kondisi yang Bapak alami").
4. Melatih Strategi Koping: Mengajarkan dan mempraktikkan teknik untuk mengalihkan perhatian dan mengurangi kecemasan saat halusinasi muncul. Contoh: Engagement (mengajak berkomunikasi intensif dengan perawat/orang lain), Listening to music (mendengarkan musik melalui earphone), Reality orientation (menyentuh benda nyata di sekitar), dan Positive self-talk (mengatakan pada diri sendiri "Ini hanya suara, saya bisa mengabaikannya").
5. Modifikasi Lingkungan: Mengurangi stimulus berlebihan, menempatkan Tn. R di ruangan yang tenang tetapi tidak terlalu isolatif, serta mendorong untuk tidak menyendiri di kamar.
6. Kolaborasi: Bekerja sama dengan tim medis untuk pemberian obat antipsikotik sesuai resep dan memantau efek serta efek sampingnya. Kolaborasi dengan terapis okupasi untuk aktivitas terstruktur juga penting.
7. Pendidikan Kesehatan dan Dukungan Keluarga: Memberikan penjelasan kepada keluarga tentang kondisi Tn. R, cara merespons saat halusinasi muncul (jangan ikut membicarakan isi halusinasi, alihkan ke aktivitas lain), dan pentingnya dukungan serta pengobatan rutin.
Dengan penerapan SIKI ini secara konsisten dan individual, diharapkan Tn. R dapat mencapai luaran SLKI yaitu mampu mengontrol halusinasinya, sehingga kualitas hidup dan keselamatannya dapat terjaga.
-
Article No. 24623 | 28 Mar 2026
Klinis : sesak berkurang, berdebar berkurang KU lemah, CM TD: 120/82 mmhg HR: 103 x/m RR: 21 x/m SB: 36.5 c SpO2: 98-99 % on O2 NK JVP 5+3 RBH +/+ min, WHZ -/-, S1S2 irregular edem-/- CK-MB 22
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Penurunan Curah Jantung adalah keadaan di mana volume darah yang dipompa oleh jantung per menit (cardiac output) tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Hal ini dapat disebabkan oleh gangguan preload, afterload, kontraktilitas miokard, atau frekuensi jantung. Kondisi ini ditandai dengan gejala seperti sesak napas, kelelahan, takikardia, penurunan tekanan darah, penurunan keluaran urin, dan tanda-tanda kongesti vena (seperti peningkatan JVP).
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI L.08001 adalah "Perbaikan Curah Jantung". Tujuan dari luaran ini adalah agar curah jantung pasien memadai, yang ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang yang dapat diterima untuk pasien; 2) Denyut nadi dalam rentang normal; 3) Keseimbangan antara asupan dan keluaran cairan; 4) Nadi perifer teraba; 5) Status mental baik; 6) Kulit hangat dan kering; 7) Tidak ada atau berkurangnya dispnea, ortopnea, dan batuk; 8) Bunyi jantung normal; 9) Tidak ada edema perifer; 10) Tidak ada distensi vena leher. Pada kasus ini, meskipun sesak dan berdebar berkurang, tanda-tanda seperti takikardia (HR 103x/m), JVP meningkat (5+3), dan bunyi jantung irregular (S1S2 irregular) masih menunjukkan bahwa tujuan "perbaikan curah jantung" belum sepenuhnya tercapai, sehingga intervensi keperawatan masih diperlukan untuk mencapai luaran yang optimal.
Kode SIKI: I.08039
Deskripsi : SIKI I.08039 adalah "Manajemen Curah Jantung". Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis untuk mengoptimalkan volume darah, kontraktilitas, dan afterload guna meningkatkan curah jantung. Tindakan spesifik meliputi: 1) Memantau status hemodinamik (TD, HR, RR, JVP, nadi perifer, pengisian kapiler) secara berkala; 2) Memantau status pernapasan (sesak, bunyi napas, SpO2); 3) Memantau keseimbangan cairan (asupan-output, berat badan, edema); 4) Memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan (seperti pada pasien ini yang menggunakan O2 nasal kanul); 5) Mengatur posisi pasien untuk memfasilitasi pernapasan dan sirkulasi (misalnya, kepala tempat tidur ditinggikan); 6) Memberikan obat-obatan sesuai resep (seperti diuretik, inotropik, vasodilator) dan memantau efek serta efek sampingnya; 7) Membatasi aktivitas fisik dan memberikan istirahat untuk mengurangi beban kerja jantung; 8) Memberikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda memburuknya kondisi dan pentingnya kepatuhan pengobatan. Pada pasien dengan data CK-MB 22 (normal), perlu dipastikan apakah ada iskemia miokard akut. Intervensi ini harus dilakukan secara individual, berkelanjutan, dan dievaluasi respons pasien untuk menuju kondisi stabil.