Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24755 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang perempuan (55 th) dengan gagal jantung kiri. Pasien mengeluh sesak napas saat berbaring telentang dan harus menggunakan 3 bantal saat tidur agar bisa bernapas. Hasil rontgen dada menunjukkan kardiomegali dan edema paru. Pasien tampak pucat dan gelisah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gagal Jantung Kiri dengan Gejala Kongesti Paru
Kode SDKI: 0019
Deskripsi Singkat: Penurunan Curah Jantung
Kode SLKI: 1009
Deskripsi : Curah jantung membaik yang ditandai dengan: (1) Tekanan darah sistolik dalam rentang normal individu, (2) Tekanan darah diastolik dalam rentang normal individu, (3) Nadi perifer teraba, (4) Irama jantung reguler, (5) Tidak ada ortopnea, (6) Tidak ada dispnea, (7) Tidak ada edema paru, (8) Tidak ada kelelahan berlebihan, (9) Haluaran urine adekuat, (10) Kulit hangat dan kering.
Kode SIKI: I-0019
Deskripsi : Intervensi Keperawatan untuk Penurunan Curah Jantung meliputi: (1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) dan saturasi oksigen, (2) Auskultasi bunyi jantung dan paru, (3) Kaji adanya nyeri dada, karakteristik, dan faktor yang mempengaruhi, (4) Kaji status pernapasan (dispnea, ortopnea, batuk, sianosis), (5) Kaji status hemodinamik (pengisian kapiler, warna dan kehangatan kulit, nadi perifer), (6) Kaji tingkat kecemasan, (7) Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan, (8) Anjurkan tirah baring dengan posisi semi-Fowler atau duduk, (9) Bantu aktivitas perawatan diri sesuai toleransi, (10) Batasi aktivitas fisik, (11) Kolaborasi pemberian terapi farmakologi sesuai program (seperti diuretik, vasodilator, inotropik), (12) Monitor balance cairan (intake dan output), (13) Timbang berat badan setiap hari, (14) Anjurkan diet rendah garam dan pembatasan cairan sesuai program, (15) Berikan pendidikan kesehatan tentang penyakit, pengobatan, dan tanda-tanda yang perlu dilaporkan.
-
Article No. 24756 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang ibu (28 th) yang baru melahirkan bayi prematur tampak sering menangis dan menolak memegang bayinya di ruang NICU karena takut bayinya meninggal. Ibu mengatakan tidak sanggup melihat bayinya yang kecil dan penuh kabel.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Komplikasi Perinatal: Risiko Gangguan Ikatan antara Ibu dan Bayi (Parent-Infant Attachment)
Kode SDKI: 0025
Deskripsi Singkat: Risiko gangguan pada proses pembentukan hubungan afektif yang unik dan spesifik antara orang tua dan bayi, yang dapat mengganggu kesejahteraan psikososial keduanya.
Kode SLKI: 2009
Deskripsi : Ibu/orang tua menunjukkan perilaku ikatan (bonding) dengan bayi. Kriteria hasil: 1) Ibu/orang tua mengungkapkan perasaan positif terhadap bayi. 2) Ibu/orang tua melakukan kontak mata dengan bayi. 3) Ibu/orang tua menyentuh/memegang bayi. 4) Ibu/orang tua memberikan nama pada bayi. 5) Ibu/orang tua berbicara atau bersuara kepada bayi. 6) Ibu/orang tua menunjukkan perilaku protektif terhadap bayi. 7) Ibu/orang tua menunjukkan respons terhadap isyarat bayi (seperti tangisan).
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Fasilitasi Ikatan Ibu-Bayi (Parent-Infant Attachment). Intervensi: 1) Identifikasi faktor-faktor yang menghambat proses ikatan (misalnya, kondisi bayi prematur, perasaan takut, kecemasan, lingkungan NICU). 2) Berikan dukungan emosional dan psikologis dengan mendengarkan ungkapan perasaan ibu tanpa menghakimi. 3) Jelaskan kondisi bayi, prosedur, dan alat-alat yang terpasang dengan bahasa yang sederhana dan empatik untuk mengurangi ketakutan akibat ketidaktahuan. 4) Fasilitasi kontak dini dan sesering mungkin antara ibu dan bayi sesuai kondisi bayi (misal, sentuhan, enface position, menyentuh melalui inkubator). 5) Anjurkan dan bantu ibu untuk terlibat dalam perawatan bayi sesuai kemampuan (misal, mengganti popok, menyentuh, menyuapi ASI perah). 6) Bantu ibu mengenali dan merespons isyarat-isyarat bayi (tidur, bangun, rewel). 7) Berikan pujian atas setiap upaya kecil yang dilakukan ibu untuk berinteraksi dengan bayinya. 8) Libatkan anggota keluarga lain (suami, orang tua) untuk memberikan dukungan kepada ibu. 9) Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter, psikolog) jika diperlukan. 10) Ciptakan lingkungan yang mendukung privasi dan kelekatan selama kunjungan.
-
Article No. 24757 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki (55 th) mengeluh sering kencing di malam hari (nokturia) lebih dari 5 kali. Urine keluar sedikit-sedikit dan tidak pancarannya lemah. Pasien merasa kandung kemihnya belum kosong sepenuhnya setelah kencing.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urin
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami disfungsi dalam pengeluaran urine.
Kode SLKI: L.03116
Deskripsi : Eliminasi urin kembali normal dengan kriteria hasil: 1) Pola berkemih kembali normal (frekuensi, jumlah, warna), 2) Tidak ada keluhan nokturia, 3) Tidak ada keluhan urgensi, 4) Tidak ada keluhan disuria, 5) Tidak ada keluhan inkontinensia urin, 6) Tidak ada keluhan retensi urin, 7) Urine keluar dengan pancaran kuat dan lancar, 8) Kandung kemih teraba kosong setelah berkemih, 9) Hasil pemeriksaan USG/pemeriksaan penunjang lain dalam batas normal.
Kode SIKI: I.05259
Deskripsi : Manajemen eliminasi urin dengan tindakan: 1) Monitor pola eliminasi urin (frekuensi, jumlah, warna, bau), 2) Monitor keluhan berkemih (nokturia, disuria, urgensi, retensi), 3) Monitor pancaran dan kelancaran berkemih, 4) Lakukan palpasi kandung kemih untuk mendeteksi distensi, 5) Anjurkan untuk berkemih setiap 2-3 jam, 6) Anjurkan posisi berkemih yang nyaman, 7) Ajarkan latihan otot dasar panggul (Kegel) jika sesuai, 8) Atur asupan cairan (hindarkan kafein dan alkohol di malam hari), 9) Kolaborasi pemberian obat sesuai program terapi, 10) Kolaborasi pemasangan kateter urin jika diperlukan, 11) Lakukan pendidikan kesehatan tentang faktor risiko dan pencegahan.
-
Article No. 24758 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki (55 th) mengeluh sering kencing di malam hari (nokturia) lebih dari 5 kali. Urine keluar sedikit-sedikit dan tidak pancarannya lemah. Pasien merasa kandung kemihnya belum kosong sepenuhnya setelah kencing.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urin
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami disfungsi dalam pengeluaran urine.
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : Eliminasi urin kembali normal.
Kode SIKI: I.04039
Deskripsi : Manajemen Retensi Urin.
Penjelasan Lengkap:
Berdasarkan kondisi pasien laki-laki usia 55 tahun dengan keluhan nokturia (>5x), pancaran urine lemah, pengeluaran sedikit-sedikit, dan perasaan kandung kemih tidak kosong sepenuhnya, diagnosis keperawatan yang paling tepat adalah Gangguan Eliminasi Urin (D.0011). Gejala-gejala tersebut sangat khas untuk kondisi retensi urine kronis tidak lengkap (chronic incomplete urinary retention), yang sering disebabkan oleh pembesaran prostat jinak (Benign Prostatic Hyperplasia/BPH) pada pria seusia tersebut. Retensi urine terjadi ketika kandung kemih tidak dapat mengosongkan diri sepenuhnya, menyebabkan sisa urine yang menjadi tempat berkembang biak bakteri dan dapat menyebabkan infeksi, serta menimbulkan gejala iritatif seperti sering kencing terutama malam hari.
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) D.0011: Gangguan Eliminasi Urin didefinisikan sebagai keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami disfungsi dalam pengeluaran urine. Definisi operasionalnya mencakup karakteristik mayor seperti distensi kandung kemih, pancaran urine melemah, dan ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih secara lengkap, yang semuanya ada pada pasien ini. Etiologinya pada kasus ini diduga kuat terkait dengan faktor obstruktif (penyumbatan) pada leher kandung kemih atau uretra akibat pembesaran kelenjar prostat. Diagnosis ini menjadi landasan bagi perawat untuk merencanakan intervensi yang tepat guna mengatasi masalah eliminasi dan mencegah komplikasi seperti infeksi saluran kemih, kerusakan ginjal, atau retensi akut.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) L.03114: Eliminasi urin kembali normal adalah luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan. Kriteria luaran ini meliputi: (1) Pancaran urine kuat/tidak terputus, (2) Tidak ada distensi kandung kemih, (3) Pengosongan kandung kemih tuntas (ditandai dengan tidak ada perasaan penuh setelah berkemih dan volume residu post-voiding minimal), dan (4) Frekuensi berkemih normal (nokturia ≤ 1-2 kali). Tujuan akhirnya adalah pasien dapat mencapai pola eliminasi urine yang optimal, mengurangi gejala yang mengganggu, dan mencegah komplikasi. Pengukuran luaran ini dapat dilakukan melalui wawancara (keluhan pasien), observasi (kekuatan pancaran), pemeriksaan fisik (perkusi kandung kemih), dan jika memungkinkan pemeriksaan ultrasonografi untuk mengukur sisa urine setelah berkemih.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) I.04039: Manajemen Retensi Urin adalah serangkaian tindakan keperawatan yang spesifik untuk menangani kondisi retensi urine. Intervensi ini mencakup aktivitas-aktivitas kritis seperti: (1) Memantau pola eliminasi (frekuensi, volume, karakteristik urine, keluhan), (2) Melakukan palpasi dan perkusi kandung kemih untuk mendeteksi distensi, (3) Menerapkan teknik memicu berkemih seperti memberikan privasi, posisi berkemih yang nyaman, atau memanfaatkan refleks (membuka keran air, merendam tangan dalam air hangat), (4) Melakukan kateterisasi urine sesuai indikasi dan protokol untuk mengosongkan kandung kemih yang distensi berat, (5) Mengajarkan latihan otot dasar panggul jika sesuai, (6) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian obat-obatan (seperti alpha-blocker atau 5-alpha reductase inhibitor untuk BPH) atau persiapan tindakan operatif jika diperlukan, serta (7) Pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga mengenai kondisi, pengobatan, tanda-tanda komplikasi (seperti tidak bisa kencing sama sekali yang merupakan kegawatan), dan pentingnya kontrol rutin. Intervensi ini bersifat holistik, mulai dari pemantauan, tindakan fisik, hingga edukasi dan kolaborasi, dengan tujuan akhir mencapai luaran yang telah ditetapkan.
Secara keseluruhan, rangkaian SDKI, SLKI, dan SIKI ini memberikan kerangka kerja keperawatan yang sistematis, terstandar, dan berbasis bukti. Dimulai dari penegakan diagnosis D.0011 berdasarkan analisis data, kemudian menetapkan tujuan perawatan melalui L.03114, dan akhirnya melaksanakan tindakan-tindakan spesifik yang terukur melalui I.04039. Pendekatan ini memastikan asuhan keperawatan yang komprehensif, berfokus pada penyelesaian masalah utama pasien, dan terdokumentasi dengan baik sesuai standar profesi yang ditetapkan oleh PPNI.
-
Article No. 24759 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang anak (8 th) dengan Demam Berdarah Dengue (DBD) hari ke-5. Hasil pemeriksaan: terdapat ptekie di lengan, gusi berdarah, nilai Trombosit 45.000/uL, dan Hematokrit meningkat 25% dari nilai dasar.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perdarahan
Kode SDKI: 0203
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan, penurunan, atau hilangnya darah dari pembuluh darah.
Kode SLKI: 0203.1
Deskripsi : Risiko perdarahan dicegah. Penjelasan: SLKI ini berfokus pada upaya pencegahan perdarahan. Pada kasus DBD fase kritis (hari ke-4 sampai ke-6), trombositopenia yang signifikan (trombosit 45.000/uL) dan peningkatan hematokrit yang menandakan hemokonsentrasi merupakan faktor risiko utama perdarahan spontan atau perdarahan yang diperberat oleh trauma minimal. Manifestasi klinis seperti petekie dan perdarahan gusi sudah menunjukkan adanya gangguan hemostasis. Tujuan keperawatan adalah mencegah perdarahan lebih lanjut yang dapat membahayakan jiwa, seperti perdarahan saluran cerna atau perdarahan internal lainnya. Intervensi keperawatan harus sangat protektif dan berfokus pada meminimalkan risiko trauma.
Kode SIKI: 0203.1.1 - 0203.1.7 (Rentang Intervensi Utama)
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mencegah perdarahan pada anak dengan DBD meliputi: 1) Memantau tanda-tanda perdarahan (0203.1.1): Pengamatan ketat dan dokumentasi frekuensi serta luasnya petekie, memantau gusi, mukosa hidung, dan memeriksa feses atau muntahan akan warna kehitaman (melena/hematemesis). Pemantauan tanda vital dan kesadaran untuk mendeteksi syok perdarahan. 2) Melindungi dari trauma (0203.1.2): Menghindari tindakan invasif seperti penyuntikan intramuskular, pemasangan infus yang tidak perlu, atau pengambilan darah berulang. Menggunakan sikat gigi yang sangat lembut atau kasa untuk membersihkan mulut. Menjaga lingkungan aman untuk mencegah benturan. 3) Mengajarkan cara mencegah perdarahan (0203.1.3): Memberikan edukasi kepada anak dan keluarga untuk menghindari aktivitas berlebihan, mengajarkan cara menekan hidung dengan lembut jika mimisan, dan melaporkan segera jika ada tanda perdarahan baru. 4) Memantau hasil laboratorium (0203.1.4): Memantau nilai trombosit dan hematokrit secara berkala sesuai instruksi dokter. Penurunan trombosit di bawah 20.000-10.000/uL meningkatkan risiko perdarahan spontan yang lebih serius. 5) Kolaborasi pemberian transfusi trombosit (0203.1.5): Meskipun transfusi trombosit profilaksis tidak rutin, perawat berkolaborasi dalam mempersiapkan dan memantau respons transfusi jika diindikasikan oleh dokter karena perdarahan aktif atau penurunan trombosit yang sangat ekstrem. 6) Mengatur aktivitas (0203.1.6): Menganjurkan tirah baring dan membatasi aktivitas fisik untuk mengurangi risiko trauma dan perdarahan internal. 7) Memantau respons terapi (0203.1.7): Mengevaluasi efektivitas terapi cairan untuk menjaga volume intravaskuler, karena hemodinamik yang stabil juga mendukung hemostasis. Semua intervensi ini dilakukan dengan pendekatan yang lembut dan menenangkan untuk mengurangi kecemasan anak yang dapat memperburuk kondisi.
Kondisi: Kekurangan Volume Cairan
Kode SDKI: 0503
Deskripsi Singkat: Penurunan cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler.
Kode SLKI: 0503.4
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan. Penjelasan: Pada DBD, patofisiologi utama adalah peningkatan permeabilitas kapiler yang menyebabkan kebocoran plasma dari intravaskuler ke ruang interstisial (third spacing). Hal ini ditandai dengan peningkatan hematokrit (meningkat 25% dari baseline) yang menunjukkan hemokonsentrasi. Meskipun secara absolut pasien mungkin tidak "kekurangan" cairan total tubuh, terjadi kekurangan volume cairan pada kompartemen intravaskuler yang bersirkulasi. Ini berisiko menyebabkan syok hipovolemik (Dengue Shock Syndrome). Tujuan keperawatan pada fase kritis ini adalah mempertahankan keseimbangan cairan dengan memastikan cairan yang keluar dari pembuluh darah dapat dikompensasi oleh asupan atau terapi cairan yang adekuat, sekaligus mencegah overload cairan ketika fase kebocoran berakhir (fase resorpsi).
Kode SIKI: 0503.4.1 - 0503.4.8 (Rentang Intervensi Utama)
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mempertahankan keseimbangan cairan pada anak DBD meliputi: 1) Memantau status cairan (0503.4.1): Menghitung balance cairan secara ketat (intake dan output) setiap 4-8 jam, termasuk pengukuran urin, cairan infus, dan asupan oral. 2) Memantau tanda-tanda dehidrasi/hipovolemia (0503.4.2): Mengobservasi tanda vital (nadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit), pengisian kapiler yang melambat (>2 detik), kulit dingin dan lembap, serta oliguria. 3) Memantau tanda-tanda kelebihan cairan (0503.4.3): Sangat krusial saat memasuki fase resorpsi (biasanya setelah hari ke-6). Memantau adanya edema, paru-paru basah (rales), distensi vena jugularis, dan hepatomegali. 4) Memantau hasil laboratorium (0503.4.4): Hematokrit adalah parameter kunci. Peningkatan hematokrit yang progresif memerlukan pemberian cairan lebih agresif, sedangkan penurunan hematokrit yang tiba-tiba dapat mengindikasikan perdarahan. 5) Memberikan terapi cairan (0503.4.5): Melaksanakan program rehidrasi sesuai resep dokter, biasanya menggunakan cairan kristaloid (Ringer Laktat atau NaCl 0.9%) dengan kecepatan yang dititrasi berdasarkan kondisi klinis dan hematokrit. 6) Memfasilitasi pemberian cairan per oral (0503.4.6): Menganjurkan dan mendorong anak untuk minum cairan oral (air, oralit, jus) dalam jumlah kecil tapi sering, jika sadar dan mampu menelan, sebagai tambahan terapi intravena. 7) Memantau berat badan (0503.4.7): Penimbangan berat badan harian dapat menunjukkan perubahan status cairan secara akut. 8) Kolaborasi pemberian transfusi (0503.4.8): Jika terjadi syok refrakter, kolaborasi dalam pemberian cairan koloid atau transfusi darah mungkin diperlukan. Perawat mempersiapkan, memantau kecepatan tetes, dan mengawasi reaksi transfusi.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 0701
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal.
Kode SLKI: 0701.2
Deskripsi : Hipertermia teratasi. Penjelasan: Demam adalah gejala utama fase awal DBD. Meskipun pada hari ke-5 pasien mungkin sudah memasuki fase afebris (kritis), namun pengelolaan hipertermia tetap relevan jika demam masih ada atau muncul kembali, dan sebagai bagian dari edukasi. Demam tinggi dapat memperburuk kondisi dengan meningkatkan metabolisme basal, kehilangan cairan insensible (melalui keringat), dan menyebabkan ketidaknyamanan pada anak. Mengatasi hipertermia bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan, mengurangi risiko kejang demam (terutama pada anak dengan riwayat), dan membantu menstabilkan kondisi umum pasien.
Kode SIKI: 0701.2.1 - 0701.2.6 (Rentang Intervensi Utama)
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengatasi hipertermia pada anak DBD meliputi: 1) Memantau suhu tubuh (0701.2.1): Pengukuran suhu tubuh secara berkala (setiap 2-4 jam) menggunakan termometer yang tepat. 2) Memberikan terapi farmakologis (0701.2.2): Memberikan antipiretik sesuai resep dokter. Penting untuk menghindari obat yang mempengaruhi fungsi trombosit seperti aspirin dan NSAID (contoh: ibuprofen). Parasetamol adalah pilihan yang aman dengan dosis dan interval yang tepat. 3) Memberikan terapi non-farmakologis (0701.2.3): Melakukan kompres hangat (bukan dingin) di daerah lipatan (ketiak, selangkangan) dan dahi. Kompres dingin dapat menyebabkan menggigil yang justru meningkatkan produksi panas. Memakaikan pakaian yang tipis dan menyerap keringat. 4) Memenuhi kebutuhan cairan (0701.2.4): Meningkatkan asupan cairan untuk mengganti kehilangan cairan melalui penguapan saat demam dan mencegah dehidrasi. 5) Memantau tanda-tanda kejang (0701.2.5): Mengobservasi terutama pada anak dengan demam tinggi yang mendadak, untuk mendeteksi dini kejang demam. 6) Mengajarkan manajemen demam (0701.2.6): Memberikan edukasi kepada keluarga tentang cara mengukur suhu yang benar, pemberian obat penurun panas yang aman, teknik kompres, dan tanda-tanda bahaya yang harus dilaporkan.
-
Article No. 24760 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang pasien (40 th) dengan diare kronis selama 1 bulan. BB turun dari 60 kg menjadi 52 kg. Pasien tampak sangat lemas, otot-otot tampak mengecil (atropi), dan Hb 9 gr/dL.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: B.1.1.1
Deskripsi : Status nutrisi membaik. Ditandai dengan: 1) Asupan nutrisi sesuai dengan kebutuhan, 2) Berat badan meningkat atau stabil sesuai target, 3) Nilai laboratorium terkait nutrisi dalam batas normal, 4) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi (seperti kelemahan, atrofi otot, edema), 5) Pengetahuan klien dan keluarga tentang nutrisi yang adekuat meningkat.
Kode SIKI: B.1.1.1.1 - B.1.1.1.10
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengatasi gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh bersifat komprehensif dan meliputi: 1) **Pengkajian Nutrisi Komprehensif (B.1.1.1.1)**: Memantau dan mendokumentasikan asupan makanan dan cairan, berat badan, antropometri (seperti lingkar lengan atas), dan tanda klinis malnutrisi (atrofi otot, kelemahan, kulit kering). Pada kasus ini, penurunan BB 8 kg dalam 1 bulan dan atrofi otot adalah data kunci. 2) **Manajemen Nutrisi (B.1.1.1.2)**: Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori, protein, dan mikronutrien berdasarkan kondisi diare kronis dan anemia (Hb 9 gr/dL). Perencanaan melibatkan diet tinggi kalori-protein, mudah dicerna, rendah serat (awalnya), dan memperhatikan intoleransi. 3) **Manajemen Cairan (B.1.1.1.3)**: Memantau keseimbangan cairan dan elektrolit akibat diare kronis, mencegah dehidrasi yang memperparah kelemahan. 4) **Edukasi Nutrisi (B.1.1.1.4)**: Memberikan pendidikan pada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi, pilihan makanan yang tepat, teknik porsi kecil tapi sering, dan cara mengatasi mual atau ketidaknyamanan setelah makan. 5) **Perawatan Oral (B.1.1.1.5)**: Memastikan kebersihan mulut untuk meningkatkan nafsu makan. 6) **Manajemen Lingkungan (B.1.1.1.6)**: Menciptakan lingkungan makan yang nyaman, bebas bau tidak sedap, dan mendukung. 7) **Manajemen Kelelahan (B.1.1.1.7)**: Mengatur aktivitas dan istirahat untuk menghemat energi. Pasien yang sangat lemas perlu bantuan dalam aktivitas dan penyediaan makanan. 8) **Konsultasi dan Rujukan (B.1.1.1.9)**: Merujuk ke ahli gizi, dokter spesialis penyakit dalam atau gastroenterologi untuk tatalaksana medis penyebab diare kronis dan anemia. 9) **Pemantauan Laboratorium (B.1.1.1.10)**: Memantau nilai Hb, albumin, elektrolit, dan parameter lain untuk menilai respons terapi. Pendekatan ini bertujuan tidak hanya meningkatkan asupan, tetapi juga mengatasi penyebab (diare), mengelola komplikasi (anemia, kelelahan), dan memberdayakan pasien.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: C.1.4
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami ketidakcukupan energi fisik atau psikologis untuk memulai atau mempertahankan aktivitas hidup sehari-hari yang diperlukan.
Kode SLKI: C.1.4.1
Deskripsi : Toleransi aktivitas membaik. Ditandai dengan: 1) Klien dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan tanpa mengalami kelelahan berlebihan, 2) Tanda vital dalam batas normal selama dan setelah aktivitas, 3) Klien melaporkan peningkatan energi, 4) Kekuatan otot membaik, 5) Partisipasi klien dalam aktivitas hidup sehari-hari meningkat.
Kode SIKI: C.1.4.1.1 - C.1.4.1.8
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk intoleransi aktivitas fokus pada pengelolaan energi dan peningkatan kapasitas fungsional secara bertahap: 1) **Pengkajian Aktivitas/Istirahat (C.1.4.1.1)**: Memantau respons fisiologis (nadi, tekanan darah, pernapasan, saturasi O2) sebelum, selama, dan setelah aktivitas, serta tingkat kelelahan yang dilaporkan pasien. Kelemahan dan atrofi otot pada kasus ini menjadi pertimbangan utama. 2) **Manajemen Energi (C.1.4.1.2)**: Membantu pasien mengidentifikasi pola aktivitas yang menyebabkan kelelahan dan merencanakan jadwal aktivitas dan istirahat yang seimbang. Aktivitas disesuaikan dengan puncak energi, misalnya setelah makan. 3) **Bantuan Aktivitas Hidup Sehari-hari (C.1.4.1.3)**: Membantu pasien dalam aktivitas seperti mandi, berpakaian, atau ambulasi sesuai kebutuhan, untuk mencegah pemborosan energi dan risiko cedera. 4) **Latihan Rentang Gerak (C.1.4.1.4)**: Melakukan atau mendorong latihan pasif/aktif ringan untuk mempertahankan tonus otot dan mencegah kontraktur, dengan mempertimbangkan tingkat kelemahan. 5) **Manajemen Lingkungan (C.1.4.1.5)**: Menata lingkungan agar peralatan yang sering digunakan mudah dijangkau, mengurangi tuntutan energi untuk mobilitas. 6) **Edukasi Aktivitas/Istirahat (C.1.4.1.6)**: Mengajarkan pasien dan keluarga tentang teknik penghematan energi, pentingnya istirahat, dan tanda-tanda kelelahan yang harus diwaspadai. 7) **Terapi Okupasi (C.1.4.1.8)**: Berkolaborasi untuk melatih aktivitas fungsional yang aman dan efisien. Intervensi ini sangat terkait dengan diagnosa nutrisi, karena peningkatan asupan nutrisi akan menjadi fondasi untuk meningkatkan energi dan massa otot, sehingga toleransi aktivitas dapat membaik secara bertahap.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: A.2.1
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang berisiko meningkat untuk diserang oleh organisme patogen.
Kode SLKI: A.2.1.1
Deskripsi : Risiko infeksi tidak terjadi. Ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam batas normal, 2) Tidak ada tanda-tanda infeksi (seperti kemerahan, panas, bengkak, nyeri, drainase purulen), 3) Nilai laboratorium penanda infeksi dalam batas normal, 4) Klien dan keluarga memahami dan menerapkan perilaku pencegahan infeksi.
Kode SIKI: A.2.1.1.1 - A.2.1.1.10
Deskripsi : Intervensi keperawatan ditujukan untuk meminimalkan faktor risiko dan mempertahankan pertahanan tubuh: 1) **Pengendalian Infeksi (A.2.1.1.1)**: Menerapkan prinsip aseptik ketat dalam semua prosedur, termasuk cuci tangan yang efektif. 2) **Pengawasan Infeksi (A.2.1.1.2)**: Memantau tanda-tanda vital (terutama suhu) dan tanda klinis infeksi secara rutin. Pada pasien malnutrisi dan anemia, respons demam mungkin tidak optimal, sehingga pengamatan harus sangat cermat. 3) **Perawatan Luka (jika ada) (A.2.1.1.3)**: Menjaga integritas kulit, karena kulit yang kering dan rapuh akibat malnutrisi lebih rentan menjadi port de entri. 4) **Manajemen Nutrisi (A.2.1.1.4)**: Meningkatkan status nutrisi adalah intervensi kausal, karena malnutrisi (hipoalbuminemia, defisiensi mikronutrien) secara langsung menekan sistem imun. Asupan protein dan vitamin (seperti A, C, Zn) yang adekuat sangat penting. 5) **Perawatan Oral (A.2.1.1.6)**: Menjaga kebersihan mulut untuk mencegah infeksi oportunis. 6) **Edukasi Pengendalian Infeksi (A.2.1.1.7)**: Mengajarkan pasien dan keluarga tentang pentingnya cuci tangan, kebersihan perorangan, dan menghindari kerumunan orang yang sakit. 7) **Manajemen Lingkungan (A.2.1.1.8)**: Memastikan lingkungan bersih dan higienis. 8) **Pemantauan Laboratorium (A.2.1.1.10)**: Memantau leukosit dan LED sebagai penanda tidak langsung. Pada pasien ini, risiko infeksi meningkat secara signifikan akibat tiga faktor: a) **Malnutrisi berat** yang mengganggu produksi dan fungsi sel imun, b) **Anemia (Hb 9 gr/dL)** yang mengurangi kapasitas pengangkutan oksigen, mengganggu fungsi sel fagosit, dan c) **Kondisi penyakit dasar** yang menyebabkan diare kronis (misalnya, IBD, infeksi kronis) yang mungkin sudah mengganggu barier mukosa usus. Oleh karena itu, pencegahan infeksi adalah prioritas.
-
Article No. 24761 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang wanita (50 th) pasca operasi tiroidektomi. Pasien tampak gelisah, frekuensi napas 28x/menit, dan terdapat pembengkakan di area leher bekas operasi. Pasien mengeluh sesak dan suara terdengar stridor.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 00030
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Pertukaran gas. Tujuan utama adalah memulihkan dan mempertahankan pertukaran gas yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Indikator keberhasilannya meliputi: 1) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal yang diharapkan, 2) Irama pernapasan reguler, 3) Tidak ada dispnea atau sesak napas, 4) Tidak ada sianosis, 5) Nilai gas darah arteri dalam rentang normal (PaO2, PaCO2, pH, SpO2), 6) Suara napas bersih dan jelas di semua lapang paru, 7) Kesadaran compos mentis, dan 8) Tidak ada tanda-tanda distress pernapasan seperti penggunaan otot bantu napas, cuping hidung, atau retraksi.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan untuk memastikan patensi dan kebersihan jalan napas, serta memfasilitasi pertukaran gas yang optimal. Tindakan spesifik yang harus dilakukan meliputi: 1) Memonitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas) serta adanya suara napas abnormal seperti stridor, mengi, atau ronki. 2) Memonitor tanda-tanda klinis gangguan pertukaran gas seperti sianosis, gelisah, perubahan kesadaran. 3) Auskultasi suara napas secara berkala. 4) Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi). 5) Melakukan fisioterapi dada jika diperlukan. 6) Memberikan terapi oksigen sesuai program dan memonitor efektivitasnya. 7) Melakukan suction jalan napas atas atau bawah sesuai indikasi untuk membersihkan sekret. 8) Memonitor hasil analisa gas darah dan saturasi oksigen (SpO2). 9) Mempersiapkan alat bantu jalan napas (seperti kanula nasal, masker, atau peralatan intubasi) sesuai kebutuhan. 10) Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat bronkodilator atau lainnya. 11) Mendokumentasikan semua temuan dan tindakan yang dilakukan.
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Jalan Napas
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Risiko mengalami ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan, sehingga menghambat aliran udara.
Kode SLKI: 0402
Deskripsi : Pemeliharaan jalan napas. Tujuannya adalah mencegah terjadinya obstruksi jalan napas. Indikator keberhasilannya adalah: 1) Jalan napas tetap paten, 2) Suara napas bersih dan jelas, 3) Tidak ada akumulasi sekret yang berlebihan, 4) Kemampuan batuk efektif, 5) Tidak ada suara napas tambahan seperti stridor atau gurgling, dan 6) Saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal.
Kode SIKI: 3140
Deskripsi : Manajemen Aspirasi. Intervensi ini berfokus pada pencegahan masuknya sekret, benda asing, atau isi lambung ke dalam trakeobronkial. Tindakan yang dilakukan meliputi: 1) Mengidentifikasi pasien berisiko tinggi aspirasi (misalnya, penurunan refleks batuk, penurunan kesadaran). 2) Memposisikan pasien dengan kepala tempat tidur ditinggikan minimal 30 derajat, terutama setelah makan atau jika menggunakan selang makan. 3) Melakukan suction pada orofaring/nasofaring dengan teknik steril sesuai kebutuhan. 4) Memonitor adanya suara napas "gurgling". 5) Memastikan cuff tube endotrakeal/trakeostomi terinflasi dengan tekanan yang tepat. 6) Memberikan makan dengan hati-hati, pastikan pasien dalam posisi duduk tegak. 7) Memonitor tanda-tanda aspirasi seperti batuk mendadak, distress napas, atau sianosis. 8) Melakukan higiene oral secara teratur. 9) Mengajarkan dan mendorong pasien untuk batuk efektif dan napas dalam. 10) Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian diet dengan konsistensi yang aman.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00132
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tujuannya adalah mengurangi atau menghilangkan nyeri yang dirasakan pasien. Indikatornya meliputi: 1) Pasien melaporkan nyeri berkurang atau hilang (skala nyeri menurun), 2) Ekspresi wajah rileks, 3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal, 4) Pasien dapat beristirahat dan tidur dengan cukup, 5) Tidak ada perilaku yang menunjukkan nyeri (seperti merintih, melindungi area nyeri, gelisah), dan 6) Pasien mampu melakukan aktivitas sesuai toleransi.
Kode SIKI: 2250
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi ini mencakup tindakan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Langkah-langkahnya adalah: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, intensitas dengan skala, karakter, durasi, faktor pencetus dan pereda). 2) Memonitor tanda-tanda fisiologis dan perilaku nyeri (gelisah, takikardia, frekuensi napas meningkat). 3) Memberikan analgesik sesuai program dokter secara tepat waktu dan evaluasi efek serta efek sampingnya. 4) Mengajarkan dan menerapkan teknik non-farmakologis (seperti distraksi, relaksasi napas dalam, imajinasi terbimbing, kompres dingin pada area operasi jika diizinkan). 5) Memposisikan pasien dengan nyaman untuk mengurangi tegangan pada area leher. 6) Mengurangi rangsangan lingkungan yang dapat memperberat persepsi nyeri. 7) Memberikan informasi tentang prosedur yang dapat menimbulkan nyeri sebelum dilakukan. 8) Mendokumentasikan respons pasien terhadap intervensi yang diberikan.
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: 00146
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah yang samar atau tidak menyenangkan disertai respons otonom sebagai peringatan akan bahaya yang akan datang.
Kode SLKI: 1405
Deskripsi : Kontrol Ansietas. Tujuannya adalah mengurangi perasaan cemas dan gelisah. Indikator keberhasilannya adalah: 1) Pasien dapat mengidentifikasi penyebab ansietas, 2) Pasien melaporkan penurunan perasaan cemas, 3) Ekspresi wajah dan bahasa tubuh tampak lebih tenang, 4) Tanda-tanda vital stabil, 5) Pola tidur membaik, 6) Pasien mampu menggunakan strategi koping yang adaptif, dan 7) Tidak ada perilaku agitasi atau gelisah yang berlebihan.
Kode SIKI: 5820
Deskripsi : Pengurangan Ansietas. Intervensi ini bertujuan untuk meminimalkan rasa takut, cemas, dan kekhawatiran. Tindakan keperawatan yang dilakukan: 1) Mengkaji tingkat ansietas dan faktor penyebabnya (ketidaknyamanan fisik, ketidaktahuan tentang kondisi, takut sesak). 2) Berkomunikasi dengan suara tenang dan meyakinkan. 3) Memberikan informasi yang akurat dan mudah dipahami tentang prosedur, kondisi, dan kemajuan pasien. 4) Mendengarkan keluhan dan perasaan pasien dengan penuh perhatian (terapeutik communication). 5) Mengajarkan teknik relaksasi sederhana seperti napas dalam dan perlahan. 6) Meminimalkan rangsangan dari lingkungan yang tidak perlu. 7) Melibatkan keluarga untuk memberikan dukungan emosional. 8) Meningkatkan rasa nyaman pasien. 9) Memberikan obat ansiolitik sesuai kolaborasi jika diperlukan. 10) Mendokumentasikan respons emosional pasien.
-
Article No. 24762 | 31 Mar 2026
Klinis : . Seorang pasien (60 th) pasca stroke mengalami gangguan bicara. Pasien mengerti pembicaraan orang lain tetapi sulit mengeluarkan kata-kata atau bicara pelo (cedal).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Komunikasi Verbal
Kode SDKI: 00266
Deskripsi Singkat: Keadaan ketidakmampuan seseorang untuk menerima, memproses, mengirim, dan/atau menggunakan simbol-simbol sistem komunikasi, yang dapat berupa verbal (berbicara) dan/atau nonverbal.
Kode SLKI: 4401
Deskripsi : Komunikasi verbal efektif. Kriteria hasil: 1) Pasien mampu mengungkapkan kebutuhan, pikiran, dan perasaan dengan kata-kata yang dapat dipahami. 2) Pasien menggunakan kata-kata yang sesuai dengan konteks pembicaraan. 3) Pasien menunjukkan pemahaman terhadap pembicaraan orang lain dengan respons yang tepat. 4) Keluarga atau pengasuh melaporkan peningkatan kemampuan komunikasi pasien. 5) Pasien menggunakan alat bantu komunikasi (jika diperlukan) dengan efektif.
Kode SIKI: 4401A
Deskripsi : Fasilitasi komunikasi verbal. Intervensi keperawatan: 1) Kaji kemampuan komunikasi pasien, termasuk pemahaman (reseptif) dan ekspresi verbal, serta adanya afasia, disartria, atau apraksia bicara. 2) Identifikasi metode komunikasi yang dipahami dan dapat digunakan pasien (misal: menunjuk gambar, menulis, gerakan tubuh, alat elektronik). 3) Ciptakan lingkungan yang tenang dan minim gangguan untuk mendukung konsentrasi pasien dalam berkomunikasi. 4) Berbicara dengan jelas, perlahan, dan menggunakan kalimat pendek serta sederhana. 5) Gunakan pertanyaan yang jawabannya "ya/tidak" atau pilihan ganda untuk memudahkan respons pasien. 6) Berikan waktu yang cukup dan sabar untuk pasien merespons; jangan terburu-buru atau menyelesaikan kalimatnya. 7) Validasi dan konfirmasi pemahaman Anda terhadap pesan pasien (misal: "Apakah yang Bapak maksud adalah...?"). 8) Libatkan ahli terapi wicara untuk asesmen dan terapi lebih lanjut. 9) Ajarkan dan latih keluarga/caregiver untuk menggunakan teknik komunikasi yang efektif dengan pasien. 10) Sediakan alat bantu komunikasi sesuai kebutuhan dan kemampuan pasien (papan gambar, aplikasi tablet, dll.). 11) Anjurkan pasien untuk berlatih bicara atau menggunakan alat bantu secara rutin. 12) Berikan reinforcement positif atas setiap usaha dan keberhasilan komunikasi pasien. 13) Monitor tingkat frustrasi atau kecemasan pasien terkait kesulitan berkomunikasi dan intervensi sesuai kebutuhan.
-
Article No. 24763 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang pasien (50 th) dengan kanker paru stadium akhir mengeluh nyeri skala 8 yang menyebar ke seluruh tubuh. Pasien tampak meringis terus menerus dan tidak mampu melakukan aktivitas apapun secara mandiri karena nyerinya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan atau antisipasi berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Pasien mampu mengontrol nyeri dengan kriteria hasil: 1) Menyatakan nyeri berkurang atau hilang, 2) Menunjukkan ekspresi wajah rileks, 3) Dapat beristirahat, tidur, dan beraktivitas dengan tepat, 4) Menggunakan metode nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, 5) Mematuhi regimen pengobatan nyeri, 6) Melaporkan efek samping pengobatan, 7) Mengenali faktor pencetus nyeri.
Kode SIKI: 3520
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat kenyamanan yang dapat diterima pasien. Aktivitas keperawatan meliputi: 1) Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif secara rutin (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/ skala, faktor pencetus, dan tanda nyeri nonverbal). 2) Ajarkan penggunaan skala nyeri yang sesuai untuk melaporkan intensitas. 3) Berikan analgesik sesuai resep, evaluasi keefektifan dan efek samping, serta terapkan prinsip pemberian analgetik tepat waktu (misal: around the clock atau sebelum aktivitas yang menimbulkan nyeri). 4) Lakukan dan ajarkan metode nonfarmakologi (teknik distraksi, relaksasi napas dalam, imajinasi terbimbing, terapi musik, kompres hangat/dingin, masase, posisi yang nyaman). 5) Kurangi faktor pencetus nyeri dari lingkungan (misal: suara bising, cahaya terang). 6) Bantu pasien dalam aktivitas sehari-hari untuk menghemat energi dan mencegah kelelahan yang memperberat nyeri. 7) Berikan pendidikan kesehatan tentang rencana penatalaksanaan nyeri dan pentingnya melaporkan nyeri secara proaktif. 8) Kolaborasi dengan tim medis dan keluarga untuk optimasi terapi nyeri, termasuk terapi adjuvan jika diperlukan. 9) Dokumentasi respons nyeri terhadap intervensi yang diberikan.
-
Article No. 24764 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki (40 th) masuk RS dengan luka bakar derajat II pada seluruh area dada dan perut akibat ledakan tabung gas 2 jam yang lalu. Pasien mengeluh sangat haus, suara serak, terdapat bulu hidung yang terbakar, dan sputum berwarna hitam (jelaga).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan dan Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 00028
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular yang dapat mengancam jiwa. Kondisi pasien dengan luka bakar luas pada dada dan perut, sangat haus, serta tanda inhalasi asap (suara serak, bulu hidung terbakar, sputum hitam) sangat berisiko mengalami syok hipovolemik dan gangguan oksigenasi.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai. Intervensi keperawatan diarahkan untuk mempertahankan volume sirkulasi yang adekuat dan mencegah komplikasi. Perawat akan memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, frekuensi pernapasan) secara ketat, karena takikardia dan hipotensi adalah tanda awal syok. Pemantauan balance cairan (intake dan output) sangat kritis, termasuk pengukuran urin per jam untuk menilai perfusi ginjal (target >30-50 mL/jam pada dewasa). Pemberian cairan resusitasi sesuai protokol luka bakar (misalnya rumus Parkland) akan dilakukan melalui akses intravena yang adekuat. Perawat juga akan memantau warna, suhu, dan kelembaban kulit serta pengisian kapiler sebagai indikator perfusi perifer. Membatasi kehilangan cairan insensible dengan menutupi luka bakar dengan penutup steril dan lembab juga merupakan bagian dari intervensi. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya pembatasan cairan oral (jika ada instruksi NPO) dan alasan pemberian cairan infus juga dilakukan untuk mengurangi kecemasan dan meningkatkan kerjasama.
Kode SIKI: 3312
Deskripsi : Kriteria hasil yang diharapkan adalah tanda-tanda vital pasien dalam rentang normal (tekanan darah sistolik >90 mmHg, nadi 60-100x/menit, pernapasan 12-20x/menit). Keseimbangan cairan tercapai dengan perbandingan intake dan output yang seimbang dalam 24 jam. Produksi urin adekuat, yaitu minimal 0.5-1 mL/kgBB/jam (sekitar 30-50 mL/jam). Turgor kulit membaik, membran mukosa lembab, dan rasa haus berkurang. Tidak ada tanda-tanda kelebihan beban cairan seperti edema paru atau distensi vena jugularis. Elektrolit serum (natrium, kalium) dalam batas normal. Pasien menunjukkan pemahaman tentang pentingnya terapi cairan yang diberikan. Selain itu, terkait dengan risiko gangguan pertukaran gas, kriteria hasil tambahan meliputi saturasi oksigen (SpO2) >95%, tidak ada sianosis, bunyi napas bersih dan simetris, serta pasien tidak mengalami sesak napas atau kecemasan akibat hipoksia. Pasien dapat berpartisipasi dalam latihan napas dalam untuk mencegah atelektasis dan pneumonia.
Kondisi: Gangguan Integritas Kulit
Kode SDKI: 00048
Deskripsi Singkat: Gangguan pada epidermis dan/atau dermis. Pasien mengalami kerusakan kulit yang nyata berupa luka bakar derajat II pada area dada dan perut, yang menyebabkan hilangnya fungsi proteksi kulit, meningkatkan risiko infeksi, kehilangan cairan, dan gangguan regulasi suhu.
Kode SLKI: 1101
Deskripsi : Integritas kulit membaik. Perawat akan melakukan manajemen luka secara komprehensif. Dimulai dengan penilaian luka yang teliti: luas (menggunakan Rule of Nine), kedalaman (derajat II), lokasi, dan adanya tanda infeksi. Perawatan luka dilakukan dengan teknik aseptik ketat. Luka akan dibersihkan dengan larutan steril sesuai kebijakan rumah sakit (misalnya NaCl 0,9%). Debridemen jaringan nekrotik atau lepuhan yang pecah mungkin diperlukan. Selanjutnya, akan diaplikasikan dressing atau penutup luka yang sesuai untuk luka bakar derajat II, seperti dressing hidrokoloid, silver sulfadiazine, atau bahan modern lainnya yang mempertahankan lingkungan lembab, mencegah infeksi, dan memfasilitasi epitelisasi. Posisi pasien diatur untuk mengurangi tekanan dan gesekan pada area luka. Nutrisi dengan protein tinggi, vitamin C, dan zinc yang adekuat akan dikelola bersama tim gizi untuk mendukung penyembuhan jaringan. Manajemen nyeri sebelum dan selama perawatan luka sangat penting untuk kenyamanan pasien dan keberhasilan prosedur. Perawat juga akan memantau tanda-tanda infeksi lokal (seperti kemerahan yang meluas, bau busuk, pus, demam) dan sistemik. Edukasi kepada pasien tentang pentingnya tidak menggaruk luka dan melaporkan jika ada nyeri yang meningkat atau perubahan pada luka juga diberikan.
Kode SIKI: 1101
Deskripsi : Kriteria hasil yang diharapkan adalah luka menunjukkan tanda-tanda penyembuhan, yaitu berkurangnya kemerahan, edema, dan nyeri. Tidak ada tanda infeksi seperti pus, bau tidak sedap, atau demam. Terjadi pembentukan jaringan granulasi dan epitelisasi pada area luka bakar. Kulit di sekitar luka tetap utuh, tidak terjadi perluasan area luka. Pasien dan keluarga memahami dan dapat berpartisipasi dalam perawatan luka atau setidaknya mematuhi instruksi perawatan. Pasien melaporkan nyeri yang dapat terkontrol dengan analgesik yang diberikan. Asupan nutrisi pasien mencukupi untuk kebutuhan metabolik dan penyembuhan.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 00004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen. Hilangnya sawar kulit primer (kulit) akibat luka bakar luas, potensi cedera inhalasi yang merusak silia saluran napas, dan prosedur invasif (seperti pemasangan infus) membuat pasien sangat rentan terhadap infeksi lokal dan sistemik yang dapat berujung pada sepsis.
Kode SLKI: 1801
Deskripsi : Mencegah infeksi. Intervensi keperawatan berfokus pada pencegahan kontaminasi dan pengendalian infeksi. Tindakan pertama adalah penerapan kewaspadaan standar dan tambahan (aseptik ketat) selama semua kontak dengan pasien, terutama saat perawatan luka. Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak adalah hal mutlak. Perawat akan memastikan semua peralatan yang digunakan steril atau bersih. Lingkungan sekitar pasien dijaga kebersihannya. Pemantauan tanda-tanda vital (terutama suhu tubuh) dan kondisi luka dilakukan secara rutin untuk deteksi dini infeksi. Pemberian antibiotik profilaksis atau terapi sesuai instruksi dokter akan dilaksanakan tepat waktu. Perawat juga akan mempromosikan nutrisi optimal untuk meningkatkan sistem imun pasien. Pada kasus dengan kecurigaan inhalasi asap, fisioterapi dada dan latihan napas dalam diajarkan untuk mencegah infeksi paru seperti pneumonia. Membatasi pengunjung yang sakit dan menjaga kebersihan diri pasien (seperti perawatan mulut) juga termasuk dalam intervensi pencegahan ini.
Kode SIKI: 0701
Deskripsi : Kriteria hasil yang diharapkan adalah pasien bebas dari tanda dan gejala infeksi. Suhu tubuh tetap dalam rentang normal (36,5-37,5°C). Luka menunjukkan penyembuhan tanpa adanya tanda inflamasi yang berlebihan (seperti kemerahan, bengkak, panas, nyeri) di luar proses normal penyembuhan, serta tidak ada drainase purulen. Hasil laboratorium (seperti leukosit) dalam batas normal. Tidak ada tanda-tanda infeksi saluran pernapasan seperti batuk produktif dengan sputum purulen. Pasien dan keluarga memahami dan menerapkan tindakan pencegahan infeksi yang diajarkan, seperti menutup mulut saat batuk dan pentingnya kebersihan tangan.