Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24713 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki (65 th) dirawat dengan PPOK eksaserbasi akut. Pasien mengeluh sesak napas berat, sulit mengeluarkan dahak yang kental dan berwarna hijau. Hasil pemeriksaan: terdapat kontraksi otot bantu napas sternokleidomastoideus, pernapasan cuping hidung, suara napas wheezing di kedua lapang paru, dan frekuensi napas 30x/menit.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran oksigen dan/atau karbon dioksida antara alveoli dan sistem vaskular paru.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Pertukaran Gas. Tujuan utama dari SLKI ini adalah untuk mempertahankan atau mengembalikan pertukaran gas yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Pasien menunjukkan frekuensi napas dalam rentang normal sesuai usia (untuk pasien ini, targetnya adalah 16-20 kali/menit, bukan 30x/menit seperti kondisi saat ini). 2) Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan seperti penggunaan otot bantu napas (sternokleidomastoideus), napas cuping hidung, atau retraksi dinding dada. 3) Bunyi napas bersih (clear) di kedua lapang paru tanpa adanya wheezing, ronchi, atau suara tambahan lainnya. 4) Warna kulit dan membran mukosa normal (tidak sianosis). 5) Nilai gas darah arteri (jika tersedia) dalam rentang normal atau mendekati normal untuk pasien, termasuk pH, PaO2, PaCO2, dan saturasi O2. 6) Pasien melaporkan atau menunjukkan penurunan sesak napas (dispnea) dan mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa kelelahan pernapasan yang berlebihan. 7) Ekspansi dada simetris dan adekuat. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil dalam mengatasi gangguan pertukaran gas yang mendasari.
Kode SIKI: 3310
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi ini merupakan tindakan keperawatan untuk memastikan patensi jalan napas dan memperbaiki pertukaran gas. Penjelasan rinci implementasinya meliputi: 1) **Pemantauan**: Memonitor status pernapasan secara ketat dan terus-menerus, termasuk frekuensi, irama, kedalaman, upaya napas, dan penggunaan otot bantu. Mendengarkan suara napas secara berkala untuk mendeteksi perubahan seperti berkurang atau menghilangnya wheezing (yang bisa berarti perbaikan atau justru obstruksi total). Memantau tanda-tanda vital dan saturasi oksigen (SpO2) secara berkala. 2) **Posisi**: Menempatkan pasien pada posisi yang memudahkan pernapasan, seperti posisi duduk tinggi (Fowler tinggi) atau bersandar ke depan di atas meja (tripod position), untuk memaksimalkan ekspansi dada dan mengurangi kerja napas. 3) **Oksigenasi**: Memberikan terapi oksigen sesuai resep dokter (biasanya dengan nasal kanul atau masker venturi pada PPOK untuk menghindari depresi napas) dan memantau efektivitasnya. 4) **Manajemen Sekret**: Membantu pasien dalam membersihkan sekret dari jalan napas. Ini termasuk: a) **Latihan Batuk Efektif**: Mengajarkan dan mendorong pasien untuk melakukan batuk dalam terkontrol. b) **Fisioterapi Dada**: Melakukan perkusi, vibrasi, dan postural drainage (drainase postural) sesuai indikasi dan kondisi pasien, dengan hati-hati mengingat status distressnya. c) **Suction/ Pengisapan**: Melakukan pengisapan lendir (suction) secara steril jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekret sendiri dan terdapat tanda penumpukan sekret. 5) **Pemberian Obat**: Melakukan pemberian obat bronkodilator (seperti nebulizer dengan salbutamol/ipratropium) dan mukolitik sesuai program terapi dokter, serta memantau efek dan efek sampingnya. 6) **Edukasi dan Dukungan**: Mengajarkan teknik pernapasan bibir mengerucut (pursed-lip breathing) dan pernapasan diafragma untuk meningkatkan ventilasi dan mengurangi udara terperangkap. Memberikan dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperburuk sesak napas. 7) **Kolaborasi**: Berkolaborasi dengan tim medis untuk pemeriksaan penunjang seperti analisis gas darah, foto thorax, dan pemberian terapi antibiotik jika dicurigai infeksi (dahak hijau kental). 8) **Lingkungan**: Menjaga lingkungan yang nyaman, udara bersih, dan bebas dari iritan. Intervensi ini harus dilakukan secara komprehensif, dinamis berdasarkan respons pasien, dan terdokumentasi dengan baik.
-
Article No. 24714 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang laki-laki (40 th) masuk RS dengan luka bakar derajat II pada seluruh area dada dan perut akibat ledakan tabung gas 2 jam yang lalu. Pasien mengeluh sangat haus, suara serak, terdapat bulu hidung yang terbakar, dan sputum berwarna hitam (jelaga).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan dan Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0202
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular yang dapat mengancam jiwa. Kondisi ini sangat relevan pada pasien luka bakar akibat risiko kehilangan cairan masif melalui evaporasi dari area luka bakar yang luas (dada dan perut) dan respons sistemik (syok hipovolemik). Tanda klinis seperti rasa haus yang hebat mendukung diagnosis ini.
Kode SLKI: 2001
Deskripsi : Keseimbangan Cairan. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan keseimbangan cairan yang adekuat dengan kriteria hasil: tanda vital dalam rentang normal (terutama tekanan darah dan nadi), turgor kulit membaik, membran mukosa lembab, produksi urin adekuat (0.5-1 mL/kgBB/jam), dan tidak ada tanda syok lebih lanjut. Perawat akan memantau intake dan output cairan secara ketat, memberikan resusitasi cairan sesuai formula Parkland atau Baxter, memantau berat badan, dan mengevaluasi respons hemodinamik terhadap terapi cairan. Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda kelebihan cairan (overload) juga penting setelah fase resusitasi awal.
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Manajemen Cairan. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Memasang akses intravena dengan kateter besar dan menjamin patensinya untuk pemberian cairan cepat. 2) Memberikan resusitasi cairan kristaloid (seperti Ringer Laktat) sesuai protokol luka bakar dan respons pasien. 3) Memantau tanda vital (tekanan darah, nadi, frekuensi napas, suhu) secara berkala (setiap 15 menit hingga stabil). 4) Memasang kateter urin untuk mengukur produksi urin per jam sebagai indikator perfusi ginjal dan kecukupan cairan. 5) Memantau status neurologis (kesadaran) sebagai indikator perfusi serebral. 6) Menimbang berat badan untuk memperkirakan kehilangan cairan dan kebutuhan resusitasi. 7) Memantau elektrolit serum (Natrium, Kalium) dan hematokrit untuk menilai hemodilusi atau hemokonsentrasi. 8) Memberikan cairan per oral sesuai toleransi dan instruksi dokter setelah kondisi stabil.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0401
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler. Kondisi ini sangat mengancam jiwa pada pasien ini karena adanya tanda-tanda inhalasi asap dan luka bakar saluran napas: suara serak, bulu hidung terbakar, dan sputum berwarna hitam (jelaga). Ledakan tabung gas sering menyebabkan inhalasi material panas dan produk pembakaran yang dapat menyebabkan edema saluran napas, bronkokonstriksi, dan gangguan difusi gas.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Status Pernapasan: Pertukaran Gas. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan pertukaran gas yang optimal dengan kriteria hasil: saturasi oksigen (SpO2) > 95%, gas darah arteri dalam rentang normal (PaO2, PaCO2), pernapasan reguler dan tidak ada distress pernapasan, bunyi napas bersih di seluruh lapang paru, dan warna kulit normal (tidak sianosis). Perawat akan berusaha mencegah hipoksia jaringan dan gagal napas melalui pemantauan ketat dan intervensi dini.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Memantau status pernapasan secara ketat: frekuensi, irama, kedalaman, upaya napas, dan penggunaan otot bantu. 2) Memantau saturasi oksigen secara terus menerus dengan pulse oximetry. 3) Auskultasi bunyi napas setiap jam untuk mendeteksi mengi, ronki, atau penurunan bunyi napas yang mengindikasikan edema atau obstruksi. 4) Memberikan oksigen tambahan dengan kanul nasal atau masker non-rebreathing sesuai kebutuhan untuk mempertahankan SpO2 >95%. 5) Melakukan fisioterapi dada dan membantu pasien batuk efektif serta napas dalam untuk membersihkan sekret (jelaga). 6) Menganjurkan dan membantu perubahan posisi untuk memaksimalkan ekspansi paru. 7) Mempersiapkan alat untuk intubasi endotrakeal dan ventilasi mekanik karena risiko edema jalan napas yang dapat terjadi secara cepat dalam 24-48 jam pasca inhalasi. 8) Kolaborasi untuk pemeriksaan gas darah arteri (AGD) dan bronkoskopi untuk menilai kerusakan saluran napas. 9) Memastikan lingkungan yang nyaman dan mengurangi kecemasan yang dapat meningkatkan konsumsi oksigen.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0711
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan. Luka bakar derajat II sangat nyeri karena ujung saraf nociceptor yang terpapar akibat kerusakan epidermis dan dermis. Nyeri dapat diperberat oleh perawatan luka dan perubahan posisi.
Kode SLKI: 0711
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tujuan keperawatan adalah mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien dengan kriteria hasil: skala nyeri menurun (misal, dari skala 8 ke ≤3), ekspresi wajah rileks, pasien dapat beristirahat dan tidur, serta kooperatif selama prosedur perawatan. Penggunaan skala nyeri yang valid (seperti Numeric Rating Scale) sangat penting untuk evaluasi.
Kode SIKI: 1410
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Menilai karakteristik nyeri (lokasi, intensitas, kualitas, faktor pencetus dan pereda) secara berkala menggunakan skala yang sesuai. 2) Memberikan analgesik sesuai program dokter (baik opioid seperti morfin atau non-opioid) secara tepat waktu, terutama sebelum perawatan luka. 3) Menggunakan teknik non-farmakologis seperti distraksi, relaksasi napas dalam, dan penciptaan lingkungan yang tenang. 4) Memposisikan pasien dengan nyaman, menggunakan penyangga untuk area luka. 5) Melakukan perawatan luka dengan teknik yang tepat dan lembut untuk meminimalkan trauma dan nyeri. 6) Memberikan edukasi kepada pasien tentang rencana manajemen nyeri dan pentingnya melaporkan nyeri. 7) Memantau efek samping analgesik, terutama depresi pernapasan, mengingat adanya risiko gangguan pertukaran gas.
-
Article No. 24715 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang wanita (35 th) mengeluh cepat lelah saat melakukan aktivitas rumah tangga ringan. Pasien tampak pucat, hasil Hb 7,5 gr/dL, dan sering merasa pusing serta jantung berdebar-debar saat berdiri dari posisi duduk.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: B.1
Deskripsi Singkat: Intoleransi aktivitas adalah keadaan di mana seseorang mengalami ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan. Pada kasus ini, kondisi ini secara langsung terkait dengan anemia (Hb 7,5 gr/dL) yang menyebabkan penurunan kapasitas pengangkutan oksigen oleh darah. Pasien mengalami gejala cepat lelah, pusing, dan jantung berdebar (palpitasi) saat melakukan aktivitas ringan atau perubahan posisi, yang merupakan tanda klasik dari ketidakmampuan sistem kardiovaskuler dan pernapasan untuk memenuhi peningkatan kebutuhan oksigen selama aktivitas. Defisit energi ini memengaruhi kemampuan fungsional pasien dalam memenuhi peran domestiknya.
Kode SLKI: 0201
Deskripsi : SLKI 0201 berfokus pada Peningkatan Toleransi Aktivitas. Tujuan keperawatan adalah agar pasien dapat menunjukkan peningkatan kemampuan dalam melakukan aktivitas dengan tanda-tanda vital dalam rentang yang diharapkan, tidak mengalami kelelahan yang berlebihan, dan dapat mengidentifikasi faktor yang memengaruhi toleransi aktivitas. Secara spesifik, luaran yang diharapkan meliputi: (1) Pasien dapat mengidentifikasi faktor penyebab kelelahan (misalnya, anemia). (2) Pasien dapat mempraktikkan teknik penghematan energi, seperti duduk saat melakukan pekerjaan rumah, mengambil istirahat yang cukup di antara aktivitas, dan memprioritaskan aktivitas yang penting. (3) Pasien melaporkan penurunan keluhan lelah, pusing, dan jantung berdebar selama dan setelah aktivitas. (4) Tanda-tanda vital (denyut nadi, pernapasan, tekanan darah) sebelum, selama, dan setelah aktivitas tetap stabil dan dalam batas normal yang dapat ditoleransi. (5) Pasien menunjukkan peningkatan bertahap dalam durasi dan intensitas aktivitas yang dapat dilakukan, seperti mampu menyelesaikan pekerjaan rumah tangga ringan tanpa distress yang signifikan. (6) Nilai laboratorium (terutama hemoglobin) menunjukkan tren peningkatan menuju nilai normal. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil meningkatkan kapasitas fungsional pasien.
Kode SIKI: 0610
Deskripsi : SIKI 0610 adalah Manajemen Energi, yang merupakan serangkaian tindakan keperawatan untuk mengatur energi agar tercapai keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. Intervensi ini sangat relevan karena pasien mengalami defisit energi akibat anemia. Tindakan spesifik meliputi: (1) Pengkajian menyeluruh terhadap pola aktivitas dan istirahat pasien, termasuk jenis, durasi, dan intensitas aktivitas yang memicu kelelahan, serta kebiasaan tidur. (2) Memonitor tanda-tanda vital sebelum, selama, dan setelah aktivitas untuk mengidentifikasi respons fisiologis terhadap stres aktivitas. (3) Mengajarkan dan mendorong pasien untuk menggunakan teknik penghematan energi, seperti duduk saat bekerja, mengatur peralatan agar mudah dijangkau, mengganti aktivitas berat dengan yang ringan, dan menyelingi aktivitas dengan periode istirahat. (4) Kolaborasi dengan tim medis untuk penanganan penyebab intoleransi aktivitas (anemia), seperti pemberian suplementasi zat besi, transfusi darah jika diperlukan, dan manajemen nutrisi. (5) Membantu pasien dan keluarga dalam menyusun jadwal aktivitas harian yang realistis, dengan menyeimbangkan antara kerja, istirahat, dan rekreasi. (6) Memberikan pendidikan kesehatan mengenai pentingnya kepatuhan terhadap terapi medis untuk meningkatkan kadar hemoglobin dan hubungannya dengan peningkatan energi. (7) Mendorong aktivitas ringan yang progresif sesuai toleransi untuk mencegah deconditioning (penurunan kondisi fisik) dan meningkatkan kekuatan otot serta daya tahan kardiovaskuler secara bertahap. (8) Menciptakan lingkungan yang aman untuk mencegah cedera akibat pusing atau sinkop (misalnya, menghindari perubahan posisi tiba-tiba, menggunakan pegangan). (9) Memberikan dukungan emosional dan motivasi karena kelelahan kronis dapat menyebabkan frustrasi dan penurunan mood. Dengan implementasi SIKI 0610 secara komprehensif, diharapkan pasien dapat mengelola energinya dengan lebih efektif, mengurangi gejala, dan secara bertahap meningkatkan kapasitas aktivitasnya menuju tingkat yang diinginkan.
-
Article No. 24716 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi Saluran Kemih (ISK) dan Nyeri Akut terkait pemasangan kateter urin jangka panjang dan infeksi
Kode SDKI: 0206
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami invasi dan multiplikasi patogen yang dapat menimbulkan respons penyakit.
Kode SLKI: 2006
Deskripsi : SLKI 2006: Manajemen Infeksi. Tujuan akhirnya adalah agar infeksi dapat dicegah atau dikendalikan. Indikator hasil yang relevan untuk kasus ini meliputi: (1) Tanda-tanda infeksi tidak ada (seperti suhu tubuh dalam rentang normal, tidak ada kemerahan, edema, nyeri, atau drainase purulen di area pemasangan kateter, serta urine jernih dan tidak berbau). (2) Hasil laboratorium dalam batas normal (seperti leukosit dan kultur urine negatif). (3) Melaporkan pemahaman tentang pencegahan infeksi. (4) Melakukan perilaku untuk mencegah infeksi (seperti menjaga kebersihan area kateter dan meningkatkan asupan cairan jika diizinkan). Pada pasien ini, tujuan SLKI adalah mengendalikan infeksi yang sudah terjadi, ditandai dengan demam, urine keruh, dan hematuria, sehingga kriteria "tanda-tanda infeksi tidak ada" menjadi target perawatan.
Kode SIKI: 4400
Deskripsi : SIKI 4400: Manajemen Infeksi. Intervensi keperawatan spesifik yang harus dilakukan meliputi: (1) **Memantau tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal secara berkala**, seperti suhu tubuh (pada kasus ini 38,8°C), menggigil, malaise, serta karakteristik urine (keruh, hematuria, bau). (2) **Melakukan teknik aseptik yang ketat selama perawatan kateter dan area pemasangannya**, termasuk mencuci tangan sebelum dan sesudah manipulasi, menjaga sistem drainase tertutup, dan menjaga kantong urine di bawah kandung kemih. (3) **Memberikan perawatan kulit dan membran mukosa pada area pemasangan kateter** untuk mencegah iritasi dan portal masuk kuman. (4) **Mendorong asupan cairan yang adekuat sesuai toleransi** (jika tidak ada kontraindikasi) untuk membantu membilas saluran kemih. (5) **Mengambil sampel urine untuk pemeriksaan kultur dan sensitivitas** guna identifikasi patogen dan terapi antibiotik yang tepat. (6) **Mengadministrasikan obat antipiretik dan antibiotik sesuai resep** dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. (7) **Mengajarkan pada pasien/keluarga tanda-tanda infeksi dan pentingnya kebersihan** untuk mencegah kekambuhan. (8) **Pertimbangkan konsultasi untuk evaluasi kebutuhan kateter jangka panjang** karena pemasangan lebih dari 2 minggu meningkatkan risiko ISK signifikan.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0719
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0719
Deskripsi : SLKI 0719: Kontrol Nyeri. Tujuannya adalah agar nyeri dapat dikendalikan. Indikator hasil yang harus dicapai meliputi: (1) Melaporkan nyeri terkontrol (skala nyeri menurun sesuai yang ditetapkan). (2) Menunjukkan perilaku nyeri terkontrol (seperti ekspresi wajah rileks, mampu istirahat/tidur, dan tidak gelisah). (3) Mengetahui faktor penyebab nyeri. (4) Melakukan metode nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri. Pada pasien lansia ini, keluhan nyeri suprapubik merupakan gejala kunci dari infeksi kandung kemih (sistitis) dan iritasi akibat kateter. Pengendalian nyeri ini penting untuk meningkatkan kenyamanan dan partisipasi pasien dalam proses penyembuhan.
Kode SIKI: 0840
Deskripsi : SIKI 0840: Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan yang harus dilaksanakan adalah: (1) **Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif** termasuk P (provokasi), Q (kualitas), R (region/penyebaran), S (skala, gunakan skala yang sesuai lansia), T (waktu), serta observasi perilaku nonverbal (raut wajah, postur tubuh, gelisah). (2) **Berikan analgetik sesuai resep** (biasanya analgetik non-opioid atau opioid ringan dengan pertimbangan fungsi ginjal pada lansia) dan evaluasi efektivitasnya. (3) **Lakukan intervensi nonfarmakologi** seperti teknik distraksi, relaksasi napas dalam, atau penempatan posisi yang nyaman. (4) **Berikan penjelasan tentang penyebab nyeri** (infeksi dan iritasi kateter) dan rencana penanganannya untuk mengurangi kecemasan. (5) **Lakukan perawatan kateter dengan lembut** untuk meminimalkan tarikan dan iritasi mekanis pada uretra dan kandung kemih. (6) **Lakukan kompres hangat di area suprapubik jika diizinkan** untuk mengurangi spasme otot dan memberikan rasa nyaman. (7) **Monitor dan catat respons pasien terhadap intervensi nyeri yang diberikan**.
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urine
Kode SDKI: 0302
Deskripsi Singkat: Gangguan Eliminasi Urine adalah keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami gangguan dalam proses pengosongan kandung kemih.
Kode SLKI: 0302
Deskripsi : SLKI 0302: Eliminasi Urine. Tujuannya adalah agar eliminasi urine dapat dipenuhi. Indikator hasilnya mencakup: (1) Haluaran urine sesuai kebutuhan. (2) Tidak ada retensi urine. (3) Tidak ada inkontinensia urine. (4) Tidak ada keluhan ketidaknyamanan saat eliminasi urine. Pada pasien ini, gangguan eliminasi urine telah diatasi sementara dengan kateterisasi karena retensi, namun muncul masalah baru berupa infeksi dan hematuria. Target SLKI adalah memastikan drainase urine yang adekuat melalui kateter yang paten, urine kembali jernih, dan tidak ada retensi setelah kateter dilepas nanti.
Kode SIKI: 0610
Deskripsi : SIKI 0610: Manajemen Eliminasi Urine. Intervensi keperawatan yang dilakukan: (1) **Mempertahankan sistem kateter urine yang paten dan tertutup**, memastikan tidak ada lekukan atau sumbatan pada selang, dan mengosongkan kantong urine secara teratur. (2) **Memantau dan mencatat karakteristik urine (jumlah, warna, kejernihan, bau)** setiap shift. Pada kasus ini, pemantauan ketat terhadap perubahan keruh dan hematuria sangat penting untuk menilai respons terapi. (3) **Mendorong asupan cairan minimal 1500-2000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi** untuk membantu membilas sistem saluran kemih. (4) **Melakukan perawatan meatus uretra dengan teknik aseptik** sesuai protokol untuk mencegah infeksi berulang. (5) **Mengevaluasi indikasi pemasangan kateter terus-menerus dan berkolaborasi untuk penghentian sesegera mungkin** guna mengurangi risiko infeksi. (6) **Setelah kateter dilepas, monitor kemampuan berkemih spontan** termasuk ada tidaknya retensi atau gejala ISK kembali.
-
Article No. 24717 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang lansia (80 th) terpasang kateter urin selama 2 minggu karena retensi urin. Saat ini urine di bag tampak keruh dan mengandung darah (hematuria). Pasien mengeluh nyeri di area suprapubik dan suhu tubuh 38,8°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Infeksi Saluran Kemih (ISK) terkait pemasangan kateter urin
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Pengendalian Infeksi
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Manajemen Perawatan Kateter
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Infeksi (Kode 0003)
Definisi SDKI 0003: "Risiko meningkatnya kerentanan terhadap invasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan." Pada kasus ini, kondisi pasien lansia 80 tahun dengan kateter urin yang terpasang selama 2 minggu, disertai gejala urine keruh, hematuria, nyeri suprapubik, dan demam (38,8°C), secara klinis telah berkembang dari "risiko" menjadi "infeksi aktual". Namun, dalam konteks diagnosa keperawatan, fokusnya adalah pada respons manusia terhadap kondisi kesehatan. Infeksi Saluran Kemih (ISK) yang terjadi merupakan komplikasi dari faktor risiko utama, yaitu pemasangan kateter urin jangka panjang. Kateter bertindak sebagai benda asing yang memudahkan migrasi bakteri ke dalam kandung kemih, melanggar mekanisme pertahanan alami tubuh. Faktor usia (lansia) juga meningkatkan risiko karena penurunan fungsi imun, kemungkinan adanya pembesaran prostat (jika pasien laki-laki), dan penurunan aktivitas. Diagnosa ini menekankan pada kerentanan pasien terhadap infeksi yang sedang berlangsung dan potensi komplikasi lebih lanjut seperti pielonefritis atau sepsis, yang memerlukan intervensi keperawatan segera untuk mengontrol dan mencegah penyebaran.
Luaran Keperawatan (SLKI): Pengendalian Infeksi (Kode 1901)
Definisi SLKI 1901: "Tindakan untuk mencegah atau mengurangi risiko penyebaran infeksi." Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah infeksi dapat dikendalikan dan diselesaikan. Kriteria luaran yang spesifik pada pasien ini meliputi: (1) Kemampuan mengidentifikasi tanda dan gejala infeksi – meskipun pasien lansia, keluarga atau pengasuh dapat mengenali gejala memburuk; (2) Suhu tubuh kembali dalam rentang normal (36,5 – 37,5°C); (3) Gejala ISK berkurang atau hilang – urine kembali jernih, tidak ada darah, nyeri suprapubik hilang; (4) Tidak ada penyebaran infeksi ke ginjal (ditandai tidak ada nyeri pinggang, demam tinggi menggigil) atau ke aliran darah; (5) Mempertahankan teknik aseptik dalam perawatan kateter dan luka. SLKI ini menjadi tujuan yang terukur dari asuhan keperawatan yang diberikan, dimana keberhasilannya dinilai dari perbaikan tanda-tanda klinis dan laboratorium (misalnya, hasil kultur urine yang negatif setelah terapi).
Intervensi Keperawatan (SIKI): Manajemen Perawatan Kateter (Kode 4410)
Definisi SIKI 4410: "Pengelolaan kateter urin sementara dan pemantauan fungsi saluran kemih bagian bawah." Intervensi ini adalah tindakan inti untuk menangani penyebab dan mengatasi masalah pasien. Aktivitas keperawatan spesifik yang harus dilakukan meliputi: (1) Pemantauan ketat: Memonitor warna, kejernihan, bau, dan jumlah urine setiap shift; mengobservasi tanda-tanda sistemik infeksi seperti demam; menilai tingkat nyeri. (2) Perawatan kateter aseptik: Membersihkan daerah meatus uretra dan selang kateter dengan teknik yang benar dan antiseptik sesuai protokol, menjaga sistem drainase tertutup dan tidak tergantung, serta memastikan tidak ada tarikan pada kateter. (3) Peningkatan eliminasi: Mendorong asupan cairan yang adekuat (jika tidak terkontraindikasi) untuk melancarkan aliran urine dan "membilas" kandung kemih secara mekanis. (4) Kolaborasi: Berkoordinasi dengan dokter untuk pemeriksaan kultur dan sensitivitas urine guna identifikasi bakteri dan antibiotik yang tepat, serta pemberian terapi antibiotik sesuai resep. (5) Edukasi: Memberikan penjelasan kepada pasien/keluarga tentang pentingnya kebersihan, tanda-tanda infeksi, dan menghindari manipulasi pada kateter. (6) Pertimbangan penghentian: Mengevaluasi kebutuhan terus-menerus pemasangan kateter dan mendiskusikan kemungkinan penghentian segera jika sudah tidak diperlukan untuk mencegah ISK berulang. Intervensi ini bersifat komprehensif, menggabungkan tindakan teknis, pemantauan, edukasi, dan kolaborasi untuk mencapai luaran pengendalian infeksi.
Ketiga komponen ini (SDKI, SLKI, SIKI) saling berhubungan secara logis. SDKI 0003 (Risiko Infeksi) mendiagnosis respons pasien terhadap ancaman kesehatan. SLKI 1901 (Pengendalian Infeksi) menetapkan tujuan yang ingin dicapai dari asuhan keperawatan. Sementara itu, SIKI 4410 (Manajemen Perawatan Kateter) merupakan serangkaian tindakan spesifik yang dilakukan perawat untuk memodifikasi faktor risiko (kateter) dan menangani infeksi yang terjadi, sehingga luaran (SLKI) dapat tercapai dan diagnosa (SDKI) dapat teratasi atau terkontrol. Pendekatan ini memastikan asuhan keperawatan yang terstandar, terarah, dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
-
Article No. 24718 | 31 Mar 2026
Klinis : Badan lemes, bicara ngelantur kadang sesak & berak cair 1 mggu yll.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perubahan Proses Pikir
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Gangguan dalam operasi mental seperti penalaran, pemecahan masalah, penilaian, dan pemahaman.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Pasien menunjukkan proses pikir yang logis dan terorganisir. Kriteria hasil ini diukur dari kemampuan pasien untuk berbicara koheren dan relevan, mengenali realitas, menunjukkan memori yang utuh, memiliki persepsi yang akurat, serta menunjukkan kemampuan penalaran dan pemecahan masalah yang sesuai. Dalam konteks pasien dengan bicara ngelantur, tujuan keperawatan adalah mengembalikan fungsi kognitif ini ke tingkat optimal, memastikan komunikasi pasien menjadi jelas, terarah, dan sesuai dengan kenyataan.
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Intervensi ini berfokus pada memantau dan meningkatkan fungsi kognitif pasien. Perawat akan melakukan observasi terus-menerus terhadap pola pikir, bicara, dan persepsi pasien. Intervensi mencakup pendekatan komunikasi yang jelas dan sederhana, mengorientasikan pasien terhadap realitas (orang, tempat, waktu), dan memberikan validasi terhadap perasaan pasien tanpa mendukung halusinasi atau delusi. Perawat juga akan menciptakan lingkungan yang aman dan tenang untuk mengurangi stimulasi yang dapat memperburuk kebingungan, serta melibatkan keluarga dalam proses orientasi. Dokumentasi yang akurat tentang perubahan dalam proses pikir sangat penting untuk mengevaluasi perkembangan dan respons terhadap terapi.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: 0301
Deskripsi : Pasien menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas yang sesuai dengan kemampuan fisiologisnya. Kriteria hasil meliputi kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas tanpa melaporkan kelemahan (lemes) atau sesak napas yang berlebihan, tanda-tanda vital dalam rentang yang dapat diterima selama dan setelah aktivitas, serta kemampuan untuk memenuhi kebutuhan perawatan diri secara bertahap. Tujuannya adalah memulihkan energi pasien sehingga dapat beraktivitas secara mandiri tanpa mengalami kelelahan yang memberatkan atau distress pernapasan.
Kode SIKI: 0200
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mengelola energi dan meningkatkan toleransi aktivitas. Perawat akan mengajarkan teknik penghematan energi, seperti istirahat sebelum merasa lelah, duduk saat melakukan aktivitas, dan membagi tugas menjadi bagian-bagian kecil. Perencanaan aktivitas disusun bersama pasien, memprioritaskan aktivitas penting, dan menyelingi dengan periode istirahat yang cukup. Memantau respons pasien terhadap aktivitas (denyut nadi, pernapasan, tekanan darah, dan kelelahan) adalah hal mendasar. Perawat juga akan memastikan nutrisi dan hidrasi yang adekuat untuk mendukung produksi energi, serta mengatasi penyebab dasar kelemahan, seperti diare yang berkepanjangan.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0402
Deskripsi : Pasien mempertahankan jalan napas yang paten. Kriteria hasil dinilai dari bunyi napas yang bersih, tidak ada sianosis, frekuensi dan irama pernapasan dalam rentang normal, serta kemampuan untuk mengeluarkan sekresi secara efektif. Pada pasien yang kadang sesak, tujuan utamanya adalah memastikan pertukaran udara yang optimal dan mencegah komplikasi hipoksia.
Kode SIKI: 3140
Deskripsi : Intervensi untuk mempertahankan jalan napas yang paten dan meningkatkan pertukaran gas. Perawat akan memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler), melakukan fisioterapi dada jika diperlukan, dan mendorong batuk efektif serta hidrasi yang cukup untuk mengencerkan sekret. Suctioning dilakukan jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekresi sendiri. Memantau saturasi oksigen, karakteristik sputum, dan bunyi napas secara berkala adalah tindakan kritis. Pemberian oksigen tambahan sesuai instruksi juga merupakan bagian dari intervensi ini untuk mengatasi sesak.
Kondisi: Diare
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Pengeluaran feses yang cair atau tidak berbentuk dengan frekuensi lebih dari tiga kali per hari.
Kode SLKI: 0501
Deskripsi : Pasien mencapai eliminasi feses yang normal. Kriteria hasil mencakup konsistensi feses yang normal, frekuensi defekasi sesuai pola biasa pasien, tidak ada rasa urgensi atau ketidaknyamanan abdominal, serta tanda-tanda dehidrasi tidak ada. Mengingat pasien berak cair selama 1 minggu yang lalu, tujuan keperawatannya adalah memulihkan keseimbangan cairan dan elektrolit serta fungsi usus yang normal.
Kode SIKI: 0450
Deskripsi : Intervensi untuk mengelola diare dan mencegah dehidrasi. Perawat akan memantau frekuensi, volume, dan karakteristik feses, serta tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, output urin). Rehidrasi oral dengan cairan elektrolit menjadi prioritas. Modifikasi diet, seperti memberikan makanan hambar (contoh: pisang, nasi, roti panggang) dan menghindari makanan yang merangsang, diterapkan. Kebersihan area perianal dijaga untuk mencegah iritasi kulit. Penting juga untuk mengidentifikasi dan mengatasi penyebab diare, apakah infeksi, malabsorpsi, atau faktor lain, melalui kolaborasi dengan tim medis untuk pemeriksaan dan terapi lebih lanjut. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penanganan diare di rumah juga diberikan.
-
Article No. 24719 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang ibu (24 th) mengeluh bayinya yang berusia 4 bulan sering muntah lewat hidung dan mulut setelah menyusu. Ibu tampak bingung dan mengatakan tidak tahu cara menyendawakan bayi yang benar.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Aspirasi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko masuknya sekret, cairan, atau benda asing ke dalam trakea dan paru-paru.
Kode SLKI: 0410
Deskripsi : Aspirasi dicegah. Kriteria Hasil: 1. Tidak ada tanda-tanda aspirasi (batuk, tersedak, sianosis, suara napas tambahan). 2. Saluran napas tetap paten. 3. Orang tua/anak mampu mendemonstrasikan teknik pemberian makan/minum yang aman. 4. Orang tua/anak mampu mendemonstrasikan penanganan tersedak.
Kode SIKI: 0410
Deskripsi : Manajemen Aspirasi. Tindakan Keperawatan: 1. Monitor status pernapasan: frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas. 2. Monitor tanda dan gejala aspirasi: batuk mendadak, tersedak, sianosis, mengi (wheezing), crackles, distress pernapasan. 3. Posisikan bayi dengan kepala dan badan lebih tinggi selama dan setelah menyusu (posisi semi-Fowler atau tegak di pangkuan). 4. Ajarkan dan bantu ibu untuk menyendawakan bayi dengan benar setelah menyusu: dengan menepuk-nepuk lembut punggung bayi dalam posisi tegak bersandar di bahu ibu atau duduk di pangkuan dengan badan condong ke depan disangga tangan ibu. 5. Anjurkan ibu untuk tidak membaringkan bayi segera setelah menyusu. Pertahankan posisi tegak/setengah duduk minimal 20-30 menit setelah makan. 6. Ajarkan ibu untuk mengenali tanda bahaya aspirasi seperti batuk, tersedak, warna kulit kebiruan, dan kesulitan bernapas. 7. Anjurkan pemberian ASI/susu dengan porsi sedikit tetapi lebih sering jika bayi cenderung muntah. 8. Pastikan dot botol (jika menggunakan) memiliki lubang yang sesuai, tidak terlalu besar sehingga aliran susu tidak deras. 9. Lakukan penghisapan lendir dari mulut dan hidung jika diperlukan untuk menjaga jalan napas paten. 10. Berikan edukasi kepada orang tua tentang teknik pemberian makan yang aman dan pencegahan aspirasi di rumah.
-
Article No. 24720 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang pasien (30 th) dengan luka tusuk di dada kanan. Tampak sesak napas berat, deviasi trakea ke arah kiri, dan suara perkusi hipersonor di dada kanan. Terdapat tarikan dinding dada yang dalam.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit (Tension Pneumothorax)
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas adalah keadaan ketika seseorang mengalami atau berisiko mengalami penurunan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada kasus ini, kondisi pasien (luka tusuk dada dengan tanda-tanda tension pneumothorax) secara langsung mengancam pertukaran gas. Paru yang kolaps dan mediastinum yang bergeser mengurangi luas permukaan alveoli untuk pertukaran gas, menyebabkan hipoksia berat. Selain itu, tekanan intrapleural yang positif dapat menekan pembuluh darah besar, mengurangi venous return dan curah jantung, yang selanjutnya memperburuk pengiriman oksigen ke jaringan. Diagnosa ini menjadi fokus utama karena manifestasi klinis sesak napas berat dan deviasi trakea merupakan ancaman langsung terhadap kehidupan yang memerlukan intervensi segera.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : SLKI 0601 adalah Pemulihan Pertukaran Gas. Tujuan dari kriteria hasil ini adalah untuk mengembalikan status pertukaran gas ke rentang yang diharapkan. Indikator yang harus dicapai meliputi: 1) Pernapasan kembali efektif dengan frekuensi dalam rentang normal dan irama teratur, tanpa penggunaan otot bantu napas yang berlebihan dan tanpa deviasi trakea. 2) Bunyi napas yang jelas dan simetris di kedua lapang paru. 3) Nilai gas darah arteri (jika tersedia) dalam batas normal, khususnya saturasi oksigen (SpO2 > 94%) dan tekanan parsial oksigen (PaO2). 4) Warna kulit dan membran mukosa kembali normal (tidak sianosis). 5) Tingkat kesadaran yang baik (compos mentis) dan tidak gelisah akibat hipoksia. Pada kasus tension pneumothorax, pencapaian SLKI ini sangat bergantung pada intervensi darurat untuk mendekompresi rongga pleura (seperti pemasangan jarum atau WSD) sehingga paru dapat kembali mengembang dan pertukaran gas dapat pulih.
Kode SIKI: 0601
Deskripsi : SIKI 0601 adalah Manajemen Jalan Napas. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan untuk memastikan patensi jalan napas dan mendukung ventilasi serta oksigenasi yang adekuat. Pada pasien dengan tension pneumothorax, tindakan spesifik meliputi: 1) Segera membuka dan mempertahankan jalan napas dengan posisi yang tepat (biasanya setengah duduk jika sadar, atau posisi sesuai kondisi). 2) Memberikan oksigen konsentrasi tinggi (non-rebreather mask) untuk memaksimalkan oksigenasi. 3) Mempersiapkan dan membantu prosedur dekompresi darurat toraks (thoracocentesis/needle thoracostomy) pada sela iga 2 garis midklavikula atau sela iga 4-5 garis aksilaris anterior sesuai protokol. 4) Mempersiapkan dan membantu pemasangan Water-Sealed Drainage (WSD) atau chest tube untuk dekompresi dan drainase berkelanjutan. 5) Memantau secara ketat tanda-tanda vital (terutama respirasi, saturasi oksigen, dan tekanan darah), status pernapasan (deviasi trakea, pengembangan dada, bunyi napas), dan perubahan kesadaran. 6) Berkolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi dan analgesi sesuai kebutuhan. 7) Memberikan edukasi dan dukungan psikologis kepada pasien untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperburuk sesak. Intervensi ini bersifat lifesaving dan harus dilakukan dengan cepat, terampil, dan terkoordinasi.
-
Article No. 24721 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang pasien (30 th) dengan luka tusuk di dada kanan. Tampak sesak napas berat, deviasi trakea ke arah kiri, dan suara perkusi hipersonor di dada kanan. Terdapat tarikan dinding dada yang dalam.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit (Tension Pneumothorax)
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas adalah keadaan dimana terjadi penurunan kemampuan alveoli untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbondioksida secara adekuat. Pada kasus luka tusuk dada dengan tanda-tanda klinis yang disebutkan (sesak napas berat, deviasi trakea, hipersonor, tarikan dinding dada), kondisi yang paling mengancam jiwa adalah tension pneumothorax. Ini adalah keadaan darurat medis dimana udara masuk ke rongga pleura melalui luka berbentuk "katup satu arah", sehingga udara terperangkap di dalam rongga pleura selama setiap inspirasi. Akumulasi tekanan ini menyebabkan kolaps paru total pada sisi yang terkena, mendorong mediastinum (jantung, trakea, pembuluh darah besar) ke sisi yang berlawanan (deviasi trakea ke kiri). Deviasi ini mengakibatkan kompresi pada paru-paru yang sehat, vena cava superior, dan jantung, yang secara drastis mengurangi pengembalian vena dan curah jantung. Gangguan pertukaran gas terjadi karena kolapsnya alveoli pada paru yang sakit dan kompresi pada paru yang sehat, menyebabkan hipoksemia berat (kekurangan oksigen dalam darah) dan hiperkapnia (penumpukan karbondioksida). Selain itu, terdapat juga risiko SDKI: 0005 Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit karena penurunan curah jantung yang tajam dapat menyebabkan syok distributif dan kegagalan sirkulasi, mengganggu perfusi jaringan dan keseimbangan asam-basa.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : SLKI 0401: Perbaikan Pertukaran Gas. Tujuan utama dalam kondisi ini adalah mengembalikan pertukaran gas yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Gangguan pertukaran gas teratasi ditandai dengan saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal (≥95%) dengan dukungan oksigen yang sesuai, analisis gas darah arteri menunjukkan nilai PaO2 dan PaCO2 dalam batas normal, serta tidak adanya sianosis. (2) Ventilasi dan perfusi adekuat ditunjukkan dengan frekuensi napas dalam rentang normal, pola napas teratur dan tanpa usaha berlebihan (seperti tarikan dinding dada yang dalam atau penggunaan otot bantu napas), serta bunyi napas yang jelas dan simetris di kedua lapang paru setelah intervensi. (3) Keseimbangan asam-basa tercapai dengan nilai pH darah dalam rentang normal. Pencapaian SLKI ini bergantung pada tindakan segera untuk mendekompresi rongga pleura, sehingga tekanan intrapleural kembali negatif, paru-paru dapat mengembang kembali, dan deviasi mediastinum dikoreksi. Selain itu, SLKI terkait 0410: Pemeliharaan Keseimbangan Cairan juga relevan untuk memastikan tekanan darah, nadi, dan pengisian kapiler kembali normal sebagai indikator memadainya curah jantung dan perfusi jaringan.
Kode SIKI: 2010, 3301, 3310, 3320
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk kondisi ini bersifat kritis dan harus dilakukan secara cepat dan tepat, seringkali bersamaan dengan tindakan medis darurat. SIKI 2010: Manajemen Jalan Napas meliputi memastikan jalan napas paten, memposisikan pasien semi-Fowler atau duduk untuk memudahkan ekspansi dada, serta memberikan oksigen aliran tinggi non-rebreacher mask (NRM) atau sesuai protokol darurat untuk mengatasi hipoksemia. SIKI 3301: Manajemen Perfusi Jaringan sangat krusial karena ancaman syok; meliputi pemantauan ketat tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, frekuensi napas, SpO2) secara kontinu, memasang akses intravena dengan kateter ukuran besar untuk resusitasi cairan jika diperlukan, serta memantau status mental dan pengisian kapiler. SIKI 3310: Manajemen Syok diimplementasikan dengan mempersiapkan pemberian cairan intravena atau vasopressor sesuai instruksi dokter untuk menopang tekanan darah dan curah jantung. Intervensi yang paling definitif adalah SIKI 3320: Manajemen Dada. Perawat harus segera mempersiapkan alat untuk tindakan dekompresi darurat (thoracocentesis/penusukan dada) atau pemasangan chest tube (WSD). Ini termasuk menyiapkan set steril, antiseptik, dan alat drainase, serta membantu dokter selama prosedur. Setelah pemasangan WSD, perawat bertanggung jawab untuk SIKI 3320 secara berkelanjutan: memastikan sistem drainase tertutup berfungsi baik dan steril, memantau fluktuasi air pada chamber, mengobservasi jumlah dan karakteristik drainase, melakukan penjepitan dan pelepasan yang aman sesuai protokol, serta mengkaji penyembuhan luka insersi. Seluruh intervensi ini dilaksanakan dengan pemantauan ketat dan dokumentasi yang akurat untuk mengevaluasi respons pasien terhadap terapi dan mencegah komplikasi seperti infeksi atau re-ekspansi edema paru.
-
Article No. 24722 | 31 Mar 2026
Klinis : Seorang pasien (30 th) dengan luka tusuk di dada kanan. Tampak sesak napas berat, deviasi trakea ke arah kiri, dan suara perkusi hipersonor di dada kanan. Terdapat tarikan dinding dada yang dalam.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit (Tension Pneumothorax)
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas adalah keadaan dimana terjadi penurunan kemampuan tubuh untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon dioksida antara alveoli dan sistem vaskular pulmonal, yang dapat mengakibatkan hipoksemia dan/atau hiperkapnia.
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Pertukaran Gas: Pasien akan menunjukkan perbaikan dalam pertukaran gas, ditandai dengan: 1) Nilai gas darah arteri dalam rentang normal atau sesuai target; 2) Saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal atau sesuai target; 3) Tidak adanya tanda-tanda distress pernapasan (seperti sesak napas, sianosis, penggunaan otot bantu napas); 4) Bunyi napas jelas dan simetris di kedua lapang paru; 5) Pola napas dalam dan teratur; 6) Tingkat kesadaran baik (responsif dan kooperatif).
Kode SIKI: 3310
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Intervensi keperawatan untuk memastikan patensi dan fungsi optimal jalan napas. Tindakan meliputi: 1) Memonitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas) serta suara napas secara berkala; 2) Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, posisi semi-Fowler atau sesuai toleransi); 3) Membersihkan sekret dari jalan napas dengan teknik batuk efektif, suction, atau fisioterapi dada jika diperlukan; 4) Mempertahankan kepatenan jalan napas buatan (seperti tube endotrakeal/trakeostomi) jika ada; 5) Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan dan protokol; 6) Mempersiapkan dan membantu prosedur darurat untuk membebaskan jalan napas (seperti pemasangan chest tube pada tension pneumothorax).
Kondisi: Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit (Tension Pneumothorax)
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit adalah keadaan dimana tubuh mengalami atau berisiko mengalami perubahan volume cairan (defisit atau kelebihan) dan/atau konsentrasi elektrolit di dalam tubuh yang dapat mengganggu fungsi fisiologis.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Keseimbangan Cairan dan Elektrolit: Pasien akan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, suhu); 2) Turgor kulit baik dan membran mukosa lembab; 3) Keseimbangan masukan dan haluan cairan; 4) Berat badan stabil; 5) Nilai elektrolit serum dalam rentang normal; 6) Tidak ada tanda dehidrasi atau kelebihan cairan (edema, kongesti paru).
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : Pemantauan Hemodinamik: Intervensi keperawatan untuk mengukur dan mengevaluasi status sirkulasi darah dan fungsi jantung. Tindakan meliputi: 1) Memonitor dan mendokumentasikan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) secara teratur dan berkelanjutan; 2) Memonitor status perfusi perifer (warna kulit, kehangatan, pengisian kapiler, nadi perifer); 3) Mengobservasi tanda-tanda syok (hipotensi, takikardia, kulit dingin dan lembab, penurunan kesadaran); 4) Memonitor keseimbangan cairan (intake dan output); 5) Melakukan pemantauan jantung (EKG) jika diperlukan; 6) Kolaborasi dalam pemberian cairan intravena, obat-obatan inotropik atau vasopressor sesuai instruksi.