Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 22173 | 17 Oct 2025
Klinis : Data Subjektif: Pasien mengatakan cepat lelah setelah aktivitas ringan dan saat kadar gula turun. Data Objektif: Tampak lemah selama episode hipoglikemia; gejala membaik setelah terapi dextrose.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0027
Definisi dan Deskripsi SDKI (500-1000 kata): Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah adalah suatu kondisi di mana terjadi variasi kadar glukosa darah yang naik (hiperglikemia) atau turun (hipoglikemia) dari rentang normal. Kondisi ini merupakan masalah keperawatan yang krusial, terutama pada individu dengan gangguan metabolisme glukosa seperti Diabetes Melitus, namun juga dapat terjadi pada kondisi klinis lain. Keseimbangan glukosa darah, atau homeostasis glukosa, adalah proses fisiologis yang kompleks dan diatur secara ketat oleh hormon, terutama insulin dan glukagon, yang diproduksi oleh pankreas. Insulin berfungsi menurunkan kadar glukosa darah dengan memfasilitasi masuknya glukosa ke dalam sel untuk digunakan sebagai energi, sementara glukagon bekerja sebaliknya dengan merangsang hati untuk melepaskan glukosa ke dalam aliran darah. Gangguan pada produksi, sekresi, atau sensitivitas sel terhadap hormon-hormon ini akan menyebabkan ketidakstabilan kadar glukosa darah.
Penyebab atau faktor risiko yang berkontribusi terhadap diagnosis ini sangat beragam, mencakup kegagalan dalam manajemen diabetes, kurangnya paparan informasi mengenai manajemen penyakit,Article No. 22174 | 17 Oct 2025
Klinis : infeksi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0142
Definisi dan Deskripsi SDKI (500-1000 kata): Risiko Infeksi didefinisikan sebagai kondisi di mana seorang individu berisiko mengalami peningkatan paparan terhadap organisme patogenik (seperti virus, bakteri, jamur, protozoa, atau parasit) yang dapat menginvasi jaringan tubuh dan menyebabkan penyakit. Diagnosis ini tidak menunjukkan adanya infeksi yang aktif, melainkan adanya faktor-faktor risiko yang membuat individu tersebut rentan terhadap infeksi. Penegakan diagnosis ini bersifat antisipatif, bertujuan untuk mengidentifikasi individu yang memerlukan intervensi keperawatan proaktif untuk mencegah terjadinya infeksi. Identifikasi risiko ini sangat krusial dalam berbagai tatanan layanan kesehatan, mulai dari perawatan komunitas hingga unit perawatan intensif, karena infeksi dapat menyebabkan morbiditas yang signifikan, memperpanjang masa rawat inap, meningkatkan biaya perawatan, dan bahkan menyebabkan mortalitas.
Faktor risiko yang berkontribusi terhadap diagnosis ini dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori utama. Pertama, faktor yang berhubungan dengan pertahanan tubuh primer yang tidak adekuat. Ini mencakup kerusakan integritas kulit atau jaringan, seperti luka bedah, luka bakar, ulkus dekubitus, atau lokasi pemasangan alat invasif (misalnya, kateter intravena, kateter urin, atau selang drainase). Kulit dan membran mukosa adalah benteng pertahanan pertama tubuh terhadap mikroorganisme. Ketika barrier ini rusak, patogen memiliki jalur masuk langsung ke dalam jaringan yang lebih dalam dan aliran darah. Selain itu, cairan tubuh yang statis, seperti retensi urin pada pasien dengan obstruksi saluran kemih atau sekret paru yang tidak dapat dikeluarkan secara efektif pada pasien imobilisasi, dapat menjadi medium yang subur untuk pertumbuhan bakteri. Penurunan kerja siliaris pada saluran pernapasan, yang sering terjadi pada perokok atau pasien dengan penyakit paru kronis, juga mengganggu mekanisme pembersihan patogen dari paru-paru.
Kedua, faktor yang berhubungan dengan pertahanan tubuh sekunder yang tidak adekuat atau supresi sistem imun. Ini mencakup kondisi seperti penurunan kadar hemoglobin, leukopenia (penurunan jumlah sel darah putih), atau neutropenia. Sel darah putih, terutama neutrofil, adalah komponen kunci dari respons imun bawaan yang melawan infeksi bakteri. Pasien yang menjalani kemoterapi, terapi radiasi, atau menerima obat imunosupresan (misalnya, setelah transplantasi organ) memiliki sistem imun yang sengaja atau tidak sengaja ditekan, membuat mereka sangat rentan. Kondisi medis kronis seperti diabetes melitus (karena sirkulasi yang buruk dan fungsi neutrofil yang terganggu), HIV/AIDS (yang secara langsung menyerang sel T helper), penyakit hati, dan gagal ginjal juga secara signifikan melemahkan kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. Malnutrisi, baik kekurangan protein maupun mikronutrien, juga berdampak negatif pada fungsi imun, karena komponen sistem imun memerlukan nutrisi yang adekuat untuk produksi dan fungsinya.
Ketiga, faktor lingkungan. Paparan terhadap wabah atau patogen di lingkungan sekitar merupakan risiko yang jelas. Ini sangat relevan di fasilitas layanan kesehatan, di mana pasien dapat terpapar pada mikroorganisme yang resisten terhadap banyak obat (MDROs) melalui kontak dengan petugas kesehatan, pasien lain, atau permukaan yang terkontaminasi. Ini dikenal sebagai infeksi terkait layanan kesehatan atau Healthcare-Associated Infections (HAIs). Prosedur invasif, seperti pembedahan, pemasangan kateter, atau intubasi, secara inheren meningkatkan risiko infeksi dengan melewati pertahanan alami tubuh. Semakin lama durasi penggunaan alat invasif, semakin tinggi pula risikonya.
Keempat, faktor-faktor lain seperti usia ekstrem (bayi baru lahir dan lansia) juga meningkatkan kerentanan. Sistem imun bayi belum matang sepenuhnya, sementara pada lansia terjadi proses immunosenescence atau penuaan sistem imun, yang mengurangi efektivitas respons imun. Kurang pengetahuan tentang cara menghindari paparan patogen, seperti praktik kebersihan tangan yang buruk, juga merupakan faktor risiko yang dapat dimodifikasi melalui edukasi.
Dalam praktiknya, perawat harus melakukan pengkajian komprehensif untuk mengidentifikasi kombinasi faktor-faktor risiko ini pada setiap pasien. Pengkajian ini meliputi riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik (terutama kondisi kulit dan lokasi alat invasif), hasil laboratorium (seperti hitung darah lengkap), status nutrisi, dan pemahaman pasien tentang pencegahan infeksi. Dengan mengidentifikasi risiko ini secara dini, perawat dapat merencanakan dan mengimplementasikan intervensi yang ditargetkan untuk meminimalkan kemungkinan terjadinya infeksi, melindungi keselamatan pasien, dan meningkatkan hasil klinis secara keseluruhan.Kode SLKI: L.14137
Luaran yang Diharapkan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan **Tingkat Infeksi** menurun dengan kriteria hasil sebagai berikut:
- Demam: Menurun
- Kemerahan pada area terdampak: Menurun
- Nyeri atau bengkak pada area terdampak: Menurun
- Kadar sel darah putih: Membaik (dalam rentang normal)
- Kultur darah, urin, atau luka: Membaik (menunjukkan tidak ada pertumbuhan patogen)
- Nafsu makan: Meningkat
- Pioderma (lesi kulit bernanah): Menurun
Tujuan utama adalah pasien tidak menunjukkan tanda dan gejala infeksi selama masa perawatan atau risiko infeksi dapat dikendalikan secara efektif.Kode SIKI: I.14539
Intervensi Utama: **Pencegahan Infeksi**
**Observasi:**
- Monitor tanda dan gejala infeksi lokal dan sistemik (misalnya, demam, kemerahan, bengkak, nyeri, peningkatan denyut jantung, takipnea, perubahan status mental).
- Monitor hasil pemeriksaan laboratorium terkait infeksi (misalnya, hitung sel darah putih, C-reactive protein/CRP, hasil kultur).
**Terapeutik:**
- Batasi jumlah pengunjung untuk mengurangi paparan patogen dari luar.
- Berikan perawatan kulit pada area edema atau area yang berisiko mengalami kerusakan integritas.
- Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien dan lingkungan pasien menggunakan sabun antiseptik atau hand sanitizer berbasis alkohol.
- Pertahankan teknik aseptik pada pasien berisiko tinggi (misalnya, saat melakukan perawatan luka, memasang kateter, atau memberikan injeksi).
- Lakukan perawatan luka secara benar sesuai protokol untuk mencegah kontaminasi.
**Edukasi:**
- Jelaskan kepada pasien dan keluarga mengenai tanda dan gejala infeksi serta kapan harus melaporkannya kepada tenaga kesehatan.
- Ajarkan cara mencuci tangan yang benar kepada pasien dan keluarga.
- Anjurkan untuk meningkatkan asupan nutrisi yang adekuat, terutama protein dan vitamin, untuk mendukung fungsi sistem imun.
- Anjurkan untuk meningkatkan asupan cairan untuk membantu proses eliminasi patogen.
**Kolaborasi:**
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian terapi antibiotik, antipiretik, atau imunisasi jika diindikasikan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti diagnosis atau kodifikasi resmi.***
-
Article No. 22150 | 16 Oct 2025
Klinis : Kondisi bayi saat ini sesak tidak ,gerak tangis kuat, pilek tidak, batuk tidak, icterus tidak, febris ya, minum perspeen, reflek hisap kuat, tumpah tidak, kembung tidak, BAK ya, BAB ya, Pasien dalam pengawasan Kesadaran : Waspada Kepala : a/i/c/d -/-/-/- Mata : isokor Telinga : simetris Hidung : PCH (-) Mulut : Hipersaliva (-) Leher : Pembesaran KGB (-) Dada : Retraksi (-), S1/S2 tunggal, Rh -/-, Wh -/- Perut : Soefl, bising usus (+) Genital : testis sudah turun Extremitas Atas : DBN Extremitas Bawah : DBN, Akral hangat, CRT <2dtk TTV : Suhu: 38,3 C HR: 162x/mnt RR: 48x/mnt downscore :0 Lab 07/10 di PMC Bilirubin total 18.90 Bilirubin direk 0.94 Lab 10/10/2025 Bilirubin Total 9.57 mg/dL 0.3 ~ 1.2 H Bilirubin Direk 0.39 mg/dL < 0.2 H Billirubin Indirek 9.18 Lab 11/10 Hb 16,1 Leukosit 8.87 Hematokrut 47.4 Eritrosit 4.79 MCV 98.9 MCH 33.6 MCHC 33.9 RDW CV 15.5 Trombosit 382 BBL 2900 gram BBM 2980 gram BBS 3080 gram Vicc Sx 2x200 mg (H3) Gentamisin 1x16 mg (H1) Po. L-bio 1 x 1sac Po. Alco drop 3x0,2 ml Po. Sanmol drop 3x0,3 ml (k/p) Gentamisin tetes mata 3x1 tts Mico-z 2x/hr ASI/SF 8 x 60ml
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Gagal mendapatkan konten dari API. Cek log server atau API Key.
-
Article No. 22151 | 16 Oct 2025
Klinis : Kondisi bayi saat ini sesak tidak ,gerak tangis kuat, pilek tidak, batuk tidak, icterus tidak, febris ya, minum perspeen, reflek hisap kuat, tumpah tidak, kembung tidak, BAK ya, BAB ya, Pasien dalam pengawasan Kesadaran : Waspada Kepala : a/i/c/d -/-/-/- Mata : isokor Telinga : simetris Hidung : PCH (-) Mulut : Hipersaliva (-) Leher : Pembesaran KGB (-) Dada : Retraksi (-), S1/S2 tunggal, Rh -/-, Wh -/- Perut : Soefl, bising usus (+) Genital : testis sudah turun Extremitas Atas : DBN Extremitas Bawah : DBN, Akral hangat, CRT <2dtk TTV : Suhu: 38,3 C HR: 162x/mnt RR: 48x/mnt downscore :0 Lab 07/10 di PMC Bilirubin total 18.90 Bilirubin direk 0.94 Lab 10/10/2025 Bilirubin Total 9.57 mg/dL 0.3 ~ 1.2 H Bilirubin Direk 0.39 mg/dL < 0.2 H Billirubin Indirek 9.18 Lab 11/10 Hb 16,1 Leukosit 8.87 Hematokrut 47.4 Eritrosit 4.79 MCV 98.9 MCH 33.6 MCHC 33.9 RDW CV 15.5 Trombosit 382 BBL 2900 gram BBM 2980 gram BBS 3080 gram Vicc Sx 2x200 mg (H3) Gentamisin 1x16 mg (H1) Po. L-bio 1 x 1sac Po. Alco drop 3x0,2 ml Po. Sanmol drop 3x0,3 ml (k/p) Gentamisin tetes mata 3x1 tts Mico-z 2x/hr ASI/SF 8 x 60ml
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0130
Definisi dan Deskripsi SDKI (500-1000 kata): Hipertermia adalah kondisi di mana suhu tubuh meningkat di atas rentang normal tubuh, yaitu di atas 37,5°C. Kondisi ini terjadi ketika mekanisme termoregulasi tubuh gagal untuk menghilangkan panas yang berlebihan, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Penyebab utama hipertermia pada neonatus dan bayi, seperti pada kasus ini, sering kali adalah proses penyakit infeksius. Ketika tubuh mendeteksi patogen (seperti bakteri atau virus), sistem imun akan melepaskan zat pirogen yang merangsang hipotalamus di otak untuk menaikkan 'set point' suhu tubuh. Akibatnya, tubuh akan berusaha mencapai suhu baru yang lebih tinggi ini melalui peningkatan laju metabolisme, vasokonstriksi perifer, dan pada anak yang lebih besar, menggigil. Pada bayi, tanda-tanda ini dimanifestasikan dengan peningkatan frekuensi jantung (takikardia) dan frekuensi pernapasan (takipnea) sebagai respons kompensasi terhadap kebutuhan oksigen yang lebih tinggi akibat metabolisme yang meningkat. Gejala dan tanda mayor objektif dari hipertermia adalah suhu tubuh yang terukur di atas nilai normal. Gejala minor yang dapat menyertai meliputi kulit yang terasa hangat saat disentuh, kulit kemerahan, takikardia, dan takipnea. Pada kasus ini, pasien menunjukkan suhu 38,3°C, denyut jantung 162x/menit, dan laju pernapasan 48x/menit, yang semuanya konsisten dengan diagnosis hipertermia. Penanganan hipertermia berfokus pada dua hal: menurunkan suhu tubuh secara simtomatik dan mengobati penyebab yang mendasarinya. Jika tidak ditangani, hipertermia yang berkepanjangan dapat menyebabkan dehidrasi, ketidakseimbangan elektrolit, dan pada kasus yang parah, dapat memicu kejang demam, terutama pada populasi pediatrik.
Kode SLKI: L.14134
Luaran yang Diharapkan: Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan Termoregulasi membaik dengan kriteria hasil:
- Suhu tubuh menurun ke rentang normal (36,5 - 37,5°C).
- Frekuensi nadi menurun ke rentang normal sesuai usia (120-160x/menit).
- Frekuensi napas menurun ke rentang normal sesuai usia (30-60x/menit).
- Kulit tidak lagi teraba panas atau tampak kemerahan.
- Pasien menunjukkan tanda-tanda kenyamanan (tidak rewel).
Kode SIKI: I.15506
Intervensi Utama: Manajemen Hipertermia
Observasi:
- Identifikasi penyebab hipertermia (misalnya, proses infeksi, dehidrasi).
- Monitor suhu tubuh pasien secara berkala (setiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan).
- Monitor frekuensi nadi dan pernapasan.
- Monitor warna dan suhu kulit serta tanda-tanda dehidrasi (misalnya, turgor kulit, kelembapan mukosa).
Terapeutik:
- Sediakan lingkungan yang sejuk dan nyaman.
- Longgarkan atau lepaskan pakaian bayi untuk memfasilitasi penguapan panas.
- Lakukan kompres hangat (bukan kompres dingin atau alkohol) pada area dahi, leher, aksila, dan lipat paha.
- Anjurkan pemberian asupan cairan (ASI/SF) yang adekuat untuk mencegah dehidrasi.
Edukasi:
- Jelaskan kepada keluarga mengenai penyebab demam dan cara penanganannya.
- Anjurkan
-
Article No. 22152 | 16 Oct 2025
Klinis : Pasien wanita, usia 60 tahun, mengalami nyeri dada yang hebat, menjalar ke lengan kiri, disertai dengan sesak napas, mual, dan keringat dingin. EKG menunjukkan infark miokard akut. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan diabetes melitus tipe 2.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Infark Miokard Akut (Acute Myocardial Infarction)
Kode ICD-10: I21.9
Deskripsi Singkat : Infark Miokard Akut (IMA), atau yang umum dikenal sebagai serangan jantung, adalah kondisi gawat darurat medis yang terjadi ketika aliran darah ke sebagian otot jantung terhenti secara tiba-tiba. Penyebab utamanya adalah penyumbatan arteri koroner oleh gumpalan darah yang terbentuk pada plak aterosklerosis yang pecah. Tanpa pasokan darah yang kaya oksigen, jaringan otot jantung mulai rusak dan mati. Gejala khasnya meliputi nyeri dada hebat yang bisa menjalar ke lengan, leher, atau rahang, sesak napas, mual, dan keringat
Article No. 22153 | 16 Oct 2025
Klinis : Penggunaan otot bantu napas Retraksi dada Pernapasan cuping hidung Terpasang ncpap fio2 25% peep 7 Pola napas hiperventilasi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi (SDKI - SLKI - SIKI)
Berdasarkan data kondisi pasien yang diberikan, yaitu penggunaan otot bantu napas, retraksi dada, pernapasan cuping hidung, pola napas hiperventilasi, serta terpasang NCPAP FiO2 25% PEEP 7, diagnosa keperawatan yang paling relevan adalah Pola Napas Tidak Efektif.
1. Diagnosa Keperawatan (SDKI)
Komponen
Detail
Kode SDKI
D.0005
Nama Diagnosa
Pola Napas Tidak Efektif
Definisi
Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
Batasan Karakteristik (Data Objektif)
- Penggunaan otot bantu napas (sesuai data pasien)
- Retraksi dada (sesuai data pasien)
- Pernapasan cuping hidung (sesuai data pasien)
- Pola napas hiperventilasi (sesuai data pasien)
- Dispnea
- Fase ekspirasi memanjang
- Penurunan tekanan inspirasi/ekspirasi
- Penurunan ventilasi semenit
- Penurunan kapasitas vital
- Takipnea
- Kedalaman napas menurun
Penyebab (Etiologi)
Penyebab spesifik tidak teridentifikasi dari data yang diberikan, namun dapat terkait dengan:
- Hambatan upaya napas (mis. nyeri saat bernapas, kelemahan otot pernapasan)
- Deformitas dinding dada
- Gangguan neuromuskular
- Kerusakan neurologis (mis. cedera kepala, stroke)
- Imaturitas neurologis (pada bayi)
- Ansietas
- Nyeri
(Penentuan etiologi yang tepat memerlukan pengkajian lebih lanjut terhadap riwayat kesehatan dan kondisi klinis pasien secara menyeluruh.)
2. Luaran Keperawatan (SLKI)
Komponen
Detail
Kode SLKI
L.01004
Nama Luaran Utama
Pola Napas
Definisi
Inspirasi dan/atau ekspirasi yang memberikan ventilasi adekuat.
Kriteria Hasil (Setelah dilakukan intervensi keperawatan, diharapkan Pola Napas membaik dengan kriteria:)
- Penggunaan otot bantu napas menurun (dari 5 menjadi 3 atau kurang)
- Retraksi dinding dada menurun (dari 5 menjadi 3 atau kurang)
- Pernapasan cuping hidung menurun (dari 5 menjadi 3 atau kurang)
- Dispnea menurun
- Frekuensi napas membaik (rentang normal sesuai usia)
- Kedalaman napas membaik
- Pola napas membaik (tidak hiperventilasi)
- Saturasi oksigen meningkat (mis. > 95%)
- Tekanan parsial karbon dioksida (PCO2) membaik
- Tekanan parsial oksigen (PO2) membaik
- Ventilasi semenit meningkat
-
Article No. 22154 | 16 Oct 2025
Klinis : pasien dispnea, adanya penggunaan otot bantu pernapasan, pola napas abnormal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan dan Kerangka SDKI-SLKI-SIKI
Sebagai seorang perawat profesional, penegakan diagnosa keperawatan yang tepat adalah langkah krusial dalam memberikan asuhan yang berpusat pada pasien dan berbasis bukti. Berdasarkan kondisi pasien yang Anda sampaikan (dispnea, adanya penggunaan otot bantu pernapasan, pola napas abnormal), berikut adalah diagnosa keperawatan yang paling relevan beserta penjelasan kerangka SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
Diagnosa Keperawatan Utama
Pola Napas Tidak Efektif (D.0005)
- Definisi: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
- Data Objektif Pasien (Gejala dan Tanda Mayor):
- Dispnea
- Penggunaan otot bantu pernapasan
- Pola napas abnormal
- Penjelasan: Ketiga data yang Anda sampaikan merupakan karakteristik mayor objektif dari diagnosa Pola Napas Tidak Efektif menurut SDKI. Dispnea menunjukkan kesulitan bernapas, penggunaan otot bantu pernapasan mengindikasikan peningkatan usaha napas untuk mencapai ventilasi yang adekuat, dan pola napas abnormal (misalnya takipnea, bradipnea, atau pola lain yang tidak teratur) secara langsung mencerminkan ketidakmampuan sistem pernapasan untuk berfungsi secara optimal. Diagnosa ini menjadi prioritas karena berkaitan langsung dengan oksigenasi dan kelangsungan hidup pasien.
Penjelasan Kerangka SDKI - SLKI - SIKI
Kerangka Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) adalah panduan esensial bagi perawat di Indonesia untuk menyeragamkan proses asuhan keperawatan, memastikan kualitas, dan meningkatkan akuntabilitas profesional.
Komponen
Kode & Nama
Definisi
Aplikasi pada Kasus Pasien
SDKI
(Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia)
D.0005
Pola Napas Tidak Efektif
Buku panduan yang berisi daftar diagnosis keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI, lengkap dengan definisi, penyebab, gejala dan tanda, serta kondisi klinis terkait. Fungsinya adalah menyeragamkan penegakan diagnosis keperawatan di Indonesia, menjadi dasar perencanaan intervensi dan evaluasi.
Definisi Diagnosa: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
Penyebab (Etiologi): Berhubungan dengan (etiologi yang mendasari, misalnya: hambatan upaya napas, perubahan membran alveoli-kapiler, deformitas dinding dada, dll.)
Gejala dan Tanda Mayor (Objektif):
- Dispnea
- Penggunaan otot bantu pernapasan
- Pola napas abnormal
(Etiologi spesifik perlu dikaji lebih lanjut dari riwayat pasien dan pemeriksaan fisik.)
Article No. 22155 | 16 Oct 2025
Klinis : dispnea, takikardia, adanya bunyi napas tambahan (wheezing), sianosis, pola napas abnormal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html