Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 2700 | 19 Oct 2024
Klinis : Nama: Ny. G Usia: 30 tahun Gravida: G2P1A0 Usia Kehamilan: 39 minggu Pasien mengeluhkan pusing dan merasa lemas setelah menjalani operasi seksio sesarea sekitar 12 jam yang lalu. Pasien merasa tidak mampu berdiri atau berjalan tanpa bantuan. Ny. G menjalani persalinan dengan seksio sesarea karena indikasi plasenta previa totalis. Operasi berjalan dengan baik tanpa komplikasi besar. Setelah operasi, pasien dipindahkan ke ruang perawatan dan mulai mengalami pusing dan merasa lemas saat berusaha duduk atau berdiri. Pasien juga melaporkan pusing berputar ketika mencoba menggerakkan kepala terlalu cepat. Pasien merasa sangat lelah dan mengeluh tidak bertenaga Riwayat Kehamilan Ini adalah kehamilan kedua Ny. G. Kehamilan sebelumnya berakhir dengan persalinan normal pada usia 38 minggu tanpa komplikasi. Kehamilan ini diawasi secara rutin, dan pada usia kehamilan 36 minggu, pasien didiagnosis dengan plasenta previa totalis, yang menyebabkan rekomendasi untuk menjalani operasi seksio sesarea pada usia kehamilan 39 minggu Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada riwayat penyakit keluarga seperti hipertensi atau diabete Riwayat Penyakit Sebelumnya: Ny. G tidakmemiliki riwayat penyakit serius sebelumnya, namun dilaporkan bahwa ia mengalami anemia ringan selama kehamilan ini Kesadaran: Compos mentis Tekanan darah: 100/65 mmHg Nadi: 88x/menit. Suhu: 36,7°C. RR: 20x/menit BB: 63 kg. Konjungtiva: Pucat Kulit: Pucat Luka operasi: Luka operasi SC tampak kering, tanpa tanda-tanda infeksi atau perdarahan aktif. Perdarahan postpartum: Lochia rubra, sedang, tidak ada bekuan darah besar Hb: 9,5 g/dL (anemia ringan) Hematokrit: 30% Elektrolit darah: Normal. Pemeriksaan EKG: Normal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang Anda berikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menggunakan standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Ny. G:
Diagnosa Keperawatan:
1. Intoleransi Aktivitas
2. Risiko Perfusi Jaringan Cerebral Tidak Efektif
Penjelasan Singkat:
1. Intoleransi Aktivitas
- SDKI: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan, disebabkan oleh keterbatasan fisik dan/atau psikologis.
- SLKI: Kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan.
- SIKI: Intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi intoleransi aktivitas, seperti pengaturan aktivitas, mobilisasi dini, peningkatan energi, dan edukasi.
2. Risiko Perfusi Jaringan Cerebral Tidak Efektif
- SDKI: Rentan mengalami penurunan aliran darah ke otak yang dapat menyebabkan gangguan oksigenasi, nutrisi, dan fungsi serebral.
- SLKI: Tingkat oksigenasi, nutrisi, dan fungsi serebral yang adekuat.
- SIKI: Intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi risiko perfusi jaringan cerebral tidak efektif, seperti pemantauan tanda-tanda vital, manajemen hipovolemia, dan penyediaan lingkungan yang aman.
Penjelasan:
Ny. G mengalami pusing dan merasa lemas setelah menjalani operasi seksio sesarea. Dia merasa tidak mampu berdiri atau berjalan tanpa bantuan, menunjukkan adanya intoleransi aktivitas. Selain itu, keluhan pusing berputar saat menggerakkan kepala terlalu cepat mengindikasikan risiko perfusi jaringan cerebral tidak efektif. Hal ini dapat disebabkan oleh anemia ringan yang dialami Ny. G selama kehamilan, serta perubahan hemodinamik akibat operasi seksio sesarea. -
Article No. 2701 | 19 Oct 2024
Klinis : Seorang anak berusia 3 tahun datang dengan keluhan pembengkakan pinggang kiri dan demam berulang selama 4 bulan. Bengkak di pinggang kiri semakin membesar, namun tidak disertai nyeri, tidak ada pembengkakan di bagian tubuh lain, tidak ada hematuria, tidak ada penurunan produksi urin, tidak ada pembengkakan pada kaki atau wajah, tidak ada batuk atau kesulitan bernapas, tidak ada kehilangan berat badan.atau kehilangan nafsu makan. Tidak ada riwayat keluarga yang mengalami kejadian serupa pada kerabatnya. Pada pemeriksaan, perut tampak distensi, disertai kepenuhan pada sisi kiri dan distensi vena dinding perut anterior. Teraba massa pada panggul kiri yang tidak nyeri tekan. Pasien menderita takikardia dengan denyut nadi 140 kali per menit. Tekanan darahnya normal dan 100/60 mm Hg. Alat kelamin luar normal. Hitung darah lengkap normal dengan volume sel padat 30%, dengan perbedaan WBC normal. Nitrogen urea darah dan kreatinin normal. Urinalisis juga normal. Diagnosis klinisnya adalah nefroblastoma kiri:
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis keperawatan yang sesuai untuk kondisi ini adalah:
1. Diagnosa Keperawatan SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
a. Resiko Perdarahan Terkait Nefroblastoma
b. Nyeri Akut Terkait Nefroblastoma
c. Intoleransi Aktivitas Terkait Penurunan Kapasitas Fungsional
2. Penjelasan Singkat:
a. Resiko Perdarahan Terkait Nefroblastoma:
- Nefroblastoma adalah tumor ganas yang berasal dari sel-sel ginjal, yang dapat menyebabkan perdarahan internal.
- Pasien berisiko mengalami perdarahan internal akibat pertumbuhan tumor yang semakin membesar.
- Intervensi keperawatan yang dapat diberikan adalah memantau tanda-tanda perdarahan dan memberikan perawatan yang tepat.
b. Nyeri Akut Terkait Nefroblastoma:
- Nefroblastoma dapat menyebabkan nyeri akut pada area pinggang kiri karena adanya massa tumor.
- Meskipun pada kasus ini tidak dilaporkan adanya nyeri, tetap perlu diwaspadai kemungkinan timbulnya nyeri akibat tumor.
- Intervensi keperawatan yang dapat diberikan adalah menilai intensitas nyeri, memberikan manajemen nyeri yang sesuai, dan memantau respons pasien terhadap terapi.
c. Intoleransi Aktivitas Terkait Penurunan Kapasitas Fungsional:
- Nefroblastoma dapat menyebabkan penurunan kapasitas fungsional pasien karena adanya pembengkakan dan massa tumor di abdomen.
- Pasien dapat mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
- Intervensi keperawatan yang dapat diberikan adalah menilai kemampuan fungsional pasien, membantu mengoptimalkan aktivitas, dan memberikan edukasi tentang manajemen energi.
3. Standar SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang sesuai:
- SLKI: Pemulihan Perdarahan, Penurunan Nyeri, Peningkatan Kemampuan Aktivitas
- SIKI: Manajemen Perdarahan, Manajemen Nyeri, Fasilitasi Aktivitas
Dalam memberikan asuhan keperawatan, perawat harus mempertimbangkan kondisi klinis pasien, rencana pengobatan, dan melibatkan pasien serta keluarga dalam pengambilan keputusan. Perawat juga harus menggunakan standar SDKI, SLKI, dan SIKI sebagai panduan dalam memberikan intervensi yang komprehensif dan berpusat pada pasien. -
Article No. 2702 | 19 Oct 2024
Klinis : Seorang anak berusia 3 tahun datang dengan keluhan pembengkakan pinggang kiri dan demam berulang selama 4 bulan. Bengkak di pinggang kiri semakin membesar, namun tidak disertai nyeri, tidak ada pembengkakan di bagian tubuh lain, tidak ada hematuria, tidak ada penurunan produksi urin, tidak ada pembengkakan pada kaki atau wajah, tidak ada batuk atau kesulitan bernapas, tidak ada kehilangan berat badan.atau kehilangan nafsu makan. Tidak ada riwayat keluarga yang mengalami kejadian serupa pada kerabatnya. Pada pemeriksaan, perut tampak distensi, disertai kepenuhan pada sisi kiri dan distensi vena dinding perut anterior. Teraba massa pada panggul kiri yang tidak nyeri tekan. Pasien menderita takikardia dengan denyut nadi 140 kali per menit. Tekanan darahnya normal dan 100/60 mm Hg. Alat kelamin luar normal. Hitung darah lengkap normal dengan volume sel padat 30%, dengan perbedaan WBC normal. Nitrogen urea darah dan kreatinin normal. Urinalisis juga normal. Diagnosis klinisnya adalah nefroblastoma kiri:
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan gejala dan temuan klinis yang dipaparkan, diagnosis keperawatan yang sesuai adalah:
1. Risiko Gangguan Proses Kehidupan berhubungan dengan kondisi nefroblastoma (Wilms' tumor).
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Risiko Gangguan Proses Kehidupan: Keadaan di mana individu berisiko mengalami gangguan dalam kelangsungan tumbuh kembang yang normal, termasuk perkembangan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual.
- Faktor yang berhubungan: Penyakit/kondisi medis yang mengancam jiwa.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Individu dapat mempertahankan proses kehidupan yang normal.
- Kriteria hasil: Individu menunjukkan perkembangan fisik, psikologis, sosial, dan spiritual yang sesuai usia.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan: Pemantauan tumbuh kembang, pemberian informasi dan edukasi tentang proses tumbuh kembang, kolaborasi dengan tim medis terkait.
Dengan diagnosis keperawatan ini, perawat dapat memfokuskan intervensi pada pemantauan tumbuh kembang pasien, pemberian informasi dan edukasi kepada keluarga, serta melakukan kolaborasi dengan tim medis untuk meningkatkan prognosis pasien. -
Article No. 2703 | 19 Oct 2024
Klinis : ibu hamil
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berikut adalah contoh Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi ibu hamil:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- SDKI: Keadaan di mana individu mengalami asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk membantu individu mencapai keseimbangan nutrisi yang optimal.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk memantau dan memenuhi kebutuhan nutrisi individu.
2. Risiko Ketidakseimbangan Cairan
- SDKI: Keadaan di mana individu mengalami ketidakseimbangan antara asupan dan eliminasi cairan.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk mempertahankan keseimbangan cairan yang optimal.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk memantau dan mempertahankan keseimbangan cairan individu.
3. Risiko Kecemasan
- SDKI: Keadaan di mana individu mengalami kekhawatiran, ketakutan, atau keprihatinan yang tidak proporsional dengan stimulus yang ada.
- SLKI: Intervensi keperawatan untuk membantu individu mengatasi dan mengelola kecemasan.
- SIKI: Tindakan keperawatan untuk membantu individu mengurangi atau mengatasi kecemasan.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) adalah sistem standar untuk mengidentifikasi masalah kesehatan yang dialami oleh individu, keluarga, atau komunitas. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah sistem standar untuk mengidentifikasi hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah sistem standar untuk mengidentifikasi tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan.
Penggunaan SDKI, SLKI, dan SIKI oleh perawat dapat membantu dalam memberikan asuhan keperawatan yang terstandar, komprehensif, dan berkualitas bagi ibu hamil. -
Article No. 2704 | 19 Oct 2024
Klinis : ibu hamil trimester 1
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi Maternal
Penjelasan:
Berdasarkan kondisi ibu hamil trimester 1, terdapat risiko ketidakseimbangan nutrisi maternal. Hal ini dapat disebabkan oleh perubahan fisiologis selama kehamilan, seperti mual, muntah, dan selera makan yang dapat berfluktuasi. Selain itu, kebutuhan nutrisi meningkat untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin.
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
1. Ketidakseimbangan Nutrisi: Risiko, dengan definisi risiko memiliki asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
2. Faktor risiko: Perubahan fisiologis (mual, muntah, selera makan berfluktuasi), peningkatan kebutuhan nutrisi, kondisi sosial ekonomi.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Keseimbangan Nutrisi
2. Pengetahuan tentang Nutrisi
3. Perilaku Pencegahan Komplikasi
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen Nutrisi
2. Edukasi Nutrisi
3. Pemantauan Nutrisi
Sebagai perawat, saya akan membantu ibu hamil trimester 1 ini untuk memantau dan memenuhi kebutuhan nutrisinya, memberikan edukasi tentang nutrisi yang tepat selama kehamilan, serta memantau perkembangan dan mencegah komplikasi yang mungkin timbul akibat ketidakseimbangan nutrisi. -
Article No. 2705 | 19 Oct 2024
Klinis : nausea berhubungan dengan kehamilan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Nausea berhubungan dengan kehamilan
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Nausea adalah sensasi mual yang tidak enak dan dapat menyebabkan keinginan untuk muntah. Nausea yang berhubungan dengan kehamilan adalah kondisi di mana wanita hamil mengalami perasaan mual yang disebabkan oleh perubahan hormonal dan fisiologis selama kehamilan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari penanganan nausea berhubungan dengan kehamilan adalah pasien dapat mengelola nausea dengan efektif, dapat mempertahankan asupan nutrisi yang adekuat, dan mencegah komplikasi yang berkaitan dengan nausea selama kehamilan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk menangani nausea berhubungan dengan kehamilan mencakup:
1. Manajemen Nausea: Mengidentifikasi faktor pencetus, memberikan obat anti-mual jika diperlukan, dan mengajarkan teknik pengalihan perhatian.
2. Manajemen Nutrisi: Memantau asupan nutrisi, memberikan makanan dan minuman yang dapat ditoleransi, serta memastikan kebutuhan nutrisi terpenuhi.
3. Edukasi: Memberikan informasi mengenai penyebab, manajemen, dan komplikasi nausea selama kehamilan.
Sebagai seorang perawat pakar, saya akan menggunakan pendekatan yang komprehensif dalam menangani nausea berhubungan dengan kehamilan dengan berpedoman pada SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia. -
Article No. 2706 | 19 Oct 2024
Klinis : nausea berhubungan dengan kehamilan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan: Mual (Nausea) berhubungan dengan Kehamilan
Penjelasan Singkat:
Menurut Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), mual (nausea) berhubungan dengan kehamilan merupakan diagnosa keperawatan yang terjadi akibat adanya perubahan fisiologis selama masa kehamilan. Mual dan muntah pada kehamilan, yang sering disebut sebagai "morning sickness", merupakan gejala yang umum terjadi pada trimester pertama kehamilan.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) menyatakan bahwa luaran yang diharapkan dari penanganan mual (nausea) berhubungan dengan kehamilan adalah pasien mampu mengendalikan mual, tidak terjadi dehidrasi, dan pasien dapat mempertahankan asupan nutrisi yang adekuat.
Dalam Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI), intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi mual (nausea) berhubungan dengan kehamilan meliputi manajemen mual, manajemen nutrisi, dan edukasi. Intervensi-intervensi tersebut bertujuan untuk mencegah komplikasi, mempertahankan status hidrasi dan nutrisi yang adekuat, serta membantu pasien mengembangkan strategi koping yang efektif dalam menghadapi mual selama kehamilan.
Sebagai seorang pakar perawat, saya menekankan pentingnya pemahaman dan penerapan standar asuhan keperawatan SDKI, SLKI, dan SIKI dalam praktik keperawatan, khususnya dalam menangani kondisi mual (nausea) berhubungan dengan kehamilan. Pendekatan yang komprehensif dan berpusat pada pasien sangat diperlukan untuk memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas dan meningkatkan outcomes pasien. -
Article No. 2707 | 19 Oct 2024
Klinis : Seorang laki-laki berusia 65 tahun datang ke UGD dengan keluhan nyeri dada sebelah kiri sejak 3 jam yang lalu, dengan skala nyeri 7 dan kualitas seperti tertindih beban berat. Pasien mengatakan saat beraktifitas nyerinya meningkat dan saat istirahat nyeri tidak berkurang. Tanda-tanda vital diperoleh tekanan darah 110/ 72 mmHg, frekuensi nadi 143 kali/menit, frekuensi napas 28 kali/menit. Kemudian dokter memberikan Nitrogliserin untuk segera diberikan ke pasien.Apakah fungsi dari pemberian Nitrogliserin pada pasien?
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: 1. Kode ICD-10:
- Kode: I20.0
- Deskripsi: Angina pektoris tidak stabil
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.90
- Deskripsi: Pemberian obat secara intravena, tidak diklasifikasikan di tempat lain
Fungsi dari pemberian Nitrogliserin pada pasien adalah untuk mengatasi nyeri dada (angina pektoris) yang dialaminya. Nitrogliserin adalah obat vasodilatator yang bekerja dengan cara:
1. Melebarkan pembuluh darah koroner (arteri dan vena) sehingga meningkatkan aliran darah dan oksigen ke otot jantung.
2. Menurunkan beban jantung dengan mengurangi tekanan darah dan denyut jantung, sehingga mengurangi kebutuhan oksigen oleh miokardium.
3. Mengurangi retensi cairan, sehingga membantu mengatasi gejala seperti sesak napas.
Pemberian Nitrogliserin pada pasien dengan angina pektoris tidak stabil dapat memberikan efek cepat dalam mengatasi gejala nyeri dada dan membantu menstabilkan kondisi pasien. Pemberian Nitrogliserin secara intravena dapat memberikan efek yang lebih cepat dibandingkan dengan pemberian peroral. -
Article No. 2708 | 19 Oct 2024
Klinis : eorang pasien laki-laki berusia 65 tahun dirawat di rumah sakit dengan diagnosis stroke nonhemorrhage (SNH). Hasil pengkajian perawat ditemukan kelemahan pada ekstremitas kiri, nyeri kepala, sulit bicara, TD:170/95 mmHg, frekuensi nadi 88 x/mnt, suhu tubuh: 37°C danfrekuensi nafas 18 x/menit. Perawat menegakkan masalah ketidakefektifan perfusi jaringan serebral. Apakah tindakan keperawatan yang tepat?
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: 1. Kode ICD-10:
- Kode: I63.9
- Deskripsi: Stroke nonhemoragik, tidak spesifik
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 88.01
- Deskripsi: Pengukuran tekanan darah
Berdasarkan informasi yang diberikan, pasien laki-laki berusia 65 tahun dirawat di rumah sakit dengan diagnosis stroke nonhemoragik (SNH). Hasil pengkajian menunjukkan adanya kelemahan pada ekstremitas kiri, nyeri kepala, sulit bicara, tekanan darah tinggi (170/95 mmHg), denyut nadi 88 x/mnt, suhu tubuh 37°C, dan frekuensi napas 18 x/mnt. Perawat menegakkan masalah ketidakefektifan perfusi jaringan serebral.
Tindakan keperawatan yang tepat untuk kondisi ini mencakup:
1. Pemantauan tanda-tanda vital secara rutin, termasuk tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, dan frekuensi napas.
2. Pemberian oksigen, jika diperlukan, untuk memastikan oksigenasi jaringan yang adekuat.
3. Manajemen nyeri kepala dengan pemberian analgesik sesuai dengan instruksi dokter.
4. Terapi fisik dan okupasi untuk meningkatkan fungsi ekstremitas kiri yang lemah.
5. Terapi wicara untuk mengatasi kesulitan berbicara.
6. Pemberian obat-obatan antihipertensi, sesuai dengan instruksi dokter, untuk mengontrol tekanan darah.
7. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai kondisi stroke, gejala, dan manajemen perawatannya.
8. Kolaborasi dengan tim medis lainnya, seperti dokter, ahli gizi, dan terapis, untuk memberikan perawatan yang komprehensif.
Tujuan utama dari tindakan keperawatan ini adalah untuk memulihkan perfusi serebral yang efektif, mencegah komplikasi, dan memaksimalkan fungsi pasien. -
Article No. 2709 | 19 Oct 2024
Klinis : eorang pasien laki-laki usia 50 tahun dirawat di ICU. Pasien mengalami syok kardiogenik dan diberikan terapi oleh dokter Dopamin 10 mcg/kg/mnt melalui syringe pump. Berat badan pasien 60 kg. Sediaan obat 10 ml terdapat 200 mg dopamine. Diberikan dalam syringe 50ml.1 mg = 1000 mcg(Rumus : v = dosis x BB x 60 x Volume ) Sediaan obatBerapa volume yang diberikan setiap jam?
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis dan tindakan medis pada pasien tersebut adalah sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R57.0
- Deskripsi: Syok kardiogenik
2. Kode ICD-9-CM Procedure:
- Kode: 99.07
- Deskripsi: Pemberian obat vasoaktif, seperti dopamin, melalui infus intravena
Untuk perhitungan volume pemberian dopamin per jam, dapat digunakan formula sebagai berikut:
Rumus: Volume (ml/jam) = (Dosis x Berat Badan x 60) / Konsentrasi Larutan
Diketahui:
- Dosis dopamin: 10 mcg/kg/menit
- Berat Badan Pasien: 60 kg
- Konsentrasi Larutan: 200 mg/10 ml = 20 mg/ml = 20.000 mcg/ml
Perhitungan:
Volume (ml/jam) = (10 mcg/kg/menit x 60 kg x 60 menit) / 20.000 mcg/ml
Volume (ml/jam) = 18 ml/jam
Jadi, volume dopamin yang diberikan setiap jam adalah 18 ml.