Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23074 | 28 Nov 2025
Klinis : pasien di diagnosa ensafalopati, kesadaran apatis gcs 13, tekanan darah 55/39, tampak pucat, hb 10.4, akral teraba dingin, terdapat edema pada ekstremitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana volume darah yang dipompa oleh jantung per menit (curah jantung) tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : Tujuan dari asuhan keperawatan ini adalah untuk mempertahankan atau mengembalikan curah jantung yang adekuat, yang ditandai dengan stabilisasi tanda-tanda vital, perfusi jaringan yang memadai, dan penurunan gejala distress. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: Tekanan darah sistolik dalam rentang normal untuk pasien (misalnya >90 mmHg), tekanan darah diastolik dalam rentang normal untuk pasien (misalnya >60 mmHg), denyut nadi dalam rentang normal, nadi perifer teraba kuat dan simetris, pengisian kapiler kurang dari 2-3 detik, warna kulit normal (tidak pucat atau sianosis), kulit teraba hangat dan kering, haluaran urine adekuat (lebih dari 30 ml/jam), status mental normal (sadar dan orientasi baik), serta tidak adanya atau berkurangnya edema. Perawat akan memantau tanda-tanda vital secara ketat, menilai kualitas nadi, mengobservasi warna dan suhu kulit, memantau haluaran urine, serta mengevaluasi status neurologis untuk menilai pencapaian hasil ini.
Kode SIKI: I.07950
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk menangani penurunan curah jantung bersifat komprehensif dan bertujuan meningkatkan performa jantung serta memastikan perfusi jaringan yang adekuat. Langkah-langkah utamanya meliputi: Memantau dan mendokumentasikan tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) secara berkala, bahkan terus-menerus dalam kondisi kritis. Memposisikan pasien dengan posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memfasilitasi pernapasan dan mengurangi beban kerja jantung, hindari posisi trendelenburg yang justru dapat membebani jantung. Mempertahankan akses intravena yang paten untuk pemberian cairan dan obat-obatan. Memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan untuk memastikan kecukupan oksigenasi jaringan. Memantau status cairan dengan ketat, termasuk balance cairan, berat badan harian, dan adanya edema. Kolaborasi dalam pemberian terapi farmakologi sesuai resep dokter, seperti obat inotropik (misalnya Dobutamin, Dopamin) untuk meningkatkan kekuatan kontraksi jantung, vasopressor (misalnya Norepinefrin) untuk menaikkan tekanan darah, dan obat diuretik jika diperlukan untuk mengurangi beban volume. Melakukan pemantauan hemodinamik invasif (jika tersedia) seperti CVP (Central Venous Pressure) dan tekanan arteri untuk panduan yang lebih akurat. Menjaga lingkungan yang tenang dan membatasi aktivitas fisik pasien untuk menghemat energi dan mengurangi konsumsi oksigen miokard. Memberikan edukasi dan dukungan emosional kepada pasien dan keluarga mengenai kondisi dan penatalaksanaannya. Intervensi-intervensi ini dilakukan secara terintegrasi untuk mengoptimalkan fungsi jantung dan mencegah komplikasi lebih lanjut akibat perfusi yang tidak adekuat.
Kondisi: Gangguan Perfusi Perifer
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana aliran darah ke ekstremitas berkurang, mengakibatkan penurunan suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan.
Kode SLKI: L.03089
Deskripsi : Tujuan asuhan keperawatan adalah untuk memulihkan atau mempertahankan perfusi jaringan perifer yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: Nadi perifer dapat teraba dengan kuat dan simetris, pengisian kapiler kurang dari 2-3 detik, kulit ekstremitas hangat saat disentuh, warna kulit normal (tidak pucat, sianosis, atau kemerahan), tidak adanya nyeri atau kram pada ekstremitas, sensasi pada ekstremitas utuh, serta integritas kulit terjaga (tidak ada ulserasi atau gangren). Perawat akan melakukan penilaian nadi perifer (seperti nadi radial, dorsalis pedis, tibialis posterior), memeriksa pengisian kapiler dengan menekan kuku, mengobservasi warna dan suhu kulit, serta menanyakan adanya keluhan kesemutan, baal, atau nyeri untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi.
Kode SIKI: I.07957
Deskripsi : Intervensi keperawatan difokuskan untuk meningkatkan aliran darah ke daerah perifer dan mencegah cedera lebih lanjut pada jaringan. Tindakan-tindakan yang dilakukan meliputi: Memantau kualitas nadi perifer, pengisian kapiler, warna, suhu, dan sensasi pada ekstremitas secara teratur. Menghindari posisi yang dapat menekan pembuluh darah, seperti menyilangkan kaki atau menekuk lutut dalam waktu lama. Memposisikan ekstremitas yang terkena sedikit lebih rendah dari tingkat jantung (kecuali ada kontraindikasi seperti edema berat) untuk memfasilitasi aliran darah arteri. Memberikan penghangatan pada ekstremitas, namun hindari penggunaan bantal pemanas atau botol air panas langsung pada kulit karena risiko luka bakar pada kulit yang sensasinya mungkin terganggu. Mendorong mobilisasi dan latihan rentang gerak (ROM/range of motion) secara aktif atau pasif sesuai toleransi pasien untuk merangsang sirkulasi. Melindungi ekstremitas dari cedera, misalnya dengan menggunakan sepatu yang nyaman, menghindari jalan tanpa alas kaki, dan melakukan perawatan kaki dengan hati-hati. Kolaborasi dalam pemberian terapi farmakologi jika diperlukan, seperti obat vasodilator atau antiplatelet. Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda gangguan perfusi yang harus diwaspadai dan langkah-langkah perawatan diri untuk menjaga sirkulasi perifer.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Suhu Tubuh
Kode SDKI: D.0065
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana seseorang berisiko mengalami kegagalan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal.
Kode SLKI: L.03049
Deskripsi : Tujuan asuhan keperawatan adalah untuk mencegah terjadinya ketidakstabilan suhu tubuh, khususnya hipotermia, dengan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36-37,5°C). Kriteria hasil yang diharapkan adalah: Suhu tubuh aksila atau timpani tetap dalam rentang 36-37,5°C, kulit teraba hangat (tidak dingin atau berkeringat dingin), tidak terdapat menggigil (shivering), tanda-tanda vital stabil, dan pasien melaporkan perasaan nyaman secara termal. Perawat akan memantau suhu tubuh secara berkala, mengobservasi adanya tanda-tanda hipotermia seperti kulit dingin, pucat, dan menggigil, serta menilai kenyamanan termal pasien.
Kode SIKI: I.08016
Deskripsi : Intervensi keperawatan ditujukan untuk mempertahankan suhu tubuh inti dan mencegah kehilangan panas. Tindakan-tindakan yang dilakukan sangat penting terutama pada pasien dengan kondisi kritis dan akral dingin. Langkah-langkahnya meliputi: Memantau suhu tubuh secara teratur, setidaknya setiap 2-4 jam atau lebih sering jika kondisi tidak stabil. Mempertahankan suhu lingkungan ruangan yang hangat dan nyaman, hindari angin atau aliran udara langsung. Menutupi tubuh pasien dengan selimut, khususnya untuk bagian dada dan ekstremitas. Menggunakan penghangat tambahan seperti selimut hangat (warming blanket) atau penghangat radiant sesuai protokol, dengan memastikan tidak terjadi luka bakar. Memantau tanda-tanda vital untuk mendeteksi adanya perubahan yang mengindikasikan stres termal. Jika pasien mengalami hipotermia, lakukan pemanasan secara bertahap karena pemanasan yang terlalu cepat dapat menyebabkan komplikasi seperti vasodilatasi perifer dan syok. Meminimalkan paparan kulit pasien selama prosedur perawatan untuk mengurangi kehilangan panas. Memastikan pakaian atau linen pasien dalam keadaan kering, karena kelembaban dapat meningkatkan kehilangan panas secara konduksi dan evaporasi. Memberikan cairan intravena yang telah dihangatkan jika tersedia, untuk membantu mempertahankan suhu inti dari dalam. Intervensi ini dilakukan secara proaktif untuk melindungi pasien dari komplikasi lebih lanjut akibat ketidakstabilan suhu tubuh.
-
Article No. 23040 | 27 Nov 2025
Klinis : Kode SIKI identifikasi keadaan umum pasien baru
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Identifikasi Keadaan Umum Pasien Baru
Kode SDKI: A.1
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Suhu Tubuh adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami kegagalan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal. Pada pasien baru, kondisi ini perlu diidentifikasi secara dini untuk mencegah komplikasi lebih lanjut seperti hipotermia atau hipertermia. Faktor risiko dapat mencakup usia ekstrem (bayi baru lahir atau lansia), status nutrisi, adanya penyakit infeksi, kondisi lingkungan, atau prosedur medis tertentu. Diagnosa ini menekankan pada pentingnya pengkajian menyeluruh terhadap faktor-faktor yang dapat mempengaruhi termoregulasi tubuh pasien segera setelah masuk ke fasilitas kesehatan. Tujuannya adalah untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya ketidakstabilan suhu yang dapat memperburuk kondisi pasien, memperpanjang masa rawat, dan meningkatkan biaya perawatan kesehatan. Perawat memainkan peran kunci dalam memantau tanda-tanda vital, khususnya suhu tubuh, serta mengidentifikasi faktor risiko spesifik yang dimiliki oleh setiap pasien.
Kode SLKI: 0711A
Deskripsi : Pemantauan Suhu Tubuh adalah tindakan keperawatan sistematis untuk mengobservasi, mengukur, dan mencatat suhu tubuh pasien secara berkala. Tindakan ini dimulai dengan mencuci tangan untuk mencegah infeksi, kemudian memilih termometer yang tepat (aksila, oral, rektal, atau timpani) sesuai dengan kondisi dan kebijakan institusi. Perawat akan memastikan alat dalam keadaan bersih dan berfungsi dengan baik. Selama pengukuran, pasien diposisikan dengan nyaman untuk memastikan akurasi hasil. Suhu kemudian diukur selama waktu yang ditentukan, dicatat dengan teliti, dan dibandingkan dengan pengukuran sebelumnya serta rentang normal. Hasil pengukuran dilaporkan jika ditemukan abnormalitas. Tindakan ini juga mencakup edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya pemantauan suhu, tanda-tanda ketidakstabilan suhu yang perlu diwaspadai, serta langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mempertahankan suhu tubuh yang stabil, seperti menggunakan pakaian yang sesuai atau menghindari paparan suhu ekstrem. Pemantauan yang konsisten dan akurat merupakan dasar dari pencegahan dan deteksi dini masalah termoregulasi.
Kode SIKI: 0711
Deskripsi : Suhu Tubuh dalam Rentang Normal adalah kriteria hasil yang diharapkan dimana suhu tubuh pasien terpantau stabil antara 36,5°C hingga 37,5°C. Indikator ini dinilai melalui beberapa parameter kunci. Pertama, kulit pasien teraba hangat dan kering, tanpa tanda-tanda berkeringat berlebihan (yang dapat mengindikasikan upaya tubuh mendinginkan diri) atau kulit yang dingin dan lembap (tanda hipotermia atau syok). Kedua, denyut nadi dan frekuensi pernapasan pasien berada dalam rentang normal yang sesuai dengan usianya, karena ketidakstabilan suhu seringkali mempengaruhi sistem kardiovaskular dan pernapasan. Ketiga, pasien tidak menunjukkan perilaku gelisah atau mengeluh perasaan tidak nyaman yang ekstrem terkait suhu, seperti kedinginan atau kepanasan. Keempat, tidak ada fluktuasi suhu tubuh yang signifikan (misalnya, perbedaan lebih dari 1°C) dalam periode pemantauan, yang menunjukkan bahwa sistem termoregulasi tubuh berfungsi dengan baik. Pencapaian hasil ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan telah efektif dalam mencegah atau mengatasi risiko ketidakstabilan suhu, sehingga berkontribusi pada kenyamanan dan stabilitas kondisi klinis pasien secara keseluruhan.
-
Article No. 23041 | 27 Nov 2025
Klinis : Kode SIKI Pemantauan tingkat kesadaran
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: 0020
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat menyebabkan ketidakmampuan mempertahankan tingkat kesadaran normal.
Kode SLKI: 3400
Deskripsi : SLKI 3400 berfokus pada upaya untuk mempertahankan dan memantau perfusi serebral. Tindakan keperawatan yang termasuk dalam SLKI ini adalah memantau status neurologis secara ketat dan berkelanjutan, termasuk tingkat kesadaran (menggunakan skala Glasgow Coma Scale/GCS), ukuran dan reaksi pupil, tanda-tanda vital (terutama tekanan darah untuk memastikan tekanan perfusi serebral yang adekuat), serta fungsi motorik dan sensorik. Perawat juga akan memposisikan kepala pasien dalam posisi netral (biasanya elevasi kepala 30 derajat) untuk memfasilitasi aliran darah vena dari otak dan mengurangi tekanan intrakranial jika diperlukan. Pemberian terapi oksigen untuk memastikan suplai oksigen yang cukup ke jaringan otak juga merupakan intervensi kunci. Selain itu, perawat akan meminimalkan stimulasi yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial, mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, serta berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi farmakologis jika diperlukan. Tujuan akhir dari seluruh rangkaian intervensi ini adalah untuk mendeteksi secara dini setiap tanda penurunan perfusi serebral dan mengambil tindakan yang tepat untuk mencegah kerusakan neurologis lebih lanjut, sehingga kesadaran pasien dapat dipertahankan atau ditingkatkan.
Kode SIKI: 4328
Deskripsi : SIKI 4328 secara khusus mendefinisikan tindakan "Pemantauan Tingkat Kesadaran". Ini adalah tindakan keperawatan yang sistematis dan berkelanjutan untuk mengevaluasi status kesadaran pasien sebagai indikator utama dari fungsi serebral dan perfusi otak. Pemantauan ini jauh lebih dari sekadar menanyakan nama pasien; ini adalah proses yang terstruktur. Langkah pertama adalah menggunakan alat standar yang tervalidasi, paling umum adalah Glasgow Coma Scale (GCS). GCS menilai tiga komponen: respons mata (Eye), respons verbal (Verbal), dan respons motorik (Motor). Setiap komponen diberi skor, dan total skor GCS (dari 3 hingga 15) memberikan gambaran objektif tentang tingkat kesadaran, di mana skor rendah menunjukkan penurunan kesadaran yang signifikan. Perawat akan mendokumentasikan skor GCS ini secara berkala untuk melihat tren. Selain GCS, perawat juga memantau orientasi pasien terhadap orang, tempat, dan waktu. Perubahan seperti disorientasi atau kebingungan bisa menjadi tanda awal penurunan. Perilaku pasien juga diamati, termasuk adanya agitasi, lethargi, atau perubahan pola tidur. Pemantauan tingkat kesadaran juga mencakup pengamatan terhadap tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial, seperti sakit kepala hebat, muntah proyektil, atau penurunan GCS yang progresif. Tindakan ini membutuhkan keterampilan observasi yang tajam, pengetahuan tentang fisiologi neurologis, dan disiplin dalam pendokumentasian yang akurat. Data dari pemantauan ini menjadi dasar untuk mengevaluasi efektivitas intervensi yang dilakukan dan untuk mengambil keputusan klinis yang cepat, seperti melaporkan perubahan status neurologis kepada dokter. Dengan demikian, SIKI 4328 merupakan komponen kritis dalam rantai asuhan keperawatan neurologis yang bertujuan mencegah deteriorasi kondisi pasien.
-
Article No. 23042 | 27 Nov 2025
Klinis : Pasien banyak bicara, sering memberi perintah, pasien menjawab kadang tidak relevan dengan pertanyaan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Resiko Perilaku Kekerasan
Kode SDKI: 0024
Deskripsi Singkat: Seorang individu berisiko untuk menunjukkan perilaku yang dapat menyebabkan kerusakan fisik, emosional, dan/atau seksual pada diri sendiri, orang lain, atau lingkungan.
Kode SLKI: 3456
Deskripsi : Perilaku kekerasan dapat dicegah. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: Klien dapat mengidentifikasi faktor pemicu perilaku kekerasan, Klien dapat mengungkapkan perasaan marah, jengkel, dan kesal secara verbal tanpa melukai diri sendiri, orang lain, atau lingkungan, Klien dapat menunjukkan kemampuan koping yang adaptif dan konstruktif untuk mengelola amarah dan frustrasi, Klien dapat mematuhi rencana terapi dan pengobatan yang telah ditetapkan, serta Klien dapat menggunakan sumber dukungan sosial (keluarga, teman, tenaga kesehatan) ketika merasa ingin melakukan kekerasan. Tujuan utama dari SLKI ini adalah transformasi dari potensi agresi menjadi pengendalian diri dan komunikasi yang sehat.
Kode SIKI: 4234
Deskripsi : Manajemen Perilaku Kekerasan. Intervensi keperawatan ini melibatkan serangkaian tindakan yang sistematis dan terapeutik untuk mencegah atau mengendalikan perilaku agresif. Pertama, perawat harus melakukan observasi yang ketat dan terus-menerus terhadap tanda-tanda awal agitasi, seperti peningkatan volume suara, bicara yang cepat dan banyak (seperti pada kondisi pasien), gerakan tubuh yang tegang, mengepalkan tangan, dan ekspresi wajah yang marah. Kedua, penting untuk menciptakan lingkungan yang aman dan tenang, dengan memindahkan benda-benda yang berpotensi digunakan sebagai senjata dan memastikan ruangan tidak terlalu ramai atau penuh tekanan. Ketiga, membangun hubungan terapeutik dengan pendekatan yang tenang, empatik, dan tidak menghakimi adalah kunci. Berbicara dengan suara rendah dan nada yang menenangkan, mendengarkan secara aktif meskipun klien menjawab tidak relevan, dan mengakui perasaan mereka ("Saya melihat Bapak/Ibu sangat kesal") dapat membantu menurunkan ketegangan. Keempat, perawat perlu membantu klien mengenali tanda-tanda peringatan diri mereka sendiri yang mengarah pada kemarahan dan mengajarkan teknik penurunan ansietas segera, seperti latihan napas dalam, relaksasi otot progresif, atau mengalihkan perhatian ke aktivitas fisik yang aman (contohnya: berjalan di koridor). Kelima, kolaborasi dengan tim medis untuk evaluasi kebutuhan terapi farmakologis (obat antipsikotik atau penenang) sangat penting dalam fase akut. Keenam, setelah situasi terkendali, perawat harus melakukan debriefing dengan klien untuk merefleksikan kejadian tersebut, mengidentifikasi pemicu, dan merencanakan strategi koping yang lebih baik untuk masa depan. Intervensi ini juga mencakup edukasi kepada keluarga tentang cara merespons perilaku klien yang efektif dan kapan harus meminta bantuan.
-
Article No. 23043 | 27 Nov 2025
Klinis : Pasien banyak bicara, sering memberi perintah, pasien menjawab kadang tidak relevan dengan pertanyaan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gangguan Psikotik Lainnya
Kode ICD-10: F28
Deskripsi Singkat : F28 mengacu pada gangguan psikotik lainnya yang tidak memenuhi kriteria spesifik untuk gangguan seperti skizofrenia (F20), gangguan skizoafektif (F25), atau gangguan wahaman akut dan sementara (F23). Deskripsi pasien yang "banyak bicara, sering memberi perintah, dan menjawab kadang tidak relevan" menunjukkan adanya gejala psikotik positif, seperti inkoherensi (bicara kacau/tidak relevan) dan kemungkinan gejala grandiositas (sering memberi perintah). Gangguan ini ditandai dengan adanya delusi, halusinasi, pemikiran yang kacau, dan perilaku yang aneh atau tidak teratur, namun durasi atau kombinasi gejalanya tidak cukup untuk diagnosis yang lebih spesifik. Kode ini digunakan untuk mencatat kondisi psikotik atipikal atau campuran yang signifikan secara klinis dan menyebabkan distress atau gangguan dalam fungsi sosial atau pekerjaan, tetapi tidak dapat diklasifikasikan di tempat lain. Penting untuk menilai lebih lanjut untuk menyingkirkan penyebab organik, gangguan suasana hati, atau penggunaan zat yang dapat menimbulkan gejala serupa.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23044 | 27 Nov 2025
Klinis : Pasien banyak bicara, sering memberi perintah, pasien menjawab kadang tidak relevan dengan pertanyaan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perilaku Kekerasan
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Perilaku Kekerasan adalah keadaan di mana seorang individu menunjukkan perilaku yang dapat membahayakan diri sendiri, orang lain, atau lingkungan, yang dapat berupa ancaman verbal, agitasi fisik, atau destruksi properti. Pada kondisi pasien yang banyak bicara, sering memberi perintah, dan menjawab tidak relevan, hal ini dapat diidentifikasi sebagai fase verbal dari perilaku kekerasan, di mana energi agresif mulai diekspresikan melalui kata-kata dan sikap yang mendominasi.
Kode SLKI: 1406
Deskripsi : Mengendalikan Perilaku Kekerasan. Tujuan dari SLKI ini adalah untuk mencegah eskalasi perilaku kekerasan dari fase verbal ke fase fisik, memastikan keselamatan semua pihak, dan membantu pasien mendapatkan kembali kendali diri. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Membangun hubungan saling percaya dengan pendekatan yang tenang dan tidak mengancam. 2) Mengidentifikasi faktor pemicu perilaku kekerasan. 3) Memvalidasi perasaan marah pasien namun menetapkan batasan yang jelas terhadap perilaku yang tidak dapat diterima. 4) Menggunakan teknik komunikasi terapeutik seperti mendengarkan aktif dan memberikan pengakuan tanpa menyetujui perilaku kekerasan. 5) Mengalihkan energi agresif pasien ke aktivitas yang aman dan konstruktif. 6) Memodifikasi lingkungan dengan mengurangi stimulus yang berpotensi memicu, seperti kebisingan atau kerumunan orang. 7) Melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan tentang perawatannya untuk meningkatkan rasa kendali. 8) Mengajarkan teknik manajemen amarah dan keterampilan koping yang adaptif. 9) Memantau tanda-tanda peningkatan agitasi secara ketat. 10) Melakukan kolaborasi dengan tim kesehatan jiwa dan keluarga untuk menyusun rencana penanganan yang komprehensif.
Kode SIKI: 4213
Deskripsi : Manajemen Amarah. Kriteria hasil dari intervensi ini adalah pasien dapat menunjukkan kemampuan untuk mengenali dan mengungkapkan perasaan marah dengan cara yang tidak destruktif. Indikator yang dinilai meliputi: 1) Pasien dapat mengidentifikasi tanda-tanda fisiologis dan emosional yang mendahului amarah (seperti jantung berdebar, pikiran kacau). 2) Pasien dapat menyebutkan setidaknya dua strategi koping untuk menangani amarah sebelum menjadi tidak terkendali. 3) Pasien mampu menggunakan teknik relaksasi, seperti napas dalam atau menghitung, saat merasa frustasi. 4) Frekuensi dan intensitas ledakan verbal atau ancaman menurun secara signifikan. 5) Pasien dapat berkomunikasi dengan lebih relevan dan tidak mudah tersulut untuk memberi perintah. 6) Pasien menunjukkan kemampuan untuk meminta waktu jeda (time-out) ketika merasa kewalahan. 7) Pasien mulai dapat mengungkapkan kebutuhannya secara asertif tanpa harus mendominasi percakapan atau memerintah. 8) Pasien berpartisipasi dalam aktivitas yang menyalurkan energi secara positif. 9) Pasien melaporkan perasaan yang lebih tenang dan memiliki kendali yang lebih baik atas emosinya. Evaluasi terhadap kriteria ini dilakukan melalui observasi langsung terhadap interaksi pasien, wawancara, dan laporan dari pasien sendiri serta staf yang merawat.
-
Article No. 23045 | 27 Nov 2025
Klinis : DS: pasien mengatakan merasa lemas, sering pusing mempunyai riwayat keguguran sebelumnya tekanan darah rendah 90/80 mmhg
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: B.1
Deskripsi Singkat: Intoleransi aktivitas adalah keadaan di mana seorang individu mengalami ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau yang diinginkan. Pada kondisi pasien ini, keluhan lemas, pusing, dan tekanan darah rendah (90/80 mmHg) merupakan manifestasi langsung dari ketidakmampuan tubuh untuk memenuhi tuntutan energi selama melakukan aktivitas. Riwayat keguguran sebelumnya juga dapat menjadi faktor kontribusi, baik dari segi fisik (misalnya kehilangan darah) maupun psikologis (stres dan kecemasan), yang semakin menguras energi pasien. Ketidakseimbangan antara suplai oksigen (yang dibawa oleh darah) dan permintaannya untuk aktivitas otot dan otak inilah yang menyebabkan gejala lemas dan pusing, sehingga membatasi kemampuan pasien dalam beraktivitas.
Kode SLKI: 0611
Deskripsi : SLKI 0611 berfokus pada Manajemen Energi. Tujuannya adalah untuk membantu pasien dalam mengidentifikasi, mengatur, dan menghemat energi yang dimilikinya agar dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan tanpa memperburuk gejala. Implementasinya dimulai dengan pengkajian pola aktivitas dan istirahat pasien saat ini, termasuk faktor-faktor yang memicu kelelahan. Perawat akan mengajarkan teknik penghematan energi, seperti duduk saat melakukan aktivitas (misalnya mandi atau memasak), memecah tugas besar menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dikelola, dan menyelingi aktivitas dengan periode istirahat yang cukup. Perawat juga akan membantu pasien menyusun jadwal aktivitas harian yang seimbang, memprioritaskan aktivitas yang paling penting, dan mendelegasikan tugas yang terlalu berat. Dalam konteks tekanan darah rendah, perawat akan mengajarkan manuver perlahan saat perubahan posisi (dari tidur ke duduk, lalu berdiri) untuk mencegah pusing ortostatik. Monitoring respons fisiologis seperti denyut nadi dan pernapasan sebelum, selama, dan setelah aktivitas juga dilakukan untuk memastikan aktivitas yang dilakukan masih dalam batas toleransi. Dukungan emosional sangat penting mengingat riwayat keguguran, karena stres dapat memperparah intoleransi aktivitas. Dengan mengelola energi secara efektif, diharapkan pasien dapat meningkatkan tingkat partisipasinya dalam aktivitas sehari-hari secara bertahap dan aman.
Kode SIKI: 0611
Deskripsi : SIKI 0611 merupakan Intervensi Keperawatan Inti untuk Manajemen Energi, yang terdiri dari serangkaian tindakan spesifik dan terencana. Tindakan-tindakan ini meliputi: pertama, memantau tanda dan gejala kelelahan serta intoleransi aktivitas, seperti peningkatan denyut nadi yang signifikan, pucat, berkeringat, dan keluhan sesak napas atau pusing. Kedua, mengkaji faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kelelahan, termasuk status nutrisi, hidrasi, kualitas tidur, dan faktor psikologis seperti duka cita pasca keguguran. Ketiga, berkolaborasi dengan pasien dan keluarga untuk mengembangkan jadwal aktivitas dan istirahat yang terencana dan realistis, memasukkan waktu untuk relaksasi. Keempat, mengajarkan teknik penghematan energi, seperti menggunakan kursi di kamar mandi, menyimpan barang-barang yang sering digunakan dalam jangkauan mudah, dan menghindari aktivitas yang membutuhkan menunduk atau berdiri lama. Kelima, mendorong latihan rentang gerak pasif atau aktif ringan jika pasien harus bed rest untuk mempertahankan tonus otot tanpa menguras energi berlebihan. Keenam, memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya asupan nutrisi yang adekuat dan hidrasi yang cukup untuk membantu menstabilkan tekanan darah dan menyediakan bahan bakar bagi tubuh. Ketujuh, memberikan dukungan emosional dan ruang bagi pasien untuk mengekspresikan perasaannya terkait riwayat kegugurannya, karena beban emosional dapat secara signifikan menguras energi. Kedelapan, mengevaluasi efektivitas intervensi dengan menilai peningkatan kemampuan pasien dalam melakukan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (AKS) dan penurunan frekuensi keluhan lemas serta pusing. Intervensi ini bersifat dinamis dan akan disesuaikan kembali berdasarkan respons dan kemajuan kondisi pasien.
-
Article No. 23046 | 27 Nov 2025
Klinis : Px mengeluh gatal-gatal seluruh tubuh sejak 2 hari yang lalu dan terasa panas Px mengatakan sulit tidur karena sangat gatal Px terlihat gelisah dan terus menggaruk-garuk tangan dan tubuhnya tangan dan kaki px terlihat merah-merah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gatal-Gatal (Pruritus) dengan Gangguan Kualitas Tidur
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: 3410
Deskripsi : Manajemen Nyeri
Kode SIKI: 6500
Deskripsi : Manajemen Medikasi
Kondisi: Gangguan Pola Tidur
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Gangguan Pola Tidur
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Peningkatan Tidur
Kode SIKI: 6530
Deskripsi : Manajemen Lingkungan
Kondisi: Risiko Gangguan Integritas Kulit
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Risiko Gangguan Integritas Kulit
Kode SLKI: 1701
Deskripsi : Pemeliharaan Integritas Kulit
Kode SIKI: 4160
Deskripsi : Perawatan Luka
-
Article No. 23047 | 27 Nov 2025
Klinis : Tn R Klien mengatakan Batuk pilek sejak 3 hari yang lalu, kadang sesak nafas, mengatakan sulit, mengeluarkan sputum, tidak bisa menelan dan badan lemas. Tanda-tanda vital Tekanan darah : 130/90 mmHg Nadi : 90x/menit Suhu : 36,5 C̊ Respirasi : 31x/menit, pemeriksaan fisik paru terdengar suara ronchi. Klien tampak gelisah.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Perilaku yang diharapkan untuk mencapai dan mempertahankan bersihan jalan napas. Perawat memantau dan memfasilitasi klien dalam mempertahankan kepatenan jalan napas. Tindakan ini mencakup pemantauan frekuensi, irama, dan kedalaman pernapasan, serta adanya suara napas abnormal seperti ronchi, wheezing, atau stridor. Perawat akan memposisikan klien untuk memaksimalkan pertukaran udara, misalnya dengan posisi semi-Fowler atau Fowler. Dilakukan pula teknik batuk efektif dan latihan nafas dalam jika klien mampu. Manajemen sekresi dengan fisioterapi dada atau suctioning juga menjadi bagian penting. Pemberian oksigen sesuai kebutuhan dan memastikan hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan sekresi adalah intervensi kunci. Seluruh tindakan ini bertujuan untuk mencapai bunyi napas yang bersih, pola napas yang normal, dan tidak adanya sesak napas.
Kode SIKI: 1401
Deskripsi : Tindakan yang dilakukan perawat untuk mengelola bersihan jalan napas. Intervensi ini dimulai dengan pengkajian yang komprehensif terhadap status pernapasan klien, termasuk evaluasi bunyi napas (seperti mengidentifikasi ronchi), pola napas, frekuensi, dan upaya pernapasan. Perawat kemudian akan melakukan manajemen jalan napas dengan memposisikan klien secara tepat, mendemonstrasikan dan membantu latihan batuk efektif serta napas dalam. Jika diperlukan, perawat akan melakukan fisioterapi dada (postural drainage dan perkusi) untuk membantu mobilisasi sekresi. Manajemen sekresi juga dapat mencakup penggunaan humidifier atau nebulizer untuk melembabkan udara dan mengencerkan sputum. Pemberian cairan yang cukup secara oral atau intravena sangat penting untuk menjaga konsistensi sekresi yang encer. Perawat juga akan memberikan edukasi kepada klien dan keluarga tentang tanda-tanda gangguan jalan napas dan kapan harus mencari bantuan. Pemantauan respons klien terhadap terapi dan dokumentasi yang akurat merupakan bagian integral dari intervensi ini untuk memastikan efektivitas penanganan dan mencegah komplikasi lebih lanjut.
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Gangguan dalam pola inspirasi dan/atau ekspirasi yang menyebabkan ketidakcukupan ventilasi.
Kode SLKI: 0402
Deskripsi : Perilaku yang diharapkan untuk mencapai dan mempertahankan pola pernapasan yang efektif. Perawat berperan dalam memantau status pernapasan klien secara berkala, termasuk frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya yang digunakan. Tujuan utamanya adalah menstabilkan pola pernapasan klien hingga dalam rentang normal. Perawat akan memfasilitasi klien dengan mengajarkan dan membantu teknik pernapasan dalam, pernapasan bibir mengerucut (pursed-lip breathing), serta teknik relaksasi untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperburuk sesak napas. Posisi tubuh seperti duduk tegak atau condong ke depan (tripod position) akan dibantu untuk memudahkan ekspansi paru. Lingkungan juga diatur untuk memastikan sirkulasi udara yang baik. Pemantauan terhadap gas darah dan saturasi oksigen dilakukan untuk mengevaluasi keefektifan pertukaran gas. Dengan intervensi ini, diharapkan frekuensi pernapasan klien kembali normal, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan, serta klien melaporkan penurunan rasa sesak.
Kode SIKI: 1402
Deskripsi : Tindakan yang dilakukan perawat untuk mempertahankan pola napas yang adekuat. Intervensi diawali dengan pengkajian mendalam terhadap pola, kedalaman, dan frekuensi napas, serta faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti kecemasan dan nyeri. Perawat kemudian akan mengajarkan dan mendampingi klien dalam melakukan latihan pernapasan, seperti napas dalam dan pernapasan bibir mengerucut, untuk meningkatkan efisiensi ventilasi dan mengurangi ruang udara sisa. Manajemen posisi sangat krusial, dimana perawat akan membantu klien menemukan posisi yang paling nyaman untuk bernapas, biasanya posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi. Teknik manajemen kecemasan seperti relaksasi dan distraksi juga diterapkan karena kecemasan erat kaitannya dengan pola napas yang tidak teratur. Perawat akan memantau dan mengatur pemberian oksigen sesuai resep dan kebutuhan klien. Selain itu, kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian bronkodilator atau obat lain yang dapat memperbaiki pola napas juga dilakukan. Edukasi kepada keluarga untuk mendukung klien dalam melaksanakan teknik pernapasan dan mengenali tanda-tanda gawat napas merupakan bagian yang tidak terpisahkan.
Kondisi: Kecemasan
Kode SDKI: 0019
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman yang samar-samar atau takut yang disertai respons otonom (sumber sering tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan waspada dan tegang yang disebabkan oleh ancaman yang diantisipasi.
Kode SLKI: 1301
Deskripsi : Perilaku yang diharapkan untuk mengurangi dan mengelola perasaan cemas. Perawat bertujuan agar klien dapat mengidentifikasi dan menyatakan perasaan cemasnya. Klien diharapkan mampu mendemonstrasikan teknik relaksasi untuk menurunkan tingkat kecemasan. Perawat akan memfasilitasi klien dengan mendengarkan keluhannya dengan penuh perhatian (terapeutik) dan memberikan informasi yang akurat tentang kondisinya untuk mengurangi ketidakpastian, yang merupakan sumber kecemasan. Lingkungan yang tenang dan suportif diciptakan untuk menenangkan klien. Perawat juga akan membantu klien mengidentifikasi mekanisme koping yang positif dan mendukung klien dalam melakukannya. Tujuan akhirnya adalah klien tampak lebih tenang, mampu beristirahat dengan baik, dan melaporkan penurunan perasaan cemas secara subjektif.
Kode SIKI: 2510
Deskripsi : Tindakan yang dilakukan perawat untuk meminimalkan kecemasan. Intervensi dimulai dengan membangun hubungan saling percaya dan menerima kondisi klien. Perawat akan mendorong klien untuk mengekspresikan perasaan, kekhawatiran, dan persepsinya tentang penyakitnya. Memberikan informasi yang jujur dan realistis tentang prosedur dan kondisi kesehatan adalah langkah penting untuk mengurangi ansietas akibat ketidaktahuan. Perawat akan mengajarkan dan memandu klien dalam teknik relaksasi sederhana, seperti napas dalam, relaksasi otot progresif, atau imajinasi terbimbing. Mengurangi stimulus lingkungan yang tidak diperlukan dan mempertahankan ketenangan juga merupakan bagian dari intervensi. Dukungan emosional diberikan dengan terus menerus, dan keluarga dilibatkan untuk memberikan rasa aman. Perawat akan memantau respons emosional klien dan efektivitas intervensi yang diberikan, serta berkolaborasi jika diperlukan penanganan lebih lanjut untuk kecemasan berat.
-
Article No. 23048 | 27 Nov 2025
Klinis : Tn. F mengeluh sudah tiga hari yang lalu tidak bisa BAB, ada keinginan untuk BAB tetapi feses keluar lama dan sulit. Saat BAB ia juga mengeluh mengejan, perutnya terasa penuh padahal hanya makan sedikit. Tn. F mengatakan tidak pernah makan buah dan sayur, minum nya juga sedikit per hari. Tn. F mengatakan belum mengonsumsi obat apapun untuk membantu memperlancar BABnya. Pemeriksaan tanda-tanda vital yang didapatkan adalah sebagai berikut TD : 130/90 mmHg, N : 88x/menit, RR : 22x/menit, dan S : 37,5 derajat celcius
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Konstipasi
Kode SDKI: 0046
Deskripsi Singkat: Konstipasi didefinisikan sebagai penurunan frekuensi buang air besar dari biasanya, disertai dengan kesulitan atau rasa sakit saat mengeluarkan feses yang keras dan kering. Pada kasus Tn. F, kondisi ini dimanifestasikan dengan keluhan tidak bisa buang air besar selama tiga hari, meskipun ada keinginan untuk melakukannya. Proses defekasi berlangsung lama dan sulit, disertai dengan mengejan yang kuat. Sensasi perut terasa penuh meskipun asupan makanan sedikit juga merupakan gejala umum dari konstipasi. Faktor risiko utama yang teridentifikasi adalah pola hidup, yaitu asupan serat dari buah dan sayur yang tidak ada sama sekali serta asupan cairan harian yang sangat sedikit. Kedua faktor ini secara langsung berkontribusi pada pembentukan feses yang keras dan sulit dikeluarkan. Selain itu, tanda-tanda vital seperti tekanan darah yang sedikit meningkat (130/90 mmHg) dan frekuensi pernapasan yang meningkat (22x/menit) dapat menjadi respons tubuh terhadap ketidaknyamanan dan distensi abdomen. Suhu tubuh yang sedikit meningkat (37,5°C) juga perlu diwaspadai, meskipun kemungkinan besar terkait dengan proses penyerapan toksin dari feses yang tertahan (autointoksikasi) atau kondisi lain yang mendasari. Diagnosa ini menegaskan adanya gangguan dalam eliminasi usus yang memerlukan intervensi keperawatan untuk mengembalikan fungsi normal dan mencegah komplikasi seperti impaksi feses atau wasir.
Kode SLKI: 4078
Deskripsi : SLKI dengan kode 4078 berfokus pada pemulihan dan pemeliharaan eliminasi feses yang normal. Tujuan utamanya adalah agar Tn. F dapat mencapai pola buang air besar yang teratur, lunak, dan tanpa rasa sakit. Secara spesifik, luaran yang diharapkan meliputi: pertama, Tn. F mampu mendemonstrasikan peningkatan frekuensi buang air besar yang sesuai dengan pola normalnya. Kedua, feses yang dikeluarkan memiliki konsistensi yang lunak dan terbentuk, bukan keras dan kering. Ketiga, proses eliminasi berlangsung tanpa disertai rasa nyeri atau keharusan untuk mengejan berlebihan. Keempat, keluhan perut terasa penuh (distensi abdomen) berkurang secara signifikan atau hilang sama sekali. Kelima, Tn. F akan menunjukkan pemahaman dan mulai menerapkan perilaku hidup yang mendukung fungsi usus sehat, seperti meningkatkan asupan cairan dan serat. Pencapaian luaran ini akan dinilai melalui laporan subjektif Tn. F tentang pengalaman BAB-nya, observasi klinis oleh perawat terhadap distensi abdomen, dan evaluasi terhadap perubahan pola hidup yang dilakukannya. SLKI ini menjadi panduan untuk mengukur keberhasilan intervensi keperawatan yang diberikan.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : SIKI 4410 mencakup serangkaian intervensi keperawatan yang komprehensif untuk menangani konstipasi pada Tn. F. Intervensi ini dimulai dengan pemantauan yang cermat, termasuk mengkaji riwayat pola eliminasi biasa, kebiasaan diet, dan tingkat aktivitas fisik. Perawat akan mendokumentasikan frekuensi, konsistensi, jumlah, dan warna feses. Intervensi utama terletak pada manajemen diet. Perawat akan mendorong dan mengajarkan Tn. F untuk meningkatkan asupan serat secara bertahap hingga mencapai 25-30 gram per hari. Sumber serat yang dianjurkan termasuk buah-buahan segar (seperti pepaya dan pir), sayuran hijau, kacang-kacangan, dan biji-bijian utuh (seperti oatmeal dan roti gandum). Peningkatan asupan cairan sangat penting, dimana perawat akan menganjurkan Tn. F untuk minum minimal 2-3 liter air per hari, terutama air hangat di pagi hari untuk merangsang gerak usus (refleks gastrokolik). Intervensi lainnya adalah mempromosikan aktivitas fisik ringan hingga sedang, seperti berjalan kaki selama 15-20 menit setelah makan, karena aktivitas dapat meningkatkan motilitas usus. Perawat juga dapat melatih Tn. F tentang teknik manajemen toileting yang baik, seperti mencoba BAB pada waktu yang sama setiap hari (misalnya setelah sarapan) untuk memanfaatkan refleks gastrokolik, dan menghindari menunda keinginan untuk BAB. Posisi duduk yang benar di toilet (misalnya dengan menempatkan kaki di atas pijakan kecil sehingga lutut lebih tinggi dari pinggul) dapat mempermudah proses defekasi. Jika intervensi non-farmakologis tidak cukup, pemberian laksatif mungkin dipertimbangkan sesuai instruksi dokter, namun edukasi tentang bahaya penggunaan laksatif jangka panjang juga harus diberikan. Seluruh intervensi ini disertai dengan edukasi kesehatan yang berkelanjutan kepada Tn. F dan keluarganya mengenai pentingnya pola makan seimbang, hidrasi yang adequate, dan gaya hidup aktif sebagai strategi pencegahan konstipasi jangka panjang.