Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23482 | 04 Jan 2026
Klinis : pasien nn , umur 29 thn,mengalami demam selama 4 hari disertai mual, pusing dan juga BAB cair sebanyak 6 kali dan juga klien mengatakan perut nya melilit. diagnosa medis diare akut ec typhoid, untuk prioritas masalah diare, hipertermia, defisit nutrisi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diare
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Peningkatan frekuensi buang air besar dengan konsistensi cair.
Kode SLKI: L.03102
Deskripsi : Pasien menunjukkan eliminasi usus yang normal.
Kode SIKI: I.01241
Deskripsi : Intervensi Keperawatan: Manajemen Diare. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis yang bertujuan untuk mengurangi frekuensi dan memperbaiki konsistensi tinja, mencegah komplikasi (seperti dehidrasi dan gangguan elektrolit), serta meningkatkan kenyamanan pasien. Tindakan dimulai dengan pemantauan ketat terhadap frekuensi, volume, konsistensi, dan karakteristik tinja, serta tanda-tanda dehidrasi (seperti turgor kulit, membran mukosa, dan produksi urin). Asupan dan haluaran cairan dicatat dengan cermat untuk menilai keseimbangan cairan. Pasien didorong untuk meningkatkan asupan cairan oral, lebih disukai cairan rehidrasi oral (oralit) yang mengandung elektrolit, untuk menggantikan kehilangan cairan dan elektrolit dari diare. Modifikasi diet diterapkan, seperti memberikan makanan yang mudah dicerna (misalnya, pisang, nasi, apel, roti panggang/BRAT diet pada fase akut) dan menghindari makanan yang merangsang atau berlemak tinggi. Kebersihan perianal dijaga dengan membersihkan area tersebut dengan air hangat dan sabun lembut setelah setiap episode diare, serta mengoleskan pelindung kulit (seperti salep zinc oxide) untuk mencegah iritasi dan kerusakan kulit integritas. Edukasi kesehatan diberikan kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya higiene personal, terutama mencuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah buang air besar, untuk mencegah penyebaran infeksi. Faktor penyebab diare (dalam hal ini infeksi Salmonella typhi) dikelola dengan kolaborasi pemberian terapi antibiotik sesuai resep dokter dan memantau respons terapi. Pasien juga dimonitor untuk nyeri abdomen (melilit) dan ketidaknyamanan, serta diberikan manajemen nyeri yang sesuai. Evaluasi keberhasilan intervensi dilihat dari penurunan frekuensi diare, konsistensi tinja yang mengental, tidak ada tanda dehidrasi, dan kulit perianal yang tetap utuh.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal.
Kode SLKI: L.0801
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.0806
Deskripsi : Intervensi Keperawatan: Manajemen Hipertermia. Intervensi ini ditujukan untuk menurunkan suhu tubuh ke rentang normal, mengurangi ketidaknyamanan akibat demam, dan mencegah komplikasi seperti kejang atau dehidrasi berat. Tindakan utama meliputi pemantauan suhu tubuh secara berkala (setiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan) menggunakan termometer yang sesuai, serta memantau tanda-tanda vital lain seperti nadi, pernapasan, dan tekanan darah. Tindakan pendinginan fisik dilakukan seperti kompres hangat (terutama di daerah lipatan aksila dan lipat paha) atau mandi air hangat, dengan menghindari kompres dingin atau alkohol karena dapat menyebabkan menggigil dan vasokonstriksi yang justru memerangkap panas. Lingkungan diatur agar sejuk dan nyaman, misalnya dengan mengatur sirkulasi udara dan menggunakan pakaian yang tipis serta menyerap keringat. Asupan cairan ditingkatkan secara signifikan untuk menggantikan cairan yang hilang melalui penguapan (berkeringat) dan mencegah dehidrasi yang dapat memperparah hipertermia. Nutrisi yang adekuat diberikan dalam bentuk mudah dicerna untuk mendukung kebutuhan metabolik yang meningkat selama demam. Kolaborasi pemberian obat antipiretik (seperti parasetamol) sesuai resep dokter dilaksanakan dengan memantau efektivitas dan efek sampingnya. Pasien dan keluarga diedukasi tentang pentingnya istirahat untuk mengurangi produksi panas metabolik, teknik pengukuran suhu yang benar, dan kapan harus mencari bantuan medis jika demam tidak turun. Evaluasi keberhasilan dilihat dari suhu tubuh yang kembali normal, pasien merasa lebih nyaman, tidak terjadi komplikasi, dan pasien/keluarga memahami tindakan perawatan di rumah.
Kondisi: Defisit Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: L.0301
Deskripsi : Status nutrisi adekuat.
Kode SIKI: I.01124
Deskripsi : Intervensi Keperawatan: Manajemen Nutrisi. Intervensi ini bertujuan untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat sesuai kebutuhan tubuh pasien, mempertahankan atau meningkatkan berat badan, dan mendukung proses penyembuhan infeksi. Tindakan diawali dengan pengkajian status nutrisi secara komprehensif, termasuk riwayat asupan makanan, berat badan sebelum sakit dan saat ini, tanda klinis malnutrisi (seperti kelemahan, penurunan massa otot), serta faktor penyebab seperti anoreksia, mual, muntah, dan diare. Kolaborasi dengan ahli gizi dilakukan untuk menentukan kebutuhan kalori, protein, dan mikronutrien pasien. Pasien didorong untuk makan dalam porsi kecil namun sering (small frequent feeding) untuk mengurangi beban pencernaan dan mual. Makanan yang diberikan harus tinggi kalori dan protein (seperti telur, ikan, ayam, tahu, tempe) serta mudah dicerna, disesuaikan dengan toleransi pasien. Makanan yang merangsang, berlemak, atau terlalu pedas dihindari sementara. Strategi untuk mengatasi mual dan muntah diterapkan, seperti memberikan makanan kering (biskuit) sebelum bangun tidur, menghindari aroma makanan yang kuat, dan memastikan lingkungan makan yang nyaman. Suplemen nutrisi oral (misalnya susu tinggi protein) dapat diberikan jika asupan makanan biasa tidak mencukupi. Asupan cairan yang cukup juga dipantau untuk mendukung metabolisme nutrisi. Pemantauan berat badan dilakukan secara teratur (misalnya 2-3 kali seminggu) untuk menilai tren perubahan. Edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya nutrisi dalam penyembuhan, pemilihan jenis makanan, dan teknik pengelolaan gejala yang mengganggu makan. Evaluasi keberhasilan dilihat dari peningkatan asupan makanan, berat badan yang stabil atau meningkat, peningkatan kadar protein serum (seperti albumin), dan peningkatan energi serta kekuatan pasien.
-
Article No. 23483 | 04 Jan 2026
Klinis : hipertermia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal akibat kegagalan mekanisme termoregulasi tubuh.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal. Intervensi keperawatan untuk kondisi hipertermia bertujuan untuk mengembalikan dan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36-37,5°C aksila). Pencapaian SLKI ini ditandai dengan tanda-tanda vital stabil, tidak adanya keluhan panas, kulit teraba hangat dan tidak berkeringat berlebihan, serta tingkat kesadaran baik. Perawat akan memantau suhu tubuh secara berkala, mengidentifikasi faktor penyebab, dan melakukan intervensi untuk memfasilitasi pelepasan panas dari tubuh. Keberhasilan manajemen hipertermia tidak hanya diukur dari angka termometer, tetapi juga dari kenyamanan pasien dan stabilitas kondisi secara keseluruhan. Pemantauan berkelanjutan diperlukan untuk mencegah kekambuhan dan mengantisipasi komplikasi seperti dehidrasi atau kejang demam, terutama pada populasi rentan seperti anak-anak dan lansia.
Kode SIKI: 2610, 0802, 1360, 1920
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk menangani hipertermia bersifat komprehensif dan meliputi: 1. Manajemen Hipertermia (2610): Intervensi inti yang meliputi pemantauan suhu terus-menerus, memberikan lingkungan sejuk (mengatur suhu ruangan, menggunakan kipas angin), memberikan kompres hangat/tepid sponge (hindari air es karena dapat menyebabkan menggigil dan vasokonstriksi), serta meningkatkan sirkulasi udara. 2. Manajemen Cairan (0802): Hipertermia meningkatkan kehilangan cairan melalui evaporasi dan keringat. Intervensi ini mencakup pemberian cairan per oral atau intravena sesuai toleransi dan kebutuhan, memantau tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, output urin), dan mendorong intake cairan yang adekuat. 3. Pendidikan Kesehatan (1360): Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang penyebab hipertermia, tanda-tanda yang perlu diwaspadai, cara melakukan perawatan di rumah (seperti teknik kompres yang benar, pentingnya hidrasi), dan kapan harus mencari bantuan medis. Pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kemandirian dan mencegah kekambuhan. 4. Pengawasan (1920): Melakukan pemantauan ketat dan berkelanjutan terhadap tanda-tanda vital (terutama suhu, nadi, pernapasan), status neurologis (tingkat kesadaran, adanya kejang), dan respons terhadap terapi. Pengawasan juga mencakup identifikasi dini komplikasi potensial dan evaluasi efektivitas intervensi yang diberikan. Kombinasi SIKI ini dilakukan secara simultan dan terintegrasi, disesuaikan dengan etiologi hipertermia (misalnya infeksi, sengatan panas, atau reaksi obat) dan kondisi spesifik pasien, untuk mencapai outcome suhu tubuh yang normal dan mencegah kerusakan lebih lanjut.
-
Article No. 23484 | 04 Jan 2026
Klinis : hipertermia, diare, defisit nutrisi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 00027
Deskripsi Singkat: Risiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dalam batas normal. Hal ini dicapai melalui pemantauan tanda-tanda vital (terutama suhu, nadi, dan tekanan darah), pemantauan tanda-tanda dehidrasi atau kelebihan cairan (seperti turgor kulit, membran mukosa, produksi urin), serta pemberian dan pengaturan cairan intravena atau oral sesuai kebutuhan. Pada pasien dengan hipertermia dan diare, kehilangan cairan meningkat secara signifikan melalui mekanisme penguapan (diaforesis/berkeringat) dan pengeluaran melalui feses yang cair. Oleh karena itu, SLKI ini menjadi fokus utama untuk mencegah dehidrasi, syok hipovolemik, dan ketidakseimbangan elektrolit (seperti hipokalemia dan hiponatremia) yang dapat memperburuk kondisi pasien. Intervensi mencakup edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan cairan, pemantauan ketat intake dan output, serta kolaborasi pemberian terapi rehidrasi.
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi ini meliputi tindakan untuk mengurangi suhu tubuh yang meningkat di atas rentang normal. Pada kondisi hipertermia, tubuh mengalami peningkatan metabolisme dan kehilangan cairan melalui keringat. Tindakan keperawatan meliputi pemantauan suhu tubuh secara berkala, memberikan terapi pendinginan fisik (seperti kompres hangat/tepid sponge, pengaturan suhu ruangan, pakaian tipis), pemberian antipiretik sesuai kolaborasi atau protokol, serta peningkatan asupan cairan untuk menggantikan kehilangan cairan. Manajemen hipertermia yang efektif tidak hanya menurunkan suhu tetapi juga mengurangi risiko dehidrasi lebih lanjut dan beban metabolik pada tubuh. Penting untuk membedakan antara hipertermia dan demam, namun prinsip manajemen pendinginan dan hidrasi tetap relevan. Intervensi ini harus dilakukan bersamaan dengan upaya menemukan dan mengatasi penyebab hipertermia.
Kondisi: Defisit Nutrisi
Kode SDKI: 00002
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: 1104
Deskripsi : Status nutrisi. Tujuan keperawatan adalah meningkatkan atau mempertahankan status nutrisi yang adekuat. Pada pasien dengan diare dan hipertermia, defisit nutrisi terjadi karena asupan yang mungkin menurun (akibat mual, malaise), peningkatan kebutuhan metabolik akibat hipertermia, dan kehilangan nutrisi melalui feses yang cair (malabsorpsi). SLKI ini dicapai dengan melakukan pengkajian status nutrisi (berat badan, indeks massa tubuh, lingkar lengan atas, pemeriksaan laboratorium seperti albumin), memberikan makanan dalam porsi kecil namun sering dengan kandungan nutrisi tinggi dan mudah dicerna, memastikan lingkungan makan yang nyaman, serta melakukan kolaborasi dengan ahli gizi untuk penyusunan diet khusus. Pemenuhan nutrisi sangat penting untuk mendukung sistem imun dalam melawan infeksi (jika ada), memperbaiki jaringan, dan menyediakan energi. Nutrisi yang adekuat juga membantu pemulihan integritas mukosa usus yang mungkin terganggu akibat diare.
Kode SIKI: 1120
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi ini mencakup tindakan membantu atau memberikan nutrisi yang adekuat. Implementasinya meliputi membantu pasien dalam makan (jika lemah), memberikan edukasi tentang pentingnya nutrisi dan jenis makanan yang dianjurkan (misalnya diet BRAT: Banana, Rice, Applesauce, Toast pada fase pemulihan diare, atau makanan tinggi protein dan kalori), memantau toleransi makanan, serta mencatat asupan kalori dan protein harian. Pada kondisi akut dengan diare berat, mungkin diperlukan pendekatan bertahap dimulai dari cairan bening, lalu cairan penuh, hingga makanan padat. Kolaborasi pemberian suplemen nutrisi atau terapi nutrisi enteral/parenteral mungkin diperlukan jika defisit nutrisi sangat berat. Manajemen nutrisi yang baik secara langsung mendukung penyembuhan dan mencegah komplikasi seperti penurunan berat badan yang ekstrem, kelemahan otot, dan gangguan penyembuhan luka.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 00004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen.
Kode SLKI: 1801
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Tujuan keperawatan adalah mencegah dan mengontrol penyebaran infeksi. Hipertermia dan diare sering kali merupakan manifestasi dari suatu proses infeksi (bakteri, virus, parasit). SLKI ini menjadi sangat relevan untuk mencegah penularan kepada orang lain (jika infeksius) dan mencegah infeksi sekunder pada pasien yang sudah dalam keadaan lemah. Tindakan yang dilakukan termasuk penerapan kewaspadaan standar (cuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan pasien atau lingkungannya), kewaspadaan kontak (terutama dalam menangani feses), isolasi jika diperlukan, edukasi kepada pasien dan keluarga tentang kebersihan diri dan sanitasi (seperti mencuci tangan setelah BAB), serta memastikan lingkungan yang bersih. Kontrol infeksi juga mencakup pemantauan tanda-tanda infeksi baru dan memastikan terapi antibiotik atau antiparasit (jika diresepkan) diberikan tepat waktu dan dihabiskan. Pada pasien dengan defisit nutrisi, sistem imun dapat terganggu, sehingga risiko infeksi meningkat, membuat SLKI ini menjadi bagian integral dari rencana asuhan.
Kode SIKI: 6540
Deskripsi : Pengawasan Infeksi. Intervensi ini melibatkan pengumpulan dan analisis data pasien untuk mengidentifikasi tanda-tanda infeksi dan efektivitas pengobatan. Perawat akan memantau tanda-tanda vital (terutama pola demam/hipertermia), karakteristik diare (frekuensi, volume, konsistensi, warna, adanya darah/lendir), hasil pemeriksaan laboratorium (seperti leukosit, kultur darah atau feses), serta respons klinis pasien terhadap terapi. Pengawasan yang ketat memungkinkan deteksi dini komplikasi, evaluasi perkembangan penyakit, dan penyesuaian rencana asuhan keperawatan. Data dari pengawasan ini juga penting untuk menentukan apakah sumber infeksi telah teratasi, yang pada gilirannya akan mengurangi gejala hipertermia dan diare. Intervensi ini bersifat berkelanjutan dari fase akut hingga pemulihan.
-
Article No. 23485 | 04 Jan 2026
Klinis : hipertermia, diare, defisit nutrisi DS: - Klien mengatakan demam selama 4 hari - Klien mengatakan merasa lemas - klien mengatakan merasa pusing DO: - Suhu : 38 0C - Klien tampak lemas - Klien tampak sakit sedang - Klien tampak pucat - Akral teraba hangat - Nadi : 120 x/menit DS: - Klien mengatakan BAB cair 6×24 jam - Klien mengatakan perut nya melilit - Klien mengatakan tidak tahan dengan perut nya yang mulas DO: - Bising usus hiperaktif frekuensi >30×/menit. - Frekuensi BAB 6×24 jam. - Feses cair. - Abdomen teraba lunak - Nyeri tekan Regio Periumbilikal DS: - Klien mengatakan perut nya melilit - Klien mengatakan mual - klien mengatakan makan 3×1 dengan porsi ¼ - klien mengatakan merasa cepat kenyang setelah makan DO: - Klien tampak mengalami penurunan berat badan - Klien tampak mengalami penurunan nafsu makan -
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal yang berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh dalam mempertahankan suhu.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal. Tujuan akhir dari asuhan keperawatan adalah agar suhu tubuh klien kembali dan dapat dipertahankan dalam rentang normal (36,5°C - 37,5°C). Intervensi keperawatan diarahkan untuk mencapai tujuan ini melalui mekanisme pendinginan seperti kompres, pemberian cairan, pengaturan lingkungan, dan pemberian antipiretik sesuai instruksi. Pemantauan suhu tubuh secara berkala sangat penting untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan mencegah komplikasi seperti dehidrasi atau kejang demam.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi ini meliputi serangkaian tindakan sistematis untuk menurunkan suhu tubuh. Pertama, lakukan pemantauan tanda-tanda vital, terutama suhu, setiap 2-4 jam atau lebih sering sesuai kebutuhan. Kedua, lakukan tindakan pendinginan seperti kompres hangat/tepid sponge di area lipatan (aksila, lipat paha) dan dahi, mandikan dengan air hangat, serta pastikan lingkungan sejuk dan nyaman. Ketiga, tingkatkan asupan cairan per oral (air, jus, oralit) untuk mengganti kehilangan cairan melalui penguapan dan mencegah dehidrasi. Keempat, berikan terapi farmakologis (antipiretik seperti parasetamol) sesuai resep dokter dan pantau efektivitas serta efek sampingnya. Kelima, berikan edukasi pada klien/keluarga tentang penyebab demam, tanda-tanda dehidrasi, dan cara penanganan demam di rumah. Keenam, pantau tanda-tanda komplikasi seperti menggigil, kejang, atau penurunan kesadaran. Semua tindakan didokumentasikan dengan baik.
Kondisi: Diare
Kode SDKI: 00013
Deskripsi Singkat: Peningkatan frekuensi buang air besar dengan konsistensi cair atau lembek yang dapat disertai dengan peningkatan volume, yang berhubungan dengan faktor-faktor seperti infeksi, inflamasi, atau intoleransi makanan.
Kode SLKI: 0501
Deskripsi : Eliminasi feses dalam batas normal. Tujuan asuhan adalah agar klien kembali memiliki pola eliminasi feses yang normal, baik frekuensi (1-3x/hari), konsistensi (lunak hingga padat), dan volume yang biasa. Hal ini dicapai dengan mengatasi penyebab diare, mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit, serta melindungi integritas kulit perianal. Pemantauan frekuensi, karakteristik feses, dan tanda-tanda dehidrasi merupakan indikator keberhasilan intervensi.
Kode SIKI: 0440
Deskripsi : Manajemen Diare. Intervensi ini mencakup tindakan komprehensif untuk mengontrol diare dan mencegah komplikasi. Pertama, kaji frekuensi, volume, konsistensi, dan warna feses serta adanya nyeri atau tenesmus. Kedua, pantau tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, produksi urin, fontanel pada bayi) dan ketidakseimbangan elektrolit. Ketiga, lakukan rehidrasi dengan meningkatkan asupan cairan oral (oralit, air tajin, kuah sayur) atau pemberian cairan intravena sesuai indikasi. Keempat, kolaborasi pemberian farmakoterapi seperti antidiare, antibiotik, atau probiotik sesuai resep. Kelima, modifikasi diet dengan memberikan makanan hambar, rendah serat, dan tinggi kalori (seperti bubur, pisang, nasi tim) serta hindari makanan pedas, berlemak, dan susu sementara. Keenam, lakukan perawatan kulit perianal dengan membersihkan menggunakan air dan sabun lembut, dikeringkan dengan menepuk-nepuk, dan aplikasikan pelindung kulit (zinc oxide) untuk mencegah iritasi dan maserasi. Ketujuh, edukasi klien/keluarga tentang pentingnya higiene tangan, penanganan makanan yang aman, dan tanda-tanda dehidrasi yang harus diwaspadai.
Kondisi: Defisit Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 00002
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, yang ditandai dengan penurunan berat badan, asupan makanan kurang dari kebutuhan harian, atau penurunan nafsu makan.
Kode SLKI: 1104
Deskripsi : Status nutrisi membaik. Tujuan asuhan keperawatan adalah agar status nutrisi klien menunjukkan perbaikan, ditandai dengan peningkatan atau stabilisasi berat badan sesuai target, peningkatan asupan makanan dan cairan yang adekuat, serta perbaikan parameter biokimia (seperti albumin). Klien juga diharapkan memiliki pengetahuan tentang pilihan makanan yang bergizi sesuai kondisinya. Intervensi difokuskan pada identifikasi dan penanganan penyebab defisit nutrisi, peningkatan asupan, dan pemantauan respons tubuh.
Kode SIKI: 1120
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi ini meliputi tindakan untuk memastikan asupan nutrisi yang optimal. Pertama, lakukan pengkajian komprehensif meliputi riwayat diet, antropometri (berat badan, IMT), pemeriksaan fisik (tanda-tanda malnutrisi seperti penurunan massa otot, edema), dan faktor penghambat (mual, diare, nyeri). Kedua, kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori, protein, dan zat gizi lainnya serta merencanakan diet yang sesuai (misal: tinggi kalori tinggi protein/ TKTP, makanan lunak). Ketiga, lakukan intervensi untuk meningkatkan asupan, seperti menyajikan makanan dalam porsi kecil namun sering, menyajikan makanan favorit klien dalam keadaan menarik dan hangat, menciptakan lingkungan makan yang nyaman, serta memberikan suplemen nutrisi oral jika diperlukan. Keempat, atasi gejala yang menghambat makan seperti mual (dengan pemberian antiemetik) dan diare sebelum waktu makan. Kelima, pantau dan catat asupan makanan dan cairan setiap hari (output cairan juga). Keenam, timbang berat badan secara teratur (misal 2-3x seminggu) untuk memantau progres. Ketujuh, berikan edukasi kepada klien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi, pilihan makanan yang dianjurkan, dan strategi untuk mengatasi hambatan makan. Intervensi ini memerlukan pendekatan multidisiplin dan evaluasi berkelanjutan.
-
Article No. 23486 | 04 Jan 2026
Klinis : hipertermia DS: - Klien mengatakan demam selama 4 hari - Klien mengatakan merasa lemas - klien mengatakan merasa pusing DO: - Suhu : 38 0C - Klien tampak lemas - Klien tampak sakit sedang - Klien tampak pucat - Akral teraba hangat - Nadi : 120 x/menit diare DS: - Klien mengatakan BAB cair 6×24 jam - Klien mengatakan perut nya melilit - Klien mengatakan tidak tahan dengan perut nya yang mulas DO: - Bising usus hiperaktif frekuensi >30×/menit. - Frekuensi BAB 6×24 jam. - Feses cair. - Abdomen teraba lunak - Nyeri tekan Regio Periumbilikal defisit nutrisi DS: - Klien mengatakan perut nya melilit - Klien mengatakan mual - klien mengatakan makan 3×1 dengan porsi ¼ - klien mengatakan merasa cepat kenyang setelah makan DO: - Klien tampak mengalami penurunan berat badan - Klien tampak mengalami penurunan nafsu makan -
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal yang berhubungan dengan ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan atau melepaskan panas.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal. Kriteria hasil: 1) Suhu tubuh 36-37,5°C (aksila) atau 36,5-38°C (rektal), 2) Kulit hangat dan tidak berkeringat berlebihan, 3) Nadi dan pernapasan dalam rentang normal, 4) Klien melaporkan tidak adanya perasaan dingin atau panas yang berlebihan, 5) Tidak ada perubahan status mental (seperti gelisah, kebingungan).
Kode SIKI: I.08059
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi: 1) Monitor suhu, denyut nadi, tekanan darah, dan pernapasan secara teratur. 2) Observasi adanya kejang, kulit kemerahan, dan perubahan kesadaran. 3) Berikan terapi dingin secara non-farmakologis (kompres hangat/tepid sponge, selimut pendingin, lingkungan sejuk). 4) Anjurkan peningkatan asupan cairan dan nutrisi yang adekuat. 5) Kolaborasi pemberian terapi farmakologis (antipiretik) sesuai indikasi. 6) Anjurkan klien menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat. 7) Berikan pendidikan kesehatan tentang penyebab hipertermia dan cara penanganannya. 8) Monitor tanda-tanda dehidrasi. 9) Lakukan tirah baring untuk mengurangi produksi panas metabolik. 10) Catat pola fluktuasi suhu tubuh.
Kondisi: Diare
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Peningkatan frekuensi buang air besar dengan konsistensi cair atau lembek yang dapat disertai peningkatan volume, yang berhubungan dengan faktor infeksi, inflamasi, malabsorpsi, atau psikologis.
Kode SLKI: L.04002
Deskripsi : Eliminasi feses dalam batas normal. Kriteria hasil: 1) Frekuensi defekasi 1-3 kali per hari atau sesuai pola kebiasaan individu, 2) Konsistensi feses lunak hingga padat, 3) Tidak ada nyeri atau ketidaknyamanan saat defekasi, 4) Tidak ada darah, lendir, atau pus dalam feses, 5) Bising usus dalam rentang normal (5-35 kali/menit), 6) Klien melaporkan tidak adanya urgensi atau inkontinensia alvi.
Kode SIKI: I.04021
Deskripsi : Manajemen Diare. Intervensi: 1) Monitor frekuensi, volume, konsistensi, warna, dan bau feses. 2) Auskultasi bising usus. 3) Observasi tanda-tanda dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit (turgor kulit, membran mukosa, produksi urin). 4) Anjurkan peningkatan asupan cairan oral (air putih, oralit) sedikit-sedikit tapi sering. 5) Anjurkan diet BRAT (Banan, Rice, Applesauce, Toast) atau diet rendah serat dan lemak sementara. 6) Ajarkan dan anjurkan kebersihan perianal setelah BAB (mencuci dengan air dan sabun, mengeringkan dengan lembut). 7) Kolaborasi pemberian terapi farmakologis (antidiare, antibiotik, elektrolit) sesuai indikasi. 8) Monitor tanda-tanda syok hipovolemik. 9) Lakukan isolasi enterik jika dicurigai infeksius. 10) Berikan pendidikan kesehatan mengenai penyebab diare, pencegahan penularan, dan pentingnya hidrasi.
Kondisi: Defisit Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, yang ditandai dengan penurunan berat badan, asupan makanan kurang dari kebutuhan harian yang dianjurkan (AKG), atau adanya faktor yang mengganggu pemasukan/pencernaan makanan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Status nutrisi adekuat. Kriteria hasil: 1) Berat badan dalam rentang normal sesuai Indeks Massa Tubuh (IMT), 2) Asupan makanan dan cairan sesuai dengan kebutuhan, 3) Tidak ada penurunan berat badan yang tidak diinginkan, 4) Kadar albumin dan hemoglobin dalam rentang normal, 5) Klien melaporkan peningkatan nafsu makan, 6) Tanda klinis tidak menunjukkan defisit (kulit dan rambut sehat, mukosa lembab, massa otot terjaga).
Kode SIKI: I.03004
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi: 1) Kaji pola makan, riwayat diet, alergi, dan ketidaksukaan makanan. 2) Timbang berat badan secara teratur. 3) Monitor asupan dan output cairan serta kalori harian. 4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan jenis diet. 5) Anjurkan makan porsi kecil tapi sering dengan makanan tinggi kalori dan protein. 6) Ciptakan lingkungan makan yang nyaman dan mengurangi gangguan. 7) Berikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan. 8) Atur posisi duduk tegak atau semi-Fowler selama dan setelah makan. 9) Kolaborasi pemberian suplemen nutrisi atau vitamin sesuai indikasi. 10) Berikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya nutrisi dan pemilihan makanan yang tepat sesuai kondisi. 11) Kaji dan keluhan mual/muntah yang mengganggu intake.
-
Article No. 23488 | 04 Jan 2026
Klinis : pasien mengeloh - mual muntah 0 : •asupan, makan berrurang • Abdomen Hidak nyaman sadt palpasi • Berat badan trun Dispepsia Berhubungan dengar Irirasi mukosa lambung akibar InFeksi dan demam hnagi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami asupan nutrisi tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: B.1.1.1
Deskripsi : Asupan nutrisi adekuat. Kriteria hasil: 1) Menyatakan peningkatan nafsu makan. 2) Mengonsumsi makanan dan minuman sesuai dengan kebutuhan tubuh. 3) Berat badan dalam rentang normal. 4) Nilai laboratorium terkait nutrisi dalam batas normal. 5) Menunjukkan perilaku untuk meningkatkan asupan nutrisi.
Kode SIKI: B.1.1.1.1
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi: 1) Kaji faktor penyebab gangguan asupan nutrisi (mual, muntah, nyeri abdomen, dispepsia). 2) Monitor asupan makanan dan cairan setiap hari (catat jenis, jumlah, toleransi). 3) Timbang berat badan secara teratur (misal, 2-3 kali seminggu) dengan timbangan yang sama dan kondisi yang sama. 4) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan jenis diet yang sesuai (biasanya diet lambung: rendah serat, tidak merangsang, porsi kecil tapi sering). 5) Anjurkan pasien untuk makan dalam porsi kecil tetapi sering (6x sehari) untuk mengurangi distensi lambung dan rasa tidak nyaman. 6) Ciptakan lingkungan makan yang nyaman, bebas dari bau yang merangsang mual. 7) Anjurkan posisi duduk atau setengah duduk selama dan setelah makan untuk mencegah refluks. 8) Ajarkan teknik relaksasi sebelum makan untuk mengurangi ansietas yang dapat memperburuk dispepsia. 9) Kolaborasi pemberian obat antiemetik (untuk mual muntah) dan gastroprotektor sesuai resep. 10) Berikan edukasi tentang hubungan antara infeksi, demam, iritasi mukosa lambung, dan gejala yang dialami. 11) Lakukan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan untuk meningkatkan kenyamanan dan nafsu makan. 12) Evaluasi efektivitas intervensi dan modifikasi rencana berdasarkan respons pasien.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.1.1
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan akhir yang dapat diantisipasi.
Kode SLKI: D.1.1.1
Deskripsi : Kontrol nyeri. Kriteria hasil: 1) Melaporkan nyeri berkurang atau hilang. 2) Menunjukkan ekspresi wajah rileks. 3) Dapat beristirahat dan tidur dengan adekuat. 4) Mendemonstrasikan teknik nonfarmakologi untuk mengatasi nyeri. 5) Tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: D.1.1.1.1
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi: 1) Kaji karakteristik nyeri abdomen (lokasi, intensitas dengan skala 0-10, durasi, faktor pencetus dan pereda). 2) Observasi tanda-tanda nonverbal nyeri: wajah meringis, gelisah, postur melindungi abdomen, nafas pendek. 3) Monitor tanda vital (peningkatan nadi dan tekanan darah dapat mengindikasikan nyeri). 4) Ajarkan dan bantu teknik nonfarmakologi: napas dalam, distraksi, relaksasi, kompres hangat pada abdomen jika tidak ada kontraindikasi (panas dapat meningkatkan aliran darah dan relaksasi otot). 5) Atur posisi yang nyaman untuk pasien, biasanya semi-Fowler atau dengan lutut ditekuk untuk mengurangi ketegangan otot abdomen. 6) Kolaborasi pemberian analgesik atau antispasmodik sesuai resep dokter, dengan mempertimbangkan penyebab dispepsia (hindari NSAID yang dapat mengiritasi lambung). 7) Evaluasi efektivitas terapi farmakologi dan nonfarmakologi dalam mengurangi nyeri. 8) Berikan edukasi bahwa pengelolaan infeksi dan demam yang tepat akan membantu mengurangi iritasi mukosa dan nyeri. 9) Anjurkan untuk menghindari makanan/minuman yang memicu nyeri (pedas, asam, kopi, alkohol). 10) Ciptakan lingkungan tenang untuk mendukung istirahat dan mengurangi persepsi nyeri.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: C.1.4
Deskripsi Singkat: Keadaan individu yang berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: C.1.4.1
Deskripsi : Keseimbangan cairan. Kriteria hasil: 1) Tanda vital dalam rentang normal. 2) Turgor kulit baik. 3) Membran mukosa lembab. 4) Produksi urin adekuat (>0.5 ml/kgBB/jam). 5) Keseimbangan cairan intake dan output seimbang.
Kode SIKI: C.1.4.1.1
Deskripsi : Manajemen Cairan. Intervensi: 1) Monitor tanda-tanda dehidrasi akibat muntah dan demam: turgor kulit, mukosa mulut, mata cekung, rasa haus. 2) Pantau asupan dan keluaran cairan secara ketat (balance cairan). Ukur volume muntahan. 3) Monitor tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan) dan berat badan harian untuk mendeteksi perubahan cairan. 4) Anjurkan dan bantu intake cairan sedikit-sedikit tetapi sering (misal, 1-2 teguk setiap 15 menit) untuk mengurangi risiko muntah. Gunakan cairan oralit atau air putih hangat. 5) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai resep jika asupan oral tidak adekuat atau muntah hebat. 6) Berikan perawatan mulut yang sering untuk menjaga kelembaban mukosa dan mengurangi rasa tidak nyaman. 7) Observasi warna dan berat jenis urin sebagai indikator konsentrasi urin. 8) Kolaborasi pemberian obat antipiretik untuk mengendalikan demam, sehingga mengurangi kehilangan cairan insensible. 9) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga asupan cairan meski nafsu makan berkurang. 10) Atur lingkungan yang sejuk untuk meminimalkan keringat berlebih.
-
Article No. 23490 | 04 Jan 2026
Klinis : seorang anak usia 6 tahun daataang dengan keluhan demam sejak tadi malam tapi sudah tidak demam lagi dan badan terasa tidak enak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Suhu Tubuh
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan, penurunan, atau ketidakstabilan suhu tubuh yang tidak efektif.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Pengaturan Suhu Tubuh: Kemampuan tubuh mempertahankan suhu dalam batas normal. SLKI ini diukur dengan kriteria hasil seperti suhu tubuh dalam rentang normal (36,5°C – 37,5°C), kulit hangat dan kering, tidak ada menggigil atau berkeringat berlebihan, serta tingkat kenyamanan pasien yang baik. Pada anak usia 6 tahun, kemampuan regulasi suhu sudah lebih matang dibandingkan bayi, namun masih lebih rentan terhadap fluktuasi cepat dibandingkan dewasa karena rasio luas permukaan tubuh terhadap massa yang lebih tinggi dan sistem respons fisiologis yang masih dalam perkembangan. Pemantauan yang cermat terhadap pola demam, respons terhadap terapi, dan tanda-tanda ketidaknyamanan sangat penting untuk mengevaluasi keberhasilan intervensi keperawatan dalam mencapai tujuan pengaturan suhu tubuh yang stabil.
Kode SIKI: 1400
Deskripsi : Manajemen Hipertermia: Intervensi untuk mengurangi suhu tubuh tinggi. SIKI ini meliputi serangkaian tindakan yang direncanakan dan ilmiah. Pertama, memantau suhu tubuh secara teratur (setiap 2-4 jam atau sesuai kondisi) untuk mengidentifikasi pola dan respons terhadap intervensi. Kedua, memberikan terapi antipiretik (seperti parasetamol atau ibuprofen) sesuai resep dokter dengan dosis yang tepat berdasarkan berat badan anak, bukan hanya usia, dan memastikan interval pemberian yang aman. Ketiga, melakukan tindakan pendinginan fisik seperti kompres hangat (bukan dingin atau alkohol) di area lipatan tubuh (ketiak, selangkangan) dan dahi, karena kompres hangat menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah perifer sehingga memfasilitasi pelepasan panas tanpa menyebabkan menggigil yang justru meningkatkan produksi panas. Keempat, meningkatkan asupan cairan (air, kuah sup, susu) untuk mencegah dehidrasi yang dapat memperburuk demam dan membantu proses termoregulasi melalui evaporasi. Kelima, mengatur lingkungan yang nyaman, seperti menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat, menjaga sirkulasi udara ruangan, serta mengatur suhu kamar yang sejuk. Keenam, memberikan edukasi kepada orang tua tentang penyebab demam, cara pengukuran suhu yang akurat, tanda-tanda bahaya (seperti kejang, leher kaku, penurunan kesadaran), dan pentingnya tirah baring. Intervensi ini harus dilakukan secara holistik, mempertimbangkan kondisi "badan terasa tidak enak" yang dialami anak, yang mungkin mencakup malaise, anoreksia, atau nyeri, sehingga perawat juga perlu memberikan dukungan kenyamanan psikologis dan manajemen gejala terkait. Pendekatan keluarga sangat vital, melibatkan orang tua dalam setiap langkah intervensi untuk meningkatkan kepatuhan dan pemahaman, serta mengurangi kecemasan keluarga.
-
Article No. 23491 | 04 Jan 2026
Klinis : seorang anak usia 6 tahun daataang dengan keluhan demam sejak tadi malam tapi sudah tidak demam lagi dan badan terasa tidak enak TB: 106 cm BB : 17,6 kg S : 36,6 TD : 100/70 mmHg RR : 18x/menit N : 80x/menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Suhu Tubuh
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakseimbangan suhu tubuh adalah kondisi di mana seseorang rentan mengalami kegagalan mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal. Pada kasus anak ini, meskipun saat ini suhu tubuh normal (36,6°C), riwayat demam tadi malam menunjukkan ketidakstabilan termoregulasi. Demam merupakan respons terhadap pirogen (zat pemicu demam) yang menggeser set point hipotalamus. Setelah fase demam, dapat terjadi fase berkeringat dan penurunan suhu hingga di bawah set point normal, sehingga memerlukan pemantauan ketat untuk mencegah hipotermia atau kembalinya demam. Faktor risiko pada anak usia 6 tahun termasuk sistem termoregulasi yang masih berkembang dan respons imun yang aktif terhadap infeksi (yang mungkin masih ada meskipun demam reda).
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Pemantauan Suhu Tubuh. Intervensi keperawatan ini melibatkan pengukuran dan interpretasi suhu tubuh secara teratur dan akurat untuk mendeteksi penyimpangan dari rentang normal. Pada anak ini, pemantauan harus mencakup: pengukuran suhu setiap 4-6 jam menggunakan termometer yang sesuai (aksila/ timpani), pencatatan tren suhu, observasi tanda terkait seperti menggigil, berkeringat, kulit pucat atau kemerahan, serta keluhan subjektif "badan tidak enak". Pemantauan juga mencakup faktor lingkungan yang mempengaruhi suhu tubuh. Tujuannya adalah memberikan data obyektif untuk mengevaluasi efektivitas respon tubuh dan mendeteksi dini komplikasi. Pengukuran harus memperhatikan teknik yang benar untuk memastikan akurasi, mengingat fluktuasi suhu pada anak bisa cepat.
Kode SIKI: 3520A
Deskripsi : Mengukur Suhu Tubuh. Tindakan spesifik ini adalah komponen kritis dari SLKI Pemantauan Suhu Tubuh. Langkah-langkahnya meliputi: 1) Mempersiapkan alat (termometer digital, pelindung sekali pakai) dan mencuci tangan. 2) Menjelaskan prosedur pada anak dan orang tua. 3) Memastikan area pengukuran kering (ketiak). 4) Menempatkan ujung termometer di aksila tengah dan menekan lengan anak ke tubuh. 5) Menunggu hingga alarm berbunyi. 6) Membaca dan mencatat hasil (36,6°C). 7) Membandingkan dengan nilai sebelumnya dan rentang normal untuk usia. 8) Memberikan informasi pada keluarga. 9) Mencuci tangan kembali. Pada kasus ini, pengukuran menunjukkan suhu normal, tetapi riwayat demam mengharuskan pengukuran berulang. Teknik harus dilakukan dengan pendekatan yang menenangkan untuk mengurangi kecemasan anak, yang dapat mempengaruhi pembacaan. Dokumentasi yang akurat sangat penting untuk melacak pola suhu.
-
Article No. 23492 | 04 Jan 2026
Klinis : seorang anak usia 6 tahun daataang dengan keluhan demam sejak tadi malam tapi sudah tidak demam lagi dan badan terasa tidak enak TB: 106 cm BB : 17,6 kg S : 36,6 TD : 100/70 mmHg RR : 18x/menit N : 80x/menit
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Demam, tidak spesifik
Kode ICD-10: R50.9
Deskripsi Singkat : Pasien anak usia 6 tahun datang dengan riwayat demam yang telah mereda, disertai keluhan badan tidak enak. Parameter vital saat ini dalam batas normal untuk usianya. Kode R50.9 mengindikasikan "Demam, tidak spesifik" atau "Demam yang tidak diketahui asalnya (PUO)" dalam konteks episode akut yang telah teratasi. Kode ini digunakan ketika demam merupakan gejala utama yang dilaporkan, tetapi penyebab pastinya belum dapat ditentukan hanya dari informasi yang tersedia dan tidak ada indikasi infeksi spesifik (seperti saluran pernapasan atau pencernaan) yang mendominasi gambaran klinis. Dalam konteks pelatihan, kode ini menekankan pentingnya pencatatan gejala yang akurat dan pengkodean yang tepat untuk keluhan umum sebelum diagnosis definitif ditegakkan. Penggunaan kode dari bab "Gejala dan Tanda" (R00-R99) seperti ini adalah umum dalam kunjungan awal ketika evaluasi lebih lanjut mungkin masih diperlukan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23466 | 02 Jan 2026
Klinis : Keluhan Utama : Batuk berdahak, sesak napas, sulit bernapas Riwayat Keluhan Utama : Pasien datang ke IGD RS pada hari Jumat tgl 19 Desember 2025 pada pukul 10.22 pagi dengan keluhan orang tua pasien mengatakan anaknya sesak napas sejak 3 jam SMRS, batuk (+) sejak pagi ini, dan sulit bernapas. Pasien memiliki riwayat penyakit asma dan memiliki alatt/obat semprot, hanya saat ini obat semprot habis. Pemeriksaan TTV saat di IGD : TD = 125/115 mmHg, N = 147 x/menit, Temp = 35,80C, RR = 33x/menit, SPO2 = 84%, GCS = E4V5M6 (composmentis). Saat di IGD, setelah diberikan O2 melalui simple mask sebanyak 6 lpm, SPO2 menjadi 95%. Saat di IGD dilakukan observasi ketat terhadao kondisi pasien. Setelah kondisi stabil, pada pukul 18.43, pasien dipindahkan ke ruang anak Alexandri lt.2. Di ruangan dilakukan pemeriksaan TTV kembali dan didapatkan hasil N = 149 x/menit, Temp = 36,80C, RR = 40x/menit, SPO2 = 95% (dengan NK 3 lpm), GCS = E4V5M6 (composmentis), dengan keluhan masih ada batuk berdahak, sesak masih ada namun berkurang. Keluhan Pada Saat Pengkajian : Pada tanggal 22 Desember 2025, tim mahasiswa keperawatan melakukan pengkajian lebih dalam terkait kondisi pasien. Adapun saat pengkajian pada pukul 14.00, keluhan utama yang dirasakan pasien adalah batuk berdahak yang masih ada, masih terpasang oksigen NK 2 lpm dan keluhan sesak dan sulit bernapas masih ada, namun sudah berkurang dibandingkan dengan hari sebelumnya. Hasil pemeriksaan TTV : TD = 120/90 mmHg, N = 101 x/menit, Temp = 36,10C, RR = 32x/menit, SPO2 = 97% (NK, 2 lpm), GCS = E4V5M6 (composmentis). B. Riwayat Kesehatan Lalu Klien pernah mengalami penyakit : Batuk, pilek, pada umur : 9-10 tahun diberikan obat oleh : dokter puskesmas Riwayat kecelakaan : Tidak ada Riwayat mengkonsumsi obat-obatan berbahaya tanpa anjuran dokter dan menggunakan zat/subtansi kimia yang berbahaya : Tidak ada Perkembangan anak dibanding saudara-saudaranya : Sesuai pasien mengatakan keluarga pasien memiliki riwayat penyakit hipertensi dan asma IV. Riwayat Tumbuh Kembang A. Pertumbuhan Fisik 1. Berat badan : 65,7 kg 2. Tinggi badan : 150 cm. 3. Waktu tumbuh gigi 1 tahun gigi tanggal 3x Jumlah gigi 24 (lengkap) buah. Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit 1. Selera makan Normal 3x sehari 1 porsi habis bisa tambah Menurun 3x sehari ½ porsi Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit 1. Jenis minuman 2. Frekuensi minum 3. Kebutuhan cairan 4. Cara pemenuhan Air putih dingin, minuman manis 1-4 gelas/hari (minuman manis, terutama teh), 2 gelas/hari (air putih) 2.460 ml/24 jam Oral Air putih biasa, infus D5+ ½ NS Jarang, kalau haus saja 2.414 ml/24 jam Oral dan IV Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit 1. Tempat pembuangan 2. Frekuensi (waktu) 3. Konsistensi 4. Kesulitan 5. Obat pencahar Kamar Mandi/WC BAB = 1-3 x/hari BAK = > 5x/hari BAB = Lembek, warna kuning BAK = kuning biasa Tidak ada Tidak ada Kamar Mandi/WC BAB = 2 x/hari BAK = 3 x/hari BAB = Padat, kuning biasa BAK = kuning pekat Tidak ada Tidak ada Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit 1. Jam tidur - Siang - Malam 2. Pola tidur 3. Kebiasaan sebelum tidur 4. Kesulitan tidur Jarang, saat keuyuhan saja Pukul 9 malam – 6 pagi Teratur Tidak ada Tidak ada Sering, tidur-tidur ayam Pukul 9 malam-10 malam, bangun jam 1 pagi, tidur lagi hingga pagi jam 10 pagi Tidak Teratur Tidak ada Tidak ada Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit 1. Program olah raga 2. Jenis dan frekuensi 3. Kondisi setelah olah raga Mengikuti jadwal pelajaran olahraga di sekolah Main bola, berjalan, lari Ngos-ngosan, lelah Tidak ada Tidak ada Tidak ada Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit 1. Mandi Cara Frekuensi Alat mandi 2. Cuci rambut Frekuensi Cara 3. Gunting kuku Frekuensi Cara 4. Gosok gigi Frekuensi Cara Sabun + air mengalir 2x/hari Pribadi 2x/hari (bersamaan dengan mandi) Sampo + air mengalir Kadang-kadang Menggunakan alat penggunting kuku 2x/hari Odol + sikat gigi Tidak ada 1x/hari dibasahi saja, tanpa sampo Tidak ada 1x/hari, setiap hari Odol + sikat gigi Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit 1. Kegiatan sehari-hari 2. Pengaturan jadwal harian 3. Penggunaan alat Bantu aktifitas 4. Kesulitan pergerakan tubuh Bangun tidur, sikat gigi, makan, jalan, bermain bersama teman di sekolah, main game, belajar Jadwal pagi-siang mengikuti jadwal sekolah, setelah pulang sekolah tidak ada jadwal tertentu yang dibuat, belajar saat ada PR saja Tidak ada Tidak ada Bangun tidur, sikat gigi, makan, main hape, tidur, berulang-ulang Tidak ada Tidak ada Tidak ada Kondisi Sebelum Sakit Saat Sakit 1. Perasaan saat sekolah 2. Waktu luang 3. Perasaan setelah rekreasi 4. Waktu senggang klg 5. Kegiatan hari libur Senang karena ketemu teman, sisanya lebih ke biasa saja Di rumah, main hape/game Senang Ke rumah nenek, main Berdiam diri, di rumah, main hape/game Saat sakit, bersamaan dengan waktu liburan sekolah, sehingga pasien menghabiskan waktu di RS (rawat inap) Pemeriksaan Fisik 1. Keadaan umum : Sakit Sedang 2. Kesadaran : Composmentis (GCS = E4V5M6) 3. Tanda – tanda vital : a. Tekanan darah : 120/90 mmHg b. Denyut nadi : 101 x / menit c. Suhu : 36,1o C d. Pernapasan : 32 x/ menit 4. Berat Badan : 65,7 kg 5. Tinggi Badan : 150 cm 6. Kepala Inspeksi Keadaan rambut & Hygiene kepala : Bersih, namun berminyak a. Warna rambut : Hitam b. Penyebaran : Distribusi rata c. Mudah rontok : Tidak d. Kebersihan rambut : Bersih, namun berminyak Palpasi Benjolan : ada / tidak ada : Tidak ada Nyeri tekan : ada / tidak ada : Tidak ada Tekstur rambut : kasar/halus : Halus 7. Muka Inspeksi a. Simetris / tidak : Simetris b. Bentuk wajah : Bulat c. Gerakan abnormal : Tidak ada d. Ekspresi wajah : Normal Palpasi Nyeri tekan / tidak : Tidak ada Data lain : Tidak ada 8. Mata Inspeksi a. Pelpebra : Edema / tidak Radang / tidak b. Sclera : Icterus / tidak c. Conjungtiva : Radang / tidak Anemis / tidak d. Pupil : Isokor / anisokor Myosis / midriasis Refleks pupil terhadap cahaya : +/+ e. Posisi mata : Simetris / tidak : Simetris f. Gerakan bola mata : Normal g. Penutupan kelopak mata : Tertutup seluruhnya h. Keadaan bulu mata : Panjang dan distribusi rata i. Keadaan visus : Normal 6/6 j. Penglihatan : Kabur / tidak Diplopia / tidak Palpasi Tekanan bola mata : Teraba kenyal Data lain : Tidak ada 9. Hidung & Sinus Inspeksi a. Posisi hidung : Simetris/midline b. Bentuk hidung : Normal c. Keadaan septum : Tidak ada deviasi d. Secret / cairan : Ada, kental berwarna putih kekuningan Data lain : Tidak ada 10. Telinga Inspeksi a. Posisi telinga : Simetris sejajar kantus mata b. Ukuran / bentuk telinga : Normal c. Aurikel : Tidak ada lesi/nyeri d. Lubang telinga : Bersih / serumen / nanah e. Pemakaian alat bantu : Tidak ada Palpasi Nyeri tekan / tidak : Tidak ada Pemeriksaan uji pendengaran a. Rinne : Positif (+) b. Weber : Tidak Terkaji c. Swabach : Sama dengan pemeriksa Pemeriksaan vestibuler : Normal Data lain : Tidak ada 11. Mulut Inspeksi a. Gigi - Keadaan gigi : Lengkap - Karang gigi / karies : Tidak ada - Pemakaian gigi palsu: Tidak ada b. Gusi Merah / radang / tidak : Merah muda, tidak radang c. Lidah Kotor / tidak : Tidak d. Bibir - Cianosis / pucat / tidak : Tidak - Basah / kering / pecah : Kering - Mulut berbau / tidak : Tidak - Kemampuan bicara : Normal Data lain : Tidak ada 12. Tenggorokan a. Warna mukosa : Merah muda b. Nyeri tekan : Tidak ada c. Nyeri menelan : Tidak ada 13. Leher Inspeksi Kelenjar thyroid : Membesar / tidak Palpasi a. Kelenjar thyroid : Teraba / tidak b. Kaku kuduk / tidak: Tidak c. Kelenjar limfe : Membesar atau tidak Data lain : Tidak ada 14. Thorax dan pernapasan a. Bentuk dada : Simetris b. Irama pernafasan : Cepat, namun dangkal (RR = 32x/menit) c. Pengembangan di waktu bernapas : Sedikit asimetris d. Tipe pernapasan : Dada-perut Data lain : Tidak ada Palpasi a. Vokal fremitus : Taktil fremitus punggung kiri sedikit menurun dibandingkan kanan b. Massa / nyeri : Tidak ada Auskultasi a. Suara nafas : Vesikuler / Bronchial / Bronchovesikuler b. Suara tambahan : Ronchi / Wheezing / Rales Perkusi Redup / pekak / hypersonor / tympani Data lain: Tidak ada 15. Jantung Palpasi Ictus cordis : teraba di ICS V Midclavicula kiri Perkusi Pembesaran jantung : Batas jantung normal, tidak ada pembesaran Auskultasi a. BJ I : murni reguler b. BJ II : murni reguler c. BJ III : - d. Bunyi jantung tambahan : Tidak ada Data lain : Tidak ada 16. Abdomen Inspeksi a. Membuncit : Tidak b. Ada luka / tidak : Tidak Palpasi a. Hepar : Tidak teraba b. Lien : Tidak teraba c. Nyeri tekan : Tidak ada Auskultasi Peristaltik : BU (+), 5x/menit Perkusi a. Tympani : √ b. Redup : - Data lain : Tidak ada 17. Genitalia dan Anus : Tidak terkaji 18. Ekstremitas Ekstremitas atas a. Motorik - Pergerakan kanan / kiri : Bebas - Pergerakan abnormal : Tidak ada - Kekuatan otot kanan / kiri : maksimal (5/5) - Tonus otot kanan / kiri : Normal - Koordinasi gerak : Baik b. Refleks - Biceps kanan / kiri : +/+ - Triceps kanan / kiri : +/+ c. Sensori - Nyeri : Normal - Rangsang suhu : Normal - Rasa raba : Normal Ekstremitas bawah a. Motorik - Gaya berjalan : Normal - Kekuatan kanan / kiri : maksimal (5/5) - Tonus otot kanan / kiri : Normal b. Refleks - KPR kanan / kiri : +/+ - APR kanan / kiri : +/+ - Babinsky kanan / kiri : -/- c. Sensori - Nyeri : Normal - Rangsang suhu : Normal - Rasa raba : Normal Data lain : Tidak ada 19. Status Neurologi. Saraf – saraf cranial a. Nervus I (Olfactorius) : penghidu : Dapat mencium dan membedakan bau (minyak kayu putih, parfum) b. Nervus II (Opticus) : Penglihatan : Ketajaman penglihatan baik, lapang pandang normal c. Nervus III, IV, VI (Oculomotorius, Trochlearis, Abducens) - Konstriksi pupil : + - Gerakan kelopak mata : Normal - Pergerakan bola mata : Normal - Pergerakan mata ke bawah & dalam : Normal d. Nervus V (Trigeminus) - Sensibilitas / sensori : Sentuhan di area wajah dapat dirasakan - Refleks dagu : + - Refleks cornea : + e. Nervus VII (Facialis) - Gerakan mimik : Simetris saat tersenyum/angkat alis - Pengecapan 2 / 3 lidah bagian depan : Dapat membedakan rasa manis/asin (permen) f. Nervus VIII (Acusticus) Fungsi pendengaran : Baik g. Nervus IX dan X (Glosopharingeus dan Vagus) - Refleks menelan : + - Refleks muntah : + - Pengecapan 1/3 lidah bagian belakang : Normal - Suara : Tidak serak/bindeng h. Nervus XI (Assesorius) - Memalingkan kepala ke kiri dan ke kanan : Bisa menoleh - Mengangkat bahu : Bisa mengangkat bahu melawan tahanan i. Nervus XII (Hypoglossus) - Deviasi lidah : Tidak ada Tanda – tanda perangsangan selaput otak a. Kaku kuduk : - b. Kernig Sign : - c. Refleks Brudzinski : - d. Refleks Lasegu : - Data lain : Tidak ada Berat badan = 65,7 kg Tinggi badan = 150 cm = 1,5 m IMT Hitung = 29,2 kg/m2 --> Z Score = > + 2 SD (Obesitas (obese)Leukosit 17.63 H 4.8 - 10.8 ribu/uL Eritrosit 6.00 H 4 - 5 juta/uL MCV 72.8 L 75.0 - 100.0 fl MCH 24.3 L 25.0 –35.0 pg Eosinofil% 0.7 L 2-4% Neurotrofil% 85.1 H 46 – 73% Limfosit% 10.7 L 17 – 48%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Pada kasus ini, ditandai dengan batuk berdahak, sekret kental berwarna putih kekuningan di hidung, sesak napas, peningkatan frekuensi pernapasan (32-40x/menit), suara napas tambahan (ronchi/wheezing), dan taktil fremitus yang tidak simetris. Kondisi ini diperberat oleh riwayat asma dan ketidaktersediaan obat inhaler yang biasa digunakan.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Klien menunjukkan jalan napas paten dengan suara napas bersih, tidak ada sianosis, dan saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal (≥95%). Pada pengkajian, SpO2 97% dengan O2 2 lpm menunjukkan perbaikan, namun frekuensi napas masih tinggi (32x/menit) dan masih ada keluhan sesak serta batuk berdahak, mengindikasikan tujuan belum sepenuhnya tercapai. 2) Klien mampu mendemonstrasikan perilaku untuk memperbaiki bersihan jalan napas, seperti batuk efektif dan penggunaan napas dalam. Perlu evaluasi apakah pasien telah diajarkan dan mampu melakukan teknik batuk efektif. 3) Klien mengeluarkan sekret dengan mudah. Data menunjukkan sekret masih ada dan kental, sehingga upaya untuk mengencerkan sekret (hidrasi, nebulizer) perlu diintensifkan. 4) Mengidentifikasi faktor risiko dan memodifikasi lingkungan untuk mengurangi iritan. Faktor risiko pada kasus ini adalah riwayat asma dan obesitas (IMT 29.2).
Kode SIKI: I.08006
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Intervensi keperawatan yang harus dilakukan mencakup: 1) **Memantau status pernapasan dan oksigenasi** secara berkala (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas, suara napas, SpO2). Telah dilakukan sejak IGD hingga ruangan. 2) **Posisikan untuk memaksimalkan ventilasi** (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi). Posisi ini dapat mengurangi kerja napas dan memanfaatkan gravitasi untuk ekspansi paru. 3) **Ajarkan dan bantu teknik batuk efektif dan napas dalam.** Sangat relevan mengingat pasien memiliki dahak kental dan batuk tidak produktif sepenuhnya. 4) **Lakukan fisioterapi dada** jika diindikasikan (seperti perkusi, vibrasi, postural drainage) untuk membantu mobilisasi sekret. 5) **Kelola pemberian terapi oksigen** sesuai order dan pantau efektivitasnya. Pasien masih tergantung oksigen nasal kanul 2 lpm untuk mempertahankan SpO2 97%. 6) **Lakukan penghisapan lendir** (suction) jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekret sendiri. 7) **Kolaborasi pemberian obat** seperti bronkodilator, mukolitik, atau nebulizer sesuai resep. Riwayat asma dan gejala yang ada menunjukkan kebutuhan terapi farmakologis ini. 8) **Tingkatkan asupan cairan** (jika tidak terkontraindikasi) untuk mengencerkan sekret. Data intake cairan pasien saat sakit cenderung menurun (hanya minum jika haus), sehingga perlu didorong. 9) **Ajarkan penggunaan alat bantu pernapasan** (seperti inhaler) dengan tepat. Mengingat obat semprot pasien habis, edukasi untuk kepatuhan pengobatan dan ketersediaan alat sangat penting.
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0002
Deskripsi Singkat: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat. Pada pasien ini, pola napas tidak efektif dimanifestasikan oleh frekuensi pernapasan yang meningkat (32-40x/menit), pernapasan dangkal, penggunaan otot aksesori (tipe dada-perut), dan perasaan sesak/sulit bernapas. Kondisi ini berhubungan langsung dengan obstruksi jalan napas akibat sekret dan bronkospasme pada asma, yang menyebabkan peningkatan usaha bernapas dan perubahan pola.
Kode SLKI: L.04002
Deskripsi : Pola napas efektif. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: 1) Klien mempertahankan pola napas normal (frekuensi sesuai usia) dan irama teratur. Pasien remaja dengan RR 32x/menit masih jauh di atas normal (12-20x/menit), menandakan pola napas belum efektif. 2) Klien menunjukkan tidak ada dispnea atau sianosis. Dispnea/sesak masih dikeluhkan meski berkurang. 3) Klien menunjukkan nilai analisa gas darah dalam rentang normal. Data AGD tidak tersaji, tetapi SpO2 97% dengan bantuan oksigen menunjukkan oksigenasi telah membaik. 4) Klien mampu melakukan aktivitas tanpa mengalami dispnea. Data menunjukkan aktivitas pasien sangat terbatas (hanya di tempat tidur, main HP, tidur) dan tidak ada aktivitas fisik, sehingga toleransi aktivitas belum dapat dinilai.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen pernapasan. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) **Pertahankan kepatenan jalan napas**, ini adalah fondasi utama. 2) **Posisikan untuk memaksimalkan pertukaran gas** (posisi duduk/tegak). 3) **Ajarkan teknik pernapasan** seperti napas bibir mengerucut (pursed-lip breathing) dan pernapasan diafragma untuk mengurangi frekuensi napas dan meningkatkan efektivitas ventilasi. 4) **Pantau respons terhadap aktivitas** dan anjurkan istirahat untuk mencegah kelelahan otot pernapasan. Pola tidur yang tidak teratur (tidur-tidur ayam) menunjukkan kualitas istirahat yang buruk yang dapat memperburuk kondisi. 5) **Lakukan latihan rentang gerak** (ROM) aktif/pasif sesuai toleransi untuk mencegah komplikasi imobilisasi. 6) **Kolaborasi pemberian oksigen** dan pantau keefektifannya. 7) **Berikan lingkungan tenang** dan ajarkan relaksasi untuk mengurangi ansietas yang dapat memperburup pola napas. Ekspresi wajah normal, tetapi hospitalisasi dan sesak dapat menimbulkan kecemasan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk menuntaskan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan. Ditandai dengan laporan kelelahan, perubahan pola tidur (sering tidur-tidur ayam, terbangun malam hari), penurunan drastis aktivitas harian (dari aktif sekolah/main bola menjadi hanya di tempat tidur), serta tanda vital yang berubah signifikan dengan aktivitas minimal (denyut nadi 101x/menit saat istirahat). Kondisi ini terkait dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen akibat gangguan pernapasan, serta status obesitas yang meningkatkan beban kerja tubuh.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Toleransi aktivitas. Kriteria hasil: 1) Klien melaporkan peningkatan toleransi aktivitas. Saat ini pasien belum melakukan aktivitas berarti untuk dinilai. 2) Klien menunjukkan penurunan tanda-tanda intoleransi aktivitas (takikardi, takipnea, dispnea, tekanan darah abnormal). Nadi (101x/m) dan RR (32x/m) saat istirahat masih tinggi, mengindikasikan tubuh masih dalam kondisi stres. 3) Klien mampu melakukan aktivitas perawatan diri. Data kebersihan diri menurun (mandi 1x/hari, keramas hanya dibasuh), menunjukkan kemungkinan kelelahan. 4) Klien mempertahankan pola tidur yang efektif. Pola tidur saat sakit tidak teratur dan tidak restoratif.
Kode SIKI: I.07001
Deskripsi : Manajemen energi. Intervensi keperawatan: 1) **Pantau respons kardiorespirasi terhadap aktivitas** (sebelum, selama, setelah). 2) **Atur jadwal aktivitas** yang seimbang dengan istirahat untuk menghemat energi. Bantu pasien merencanakan aktivitas harian sederhana di ruangan. 3) **Bantu dalam aktivitas perawatan diri** sesuai kebutuhan, dorong kemandirian secara bertahap. 4) **Ajarkan teknik penghematan energi**, seperti duduk saat melakukan aktivitas, menyebar tugas sepanjang hari. 5) **Tingkatkan nutrisi yang adekuat** untuk mendukung kebutuhan energi. Selera makan menurun (dari 1 porsi jadi ½ porsi) menjadi tantangan. 6) **Kolaborasi dengan ahli gizi** terkait penatalaksanaan obesitas dan peningkatan asupan saat sakit. 7) **Ciptakan lingkungan yang nyaman** untuk meningkatkan kualitas tidur dan istirahat.