Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23578 | 10 Jan 2026
Klinis : SDKI | pria berusia 66 tahun. datang dengan keluhan kadang kesemutan di lengan dan tangan kanan. pasien di diagnosa dokter Carpal Tunnel Syndrome.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dengan perkiraan akhir, dan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Mengontrol nyeri. Kriteria hasil: 1) Menyatakan nyeri berkurang atau hilang. 2) Menunjukkan ekspresi wajah rileks. 3) Menunjukkan posisi tubuh nyaman. 4) Mendemonstrasikan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri. 5) Tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: 3501
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan faktor presipitasi). 2) Observasi petunjuk non-verbal dari ketidaknyamanan, terutama pada pasien yang tidak mampu berkomunikasi dengan baik. 3) Gunakan pendekatan terapi komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien. 4) Berikan analgetik sesuai program terapi. 5) Evaluasi efektivitas analgetik baik farmakologis dan non farmakologis. 6) Ajarkan tentang penggunaan teknik nonfarmakologis (distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin). 7) Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi persepsi nyeri pasien.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Keterbatasan dalam pergerakan fisik mandiri yang disengaja pada satu atau lebih ekstremitas.
Kode SLKI: 0201
Deskripsi : Kemampuan melakukan aktivitas fisik. Kriteria hasil: 1) Melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan. 2) Mempertahankan kekuatan otot. 3) Mempertahankan rentang gerak sendi. 4) Menggunakan alat bantu mobilitas dengan tepat (jika diperlukan).
Kode SIKI: 0901
Deskripsi : Terapi Latihan: Mobilisasi. Intervensi: 1) Kaji tingkat mobilitas pasien (imobilisasi, dengan bantuan, mandiri). 2) Bantu latihan rentang gerak (Range of Motion/ROM) aktif, aktif asistif, atau pasif pada ekstremitas yang terkena dan tidak terkena. 3) Ajarkan dan bantu pasien melakukan latihan penguatan otot yang sesuai. 4) Bantu dan ajarkan penggunaan alat bantu yang tepat (contoh: bidai pergelangan tangan untuk Carpal Tunnel Syndrome). 5) Anjurkan untuk menghindari aktivitas yang memperberat gejala (seperti menggenggam kuat, gerakan repetitif pergelangan tangan). 6) Kolaborasi dengan fisioterapis jika diperlukan.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Meningkatnya kerentanan terhadap cedera fisik yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Tercapainya keselamatan. Kriteria hasil: 1) Lingkungan fisik aman. 2) Mendemonstrasikan perilaku untuk mencegah cedera. 3) Tidak terjadi cedera.
Kode SIKI: 6540
Deskripsi : Pencegahan Cedera. Intervensi: 1) Identifikasi faktor risiko cedera terkait kesemutan dan kelemahan tangan (misal: menjatuhkan benda panas/tajam, kesulitan menggenggam). 2) Lakukan modifikasi lingkungan untuk meminimalkan risiko (misal: menyediakan alat makan dengan pegangan besar, menggunakan alas anti selip). 3) Ajarkan pasien dan keluarga tentang potensi bahaya akibat gangguan sensorimotor di tangan. 4) Anjurkan untuk berhati-hati saat melakukan aktivitas dengan benda panas, tajam, atau berat. 5) Instruksikan untuk menggunakan tangan yang sehat untuk aktivitas berisiko tinggi jika memungkinkan. 6) Monitor kemampuan fungsional pasien secara berkala.
-
Article No. 23579 | 10 Jan 2026
Klinis : Pasien mengatakan 1 hari sebelum masuk rumah sakit, pasien menempuh perjalanan dari Jakarta ke Bandung. Saat berada di l Cipularang, pasien berhenti untuk memeriksa tangki solarnya. Pasien memeriksa dengan bantuan penerangan korek api. Akhirnya pasien tersembur uap panas yang terkena api dari koreknya dan mengenai muka pasien. Pasien kemudian dibawa ke Klinik Purwakarta, diberikan terapi salep dan cairan infus sebanyak 1,5 botol. Kemudian pasien dirujuk ke RS terdekat, tetapi tidak dilakukan tindakan, akhirnya pasien dirujuk ke RSHS
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Integritas Jaringan Kulit
Kode SDKI: 0201
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami invasi dan multiplikasi patogen yang dapat menyebabkan penyakit. Pada kasus luka bakar, kulit sebagai barier primer pertahanan tubuh rusak, sehingga mikroorganisme dapat dengan mudah masuk dan menyebabkan infeksi lokal maupun sistemik.
Kode SLKI: 2001
Deskripsi : Tercapainya Perbaikan Integritas Jaringan. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: luka menunjukkan tanda-tanda penyembuhan (granulasi, epitelisasi); tidak ada tanda-tanda infeksi seperti eritema, edema, panas, nyeri, atau pus/drainase purulen; hasil kultur negatif (jika dilakukan); pasien dan keluarga dapat mendemonstrasikan perawatan luka yang benar; serta nilai laboratorium terkait infeksi (seperti leukosit) dalam batas normal. Perawat akan memantau tanda vital, terutama suhu tubuh, secara berkala. Luka akan dinilai setiap kali perawatan untuk mendeteksi dini komplikasi. Perawat juga akan memastikan teknik aseptik ketat selama perawatan luka dan pemberian terapi.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Intervensi keperawatan yang dilakukan mencakup: 1) Melakukan pemantauan tanda dan gejala infeksi secara sistematis, termasuk pengukuran suhu tubuh, inspeksi luka terhadap warna, bau, dan karakteristik drainase. 2) Melakukan perawatan luka dengan teknik aseptik yang ketat, termasuk pemilihan balutan yang sesuai (misalnya balutan antimikrobial atau lembab). 3) Melakukan dan mengajarkan cuci tangan yang efektif kepada pasien, keluarga, dan semua petugas yang kontak dengan pasien. 4) Mempertahankan teknik steril selama prosedur invasif seperti pemasangan infus atau kateter (jika diperlukan). 5) Mengkolaborasikan pemberian terapi antibiotik sesuai resep dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. 6) Memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga mengenai tanda-tanda infeksi yang harus dilaporkan, pentingnya nutrisi tinggi protein dan vitamin C untuk penyembuhan, serta cara mencegah kontaminasi silang.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0711
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat dan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan. Luka bakar derajat dua pada wajah merupakan cedera yang sangat nyeri karena ujung saraf nociceptor terekspos.
Kode SLKI: 0701
Deskripsi : Tercapainya Kontrol Nyeri. Kriteria hasil meliputi: pasien melaporkan penurunan skala nyeri (misalnya dari skala 8 menjadi ≤3 pada skala 0-10); pasien menunjukkan perilaku nyeri yang menurun (wajah tidak meringis, dapat beristirahat, tidak gelisah); tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) dalam batas normal atau mendekati baseline pasien; serta pasien mampu berpartisipasi dalam aktivitas perawatan diri dan terapi. Perawat akan menggunakan skala nyeri yang valid untuk menilai nyeri secara komprehensif (lokasi, karakter, durasi, faktor pencetus dan pereda). Perawat juga akan mengevaluasi efektivitas intervensi farmakologis dan non-farmakologis yang diberikan.
Kode SIKI: 2810
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan yang dilakukan mencakup: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif dan berkelanjutan menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Timing). 2) Memberikan analgesik sesuai resep (misalnya opioid atau non-opioid) dengan tepat waktu, mempertimbangkan rute pemberian yang optimal, dan mengevaluasi efek analgesik serta efek sampingnya (seperti depresi pernapasan, mual). 3) Menerapkan intervensi non-farmakologis seperti teknik distraksi (mendengarkan musik, mengobrol), relaksasi napas dalam, dan menciptakan lingkungan yang tenang. 4) Melakukan reposisi pasien dengan hati-hati untuk memberikan kenyamanan. 5) Mengkolaborasikan terapi komplementer jika sesuai. 6) Memberikan edukasi kepada pasien tentang pentingnya melaporkan nyeri sebelum menjadi berat dan tentang metode non-farmakologis yang dapat dilakukan secara mandiri.
Kondisi: Gangguan Citra Tubuh
Kode SDKI: 1111
Deskripsi Singkat: Gangguan Citra Tubuh adalah keadaan dimana individu mengalami kebingungan dalam persepsi mental tentang gambaran fisik diri sendiri. Luka bakar pada area wajah, yang merupakan bagian tubuh yang sangat terlihat dan berkaitan dengan identitas diri, sangat berisiko menyebabkan gangguan ini. Pasien mungkin merasa malu, menarik diri, cemas, atau depresi karena perubahan pada penampilannya.
Kode SLKI: 1101
Deskripsi : Tercapainya Penerimaan Citra Tubuh. Kriteria hasil meliputi: pasien dapat mengungkapkan perasaan tentang perubahan tubuhnya; pasien mulai melihat dan menyentuh area yang terluka/perubahan; pasien berinteraksi dengan orang lain (keluarga, perawat) secara terbuka; pasien menunjukkan minat terhadap perawatan diri dan penampilan; serta pasien mengungkapkan harapan untuk masa depan. Perawat akan mengobservasi perilaku verbal dan non-verbal pasien terkait penerimaan dirinya. Perawat juga akan mendorong partisipasi pasien dalam perawatan lukanya sebagai langkah awal penerimaan.
Kode SIKI: 5220
Deskripsi : Peningkatan Citra Tubuh. Intervensi keperawatan yang dilakukan mencakup: 1) Membangun hubungan terapeutik yang mendukung dan empatik, mendorong pasien untuk mengekspresikan perasaan, ketakutan, dan kekhawatirannya. 2) Memberikan informasi yang jujur dan realistis tentang proses penyembuhan luka dan kemungkinan hasilnya, termasuk peran perawatan luka dan nutrisi. 3) Melibatkan pasien secara bertahap dalam perawatan lukanya, sehingga ia merasa memiliki kendali atas tubuhnya. 4) Memberikan pujian atas kemajuan penyembuhan yang terlihat. 5) Mengidentifikasi kekuatan dan mekanisme koping positif yang dimiliki pasien sebelumnya. 6) Mengkolaborasikan dengan tim kesehatan lain seperti psikolog klinis atau psikiater jika ditemukan tanda-tanda distress psikologis yang berat. 7) Melibatkan keluarga untuk memberikan dukungan emosional dan penerimaan tanpa syarat.
-
Article No. 23580 | 10 Jan 2026
Klinis : • RR: 36 x/menit • SpO₂: 82% • TD: 85/55 mmHg • Nadi: 135 x/menit • Kesadaran: gelisah luka tusuk terbuka di dada kiri udara keluar-masuk dari luka.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Perfusi Jaringan berhubungan dengan trauma dada terbuka (Open Pneumothorax/Tension Pneumothorax)
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Gangguan Pertukaran Gas adalah keadaan dimana terjadi gangguan pada proses oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida antara alveoli dan sistem vaskular pulmonal. Pada kasus ini, luka tusuk dada terbuka dengan udara keluar-masuk (sucking chest wound) menyebabkan kolapsnya paru (pneumotoraks), menghambat ekspansi paru dan mengganggu mekanisme pertukaran gas. Hal ini diperparah dengan tanda-tanda hipoksia berat (SpO2 82%), takipnea (RR 36x/menit), takikardia (Nadi 135x/menit), hipotensi (TD 85/55 mmHg), dan gelisah yang mengindikasikan gangguan perfusi jaringan sistemik menuju syok hipovolemik atau syok distributif.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : SLKI ini berfokus pada pemulihan status pernapasan dan oksigenasi. Tujuan utamanya adalah mempertahankan atau mengembalikan pertukaran gas yang adekuat. Implementasinya meliputi: 1) Mempertahankan jalan napas paten, mungkin dengan persiapan intubasi. 2) Memperbaiki oksigenasi dengan pemberian oksigen aliran tinggi atau ventilasi mekanik sesuai kebutuhan. 3) Segera menutup luka dada terbuka dengan dressing tiga sisi (three-sided occlusive dressing) untuk mencegah pneumotoraks tertutup berubah menjadi tension pneumotoraks, sekaligus memungkinkan udara keluar dari rongga pleura. 4) Memasang atau mempersiapkan pemasangan water-seal drainage (WSD) atau chest tube untuk dekompresi rongga pleura dan re-ekspansi paru. 5) Memonitor terus menerus saturasi oksigen (SpO2), frekuensi dan irama pernapasan, serta tanda-tanda distress pernapasan. 6) Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ekspansi paru (misalnya, semi-fowler jika tidak ada syok, atau sesuai kondisi). Keberhasilan SLKI ditandai dengan peningkatan SpO2 >94%, frekuensi pernapasan dalam rentang normal, pengembalian bunyi napas yang simetris, dan penurunan sesak napas.
Kode SIKI: I.05280
Deskripsi : Intervensi ini adalah tindakan spesifik untuk mengatasi luka dada terbuka dan pneumotoraks. Langkah-langkahnya meliputi: 1) **Penilaian Segera**: Menilai lokasi, ukuran, dan karakter luka (suara udara keluar-masuk). 2) **Manajemen Jalan Napas dan Oksigenasi**: Memastikan jalan napas, memberikan oksigen dengan masker non-rebreacher atau alat bantu sesuai order. 3) **Penutupan Luka Segera**: Mempersiapkan bahan steril (seperti vaseline gauze, plastic wrap, atau dressing komersial). Meletakkan dressing di atas luka dan menempelkannya rapat hanya pada tiga sisi, meninggalkan satu sisi terbuka sebagai katup satu arah untuk mencegah tension pneumotoraks. 4) **Persiapan Dekompresi**: Mempersiapkan alat untuk torakosentesis atau pemasangan WSD/chest tube sesuai protokol gawat darurat. 5) **Monitoring Ketat**: Memantau tanda-tanda tension pneumotoraks yang memburuk seperti penurunan saturasi oksigen yang cepat, distensi vena leher, deviasi trakea, dan hipotensi berat. Jika terjadi, dressing dapat dibuka sementara untuk melepas tekanan. 6) **Stabilisasi Sirkulasi**: Membuka akses intravena lebar, memberikan cairan resusitasi atau produk darah sesuai order untuk mengatasi hipotensi dan takikardia. 7) **Manajemen Nyeri**: Memberikan analgesik sesuai order untuk mengurangi nyeri dan ansietas, yang dapat memperburuk kerja pernapasan. 8) **Kolaborasi dan Edukasi**: Bekerja sama dengan tim dokter untuk tindakan definitif (operasi, pemasangan chest tube). Memberikan penjelasan singkat dan meyakinkan kepada pasien tentang tindakan yang dilakukan untuk mengurangi kecemasan. Intervensi ini bersifat lifesaving dan harus dilakukan dengan cepat, terampil, dan terkoordinasi dalam tim.
-
Article No. 23552 | 09 Jan 2026
Klinis : 3 diagnosa Hirschsprung
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hirschsprung (Penyakit Hirschsprung / Megakolon Kongenital)
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Gangguan eliminasi fekal terkait tidak adanya sel ganglion parasimpatis pada pleksus mienterikus dan submukosa di segmen usus besar, yang mengakibatkan gangguan peristaltik dan obstruksi fungsional.
Kode SLKI: L.08006
Deskripsi : Eliminasi fekal kembali normal. Pasien atau keluarga mampu mendemonstrasikan manajemen eliminasi fekal yang tepat. Kriteria hasil meliputi: 1) Pasien menunjukkan pola eliminasi fekal yang teratur dan dapat diprediksi, dengan konsistensi feses yang lunak dan mudah dikeluarkan. 2) Tidak terdapat tanda-tanda obstruksi usus seperti distensi abdomen yang signifikan, muntah bilious, atau nyeri kolik yang hebat. 3) Keseimbangan cairan dan elektrolit terjaga, ditandai dengan turgor kulit baik, membran mukosa lembab, dan produksi urin adekuat. 4) Status nutrisi membaik atau terjaga, dengan pertumbuhan yang sesuai kurva pada anak dan tidak adanya penurunan berat badan yang tidak diinginkan. 5) Pasien dan keluarga melaporkan penurunan kecemasan terkait proses eliminasi dan perawatan kolostomi (jika ada). 6) Tidak terjadi komplikasi seperti enterokolitis terkait Hirschsprung (ditandai demam, distensi abdomen, diare berbau busuk), impaksi feses, atau dermatitis perianal/peristomal yang signifikan. 7) Keluarga atau pengasuh memahami tanda-tanda bahaya yang memerlukan penanganan medis segera.
Kode SIKI: I.08066
Deskripsi : Manajemen eliminasi fekal. Intervensi keperawatan difokuskan pada pengelolaan obstruksi, pencegahan komplikasi, dan edukasi keluarga. Tindakan meliputi: 1) Memantau tanda-tanda vital, distensi abdomen, dan pola eliminasi (baik melalui rektum maupun stoma) secara ketat untuk mendeteksi dini obstruksi atau enterokolitis. 2) Melakukan irrigasi rektum atau kolon dengan larutan fisiologis hangat sesuai instruksi dokter untuk mengeluarkan feses yang tertahan dan mencegah impaksi massif, dengan teknik steril dan hati-hati untuk mencegah perforasi. 3) Mempertahankan fungsi kolostomi jika telah dilakukan pembedahan, termasuk perawatan stoma yang tepat, pemilihan dan penggantian kantong kolostomi yang sesuai, serta perlindungan kulit peristomal dari iritasi enzim fekal. 4) Kolaborasi pemberian nutrisi yang adekuat, mungkin berupa diet tinggi kalori dan rendah serat residu untuk meminimalkan pembentukan feses yang besar dan keras, serta memastikan hidrasi yang optimal. 5) Mengajarkan dan mendukung orang tua/pasien dalam melakukan teknik irrigasi rektum, perawatan stoma, serta mengenali karakteristik feses normal pasca-irigasi atau dari stoma. 6) Memberikan edukasi komprehensif mengenai tanda-tanda enterokolitis (demam, distensi, direa berbau busuk, letargi) yang merupakan kegawatan dan harus segera dilaporkan. 7) Memfasilitasi kenyamanan pasien, termasuk perawatan kulit perianal yang rentan iritasi akibat feses encer atau seringnya dilakukan irrigasi. 8) Memberikan dukungan psikologis dan edukasi berkelanjutan kepada keluarga mengenai kondisi kronis, rencana penatalaksanaan jangka panjang, dan pentingnya follow-up bedah definitif (jika belum dilakukan). 9) Mendorong dan memfasilitasi konsultasi dengan ahli gizi, pekerja sosial, atau tim bedah anak sesuai kebutuhan untuk penatalaksanaan holistik.
-
Article No. 23553 | 09 Jan 2026
Klinis : integritas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Integritas Kulit Terganggu
Kode SDKI: 00047
Deskripsi Singkat: Kerusakan epidermis dan/atau dermis.
Kode SLKI: 1901
Deskripsi : Integritas kulit membaik. Kriteria hasil: 1) Kulit utuh, 2) Kulit bersih, 3) Kulit lembab, 4) Kulit elastis, 5) Tidak ada tanda-tanda infeksi (rubor, kalor, dolor, tumor, functio laesa), 6) Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit (lecet, luka, eritema, ekskoriasi), 7) Turgor kulit baik, 8) Suhu kulit hangat, 9) Pasien dan keluarga menyatakan mampu merawat kulit, 10) Pasien dan keluarga menyatakan mampu mencegah kerusakan kulit.
Kode SIKI: 4201, 4202, 4203, 4204, 4205, 4206, 4207, 4208, 4209, 4210, 4211, 4212, 4213, 4214, 4215, 4216, 4217, 4218, 4219, 4220, 4221, 4222, 4223, 4224, 4225, 4226, 4227, 4228, 4229, 4230, 4231, 4232, 4233, 4234, 4235, 4236, 4237, 4238, 4239, 4240, 4241, 4242, 4243, 4244, 4245, 4246, 4247, 4248, 4249, 4250, 4251, 4252, 4253, 4254, 4255, 4256, 4257, 4258, 4259, 4260, 4261, 4262, 4263, 4264, 4265, 4266, 4267, 4268, 4269, 4270, 4271, 4272, 4273, 4274, 4275, 4276, 4277, 4278, 4279, 4280, 4281, 4282, 4283, 4284, 4285, 4286, 4287, 4288, 4289, 4290, 4291, 4292, 4293, 4294, 4295, 4296, 4297, 4298, 4299, 4300, 4301, 4302, 4303, 4304, 4305, 4306, 4307, 4308, 4309, 4310, 4311, 4312, 4313, 4314, 4315, 4316, 4317, 4318, 4319, 4320, 4321, 4322, 4323, 4324, 4325, 4326, 4327, 4328, 4329, 4330, 4331, 4332, 4333, 4334, 4335, 4336, 4337, 4338, 4339, 4340, 4341, 4342, 4343, 4344, 4345, 4346, 4347, 4348, 4349, 4350, 4351, 4352, 4353, 4354, 4355, 4356, 4357, 4358, 4359, 4360, 4361, 4362, 4363, 4364, 4365, 4366, 4367, 4368, 4369, 4370, 4371, 4372, 4373, 4374, 4375, 4376, 4377, 4378, 4379, 4380, 4381, 4382, 4383, 4384, 4385, 4386, 4387, 4388, 4389, 4390, 4391, 4392, 4393, 4394, 4395, 4396, 4397, 4398, 4399, 4400
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk diagnosa Integritas Kulit Terganggu (00047) sangat komprehensif dan mencakup aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Rangkaian kode dari 4201 hingga 4400 menunjukkan luasnya tindakan yang dapat dilakukan. Secara umum, intervensi ini bertujuan untuk melindungi kulit, mempertahankan atau memulihkan keutuhannya, mencegah infeksi, dan meningkatkan pengetahuan serta kemandirian pasien/keluarga dalam perawatan kulit. Tindakan dimulai dengan pengkajian menyeluruh (misalnya, menilai kondisi kulit, faktor risiko seperti imobilisasi, inkontinensia, status nutrisi, dan penyakit sistemik seperti diabetes). Selanjutnya, perawat merencanakan dan melaksanakan perawatan kulit yang meliputi pembersihan kulit dengan teknik dan sabun yang tepat, menjaga kelembaban kulit dengan pelembab, dan melindungi area yang terancam kerusakan (seperti tumit, sakrum) dengan bantalan khusus atau perubahan posisi. Manajemen luka adalah inti dari intervensi kuratif, yang mencakup pemilihan balutan yang sesuai berdasarkan kondisi luka (misalnya, balutan hidrogel untuk luka nekrotik, balutan alginat untuk luka berdarah atau banyak eksudat), teknik debridemen yang tepat, dan pengendalian infeksi dengan antiseptik sesuai indikasi. Pencegahan tekanan ulkus (dekubitus) adalah bagian kritis, dengan intervensi seperti reposisi rutin setiap 2 jam, penggunaan kasur atau bantal tekanan khusus, dan meminimalkan gesekan serta geser saat memindahkan pasien. Manajemen nutrisi dan hidrasi juga vital untuk mendukung penyembuhan jaringan. Perawat berkolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan asupan protein, vitamin (terutama vitamin C dan A), mineral (seng), dan cairan yang adekuat. Edukasi kepada pasien dan keluarga merupakan intervensi utama untuk keberlanjutan perawatan. Materi edukasi meliputi cara merawat kulit, pentingnya nutrisi, teknik perubahan posisi, cara mengenali tanda-tanda infeksi atau kerusakan kulit baru, serta penggunaan alat bantu dengan benar. Selain itu, manajemen nyeri terkait luka juga dilakukan. Intervensi ini bersifat dinamis dan harus dievaluasi secara berkala. Pemilihan tindakan spesifik dari daftar kode yang sangat panjang tersebut disesuaikan dengan hasil pengkajian individu pasien, jenis dan tingkat keparahan kerusakan kulit, kondisi klinis pasien secara keseluruhan, serta sumber daya yang tersedia. Tujuannya adalah mencapai outcome yang tercantum dalam SLKI 1901, yaitu integritas kulit yang membaik dengan kriteria kulit utuh, bersih, lembab, elastis, bebas infeksi, dan pasien serta keluarga mampu merawat serta mencegah kerusakan kulit.
-
Article No. 23554 | 09 Jan 2026
Klinis : resiko defisit nutrisi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Risiko Defisit Nutrisi
Kode ICD-10: Z91.81
Deskripsi Singkat : Kode Z91.81 mengindikasikan "Risiko defisit nutrisi" dan termasuk dalam bab "Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan dan kontak dengan pelayanan kesehatan". Ini adalah kode faktor risiko, bukan diagnosis penyakit. Kode ini digunakan ketika seorang pasien memiliki kondisi, situasi, atau faktor yang secara signifikan meningkatkan kemungkinan mereka mengalami kekurangan nutrisi di masa depan, tetapi defisit nutrisi yang aktual belum terdiagnosis. Faktor risiko ini dapat mencakup, namun tidak terbatas pada, kemiskinan, isolasi sosial, ketidakmampuan fisik untuk membeli atau menyiapkan makanan, disfagia (kesulitan menelan) yang belum terdiagnosis, gangguan kognitif yang mempengaruhi pola makan, atau kondisi medis yang meningkatkan kebutuhan metabolisme. Penggunaan kode ini penting dalam rekam medis untuk perencanaan perawatan proaktif, pemberian intervensi nutrisi dini (seperti rujukan ke ahli gizi), dan pemantauan. Kode ini membantu mengidentifikasi pasien yang memerlukan skrining nutrisi lebih ketat dan tindakan pencegahan untuk menghindari komplikasi kesehatan yang lebih serius seperti malnutrisi, penurunan fungsi kekebalan tubuh, penyembuhan luka yang buruk, atau kelemahan otot.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23555 | 09 Jan 2026
Klinis : resiko defisit nutrisi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Defisit Nutrisi
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko defisit nutrisi adalah keadaan di mana individu berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Risiko ini ditandai dengan adanya faktor-faktor yang dapat menyebabkan ketidakseimbangan antara asupan dan kebutuhan nutrisi, seperti penurunan nafsu makan, gangguan menelan, peningkatan kebutuhan metabolik (misalnya karena penyakit atau penyembuhan luka), ketidakmampuan untuk mengakses atau menyiapkan makanan, serta kondisi psikologis seperti depresi atau ansietas. Diagnosa ini bersifat potensial, artinya masalah belum terjadi tetapi tanda-tanda risiko sudah ada, sehingga intervensi keperawatan difokuskan pada pencegahan. Tujuannya adalah untuk mempertahankan atau meningkatkan status nutrisi klien melalui identifikasi faktor risiko, pemantauan asupan, dan edukasi. Perawat berperan penting dalam mengkaji faktor risiko, kolaborasi dengan ahli gizi, dan merencanakan intervensi yang sesuai untuk mencegah terjadinya defisit nutrisi yang dapat berdampak pada pemulihan kesehatan, fungsi imun, dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : SLKI L.1.1.1 adalah "Mempertahankan asupan nutrisi sesuai kebutuhan". Luaran yang diharapkan adalah klien dapat mempertahankan atau mencapai status nutrisi yang adekuat dengan asupan makanan dan cairan yang sesuai kebutuhan tubuhnya. Indikator pencapaian luaran ini meliputi: klien menunjukkan berat badan dalam rentang normal atau sesuai target, tidak terjadi penurunan berat badan yang tidak diinginkan, asupan makanan dan cairan per hari memenuhi atau mendekati target yang ditetapkan (misalnya, menghabiskan >75% porsi yang disajikan), klien melaporkan peningkatan nafsu makan, serta nilai-nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin, hemoglobin, dan limfosit total) berada dalam batas normal. Perawat akan memantau dan mendokumentasikan asupan klien secara berkala, menimbang berat badan secara teratur, dan mengobservasi tanda-tanda klinis defisit nutrisi seperti kelemahan, lesu, atau penyembuhan luka yang lambat. Pencapaian luaran ini menunjukkan keberhasilan intervensi dalam mencegah terjadinya defisit nutrisi aktual dan mendukung proses penyembuhan serta kesehatan secara umum.
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : SIKI I.1.1.1 adalah "Manajemen Nutrisi". Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan keperawatan yang terencana dan sistematis untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat dan mencegah defisit. Tindakan-tindakan spesifik meliputi: 1) Pengkajian komprehensif terhadap status nutrisi, termasuk riwayat diet, kebiasaan makan, faktor penghambat (fisik, ekonomi, psikologis), pengukuran antropometri (BB, TB, IMT), dan pemeriksaan fisik tanda-tanda malnutrisi. 2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori, protein, dan zat gizi spesifik lainnya serta merencanakan diet yang sesuai. 3) Memfasilitasi lingkungan yang kondusif untuk makan, seperti memastikan posisi yang nyaman, kebersihan mulut sebelum makan, dan suasana yang tenang. 4) Memberikan makanan dalam porsi kecil namun sering jika klien mudah kenyang. 5) Memodifikasi tekstur makanan (misalnya menjadi lunak atau cair) jika ada gangguan mengunyah atau menelan. 6) Memantau dan mencatat asupan makanan dan cairan secara akurat (input-output chart). 7) Memberikan edukasi kepada klien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi, pemilihan makanan yang kaya nutrisi, dan cara mengatasi hambatan makan. 8) Memberikan dukungan psikologis dan motivasi untuk meningkatkan nafsu makan. 9) Kolaborasi pemberian suplemen nutrisi oral atau rujukan untuk dukungan nutrisi enteral/parenteral jika diperlukan. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan aspek teknis dan asuhan psikososial untuk mengatasi berbagai faktor risiko yang dapat menyebabkan defisit nutrisi.
-
Article No. 23556 | 09 Jan 2026
Klinis : resiko defisit nutrisi
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Risiko Defisit Nutrisi
Kode ICD-10: Z91.81
Deskripsi Singkat : Kode Z91.81 mengindikasikan "At risk for malnutrition (Z91.81)" atau "Risiko defisit nutrisi". Ini adalah kode dari Bab Faktor yang Mempengaruhi Status Kesehatan dan Kontak dengan Layanan Kesehatan (Z00-Z99), khususnya untuk riwayat pribadi lainnya yang menimbulkan risiko. Kode ini digunakan bukan untuk mendiagnosis malnutrisi aktif, tetapi untuk menandai pasien yang memiliki faktor risiko yang membuat mereka rentan mengalami kekurangan gizi di masa depan. Faktor risiko tersebut dapat mencakup kondisi medis kronis yang mempengaruhi penyerapan atau kebutuhan nutrisi (seperti penyakit ginjal, kanker, penyakit radang usus), disfagia, penurunan nafsu makan, isolasi sosial, kemiskinan, keterbatasan fisik yang menghambat kemampuan menyiapkan makanan, atau riwayat penurunan berat badan yang tidak diinginkan. Pencatatan risiko ini dalam rekam medis penting untuk perencanaan perawatan proaktif, memicu intervensi seperti konsultasi gizi, pemantauan berat badan rutin, atau pemberian suplemen nutrisi, dengan tujuan mencegah terjadinya malnutrisi yang dapat memperburuk hasil kesehatan, memperpanjang masa rawat inap, dan menurunkan kualitas hidup.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23557 | 09 Jan 2026
Klinis : risiko defisit nutrisi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Defisit Nutrisi
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko mengalami asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
Kode SLKI: L.03104
Deskripsi : Status nutrisi membaik. Intervensi keperawatan ini bertujuan untuk mencegah terjadinya defisit nutrisi dan mempertahankan atau meningkatkan status gizi pasien. Kriteria hasilnya meliputi: 1) Pasien menunjukkan pemahaman tentang pentingnya nutrisi dan faktor risikonya. 2) Asupan makanan dan cairan sesuai dengan kebutuhan yang telah ditetapkan (misalnya, sesuai target kalori dan protein harian). 3) Tidak terjadi penurunan berat badan yang tidak diinginkan atau berat badan stabil/meningkat sesuai target. 4) Nilai-nilai biokimia terkait nutrisi (seperti albumin, hemoglobin) berada dalam rentang normal atau menunjukkan perbaikan. 5) Pasien mampu mengidentifikasi pilihan makanan yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. 6) Tanda-tanda klinis defisit nutrisi (seperti kelemahan, kulit kering, rambut rontok) tidak muncul atau berkurang. Keberhasilan SLKI ini diukur melalui pemantauan berat badan, catatan asupan makanan, evaluasi laboratorium, dan observasi klinis.
Kode SIKI: I.05241
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan sistematis untuk memastikan kecukupan nutrisi pasien yang berisiko. Penjelasan rinci meliputi: 1) **Pengkajian Komprehensif**: Melakukan skrining nutrisi awal (misalnya dengan NRS-2002 atau MUST) dan pengkajian mendalam yang meliputi riwayat diet, pola makan, kebiasaan, alergi, faktor sosio-ekonomi, dan pemeriksaan fisik (antropometri, status gigi dan mulut, kemampuan menelan). 2) **Kolaborasi Penetapan Kebutuhan**: Bekerja sama dengan ahli gizi dan dokter untuk menetapkan kebutuhan energi, protein, makro, dan mikronutrien spesifik pasien berdasarkan kondisi penyakit, usia, dan aktivitas. 3) **Fasilitasi Asupan**: Membantu pasien dalam memilih menu dari daftar makanan yang tersedia, menyiapkan lingkungan makan yang nyaman, membantu makan jika diperlukan (feeding assistance), dan memastikan makanan disajikan dalam bentuk yang sesuai (misalnya lunak atau cair jika ada gangguan menelan). 4) **Edukasi dan Motivasi**: Memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya nutrisi, pilihan makanan bergizi sesuai kondisi, dan strategi untuk mengatasi hambatan makan seperti mual atau nafsu makan berkurang. Memotivasi pasien dan keluarga untuk terlibat aktif. 5) **Pemantauan dan Dokumentasi**: Mencatat asupan makanan dan cairan secara akurat (misalnya dengan food record atau intake-output chart), memantau berat badan secara teratur, dan mengobservasi tanda-tanda defisit atau kelebihan nutrisi. 6) **Modifikasi Intervensi**: Menyesuaikan rencana nutrisi berdasarkan respons dan perkembangan pasien, serta berkolaborasi untuk pemberian nutrisi enteral atau parenteral jika asumsi oral tidak memungkinkan. 7) **Koordinasi Perawatan**: Berkomunikasi dengan tim multidisiplin (gizi, dokter, fisioterapi) untuk memastikan kesinambungan perawatan nutrisi. Inti dari SIKI ini adalah tindakan proaktif, terukur, dan terindividualisasi untuk mencegah manifestasi klinis defisit nutrisi, sehingga mendukung proses penyembuhan, kekebalan tubuh, dan kualitas hidup pasien.
-
Article No. 23558 | 09 Jan 2026
Klinis : Keluhan utama perut rasa Sebah ,nyeri terasa penuh,berdebar,aritmia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Kenyamanan: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan durasi berakhirnya.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI: Nyeri Terkontrol. Penjelasan: Tujuan keperawatan adalah agar nyeri pasien dapat terkontrol. Hal ini ditandai dengan: 1) Pasien melaporkan nyeri dapat ditoleransi atau hilang; 2) Skala nyeri menurun sesuai target yang ditetapkan; 3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal; 4) Ekspresi wajah rileks; dan 5) Pasien dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan. Pada kondisi pasien dengan keluhan perut sebah, nyeri terasa penuh, berdebar, dan aritmia, tujuan spesifiknya adalah mengurangi sensasi tidak nyaman di perut dan dada hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien, serta menstabilkan tanda-tanda vital yang terkait dengan rasa tidak nyaman tersebut.
Kode SIKI: I.08059
Deskripsi : SIKI: Manajemen Nyeri. Penjelasan: Intervensi ini meliputi serangkaian tindakan keperawatan komprehensif untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri dan ketidaknyamanan. Pada kasus ini, tindakan yang dilakukan meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk P (provokasi/palliative), Q (quality/kuualitas), R (region/radiasi), S (severity/skala), T (time/waktu) terhadap keluhan nyeri dan sebah di perut serta berdebar-debar. 2) Memantau tanda-tanda vital (denyut nadi, tekanan darah, frekuensi napas) secara berkala untuk mengidentifikasi hubungan antara ketidaknyamanan dengan kemungkinan aritmia atau respons stres. 3) Mengajarkan dan membantu teknik non-farmakologis seperti napas dalam dan relaksasi untuk mengurangi sensasi berdebar dan ketegangan. 4) Melakukan kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian analgesik atau terapi sesuai penyebab (misalnya, antasida jika terkait dispepsia, atau obat antiaritmia) dengan memantau efektivitas dan efek sampingnya. 5) Membantu posisi yang nyaman untuk mengurangi rasa penuh dan sebah di perut, seperti semi-Fowler. 6) Memberikan pendidikan kesehatan mengenai faktor pemicu (makanan, stres) yang dapat memperberat keluhan perut sebah dan berdebar. 7) Memonitor pola elektrolit dan hasil pemeriksaan penunjang lain (seperti EKG) yang dapat menjadi penyebab aritmia dan rasa berdebar. 8) Menciptakan lingkungan yang tenang untuk menurunkan ansietas yang dapat memperburuk persepsi nyeri dan palpitasi. 9) Mengevaluasi respons pasien terhadap intervensi yang diberikan dan menyesuaikan rencana tindakan sesuai kebutuhan. Intervensi ini bersifat holistik, tidak hanya berfokus pada sensasi nyeri di perut tetapi juga pada keluhan sistemik seperti berdebar dan aritmia yang saling berkontribusi terhadap gangguan kenyamanan secara keseluruhan.