Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 10005 | 28 Dec 2024
Klinis : Kasus 2 Ny. A. Berusia 18 tahun, mengalami diare sejak kemarin setelah mengonsumsi makanan yang sangat pedas. Setelah dilakukan pengkajian, didapatkan BAB cair sebanyak 7 kali dalam 24 jam terakhir, disertai mulas dan kram perut dengan skala nyeri 5, nyeri seperti diremas-remas. Pasien mengatakan sangat menyukai makanan pedas dan sering menambahkan banyak cabai saat makan. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital: TD 110/70 mmHg, nadi 88x/menit, Suhu 37,2°C, RR 22x/mnt. Terlihat tanda-tanda dehidrasi ringan dengan bibir kering dan turgor kulit menurun.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi Ny. A.:
1. Diare akut berhubungan dengan konsumsi makanan pedas yang berlebihan
- Definisi: Pengeluaran feses cair atau setengah cair yang terjadi secara tiba-tiba dan menetap kurang dari 14 hari.
- Karakteristik: BAB cair sebanyak 7 kali dalam 24 jam, disertai mulas dan kram perut.
2. Risiko dehidrasi berhubungan dengan diare akut
- Definisi: Keadaan ketidakseimbangan cairan dan elektrolit yang berpotensi terjadi akibat kehilangan cairan dan elektrolit yang berlebihan.
- Karakteristik: Tanda-tanda dehidrasi ringan seperti bibir kering dan turgor kulit menurun.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Diare akut berhubungan dengan konsumsi makanan pedas yang berlebihan:
- Pasien dapat melaporkan penurunan frekuensi BAB
- Pasien dapat melaporkan penurunan rasa mulas dan kram perut
- Pasien dapat menunjukkan peningkatan konsistensi feses
2. Risiko dehidrasi berhubungan dengan diare akut:
- Pasien dapat mempertahankan status hidrasi yang adekuat
- Pasien dapat melaporkan peningkatan intake cairan
- Pasien dapat menunjukkan tanda-tanda vital dalam batas normal
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Diare akut berhubungan dengan konsumsi makanan pedas yang berlebihan:
- Kaji frekuensi, konsistensi, dan volume BAB
- Berikan informasi tentang penyebab diare dan pentingnya pembatasan konsumsi makanan pedas
- Ajarkan teknik manajemen nyeri perut, seperti kompres hangat dan distraksi
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan untuk pemberian obat antidiare, jika diperlukan
2. Risiko dehidrasi berhubungan dengan diare akut:
- Kaji tanda-tanda dehidrasi, seperti bibir kering, turgor kulit, dan intake-output cairan
- Berikan edukasi tentang pentingnya peningkatan asupan cairan dan elektrolit
- Beri asupan cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan, baik per oral maupun parenteral
- Pantau tanda-tanda vital secara reguler
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan untuk pemberian terapi rehidrasi, jika diperlukan
Dengan intervensi keperawatan yang tepat, diharapkan Ny. A. dapat pulih dari diare akut dan terhindar dari komplikasi dehidrasi. -
Article No. 10006 | 28 Dec 2024
Klinis : pasien datang dibawa dengan kejang terus menerus , berdurasi singkat , kejang tonik klonik , disertai demam 1 hari riw epilepsi , sudah minum obat tp kejang tidak berhenti
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan mempertimbangkan kondisi pasien yang Anda uraikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat terkait SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
1. Diagnosa Keperawatan: Risiko Cedera (RSKO)
- SDKI: Keadaan yang rentan terhadap cidera fisik, psikologis, sosial, atau spiritual yang dapat mengganggu integritas tubuh, fungsi, serta proses pertumbuhan dan perkembangan individu.
- SLKI: Tidak terjadi cidera fisik, psikologis, sosial, atau spiritual yang dapat mengganggu integritas tubuh, fungsi, serta proses pertumbuhan dan perkembangan individu.
- SIKI: Intervensi yang dapat dilakukan meliputi manajemen lingkungan, manajemen medikasi, pemantauan tanda vital, dan konseling keselamatan.
Penjelasan:
Pasien mengalami kejang terus-menerus dengan durasi singkat, kejang tonik-klonik, disertai demam, dan riwayat epilepsi. Meskipun pasien telah minum obat, kejang tidak berhenti, sehingga berisiko mengalami cedera fisik maupun psikologis akibat kejang yang berlangsung lama. Oleh karena itu, diagnosa keperawatan yang tepat adalah Risiko Cedera (RSKO).
Tujuan keperawatan adalah untuk mencegah terjadinya cedera fisik, psikologis, sosial, atau spiritual yang dapat mengganggu integritas tubuh, fungsi, serta proses pertumbuhan dan perkembangan individu. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi manajemen lingkungan, manajemen medikasi, pemantauan tanda vital, dan konseling keselamatan. -
Article No. 10008 | 28 Dec 2024
Klinis : Risiko Perubahan Perfusi Serebral (SDKI)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Assalamualaikum, perkenalkan saya adalah Perawat senior di Rumah Sakit X. Saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi Risiko Perubahan Perfusi Serebral.
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Perubahan Perfusi Serebral (SDKI)
- Definisi: Risiko terjadinya gangguan suplai darah ke otak yang dapat menyebabkan disfungsi serebral.
- Faktor risiko: Hipertensi, diabetes, penyakit jantung, merokok, obesitas, stres, dll.
- Tanda dan gejala: Perubahan kesadaran, gangguan motorik, perubahan tanda-tanda vital, sakit kepala, dll.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia)
- Merupakan standar diagnosis keperawatan yang dikembangkan oleh PPNI.
- Terdiri dari daftar diagnosis keperawatan beserta definisi, faktor risiko, tanda dan gejala, serta kriteria hasil.
- Diagnosa Risiko Perubahan Perfusi Serebral termasuk dalam kategori diagnosis keperawatan domain Nutrisi-Metabolik.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia)
- Merupakan standar luaran keperawatan yang dikembangkan oleh PPNI.
- Berisi daftar luaran keperawatan yang diharapkan dapat dicapai setelah intervensi keperawatan dilakukan.
- Luaran yang terkait dengan Risiko Perubahan Perfusi Serebral antara lain: Perfusi Serebral Adekuat, Fungsi Neurologi Membaik, Tekanan Darah Terkendali, dll.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia)
- Merupakan standar intervensi keperawatan yang dikembangkan oleh PPNI.
- Berisi daftar intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai luaran keperawatan yang diharapkan.
- Intervensi yang terkait dengan Risiko Perubahan Perfusi Serebral antara lain: Pemantauan Tanda-Tanda Vital, Manajemen Hipertensi, Edukasi Gaya Hidup Sehat, dll.
Demikian penjelasan singkat mengenai diagnosa keperawatan Risiko Perubahan Perfusi Serebral dan standar SDKI, SLKI, serta SIKI dari PPNI. Apabila ada pertanyaan lebih lanjut, silakan tanyakan. -
Article No. 10009 | 28 Dec 2024
Klinis : takipnoe
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi takipnoe.
Diagnosa Keperawatan:
Pola Napas Tidak Efektif
Penjelasan Singkat:
1. SDKI:
- Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan pola napas yang dapat mendukung kebutuhan oksigenasi.
- Karakteristik Mayor: Frekuensi napas di atas atau di bawah rentang normal.
2. SLKI:
- Luaran yang Diharapkan: Pasien akan mempertahankan pola napas yang efektif.
- Kriteria Hasil: Pasien menunjukkan frekuensi napas dalam batas normal, irama napas teratur, dan tidak ada tanda-tanda distres pernapasan.
3. SIKI:
- Intervensi Keperawatan:
a. Pantau tanda-tanda vital, terutama frekuensi napas.
b. Kaji pola napas, irama, dan kedalaman napas.
c. Berikan oksigen sesuai kebutuhan.
d. Ajarkan teknik relaksasi pernapasan.
e. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk mengatasi penyebab takipnoe.
Dalam kondisi ini, takipnoe (peningkatan frekuensi pernapasan) dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti kondisi medis, gangguan paru-paru, atau stres. Perawat perlu melakukan penilaian komprehensif, memantau tanda-tanda vital, dan berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk mengatasi penyebab dan mempertahankan pola napas yang efektif. -
Article No. 10010 | 28 Dec 2024
Klinis : pasien hemodialisa
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien hemodialisis.
Diagnosa Keperawatan:
1. Kelebihan Volume Cairan
- Definisi: Ketidakmampuan ginjal untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit.
- Penyebab: Penurunan fungsi ginjal, asupan cairan yang berlebihan, dan gangguan mekanisme homeostasis.
- Tanda dan Gejala: Edema, peningkatan berat badan, hipertensi, sesak napas, dan kelelahan.
2. Intoleransi Aktivitas
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diinginkan.
- Penyebab: Penurunan fungsi ginjal, anemia, dan efek samping terapi hemodialisis.
- Tanda dan Gejala: Fatigue, lemah, dan mudah lelah saat melakukan aktivitas.
3. Gangguan Keseimbangan Elektrolit
- Definisi: Ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan konsentrasi normal elektrolit dalam cairan tubuh.
- Penyebab: Penurunan fungsi ginjal, ketidakseimbangan asupan dan ekskresi elektrolit.
- Tanda dan Gejala: Perubahan kadar elektrolit dalam darah, kram otot, iritabilitas, dan aritmia jantung.
Penjelasan SDKI - SLKI - SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang digunakan untuk mengidentifikasi kondisi klien dan masalah keperawatan yang ditemukan. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah standar yang digunakan untuk menentukan hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah standar yang digunakan untuk menentukan tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Penggunaan SDKI - SLKI - SIKI dalam praktik keperawatan hemodialisis membantu perawat untuk melakukan pengkajian yang komprehensif, merumuskan diagnosa keperawatan yang tepat, menetapkan luaran yang realistic, dan merencanakan intervensi yang sesuai dengan kondisi pasien. Hal ini dapat meningkatkan kualitas asuhan keperawatan dan membantu pasien mencapai hasil yang optimal dalam pengelolaan kondisi hemodialisis. -
Article No. 9942 | 28 Dec 2024
Klinis : penglihatankabur
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta terkait kondisi penglihatan kabur.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
Diagnosa keperawatan yang sesuai untuk kondisi penglihatan kabur adalah "Gangguan Penglihatan" berdasarkan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI). Kondisi penglihatan kabur menunjukkan adanya gangguan pada fungsi visual, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti perubahan struktural pada mata, kelainan retina, atau penyakit sistemik. Diagnosa keperawatan ini mencakup identifikasi dan pemahaman terhadap masalah penglihatan yang dialami oleh pasien.
Luaran/Output yang Diharapkan Setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
Setelah dilakukan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output sebagai berikut berdasarkan Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI):
1. Pemulihan Penglihatan: Pasien menunjukkan perbaikan dalam fungsi penglihatan, dengan indikator seperti kemampuan melihat objek dengan jelas, tidak ada keluhan penglihatan kabur, dan tidak ada keterbatasan aktivitas akibat gangguan penglihatan.
2. Manajemen Gejala: Pasien dapat mengelola gejala-gejala yang terkait dengan gangguan penglihatan, seperti mampu mengidentifikasi penyebab, melakukan tindakan pencegahan, dan mengurangi frekuensi atau tingkat keparahan gejala.
3. Kepatuhan Terhadap Pengobatan: Pasien menunjukkan kepatuhan dalam mengikuti regimen pengobatan yang direkomendasikan, seperti mengonsumsi obat-obatan, menggunakan alat bantu penglihatan, atau melakukan terapi sesuai rencana.
Intervensi Keperawatan yang Diperlukan untuk Mencapai Tujuan Luaran (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, berikut adalah intervensi keperawatan yang diperlukan berdasarkan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI):
1. Pemantauan Penglihatan: Melakukan pemeriksaan dan pengkajian secara berkala terhadap fungsi penglihatan pasien, seperti mengukur ketajaman visual, mengevaluasi lapang pandang, dan mengidentifikasi perubahan pada mata.
2. Edukasi Kesehatan: Memberikan edukasi dan konseling kepada pasien mengenai kondisi penglihatan kabur, penyebab, dan tindakan yang dapat dilakukan untuk mengatasi atau mencegah kondisi tersebut.
3. Manajemen Gejala: Mengidentifikasi dan mengintervensi gejala-gejala yang dialami pasien, serta mengajarkan teknik-teknik untuk mengelola gejala, seperti penggunaan alat bantu penglihatan, penyesuaian pencahayaan, dan latihan mata.
4. Koordinasi Perawatan: Berkoordinasi dengan tenaga kesehatan lain, seperti dokter oftalmologi, untuk melakukan pemeriksaan, diagnosis, dan pengobatan yang tepat bagi pasien.
5. Dukungan Psikososial: Memberikan dukungan emosional dan psikososial kepada pasien agar dapat beradaptasi dengan kondisi penglihatan kabur dan mempertahankan kualitas hidup yang optimal.
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berpusat pada pasien, diharapkan dapat membantu pasien dalam mencapai luaran/output yang diharapkan, yaitu pemulihan penglihatan, manajemen gejala, dan kepatuhan terhadap pengobatan. -
Article No. 9943 | 28 Dec 2024
Klinis : benjolan di leher kanan, leukosit 10,000, demam
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R22.0
- Deskripsi: Benjolan lokal di leher
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 784.2
- Deskripsi: Pemeriksaan klinis leher
Penjelasan lebih lanjut:
Berdasarkan informasi yang Anda berikan, pasien mengalami benjolan di leher kanan, dengan leukosit 10,000 dan demam. Kode ICD-10 yang sesuai adalah R22.0, yang menggambarkan benjolan lokal di leher. Ini merupakan kode untuk menggambarkan tanda atau gejala umum yang muncul pada pasien.
Selain itu, tidak ada prosedur atau tindakan medis spesifik yang tercantum dalam informasi yang Anda berikan. Namun, dapat dipertimbangkan kode ICD-9-CM 784.2, yang menggambarkan pemeriksaan klinis leher. Pemeriksaan klinis leher mungkin dilakukan untuk mengevaluasi dan mendiagnosis kondisi pasien.
Perlu diperhatikan bahwa penggunaan kode ICD yang tepat sangat penting untuk dokumentasi medis yang akurat dan pengkodean yang sesuai. Diagnosis dan tindakan medis harus ditentukan oleh dokter yang menangani pasien berdasarkan temuan klinis dan hasil pemeriksaan. -
Article No. 9944 | 28 Dec 2024
Klinis : benjolan di leher kanan, leukosit 10,000, demam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan bersihan jalan napas.
Penjelasan SDKI, SLKI, SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Penyebab: Adanya obstruksi jalan napas, peningkatan sekresi, dan penurunan kemampuan batuk.
- Gejala dan Tanda: Bunyi napas abnormal, produksi sputum berlebih, mengi, dan dispnea.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan: Jalan napas tetap bersih, pertukaran gas adekuat, dan tidak ada komplikasi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi: Manajemen jalan napas, manajemen ventilasi, dan manajemen batuk.
2. Risiko Infeksi
Definisi: Berisiko mengalami invasi dan multiplikasi organisme patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Penjelasan SDKI, SLKI, SIKI:
SDKI:
- Penyebab: Penurunan sistem imun, paparan organisme patogen, dan prosedur invasif.
- Gejala dan Tanda: Demam, peningkatan leukosit, dan benjolan di leher.
SLKI:
- Luaran yang diharapkan: Tidak terjadi infeksi, tanda-tanda vital dalam batas normal, dan tidak ada tanda-tanda infeksi.
SIKI:
- Intervensi: Manajemen infeksi, manajemen demam, dan manajemen nutrisi.
Semoga informasi ini bermanfaat. Jangan ragu untuk bertanya lebih lanjut jika Anda membutuhkan penjelasan tambahan. -
Article No. 9945 | 28 Dec 2024
Klinis : os datang dengan keluhan nyeri dada tengah tidak menjalar, nyeri dada spt tertusuk sekitar jam 16.00 ada keringat dingin ada mual tanpa muntah, nyeri dada bertambah bila terlentang. ada demam siang ini , muncul ruam2 kemerahan diseluruh badan dan kaki sudah 4 hari kadang terasa gatal BAB dan BAK dbn
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, berikut adalah Diagnosis Keperawatan, Penjelasan Singkat, serta Standar SDKI-SLKI-SIKI yang sesuai dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosis Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit (kardiovaskular)
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan keterbatasan fisik
3. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
Penjelasan Singkat:
1. Nyeri Akut berhubungan dengan Proses Penyakit (Kardiovaskular):
- Klien mengalami nyeri dada tengah yang tidak menjalar, terasa seperti tertusuk, terutama saat terlentang, disertai keringat dingin dan mual tanpa muntah.
- Nyeri dapat disebabkan oleh proses penyakit kardiovaskular, seperti angina pektoris atau infark miokard.
2. Intoleransi Aktivitas berhubungan dengan Keterbatasan Fisik:
- Klien mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas sehari-hari akibat kondisi fisiknya yang lemah, seperti demam dan ruam di seluruh tubuh.
- Kondisi ini dapat menyebabkan klien mudah kelelahan dan tidak toleran terhadap aktivitas.
3. Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan Anoreksia:
- Klien menunjukkan gejala anoreksia, yaitu adanya penurunan nafsu makan, mual, dan BAB/BAK yang tidak normal.
- Kondisi ini dapat menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi dan penurunan berat badan.
Standar SDKI-SLKI-SIKI:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Nyeri Akut
- Intoleransi Aktivitas
- Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Kontrol Nyeri
- Toleransi Aktivitas
- Status Nutrisi
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen Nyeri
- Peningkatan Toleransi Aktivitas
- Manajemen Nutrisi -
Article No. 9946 | 28 Dec 2024
Klinis : Pasien mengeluh nyeri pada bagian testis dan kedua kaki yang bengkak, kaki ketika beraktivitas terasa nyeri, dan setelah beraktivitas merasa sesak nafas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang pakar perawat, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut (SDKI)
2. Edema perifer (SDKI)
3. Intoleransi aktivitas (SDKI)
Penjelasan singkat:
1. Nyeri akut (SDKI)
- Definisi: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan, baik aktual maupun potensial, atau yang dijelaskan dalam istilah kerusakan tersebut, dengan onset tiba-tiba atau lambat dan berakhir dalam waktu yang relatif singkat.
- Karakteristik: Pasien mengeluh nyeri pada testis dan kedua kaki.
2. Edema perifer (SDKI)
- Definisi: Akumulasi cairan di ruang interstisial yang menyebabkan pembengkakan pada tubuh.
- Karakteristik: Kedua kaki pasien terlihat bengkak.
3. Intoleransi aktivitas (SDKI)
- Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas harian yang biasa dilakukan.
- Karakteristik: Pasien merasa nyeri saat beraktivitas dan merasa sesak napas setelah beraktivitas.
Standar Luaran Keperawatan (SLKI):
- Penurunan nyeri (SLKI)
- Keseimbangan cairan (SLKI)
- Toleransi aktivitas (SLKI)
Standar Intervensi Keperawatan (SIKI):
- Manajemen nyeri (SIKI)
- Manajemen edema (SIKI)
- Peningkatan toleransi aktivitas (SIKI)
Penerapan standar ini akan membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan terstandarisasi untuk mengatasi masalah kesehatan yang dialami pasien.