Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23663 | 15 Jan 2026
Klinis : Usia kehamilan 39 minggu TFU: 31 cm
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidaknyamanan: Nyeri Akut terkait Proses Persalinan
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Pengalaman perasaan tidak menyenangkan yang bersifat sensorik dan emosional akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan keperawatan untuk mengurangi atau meringankan ketidaknyamanan atau nyeri. Fokus intervensi ini adalah pada penilaian komprehensif nyeri (lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor presipitasi), serta penerapan metode farmakologis dan non-farmakologis untuk mengatasi nyeri. Perawat mengobservasi respons verbal dan non-verbal pasien terhadap nyeri, memantau efek samping intervensi, dan mendidik pasien serta keluarga tentang teknik manajemen nyeri. Pada konteks persalinan, ini mencakup pemantauan pola dan karakteristik kontraksi, posisi janin, serta respons ibu terhadap kemajuan persalinan. Perawat memberikan dukungan psikologis, menciptakan lingkungan yang nyaman, dan memfasilitasi teknik relaksasi serta pernapasan. Tujuan akhirnya adalah agar pasien melaporkan penurunan tingkat nyeri, menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal, dan mampu berpartisipasi dalam aktivitas yang diperlukan selama proses persalinan.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Manajemen Persalinan. Tindakan keperawatan selama proses persalinan untuk memantau dan mendukung ibu serta janin. Intervensi ini meliputi pemantauan ketat tanda-tanda vital ibu (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) dan kondisi janin (denyut jantung janin/DJJ melalui Doppler atau CTG). Perawat melakukan pemeriksaan dalam untuk menilai pembukaan serviks, penurunan bagian terendah janin, dan posisi janin. Perawat juga memantau karakteristik kontraksi uterus (frekuensi, durasi, intensitas) dan kemajuan persalinan. Aspek penting lainnya adalah memberikan dukungan emosional dan psikologis yang berkelanjutan, mendorong mobilisasi dan posisi yang nyaman, memfasilitasi kebutuhan nutrisi dan hidrasi, serta mengajarkan teknik mengejan yang efektif saat waktunya tiba. Perawat berkolaborasi dengan bidan atau dokter dalam menilai indikasi partus normal atau adanya komplikasi. Intervensi ini juga mencakup persiapan untuk kelahiran, termasuk penyiapan alat dan lingkungan, serta memberikan asuhan segera pada bayi baru lahir. Tujuannya adalah memastikan proses persalinan berlangsung aman, meminimalkan komplikasi, dan memberikan pengalaman persalinan yang positif bagi ibu.
Kondisi: Ansietas terkait Proses Persalinan dan Menjadi Ibu
Kode SDKI: 0017
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah yang samar-samar atau tidak menyenangkan sebagai respons terhadap antisipasi ancaman yang tidak diketahui atau tidak dikenali secara jelas, disertai respons otonom (sumbernya seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu).
Kode SLKI: 5820
Deskripsi : Pengurangan Kecemasan. Tindakan keperawatan untuk meminimalkan rasa takut, gelisah, atau khawatir yang dialami oleh individu atau kelompok terkait dengan ancaman yang dirasakan. Intervensi ini dimulai dengan penilaian tingkat, sumber, dan manifestasi kecemasan pasien. Perawat menciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung, mendorong ekspresi perasaan dan kekhawatiran. Pendidikan kesehatan tentang proses persalinan, tahapannya, dan apa yang diharapkan sangat penting untuk mengurangi kecemasan akibat ketidaktahuan. Perawat menggunakan teknik komunikasi terapeutik, mendengarkan aktif, dan memberikan validasi emosional. Teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, imajinasi terbimbing, atau sentuhan terapeutik dapat diajarkan dan difasilitasi. Perawat juga melibatkan keluarga atau pendamping persalinan untuk memberikan dukungan. Tujuan intervensi ini adalah agar pasien dapat mengidentifikasi sumber kecemasannya, menunjukkan penurunan tanda-tanda fisiologis kecemasan (seperti takikardia atau hiperventilasi), melaporkan penurunan perasaan cemas, dan mampu menggunakan strategi koping yang efektif untuk menghadapi proses persalinan.
Kode SIKI: 5270
Deskripsi : Peningkatan Koping. Tindakan keperawatan untuk membantu seseorang dalam meningkatkan kemampuannya mengatasi masalah atau stresor. Dalam konteks persalinan, intervensi ini fokus pada memperkuat sumber daya internal dan eksternal ibu. Perawat membantu pasien mengidentifikasi kekuatan dan strategi koping yang pernah berhasil di masa lalu. Perawat mendorong partisipasi aktif dalam perencanaan asuhan persalinan, seperti memilih posisi atau teknik relaksasi yang diinginkan, untuk meningkatkan rasa kontrol. Pendidikan tentang mekanisme persalinan dan perubahan fisiologis yang normal membantu membangun kepercayaan diri. Perawat juga memfasilitasi dukungan sosial dengan melibatkan pasangan atau keluarga, serta menghubungkan pasien dengan sumber daya komunitas jika diperlukan (seperti kelas parenting). Tujuannya adalah agar pasien dapat mendemonstrasikan penggunaan strategi koping adaptif (seperti teknik pernapasan), mengungkapkan perasaan percaya diri dalam menghadapi persalinan, dan berpartisipasi secara efektif dalam proses persalinan.
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan: Fetoplasenta terkait Perubahan Sirkulasi Uteroplasenta
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan nutrisi dan oksigenasi pada tingkat sel akibat penurunan suplai darah pada sirkulasi fetoplasenta.
Kode SLKI: 4016
Deskripsi : Pemantauan Perfusi Jaringan: Fetoplasenta. Tindakan keperawatan untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi tentang kecukupan aliran darah dan oksigenasi pada unit fetoplasenta. Intervensi ini berfokus pada deteksi dini tanda-tanda gawat janin. Perawat secara rutin dan berkala memantau Denyut Jantung Janin (DJJ) sebelum, selama, dan setelah kontraksi untuk mengidentifikasi adanya deselerasi dini, lambat, atau variabel. Pemantauan aktivitas dan gerakan janin juga dilakukan. Perawat mengobservasi tanda-tanda klinis pada ibu yang dapat mempengaruhi perfusi, seperti hipertensi, hipotensi, perdarahan pervaginam, atau pecahnya ketuban dengan mekonium. Asupan cairan dan output urine ibu dipantau untuk menilai status hidrasi dan fungsi ginjal yang berkaitan dengan volume sirkulasi. Posisi ibu diatur untuk mencegah supine hypotensive syndrome (misalnya, miring ke kiri) guna mengoptimalkan aliran darah ke plasenta. Tujuan pemantauan ini adalah untuk mendeteksi secara dini setiap perubahan status janin, sehingga intervensi yang tepat dapat segera dilakukan untuk mencegah asfiksia janin.
Kode SIKI: 6680
Deskripsi : Pemantauan Vital Signs. Tindakan keperawatan untuk mengukur dan mengevaluasi tanda-tanda fisiologis yang mencerminkan status kesehatan dan fungsi tubuh. Pada ibu hamil 39 minggu dalam persiapan persalinan, pemantauan tanda vital dilakukan lebih sering. Tekanan darah dipantau untuk mendeteksi pre-eklampsia (peningkatan tekanan darah). Nadi dinilai untuk kecepatan, ritme, dan volumenya, yang dapat mencerminkan status volume cairan, nyeri, atau kecemasan. Suhu tubuh dipantau karena peningkatan dapat mengindikasikan infeksi (seperti korioamnionitis) yang dapat membahayakan janin. Frekuensi pernapasan juga diamati. Data tanda vital ini dianalisis secara bersamaan dengan data lain (seperti DJJ dan kontraksi) untuk mendapatkan gambaran holistik tentang kondisi ibu dan janin. Pencatatan yang akurat dan berkelanjutan sangat penting untuk melacak tren dan mengidentifikasi penyimpangan dari baseline pasien. Intervensi ini bertujuan untuk memastikan stabilitas fisiologis ibu sebagai dasar untuk perfusi plasenta yang adekuat.
Catatan Penting: Data TFU 31 cm pada usia kehamilan 39 minggu (biasanya TFU normal mendekati usia kehamilan, sekitar 36-40 cm) dapat mengindikasikan Kecil untuk Masa Kehamilan (KMK), oligohidramnion, atau presentasi janin yang sudah sangat turun. Hal ini memerlukan diagnosa keperawatan tambahan: Risiko Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh: Janin (SDKI: 0003) dengan intervensi pemantauan ketat DJJ, gerakan janin, dan persiapan untuk penatalaksanaan persalinan yang mungkin memerlukan tindakan khusus. Asuhan harus berkolaborasi erat dengan bidan/dokter.
-
Article No. 23664 | 15 Jan 2026
Klinis : Kehamilan: 39 minggu TFU: 31 cm Cairan dan nutrisinya baik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perubahan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh pada Kehamilan
Kode SDKI: B.1.2.1
Deskripsi Singkat: Risiko asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik selama kehamilan, yang dapat mengganggu pertumbuhan janin dan kesehatan ibu.
Kode SLKI: L.03101
Deskripsi : Penatalaksanaan Nutrisi pada Ibu Hamil. Intervensi keperawatan ini bertujuan untuk memastikan ibu hamil menerima asupan nutrisi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan trimester spesifik. Fokusnya adalah pada pengkajian status nutrisi, identifikasi faktor risiko, edukasi gizi, dan pemantauan pertumbuhan janin. Perawat berperan dalam menilai pola makan, menghitung kenaikan berat badan yang diharapkan, memberikan penyuluhan tentang makanan sumber zat besi, asam folat, protein, kalsium, dan zat gizi mikro lainnya, serta mendiskusikan keluhan yang mempengaruhi asupan seperti mual. Dalam konteks kasus ini, meskipun dinyatakan "cairan dan nutrisinya baik", pengukuran Tinggi Fundus Uteri (TFU) 31 cm pada usia kehamilan 39 minggu (aterm) merupakan temuan kunci yang mengindikasikan kemungkinan Small for Gestational Age (SGA) atau pertumbuhan janin terhambat. TFU normal untuk usia kehamilan 39 minggu adalah sekitar 36-40 cm. Diskrepani yang signifikan ini (31 vs 36-40 cm) menimbulkan kekhawatiran serius mengenai kecukupan nutrisi dan pertukaran plasenta yang optimal untuk mendukung pertumbuhan janin. Oleh karena itu, SLKI L.03101 menjadi sangat relevan untuk mengatasi risiko defisit nutrisi yang mendasari temuan klinis ini. Implementasinya mencakup konsultasi gizi mendalam, mungkin suplementasi, dan koordinasi dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut seperti USG untuk menilai berat janin dan kondisi cairan ketuban.
Kode SIKI: I.03101.01
Deskripsi : Monitor asupan nutrisi dan cairan. Kriteria hasil ini mengukur keberhasilan intervensi dengan memantau jumlah dan kualitas makanan serta cairan yang dikonsumsi ibu hamil. Dalam situasi pasien ini, pemantauan menjadi lebih intensif dan terarah. Perawat perlu melakukan pencatatan asupan makanan 24 jam secara detail, menghitung estimasi kalori dan protein, serta memastikan kecukupan cairan. Monitoring juga harus dikaitkan dengan parameter klinis. Kriteria keberhasilan tidak hanya "asupan baik" secara subjektif, tetapi harus menuju perbaikan parameter objektif seperti peningkatan berat badan ibu (jika masih memungkinkan di usia kehamilan ini) dan yang paling penting, evaluasi ulang TFU atau temuan USG. Selain itu, perawat memantau tanda-tanda dehidrasi, kadar hemoglobin untuk menilai anemia, dan respons ibu terhadap edukasi gizi yang diberikan. Tujuan akhir dari kriteria ini adalah memastikan bahwa intervensi nutrisi yang dilakukan benar-benar dapat mengoptimalkan kondisi janin sebelum persalinan, meskipun waktu yang tersisa sangat terbatas. Pemantauan ketat juga diperlukan untuk persiapan tindakan obstetri jika ditemukan gawat janin atau indikasi untuk persalinan segera.
-
Article No. 23665 | 15 Jan 2026
Klinis : Usia kehamilan 39 minggu TfU: 31 cm
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kehamilan Aterm (39 Minggu) dengan Tinggi Fundus Uteri (TFU) 31 cm
Kode SDKI: 0001
Deskripsi Singkat: Risiko tinggi terhadap persalinan yang tidak efektif berhubungan dengan ketidaksesuaian ukuran janin/panggul yang ditandai dengan TFU 31 cm pada usia kehamilan 39 minggu (kemungkinan oligohidramnion atau pertumbuhan janin terhambat/sudah turun).
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Pengkajian antenatal dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan. Perawat akan melakukan pengkajian mendalam terhadap kondisi ibu dan janin. Ini mencakup pemantauan tanda-tanda vital ibu (tekanan darah, nadi, suhu), evaluasi keluhan seperti nyeri atau kontraksi, serta pemeriksaan penunjang seperti kardiotokografi (CTG) untuk menilai denyut jantung janin dan aktivitas uterus. Pengukuran TFU yang lebih rendah dari yang diharapkan (biasanya sekitar 37-40 cm untuk usia kehamilan 39 minggu) memerlukan investigasi lebih lanjut. Perawat akan mengkaji riwayat kehamilan, pola pertambahan berat badan ibu, pergerakan janin, serta adanya tanda-tanda pecah ketuban atau perdarahan. Tujuan SLKI ini adalah mengumpulkan data dasar yang akurat untuk menentukan apakah penyimpangan TFU ini mengindikasikan masalah seperti oligohidramnion (cairan ketuban sedikit), janin sudah masuk panggul dalam (engaged), pertumbuhan janin terhambat (IUGR), atau kesalahan dalam penentuan usia kehamilan. Pengkajian yang teliti dan dokumentasi yang baik sangat penting untuk perencanaan tindakan selanjutnya dan komunikasi dengan bidan atau dokter kandungan.
Kode SIKI: 3400
Deskripsi : Pemantauan cairan ketuban dilakukan. Berdasarkan temuan TFU 31 cm yang mengarah pada kemungkinan oligohidramnion, intervensi keperawatan ini menjadi prioritas. Perawat akan melakukan observasi ketat terhadap tanda-tanda klinis oligohidramnion atau gawat janin, seperti penurunan aktivitas janin yang drastis, kontraksi uterus yang tidak normal, atau nyeri abdomen. Perawat akan mempersiapkan dan membantu pelaksanaan pemeriksaan USG (Ultrasonografi) untuk mengukur indeks cairan ketuban (AFI) secara objektif, yang merupakan standar baku untuk menilai volume cairan ketuban. Selain itu, perawat akan memantau dan mendokumentasikan denyut jantung janin secara berkala, baik dengan Doppler maupun CTG, untuk mendeteksi dini adanya gawat janin yang dapat terjadi akibat kompresi tali pusat pada kondisi cairan ketuban rendah. Perawat juga akan memberikan edukasi kepada ibu tentang pentingnya memantau pergerakan janin (fetal kick count) dan segera melaporkan jika terjadi penurunan. Jika oligohidramnion terkonfirmasi, perawat akan berkolaborasi dengan tim medis untuk persiapan tindakan seperti induksi persalinan atau seksio sesarea, tergantung kondisi janin dan kesiapan serviks. Intervensi ini juga mencakup pemberian dukungan psikologis kepada ibu dan keluarga untuk mengurangi kecemasan terkait kondisi kehamilan yang mendekati persalinan dengan temuan yang tidak biasa.
-
Article No. 23666 | 15 Jan 2026
Klinis : Kehamilan: 39 minggu TFU: 31 cm Cairan dan nutrisinya baik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perubahan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh terkait dengan Ketidaksesuaian Ukuran Uterus dengan Usia Kehamilan
Kode SDKI: B.1.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko terjadinya asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, yang pada kasus ini dipicu oleh temuan klinis Tinggi Fundus Uteri (TFU) 31 cm pada kehamilan 39 minggu yang menunjukkan kemungkinan hambatan pertumbuhan janin (IUGR) atau oligohidramnion, sehingga memengaruhi status nutrisi dan kesejahteraan janin.
Kode SLKI: L.03120
Deskripsi : Intervensi keperawatan difokuskan pada pemantauan dan optimasi status nutrisi ibu serta kesejahteraan janin untuk mencegah atau meminimalkan dampak dari ketidaksesuaian pertumbuhan. Pertama, dilakukan pemantauan ketat pola makan ibu, termasuk asupan kalori, protein, zat besi, asam folat, dan cairan, dengan mendokumentasikan jenis, porsi, dan frekuensi makan. Kedua, berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana diet individual yang padat nutrisi sesuai kebutuhan trimester ketiga. Ketiga, memantau kenaikan berat badan ibu secara berkala dan menghubungkannya dengan pola pertumbuhan janin. Keempat, melakukan edukasi kepada ibu dan keluarga tentang pentingnya nutrisi spesifik untuk mendukung pertumbuhan janin dalam kondisi TFU yang tidak sesuai, termasuk sumber makanan dan suplemen yang dianjurkan. Kelima, memantau tanda-tanda dehidrasi atau kekurangan nutrisi lainnya pada ibu seperti kelelahan ekstrem, pucat, atau pusing. Keenam, meningkatkan pemantauan kesejahteraan janin melalui penghitungan gerakan janin (fetal kick count) dan pemeriksaan NST/USG sesuai indikasi untuk mendeteksi dini gawat janin. Ketujuh, memberikan dukungan psikologis dan mengurangi kecemasan ibu terkait kondisi kehamilannya, karena stres dapat memengaruhi nafsu makan dan penyerapan nutrisi. Intervensi ini bertujuan memastikan asupan nutrisi optimal sebagai upaya untuk mendukung pertumbuhan janin dalam batas maksimal potensinya dan mempersiapkan ibu untuk proses persalinan.
Kode SIKI: L.03120.01 - L.03120.07
Deskripsi : Kriteria hasil dievaluasi untuk memastikan efektivitas intervensi yang diberikan. Pertama (L.03120.01), ibu dapat menyebutkan jenis dan porsi makanan padat nutrisi yang dianjurkan untuk kondisi kehamilannya. Kedua (L.03120.02), ibu menunjukkan peningkatan atau pemeliharaan asupan nutrisi yang adekuat, dibuktikan dengan catatan makanan yang lengkap dan sesuai rekomendasi. Ketiga (L.03120.03), parameter antropometri ibu (seperti berat badan) stabil atau menunjukkan tren peningkatan yang sesuai, meskipun TFU rendah. Keempat (L.03120.04), ibu melaporkan peningkatan energi dan penurunan keluhan seperti lemas atau pusing, yang mengindikasikan perbaikan status nutrisi. Kelima (L.03120.05), hasil pemantauan kesejahteraan janin dalam batas normal, seperti gerakan janin ≥10 kali dalam 2 jam dan rekaman NST yang reaktif. Keenam (L.03120.06), tidak ditemukan tanda-tanda dehidrasi atau malnutrisi pada ibu seperti turgor kulit buruk, mukosa kering, atau konjungtiva pucat. Ketujuh (L.03120.07), ibu mengungkapkan penurunan kecemasan dan menunjukkan sikap kooperatif dalam menjalani rencana perawatan dan pemantauan kehamilan. Pencapaian kriteria ini menunjukkan bahwa risiko perubahan nutrisi telah dikelola dengan baik, status nutrisi ibu terjaga, dan kesejahteraan janin termonitor, sehingga mengurangi potensi komplikasi lebih lanjut menjelang persalinan.
-
Article No. 23667 | 15 Jan 2026
Klinis : Usia kehamilan 39 minggu TfU: 31 cm
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Resiko Perdarahan Pascapersalinan
Kode SDKI: 0025
Deskripsi Singkat: Risiko kehilangan darah yang berlebihan selama dan setelah proses persalinan, yang dapat mengancam jiwa ibu.
Kode SLKI: 4301
Deskripsi : Perdarahan pascapersalinan dicegah. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) dalam batas normal untuk periode pascapersalinan. 2) Tonus uterus baik (uterus berkontraksi dengan baik, teraba keras di pertengahan antara pusat dan simfisis pubis). 3) Perdarahan pervaginam dalam batas normal (lokia rubra, tidak lebih dari 2 pembalut penuh dalam 1 jam pertama pascapersalinan, dan mengalami penurunan jumlah secara bertahap). 4) Tidak ada tanda-tanda syok hipovolemik (seperti kulit pucat, dingin, lembab, pusing, gelisah, penurunan kesadaran, takikardia, hipotensi). 5) Kandung kemih dalam keadaan kosong atau tidak teraba penuh. 6) Ibu dan keluarga memahami tanda-tanda perdarahan abnormal yang harus dilaporkan segera.
Kode SIKI: 3401, 3402, 3403, 3404, 3405, 3406, 3407, 3408
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mencegah dan mengatasi risiko perdarahan pascapersalinan meliputi serangkaian tindakan yang komprehensif. Pertama, **Pemantauan Tanda Vital (3401)** dilakukan secara ketat, minimal setiap 15 menit pada jam pertama pascapersalinan dan kemudian sesuai protokol, untuk mendeteksi dini tanda-tanda syok seperti takikardia dan hipotensi. Kedua, **Pemantauan Kondisi Uterus (3402)** dengan melakukan masase uterus secara rutin untuk merangsang kontraksi dan mempertahankan tonus yang baik, serta memastikan tinggi fundus uteri sesuai harapan (pada kasus ini, TfU 31 cm pada usia 39 minggu masih dalam batas normal, tetapi perlu dipantau penurunannya pascapersalinan). Ketiga, **Pemantauan Perdarahan (3403)** dengan mengobservasi jumlah, warna, dan karakteristik lokia, serta menghitung jumlah pembalut yang digunakan untuk mengestimasi kehilangan darah. Keempat, **Manajemen Kandung Kemih (3404)** dengan mendorong dan membantu ibu untuk berkemih segera setelah persalinan, karena kandung kemih penuh dapat menghambat kontraksi uterus dan memicu perdarahan. Kelima, **Pemberian Oksitosin (3405)** sesuai dengan resep dokter, baik secara intramuskular maupun intravena, untuk mempertahankan kontraksi uterus dan mengurangi risiko atonia uteri. Keenam, **Edukasi pada Ibu dan Keluarga (3406)** tentang pentingnya pemantauan perdarahan, tanda-tanda bahaya (seperti perdarahan yang tiba-tiba deras, pusing, lemas), dan pentingnya kontak kulit ke kulit serta menyusui dini karena merangsang pelepasan oksitosin alami. Ketujuh, **Persiapan untuk Tindakan Kegawatdaruratan (3407)** termasuk memastikan akses intravena yang paten, ketersediaan cairan resusitasi, dan obat-obatan emergensi, serta koordinasi dengan tim medis. Kedelapan, **Pemantauan Kondisi Umum (3408)** seperti tingkat kesadaran, warna kulit, keluhan nyeri, dan tanda-tanda anemia untuk evaluasi menyeluruh terhadap kondisi ibu. Kombinasi intervensi ini bertujuan untuk mengoptimalkan kontraksi uterus, meminimalkan faktor risiko, dan melakukan deteksi dini serta respons cepat jika terjadi perdarahan, sehingga outcome ibu dapat terjaga dengan baik.
-
Article No. 23669 | 15 Jan 2026
Klinis : Risiko Bunuh Diri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Bunuh Diri
Kode SDKI: 0027
Deskripsi Singkat: Kerentanan terhadap perilaku yang dapat mengancam jiwa yang ditujukan pada diri sendiri.
Kode SLKI: 4326
Deskripsi : Perilaku bunuh diri dicegah.
Kode SIKI: 4510
Deskripsi : Pencegahan bunuh diri.
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI) - Risiko Bunuh Diri (Kode 0027)
Diagnosa keperawatan "Risiko Bunuh Diri" didefinisikan sebagai keadaan kerentanan terhadap perilaku yang dapat mengancam jiwa yang ditujukan pada diri sendiri. Ini adalah diagnosa risiko, yang berarti masalah aktual (perilaku bunuh diri) belum terjadi, tetapi adanya faktor risiko yang membuat kejadian tersebut sangat mungkin terjadi jika tidak dilakukan intervensi. Faktor risiko ini dapat bersifat biopsikososial dan spiritual, mencakup riwayat percobaan bunuh diri sebelumnya, adanya gangguan jiwa (seperti depresi berat, skizofrenia, gangguan penggunaan zat), perasaan putus asa dan tidak berharga, isolasi sosial, kehilangan signifikan (pekerjaan, hubungan), penyakit fisik kronis yang menyakitkan, serta akses terhadap sarana untuk melukai diri (seperti obat-obatan, senjata tajam). Tanda utama yang dinilai oleh perawat adalah adanya ide bunuh diri, rencana, niat, dan persiapan. Peran perawat dalam diagnosa ini adalah melakukan asesmen risiko secara komprehensif dan berkelanjutan, membangun hubungan terapeutik untuk membuka komunikasi tentang pikiran-pikiran tersebut, serta mengidentifikasi faktor protektif seperti dukungan keluarga, keyakinan agama, atau harapan untuk masa depan.
Luaran Keperawatan (SLKI) - Perilaku Bunuh Diri Dicegah (Kode 4326)
Luaran ini merupakan tujuan akhir dari intervensi keperawatan, yaitu mencegah terjadinya tindakan bunuh diri. Indikator pencapaian luaran ini bersifat konkret dan terukur, meliputi: (1) Klien mengungkapkan tidak ada ide bunuh diri – ini menunjukkan berkurangnya atau hilangnya pikiran untuk mengakhiri hidup. (2) Klien mengungkapkan tidak ada rencana bunuh diri – menunjukkan bahwa pikiran abstrak tidak berkembang menjadi rencana konkret. (3) Klien mengungkapkan niat untuk hidup – ini adalah indikator kunci yang mencerminkan munculnya harapan dan alasan untuk tetap bertahan. (4) Klien mengidentifikasi sumber dukungan – seperti keluarga, teman, tenaga profesional, atau komunitas yang dapat dihubungi saat krisis. (5) Klien menggunakan strategi koping adaptif – misalnya dengan teknik relaksasi, aktivitas positif, atau menghubungi orang yang dipercaya saat muncul pikiran sulit. (6) Klien bebas dari perilaku menyakiti diri – menunjukkan kemampuan mengendalikan impuls. Pencapaian luaran ini dinilai secara bertahap, dari tingkat "tidak pernah dilakukan" hingga "selalu dilakukan".
Intervensi Keperawatan (SIKI) - Pencegahan Bunuh Diri (Kode 4510)
Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan spesifik yang dilakukan perawat untuk mencapai luaran "Perilaku Bunuh Diri Dicegah". Aktivitasnya meliputi: (1) Menciptakan lingkungan yang aman – dengan melakukan observasi ketat (pengawasan 24 jam jika diperlukan), merazia barang-barang pribadi klien untuk menyita benda berbahaya (pisau, tali, obat), dan memastikan keamanan fisik lingkungan ruangan. (2) Membangun kontrak terapeutik – membuat perjanjian tertulis atau lisan bahwa klien akan memberitahu perawat atau staf jika muncul ide bunuh diri dan tidak akan bertindak merugikan diri sendiri. (3) Melakukan asesmen risiko bunuh diri secara komprehensif dan berkelanjutan – menanyakan secara langsung tentang ide, rencana, niat, dan persiapan bunuh diri, serta mengevaluasi faktor risiko dan protektif. (4) Meningkatkan dukungan sosial – melibatkan keluarga dalam proses perawatan, mengajarkan mereka untuk mengenali tanda peringatan, dan memfasilitasi kunjungan atau komunikasi yang mendukung. (5) Membantu klien mengembangkan rencana keselamatan – yaitu daftar langkah konkret yang akan dilakukan klien ketika krisis muncul, termasuk nomor telepon darurat. (6) Mendorong ekspresi perasaan – memberikan kesempatan bagi klien untuk mengungkapkan perasaan putus asa, marah, atau sedih tanpa dihakimi. (7) Kolaborasi – bekerja sama dengan psikiater untuk terapi farmakologi (seperti antidepresan) dan dengan psikolog untuk terapi psikososial (seperti terapi kognitif perilaku). Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan pendekatan keamanan fisik, dukungan psikologis, dan terapi medis untuk mengurangi risiko secara maksimal.
-
Article No. 23670 | 15 Jan 2026
Klinis : pasien diare 10x sehari cair kuning jernih, muntah 3x
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diare Akut dengan Risiko Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Defisit Volume Cairan adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami penurunan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: L.03113
Deskripsi : SLKI L.03113 adalah Manajemen Defisit Cairan. Tujuan luaran keperawatan adalah tercapainya keseimbangan cairan dengan kriteria hasil: 1) Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu), 2) Turgor kulit elastis, 3) Membran mukosa lembab, 4) Produksi urin adekuat (≥ 0,5 mL/kgBB/jam), 5) Keseimbangan cairan (intake dan output) seimbang, 6) Berat badan stabil, 7) Tidak ada tanda dehidrasi (haus berlebihan, kelemahan, pusing), 8) Nilai laboratorium terkait elektrolit dalam rentang normal. Pada pasien dengan diare 10x dan muntah 3x, tujuan utama adalah menghentikan kehilangan cairan dan mengembalikan keseimbangan melalui pemberian cairan rehidrasi yang adekuat, baik oral maupun parenteral, serta memantau ketat tanda-tanda dehidrasi dan syok hipovolemik.
Kode SIKI: I.05239
Deskripsi : SIKI I.05239 adalah Terapi Cairan. Intervensi ini meliputi serangkaian tindakan sistematis untuk mengatasi defisit volume cairan. Pertama, lakukan pengkajian menyeluruh: pantau frekuensi, volume, dan karakteristik diare serta muntah; ukur tanda vital (nadi, tekanan darah, pernapasan, suhu) tiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan; kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa, dan capillary refill time; pantau keseimbangan cairan intake dan output secara ketat, termasuk pengukuran berat badan harian; dan awasi hasil laboratorium seperti elektrolit, hematokrit, dan BUN/kreatinin. Kedua, lakukan pemberian cairan: kolaborasi pemberian cairan intravena (seperti RL atau NaCl 0.9) sesuai resep dokter untuk koreksi defisit; anjurkan dan bantu pasien minum cairan rehidrasi oral (oralit) sedikit demi sedikit namun sering untuk mengganti kehilangan cairan; hindari pemberian minuman yang merangsang peristaltik usus seperti kopi atau minuman bersoda. Ketiga, lakukan edukasi: ajarkan pada pasien/keluarga tanda-tanda dehidrasi yang harus diwaspadai (misalnya, lemas, pusing, jarang buang air kecil, mata cekung); ajarkan cara menyiapkan dan pentingnya minum oralit; anjurkan diet BRAT (Banana, Rice, Apple sauce, Toast) atau diet rendah serat dan lemak sementara untuk mengurangi iritasi usus. Keempat, lakukan tindakan pencegahan dan higiene: terapkan prinsip pencegahan infeksi (cuci tangan sebelum dan sesudah kontak); pastikan kebersihan area perianal untuk mencegah iritasi kulit akibat diare; dan kolaborasi pemberian terapi farmakologis seperti antibiotik jika diare disebabkan infeksi bakteri atau obat antidiare sesuai indikasi. Evaluasi keefektifan intervensi dilakukan dengan membandingkan kondisi pasien terhadap kriteria hasil dalam SLKI, seperti perbaikan turgor kulit, peningkatan produksi urin, dan stabilisasi tanda vital.
-
Article No. 23671 | 15 Jan 2026
Klinis : leukosit rendah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi terkait Leukosit Rendah (Leukopenia)
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons tubuh terhadap masuknya patogen (virus, bakteri, jamur, parasit) yang terkait dengan pertahanan primer tidak adekuat (leukopenia).
Kode SLKI: 1910
Deskripsi : Tindakan Keperawatan: Pencegahan Infeksi. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis yang bertujuan untuk meminimalkan risiko masuk dan berkembangnya mikroorganisme patogen pada pasien yang mengalami gangguan sistem imun, seperti pada kondisi leukosit rendah (leukopenia). Fokus utamanya adalah menciptakan lingkungan yang aman, baik di fasilitas kesehatan maupun di rumah, dan memberdayakan pasien serta keluarganya untuk menerapkan perilaku pencegahan infeksi. Tindakan dimulai dengan pengawasan ketat terhadap tanda-tanda awal infeksi, seperti pemantauan suhu tubuh, pemeriksaan kulit dan membran mukosa, serta pengamatan terhadap sekret atau drainage. Perawat akan menerapkan dan mengajarkan prinsip higiene tangan yang benar sebelum dan setelah kontak dengan pasien atau lingkungannya. Dalam konteks leukopenia berat, isolasi protektif (reverse isolation) mungkin diterapkan, yang meliputi penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh pengunjung dan petugas, pembatasan pengunjung yang sakit, serta pemeliharaan kebersihan ruangan. Perawat juga mengatur dan memantau teknik aseptik ketat dalam semua prosedur perawatan luka, akses vaskular, dan kateterisasi. Edukasi kepada pasien dan keluarga meliputi pentingnya menghindari kerumunan, menghindari kontak dengan individu yang sakit, menjaga kebersihan diri (mandi rutin, perawatan oral), serta mengenali dan melaporkan segera gejala seperti demam, menggigil, batuk, atau kemerahan pada kulit. Nutrisi dengan diet tinggi protein dan vitamin untuk mendukung integritas pertahanan tubuh juga menjadi bagian dari intervensi. Selain itu, perawat berkolaborasi dengan tim medis untuk memantau hasil laboratorium (hitungan leukosit absolut) dan pemberian faktor pertumbuhan seperti G-CSF jika diresepkan. Seluruh tindakan ini didokumentasikan dan dievaluasi secara berkala untuk memastikan efektivitas pencegahan dan mendeteksi dini komplikasi infeksi.
Kode SIKI: I.08090
Deskripsi : Kriteria Hasil: Pencegahan Infeksi. Hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah pasien dapat mempertahankan status bebas infeksi, yang ditunjukkan dengan tidak adanya tanda dan gejala infeksi selama periode risiko tinggi akibat leukopenia. Kriteria hasil spesifik meliputi: (1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang diharapkan untuk pasien, khususnya suhu tubuh afebril (tidak ada demam). (2) Tidak adanya tanda-tanda lokal infeksi seperti kemerahan, panas, bengkak, nyeri, atau adanya pus (nanah) pada kulit, membran mukosa, atau area penusukan jarum. (3) Fungsi pernapasan tetap normal, tanpa batuk produktif, sesak napas, atau sputum purulen. (4) Fungsi eliminasi urine normal, tanpa disuria, urgensi, atau urine yang keruh dan berbau. (5) Integritas kulit dan membran mukosa tetap utuh tanpa lesi atau ulserasi yang terinfeksi. (6) Hasil laboratorium penunjang (seperti hitung leukosit) menunjukkan tren perbaikan atau stabil, tanpa indikasi infeksi sistemik. (7) Pasien dan keluarga mampu mendemonstrasikan perilaku pencegahan infeksi yang telah diajarkan, seperti teknik mencuci tangan yang benar, perawatan diri, dan menghindari sumber infeksi potensial. (8) Pasien dan keluarga dapat menyebutkan tanda-tanda dan gejala infeksi yang perlu dilaporkan segera kepada tenaga kesehatan. Pencapaian kriteria hasil ini menunjukkan keberhasilan manajemen risiko dan efektivitas intervensi keperawatan yang diberikan dalam melindungi pasien leukopenik dari ancaman infeksi yang dapat mengancam jiwa. Evaluasi dilakukan secara terus-menerus melalui pengamatan klinis, anamnesis, dan data penunjang.
-
Article No. 23672 | 15 Jan 2026
Klinis : leukosit tinggi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Leukosit Tinggi (Leukositosis)
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: 4301
Deskripsi : Leukositosis, atau peningkatan jumlah sel darah putih (leukosit) di atas nilai normal, bukanlah sebuah diagnosa melainkan sebuah tanda klinis yang signifikan. Dalam konteks keperawatan, kondisi ini paling tepat dikaitkan dengan Diagnosa Keperawatan "Risiko Infeksi" (SDKI 0018). Peningkatan leukosit, terutama neutrofil, seringkali merupakan respons tubuh terhadap adanya proses infeksi (bakteri, virus, jamur, atau parasit), inflamasi, trauma jaringan, stres fisik atau emosional, penggunaan obat-obatan tertentu (seperti kortikosteroid), atau kondisi patologis seperti leukemia. Leukositosis menunjukkan bahwa sistem imun tubuh sedang aktif berespons terhadap ancaman. Namun, pada beberapa kondisi (misalnya, pada pasien immunocompromised), respons leukosit mungkin tidak adekuat meskipun infeksi berat terjadi. Oleh karena itu, interpretasi nilai leukosit harus selalu dilihat bersama dengan gambaran klinis pasien secara keseluruhan, termasuk gejala seperti demam, malaise, lokasi infeksi yang dicurigai, dan hasil pemeriksaan penunjang lainnya seperti hitung jenis leukosit (differential count) dan tanda-tanda inflamasi (LED, CRP). Perawat memainkan peran kunci dalam memantau tanda-tanda ini, mengidentifikasi sumber infeksi potensial, dan menerapkan intervensi untuk mencegah penyebaran infeksi serta mengelola gejala yang muncul. Pemahaman mendalam tentang penyebab leukositosis penting untuk merencanakan perawatan yang tepat dan edukasi kepada pasien serta keluarga.
Kode SIKI: I.0729
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk pasien dengan leukositosis berfokus pada pengendalian sumber infeksi (jika ada), pencegahan komplikasi, pemantauan, dan edukasi. Intervensi utama meliputi: 1. **Pengendalian Infeksi dan Pemantauan**: Melakukan teknik aseptik ketat selama perawatan luka, pemasangan alat invasif, atau prosedur lainnya. Memantau tanda-tanda vital (terutama suhu) secara berkala untuk mendeteksi demam. Mengobservasi karakteristik sputum, urine, feses, atau drainase luka. Mengambil sampel untuk kultur sesuai indikasi dan kolaborasi pemberian antibiotik tepat waktu. 2. **Pemantauan Hasil Laboratorium**: Memantau trend hasil hitung leukosit dan hitung jenis secara serial untuk menilai respons terapi. Memantau tanda dehidrasi dan keseimbangan cairan-elektrolit yang dapat memperburuk kondisi. 3. **Manajemen Gejala dan Promosi Kenyamanan**: Mengatur lingkungan yang nyaman, memberikan terapi kompres untuk menurunkan demam, dan memastikan hidrasi adekuat baik secara oral maupun parenteral. Meningkatkan istirahat untuk menghemat energi dan mendukung proses penyembuhan. 4. **Edukasi Pasien dan Keluarga**: Menjelaskan pentingnya mencuci tangan, teknik batuk yang benar, dan pembuangan sekret yang aman. Mengajarkan tanda dan gejala infeksi yang harus diwaspadai dan kapan harus mencari bantuan medis. Menekankan pentingnya kepatuhan terhadap regimen terapi antibiotik jika diresepkan. 5. **Pencegahan Komplikasi**: Mencegah stasis dengan mobilisasi bertahap atau latihan rentang gerak pasif/aktif. Melakukan perawatan mulut dan kulit secara teratur untuk mempertahankan integritas barrier pertahanan pertama tubuh. Pada kasus leukositosis ekstrem (misalnya pada leukemia), waspada terhadap risiko leukostasis yang dapat mengganggu sirkulasi mikro. Seluruh intervensi ini didokumentasikan dan dievaluasi efektivitasnya secara berkala untuk memastikan tercapainya hasil yang diharapkan, yaitu jumlah leukosit kembali ke rentang normal dan infeksi terkontrol.
-
Article No. 23673 | 15 Jan 2026
Klinis : elektrolit rendah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Elektrolit Rendah (Ketidakseimbangan Elektrolit / Hiponatremia / Hipokalemia, dll.)
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Keseimbangan Elektrolit
Kode SIKI: I.01242
Deskripsi : Pemantauan Keseimbangan Elektrolit
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosis Keperawatan (SDKI - D.0017): Diagnosis "Risiko Ketidakseimbangan Cairan dan Elektrolit" dipilih karena kondisi pasien dengan elektrolit rendah menunjukkan adanya ancaman atau kerentanan terhadap ketidakseimbangan tersebut. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) adalah pernyataan klinis tentang respons individu, keluarga, atau komunitas terhadap masalah kesehatan atau proses kehidupan yang aktual maupun potensial. D.0017 mengidentifikasi bahwa pasien memiliki faktor risiko (seperti asupan tidak adekuat, kehilangan berlebihan, atau kondisi penyakit tertentu) yang dapat menyebabkan atau telah menyebabkan gangguan pada kadar elektrolit serum seperti natrium, kalium, kalsium, magnesium, dan klorida. Defisit elektrolit bukanlah penyakit primer, tetapi merupakan konsekuensi dari berbagai kondisi seperti diare, muntah, penggunaan diuretik, gangguan ginjal, malnutrisi, atau luka bakar. Diagnosis ini menjadi landasan bagi perawat untuk merencanakan intervensi pencegahan dan penanganan.
Luaran Keperawatan (SLKI - L.03115): SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah ukuran untuk menilai status pasien setelah diberikan intervensi keperawatan. Luaran "Keseimbangan Elektrolit" (L.03115) ditetapkan sebagai tujuan yang ingin dicapai. Luaran ini diukur dengan indikator-indikator seperti: kadar elektrolit serum dalam batas normal (natrium 135-145 mEq/L, kalium 3.5-5.0 mEq/L, dll), tidak adanya tanda-tanda klinis defisit elektrolit (seperti kelemahan otot, kram, lethargi, mual, aritmia, atau perubahan status mental), dan fungsi tubuh (seperti denyut nadi, tekanan darah, dan haluaran urine) yang stabil. Tujuan akhirnya adalah memulihkan dan mempertahankan homeostasis elektrolit tubuh, yang sangat penting untuk fungsi saraf, kontraksi otot, keseimbangan asam-basa, dan regulasi cairan.
Intervensi Keperawatan (SIKI - I.01242): SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah tindakan yang dilakukan perawat berdasarkan diagnosis untuk mencapai luaran yang diharapkan. Intervensi "Pemantauan Keseimbangan Elektrolit" (I.01242) adalah tindakan utama. Intervensi ini meliputi serangkaian aktivitas sistematis: 1) Pengkajian: Memantau tanda-tanda vital, status neurologis (kesadaran, kelemahan), tanda-tanda neuromuskular (refleks, kram), dan tanda-tanda gastrointestinal. Mengobservasi adanya edema atau dehidrasi. 2) Pemantauan Diagnostik: Kolaborasi dalam pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan elektrolit serum dan analisis gas darah, serta memantau hasilnya. Memantau haluaran urine, berat jenis urine, dan balance cairan. 3) Terapi: Melakukan pemberian terapi cairan dan elektrolit sesuai resep (oral atau intravena) dengan kecepatan dan konsentrasi yang tepat, serta memantau respons dan efek sampingnya (seperti overload cairan atau reaksi transfusi). 4) Edukasi: Memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya elektrolit, sumber makanan kaya elektrolit, tanda-tanda ketidakseimbangan yang harus diwaspadai, dan kepatuhan terhadap terapi penggantian atau pengobatan penyebab. 5) Kolonaborasi: Berkomunikasi dengan tim medis mengenai perubahan status pasien dan kebutuhan penyesuaian terapi. Intervensi ini bersifat dinamis dan berkelanjutan hingga keseimbangan elektrolit tercapai dan stabil.
Keterkaitan antara SDKI, SLKI, dan SIKI dalam kasus ini bersifat linier dan logis. Diagnosis (D.0017) yang menegaskan adanya risiko atau masalah aktual menjadi dasar untuk menetapkan tujuan (L.03115), yaitu tercapainya keseimbangan elektrolit. Untuk mencapai tujuan tersebut, perawat kemudian melaksanakan serangkaian tindakan terukur dan spesifik (I.01242) yang berfokus pada pemantauan ketat, pemberian terapi, dan edukasi. Dengan demikian, penggunaan standar ini memastikan bahwa asuhan keperawatan diberikan secara ilmiah, terstruktur, dan dapat dipertanggungjawabkan untuk mengatasi masalah elektrolit rendah pada pasien.