Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23695 | 17 Jan 2026
Klinis : An R 4 th batuk berdahak pusing pilek tenggorokan sakit sudah 2 hari
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Perawatan untuk mempertahankan atau memulihkan bersihan jalan napas. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan yang bertujuan untuk memastikan jalan napas pasien tetap terbuka dan bersih dari hambatan, sehingga memungkinkan pertukaran udara yang optimal. Fokus utamanya adalah pada manajemen sekresi (dahak) dan pencegahan obstruksi. Implementasinya dimulai dengan pengkajian komprehensif terhadap pola napas, suara napas (seperti ronki atau wheezing), karakteristik batuk, serta konsistensi dan warna dahak. Perawat akan memposisikan pasien untuk memaksimalkan ekspansi paru dan memudahkan pengeluaran sekresi, seperti posisi semi-Fowler atau sesuai toleransi. Terapi nebulisasi dengan bronkodilator atau mukolitik dapat diberikan sesuai instruksi untuk mengencerkan dahak dan melebarkan saluran napas. Fisioterapi dada, termasuk perkusi, vibrasi, dan drainase postural, merupakan komponen kunci untuk membantu mobilisasi sekresi dari saluran napas kecil ke saluran yang lebih besar sehingga dapat dibatukkan. Perawat juga mendukung dan mengajarkan teknik batuk efektif, seperti batuk dalam atau huffing, khususnya penting pada anak usia 4 tahun yang mungkin belum mampu melakukannya dengan baik. Asupan cairan yang adekuat (meningkatkan hidrasi) sangat dianjurkan untuk mengencerkan sekresi. Suctioning (penghisapan lendir) dilakukan dengan teknik steril jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekresi sendiri. Seluruh tindakan ini dilakukan dengan memantau terus-menerus tanda-tanda vital, saturasi oksigen, dan respons pasien, serta memberikan edukasi kepada keluarga tentang pentingnya terapi dan tanda-tanda distress pernapasan yang memerlukan pelaporan segera.
Kode SIKI: 0401
Deskripsi : Kemampuan pasien untuk mempertahankan bersihan jalan napas. Kriteria hasil ini diukur melalui pencapaian parameter pernapasan yang memadai dan berkurangnya hambatan pada saluran napas. Hasil yang diharapkan meliputi bunyi napas yang bersih (vesikuler) atau berkurangnya bunyi napas tambahan (seperti ronki) pada auskultasi di seluruh lapang paru. Pasien menunjukkan pola pernapasan yang teratur dan dalam, dengan frekuensi napas dalam rentang normal untuk usianya (untuk anak 4 tahun sekitar 20-30 kali/menit), serta tidak menunjukkan tanda-tanda kerja napas yang meningkat seperti retraksi dinding dada, napas cuping hidung, atau sianosis. Pasien atau keluarga mampu mendemonstrasikan metode yang efektif untuk membersihkan jalan napas, seperti teknik batuk yang benar atau posisi yang mendukung. Sekresi jalan napas (dahak) dapat dikeluarkan dengan mudah, berubah menjadi lebih encer, jumlahnya berkurang, dan warnanya membaik (dari kuning/hijau kental menjadi bening). Pasien tidak mengalami episode tersedak atau distress pernapasan akut. Saturasi oksigen dalam darah (SpO2) dipertahankan dalam batas normal (>95% pada udara ruangan). Selain itu, pasien melaporkan atau menunjukkan penurunan keluhan seperti sesak napas, rasa berat di dada, dan mampu melakukan aktivitas sehari-hari sesuai tingkat perkembangan tanpa mudah lelah akibat gangguan napas. Pencapaian kriteria ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil dalam mengatasi masalah ketidakefektifan bersihan jalan napas.
-
Article No. 23696 | 17 Jan 2026
Klinis : manajemen peningkatan tekanan intrakranial
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Manajemen Peningkatan Tekanan Intrakranial
Kode SDKI: 0070
Deskripsi Singkat: Peningkatan tekanan intrakranial adalah kondisi di mana tekanan di dalam rongga kranium meningkat, yang dapat mengancam perfusi dan fungsi otak. Diagnosa keperawatan ini berfokus pada respons manusia terhadap peningkatan tekanan intrakranial yang memerlukan intervensi untuk mencegah atau meminimalkan cedera otak sekunder. Tujuannya adalah untuk mempertahankan tekanan intrakranial dalam batas normal, memastikan perfusi serebral yang adekuat, dan mencegah komplikasi neurologis yang lebih lanjut seperti herniasi batang otak. Faktor-faktor yang berkontribusi meliputi edema serebral, massa (seperti tumor atau hematoma), peningkatan volume darah serebral, atau peningkatan volume cairan serebrospinal (hidrosefalus). Pasien dapat menunjukkan gejala seperti sakit kepala hebat, muntah proyektil, penurunan kesadaran, perubahan pola pernapasan, perubahan ukuran dan reaksi pupil, serta defisit motorik. Perawat memainkan peran kritis dalam pemantauan neurologis ketat, pemberian terapi medis, dan memfasilitasi tindakan untuk mengurangi tekanan.
Kode SLKI: 4001
Deskripsi : SLKI 4001 berfokus pada upaya untuk mempertahankan atau mencapai tekanan intrakranial (TIK) dalam batas yang ditetapkan (biasanya < 20 mmHg) dan tekanan perfusi serebral (TPC) yang adekuat (biasanya > 60 mmHg). Luaran yang diharapkan mencakup tanda-tanda vital yang stabil, status neurologis yang tidak memburuk, dan tidak adanya tanda-tanda herniasi. Kriteria luaran spesifik meliputi: (1) Tekanan intrakranial termonitor berada dalam batas target yang ditentukan; (2) Tekanan perfusi serebral dipertahankan pada tingkat yang memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolik otak; (3) Status kesadaran (GCS) stabil atau membaik; (4) Fungsi motorik dan sensorik tidak menunjukkan deteriorasi; (5) Ukuran pupil, bentuk, dan reaksi terhadap cahaya tetap normal dan simetris; (6) Pola pernapasan efektif dan sesuai; (7) Tidak ada sakit kepala hebat atau muntah proyektil yang baru muncul. Pencapaian luaran ini menunjukkan keberhasilan manajemen dalam mencegah kerusakan neurologis lebih lanjut dan mendukung pemulihan fungsi otak.
Kode SIKI: 4001
Deskripsi : SIKI 4001 mencakup serangkaian intervensi keperawatan yang komprehensif dan sistematis untuk mengelola peningkatan tekanan intrakranial. Intervensi dimulai dengan pemantauan neurologis ketat dan berkelanjutan, termasuk penilaian GCS, ukuran dan reaksi pupil, fungsi motorik, dan tanda-tanda vital setiap jam atau lebih sering sesuai kebutuhan. Posisi kepala tempat tidur ditinggikan 30-45 derajat dengan kepala dalam posisi netral (midline) untuk memfasilitasi drainase vena jugularis. Mempertahankan lingkungan yang tenang, menghindari rangsangan yang dapat meningkatkan TIK seperti suction yang tidak perlu, manuver valsava, atau nyeri, serta mengatur aktivitas keperawatan untuk memberikan periode istirahat. Kolaborasi pemberian terapi osmotik (seperti manitol atau larutan garam hipertonik) dengan memantau efek dan status elektrolit. Memberikan terapi sedasi dan analgesi sesuai resep untuk mengurangi agitasi dan metabolisme serebral. Memastikan oksigenasi dan ventilasi yang adekuat, mungkin dengan bantuan ventilasi mekanik untuk mempertahankan PaCO2 dalam rentang target (biasanya 30-35 mmHg). Mengatur keseimbangan cairan dengan ketat, menghindari hipovolemia maupun kelebihan cairan. Memantau dan mempertahankan normotermia, karena demam meningkatkan metabolisme otak dan TIK. Melakukan perawatan kulit dan mobilisasi dengan hati-hati untuk mencegah komplikasi imobilisasi tanpa memicu peningkatan TIK. Berkolaborasi dengan tim medis untuk persiapan dan pemantauan pasca tindakan invasif seperti pemasangan monitor TIK, drainase ventrikel lumbar, atau pembedahan dekompresi. Edukasi dan dukungan emosional kepada keluarga mengenai kondisi pasien dan tujuan perawatan juga merupakan bagian integral dari intervensi ini.
-
Article No. 23697 | 17 Jan 2026
Klinis : nyeri akut agen pencedera fisiologis mengeluh nyeti tampak meringis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan atau antisipasi berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mencegah, mengurangi, atau menghilangkan nyeri. Intervensi keperawatan ini berfokus pada upaya untuk mengelola pengalaman nyeri pasien secara komprehensif. Hal ini dimulai dengan pengkajian nyeri yang menyeluruh dan berkelanjutan, menggunakan skala yang sesuai untuk mengukur intensitas, karakteristik, lokasi, dan durasi nyeri. Perawat berkolaborasi dengan pasien dan tim kesehatan untuk memilih dan menerapkan strategi farmakologis (seperti pemberian analgesik sesuai resep, memantau efek dan efek samping) dan non-farmakologis (seperti teknik relaksasi, distraksi, terapi panas/dingin, reposisi, atau imajinasi terbimbing) yang sesuai. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang rencana manajemen nyeri, penggunaan obat, dan teknik non-obat merupakan bagian integral. Tujuan akhir adalah memungkinkan pasien mencapai tingkat kenyamanan yang dapat diterima, meningkatkan fungsi, dan mencegah komplikasi terkait nyeri seperti imobilisasi atau stres. Evaluasi keberhasilan intervensi dilakukan secara teratur dengan menilai kembali respons nyeri pasien dan menyesuaikan pendekatan sesuai kebutuhan.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mencegah, mengurangi, atau menghilangkan nyeri. Kriteria hasil ini mengukur keberhasilan dari intervensi yang dilakukan. Hasil yang diharapkan adalah pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri yang dapat diukur menggunakan skala nyeri yang valid (misalnya, dari skala 7 menjadi 3 dalam skala 0-10). Pasien menunjukkan perilaku yang menunjukkan pengurangan nyeri, seperti ekspresi wajah yang rileks, postur tubuh yang tidak lagi melindungi area nyeri, mampu beristirahat dan tidur dengan cukup, serta meningkatkan partisipasi dalam aktivitas yang diinginkan. Pasien dan keluarga dapat mendemonstrasikan pemahaman dan partisipasi dalam rencana manajemen nyeri, seperti melaporkan nyeri secara proaktif, menggunakan teknik non-farmakologis dengan benar, dan mengonsumsi obat sesuai anjuran. Tanda-tanda fisiologis yang terkait dengan nyeri (seperti takikardia, hipertensi, diaforesis) berkurang atau menghilang. Pasien mencapai tingkat kenyamanan yang memadai yang dinyatakan secara verbal atau melalui perilaku, dan komplikasi yang berhubungan dengan nyeri berhasil dicegah. Evaluasi ini bersifat dinamis dan menjadi dasar untuk modifikasi rencana perawatan lebih lanjut.
-
Article No. 23698 | 17 Jan 2026
Klinis : ganguan eliminasi urin D.0040
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urin
Kode SDKI: D.0040
Deskripsi Singkat: Gangguan eliminasi urin adalah keadaan ketika individu mengalami atau berisiko mengalami disfungsi dalam proses berkemih (miksi). Kondisi ini mencakup berbagai masalah seperti inkontinensia urin (tidak mampu menahan kencing), retensi urin (ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih secara adekuat), frekuensi, urgensi, disuria (nyeri saat berkemih), atau pola eliminasi yang tidak teratur. Gangguan ini dapat disebabkan oleh faktor multifaktorial, termasuk gangguan neurologis (seperti cedera sumsum tulang, stroke, penyakit Parkinson), obstruksi anatomis (pembesaran prostat, striktur uretra), kelemahan otot dasar panggul, infeksi saluran kemih, efek samping obat-obatan (diuretik, antikolinergik), penurunan kognitif, atau keterbatasan mobilitas. Dampaknya sangat signifikan terhadap kualitas hidup, menyebabkan distress fisik (iritasi kulit, infeksi), psikologis (rasa malu, kecemasan, isolasi sosial), dan beban perawatan. Diagnosa ini memerlukan asesmen komprehensif untuk mengidentifikasi tipe, penyebab, dan faktor pencetus, yang menjadi dasar perencanaan intervensi keperawatan yang tepat.
Kode SLKI: L.03130
Deskripsi : Manajemen Inkontinensia Urin. Luaran yang diharapkan adalah klien dapat mencapai eliminasi urin yang optimal sesuai kemampuannya. Kriteria luaran mencakup: (1) Klien menunjukkan perilaku/kemampuan dalam mengontrol eliminasi urin, seperti mengenali sensasi ingin berkemih, menahan urin hingga sampai ke toilet, dan berkemih secara lengkap. (2) Klien mempertahankan kulit yang bersih, kering, dan utuh tanpa tanda iritasi atau kerusakan kulit akibat paparan urin. (3) Klien melaporkan penurunan episode inkontinensia (misalnya, dari beberapa kali sehari menjadi hanya saat malam atau tidak sama sekali). (4) Klien dan/atau keluarga mendemonstrasikan pemahaman dan keterampilan dalam menggunakan alat bantu atau teknik penatalaksanaan inkontinensia yang direkomendasikan, seperti penjadwalan berkemih, latihan otot dasar panggul (Kegel), atau penggunaan pembalut/pampers yang tepat. (5) Klien menunjukkan peningkatan percaya diri dan partisipasi dalam aktivitas sosial tanpa ketakutan akan kebocoran urin. Pencapaian luaran ini dievaluasi secara bertahap, disesuaikan dengan kondisi dan potensi klien.
Kode SIKI: I.05239
Deskripsi : Manajemen Inkontinensia Urin. Intervensi ini meliputi serangkaian tindakan keperawatan untuk membantu klien dalam mengatasi atau beradaptasi dengan inkontinensia urin. Tindakan-tindakan tersebut adalah: (1) Melakukan asesmen pola eliminasi urin, termasuk frekuensi, volume, waktu, dan faktor pencetus inkontinensia. (2) Mengajarkan dan mendorong latihan otot dasar panggul (latihan Kegel) secara teratur untuk meningkatkan kekuatan dan kontrol sfingter. (3) Melaksanakan latihan berkemih terjadwal (bladder training) dengan secara bertahap meningkatkan interval waktu antar berkemih. (4) Memberikan edukasi tentang modifikasi asupan cairan, seperti mengurangi kafein, alkohol, dan minuman bersoda yang bersifat diuretik dan iritatif, serta menjaga hidrasi yang cukup di siang hari sementara membatasi di malam hari. (5) Memfasilitasi akses ke toilet yang mudah, termasuk penggunaan commode chair jika diperlukan, dan memastikan lingkungan yang aman dan privasi. (6) Menerapkan teknik prompting voiding (mengingatkan untuk berkemih) secara konsisten, terutama pada klien dengan penurunan kognitif. (7) Melakukan perawatan kulit perineal dengan membersihkan, mengeringkan, dan menggunakan barrier cream untuk mencegah dermatitis dan luka akibat paparan urin. (8) Merekomendasikan dan membantu dalam penggunaan alat bantu kontinensia yang sesuai (seperti pembalut, celana khusus, penampung urin eksternal) serta mengajarkan perawatan alat tersebut. (9) Berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter, fisioterapis) untuk penanganan penyebab medis yang mendasari, seperti terapi obat atau manajemen prostat. (10) Memberikan dukungan psikologis dan motivasi untuk mengurangi rasa malu dan meningkatkan kepatuhan terhadap program latihan. Intervensi ini bersifat individual, holistik, dan berkelanjutan.
-
Article No. 23699 | 17 Jan 2026
Klinis : ganguan eliminasi urin D.0040 untuk slki 2022nya apa
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urin
Kode SDKI: D.0040
Deskripsi Singkat: Gangguan eliminasi urin adalah keadaan ketika seorang individu mengalami atau berisiko mengalami disfungsi dalam proses berkemih. Ini mencakup berbagai masalah seperti inkontinensia (ketidakmampuan menahan kencing), retensi urin (ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih sepenuhnya), frekuensi, urgensi, disuria (nyeri saat berkemih), atau pola berkemih yang terganggu akibat faktor fisiologis, anatomis, infeksi, neurologis, atau lingkungan. Diagnosa ini menekankan pada gangguan dalam kemampuan untuk mengeluarkan urin secara volunter dan efektif, yang dapat berdampak signifikan pada kualitas hidup, harga diri, integritas kulit, dan keseimbangan cairan serta elektrolit tubuh.
Kode SLKI: L.00402
Deskripsi : SLKI L.00402 adalah Standar Luaran Keperawatan dengan judul "Perilaku Eliminasi Urin". Luaran yang diharapkan adalah klien menunjukkan perilaku eliminasi urin yang membaik atau optimal. Indikator luaran ini mencakup pencapaian target-target spesifik yang dapat diukur, seperti: (1) Klien melaporkan mampu menahan urin (tidak ada kebocoran urin); (2) Volume residu urin post-voiding dalam batas normal; (3) Klien mengosongkan kandung kemih secara tuntas; (4) Klien menunjukkan pola berkemih yang teratur; (5) Klien tidak melaporkan urgensi berkemih; (6) Klien tidak melaporkan disuria (nyeri saat berkemih); (7) Klien menunjukkan kemampuan dalam melakukan kateterisasi mandiri (jika diperlukan); (8) Klien memenuhi kebutuhan eliminasi urin dengan bantuan alat bantu (jika diperlukan); dan (9) Klien melaporkan kepuasan terhadap pola eliminasi urin. Pencapaian luaran ini dinilai melalui skala, mulai dari tidak pernah menunjukkan perilaku tersebut hingga secara konsisten menunjukkan perilaku tersebut. Tujuan intervensi keperawatan adalah mendorong kemajuan klien menuju skala yang lebih baik pada indikator-indikator ini, yang merefleksikan pemulihan atau adaptasi terhadap gangguan eliminasi urin.
Kode SIKI: I.00495
Deskripsi : SIKI I.00495 adalah Standar Intervensi Keperawatan dengan judul "Manajemen Inkontinensia Urin". Intervensi ini didefinisikan sebagai pemberian bantuan kepada klien yang mengalami atau berisiko mengalami kehilangan kontrol berkemih secara involunter. Aktivitas keperawatan yang tercakup dalam intervensi ini sangat komprehensif dan meliputi: (1) **Pengkajian**: Memantau pola dan karakteristik berkemih, mengidentifikasi faktor penyebab atau pencetus, menilai lingkungan toilet dan alat bantu yang tersedia, serta menilai dampak psikososial dari inkontinensia. (2) **Intervensi Terapeutik**: Melatih klien melakukan latihan otot panggul (Kegel) secara teratur, menerapkan teknik *bladder training* (latihan kandung kemih) dengan menetapkan jadwal berkemih yang bertahap, dan menerapkan *prompted voiding* (mengingatkan klien untuk berkemih). (3) **Manajemen Lingkungan dan Alat Bantu**: Memastikan akses ke toilet yang mudah dan aman, menggunakan alat bantu seperti commode chair, urinal, atau bedpan jika diperlukan, serta meresepkan dan mengajarkan penggunaan pembalut atau celana inkontinensia yang tepat untuk menjaga kulit tetap kering dan martabat klien. (4) **Edukasi dan Dukungan**: Memberikan edukasi kepada klien dan keluarga mengenai kondisi, strategi manajemen, dan pentingnya hidrasi yang adekuat (meski mungkin mengatur waktu minum), serta memberikan dukungan emosional untuk mengatasi rasa malu, cemas, atau isolasi sosial. (5) **Kolaborasi**: Berkolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk terapi obat-obatan (seperti antikolinergik) atau evaluasi lebih lanjut seperti urodinamik. Inti dari intervensi ini adalah pendekatan holistik yang menggabungkan modifikasi perilaku, dukungan lingkungan, edukasi, dan dukungan psikologis untuk meminimalkan dampak inkontinensia, meningkatkan kemandirian klien, dan mencegah komplikasi seperti infeksi saluran kemih atau kerusakan integritas kulit akibat kelembaban berlebih.
-
Article No. 23700 | 17 Jan 2026
Klinis : nyeri akut
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berlangsung dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : SLKI L.08001 berfokus pada pengendalian nyeri. Tujuannya adalah agar nyeri pasien dapat dikendalikan dengan kriteria hasil: 1) Pasien melaporkan nyeri dapat dikendalikan, 2) Menunjukkan perilaku nyeri dapat dikendalikan (misalnya, ekspresi wajah rileks, dapat beristirahat, dapat berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan), 3) Tanda-tanda vital dalam rentang yang diharapkan, dan 4) Menunjukkan kemampuan menggunakan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri. SLKI ini mengukur keberhasilan intervensi keperawatan dalam mengurangi pengalaman nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi dan dikelola oleh pasien, yang ditandai dengan laporan subjektif pasien dan observasi objektif perilaku serta tanda fisiologis. Pengendalian nyeri tidak selalu berarti nyeri hilang sepenuhnya, tetapi nyeri telah berkurang ke tingkat yang tidak mengganggu fungsi, istirahat, dan kesejahteraan pasien. Perawat mengevaluasi pencapaian kriteria ini melalui skala nyeri, observasi, dan pemantauan tanda vital.
Kode SIKI: I.08059
Deskripsi : SIKI I.08059 adalah Manajemen Nyeri. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan komprehensif untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri. Langkah-langkah utamanya meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas menggunakan skala, dan faktor pemicu/pereda), 2) Memberikan terapi farmakologis sesuai resep dokter (analgesik) dan memantau efek serta efek sampingnya, 3) Menerapkan intervensi nonfarmakologis (seperti kompres hangat/dingin, distraksi, relaksasi napas dalam, teknik sentuhan terapeutik, musik terapi, dan reposisi), 4) Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang penyebab nyeri, regimen pengobatan, dan teknik penanganan mandiri, 5) Menciptakan lingkungan yang nyaman dan mendukung (pengaturan cahaya, suhu, kebisingan), 6) Melakukan evaluasi dan dokumentasi respons pasien terhadap intervensi yang diberikan. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan pendekatan biologis, psikologis, dan sosial. Prinsip utamanya adalah pemberian analgesia tepat waktu (bukan atas permintaan), pencegahan nyeri sebelum prosedur yang menimbulkan nyeri, dan pendekatan multimodal (menggabungkan berbagai metode) untuk mencapai kontrol nyeri yang optimal dengan dosis obat seminimal mungkin. Perawat berperan sebagai advokat pasien dalam manajemen nyeri, memastikan hak pasien untuk bebas dari nyeri diupayakan pemenuhannya.
-
Article No. 23680 | 16 Jan 2026
Klinis : sesak napas, batuk berdahak,RR 30,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Bersihan jalan napas. Tujuan keperawatan adalah agar jalan napas pasien tetap paten, ditandai dengan suara napas bersih, tidak ada sianosis, dan pasien mampu mengeluarkan sekresi secara efektif. Kriteria hasil spesifik mencakup: suara napas vesikuler/tidak ada abnormal, frekuensi napas dalam rentang normal sesuai usia, tidak ada sianosis, tidak menggunakan otot bantu pernapasan, mampu batuk efektif dan mengeluarkan sekresi (jika ada), serta nilai gas darah arteri dalam rentang normal. Pada pasien dengan kondisi seperti sesak napas, batuk berdahak, dan RR 30, fokus SLKI adalah menurunkan frekuensi napas mendekati normal, mengurangi atau menghilangkan penggunaan otot bantu napas, mengembalikan suara napas menjadi bersih, serta memfasilitasi pengeluaran dahak sehingga batuk menjadi produktif dan tidak lagi menghambat jalan napas.
Kode SIKI: 3320
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Intervensi keperawatan ini meliputi serangkaian tindakan untuk memastikan jalan napas tetap terbuka dan bersih dari hambatan. Penjelasan implementasinya dimulai dengan pemantauan status pernapasan secara ketat, termasuk frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu, dan adanya sianosis. Auskultasi suara napas dilakukan secara berkala untuk mendeteksi adanya wheezing, ronchi, atau penurunan suara napas yang mengindikasikan penumpukan sekresi. Posisi pasien diatur dengan kepala tempat tidur ditinggikan (semi-Fowler atau Fowler) untuk memaksimalkan ekspansi paru dan memudahkan pernapasan. Dilakukan fisioterapi dada seperti perkusi dan vibrasi untuk membantu melonggarkan sekresi yang kental, diikuti dengan latihan batuk efektif dan drainase postural jika kondisi pasien memungkinkan. Hidrasi adekuat (baik oral maupun intravena) diberikan untuk mengencerkan dahak. Jika pasien tidak mampu batuk efektif, dapat dilakukan suction atau pengisapan lendir dengan teknik steril. Pemberian oksigen sesuai order dokter untuk mengatasi hipoksia. Penggunaan nebulizer atau humidifier udara juga dapat diterapkan untuk melembabkan saluran napas dan mengencerkan sekresi. Edukasi pasien dan keluarga tentang teknik batuk dalam, pentingnya hidrasi, dan tanda-tanda distress pernapasan yang harus dilaporkan segera merupakan bagian integral dari intervensi ini. Seluruh tindakan dilakukan dengan prinsip kenyamanan dan keamanan pasien, sambil terus mengevaluasi respons pasien terhadap setiap intervensi yang diberikan.
-
Article No. 23681 | 16 Jan 2026
Klinis : Sesak napas (+) berkurang, batuk (+) KU tampak sakit berat GCS E4V5M6 TD : 115/62 HR : 74 RR : 16 SPO : 99 S : 36.2 SpO2: 97% dengan O2 NK 6lpm Kepala: normocephal, m. temporalis atrofi -/- Mata : konjungtiva pucat (-/-), sklera icterik (-/-),edema palpebra (-/-), pupil isokor (3 mm/3 mm),refleks cahaya (+/+) Hidung : secret (-/-), lendir tidak ada, darah (-/-) Mulut: mukosa bibir kering (-), oral ulcer (-), faring hiperemis (-/-), lidah kotor (-) Leher : JVP R+3 cm, KGB cervical tidak teraba membesar Thorax : simetris, normochest, retraksi (-), spidernavy (-) Pulmo: I: pengembangan dada kanan = kiri P: fremitus raba dada kanan = kiri P: sonor / sonor A: SDV + / SDV +, RBK -/-, rbh -/-, wheezing +/+, egofoni -/- Abdomen : I : Dinding perut // dinding dada A : Bising usus (+), frekuensi 16 kali per menit. P : timpani (+), pekak alih (-), undulasi (-), nyeri tekan CVA (-/-) P : supel, nyeri tekan (-) hepar dan lien tidak teraba Ext : CRT<2’’, edema extremitas superior et inferior-/-/-/- Hemoglobin 18.49 Eritrosit 5.93 Hematokrit 52 Index Eritrosit MCV 87.7 MCH 31.2 MCHC 35.6 Lekosit 20.81 Trombosit 651 RDW-CV 13.8 MPV 9.58 Hitung Jenis Neutrofil 91.2 Limfosit 5.6 Monosit 1.4 Eosinofil 0.34 Basofil 0.1 Total Lymphosit 1.16 Total Monosit 0.28 Total Eosinofil 1.65 Total Basofil 0.22 Gol. Darah (A B O) Golongan Darah O KIMIA KLINIK Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu 142 Fungsi Hati AST (SGOT) 49 ALT (SGPT) 12 Fungsi Ginjal Ureum 11.8 Kreatinin 0.65 AGD 13/1/2026 pH: 7.312 pCO2: 41.4 PO2: 138 B Excess: -5 HCO3: 20.9 TCO2: 22 SO2: 99% Laktat: 1.41 H+: 47.54066986 ΔH/ΔPCO2: 5.386192755 PAO2: 376.05 target PAO2: 245.25 FiO2 koreksi: 0.41654979 AaDO2: 238.05 HS: 230 Kesan: Asidosis metabolik mix asidosis respiratorik dengan hipoksemia sedang (HS 230) Rontgen Toraks 12/1/2026 - Bronchitis dan besar cor normal - Tak tampak proses spesifik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001 & D.0005
Deskripsi Singkat: Berdasarkan data pasien, dua diagnosa keperawatan utama yang relevan adalah D.0001: Gangguan Pertukaran Gas dan D.0005: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif. Gangguan pertukaran gas ditandai dengan hasil Analisis Gas Darah (AGD) yang menunjukkan asidosis metabolik campur asidosis respiratorik dengan hipoksemia sedang (HS 230), meskipun SpO2 saat ini 97% dengan oksigen. Ini mengindikasikan ketidakmampuan tubuh untuk mempertahankan keseimbangan oksigen dan karbon dioksida secara adekuat. Bersihan jalan napas tidak efektif didukung oleh temuan fisik wheezing (+/+) dan batuk (+), yang menunjukkan adanya sekret atau obstruksi jalan napas yang mengganggu patensi jalan napas. Kombinasi kondisi ini berkontribusi pada sesak napas yang dialami pasien.
Kode SLKI: L.03001 & L.04001
Deskripsi : Untuk mengatasi diagnosa tersebut, tujuan keperawatan (SLKI) yang ditetapkan adalah L.03001: Pertukaran Gas Membaik dan L.04001: Bersihan Jalan Napas Efektif. Kriteria hasil untuk pertukaran gas membaik mencakup nilai AGD dalam rentang normal (pH 7.35-7.45, PaO2 >80 mmHg, PaCO2 35-45 mmHg, HCO3 22-26 mEq/L), saturasi oksigen (SpO2) ≥95% dengan oksigenasi minimal, serta tidak adanya tanda hipoksia seperti gelisah atau sianosis. Sementara itu, bersihan jalan napas efektif dicapai ketika pasien mampu mempertahankan jalan napas paten dengan suara napas bersih, mampu mengeluarkan sekret secara efektif (batuk produktif atau sekret berkurang), tidak ada suara napas tambahan seperti wheezing atau ronki, serta menunjukkan frekuensi dan irama napas dalam rentang normal sesuai usianya.
Kode SIKI: I.08070, I.08071, I.08072, I.09001, I.09003, I.09004
Deskripsi : Intervensi keperawatan (SIKI) yang harus dilaksanakan meliputi: I.08070: Manajemen Jalan Napas dengan memantau kepatenan jalan napas, posisi semi-Fowler/tinggi untuk optimasi ekspansi paru, serta pemberian oksigen sesuai order (saat ini 6 lpm). I.08071: Manajemen Pernapasan dengan memantau status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu), auskultasi suara napas tiap 4-8 jam, dan mendokumentasi karakteristik sputum. I.08072: Manajemen Ventilasi dengan memonitor status oksigenasi melalui AGD dan SpO2, serta mengevaluasi respons terhadap terapi oksigen. I.09001: Manajemen Batuk dengan mendorong batuk efektif dan latihan napas dalam, serta mengajarkan teknik batuk yang tepat. I.09003: Fisioterapi Dada seperti perkusi, vibrasi, dan postural drainage jika diindikasikan oleh adanya sekret. I.09004: Manajemen Sekresi dengan memberikan hidrasi adekuat (oral/IV) untuk mengencerkan sekret, serta melakukan penghisapan lendir (suction) jika pasien tidak mampu mengeluarkan sekret sendiri. Seluruh intervensi ini harus didokumentasi dan dievaluasi perkembangannya secara berkala untuk mencapai outcome yang diharapkan.
-
Article No. 23682 | 16 Jan 2026
Klinis : S : Sesak napas sejak 1HSMRS, batuk (+), pilek (-), demam (-), mual (-), muntah (-) O : KU tampak sakit berat GCS E4V5M6 TD: 101/59 HR: 110 RR: 33 suhu: 36.7 SpO2: 99% dengan O2 NRM 15lpm Kepala: normocephal, m. temporalis atrofi -/- Mata : konjungtiva pucat (-/-), sklera icterik (-/-),edema palpebra (-/-), pupil isokor (3 mm/3 mm),refleks cahaya (+/+) Hidung : secret (-/-), lendir tidak ada, darah (-/-) Mulut: mukosa bibir kering (-), oral ulcer (-), faring hiperemis (-/-), lidah kotor (-) Leher : JVP R+3 cm, KGB cervical tidak teraba membesar Thorax : simetris, normochest, retraksi (-), spidernavy (-) Pulmo: I: pengembangan dada kanan = kiri P: fremitus raba dada kanan = kiri P: sonor / sonor A: SDV + / SDV +, RBK -/-, rbh -/-, wheezing +/+, egofoni -/- Abdomen : I : Dinding perut // dinding dada A : Bising usus (+), frekuensi 16 kali per menit. P : timpani (+), pekak alih (-), undulasi (-), nyeri tekan CVA (-/-) P : supel, nyeri tekan (-) hepar dan lien tidak teraba Ext : CRT<2’’, edema extremitas superior et inferior-/-/-/- Hemoglobin 18.49 Eritrosit 5.93 Hematokrit 52 Index Eritrosit MCV 87.7 MCH 31.2 MCHC 35.6 Lekosit 20.81 Trombosit 651 RDW-CV 13.8 MPV 9.58 Hitung Jenis Neutrofil 91.2 Limfosit 5.6 Monosit 1.4 Eosinofil 0.34 Basofil 0.1 Total Lymphosit 1.16 Total Monosit 0.28 Total Eosinofil 1.65 Total Basofil 0.22 Gol. Darah (A B O) Golongan Darah O KIMIA KLINIK Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu 142 Fungsi Hati AST (SGOT) 49 ALT (SGPT) 12 Fungsi Ginjal Ureum 11.8 Kreatinin 0.65 Rontgen Toraks 12/1/2026 - Bronchitis dan besar cor normal - Tak tampak proses spesifik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen tubuh, serta/atau ketidakseimbangan antara pengeluaran dan produksi karbon dioksida.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pertukaran Gas: Pasien menunjukkan perbaikan dalam pertukaran gas, ditandai dengan parameter gas darah arteri dalam rentang normal atau mendekati normal, dan tidak adanya tanda-tanda distress pernapasan.
Kode SIKI: I.01239
Deskripsi : Manajemen Pernapasan: Tindakan keperawatan untuk memfasilitasi pertukaran gas yang optimal dan mempertahankan kepatenan jalan napas. Intervensi ini meliputi pemantauan ketat status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas, bunyi napas, dan saturasi oksigen), pemberian terapi oksigen sesuai resep dan protokol, memposisikan pasien untuk memaksimalkan ekspansi dada (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi), melaksanakan fisioterapi dada jika diperlukan, memastikan kelembaban udara yang adekuat, mendukung batuk efektif atau melakukan suction jika pasien tidak mampu membersihkan sekret sendiri, serta mengajarkan teknik pernapasan dalam dan batuk efektif. Selain itu, perawat memantau respons terhadap terapi, menilai tanda-tanda hipoksia atau hiperkapnia, dan menjaga lingkungan yang bebas dari iritan pernapasan. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai kondisi, tujuan terapi, dan tanda-tanda memburuk yang harus dilaporkan juga merupakan bagian integral dari intervensi ini.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0002
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan kepatenan jalan napas.
Kode SLKI: L.04002
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas: Pasien mempertahankan jalan napas yang paten, ditandai dengan bunyi napas bersih, tidak adanya sekret yang berlebihan, dan kemampuan untuk mengeluarkan sekret secara efektif.
Kode SIKI: I.01240
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Tindakan keperawatan untuk mempertahankan kepatenan jalan napas dan mencegah komplikasi. Intervensi mencakup penilaian bunyi napas, karakter batuk, dan jumlah/konsistensi sputum. Perawat membantu pasien dalam melakukan batuk dan napas dalam yang efektif, melakukan teknik drainase postural dan perkusi/vibrasi jika diindikasikan, serta memastikan hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan sekret. Pemberian nebulisasi atau obat hirup sesuai resep, serta penggunaan humidifikasi oksigen juga dilakukan. Jika pasien mengalami penurunan kesadaran atau ketidakefektifan batuk, suction jalan napas atas dapat dilakukan dengan teknik steril. Posisi semi-Fowler atau lateral juga dapat membantu dalam drainase sekret. Edukasi kepada pasien tentang pentingnya hidrasi, teknik batuk, dan menghindari iritan seperti asap rokok merupakan bagian penting dari intervensi ini.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Kekurangan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau yang diinginkan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Toleransi Aktivitas: Pasien menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas, ditandai dengan kemampuan melakukan aktivitas tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan, sesak napas, atau perubahan signifikan pada tanda-tanda vital.
Kode SIKI: I.05001
Deskripsi : Manajemen Energi: Tindakan keperawatan untuk menyeimbangkan antara aktivitas dan istirahat guna mengurangi kelelahan dan meningkatkan toleransi aktivitas. Intervensi meliputi penilaian tingkat kelelahan dan respons fisiologis (nadi, pernapasan, tekanan darah, saturasi oksigen) sebelum, selama, dan setelah aktivitas. Perawat membantu pasien dalam mengidentifikasi dan memprioritaskan aktivitas, merencanakan periode istirahat yang cukup di sela-sela aktivitas, serta mengajarkan teknik penghematan energi (seperti duduk saat melakukan aktivitas, menggunakan alat bantu jika diperlukan, dan menghindari aktivitas berat setelah makan). Lingkungan diatur untuk meminimalkan energi yang dikeluarkan. Aktivitas ditingkatkan secara bertahap sesuai toleransi pasien. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat sebagai sumber energi juga penting. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya mendengarkan tubuh dan beristirahat saat tanda-tanda kelelahan muncul merupakan bagian dari intervensi ini.
-
Article No. 23683 | 16 Jan 2026
Klinis : S : Sesak napas sejak 1HSMRS, batuk (+), pilek (-), demam (-), mual (-), muntah (-) O : KU tampak sakit berat GCS E4V5M6 TD: 101/59 HR: 110 RR: 33 suhu: 36.7 SpO2: 99% dengan O2 NRM 15lpm Kepala: normocephal, m. temporalis atrofi -/- Mata : konjungtiva pucat (-/-), sklera icterik (-/-),edema palpebra (-/-), pupil isokor (3 mm/3 mm),refleks cahaya (+/+) Hidung : secret (-/-), lendir tidak ada, darah (-/-) Mulut: mukosa bibir kering (-), oral ulcer (-), faring hiperemis (-/-), lidah kotor (-) Leher : JVP R+3 cm, KGB cervical tidak teraba membesar Thorax : simetris, normochest, retraksi (-), spidernavy (-) Pulmo: I: pengembangan dada kanan = kiri P: fremitus raba dada kanan = kiri P: sonor / sonor A: SDV + / SDV +, RBK -/-, rbh -/-, wheezing +/+, egofoni -/- Abdomen : I : Dinding perut // dinding dada A : Bising usus (+), frekuensi 16 kali per menit. P : timpani (+), pekak alih (-), undulasi (-), nyeri tekan CVA (-/-) P : supel, nyeri tekan (-) hepar dan lien tidak teraba Ext : CRT<2’’, edema extremitas superior et inferior-/-/-/- Hemoglobin 18.49 Eritrosit 5.93 Hematokrit 52 Index Eritrosit MCV 87.7 MCH 31.2 MCHC 35.6 Lekosit 20.81 Trombosit 651 RDW-CV 13.8 MPV 9.58 Hitung Jenis Neutrofil 91.2 Limfosit 5.6 Monosit 1.4 Eosinofil 0.34 Basofil 0.1 Total Lymphosit 1.16 Total Monosit 0.28 Total Eosinofil 1.65 Total Basofil 0.22 Gol. Darah (A B O) Golongan Darah O KIMIA KLINIK Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu 142 Fungsi Hati AST (SGOT) 49 ALT (SGPT) 12 Fungsi Ginjal Ureum 11.8 Kreatinin 0.65 Rontgen Toraks 12/1/2026 - Bronchitis dan besar cor normal - Tak tampak proses spesifik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan tubuh atau ketidakmampuan tubuh untuk menghilangkan karbon dioksida, yang dapat mengakibatkan hipoksemia atau hiperkapnia.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pertukaran Gas Membaik. Ditandai dengan: 1) Pernapasan efektif, 2) Bunyi napas normal/vaskularisasi adekuat, 3) Keseimbangan asam basa dalam rentang normal, 4) Gangguan pertukaran gas teratasi, 5) Tidak ada tanda distress pernapasan, 6) Gas darah arteri dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.09006
Deskripsi : Manajemen Pernapasan. Tindakan untuk memfasilitasi pertukaran gas yang optimal. Tindakan meliputi: 1) Memonitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas), 2) Memonitor bunyi napas, 3) Memonitor tanda-tanda hipoksia/sianosis, 4) Memonitor hasil pemeriksaan penunjang (analisa gas darah, saturasi oksigen), 5) Memposisikan untuk memaksimalkan ventilasi (mis. semi fowler/fowler), 6) Memberikan terapi oksigen sesuai program, 7) Mengajarkan batuk efektif dan napas dalam, 8) Melakukan fisioterapi dada jika diperlukan, 9) Mempertahankan kebersihan jalan napas, 10) Memonitor respons terhadap terapi.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas Efektif. Ditandai dengan: 1) Jalan napas paten, 2) Suara napas bersih, 3) Tidak ada sekret yang berlebihan, 4) Mampu mengeluarkan sekret, 5) Tidak ada suara napas tambahan, 6) Frekuensi dan irama napas dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Tindakan untuk memfasilitasi patensi jalan napas. Tindakan meliputi: 1) Mengidentifikasi faktor risiko gangguan jalan napas, 2) Memonitor kepatenan jalan napas, 3) Memonitor suara napas, 4) Memonitor kemampuan batuk dan karakter sekret, 5) Memposisikan untuk memaksimalkan pertukaran udara, 6) Melakukan fisioterapi dada, 7) Melakukan suction jika diperlukan, 8) Mengajarkan batuk efektif, 9) Memberikan hidrasi adekuat, 10) Mengatur kelembaban udara, 11) Memberikan nebulizer/obat bronkodilator sesuai program.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0012
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana seseorang mengalami ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk melanjutkan atau menyelesaikan aktivitas yang diinginkan atau aktivitas kehidupan sehari-hari.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Toleransi Aktivitas Meningkat. Ditandai dengan: 1) Mampu melakukan aktivitas sesuai kemampuan, 2) Tanda vital dalam rentang normal saat aktivitas, 3) Tidak mengalami kelelahan berlebihan, 4) Kebutuhan oksigenasi terpenuhi saat aktivitas, 5) Melaporkan peningkatan energi, 6) Melakukan aktivitas secara mandiri.
Kode SIKI: I.10001
Deskripsi : Manajemen Energi. Tindakan untuk menyeimbangkan antara suplai dan konsumsi oksigen. Tindakan meliputi: 1) Memonitor respons fisiologis terhadap aktivitas (nadi, tekanan darah, pernapasan, saturasi oksigen), 2) Mengidentifikasi faktor penyebab kelelahan, 3) Merencanakan dan menjadwalkan aktivitas sesuai toleransi, 4) Mengajarkan teknik penghematan energi, 5) Mendorong partisipasi dalam perawatan diri secara bertahap, 6) Memastikan istirahat yang adekuat sebelum dan sesudah aktivitas, 7) Membantu dalam aktivitas jika diperlukan, 8) Menciptakan lingkungan yang nyaman untuk beristirahat.