Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23726 | 18 Jan 2026
Klinis : Keluhan : Kejang anggota gerak kiri terutama tangan kiri sejak jam 17.00, kaki kiri pasien juga kejang namun tidak sekuat tangan kiri. saat kejang pasien selalu menolehkan lehernya kekiri dan mata mendelik keatas, selama kejang pasien bisa menjawab pertanyaan. 30 menit sebelum kejang pasien mengeluhkan anggota gerak kiri kebas dan lemah, Muntah (-) Pingsan (-) Nyeri dada (-) RPD : HT & DM tidak terkontrol RPK: Tidak ada KU : CM, TEKANAN DARAH : 201/105 mmHg, SUHU : 36.6 ℃, NADI : 101 Kali Per Menit, SATURASI : 97 %, Hasil Pemeriksaan Fisik : Mata : CA -/- SI -/- RC +/+ isokorMulut : Mukosa bibir keringtho : ret (-)P : SDV +/+ Whz -/- RBH -/-C : BJ 1-2 reg (+)Abd : flat, supel, BU (+)N. NT (+) H.L dbnExt : AH, CRT<2s, Edem (-), BB :50 Kg Ku lemah, Kesadaran : composmentis , GCS : E4V5M6 TD : 160/78 mmHg HR : 76 x/mnt RR : 19 x/mnt Spo2 : 99% Suhu :36.7 C Terpasang : O2 NC 3 Lpm inf Nacl 0.9% 60CC/JAM Sp. Dexmedetomidin 0.2 mcg/kg/jam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat mengakibatkan kerusakan jaringan otak. Diagnosis ini sangat relevan mengingat pasien memiliki riwayat hipertensi yang tidak terkontrol (TD awal 201/105 mmHg) dan mengalami kejang fokal (kejang pada anggota gerak kiri) yang merupakan tanda gangguan neurologis fokal. Kombinasi hipertensi berat dan gejala neurologis (kejang, kebas, lemah) mengindikasikan ancaman serius terhadap perfusi dan integritas serebral, berisiko menyebabkan stroke atau ensefalopati hipertensif.
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : Perfusi serebral membaik. Luaran yang diharapkan mencakup: tekanan darah terkontrol dalam rentang yang ditargetkan, tidak ada episode kejang berulang, status neurologis stabil atau membaik (GCS 15, tidak ada defisit neurologis baru), pasien sadar dan berorientasi. Tanda-tanda vital dan parameter hemodinamik dalam batas normal yang mendukung aliran darah otak yang adekuat. Kriteria ini menjadi tujuan utama asuhan keperawatan untuk mencegah kerusakan otak permanen.
Kode SIKI: I.08021
Deskripsi : Intervensi untuk memantau dan mempertahankan perfusi serebral. Intervensi ini meliputi: 1) Pemantauan ketat tanda-tanda neurologis (tingkat kesadaran, GCS, kekuatan motorik, ukuran dan reaksi pupil) secara berkala dan bandingkan dengan kondisi awal. 2) Pemantauan dan pengelolaan tekanan darah secara ketat untuk menurunkannya secara bertahap dan terkontrol, menghindari penurunan drastis yang justru dapat memperburuk perfusi. 3) Memastikan jalan napas paten dan oksigenasi adekuat (mempertahankan SpO2 >95%) dengan terapi oksigen sesuai order. 4) Memantau dan mencatat karakteristik kejang (onset, durasi, frekuensi, bagian tubuh yang terlibat). 5) Menciptakan lingkungan yang tenang, mengurangi stimulasi berlebihan, dan mengatur posisi kepala tempat tidur sedikit elevasi. 6) Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit dengan pemberian cairan intravena sesuai order, serta memantau asupan dan keluaran. 7) Kolaborasi pemberian obat antihipertensi, antikejang (jika diresepkan), dan sedasi seperti dexmedetomidin sesuai protokol. 8) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya kepatuhan pengobatan dan tanda-tanda darurat neurologis yang harus dilaporkan segera.
Kondisi: Risiko Cedera
<>Kode SDKI: D.0061Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap cedera fisik yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan selama atau setelah episode kejang. Pasien mengalami kejang fokal yang melibatkan anggota gerak kiri, leher, dan mata. Meskipun kesadaran masih ada dan pasien dapat menjawab pertanyaan, kejang yang melibatkan gerakan tonik-klonik lokal dan mendeliknya mata berpotensi menyebabkan pasien terjatuh dari tempat tidur, terbentur, atau mengalami trauma fisik lainnya. Risiko ini diperberat oleh kondisi lemah yang dikeluhkan pasien.
Kode SLKI: L.03031
Deskripsi : Pasien bebas dari cedera. Luaran yang diharapkan adalah pasien tidak mengalami luka, memar, jatuh, atau trauma fisik selama masa perawatan. Integritas kulit tetap utuh dan tidak ada tanda-tanda trauma akibat kejang. Keamanan fisik pasien terjaga melalui penerapan tindakan pencegahan yang memadai oleh perawat dan keluarga.
Kode SIKI: I.08340
<>Deskripsi : Intervensi pencegahan cedera dan manajemen kejang. Intervensi ini mencakup: 1) Melakukan pengawasan ketat (safety surveillance) terhadap pasien, terutama saat ada aura atau setelah kejang. 2) Menggunakan pinggiran tempat tidur (bed rail) yang selalu terpasang dalam posisi terangkat dan dibalut dengan soft protector untuk mencegah benturan. 3) Menjaga lingkungan sekitar tempat tidur bebas dari benda keras dan tajam. 4) Menempatkan pasien pada posisi rendah di tempat tidur. 5) Tidak melakukan restrain atau menahan gerakan kejang secara paksa, tetapi membimbing gerakan dengan lemah jika memungkinkan. 6) Melonggarkan pakaian di sekitar leher dan dada selama kejang. 7) Memposisikan kepala miring untuk mencegah aspirasi (meski pasien sadar, langkah ini sebagai antisipasi). 8) Setelah kejang berakhir, melakukan reassessment neurologis dan fisik untuk mendeteksi cedera yang tidak terlihat. 9) Edukasi keluarga tentang apa yang harus dan tidak boleh dilakukan saat pasien kejang, serta pentingnya melaporkan setiap episode kejang kepada perawat.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dari intensitas ringan hingga berat. Meskipun pasien tidak melaporkan nyeri dada, kejang yang berulang dan kuat dapat menyebabkan nyeri otot (mialgia) pada anggota gerak yang terlibat (tangan dan kaki kiri) serta pada leher akibat gerakan menoleh yang repetitif. Sensasi kebas dan lemah yang dialami 30 menit sebelum kejang juga dapat disertai komponen ketidaknyamanan.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Kontrol nyeri. Luaran yang diharapkan adalah pasien melaporkan penurunan atau hilangnya nyeri, yang ditunjukkan dengan skala nyeri yang menurun, ekspresi wajah rileks, mampu beristirahat dengan tenang, dan tidak ada perilaku guarding atau melindungi area yang nyeri. Pasien memahami dan dapat menggunakan metode non-farmakologis untuk mengatasi nyeri.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Manajemen nyeri. Intervensi ini meliputi: 1) Menilai karakteristik nyeri (lokasi, intensitas dengan skala 0-10, kualitas, durasi) secara komprehensif, termasuk nyeri pasca-kejang. 2) Memantau tanda-tanda nonverbal ketidaknyamanan seperti gelisah, ekspresi wajah kesakitan, atau penjagaan pada area tertentu. 3) Memberikan tindakan non-farmakologis seperti reposisi yang nyaman, masase lembut pada otot yang tegang, dan teknik relaksasi napas dalam. 4) Mengurangi stimulasi lingkungan yang dapat memperberat persepsi nyeri. 5) Kolaborasi pemberian analgetik sesuai order jika nyeri dinilai signifikan dan mengganggu. 6) Mengevaluasi efektivitas intervensi pengurangan nyeri yang diberikan dan mencatat respons pasien. 7) Memberikan edukasi bahwa nyeri otot pasca-kejang adalah hal yang umum dan biasanya bersifat sementara.
-
Article No. 23727 | 18 Jan 2026
Klinis : 1. Ny. N mengatakan keluarga belum rutin memantau kesehatannya. 2. Ny. N mengatakan jarang diingatkan untuk minum obat oleh anggota keluarga. 3. Ny. N mengatakan biasanya melakukan kontrol kesehatan sendiri tanpa pendampingan keluarga. 4. Ny. N mengatakan sering lupa minum obat karena mengurus cucu dan pekerjaan rumah tangga. 5. Ny. N mengatakan tidak memahami secara pasti jadwal dan dosis obat hipertensi yang harus diminum. 6. Ny. N mengatakan merasa kurang diperhatikan terkait kondisi kesehatannya oleh anak-anak. 7. Ny. N mengatakan keluarga menganggap tekanan darah tinggi sebagai hal biasa karena tidak selalu menimbulkan keluhan. 8. Ny. N mengatakan belum pernah diajarkan cara memantau tekanan darah secara mandiri di rumah. 9. Ny. N mengatakan tidak ada kesepakatan dalam keluarga mengenai siapa yang bertanggung jawab mengingatkan minum obat atau kontrol kesehatan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html