Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23875 | 30 Jan 2026
Klinis : pasien mengatakan nyeri paha kiri atas saat beraktivitas skala nyeri 3-5
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut (Asosiasi Internasional untuk Studi Nyeri); tiba-tiba atau lambat onset dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mengontrol nyeri. SLKI ini mencakup serangkaian tindakan yang bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan sensasi nyeri yang dialami pasien. Perawat akan mengidentifikasi karakteristik nyeri (lokasi, kualitas, intensitas, durasi, faktor pencetus dan pereda), memantau respons nonverbal terhadap ketidaknyamanan (terutama pada pasien yang tidak dapat berkomunikasi), memberikan lingkungan yang tenang untuk meningkatkan kenyamanan, serta menerapkan teknik nonfarmakologis seperti distraksi, relaksasi, terapi musik, atau kompres hangat/dingin sesuai indikasi. Selain itu, perawat akan mengkolaborasikan pemberian analgesik sesuai resep dokter, memantau efektivitas dan efek samping terapi farmakologis, serta mendidik pasien dan keluarga tentang manajemen nyeri. Tujuan akhirnya adalah agar pasien melaporkan penurunan skala nyeri, menunjukkan tanda-tanda fisik berkurangnya nyeri (seperti ekspresi wajah rileks, mampu istirahat), dan mampu berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Memfasilitasi kenyamanan dan mengurangi nyeri. Intervensi ini merupakan tindakan mandiri perawat yang berfokus pada pengkajian komprehensif dan penanganan nyeri. Langkah-langkahnya dimulai dengan pengkajian nyeri secara menyeluruh menggunakan skala yang sesuai (numerik, wajah, verbal) setiap kali berinteraksi dengan pasien dan setelah intervensi. Perawat akan mendokumentasikan karakteristik nyeri secara detail. Selanjutnya, perawat mengajarkan dan mendampingi pasien dalam teknik nonfarmakologis seperti napas dalam, imajinasi terbimbing, atau distraksi sesuai kondisi. Perawat juga memposisikan pasien dengan nyaman, memastikan alat-alat seperti selimut atau bantal tidak menekan area nyeri (paha kiri atas), dan memodifikasi lingkungan untuk mendukung istirahat. Perawat akan mengedukasi pasien tentang pentingnya melaporkan nyeri sebelum menjadi berat dan tentang rencana terapi nyeri yang ditetapkan. Perawat juga berperan sebagai advokat pasien dengan berkomunikasi dengan tim kesehatan lain mengenai respons nyeri pasien dan kebutuhan akan penyesuaian terapi. Evaluasi terus-menerus terhadap respons pasien terhadap setiap intervensi dilakukan untuk menentukan keefektifannya dan kebutuhan akan pendekatan tambahan. Intervensi ini menekankan pendekatan holistik, dimana mengurangi nyeri tidak hanya dengan obat, tetapi juga dengan menciptakan rasa aman, mendengarkan keluhan pasien, dan memberdayakan pasien untuk terlibat dalam pengelolaan nyerinya sendiri.
-
Article No. 23876 | 30 Jan 2026
Klinis : pasien datang dengan demam kurang lebih 3 hari ada benjolan pada paroid dan kemerahan suhu tubuh 38 derjad cc
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia pada Pasien dengan Dugaan Parotitis (Gondongan)
Kode SDKI: D.0021
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Memonitor suhu tubuh. Memonitor tanda dan gejala hipertermia (kulit kemerahan, panas, takikardia, takipnea). Memonitor tanda-tanda dehidrasi. Memonitor hasil pemeriksaan laboratorium terkait (misalnya: leukosit). Kolaborasi pemberian terapi antipiretik sesuai indikasi. Mengatur lingkungan untuk memfasilitasi kehilangan panas (sirkulasi udara, pakaian tipis, selimut tipis). Memberikan kompres hangat/tepid sponge. Menganjurkan peningkatan asupan cairan oral. Memberikan terapi cairan intravena sesuai indikasi. Menganjurkan tirah baring. Memberikan pendidikan kesehatan tentang penyebab hipertermia, tanda dan gejala, penanganan di rumah, dan kapan harus mencari bantuan medis.
Kondisi: Nyeri Akut terkait Inflamasi Kelenjar Parotis
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu 3 bulan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Kontrol nyeri.
Kode SIKI: I.03001
Deskripsi : Mengkaji karakteristik nyeri (lokasi, intensitas, skala, kualitas, durasi, faktor pencetus, faktor pereda). Mengobservasi tanda-tanda nonverbal dari nyeri (ekspresi wajah, postur tubuh, gelisah). Memonitor dampak nyeri terhadap fungsi (tidur, nafsu makan, aktivitas). Kolaborasi pemberian analgesik sesuai indikasi. Mengajarkan dan membantu teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri (distraksi, relaksasi napas dalam, imajinasi terbimbing). Memberikan kompres hangat atau dingin pada area yang nyeri sesuai indikasi. Membantu pasien dalam posisi yang nyaman. Memberikan pendidikan kesehatan tentang manajemen nyeri dan penggunaan obat sesuai resep. Mengevaluasi efektivitas intervensi pengurangan nyeri.
Kondisi: Risiko Infeksi (Penyebaran) terkait Proses Penyakit Infeksi Virus
Kode SDKI: D.0067
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons terhadap patogen.
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : Kontrol infeksi.
Kode SIKI: I.10001
Deskripsi : Memonitor tanda dan gejala infeksi sistemik (demam, menggigil, takikardia, takipnea, letargi). Memonitor tanda-tanda penyebaran infeksi lokal (peningkatan kemerahan, bengkak, nyeri, pus). Melakukan dan mengajarkan cuci tangan yang efektif sebelum dan setelah kontak dengan pasien. Menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai. Menerapkan prinsip isolasi (droplet precaution) karena dugaan parotitis infeksius. Mengajarkan etika batuk dan bersin yang benar (menutup mulut dan hidung dengan tisu atau lengan). Mengatur pembuangan limbah infeksius (tisu) dengan tepat. Membersihkan dan mendisinfeksi lingkungan dan peralatan pasien. Membatasi pengunjung jika diperlukan. Memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya isolasi, pencegahan penularan kepada orang lain, dan tanda-tanda komplikasi (seperti nyeri testis/orkitis, nyeri perut/pancreatitis, sakit kepala hebat/meningitis). Menganjurkan istirahat yang cukup untuk mendukung sistem imun.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh terkait Nyeri Saat Mengunyah dan Menelan
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: L.05001
Deskripsi : Status nutrisi.
Kode SIKI: I.05001
Deskripsi : Memonitor asupan makanan dan cairan setiap hari. Mengkaji faktor yang menghambat asupan nutrisi (nyeri, mual, anoreksia). Mengkaji tanda-tanda malnutrisi (kelemahan, penurunan berat badan, turgor kulit). Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan jenis diet. Menganjurkan dan menyediakan makanan dengan tekstur lunak atau cair (bubur, sup, puding, smoothie) yang tidak memerlukan kunyahan kuat. Menganjurkan makanan dalam porsi kecil tetapi sering. Menciptakan lingkungan makan yang nyaman dan tidak terburu-buru. Memberikan perawatan oral sebelum dan setelah makan untuk meningkatkan kenyamanan. Memonitor berat badan secara berkala jika memungkinkan. Memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya nutrisi adekuat untuk penyembuhan dan pemilihan jenis makanan yang tepat selama sakit.
-
Article No. 23877 | 30 Jan 2026
Klinis : Bayi masuk dengan kejang,seluruh badan tampak menguning,
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Ensefalopati Bilirubin Neonatal dengan Kejang
Kode ICD-10: P57.0
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan kerusakan otak (ensefalopati) pada bayi baru lahir yang disebabkan oleh kadar bilirubin yang sangat tinggi dalam darah (hiperbilirubinemia berat/kernikterus), yang ditandai dengan gejala kejang dan ikterus (kuning) yang terlihat di seluruh tubuh. Bilirubin adalah produk pemecahan sel darah merah. Pada bayi baru lahir, terutama yang prematur, sistem hatinya mungkin belum matang untuk memproses dan membuang bilirubin dengan efektif, sehingga menumpuk. Ketika kadar bilirubin melewati ambang batas tertentu, zat ini dapat menembus sawar darah-otak dan bersifat toksik bagi jaringan otak yang masih berkembang, menyebabkan ensefalopati bilirubin. Gejala khasnya termasuk kejang, tonus otot yang abnormal (kaku atau lemas), tangisan melengking, dan warna kuning yang mendalam pada kulit dan sklera mata. Kode P57.0 dikategorikan di bawah "Kondisi tertentu yang berasal dari masa perinatal" (P00-P96), khususnya di blok "Kondisi hemolitik pada fetus dan newborn" (P50-P61). Penanganan darurat diperlukan untuk mencegah kerusakan neurologis permanen, biasanya dengan fototerapi intensif atau transfusi tukar darah untuk menurunkan kadar bilirubin dengan cepat.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23878 | 30 Jan 2026
Klinis : Bayi masuk dengan kejang,seluruh badan tampak menguning,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera dan Hiperbilirubinemia
Kode SDKI: 0027
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera
Kode SLKI: 2136
Deskripsi : Tindakan Keamanan
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Manajemen Kejang
Kondisi: Risiko Cedera dan Hiperbilirubinemia
Kode SDKI: 0027
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera
Kode SLKI: 2136
Deskripsi : Tindakan Keamanan
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Manajemen Kejang
Kondisi: Risiko Cedera dan Hiperbilirubinemia
Kode SDKI: 0027
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera
Kode SLKI: 2136
Deskripsi : Tindakan Keamanan
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Manajemen Kejang
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Suhu Tubuh
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Suhu Tubuh
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Pemantauan Suhu
Kode SIKI: 3510
Deskripsi : Pengaturan Suhu Lingkungan
Kondisi: Hiperbilirubinemia
Kode SDKI: 0013
Deskripsi Singkat: Hiperbilirubinemia
Kode SLKI: 1610
Deskripsi : Manajemen Hiperbilirubinemia
Kode SIKI: 4160
Deskripsi : Fototerapi
Kondisi: Ansietas Orang Tua
Kode SDKI: 0461
Deskripsi Singkat: Ansietas
Kode SLKI: 4500
Deskripsi : Pengurangan Ansietas
Kode SIKI: 6520
Deskripsi : Dukungan Emosional
-
Article No. 23879 | 30 Jan 2026
Klinis : Bayi masuk dengan kejang,seluruh badan tampak menguning,
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera & Hiperbilirubinemia
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera
Kode SLKI: 3417
Deskripsi : Tindakan Keamanan
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Pemantauan Kejang
Kondisi: Risiko Cedera & Hiperbilirubinemia
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera
Kode SLKI: 3417
Deskripsi : Tindakan Keamanan
Kode SIKI: 4416
Deskripsi : Pemantauan Tanda Vital
Kondisi: Risiko Cedera & Hiperbilirubinemia
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera
Kode SLKI: 3417
Deskripsi : Tindakan Keamanan
Kode SIKI: 4421
Deskripsi : Pemantauan Neurologis
Kondisi: Risiko Cedera & Hiperbilirubinemia
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko Cedera
Kode SLKI: 3417
Deskripsi : Tindakan Keamanan
Kode SIKI: 4431
Deskripsi : Pemantauan Kulit dan Membran Mukosa
-
Article No. 23844 | 29 Jan 2026
Klinis : Gangguan menelan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Menelan (Disfagia)
Kode SDKI: 00005
Deskripsi Singkat: Gangguan menelan adalah kondisi di mana seseorang mengalami kesulitan atau ketidakmampuan untuk memindahkan makanan, cairan, atau saliva dari mulut ke lambung secara aman dan efektif. Ini bukanlah suatu penyakit, melainkan gejala dari berbagai kondisi medis yang mendasarinya. Gangguan ini dapat terjadi pada fase oral (mengunyah dan membentuk bolus), fase faringeal (refleks menelan yang memindahkan makanan ke esofagus sambil melindungi jalan napas), atau fase esofageal (peristaltik yang mendorong makanan ke lambung). Risiko utama dari gangguan menelan adalah aspirasi, yaitu masuknya material ke dalam saluran napas bawah, yang dapat menyebabkan pneumonia aspirasi, malnutrisi, dehidrasi, penurunan kualitas hidup, dan bahkan kematian. Diagnosis keperawatan ini difokuskan pada respons individu terhadap kondisi tersebut dan memerlukan intervensi untuk meminimalkan risiko dan mempertahankan asupan nutrisi serta hidrasi yang adekuat.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Manajemen Aspirasi. Tujuan utama dari SLKI ini adalah untuk mencegah terjadinya aspirasi pada pasien dengan gangguan menelan. Intervensi yang tercakup meliputi: memposisikan pasien dalam posisi duduk tegak (90 derajat) atau setengah duduk (minimal 45-60 derajat) selama makan dan minimal 30 menit setelah makan; melakukan penilaian kemampuan menelan secara berkala sebelum pemberian makan/minum; menyesuaikan konsistensi makanan dan cairan (seperti menggunakan makanan lunak, cincang, atau puree serta cairan kental) sesuai hasil penilaian; memastikan lingkungan makan yang tenang dan bebas gangguan untuk memfokuskan perhatian pasien; memberikan instruksi untuk makan dengan porsi kecil dan kunyah secara perlahan serta telan sebelum mengambil suapan berikutnya; memeriksa sisa makanan di mulut setelah menelan; serta melakukan perawatan kebersihan mulut sebelum dan sesudah makan untuk mengurangi residu makanan dan bakteri. Evaluasi keberhasilan ditandai dengan tidak adanya tanda-tanda aspirasi seperti batuk, tersedak, suara basah, atau perubahan saturasi oksigen selama dan setelah proses makan-minum.
Kode SIKI: 3201
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. SIKI ini berfokus pada upaya memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi pasien yang mengalami gangguan menelan, untuk mencegah komplikasi malnutrisi dan dehidrasi. Intervensi spesifik meliputi: berkolaborasi dengan ahli gizi dan terapis wicara untuk menentukan jenis diet dan konsistensi yang paling aman dan sesuai; memantau dan mencatat asupan makanan dan cairan setiap hari; mengukur berat badan secara teratur; memberikan makanan dengan porsi kecil tetapi frekuensi yang lebih sering (small frequent feeding); memastikan suplemen nutrisi yang diberikan sesuai resep; memodifikasi lingkungan makan agar nyaman; memberikan bantuan makan sesuai kebutuhan kemampuan pasien; serta memantau tanda-tanda dehidrasi (seperti turgor kulit menurun, mukosa kering) dan malnutrisi (seperti kelemahan, penurunan berat badan). Evaluasi kriteria hasil adalah tercapainya asupan nutrisi dan cairan yang adekuat sesuai kebutuhan metabolik pasien, yang ditunjukkan dengan status hidrasi yang baik, berat badan stabil atau sesuai target, serta tidak adanya tanda-tanda defisiensi nutrisi.
-
Article No. 23845 | 29 Jan 2026
Klinis : Gangguan menelan sudah terpasang ngt
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Menelan (Disfagia) dengan Pemasangan NGT
Kode SDKI: B.3.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko aspirasi adalah keadaan dimana individu rentan mengalami masuknya sekret, cairan, atau benda padat (makanan, cairan lambung) ke dalam trakea dan paru-paru, yang dapat mengakibatkan komplikasi kesehatan.
Kode SLKI: B.3.1.1.1
Deskripsi : Aspirasi dicegah. Indikator: 1) Suara napas bersih/bebas dari suara tambahan, 2) Tidak ada tanda-tanda distress pernapasan, 3) Tidak ada batuk atau tersedak saat pemberian nutrisi/obat, 4) Tidak terjadi pneumonia aspirasi, 5) Saluran napas tetap paten.
Kode SIKI: B.3.1.1.1.1 s.d. B.3.1.1.1.11
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mencegah aspirasi pada pasien dengan NGT meliputi serangkaian tindakan sistematis. Pertama, pastikan posisi kepala tempat tidur ditinggikan minimal 30-45 derajat selama pemberian nutrisi enteral dan hingga 30-60 menit setelahnya untuk memanfaatkan gravitasi mencegah refluks. Kedua, lakukan konfirmasi posisi selang NGT sebelum setiap pemberian dengan mengukur pH aspirat lambung (pH asam ≤5.5) sebagai metode terbaik, atau dengan insuflasi udara dan auskultasi epigastrium jika aspirat tidak didapat. Ketiga, periksa sisa lambung (residual) secara berkala sesuai protokol (biasanya setiap 4 jam). Jika volume residual melebihi batas yang ditentukan (misalnya 200-250 ml atau sesuai kebijakan), hentikan pemberian sementara dan konsultasikan dengan tim klinis. Keempat, atur kecepatan pemberian nutrisi sesuai resep, hindari pemberian bolus yang terlalu cepat yang dapat memicu distensi lambung dan muntah. Kelima, lakukan perawatan kebersihan mulut dan hidung secara rutin untuk mengurangi kolonisasi bakteri dan risiko pneumonia aspirasi. Keenam, pertahankan balon cuff pada tekanan yang tepat (20-30 cmH2O) jika pasien juga menggunakan tube trakeostomi atau endotrakeal. Ketujuh, kaji tanda-tanda aspirasi dini seperti batuk mendadak, suara napas basah (ronkhi/ wheezing), sianosis, atau distress pernapasan. Kedelapan, berikan edukasi pada pasien dan keluarga tentang pentingnya posisi, tanda bahaya, dan larangan untuk memberikan sesuatu secara oral jika ada gangguan menelan berat. Kesembilan, pastikan fiksasi NGT aman untuk mencegah pergeseran. Kesepuluh, kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jenis formula dan kekentalan yang tepat. Kesebelas, lakukan fisioterapi dada jika diperlukan untuk membantu membersihkan sekret. Semua intervensi ini didokumentasikan dengan baik untuk memantau efektivitas dan kesinambungan asuhan.
-
Article No. 23846 | 29 Jan 2026
Klinis : Diare
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Diare
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan frekuensi dan/atau penurunan konsistensi buang air besar dari biasanya.
Kode SLKI: L.03120
Deskripsi : Manajemen Diare. Intervensi keperawatan untuk mengontrol diare, memulihkan keseimbangan cairan dan elektrolit, serta mencegah komplikasi. Tindakan ini meliputi pemantauan frekuensi, volume, dan karakteristik feses; pemantauan tanda-tanda dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit; pemberian cairan dan elektrolit sesuai kebutuhan (oral atau parenteral); kolaborasi pemberian obat antidiare atau antibiotik sesuai indikasi; edukasi pasien dan keluarga tentang diet yang tepat (misalnya diet BRAT: Banana, Rice, Applesauce, Toast atau diet rendah serat, hindari makanan pedas, berlemak, dan susu); edukasi pentingnya kebersihan perorangan dan lingkungan (cuci tangan dengan sabun) untuk mencegah penularan; serta memantau integritas kulit perianal dan memberikan perawatan kulit untuk mencegah iritasi dan ekskoriasi. Tujuan akhirnya adalah frekuensi dan konsistensi feses kembali normal, tanda-tanda dehidrasi teratasi, dan pasien serta keluarga memahami tindakan pencegahan serta penatalaksanaan di rumah.
Kode SIKI: I.03120
Deskripsi : Kriteria hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan untuk masalah diare. Kriteria ini meliputi: (1) Fisiologis: Frekuensi buang air besar menurun dan konsistensi feses membaik/mengental mendekati normal. Tanda-tanda dehidrasi (seperti turgor kulit menurun, mata cekung, membran mukosa kering, oliguria) tidak ada atau teratasi. Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai, ditandai dengan tanda vital stabil, output urin adekuat (>30 ml/jam), dan hasil laboratorium elektrolit dalam batas normal. Tidak ada tanda-tanda syok hipovolemik. Integritas kulit perianal terjaga, tidak terdapat kemerahan, lecet, atau ekskoriasi. (2) Pengetahuan dan Perilaku: Pasien dan keluarga dapat menyebutkan penyebab diare dan faktor risikonya. Pasien dan keluarga mendemonstrasikan perilaku cuci tangan yang benar dengan sabun dan air mengalir. Pasien dan keluarga memahami dan menerapkan anjuran diet yang diberikan (seperti memilih makanan yang mudah dicerna, menghindari pemicu). Pasien dan keluarga mengetahui tanda-tanda dehidrasi yang perlu dilaporkan segera kepada tenaga kesehatan. (3) Eliminasi: Pola eliminasi usus kembali ke pola normal individu tersebut. Pasien melaporkan tidak adanya urgensi atau inkontinensia fekal. Kriteria hasil ini bersifat holistik, mengukur tidak hanya penyelesaian gejala tetapi juga pemahaman, kemampuan perawatan mandiri, dan pencegahan kekambuhan.
-
Article No. 23847 | 29 Jan 2026
Klinis : Gangguan mobilitas fisik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: 00085
Deskripsi Singkat: Keterbatasan gerakan fisik yang independen dan bertujuan.
Kode SLKI: 0400
Deskripsi : Mobilitas fisik pasien membaik. SLKI ini terdiri dari serangkaian kriteria hasil yang diharapkan, termasuk: (1) Pasien mempertahankan posisi tubuh yang diinginkan dengan atau tanpa bantuan. (2) Pasien melakukan aktivitas dengan bantuan sesuai kebutuhan. (3) Pasien menunjukkan penggunaan alat bantu mobilitas secara aman dan tepat. (4) Pasien berpartisipasi dalam aktivitas rentang gerak (ROM). (5) Kekuatan dan tonus otot membaik atau mempertahankan fungsi optimal. (6) Koordinasi dan keseimbangan tubuh membaik. (7) Pasien mempertahankan integritas kulit. (8) Pasien bebas dari kontraktur. Tujuan akhirnya adalah memaksimalkan kemandirian pasien dalam bergerak, mencegah komplikasi imobilisasi seperti atrofi otot, kontraktur sendi, dekubitus, dan pneumonia, serta meningkatkan kualitas hidup dan partisipasi dalam aktivitas sehari-hari.
Kode SIKI: 4150
Deskripsi : Terapi Latihan: Mobilisasi. Intervensi keperawatan ini berfokus pada membantu pasien untuk bergerak atau mengubah posisi. Penjelasannya mencakup: (1) Monitor status fisik, neurologis, dan kognitif pasien sebelum dan selama mobilisasi. (2) Ajarkan dan bantu pasien dengan teknik mengubah posisi dan transfer yang aman. (3) Gunakan alat bantu mobilitas (seperti kursi roda, walker, kruk) dan alat bantu transfer (seperti sabuk transfer, matras geser) sesuai kebutuhan. (4) Kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan dan mobilisasi yang terstruktur. (5) Lakukan latihan rentang gerak (ROM) aktif, pasif, atau aktif asistif secara rutin. (6) Bantu dan ajarkan latihan penguatan otot. (7) Atur lingkungan yang aman untuk mencegah jatuh dan memudahkan mobilitas. (8) Berikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya mobilisasi, teknik yang aman, dan penggunaan alat bantu. (9) Motivasi dan dukung pasien untuk berpartisipasi sesuai kemampuan, meningkatkan kepercayaan diri. (10) Dokumentasi respons pasien, tingkat bantuan yang dibutuhkan, dan kemajuan mobilitas. Intervensi ini bersifat dinamis dan disesuaikan dengan kemampuan pasien, bertahap dari posisi di tempat tidur, duduk, berdiri, hingga berjalan, dengan prinsip keselamatan dan pencegahan cedera bagi pasien maupun perawat.
-
Article No. 23848 | 29 Jan 2026
Klinis : Gangguan mobilitas fisik pasien stroke
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: 00085
Deskripsi Singkat: Keterbatasan dalam pergerakan fisik mandiri yang disengaja dalam lingkungan.
Kode SLKI: 0404
Deskripsi : Peningkatan Mobilitas. Kriteria hasil: 1) Pergerakan sendi aktif sesuai rentang gerak (ROM). 2) Kekuatan otot meningkat. 3) Koordinasi gerak meningkat. 4) Keseimbangan tubuh meningkat. 5) Melakukan aktivitas fisik secara mandiri. 6) Menggunakan alat bantu mobilitas dengan tepat.
Kode SIKI: 0820
Deskripsi : Latihan Rentang Gerak (ROM). Tindakan keperawatan: 1) Monitor kemampuan mobilitas pasien (kekuatan otot, ROM, koordinasi, keseimbangan, dan toleransi aktivitas). 2) Lakukan latihan ROM aktif, aktif asistif, atau pasif sesuai kondisi pasien. 3) Anjurkan dan bantu pasien untuk menggerakkan sendi secara perlahan dan penuh hingga titik nyeri. 4) Dukung dan bantu posisi tubuh yang tepat selama latihan. 5) Ajarkan keluarga cara melakukan latihan ROM. 6) Kolaborasi dengan fisioterapis dalam program latihan.