Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23940 | 05 Feb 2026
Klinis : Pasien anemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien Anemia
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan perfusi jaringan perifer
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik. Kriteria hasil: 1) Kulit hangat, 2) Warna kulit normal, 3) Nadi perifer teraba kuat dan reguler, 4) Tekanan darah dalam rentang normal, 5) Capillary refill time < 3 detik, 6) Tidak ada nyeri atau kram pada ekstremitas, 7) Tidak ada edema, 8) Tidak ada parestesia, 9) Turgor kulit baik, 10) Produksi urin adekuat.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Pemantauan perfusi perifer. Tindakan: 1) Kaji warna, suhu, dan kelembaban kulit serta membran mukosa. 2) Kaji kekuatan dan keteraturan nadi perifer (radialis, dorsalis pedis, tibialis posterior). 3) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) secara berkala. 4) Kaji capillary refill time (CRT). 5) Observasi adanya nyeri, kram, parestesia (kesemutan/baal), atau kelemahan pada ekstremitas. 6) Kaji turgor kulit dan adanya edema. 7) Monitor haluaran urin (output). 8) Anjurkan pasien untuk menghindari menyilangkan kaki atau pergelangan kaki dalam waktu lama. 9) Anjurkan untuk melakukan mobilisasi bertahap sesuai toleransi. 10) Kolaborasi pemberian terapi oksigen jika diperlukan. 11) Kolaborasi pemberian cairan intravena atau transfusi darah sesuai program terapi. 12) Ajarkan pasien dan keluarga tanda-tanda penurunan perfusi yang harus dilaporkan.
Kondisi: Pasien Anemia
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Intoleransi aktivitas
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Toleransi aktivitas meningkat. Kriteria hasil: 1) Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari tanpa mengalami kelelahan berat, 2) Tanda vital (nadi, pernapasan, tekanan darah) dalam rentang normal sebelum, selama, dan setelah aktivitas, 3) Pasien melaporkan peningkatan energi, 4) Tidak mengalami sesak napas atau dispnea saat aktivitas, 5) Tidak mengalami pusing atau sinkop, 6) Warna kulit tetap normal selama aktivitas, 7) Pasien dapat mengidentifikasi aktivitas yang dapat dan tidak dapat dilakukan.
Kode SIKI: I.03001
<>Deskripsi : Manajemen intoleransi aktivitas. Tindakan: 1) Kaji faktor penyebab intoleransi aktivitas (tingkat anemia, kelemahan, nyeri, pola tidur). 2) Kaji respons fisiologis terhadap aktivitas (perubahan tanda vital, dyspnea, kelelahan, pucat, pusing). 3) Bantu pasien mengidentifikasi prioritas aktivitas. 4) Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan setelah aktivitas. 5) Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. 6) Anjurkan aktivitas bertahap: mulai dari aktivitas ringan, meningkat sesuai toleransi. 7) Ajarkan teknik penghematan energi (duduk saat melakukan aktivitas, istirahat teratur). 8) Kolaborasi pemberian terapi untuk meningkatkan kapasitas pengangkutan oksigen (transfusi, suplementasi). 9) Monitor hasil laboratorium (Hb, Ht). 10) Berikan lingkungan yang tenang untuk mendukung istirahat dan tidur. 11) Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda kelelahan yang berlebihan.
Kondisi: Pasien Anemia
Kode SDKI: D.0096
Deskripsi Singkat: Risiko infeksi
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Risiko infeksi terkontrol. Kriteria hasil: 1) Tidak menunjukkan tanda dan gejala infeksi (demam, kemerahan, bengkak, nyeri, drainase purulen), 2) Leukosit dalam rentang normal, 3) Melakukan perilaku pencegahan infeksi (cuci tangan, kebersihan diri), 4) Luka (jika ada) menunjukkan proses penyembuhan.
Kode SIKI: I.15001
Deskripsi : Pencegahan infeksi. Tindakan: 1) Monitor tanda-tanda vital, terutama suhu tubuh. 2) Kaji tanda-tanda lokal dan sistemik infeksi. 3) Lakukan dan ajarkan cuci tangan yang benar sebelum dan setelah kontak dengan pasien. 4) Pertahankan teknik aseptik dalam prosedur invasif. 5) Anjurkan kebersihan diri yang adekuat (mandi, perawatan mulut). 6) Tingkatkan asupan nutrisi seimbang untuk mendukung sistem imun. 7) Batasi pengunjung yang sedang sakit. 8) Berikan edukasi tentang pentingnya menghindari kerumunan atau sumber infeksi potensial. 9) Kolaborasi pemberian terapi antibiotik jika diperlukan. 10) Monitor hasil laboratorium (leukosit, LED). 11) Berikan imunisasi sesuai indikasi.
-
Article No. 23941 | 05 Feb 2026
Klinis : pasien merasa malu dan minder
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Harga Diri Rendah Situasional
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Perasaan negatif evaluatif terhadap diri sendiri atau kemampuan diri yang berkembang sebagai respons terhadap situasi atau kejadian tertentu yang dirasakan sebagai kegagalan. Kondisi ini bersifat sementara dan terkait dengan peristiwa spesifik, seperti merasa malu dan minder.
Kode SLKI: L.14015
Deskripsi : Harga diri meningkat. Intervensi keperawatan diarahkan untuk membantu pasien mengembangkan kembali perasaan positif terhadap dirinya. Tujuan akhirnya adalah pasien dapat mengungkapkan penerimaan terhadap diri sendiri, mengakui kekuatan dan kelemahan secara realistis, serta menunjukkan kemampuan untuk mengatasi perasaan malu dan minder dalam situasi sosial. Perawat akan mendorong ekspresi perasaan, memberikan umpan balik positif atas keberhasilan sekecil apapun, membantu mengidentifikasi sumber kekuatan pribadi, dan melatih keterampilan koping serta asertif untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam interaksi.
Kode SIKI: I.14015
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan harga diri. Ini melibatkan serangkaian tindakan keperawatan yang spesifik dan terstruktur. Pertama, perawat menciptakan lingkungan terapeutik yang aman, menerima, dan tidak menghakimi untuk memfasilitasi eksplorasi perasaan. Perawat mendorong pasien untuk mengungkapkan perasaan malu dan mindernya secara verbal, kemudian membantu mengidentifikasi pemicu spesifik dan pikiran negatif otomatis yang menyertainya. Perawat akan membantu pasien mengevaluasi bukti yang mendukung dan menentang pikiran negatif tersebut, menggantinya dengan persepsi yang lebih realistis dan seimbang. Perawat juga membantu pasien mengidentifikasi dan mendaftar keberhasilan, kekuatan, dan kualitas positif diri, mungkin menggunakan teknik seperti jurnal penghargaan diri. Peran permainan (role play) dapat digunakan untuk melatih respons yang lebih asertif dalam situasi yang memalukan. Perawat memberikan pendidikan tentang harga diri dan mekanisme koping sehat. Selain itu, perawat melibatkan pasien dalam pengambilan keputusan tentang perawatannya sendiri untuk meningkatkan rasa kontrol dan kompetensi. Dukungan keluarga juga digali untuk memberikan penguatan positif. Seluruh intervensi dilakukan dengan sikap empati, menghargai, dan konsisten memberikan pengakuan atas usaha serta kemajuan pasien, sekecil apapun, untuk membangun kembali fondasi harga diri yang positif.
-
Article No. 23942 | 05 Feb 2026
Klinis : Pola Napas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pola napas tidak efektif adalah keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami perubahan pada pola pernapasan yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi tubuh. Kondisi ini ditandai dengan perubahan frekuensi, kedalaman, atau irama pernapasan, penggunaan otot bantu pernapasan, dispnea, sianosis, dan penurunan saturasi oksigen. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti obstruksi jalan napas, gangguan neuromuskular, nyeri, ansietas, atau penyakit paru dan jantung. Tujuannya adalah untuk mengembalikan atau mempertahankan pola pernapasan yang efektif guna memenuhi kebutuhan oksigenasi jaringan.
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : SLKI 3201: Perbaikan Pola Pernapasan. Tujuan luaran keperawatan ini adalah agar pola pernapasan pasien menjadi efektif. Kriteria luaran yang diharapkan meliputi: frekuensi pernapasan dalam rentang normal sesuai usia, irama pernapasan teratur, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan (seperti retraksi interkostal atau penggunaan otot leher), tidak ada dispnea atau sesak napas baik pada saat istirahat maupun aktivitas, bunyi napas bersih di seluruh lapang paru, saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal (≥95% untuk orang tanpa penyakit paru kronis), warna kulit dan membran mukosa normal (tidak sianosis), serta pasien melaporkan atau menunjukkan kenyamanan pernapasan. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa pertukaran gas berlangsung optimal dan kebutuhan oksigenasi tubuh terpenuhi.
Kode SIKI: 4320
Deskripsi : SIKI 4320: Manajemen Pola Pernapasan. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan sistematis untuk memfasilitasi perbaikan pola pernapasan. Tindakan-tindakan tersebut meliputi: 1) Memonitor status pernapasan secara berkala (frekuensi, kedalaman, irama, usaha napas, penggunaan otot bantu, saturasi oksigen). 2) Melakukan auskultasi bunyi napas untuk mendeteksi adanya abnormalitas seperti wheezing, ronki, atau penurunan bunyi napas. 3) Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ekspansi dada (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi) sesuai toleransi dan kondisi. 4) Mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif, serta menggunakan teknik spirometri insentif jika diperlukan. 5) Melakukan fisioterapi dada (seperti perkusi, vibrasi, dan drainase postural) jika diindikasikan untuk membantu mobilisasi sekret. 6) Memberikan terapi oksigen sesuai program medis dan memonitor efektivitasnya. 7) Mempertahankan kebersihan dan patensi jalan napas, termasuk suction jika diperlukan. 8) Mengatur lingkungan yang nyaman dengan sirkulasi udara baik dan mengurangi alergen atau iritan. 9) Mengajarkan teknik relaksasi untuk mengurangi ansietas yang dapat memperburupola napas. 10) Memfasilitasi aktivitas dengan pacing untuk mencegah kelelahan dan dispnea. 11) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (seperti dokter, fisioterapis, ahli gizi) untuk penanganan penyebab dasar (misalnya pemberian bronkodilator, analgesi untuk nyeri, atau manajemen nutrisi). Intervensi ini dilakukan secara holistik, berfokus tidak hanya pada gejala tetapi juga pada penyebab dan faktor-faktor yang memperngaruhi, dengan melibatkan pasien dan keluarga dalam perawatan.
-
Article No. 23943 | 05 Feb 2026
Klinis : Pola Napas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pola Napas tidak efektif
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pola napas tidak efektif adalah keadaan di mana individu mengalami perubahan pernapasan yang sebenarnya atau berisiko mengalami ketidakmampuan untuk memberikan ventilasi yang adekuat.
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : Perbaikan pola napas. Kriteria hasil: 1. Frekuensi napas dalam rentang normal sesuai usia. 2. Irama napas teratur. 3. Kedalaman napas adekuat. 4. Tidak ada penggunaan otot bantu napas. 5. Tidak ada bunyi napas abnormal (mengi, ronki, stridor). 6. Ekspansi dada simetris. 7. Nilai gas darah arteri dalam rentang normal. 8. Saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal sesuai usia. 9. Pasien melaporkan tidak sesak napas atau nyeri dada terkait pernapasan. 10. Pasien mampu melakukan aktivitas tanpa distress pernapasan.
Kode SIKI: 3201
Deskripsi : Manajemen pola napas. Intervensi keperawatan: 1. Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha pernapasan. 2. Auskultasi bunyi napas, catat adanya bunyi abnormal. 3. Posisikan pasien semi-Fowler atau Fowler tinggi untuk memudahkan ekspansi paru, kecuali kontraindikasi. 4. Ajarkan dan bantu latihan napas dalam dan batuk efektif. 5. Lakukan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, vibrasi) sesuai indikasi dan protokol. 6. Kelola pemberian oksigen sesuai program terapi dan monitor efektivitasnya. 7. Lakukan suction jalan napas untuk membersihkan sekret, pertahankan teknik steril. 8. Ajarkan penggunaan alat bantu napas (seperti incentive spirometer) sesuai indikasi. 9. Monitor status gas darah arteri dan saturasi oksigen (SpO2). 10. Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman, kurangi faktor yang meningkatkan kebutuhan oksigen (seperti ansietas, aktivitas berlebihan). 11. Ajarkan teknik relaksasi untuk mengurangi ansietas dan konsumsi oksigen. 12. Kolaborasi pemberian obat bronkodilator, mukolitik, atau lainnya sesuai program terapi. 13. Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda-tanda distress pernapasan yang perlu dilaporkan. 14. Anjurkan intake cairan yang adekuat (kecuali kontraindikasi) untuk mengencerkan sekret. 15. Bantu dalam aktivitas untuk menghemat energi dan mencegah kelelahan.
-
Article No. 23944 | 05 Feb 2026
Klinis : Pola Napas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pola Napas tidak efektif
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pola napas tidak efektif adalah keadaan di mana individu mengalami perubahan frekuensi, pola, atau kedalaman pernapasan yang mengakibatkan ketidakadekuatan ventilasi. Kondisi ini ditandai dengan sesak napas (dispnea), penggunaan otot bantu pernapasan, bunyi napas abnormal, perubahan frekuensi napas (takipnea atau bradipnea), sianosis, gelisah, dan penurunan saturasi oksigen. Penyebabnya dapat berasal dari obstruksi jalan napas, gangguan neuromuskular, nyeri dada, kecemasan, penumpukan sekret, atau penyakit paru/ jantung. Diagnosa ini berfokus pada ketidakefektifan pola bernapas itu sendiri, berbeda dengan diagnosa terkait pertukaran gas yang lebih spesifik pada tingkat alveoli.
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : SLKI 3201: Perbaikan Pola Napas. Tujuan luaran keperawatan ini adalah agar pola napas pasien menjadi efektif. Indikator pencapaiannya meliputi: 1) Frekuensi napas dalam rentang normal sesuai usia, 2) Irama napas teratur, 3) Tidak ada dispnea atau ortopnea, 4) Tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan (seperti retraksi interkostal atau penggunaan otot leher), 5) Bunyi napas bersih di seluruh lapang paru, 6) Ekspansi dada simetris, 7) Saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal, 8) Warna kulit dan membran mukosa normal (tidak sianosis), 9) Pasien tampak tenang dan tidak gelisah, serta 10) Pasien mampu melakukan aktivitas tanpa sesak napas yang berarti. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil mengembalikan mekanika pernapasan ke kondisi optimal.
Kode SIKI: 4320
Deskripsi : SIKI 4320: Manajemen Pernapasan. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan untuk memfasilitasi dan mempertahankan pola napas yang efektif. Aktivitasnya meliputi: 1) Memonitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha pernapasan secara berkala. 2) Mengauskultasi bunyi napas untuk mendeteksi adanya abnormalitas seperti wheezing, ronki, atau penurunan bunyi napas. 3) Memposisikan pasien dengan posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi untuk memudahkan ekspansi paru, kecuali kontraindikasi. 4) Mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif. 5) Melakukan fisioterapi dada dan drainase postural jika diperlukan untuk mobilisasi sekret. 6) Melakukan suction jalan napas jika pasien tidak mampu membersihkan sekret sendiri. 7) Mempertahankan kebersihan dan patensi jalan napas. 8) Mengelola terapi oksigen sesuai program dan memonitor efektivitasnya. 9) Mengajarkan teknik penghematan energi untuk mengurangi beban kerja pernapasan selama aktivitas. 10) Memonitor status gas darah dan saturasi oksigen. 11) Memberikan edukasi tentang pencegahan faktor pencetus (seperti alergen atau infeksi). 12) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk pemberian bronkodilator, nebulizer, atau obat lain sesuai indikasi. 13) Menciptakan lingkungan yang tenang dan mengurangi kecemasan yang dapat memperburupola napas. 14) Memastikan hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan sekret. Intervensi ini bersifat komprehensif, menggabungkan aspek pemantauan, tindakan langsung, edukasi, dan kolaborasi untuk mengatasi penyebab dan gejala pola napas tidak efektif secara holistik.
-
Article No. 23945 | 05 Feb 2026
Klinis : Pola Napas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pola Napas tidak efektif
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pola napas tidak efektif adalah kondisi di mana individu mengalami perubahan frekuensi, pola, atau kedalaman pernapasan yang mengakibatkan ketidakadekuatan ventilasi. Hal ini ditandai dengan gejala seperti dispnea, takipnea, napas dangkal, penggunaan otot bantu pernapasan, sianosis, perubahan gas darah arteri, gelisah, dan penurunan saturasi oksigen. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk obstruksi jalan napas, gangguan neuromuskular, nyeri, ansietas, kelemahan otot pernapasan, atau penyakit paru seperti pneumonia, asma, atau PPOK. Dampaknya adalah penurunan pertukaran oksigen dan karbon dioksida, yang berpotensi menyebabkan hipoksia, kelelahan, dan kegagalan pernapasan jika tidak ditangani dengan tepat. Perawat berperan krusial dalam memantau status pernapasan, memberikan intervensi untuk mempertahankan jalan napas, meningkatkan ekspansi paru, dan memberikan edukasi serta dukungan untuk mengoptimalkan fungsi pernapasan.
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : SLKI 3201 adalah Status Pernapasan. Luaran yang diharapkan adalah perbaikan atau pemeliharaan status pernapasan yang adekuat. Kriteria luaran mencakup: 1) Frekuensi napas dalam rentang normal yang diharapkan sesuai usia dan kondisi; 2) Irama napas teratur; 3) Kedalaman napas adekuat (tidak dangkal); 4) Tidak ada dispnea atau sesak napas baik saat istirahat maupun aktivitas; 5) Tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan (seperti retraksi interkostal, penggunaan otot leher); 6) Bunyi napas bersih/jelas di seluruh lapang paru; 7) Saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal (biasanya >94% pada udara ruangan); 8) Warna kulit dan membran mukosa normal (tidak pucat atau sianosis); 9) Gas darah arteri dalam batas normal (PaO2, PaCO2, pH); 10) Pasien tampak tenang dan nyaman, tidak gelisah akibat sesak. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa pola napas telah menjadi efektif, ventilasi dan oksigenasi tubuh terpenuhi dengan baik, sehingga mencegah komplikasi hipoksia dan kelelahan pernapasan.
Kode SIKI: 4230
Deskripsi : SIKI 4230 adalah Manajemen Jalan Napas. Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan keperawatan untuk memastikan patensi dan kebersihan jalan napas, serta memfasilitasi pertukaran gas yang optimal. Tindakan spesifik meliputi: 1) Memantau status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas, saturasi oksigen) secara berkala dan berkelanjutan. 2) Melakukan auskultasi bunyi napas untuk mendeteksi adanya abnormalitas seperti wheezing, ronki, atau penurunan bunyi napas. 3) Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ekspansi paru (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi, posisi tripod jika diperlukan). 4) Melakukan fisioterapi dada dan latihan napas dalam serta batuk efektif untuk membersihkan sekret dan mencegah atelektasis. 5) Memberikan terapi oksigen sesuai program dan memantau keefektifannya. 6) Melakukan suction jalan napas (oral, nasal, atau endotrakeal) jika diperlukan untuk membersihkan sekret. 7) Mengajarkan dan mendorong penggunaan teknik pernapasan bibir mengerucut (pursed-lip breathing) dan pernapasan diafragma. 8) Memastikan hidrasi yang adekuat untuk mengencerkan sekret. 9) Mengelola nyeri yang dapat membatasi pernapasan dalam (misalnya, pemberian analgesik sebelum latihan napas atau mobilisasi). 10) Menggunakan alat bantu seperti spirometer insentif. 11) Berkolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk pemberian nebulizer, bronkodilator, atau obat mukolitik. 12) Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda gangguan pernapasan, teknik pernapasan, dan pentingnya menghindari faktor pemicu. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan aspek pemantauan, tindakan fisik, manajemen gejala, dan edukasi untuk mengatasi penyebab dan gejala pola napas tidak efektif secara komprehensif.
-
Article No. 23946 | 05 Feb 2026
Klinis : Pola Napas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pola napas tidak efektif adalah keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami perubahan frekuensi, pola, atau kedalaman pernapasan yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi tubuh dan/atau eliminasi karbon dioksida. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk gangguan pada sistem pernapasan (seperti pneumonia, asma, PPOK, efusi pleura), gangguan neuromuskular (misalnya cedera medula spinalis, miastenia gravis), nyeri (terutama nyeri dada atau abdomen), kecemasan, obesitas, atau kelemahan umum. Manifestasi klinis yang sering ditemukan antara lain dispnea (sesak napas), takipnea (pernapasan cepat), bradipnea (pernapasan lambat), pernapasan dangkal, penggunaan otot bantu pernapasan, sianosis, gelisah, penurunan saturasi oksigen (SpO2), dan perubahan pada bunyi napas (seperti wheezing, ronki, atau suara napas melemah). Diagnosa ini menekankan pada pola pernapasan yang tidak optimal untuk pertukaran gas, yang jika tidak ditangani dapat menyebabkan hipoksemia, hiperkapnia, kelelahan otot pernapasan, dan kegagalan pernapasan.
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : SLKI 3201 dengan judul "Pernapasan Efektif" bertujuan agar pasien dapat mempertahankan atau mencapai pola pernapasan yang efektif untuk memenuhi kebutuhan oksigenasi tubuh. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal sesuai usia dan kondisi, 2) Irama pernapasan teratur, 3) Kedalaman pernapasan adekuat (tidak dangkal maupun terlalu dalam), 4) Tidak ada dispnea atau sesak napas baik saat istirahat maupun aktivitas, 5) Tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan (seperti retraksi interkostal, penggunaan otot leher), 6) Bunyi napas bersih/jelas di seluruh lapang paru, 7) Saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal (biasanya >94% pada udara ruangan), 8) Warna kulit dan membran mukosa normal (tidak sianosis), 9) Gas darah arteri (jika diukur) dalam batas normal (PaO2 dan PaCO2 normal), serta 10) Pasien melaporkan nyaman dalam bernapas. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil mengatasi atau mencegah komplikasi dari pola napas yang tidak efektif.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : SIKI 4201 dengan judul "Manajemen Pernapasan" mencakup serangkaian intervensi keperawatan yang terencana dan ilmiah untuk mengoptimalkan fungsi pernapasan. Intervensi ini meliputi: 1) Memonitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha pernapasan secara berkala, serta memantau saturasi oksigen dengan pulse oximeter. 2) Mengauskultasi bunyi napas untuk mendeteksi adanya abnormalitas seperti wheezing, ronki, atau penurunan bunyi napas. 3) Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ekspansi dada, seperti posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi, terutama pada pasien dengan dispnea. 4) Mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif untuk membersihkan jalan napas dan meningkatkan ventilasi. 5) Melakukan fisioterapi dada (seperti perkusi, vibrasi, dan drainase postural) jika diindikasikan untuk membantu mobilisasi sekret. 6) Memberikan terapi oksigen sesuai program dokter dan memantau efektivitasnya. 7) Mempertahankan kebersihan dan patensi jalan napas, termasuk melakukan suction jika diperlukan. 8) Mengajarkan teknik penghematan energi untuk mengurangi beban kerja pernapasan selama aktivitas. 9) Mengelola nyeri yang dapat membatasi pergerakan diafragma dan ekspansi dada (misalnya nyeri pada post-operasi abdomen atau thoraks) dengan pemberian analgesik sesuai program dan teknik non-farmakologis. 10) Memonitor status hidrasi untuk mengencerkan sekret sehingga mudah dikeluarkan. 11) Memberikan edukasi kesehatan tentang pencegahan infeksi pernapasan, penghindaran faktor pencetus (seperti alergen, asap rokok), dan pentingnya pengobatan yang teratur. 12) Berkolaborasi dengan tim kesehatan lain (dokter, fisioterapis, ahli gizi) untuk penanganan komprehensif, seperti pemberian bronkodilator, nebulizer, atau ventilasi mekanik jika diperlukan. Implementasi SIKI ini dilakukan secara individual, disesuaikan dengan penyebab dasar dan kondisi pasien, dengan tujuan akhir mencapai SLKI "Pernapasan Efektif".
-
Article No. 23947 | 05 Feb 2026
Klinis : Pola Napas tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pengalaman subjektif dan/atau objektif dari ketidaknyamanan pernapasan yang tidak adekuat.
Kode SLKI: 0400
Deskripsi : Perbaikan Pola Napas. Kriteria hasil: 1. Pola napas efektif. 2. Irama napas reguler. 3. Frekuensi napas dalam rentang normal sesuai usia. 4. Kedalaman napas adekuat. 5. Penggunaan otot bantu napas tidak ada. 6. Bunyi napas bersih. 7. Tidak ada sianosis. 8. Saturasi oksigen dalam rentang normal. 9. Gas darah arteri dalam rentang normal. 10. Pasien melaporkan tidak sesak.
Kode SIKI: 3310
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Tindakan keperawatan: 1. Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas). 2. Auskultasi bunyi napas, catat adanya bunyi tambahan. 3. Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, kepala tempat tidur ditinggikan, posisi Fowler). 4. Bantu latihan napas dalam dan batuk efektif. 5. Lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan. 6. Lakukan suction jalan napas sesuai kebutuhan. 7. Kelola pemberian oksigen sesuai program terapi. 8. Monitor saturasi oksigen (SpO2) dan analisa gas darah. 9. Ajarkan penggunaan alat bantu napas (incentive spirometry) jika diperlukan. 10. Kolaborasi pemberian bronkodilator, mukolitik, atau obat pernapasan lainnya sesuai resep. 11. Monitor respons pasien terhadap terapi. 12. Ajarkan teknik menghemat energi. 13. Ciptakan lingkungan yang nyaman dan tenang. 14. Berikan dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan yang memperberat sesak.
-
Article No. 23948 | 05 Feb 2026
Klinis : DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF 1. Pasien mengeluh sesak napas yang dirasakan terutama saat berjalan atau melakukan aktivitas ringan. 2. Pasien juga mengeluh batuk berdahak disertai pilek. 3. Pasien merasakan mual, 4. Pasien mengeluh nyeri dada P: Nyeri muncul saat menarik napas Q: Nyeri seperti tertusuk R: Nyeri didada S: skala nyeri 6 menurut pasien T: hilang timbul saat bernapas 5. Riwayat penyakit asma, riwayat obat inhaler ventolin 1. Tampak terpasang O2 Nasal kanul 3 LPM 2. Bibir tampak kering 3. Penggunaan otot bantu nafas leher 4. Akral teraba hangat 5. Terdengar bunyi napas ronki dan wheezing 6. Tidak mampu mengeluarkan sekret 7. TTV • TD : 120/57 mmHg • N : 75x/menit • P : 24x/menit • S : 36.80C • SpO2 : 95%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pasien akan menunjukkan perilaku untuk mencapai dan mempertahankan jalan napas yang paten. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Bunyi napas vesikuler/normal terdengar di semua lapang paru, 2) Tidak ada suara napas tambahan (ronki, wheezing), 3) Laju napas dalam rentang normal sesuai usia, 4) Irama napas teratur, 5) Ekspansi dada simetris, 6) Tidak menggunakan otot bantu napas, 7) Mampu batuk efektif dan mengeluarkan sekret, 8) Nilai gas darah arteri dalam rentang normal, dan 9) Warna kulit dan membran mukosa normal (tidak sianosis).
Kode SIKI: I.08006
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Mempertahankan kepala tempat tidur elevasi 30-45 derajat (kecuali kontraindikasi), 2) Memonitor status pernapasan (laju, irama, kedalaman, dan usaha napas) setiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan, 3) Auskultasi bunyi napas setiap 4-8 jam, 4) Memonitor produksi sputum (warna, konsistensi, jumlah), 5) Mempertahankan kelembaban udara yang adekuat, 6) Memberikan terapi oksigen sesuai program, 7) Melakukan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, vibrasi) jika diindikasikan, 8) Melakukan penghisapan lendir (suction) jika diperlukan, 9) Mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam dan batuk efektif, 10) Memberikan obat-obatan sesuai program (bronkodilator, mukolitik) dan memonitor efeknya, serta 11) Memastikan hidrasi adekuat dengan pemberian cairan per oral atau intravena sesuai toleransi dan program.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.10001
Deskripsi : Pasien akan menunjukkan kontrol nyeri yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Melaporkan penurunan intensitas nyeri (skala nyeri ≤3), 2) Menunjukkan perilaku nyeri yang menurun (tampak rileks, mampu istirahat/tidur), 3) Tanda vital dalam rentang normal pasien, 4) Menunjukkan pengetahuan tentang teknik non-farmakologi untuk mengatasi nyeri, dan 5) Mengungkapkan kepuasan terhadap manajemen nyeri yang diberikan.
Kode SIKI: I.11001
Deskripsi : Manajemen nyeri. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (PQRST: Provokasi, Kualitas, Region, Skala, Waktu), 2) Mengobservasi reaksi nonverbal ketidaknyamanan (ekspresi wajah, postur tubuh, gelisah), 3) Memonitor tanda vital sebelum dan sesudah intervensi nyeri, 4) Memberikan analgetik sesuai program dan memonitor efektivitas serta efek sampingnya, 5) Mengajarkan dan mendorong teknik non-farmakologi (napas dalam, distraksi, relaksasi, posisi yang nyaman), 6) Mengatur posisi pasien untuk kenyamanan maksimal, 7) Memberikan lingkungan yang tenang dan nyaman untuk meningkatkan istirahat, 8) Memberikan informasi tentang penyebab nyeri dan durasi yang diharapkan, serta 9) Mengevaluasi respons pasien terhadap intervensi yang diberikan dan menyesuaikan rencana jika diperlukan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Pasien akan menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Melaporkan penurunan keluhan sesak napas dan kelelahan saat beraktivitas, 2) Mampu melakukan aktivitas perawatan diri dengan bantuan minimal, 3) Tanda vital (nadi, pernapasan, tekanan darah) dalam batas normal selama dan setelah aktivitas, 4) Tidak mengalami dispnea, sianosis, atau pusing selama beraktivitas, dan 5) Keseimbangan antara aktivitas dan istirahat tercapai.
Kode SIKI: I.07001
Deskripsi : Manajemen energi. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Memonitor respons pasien terhadap aktivitas (tanda vital, saturasi oksigen, keluhan sesak/lelah), 2) Mengajarkan teknik penghematan energi (duduk saat melakukan aktivitas, istirahat teratur, mengatur prioritas aktivitas), 3) Membantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan, 4) Menjadwalkan periode istirahat yang cukup di antara aktivitas, 5) Meningkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi, 6) Memastikan oksigenasi yang adekuat selama aktivitas, 7) Memberikan pendidikan tentang pentingnya keseimbangan aktivitas dan istirahat, serta 8) Berkolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk program rehabilitasi jika diperlukan.
Kondisi: Risiko Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: D.0002
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan volume cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraseluler.
Kode SLKI: L.03002
Deskripsi : Pasien akan mempertahankan keseimbangan cairan. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Tanda vital stabil (terutama tekanan darah dan nadi), 2) Turgor kulit elastis, membran mukosa lembab, 3) Balance cairan intake dan output seimbang, 4) Berat badan stabil, 5) Tidak ada tanda dehidrasi (bibir kering, mata cekung), dan 6) Nilai laboratorium (seperti elektrolit dan hematokrit) dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.06007
Deskripsi : Manajemen cairan. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Memonitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, produksi urin, fontanel pada bayi), 2) Memonitor intake dan output cairan setiap 8-24 jam, 3) Memonitor tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu) setiap 4-8 jam, 4) Memonitor berat badan harian dengan kondisi yang sama, 5) Menganjurkan dan memfasilitasi peningkatan asupan cairan per oral sesuai toleransi dan kebutuhan, 6) Memberikan cairan intravena sesuai program, 7) Memonitor hasil laboratorium (elektrolit, ureum, kreatinin, hematokrit), 8) Memberikan perawatan mulut untuk menjaga kelembaban membran mukosa, serta 9) Mengidentifikasi faktor penyebab risiko defisit cairan (misalnya, demam, takipnea, mual) dan mengatasinya.
-
Article No. 23949 | 05 Feb 2026
Klinis : DATA SUBJEKTIF DATA OBJEKTIF 1. Pasien mengeluh sesak napas yang dirasakan terutama saat berjalan atau melakukan aktivitas ringan. 2. Pasien juga mengeluh batuk berdahak disertai pilek. 3. Pasien merasakan mual, 4. Pasien mengeluh nyeri dada P: Nyeri muncul saat menarik napas Q: Nyeri seperti tertusuk R: Nyeri didada S: skala nyeri 6 menurut pasien T: hilang timbul saat bernapas 5. Riwayat penyakit asma, riwayat obat inhaler ventolin 1. Tampak terpasang O2 Nasal kanul 3 LPM 2. Bibir tampak kering 3. Penggunaan otot bantu nafas leher 4. Akral teraba hangat 5. Terdengar bunyi napas ronki dan wheezing 6. Tidak mampu mengeluarkan sekret 7. TTV • TD : 120/57 mmHg • N : 75x/menit • P : 24x/menit • S : 36.80C • SpO2 : 95%
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Asma dengan Eksaserbasi Akut, disertai kemungkinan Infeksi Saluran Pernapasan Atas
Kode ICD-10: J45.901
Deskripsi Singkat : Kode J45.901 mengindikasikan Asma, tipe yang tidak spesifik, dengan status asmatikus (eksaserbasi akut). Deskripsi klinis pasien sangat sesuai: riwayat asma dan penggunaan inhaler, keluhan sesak napas yang memberat dengan aktivitas (dispneu d'effort), ditemukannya wheezing dan penggunaan otot bantu napas, serta kebutuhan oksigen nasal. Gejala batuk berdahak dan pilek menunjukkan pemicu infeksi virus saluran pernapasan atas yang umum menyebabkan eksaserbasi asma. Nyeri dada yang bersifat pleuritik (tajam, hilang timbul saat bernapas) dapat terkait dengan usaha napas yang berat atau komplikasi ringan. Ronki yang terdengar mengindikasikan adanya sekret atau kongesti di saluran napas. Kombinasi temuan subjektif dan objektif ini menggambarkan suatu dekompensasi atau perburukan akut dari kondisi asma kronis yang mendasarinya, memerlukan penanganan medis untuk mengatasi bronkospasme dan inflamasi.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***