Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 14190 | 15 Mar 2025
Klinis : Pengkajian keperawatan dilakukan pada tanggal 06 Desember 2021 An. N berusia 4 tahun dengan nomor rekam medik 443xxxx berjenis kelamin Laki -laki, beragama islam, dan belum sekolah yang merupakan anak sulung dari dua bersaudara pasangan Ny. T berusia 29 tahun Pendidikan terakhir S1, pekerjaan sebagai ibu rumah tangga dan Tn. F 29 tahun pendidikan terakhir S1 dan bekerja sebagai pegawai swasta. Klien tinggal Bersama orangtua. Klien masuk melalui IGD (Instalasi Gawat Darurat) rujukan dari RS UI Depok pada 28 Agustus 2021 dengan diagnose medis IBD. Riwayat penyakit sekarang, klien mengalami Bab hitam 2 hari sebelum masuk rumah sakit dan diare dengan frekuensi 6 kali dalam satu hari. Klien sudah pernah dilakukan operasi laparatomi dan ileostomy pada tanggal 21 September 2021, kemudian dilakukan operasi relaparatomi ec perforasi IBD pada tanggal 27 September 2021, dan pada tanggal 01 Oktober 2021 telah dilakukan operasi yang ketiga Leakage tube ielostomi pasca reseksi ileum dan ileostomy double barrel. Pada saat pengkajian tampak perut datar, supel, bising usus positif, hepar sulit dinilai karena ada ileostomy, spleen tidak teraba, tampak klien terpasang ileostomy pada abdomen kuadran kanan dan fistula pada abdomen kuadran kiri, saat di inspeksi terdapat tanda-tanda infeksi adanya dolor (nyeri), tumor (bengkak), rubor (kemerahan) dibawah ileostomy serta adanya pus pada area post operasi Laparatomi, dilakukan pengkajian nyeri dengan metode Wong Baker Face Scales, didapatkan data klien memilih angka 6 dan dapat dibuktikan dengan klien tampak meringis sampai dengan menangis, klien tampak tidak nyaman saat perut disentuh dan upaya mengurangi rasa nyeri klien dengan cara menonton youtube dan dengan posisi telentang. Saat ini klien mendapatkan terapi obat Heparin 50 unit dalam 50 ml Nacl 0,9% = 1 ml/jam, Ka en 3b 83 ml (sampai dengan pukul 10.30 wib), Octreotide 100 mcg dalam 14 cc WFI = 0,5 ml/jam, Doripenem 70 mg/18 jam via intravena (IV), Paracetamol 100 mg/16 jam IV, Loperamid 0,3 mg/12 jam. Klien terpasang selang Nasogastrik pada lubang hidung sebelah kanan sehingga mendapatkan diit susu formula Neocate 8x40 ml dan pemberian nutrisi secara parenteral atau TPN 901 ml/24 jam = 37,5 ml/jam melalui CVC. Keadaan umum klien sakit sedang, kesadaran compos mentis, Tekanan Darah 92/56 mmhg, Nadi 108x/m, Pernapasan 26x/m, Suhu 36,8 C. Berat badan klien saat ini 7,1 kg dengan Panjang badan 78 cm. BBI klien dengan menggunakan pengukuran Z-score yaitu <-3 SD dimana masuk kedalam kategori sangat kurus, Sesuai dengan kebutuhan manusia, pada kebutuhan aman dan nyaman klien An. N dilakukan pengkajian dengan metode Wong Baker Face Scales didapatkan data klien menunjuk angka 6 dan dapat dibuktikan dengan klien tampak meringis sampai dengan menangis terutama ketika area luka disentuh dan saat sedang membersihkan stoma bag, Pada kebutuhan Nutrisi tampak klien mengalami penurunan berat badan, klien terpasang NGT, klien dipuasakan dan mendapat diit susu formula neocate 8x40ml dan pemberian nutrisi melalui vena sentral via CVC. Pada kebutuhan eliminasi klien BAB melalui lubang ileostomy dengan produksi feses cair dan berwarna kuning, frekuensi memakai popok dan BAK sering dan tidak terukur, dengan karakteristik berwarna kuning jernih, bau khas dan tidak ada masalah yang menyertai. Pada proses pertumbuhan dan perkembangan klien An. N saat ini kondisi klien tampak lemah, klien tampak kurus, tampak perawakan klien kecil, saat ini klien hanya mampu mengucapkan beberapa suku kata, dan tidak bisa berjalan dikarenakan lemas, kontak mata klien baik, tampak sosialisasi klien kurang dikarenakan enggan berbicara dan bermain dengan teman disamping tempat tidur, klien hanya diam malu/takut ketika diajak bicara dengan perawat. Pada pemeriksaan penunjang didapatkan hasil pemeriksaan laboratorium darah pada 04 Desember 2021 dengan hasil Leukosit ↑ 17,65 10^3μL (N: 5.00 –15.00), Neutrofil ↑ 91,8 % (N: 40,0 –80,0), Limfosit ↓ 12.0 % (N: 20 –40), Neutrophil count ↑ 16,20 10^3μL (N: 1,70 –7,50), CRP–quantitative ↑ 141,6 mg/L (N: <5,0), Prokalsitonin ↑ 0,70 ng/mL (N: < 0,05), RDW-CV ↑ 17,1 (N: 11,6 –14,0). Pemeriksaan elektrolit pada 03 Desember 2021 didapatkan hasil Natrium (Na) darah ↓ 132 mEq/L (138-145 mEq/L), Kalium (K) darah ↓ 3,1 mEq/L (3,4 –4,7 mEq/L), Klorida (Cl) darah ↓ 88,4 mEq/L (98,0 –107,0 mEq/L) Fosfat inorganik (P)darah ↓ 3,5 mg/dL (4,0 –7,0 mg/dl), Kalsium (Ca) darah ↓7,7 mg/dL (8,8 –10,8 mg/dL). Pada pemeriksaan fisik yang dilakukan pada tanggal 06 Desember 2021 klien tampak sakit sedang, tampak perut datar, supel, bising usus positif, hepar sulit dinilai karena ada ileostomy, spleen tidak teraba, tampak klien terpasang ileostomy pada abdomen kuadran kanan dan fistula pada abdomen kuadran kiri, saat di inspeksi terdapat tanda-tanda infeksi adanya dolor (nyeri), tumor (bengkak), rubor (kemerahan) di bawah ileostomy serta adanya pus pada area post operasi Laparatomi, mata anemis, sklera anikerik, tidak ada edema palpebra, membrane mukosa klien tampak pucat, tampak suara paru vesikuler, saat diauskultasi tampak suara jantung S1-S2 normal, ekstremitas klien tampak akral hangat, CRT <2 detik, klien tampak lemah pada kedua kaki
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, dapat disusun Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI untuk kondisi klien An. N sebagai berikut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit Inflammatory Bowel Disease (IBD) dan prosedur pembedahan yang dialami klien, ditandai dengan klien menunjukkan skala nyeri 6 pada Wong Baker Face Scales, tampak meringis hingga menangis terutama saat area luka disentuh, dan menunjukkan perilaku mengurangi nyeri seperti menonton YouTube dan posisi tidur.
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan kehadiran ileostomi dan fistula pada abdomen, ditandai dengan adanya tanda-tanda infeksi seperti dolor (nyeri), tumor (bengkak), rubor (kemerahan) di bawah ileostomi serta adanya pus pada area pasca operasi.
3. Risiko infeksi berhubungan dengan prosedur pembedahan yang dilakukan dan adanya alat medis yang terpasang (ileostomi, fistula, NGT, CVC), ditandai dengan peningkatan nilai laboratorium seperti leukosit, neutrofil, CRP, dan prokalsitonin.
4. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan asupan oral yang kurang dan adanya malabsorpsi dari saluran cerna, ditandai dengan penurunan berat badan, klien terpasang NGT, dan mendapat terapi nutrisi parenteral melalui CVC.
5. Risiko gangguan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan penyakit kronis IBD dan kurangnya asupan nutrisi yang adekuat, ditandai dengan perawakan klien yang tampak kecil, kemampuan motorik yang terbatas, dan perkembangan bicara yang belum optimal.
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. Nyeri Akut
SDKI: Nyeri yang timbul secara tiba-tiba atau bermakna, dan berlangsung dalam jangka waktu tertentu, seperti nyeri akibat penyakit, cidera, atau prosedur diagnostik/terapeutik.
SLKI: Peningkatan sensasi tidak menyenangkan di area tubuh yang dapat diidentifikasi dan dilaporkan.
SIKI: Tindakan keperawatan untuk mengatasi nyeri dan mempertahankan fungsi tubuh dalam rentang normal.
2. Gangguan Integritas Kulit
SDKI: Kerusakan pada lapisan kulit dan lapisan di bawahnya.
SLKI: Perubahan pada struktur dan fungsi kulit.
SIKI: Tindakan keperawatan untuk mempertahankan dan memperbaiki integritas kulit.
3. Risiko Infeksi
SDKI: Peningkatan risiko invasi dan multiplikasi organisme patogen.
SLKI: Peningkatan kerentanan terhadap serangan organisme patogen.
SIKI: Tindakan keperawatan untuk mencegah dan mengendalikan infeksi.
4. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
SDKI: Asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
SLKI: Ketidakmampuan untuk mencerna atau menyerap nutrisi yang dibutuhkan.
SIKI: Tindakan keperawatan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi.
5. Risiko Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan
SDKI: Peningkatan risiko terjadinya hambatan pada proses pertumbuhan dan perkembangan.
SLKI: Penurunan kemampuan untuk mencapai tahapan pertumbuhan dan perkembangan yang normal.
SIKI: Tindakan keperawatan untuk mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan. -
Article No. 14191 | 15 Mar 2025
Klinis : Ibu hamil usia 18th, hamil anak ke-2. keguguran 1 kali Mengeluh pendarahan sejak z jam lalu. HPHT 1 November 24 hasil pemeriksaan tgl 10 maret 25. fundur uteri 3 jań diatas simpisic Nyeri hebat. rerviks terbuka, ada jaringan yang keluar. apakah diagnora pada kasus tsb. & apa alarannya. sertakan tata laksananya
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci untuk setiap poin yang Anda minta.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi tersebut:
1. Diagnosa Keperawatan: Risiko Perdarahan Antepartum
Alasan:
- Pasien mengeluh perdarahan sejak 2 jam lalu.
- Pemeriksaan fisik menunjukkan serviks terbuka dan ada jaringan yang keluar, yang mengindikasikan adanya risiko perdarahan antepartum.
- Usia kehamilan 18 minggu, yang berada pada usia kehamilan trimester kedua, dimana perdarahan antepartum dapat terjadi.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Outcome: Tidak Terjadi Perdarahan Antepartum
Kriteria Hasil:
- Tanda-tanda vital dalam batas normal
- Tidak ada perdarahan vagina
- Kontraksi uterus normal
- Serviks tertutup
- Fundus uteri sesuai usia kehamilan
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Intervensi Keperawatan:
a. Observasi Keadaan Umum
- Pantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, respirasi, suhu)
- Pantau perdarahan vagina
- Pantau kontraksi uterus
- Pantau kondisi serviks
b. Pemberian Tindakan Keperawatan
- Berikan posisi miring kiri untuk meningkatkan aliran darah ke janin
- Berikan oksigen bila diperlukan
- Siapkan infus dan berikan cairan sesuai kebutuhan
- Berikan obat-obatan untuk menghentikan perdarahan (jika diindikasikan)
- Lakukan perawatan serviks untuk mencegah infeksi
c. Kolaborasi dengan Tenaga Kesehatan Lain
- Berkoordinasi dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut dan penatalaksanaan medis
- Rujuk ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai bila diperlukan
Penjelasan rinci:
Diagnosa Keperawatan "Risiko Perdarahan Antepartum" dipilih karena pasien mengeluh perdarahan sejak 2 jam lalu dan pemeriksaan fisik menunjukkan adanya keterbukaan serviks dan keluarnya jaringan, yang mengindikasikan adanya risiko perdarahan antepartum. Perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi selama kehamilan sebelum persalinan, yang dapat disebabkan oleh beberapa kondisi seperti plasenta previa, solusio plasenta, atau ruptur uteri.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan adalah "Tidak Terjadi Perdarahan Antepartum". Kriteria hasil yang diharapkan adalah tanda-tanda vital dalam batas normal, tidak ada perdarahan vagina, kontraksi uterus normal, serviks tertutup, dan fundus uteri sesuai usia kehamilan. Hal ini menunjukkan bahwa perdarahan antepartum dapat dihentikan dan diatasi.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran meliputi observasi keadaan umum (pemantauan tanda-tanda vital, perdarahan, kontraksi uterus, dan kondisi serviks), pemberian tindakan keperawatan (posisi miring kiri, pemberian oksigen, infus, obat-obatan, dan perawatan serviks), serta kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain (dokter untuk pemeriksaan dan penatalaksanaan medis, serta rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih memadai jika diperlukan). Tujuan dari intervensi ini adalah untuk mencegah dan mengatasi perdarahan antepartum, serta memantau kondisi ibu dan janin secara ketat. -
Article No. 14192 | 15 Mar 2025
Klinis : Ny. K (55 tahun) dibawa ke RS karena keluhan sesak napas sejak 3 hari sebelum masuk RS. Batuk-batuk ada tapi tidak berdahak, Sesak dirasakan sudah 1 bulan yang lalu disertai bengkak, terutama di kaki dan perut. Pasien sudah pernah dirawat 1 bulan yang lalu di RS dengan keluhan yang sama. Saat itu pasien sudah disarankan untuk melakukan cuci darah tapi pasien menolak. 1 bulan berikutnya, pasien masuk kembali ke RS dengan keluhan sesak napas, dan kedua ekstremitas bengkak. Pasien masuk ke IGD TD pasien mencapai 205/110 mmHg dan mendapatkan drip perdipin 2 amp/titrasi. Hasil analisa gas darah di IGD menunjukkan asidosis metabolik pH; 7,242 pCO2: 27,5 pO2: 155,3 HCO3-: 11,6. Saat itu pasien diberikan koreksi biknat 200 meq. Di IGD pasien juga diberikan drip cedocard 1 mg/jam dan lasix 5 mg/jam. Pasien juga diberikan terapi oksigen nasal canul 5 lpm. Pasien dengan riwayat hipertensi sejak 1 tahun yang lalu, dan juga menderita DM sejak 5 tahun yang lalu. Saat dilakukan pengkajian pasien sudah berada diruangan rawat inap. Tingkat kesadaran pasien composmentis E4M6V5. Perawat mencoba melakukan anamnesa kepada pasien kenapa pasien menolak tindaka hemodialisis yang telah dianjurkan 1 bulan yang lalu. Pasien mengatakan menolak melakukan tindakan hemodialisis dikarenakan pasien tidak mau nasibnya sama seperti tetangga nya yang meninggal setelah menjalani hemodialisis. Namun, setelah diberikan penjelasan kepada pasien oleh tenaga kesehatan akhirnya pasien bersedia untuk dilakukan tindakan hemodialisis. Pasien akan direncanakan untuk tindakan hemodialisis besok hari. Pasien mengatakan nafsu makan sejak 1 bulan belakangan menurun. BB= TB IMT 20,1 kg/m2. Keluhan mual (+), muntah (-). Konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, membran mukosa bibir kering. Diet: diet RG 1500 kkal/kgBB/hari, protein 1 gr/hari. Saat ini semua kebutuhan dibantu perawat, pasien hanya bisa beraktivitas di tempat tidur dengan bantuan parsial dari perawat dan keluarga. Pasien masih tampak sulit untuk melakukan kegiatan. Pasien mengatakan sudah mencoba untuk beraktivitas namun setiap kali turun dari tempat tirud pasien mengeluh pusing dan sesak semakin berat. Pasien saat ini terpasang CDL di subclavia dextra, terpasang kateter dan edema pada ekstremitas atas dan bawah, pitting edema grade 2. Keluhan badan terasa lemas dan letih (+). Pasien terpasang folley kateter, produksi urine kuning jernih dengan jumlah 900ml/24 jam. Pasien terpasang lasix 5 mg/jam. BAB tidak masalah. Balance cairan/24 jam →intake cairan 500 ml, output cairan: 1500 ml, BC: -1000 ml. Pasien mengeluh sering terbangun akibat sesak yang masih yang masih dirasakannya. Pasien harus tidur dengan 2 bantal, pasien mengatakan tidur hanya ± 5 jam setiap malamnya. Personal hygiene pasien cukup baik, kulit kering. Pasien merupakan seorang istri dan seorang ibu. Pasien sehari-hari menjalani peranya sebagai ibu rumah tangga. Terkait peran di rumah tangga semenjak sakit 1 bulan terakhir terdapat perubahan yang dirasakan oleh pasien, pasien tidak dapat beraktivitas berat karena akan memicu timbulnya sesak napas. Pasien seorang ibu rumah tangga. Selama perawatan suami pasien yang bertanggung jawab terhadap segala kebutuhan pasien. Pasien mengatakan orang yang terdekat selama perawatan adalah suaminya. Suamninya dengan setia menunggui dan memberikan support untuk kesembuhan pasien. Hasil pemeriksaan fisik di ruangan di dapatkan TD 182/85 mmHg HR 84 x/menit, nadi teraba kuat dan reguler, suhu 36,80C, akral teraba hangat, CRT < 3 detik. Pemeriksaan fisik paru: RR 24x/menit, irama nafas irreguler dan teratur terpasang nasal canul 5 liter per menit. Hasil pemeriksaan laboratorium: Hb = 8,8 g/dl, Ht = 27%, leukosit= 9,7 ribu/ul, trombosit = 307ribu/ul, eritrosit = 3,22 juta/u, albumin = 2,5 mg/dl, natrium : 145 mmol/l, kalium 5,33 mmol/l, chlorida 118 mmol/l. Hasil pemeriksaan laboratorium pre HD: ureum : 152 mg/dl, kreatinin : 7 mg/dl. Hasil pemeriksaan laboratorium post HD: ureum: 101 mg/dl, kreatinin: 5 mg/dl. Hasil rontgen thoraks kardiomegali dengan edema paru + efusi bilateral.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan: Penurunan Curah Jantung
- SDKI: Penurunan kemampuan jantung untuk memompa darah yang adekuat ke seluruh tubuh untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- SLKI: Tindakan spesifik yang dilakukan perawat untuk mempertahankan atau meningkatkan kemampuan jantung dalam memompa darah yang adekuat ke seluruh tubuh.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mempertahankan atau meningkatkan kemampuan jantung dalam memompa darah yang adekuat ke seluruh tubuh.
2. Diagnosa Keperawatan: Kelebihan Volume Cairan
- SDKI: Ketidakmampuan tubuh untuk membuang kelebihan cairan.
- SLKI: Tindakan spesifik yang dilakukan perawat untuk memulihkan keseimbangan cairan tubuh.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk memulihkan keseimbangan cairan tubuh.
3. Diagnosa Keperawatan: Intoleransi Aktivitas
- SDKI: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau diperlukan akibat keterbatasan kapasitas fisik.
- SLKI: Tindakan spesifik yang dilakukan perawat untuk mempertahankan atau meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mempertahankan atau meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas.
4. Diagnosa Keperawatan: Gangguan Pola Tidur
- SDKI: Gangguan pada jumlah dan kualitas tidur yang mengganggu fungsi normal seseorang.
- SLKI: Tindakan spesifik yang dilakukan perawat untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas tidur pasien.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mempertahankan atau meningkatkan kualitas tidur pasien.
5. Diagnosa Keperawatan: Defisit Perawatan Diri
- SDKI: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas perawatan diri.
- SLKI: Tindakan spesifik yang dilakukan perawat untuk mempertahankan atau meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan perawatan diri.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mempertahankan atau meningkatkan kemampuan pasien dalam melakukan perawatan diri. -
Article No. 14193 | 15 Mar 2025
Klinis : sakit pinggang bagian belakang saat membungkukkan badan, air minum sudah cukup
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
Nyeri Punggung Bawah
Penjelasan:
1. SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia):
Nyeri Punggung Bawah adalah "Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan aktual atau potensial pada struktur punggung bawah".
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Kontrol Nyeri: Kemampuan individu untuk mengendalikan nyeri yang dialami.
- Mobilitas Fisik: Kemampuan individu untuk bergerak secara independen.
- Kualitas Hidup: Persepsi individu terhadap posisi mereka dalam kehidupan dalam konteks budaya dan sistem nilai di mana mereka hidup.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Manajemen Nyeri: Tindakan untuk mengurangi atau mengendalikan nyeri yang dialami individu.
- Terapi Modalitas: Penggunaan terapi komplementer dan alternatif untuk mengatasi masalah kesehatan.
- Peningkatan Mobilitas: Tindakan untuk memfasilitasi pergerakan individu secara mandiri.
Dalam kasus ini, pasien mengalami sakit pinggang bagian belakang saat membungkukkan badan, namun air minum sudah cukup. Diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Nyeri Punggung Bawah, dengan fokus intervensi pada Manajemen Nyeri, Terapi Modalitas, dan Peningkatan Mobilitas untuk membantu pasien mengelola nyeri dan meningkatkan mobilitas. -
Article No. 14194 | 15 Mar 2025
Klinis : sakit pinggang bagian belakang saat membungkukkan badan, air minum sudah cukup
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, yaitu sakit pinggang bagian belakang saat membungkukkan badan dengan air minum yang sudah cukup, berikut adalah Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI):
Diagnosa Keperawatan:
Nyeri akut (SDKI)
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti itu (International Association for the Study of Pain/IASP, 1994).
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Tingkat nyeri menurun
2. Melaporkan strategi koping yang efektif
3. Melakukan aktivitas sehari-hari tanpa hambatan
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Manajemen nyeri
2. Mobilisasi
3. Edukasi kesehatan
Tone: Akademis
Persona: Pakar, Perawat
Penjelasan: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, diagnosa keperawatan yang paling sesuai adalah "Nyeri akut" karena Anda mengalami rasa sakit pada bagian pinggang belakang saat membungkukkan badan. Standar diagnosis, luaran, dan intervensi keperawatan yang digunakan berasal dari PPNI, yang merupakan organisasi profesi perawat di Indonesia. Saya sebagai pakar perawat akan memberikan penjelasan singkat mengenai masing-masing komponen tersebut. -
Article No. 14195 | 15 Mar 2025
Klinis : sakit pinggang bagian belakang saat membungkukkan badan, air minum sudah cukup
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan gejala yang Anda deskripsikan, yaitu sakit pinggang bagian belakang saat membungkukkan badan, dengan air minum yang sudah cukup, maka diagnosa keperawatan yang dapat diterapkan adalah:
1. Nyeri Muskuloskeletal
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan muskuloskeletal, baik aktual maupun potensial.
- Faktor yang Berhubungan: Aktivitas fisik, postur tubuh yang buruk, immobilisasi.
Berdasarkan SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia, penjelasan singkatnya adalah sebagai berikut:
SDKI:
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berhubungan dengan kerusakan jaringan muskuloskeletal, baik aktual maupun potensial.
- Faktor yang Berhubungan: Aktivitas fisik, postur tubuh yang buruk, immobilisasi.
SLKI:
- Luaran yang Diharapkan: Klien melaporkan penurunan rasa nyeri, klien dapat beraktivitas sesuai kemampuan, klien menunjukkan perilaku mengatasi nyeri.
SIKI:
- Intervensi Keperawatan: Manajemen nyeri, terapi modalitas fisik, edukasi manajemen nyeri, dan kolaborasi terapi farmakologis.
Jadi, berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI, diagnosa keperawatan yang sesuai adalah Nyeri Muskuloskeletal, dengan intervensi keperawatan yang berfokus pada manajemen nyeri, terapi modalitas fisik, edukasi, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk mengatasi nyeri yang dialami. -
Article No. 14196 | 15 Mar 2025
Klinis : sering pusing secara tiba”, pusing tidak berulang
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Pusing Akut
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Pusing Akut didefinisikan sebagai sensasi subyektif pergerakan atau rotasi lingkungan atau diri sendiri yang berlangsung dalam waktu singkat. Pusing akut dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti penurunan tekanan darah, perubahan posisi tubuh, gangguan vestibular, atau kondisi medis lainnya.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari Pusing Akut antara lain:
1. Pasien dapat mengidentifikasi faktor penyebab pusing.
2. Pasien dapat melakukan manajemen pusing dengan efektif.
3. Pasien dapat mempertahankan keseimbangan dan koordinasi.
4. Pasien dapat beraktivitas sesuai kemampuan tanpa mengalami pusing.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk menangani Pusing Akut, antara lain:
1. Identifikasi penyebab pusing.
2. Atur posisi tubuh sesuai toleransi pasien.
3. Ajarkan teknik manajemen pusing (istirahat, hidrasi, dll).
4. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan medis.
5. Monitoring tanda-tanda vital dan gejala pusing.
Dalam menangani kondisi ini, perawat berperan penting dalam mengidentifikasi penyebab, memantau kondisi pasien, dan mengajarkan manajemen pusing yang efektif sehingga pasien dapat beraktivitas dengan aman. -
Article No. 14197 | 15 Mar 2025
Klinis : Seorang laki-laki dengan usia 53 tahun dengan diagnose medis Diabetes Melitus Tipe 2 selama 7 tahun. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah, TD: 160/110 mmHg, N: 84 x/menit, RR: 18x/menit, GDA high (>500) mg/dl. BB: 70 kg, TB: 170 cm. Pasien memiliki luka pada kaki. Pasien mengeluhkan gula darah yang tidak stabil walaupun sudah mengonsumsi OAD (Obat Anti Diabetes). Pada kasus tersebut, dokter merencanakan pemberian terapi insulin. Pertanyaan: Tentukan masalah keperawatan dan diagnosa keperawatan yang mungkin muncul. Prodi Sarjana Keperawatan Fakultas Keperawatan.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dalam kasus pasien laki-laki usia 53 tahun dengan diagnosis medis Diabetes Melitus Tipe 2 selama 7 tahun ini, berikut adalah beberapa masalah keperawatan dan diagnosa keperawatan yang mungkin muncul:
1. Resiko Ketidakstabilan Kadar Gula Darah
- Berhubungan dengan ketidakefektifan penggunaan obat anti diabetes
- Ditandai dengan gula darah yang tidak stabil meskipun sudah mengonsumsi OAD
2. Intoleransi Aktivitas
- Berhubungan dengan kelemahan fisik umum
- Ditandai dengan keadaan umum lemah
3. Risiko Komplikasi Diabetes (Luka Kaki)
- Berhubungan dengan neuropati diabetik dan perubahan sirkulasi
- Ditandai dengan adanya luka pada kaki
4. Hipertensi
- Berhubungan dengan komplikasi diabetes
- Ditandai dengan tekanan darah tinggi (160/110 mmHg)
Berdasarkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Resiko Ketidakstabilan Kadar Gula Darah
2. Intoleransi Aktivitas
3. Risiko Komplikasi Diabetes (Luka Kaki)
4. Hipertensi
Penjelasan singkat masing-masing diagnosa:
1. Resiko Ketidakstabilan Kadar Gula Darah: Keadaan di mana individu berisiko mengalami fluktuasi kadar gula darah di luar rentang normal, yang dapat menimbulkan komplikasi.
2. Intoleransi Aktivitas: Keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik yang diinginkan atau yang dibutuhkan, akibat kelelahan, kelemahan, atau kurangnya energi.
3. Risiko Komplikasi Diabetes (Luka Kaki): Keadaan di mana individu rentan mengalami komplikasi diabetes, seperti luka pada kaki, akibat perubahan neuropatik dan vaskuler.
4. Hipertensi: Keadaan di mana individu memiliki tekanan darah sistolik dan/atau diastolik yang melebihi batas normal, yang dapat memicu komplikasi kesehatan. -
Article No. 14198 | 15 Mar 2025
Klinis : Seorang laki-laki dengan usia 53 tahun dengan diagnose medis Diabetes Melitus Tipe 2 selama 7 tahun. Hasil pemeriksaan fisik didapatkan keadaan umum lemah, TD: 160/110 mmHg, N: 84 x/menit, RR: 18x/menit, GDA high (>500) mg/dl. BB: 70 kg, TB: 170 cm. Pasien memiliki luka pada kaki. Pasien mengeluhkan gula darah yang tidak stabil walaupun sudah mengonsumsi OAD (Obat Anti Diabetes). Pada kasus tersebut, dokter merencanakan pemberian terapi insulin. Pertanyaan: Tentukan masalah keperawatan dan diagnosa keperawatan yang mungkin muncul. Prodi Sarjana Keperawatan Fakultas Keperawatan.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis berdasarkan kasus yang diberikan, serta menentukan masalah keperawatan dan diagnosa keperawatan yang mungkin muncul.
1. Kode ICD-10:
- Kode: E11.9
- Deskripsi: Diabetes mellitus tipe 2 tanpa komplikasi
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.15
- Deskripsi: Pemberian insulin
Berdasarkan kasus tersebut, beberapa masalah keperawatan dan diagnosa keperawatan yang mungkin muncul adalah:
Masalah Keperawatan:
1. Ketidakstabilan kadar gula darah yang ditandai dengan gula darah puasa >500 mg/dL, meskipun pasien telah mengonsumsi obat antidiabetes.
2. Risiko terjadinya komplikasi diabetes mellitus, seperti hipertensi (TD 160/110 mmHg) dan luka pada kaki.
3. Kelemahan umum yang diindikasikan oleh keadaan umum lemah.
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakstabilan kadar gula darah berhubungan dengan tidak efektifnya pengobatan oral antidiabetes, ditandai dengan gula darah puasa >500 mg/dL.
2. Risiko komplikasi diabetes mellitus berhubungan dengan tidak terkontrolnya kadar gula darah, ditandai dengan hipertensi dan adanya luka pada kaki.
3. Kelemahan berhubungan dengan kondisi umum yang lemah.
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 E11.9 menggambarkan diagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 tanpa komplikasi yang diderita oleh pasien selama 7 tahun.
2. Kode ICD-9-CM 99.15 menunjukkan rencana pemberian terapi insulin oleh dokter untuk mengatasi ketidakstabilan kadar gula darah pasien.
3. Masalah keperawatan dan diagnosa keperawatan yang teridentifikasi berdasarkan data klinis yang diberikan, seperti ketidakstabilan kadar gula darah, risiko komplikasi diabetes, dan kelemahan umum. -
Article No. 14199 | 15 Mar 2025
Klinis : 78 % remaja merokok sampai saat ini; 15% sudah pernah mencoba menghirup lem aibon, 36,2% pernah minum alkohol. Hasil wawancara 20 remaja: 19.6 pernah terlibat perkelahian, 18,3 pernah mendapatkan perlakuan pelecehan sex dan 32,5% pernah mengalami perilaku kekerasan. Data Fokus A. Status Kesehatan Kebersihan: Anak jalanan memiliki status kebersihan tubuh yang terbilang kurang, dikarenakan hygiene dan tata cara yang mereka lakukan tidak sesuai standar kebersihan pada umumnya Kebersihan makanan yang mereka makan juga masih tergolong rendah, mereka tidak mengetahui tata cara mencuci tangan yang benar sebelum makan Masalah Kesehatan: Masalah kesehatan yang sering timbul pada kelompok anak jalanan biasanya adalah masalah pada kulit, dikarenakan kondisi hygiene dan kondisi lingkungan yang tidak mendukung Masalah selanjutnya ada pada sistem pencernaan, dikarenakan kondisi hygiene yang kurang, biasanya makanan yang dimakan juga akan bermasalah dan menyebabkan penyakit saluran pencernaan seperti diare Perilaku Kesehatan: 78% remaja merokok 15% sudah pernah mencoba menghirup lem aibon 36,2% pernah meminum alkohol 18,3% sudah pernah mendapatkan pelecehan seksual 32,5% pernah mengalami perilaku kekerasan B. Lingkungan Fisik: Tinggal di rumah singgah dengan alasan rumah sempit Terkadang tidak mempunyai tempat tinggal dan harus bersinggah di tempat umum Sosial: Anak jalanan biasa hidup bersosial dalam berkelompok, jumlah nya tidak menentu tergantung pada kelompok tersebut Cara bersosialisasi mereka masih dekat dan sering berbagi alat pribadi bersama, dimana hal tersebut dapat meningkatkan persentase penularan penyakit C. Perilaku Pola Makan: Kebersihan makanan kurang diawasi, hygiene sebelum makan kurang diperhatikan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS): Kondisi hygiene tubuh kurang diperhatikan, dan rentan terkena masalah kulit. D. Sumber Daya Anak jalanan tidak mempunyai sumber fasilitas kesehatan yang diandalkan, hal ini mengacu antara kurangnya diperhatikan, ataupun kesulitan akses untuk mendapatkan layanan kesehatan E. Potensi Risiko Risiko penyakit menular yang tinggi akibat kondisi lingkungan serta keselamatan yang tidak terjamin
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data yang Anda berikan, berikut adalah diagnosa keperawatan, penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI, serta rencana keperawatan yang dapat diterapkan:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Perilaku Kesehatan Remaja Terkait Paparan Zat Adiktif (Merokok, Menghirup Lem, Minum Alkohol)
2. Risiko Tinggi Kekerasan dan Pelecehan Seksual Pada Remaja Anak Jalanan
3. Risiko Infeksi Terkait Kondisi Higiene dan Sanitasi Lingkungan yang Buruk
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
1. Ketidakefektifan Perilaku Kesehatan Remaja Terkait Paparan Zat Adiktif:
- Definisi: Pola perilaku kesehatan individu yang tidak sesuai dengan rekomendasi profesional kesehatan terkait penggunaan zat adiktif.
- Karakteristik: Mengonsumsi rokok, menghirup lem, dan minum alkohol.
2. Risiko Tinggi Kekerasan dan Pelecehan Seksual Pada Remaja Anak Jalanan:
- Definisi: Keadaan yang rentan terhadap tindakan yang dapat menyebabkan cedera fisik, psikologis, seksual, atau kematian.
- Karakteristik: Terlibat dalam perkelahian, pernah mendapatkan perlakuan pelecehan seksual, dan mengalami perilaku kekerasan.
3. Risiko Infeksi Terkait Kondisi Higiene dan Sanitasi Lingkungan yang Buruk:
- Definisi: Keadaan yang rentan terhadap masuknya agen infeksi ke dalam tubuh dari lingkungan yang buruk.
- Karakteristik: Kebersihan tubuh yang kurang, kebersihan makanan yang rendah, dan kondisi lingkungan yang tidak mendukung.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Perilaku Sehat: Tingkat kemampuan individu untuk melakukan aktivitas yang mendukung kesehatan.
2. Integritas Kulit: Tingkat keutuhan dan kesehatan kulit.
3. Kontrol Infeksi: Tingkat kemampuan individu untuk mencegah atau mengendalikan infeksi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Edukasi Pencegahan Risiko Perilaku Tidak Sehat
2. Peningkatan Kebersihan Diri
3. Manajemen Lingkungan
4. Pencegahan Penularan Infeksi
Rencana Keperawatan:
1. Edukasi tentang bahaya dan dampak buruk penggunaan zat adiktif (merokok, menghirup lem, minum alkohol) serta promosi gaya hidup sehat.
2. Peningkatan keterampilan personal hygiene dan sanitasi lingkungan yang baik.
3. Identifikasi risiko dan faktor penyebab kekerasan serta pelecehan seksual, serta intervensi pencegahan.
4. Kolaborasi dengan pihak terkait (petugas kesehatan, sosial, penegak hukum) untuk memfasilitasi akses layanan kesehatan, perlindungan, dan pemberdayaan remaja anak jalanan.