Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 14253 | 16 Mar 2025
Klinis : kesadaran composmentis, hemodinamik TD: 118/72 mmHg, HR: 61 x/menit, RR: 21 x/menit, Spo2: 98% dengan menggunakan binasal 3 lpm, Terpasang IV line di Vena metacarpal Sinistra No. 20 (16-03-25) dengan cairan infuse Nacl 0,9% 1000 ml/24 jam, drip heparine 12.000ui/24 jam, terpasang DC no. 16 (16-03-25) dengan produksi urine ada, Post PPCI terpasang 1 stent DES ke LAD hasil (+), niciban di radial dextra, Skala nyeri 0
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan rincian yang diminta.
Diagnosa Keperawatan SDKI yang Sesuai:
1. Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiak
- Definisi: Pengurangan aliran darah ke otot jantung yang dapat membahayakan kesehatan.
- Penyebab: Penyakit jantung koroner, prosedur invasif, pengurangan suplai oksigen.
- Tanda dan Gejala: Nyeri dada, perubahan EKG, penurunan curah jantung, perubahan tanda-tanda vital.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Pemulihan Perfusi Jaringan Kardiak
- Definisi: Mempertahankan aliran darah yang adekuat ke otot jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen.
- Indikator:
- Tanda-tanda vital stabil
- Tidak ada tanda-tanda kekurangan oksigen
- Tidak ada nyeri dada
- Fungsi jantung membaik
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Pemantauan Kardiovaskular
- Definisi: Pengumpulan dan analisis data terkait fungsi jantung dan sirkulasi.
- Kegiatan:
- Ukur dan pantau tanda-tanda vital secara teratur
- Pantau EKG dan respon terhadap pengobatan
- Identifikasi tanda-tanda kekurangan oksigen
2. Manajemen Perifer
- Definisi: Pengaturan aliran darah perifer untuk memfasilitasi pemulihan perfusi.
- Kegiatan:
- Jaga kenyamanan dan posisi ekstremitas
- Pantau tanda-tanda sirkulasi perifer
- Lakukan perawatan IV line dan DC
3. Pemberian Terapi Oksigen
- Definisi: Pemberian oksigen untuk mempertahankan saturasi oksigen yang adekuat.
- Kegiatan:
- Berikan oksigen melalui kanul nasal sesuai kebutuhan
- Pantau saturasi oksigen
4. Manajemen Nyeri
- Definisi: Pengkajian dan pengelolaan nyeri untuk memfasilitasi pemulihan.
- Kegiatan:
- Kaji nyeri secara komprehensif
- Berikan intervensi farmakologis dan non-farmakologis untuk mengelola nyeri
Penjelasan Rinci:
Berdasarkan kondisi pasien yang disajikan, dengan kesadaran compos mentis, hemodinamik yang stabil, serta riwayat post-PPCI dengan pemasangan stent di LAD, diagnosa keperawatan yang paling sesuai adalah Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Kardiak. Hal ini dikarenakan pasien berisiko mengalami penurunan aliran darah ke otot jantung yang dapat membahayakan kesehatan.
Luaran yang diharapkan adalah Pemulihan Perfusi Jaringan Kardiak, di mana pasien dapat mempertahankan aliran darah yang adekuat ke otot jantung untuk memenuhi kebutuhan oksigen. Indikator keberhasilan antara lain tanda-tanda vital yang stabil, tidak ada tanda-tanda kekurangan oksigen, tidak ada nyeri dada, dan fungsi jantung yang membaik.
Intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran tersebut meliputi Pemantauan Kardiovaskular (untuk mengumpulkan dan menganalisis data terkait fungsi jantung dan sirkulasi), Manajemen Perifer (untuk mengatur aliran darah perifer dan memfasilitasi pemulihan perfusi), Pemberian Terapi Oksigen (untuk mempertahankan saturasi oksigen yang adekuat), dan Manajemen Nyeri (untuk mengkaji dan mengelola nyeri yang mungkin timbul).
Dengan intervensi keperawatan yang komprehensif dan berfokus pada pemulihan perfusi jaringan kardiak, diharapkan pasien dapat memulihkan fungsi jantungnya secara optimal dan mencapai luaran yang diharapkan. -
Article No. 14254 | 16 Mar 2025
Klinis : Seorang bayi perempuan usia 1 hari lahir melalui persalinan spontan di Rumah Sakit X Kota Pontianak dengan berat badan 2900 gram dan panjang badan 48 cm (usia gestasi 39 minggu). Saat pemeriksaan awal oleh dokter, ditemukan adanya benjolan berisi cairan di bagian punggung bawah (lumbo-sakral). Orang tua bayi tidak mengetahui adanya kelainan ini selama kehamilan karena tidak pernah melakukan USG secara rutin. Ibu bayi yaitu Ny. S berusia 22 tahun mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit genetik dalam keluarga, dan jarang mengonsumsi asam folat selama kehamilan. Perawat melakukan pemeriksaan fisik pada vital sign bayi dengan T 36,7°C, HR 140 kali per menit, RR 45 kali per menit, SpO2 98%. Bayi tampak aktif, respons alert, reflek primitif normal, terdapat benjolan berisi cairan diarea lumbosacral dengan kulit tipis dan transparan, kaki tampak lemah, reflek plantar menurun, anus paten, namun tidak ada refleks anal yang jelas, dan tidak ada kelainan kraniofasial. Dari hasil pemeriksaan tersebut, Dokter Spesialis Anak menganjurkan untuk dilakukan pemeriksaan radiologi tulang belakang dan MRI tulang belakang. Hasil pemeriksaan tersebut ditegakkan diagnosis Spina Bifida Occulta.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis untuk kondisi bayi perempuan usia 1 hari dengan spina bifida okult dapat diberikan kode sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: Q76.0
- Deskripsi: Spina bifida okult
Tidak ada kode ICD-9-CM Procedure yang spesifik untuk kasus ini, karena pemeriksaan radiologi tulang belakang dan MRI tulang belakang yang dianjurkan oleh dokter spesialis anak belum dilakukan. Setelah pemeriksaan lanjutan tersebut, dapat ditentukan tindakan medis yang sesuai dan dicatat kode ICD-9-CM Procedure-nya.
Penjelasan detail:
- Kode ICD-10 Q76.0 (Spina bifida okult) sesuai dengan deskripsi kondisi bayi yang memiliki benjolan berisi cairan di bagian punggung bawah (lumbo-sakral) tanpa adanya kelainan kraniofasial lainnya.
- Pemeriksaan radiologi tulang belakang dan MRI tulang belakang yang dianjurkan oleh dokter spesialis anak bertujuan untuk mengkonfirmasi diagnosis dan menentukan tindakan medis yang tepat untuk mengelola kondisi spina bifida okult pada bayi.
- Tidak ada riwayat penyakit genetik dalam keluarga dan jarangnya konsumsi asam folat selama kehamilan dapat menjadi faktor risiko terjadinya spina bifida okult pada bayi.
- Vital sign bayi yang stabil dan reflek primitif yang normal menunjukkan bahwa kondisi bayi saat ini masih stabil, namun perlu pemantauan lebih lanjut. -
Article No. 14255 | 16 Mar 2025
Klinis : Seorang bayi perempuan usia 1 hari lahir melalui persalinan spontan di Rumah Sakit X Kota Pontianak dengan berat badan 2900 gram dan panjang badan 48 cm (usia gestasi 39 minggu). Saat pemeriksaan awal oleh dokter, ditemukan adanya benjolan berisi cairan di bagian punggung bawah (lumbo-sakral). Orang tua bayi tidak mengetahui adanya kelainan ini selama kehamilan karena tidak pernah melakukan USG secara rutin. Ibu bayi yaitu Ny. S berusia 22 tahun mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit genetik dalam keluarga, dan jarang mengonsumsi asam folat selama kehamilan. Perawat melakukan pemeriksaan fisik pada vital sign bayi dengan T 36,7°C, HR 140 kali per menit, RR 45 kali per menit, SpO2 98%. Bayi tampak aktif, respons alert, reflek primitif normal, terdapat benjolan berisi cairan diarea lumbosacral dengan kulit tipis dan transparan, kaki tampak lemah, reflek plantar menurun, anus paten, namun tidak ada refleks anal yang jelas, dan tidak ada kelainan kraniofasial. Dari hasil pemeriksaan tersebut, Dokter Spesialis Anak menganjurkan untuk dilakukan pemeriksaan radiologi tulang belakang dan MRI tulang belakang. Hasil pemeriksaan tersebut ditegakkan diagnosis Spina Bifida Occulta.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, dapat disimpulkan bahwa bayi perempuan usia 1 hari ini mengalami kondisi Spina Bifida Occulta. Berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Risiko Cedera Tulang Belakang berhubungan dengan adanya defek kongenital pada tulang belakang (Spina Bifida Occulta).
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Definisi: Kemungkinan terjadinya kerusakan struktur atau fungsi tulang belakang akibat adanya kelainan bawaan pada tulang belakang.
- Faktor risiko: Defek kongenital pada tulang belakang (Spina Bifida Occulta).
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Luaran yang diharapkan:
1. Bayi tidak mengalami cedera tulang belakang selama perawatan.
2. Bayi tidak mengalami komplikasi akibat Spina Bifida Occulta.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Intervensi keperawatan:
1. Observasi tanda-tanda vital secara berkala.
2. Pemantauan kondisi fisik bayi, terutama kondisi benjolan di area lumbosacral.
3. Kolaborasi dengan dokter spesialis untuk pemeriksaan radiologi dan MRI tulang belakang.
4. Perawatan luka pada area benjolan dengan teknik aseptik.
5. Pencegahan infeksi pada area lesi.
6. Edukasi dan dukungan kepada orang tua terkait kondisi bayi dan rencana penanganan selanjutnya.
Penjelasan Singkat:
Spina Bifida Occulta adalah jenis kelainan bawaan pada tulang belakang di mana terjadi defek pada satu atau lebih vertebra, namun tidak ada kebocoran cairan serebrospinal atau medula spinalis yang terbuka. Kondisi ini membutuhkan pemantauan yang ketat dan penanganan yang sesuai untuk mencegah komplikasi. Peran perawat sangat penting dalam observasi, perawatan, dan edukasi kepada keluarga dalam mengelola kondisi bayi ini. -
Article No. 14256 | 16 Mar 2025
Klinis : tentukan diagnosis yang terjadi pada hari ke 16 pada kasus Seorang wanita 33 tahun dengan riwayat bipolar, penyalahgunaan kokain dan amfetamin, hipertensi, serta diabetes gestasional dirawat karena psikosis akut. Saat masuk, pasien menerima klorpromazin dan lorazepam karena agitasi berat. Olanzapine 5 mg dimulai pada hari ke-3 dan ditingkatkan hingga 25 mg. Pada hari ke-15, pasien mengalami poliuria dan polidipsia dengan kadar glukosa darah >500 mg/dL. Olanzapine dihentikan pada hari ke-17 karena dicurigai memicu hiperglikemia. Pada hari ke-16, HbA1c tercatat 8%, dan terapi insulin dimulai: • Hari 16: Insulin aspart diberikan dan insulin detemir 15 unit dua kali sehari dimulai. • Hari 17: Insulin aspart ditingkatkan menjadi 10 unit tiga kali sehari. • Hari 18-24: Insulin aspart ditingkatkan menjadi 15 unit tiga kali sehari, sementara insulin detemir dititrasi hingga 60 unit dua kali sehari untuk mengontrol kadar glukosa darah yang tetap tinggi. Setelah kondisi stabil, pasien dipindahkan kembali ke psikiatri rawat inap dan memulai ziprasidone sebagai pengganti olanzapine. Pada hari ke-24, kadar glukosa darah puasanya 159 mg/dL, dan ia dipulangkan dengan terapi insulin yang masih berlanjut.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, diagnosis keperawatan yang dapat terjadi pada hari ke-16 adalah:
1. Ketidakseimbangan nutrisi: kadar glukosa darah tinggi
Berdasarkan SDKI:
Definisi: Asupan nutrisi yang tidak memadai untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Karakteristik Definisi:
- Kadar glukosa darah >200 mg/dL
- Poliuria
- Polidipsia
2. Intoleransi aktivitas
Berdasarkan SDKI:
Definisi: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan.
Karakteristik Definisi:
- Melemahnya kekuatan, daya tahan, atau toleransi terhadap aktivitas.
- Peningkatan kelelahan pada saat beraktivitas.
3. Ansietas
Berdasarkan SDKI:
Definisi: Respon emosional dan fisik terhadap ancaman yang sumbernya tidak spesifik atau tidak diketahui.
Karakteristik Definisi:
- Peningkatan ketegangan otot.
- Peningkatan frekuensi jantung.
- Perasaan tidak tenang.
Penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) merupakan standar diagnosis keperawatan yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI). SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah standar luaran/hasil keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah standar intervensi keperawatan yang ditetapkan oleh PPNI. Ketiga standar ini menjadi acuan bagi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas dan terstandar. -
Article No. 14153 | 15 Mar 2025
Klinis : Keluhan lemas badan pegal pegal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan standar SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi dengan keluhan lemas dan badan pegal-pegal.
Diagnosa Keperawatan:
1. Fatigue (Kelelahan)
Definisi: Keadaan di mana individu mengalami kekurangan energi dan keterbatasan kapasitas untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Istirahat yang adekuat
- Aktivitas terjadwal
- Manajemen energi
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Asesmen tingkat kelelahan
- Manajemen aktivitas
- Promosi tidur
- Konseling manajemen energi
Penjelasan singkat:
Fatigue atau kelelahan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti stres, pola tidur yang tidak adekuat, atau aktivitas fisik yang berlebihan. Perawat akan melakukan asesmen untuk mengetahui tingkat kelelahan pasien dan kemudian memberikan intervensi yang sesuai, seperti membantu pasien mengatur aktivitas, memfasilitasi istirahat yang cukup, dan memberikan konseling tentang manajemen energi. Tujuannya adalah untuk membantu pasien memulihkan energinya dan mencegah terjadinya komplikasi akibat kelelahan yang berkelanjutan.
Saya harap penjelasan singkat ini dapat membantu Anda memahami kondisi yang Anda alami. Jika Anda memiliki pertanyaan lebih lanjut, jangan ragu untuk menanyakannya. -
Article No. 14154 | 15 Mar 2025
Klinis : Pasien mengeluh sakit perut, pusing, dan sesak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, berdasarkan keluhan pasien yaitu sakit perut, pusing, dan sesak, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri akut
2. Pusing
3. Gangguan pola napas
Penjelasan Singkat:
1. Nyeri Akut
- SDKI: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial.
- SLKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain manajemen nyeri, pemberian analgesik, dan kompres hangat.
- SIKI: Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah memonitor karakteristik nyeri, mengajarkan teknik nonfarmakologis mengatasi nyeri, dan melakukan kolaborasi pemberian analgesik.
2. Pusing
- SDKI: Pusing adalah sensasi berputar, goyang, atau tidak seimbang yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
- SLKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain manajemen lingkungan, manajemen hidrasi, dan manajemen aktivitas.
- SIKI: Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah memonitor tanda-tanda vital, mengelola aktivitas, dan memberikan edukasi tentang penyebab dan manajemen pusing.
3. Gangguan Pola Napas
- SDKI: Gangguan pola napas adalah ketidakmampuan mempertahankan ventilasi yang adekuat.
- SLKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain manajemen oksigen, manajemen jalan napas, dan manajemen pernapasan.
- SIKI: Tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah memonitor pernapasan, mengatur posisi yang memudahkan pernapasan, dan memberikan oksigen sesuai kebutuhan.
Catatan: Diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat di atas berdasarkan pada standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia. Penanganan lebih lanjut perlu disesuaikan dengan kondisi klinis pasien dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya. -
Article No. 14156 | 15 Mar 2025
Klinis : sesak nafas mulai semalam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan Pola Napas
Definisi: Ketidakmampuan untuk mempertahankan ventilasi yang memadai untuk mendukung kehidupan.
Karakteristik Definisi: Sesak napas, irama napas tidak teratur, pergerakan dinding dada tidak efektif.
Penjelasan singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
SDKI merupakan standar diagnosis keperawatan yang digunakan di Indonesia. Dalam kasus sesak napas, diagnosis keperawatan "Ketidakefektifan Pola Napas" sesuai dengan kriteria yang ada dalam SDKI.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
SLKI merupakan standar luaran atau hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan. Dalam kasus sesak napas, luaran yang diharapkan adalah "Pola Napas Efektif", meliputi indikator seperti frekuensi napas dalam batas normal, irama napas teratur, dan pergerakan dinding dada efektif.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
SIKI merupakan standar intervensi atau tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi "Ketidakefektifan Pola Napas" meliputi pengaturan posisi, pemberian oksigen, latihan pernapasan, dan kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk penanganan lanjut.
Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) adalah organisasi profesi perawat di Indonesia yang berperan dalam pengembangan dan pembaharuan standar praktik keperawatan, termasuk SDKI, SLKI, dan SIKI. -
Article No. 14157 | 15 Mar 2025
Klinis : resiko infeksi ulkus diabetikum
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan Diagnosa Keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi risiko infeksi ulkus diabetikum dengan nada akademis dan persona sebagai pakar/perawat.
Diagnosa Keperawatan:
Risiko Infeksi Ulkus Diabetikum
Definisi:
Risiko Infeksi Ulkus Diabetikum adalah kerentanan individu terhadap masuknya agen patogen ke dalam jaringan tubuh yang mengakibatkan perubahan struktur dan fungsi normal, yang disebabkan oleh diabetes melitus.
Faktor Risiko:
1. Gangguan integritas kulit
2. Gangguan sirkulasi
3. Gangguan sistem imun
4. Riwayat infeksi sebelumnya
5. Higiene personal yang buruk
Intervensi Keperawatan (SLKI):
1. Monitoring tanda-tanda infeksi
2. Perawatan luka ulkus diabetikum
3. Manajemen nutrisi
4. Edukasi perawatan kaki diabetik
5. Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain
Luaran Keperawatan (SIKI):
1. Integritas kulit: Luka terbuka
2. Respon infeksi: Risiko tinggi
3. Mobilitas: Terbatas
4. Pengetahuan: Perawatan kaki diabetik
5. Perilaku kesehatan: Patuh
Dengan pemahaman yang baik tentang Diagnosa Keperawatan, intervensi, dan luaran, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif dan efektif untuk mengelola risiko infeksi ulkus diabetikum pada pasien. -
Article No. 14158 | 15 Mar 2025
Klinis : Seorang laki laki berusia 54 tahun ( RM 35-4418) pada tanggal 13 Desember 2019, dirawat di ruang rawat penyakit dalam. Hasil pemeriksaan TD 160/120 mmHg, RR 24 X/mnt, Sh 36 C, HR 78 X/mnt, BB 120 kg, TB 150 cm. Hasil rontgen thorax terdapat kardiomegali 63 %, terdapat edema pada kedua tungkai bawah. Pasien mengatakan memiliki riwayat hipertensi 8 tahun lalu, tidak memiliki riwayat DM. Pasien mengeluh batuk tidak berdahak, mudah lelah, tidak bisa kekamar mandi, ADL di tempat tidur. Dilakukan pemeriksaan EKG ST everted. Posisi pasien semi fowler, terdapat luka dekubitus grade 2, dan pasien mengatakan nyeri grade 4. Edema pada ekstremitas atas dan bawah. Hasil lab saat ini : Hb : 11.8 , Ht : 35.7, Leukosit 9.400, trombosit : 198000, GDS : 372, SGPT : 27, Ureum : 29, creatinin : 1,23 , pH : 7.43, pO2 : 101 , PCO2 : 32.2, BE : 0.2, Na : 145, K : 3.5, APTT : 35.4/32.4, PT : 10.6 / 11.7 Hasil radiologi : 12/12/2019 rontgen dada, kesan jantung cardiomegali 63%, paru corakan hilus kasar bilateral. Terapi yang didapat : NaCl 0.9 % 500 cc/12 jam, insulin 3 X 10 iu SC, Nifedipine 3X10 mg PO, Furosemide 3 X 10 mg IV
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI-SLKI-SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Hipertensi Tidak Terkontrol
- SDKI: Pola Sirkulasi Tidak Efektif
- SLKI: Kontrol Hipertensi
- SIKI: Manajemen Hipertensi
2. Intoleransi Aktivitas
- SDKI: Intoleransi Aktivitas
- SLKI: Peningkatan Toleransi Aktivitas
- SIKI: Manajemen Intoleransi Aktivitas
3. Gangguan Mobilitas Fisik
- SDKI: Gangguan Mobilitas Fisik
- SLKI: Peningkatan Mobilitas
- SIKI: Manajemen Gangguan Mobilitas Fisik
4. Nyeri Akut
- SDKI: Nyeri Akut
- SLKI: Manajemen Nyeri
- SIKI: Manajemen Nyeri
5. Risiko Dekubitus
- SDKI: Risiko Gangguan Integritas Kulit
- SLKI: Peningkatan Integritas Kulit
- SIKI: Manajemen Risiko Dekubitus
Penjelasan Singkat:
1. Hipertensi Tidak Terkontrol:
- Pola Sirkulasi Tidak Efektif: Ketidakmampuan sistem kardiovaskular untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi jaringan.
- Kontrol Hipertensi: Kemampuan untuk mengendalikan tekanan darah tinggi.
- Manajemen Hipertensi: Intervensi untuk menurunkan tekanan darah tinggi.
2. Intoleransi Aktivitas:
- Intoleransi Aktivitas: Ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin.
- Peningkatan Toleransi Aktivitas: Kemampuan untuk meningkatkan toleransi dan kinerja dalam melakukan aktivitas.
- Manajemen Intoleransi Aktivitas: Intervensi untuk meningkatkan toleransi dan kinerja dalam aktivitas.
3. Gangguan Mobilitas Fisik:
- Gangguan Mobilitas Fisik: Keterbatasan dalam pergerakan fisik yang disebabkan oleh faktor internal atau eksternal.
- Peningkatan Mobilitas: Kemampuan untuk meningkatkan pergerakan fisik.
- Manajemen Gangguan Mobilitas Fisik: Intervensi untuk meningkatkan pergerakan fisik.
4. Nyeri Akut:
- Nyeri Akut: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan.
- Manajemen Nyeri: Kemampuan untuk mengendalikan rasa nyeri.
- Manajemen Nyeri: Intervensi untuk mengurangi rasa nyeri.
5. Risiko Dekubitus:
- Risiko Gangguan Integritas Kulit: Kemungkinan terjadinya kerusakan pada lapisan kulit.
- Peningkatan Integritas Kulit: Kemampuan untuk mempertahankan atau meningkatkan kesehatan kulit.
- Manajemen Risiko Dekubitus: Intervensi untuk mencegah atau mengurangi risiko terjadinya luka dekubitus. -
Article No. 14159 | 15 Mar 2025
Klinis : Seorang laki laki berusia 54 tahun ( RM 35-4418) pada tanggal 13 Desember 2019, dirawat di ruang rawat penyakit dalam. Hasil pemeriksaan TD 160/120 mmHg, RR 24 X/mnt, Sh 36 C, HR 78 X/mnt, BB 120 kg, TB 150 cm. Hasil rontgen thorax terdapat kardiomegali 63 %, terdapat edema pada kedua tungkai bawah. Pasien mengatakan memiliki riwayat hipertensi 8 tahun lalu, tidak memiliki riwayat DM. Pasien mengeluh batuk tidak berdahak, mudah lelah, tidak bisa kekamar mandi, ADL di tempat tidur. Dilakukan pemeriksaan EKG ST everted. Posisi pasien semi fowler, terdapat luka dekubitus grade 2, dan pasien mengatakan nyeri grade 4. Edema pada ekstremitas atas dan bawah. Hasil lab saat ini : Hb : 11.8 , Ht : 35.7, Leukosit 9.400, trombosit : 198000, GDS : 372, SGPT : 27, Ureum : 29, creatinin : 1,23 , pH : 7.43, pO2 : 101 , PCO2 : 32.2, BE : 0.2, Na : 145, K : 3.5, APTT : 35.4/32.4, PT : 10.6 / 11.7 Hasil radiologi : 12/12/2019 rontgen dada, kesan jantung cardiomegali 63%, paru corakan hilus kasar bilateral. Terapi yang didapat : NaCl 0.9 % 500 cc/12 jam, insulin 3 X 10 iu SC, Nifedipine 3X10 mg PO, Furosemide 3 X 10 mg IV
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat menggunakan standar SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan kelelahan otot pernapasan
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
3. Resiko cedera berhubungan dengan imobilitas
4. Nyeri akut berhubungan dengan edema ekstremitas
5. Kelemahan berhubungan dengan penurunan aktivitas
6. Risiko infeksi berhubungan dengan luka dekubitus
Penjelasan Singkat:
1. Ketidakefektifan pola napas berhubungan dengan kelelahan otot pernapasan
- SDKI: Pola napas yang tidak efektif untuk mempertahankan kebutuhan oksigen.
- SLKI: Meningkatkan ventilasi paru, mengelola jalan napas, dan mengurangi kelelahan.
- SIKI: Pemantauan tanda-tanda vital, oksigenasi, dan fisik pernapasan.
2. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
- SDKI: Asupan makanan dan cairan yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- SLKI: Manajemen nutrisi, monitoring status nutrisi, dan edukasi diet.
- SIKI: Pengkajian status nutrisi, pemberian nutrisi enteral/parenteral, dan konseling gizi.
3. Resiko cedera berhubungan dengan imobilitas
- SDKI: Peningkatan kerentanan terhadap luka, kerusakan jaringan, atau disfungsi fisik.
- SLKI: Manajemen aktivitas, perawatan kulit, dan pencegahan komplikasi imobilitas.
- SIKI: Mobilisasi, perawatan kulit, dan manajemen risiko jatuh.
4. Nyeri akut berhubungan dengan edema ekstremitas
- SDKI: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan.
- SLKI: Manajemen nyeri, relaksasi, dan terapi komplementer.
- SIKI: Pengkajian nyeri, pemberian analgesik, dan teknik nonfarmakologis.
5. Kelemahan berhubungan dengan penurunan aktivitas
- SDKI: Penurunan kekuatan dan daya tahan otot.
- SLKI: Peningkatan aktivitas, rehabilitasi, dan konseling.
- SIKI: Latihan fisik, perawatan mandiri, dan pemberian bantuan.
6. Risiko infeksi berhubungan dengan luka dekubitus
- SDKI: Peningkatan rentan terhadap serangan organisme patogen.
- SLKI: Manajemen luka, pencegahan infeksi, dan perawatan kulit.
- SIKI: Perawatan luka, pemberian antibiotik, dan edukasi pencegahan infeksi.