Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24245 | 25 Feb 2026
Klinis : (Tn. S, 68 tahun) dengan riwayat hipertensi lama yang tidak terkontrol karena tidak rutin minum obat dan jarang kontrol, sehingga tekanan darah tetap tinggi (170/100 mmHg). Kondisi tersebut menyebabkan penyempitan pembuluh darah koroner dan berkurangnya aliran darah ke otot jantung, terbukti dari keluhan nyeri dada seperti tertindih saat aktivitas yang berkurang saat istirahat serta hasil EKG yang menunjukkan iskemia miokard. Selain itu klien juga mengeluh pusing dan mudah lelah, dengan faktor risiko tambahan berupa kolesterol tinggi dan riwayat keluarga penyakit jantung, sehingga dapat disimpulkan hipertensi kronis pada lansia telah berkembang menjadi penyakit jantung koroner (angina stabil).
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen miokard sekunder akibat penyakit jantung koroner (angina stabil) dan hipertensi kronis yang tidak terkontrol.
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Diagnosa Keperawatan "Nyeri Akut" didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onsetnya mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan. Pada kasus Tn. S, nyeri dada seperti tertindih yang dipicu aktivitas dan berkurang dengan istirahat merupakan manifestasi klasik dari iskemia miokard. Nyeri ini bersifat akut dan berulang, terjadi akibat penyempitan arteri koroner (aterosklerosis yang diperberat oleh hipertensi dan dislipidemia) yang menyebabkan aliran darah dan oksigen ke otot jantung tidak mencukupi saat kebutuhan meningkat (seperti saat beraktivitas). Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen inilah yang memicu serangan angina. Faktor penyebab utama adalah penyakit jantung koroner yang merupakan komplikasi dari hipertensi kronis yang tidak terkelola dengan baik, ditambah dengan faktor risiko kolesterol tinggi dan riwayat keluarga.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Kontrol Nyeri: Tingkat Sedang". Luaran ini mengindikasikan bahwa setelah intervensi keperawatan, klien mampu menunjukkan kemampuan dalam mengontrol pengalaman nyeri dengan kriteria sebagai berikut: melaporkan bahwa nyeri berkurang (misalnya, skala nyeri menurun dari berat ke sedang), menunjukkan perilaku yang sesuai untuk mengatasi nyeri (seperti segera beristirahat saat nyeri muncul, menghindari pemicu aktivitas berat), dan mampu mengenali serta melaporkan faktor-faktor yang memicu dan meredakan nyeri. Pada Tn. S, tujuan utamanya adalah mengurangi frekuensi dan intensitas serangan angina, meningkatkan toleransi aktivitas tanpa memicu nyeri, dan mencegah progresi menjadi serangan jantung. Klien diharapkan dapat mengidentifikasi bahwa aktivitas fisik berat adalah pemicu, dan istirahat serta obat nitrogliserin (jika diresepkan) adalah cara pereda. Pengendalian tekanan darah dan kolesterol yang lebih baik juga merupakan bagian integral dari luaran jangka panjang untuk mengontrol nyeri iskemik ini.
Kode SIKI: I.08024
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direkomendasikan adalah "Manajemen Nyeri". Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan yang dilakukan perawat untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi oleh klien. Tindakan spesifik untuk Tn. S meliputi: 1) **Pengkajian Komprehensif**: Mengkaji karakteristik nyeri (P, Q, R, S, T: Provokasi, Quality, Region, Severity, Time) setiap kali serangan terjadi, memantau tanda vital (terutama tekanan darah dan nadi) serta respons emosional terhadap nyeri. 2) **Tindakan Non-Farmakologis**: Mengajarkan dan mendorong teknik relaksasi (napas dalam, distraksi) saat nyeri muncul, menciptakan lingkungan yang tenang, serta membantu klien dalam modifikasi aktivitas (menyeimbangkan aktivitas dan istirahat) untuk mencegah iskemia. 3) **Kolaborasi Farmakologis**: Memastikan pemberian obat sesuai resep (seperti nitrogliserin sublingual, obat antiplatelet, statin, dan antihipertensi), memantau efektivitas dan efek sampingnya. 4) **Edukasi Pasien dan Keluarga**: Memberikan pendidikan kesehatan yang mendalam tentang penyakit jantung koroner dan hipertensi, pentingnya kepatuhan minum obat antihipertensi dan penurun lipid secara rutin meski tidak bergejala, mengenali tanda-tanda darurat jantung (nyeri yang tidak hilang dengan istirahat atau nitrogliserin), serta modifikasi gaya hidup (diet rendah garam dan lemak jenuh, aktivitas fisik aman, berhenti merokok jika merokok, dan manajemen stres). 5) **Pemantauan dan Evaluasi**: Memantau hasil EKG secara berkala, mengevaluasi efektivitas rencana penatalaksanaan nyeri, dan mendokumentasikan respons klien. Fokus intervensi adalah tidak hanya mengatasi nyeri akut, tetapi juga mengelola faktor risiko yang mendasarinya untuk mencegah kekambuhan dan komplikasi lebih lanjut.
-
Article No. 24246 | 25 Feb 2026
Klinis : risiko perfusi perifer tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan nutrisi, oksigen, dan eliminasi produk sisa pada tingkat jaringan perifer akibat penurunan suplai darah arteri atau vena.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perfusi perifer membaik. Ditandai dengan: 1) Kulit hangat, 2) Warna kulit normal, 3) Nadi perifer teraba kuat dan simetris, 4) Tekanan darah dalam rentang normal, 5) Tidak ada nyeri, 6) Tidak ada edema, 7) Tidak ada perubahan sensasi, 8) Turgor kulit baik, 9) Pengisian kapiler < 3 detik, 10) Tidak ada ulserasi.
Kode SIKI: 3520
Deskripsi : Pemantauan perfusi perifer. Tindakan: 1) Kaji warna, suhu, dan kelembaban kulit ekstremitas, 2) Kaji nadi perifer (kuat, lemah, tidak teraba), 3) Kaji pengisian kapiler, 4) Kaji adanya edema, 5) Kaji sensasi (kesemutan, baal, nyeri), 6) Kaji mobilitas dan kekuatan otot, 7) Kaji integritas kulit (ulkus, lesi), 8) Kaji tekanan darah dan bandingkan kedua lengan/kaki jika memungkinkan, 9) Kaji faktor risiko (imobilisasi, riwayat penyakit, merokok, diabetes), 10) Dokumentasikan temuan.
Penjelasan Lengkap:
Diagnosa Keperawatan (SDKI): Risiko Perfusi Perifer Tidak Efektif (Kode 0004) merupakan diagnosis keperawatan aktual atau risiko yang mengacu pada kerentanan individu terhadap penurunan sirkulasi darah ke ekstremitas (tangan dan kaki), yang dapat mengancam kesehatan jaringan. Kondisi ini berisiko menyebabkan iskemia, nyeri, ulkus, hingga nekrosis jika tidak ditangani. Faktor risikonya meliputi penyakit sistemik seperti Diabetes Melitus, Aterosklerosis, Gagal Jantung, kondisi pasca bedah vaskular, imobilisasi lama, merokok, dan trauma. Tujuan utama perawat adalah mencegah terjadinya penurunan perfusi dengan identifikasi dini faktor risiko dan implementasi intervensi yang tepat. Definisi menurut PPNI adalah keadaan rentan terhadap penurunan nutrisi, oksigenasi, dan proses eliminasi sisa metabolisme di tingkat jaringan perifer karena gangguan pada suplai darah arteri (yang membawa oksigen dan nutrisi) atau aliran balik vena (yang membawa produk sisa metabolisme).
Luaran Keperawatan (SLKI): Luaran yang diharapkan adalah "Perfusi Perifer Meningkat" (Kode 0801). SLKI ini terdiri dari sepuluh kriteria hasil yang terukur dan observabel. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil. Kulit yang hangat dan berwarna normal (tidak pucat, sianosis, atau kemerahan) menunjukkan aliran darah yang adekuat. Nadi perifer yang teraba kuat dan simetris antara kanan dan kiri adalah indikator langsung kekuatan aliran darah arteri. Tekanan darah dalam rentang normal dan pengisian kapiler yang cepat (<3 detik) mengonfirmasi bahwa tekanan perfusi adekuat untuk mendorong darah hingga ke kapiler. Tidak adanya nyeri (klaudikasio atau istirahat), edema (yang dapat menekan pembuluh darah), perubahan sensasi, dan ulserasi adalah tanda bahwa jaringan mendapatkan nutrisi dan oksigen yang cukup serta produk sisa metabolisme berhasil dibawa pergi. Turgor kulit yang baik juga mencerminkan hidrasi dan elastisitas jaringan yang terjaga.
Intervensi Keperawatan (SIKI): Intervensi utama adalah "Pemantauan Perfusi Perifer" (Kode 3520). Ini adalah intervensi mandiri perawat yang bersifat preventif dan detektif. Pemantauan yang komprehensif dan berkala sangat penting untuk mendeteksi penyimpangan sedini mungkin. Tindakan dimulai dengan pengkajian visual dan palpasi terhadap warna, suhu, kelembaban, dan adanya edema pada ekstremitas. Penilaian nadi perifer (seperti nadi dorsalis pedis dan tibialis posterior) dilakukan secara bilateral untuk membandingkan kekuatan dan kesimetrisannya. Uji pengisian kapiler di kuku memberikan gambaran cepat tentang aliran darah mikro. Perawat juga harus mengkaji keluhan subjektif pasien seperti nyeri, kesemutan, atau baal, yang sering menjadi gejala awal iskemia. Pemeriksaan integritas kulit, terutama di area tekanan seperti tumit dan malleolus, penting untuk mencegah ulkus. Membandingkan tekanan darah di kedua lengan dapat mengindikasikan adanya stenosis. Mengidentifikasi faktor risiko seperti riwayat merokok atau diabetes membantu dalam menyusun pendidikan kesehatan. Semua temuan harus didokumentasikan secara akurat untuk memantau tren dan mengevaluasi efektivitas intervensi. Intervensi lain yang mungkin terkait adalah Manajemen Luka, Pendidikan Kesehatan, dan Konsultasi Gizi untuk mengelola faktor risiko secara holistik.
-
Article No. 24247 | 25 Feb 2026
Klinis : ketidak stabilan kadar glukosa darah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 0010
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakstabilan kadar glukosa darah adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami variasi kadar glukosa darah dari rentang normal, yang dapat mengarah pada kondisi hiperglikemia atau hipoglikemia.
Kode SLKI: 4310
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia dan Hipoglikemia. Tujuan dari SLKI ini adalah agar kadar glukosa darah klien stabil dalam rentang target yang ditetapkan. Luaran yang diharapkan mencakup: 1) Klien dan keluarga dapat menjelaskan tanda dan gejala hiperglikemia dan hipoglikemia; 2) Klien dan keluarga dapat menjelaskan faktor risiko ketidakstabilan glukosa darah; 3) Klien dan keluarga dapat mendemonstrasikan pemantauan glukosa darah mandiri dengan benar (jika applicable); 4) Klien dan keluarga dapat mendemonstrasikan teknik penyuntikan insulin atau pemberian obat hipoglikemik oral dengan benar (jika applicable); 5) Klien dan keluarga dapat menjelaskan rencana diet dan aktivitas fisik yang sesuai; 6) Klien menunjukkan kadar glukosa darah dalam rentang target yang ditetapkan; dan 7) Klien tidak mengalami episode hipoglikemia berat atau komplikasi hiperglikemia akut.
Kode SIKI: 4310
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia dan Hipoglikemia. Intervensi keperawatan ini melibatkan serangkaian tindakan sistematis untuk mencegah, mendeteksi, dan menangani ketidakstabilan glukosa darah. Tindakan-tindakan utama meliputi: 1) **Pengkajian Komprehensif**: Memantau tanda vital dan status neurologis secara berkala, terutama pada kondisi hipoglikemia yang dapat menurunkan kesadaran. Melakukan pemantauan glukosa darah sesuai protokol (sebelum makan, sebelum tidur, atau sesuai kebutuhan) dan mencatat polanya. Mengkaji pengetahuan, persepsi, dan kemampuan klien serta keluarga dalam manajemen diabetes atau kondisi penyebab ketidakstabilan glukosa lainnya. Mengidentifikasi faktor risiko seperti ketidakpatuhan diet, olahraga tidak teratur, stres, penyakit penyerta, atau kesalahan pemberian obat/insulin. 2) **Edukasi dan Pemberdayaan Klien**: Mendidik klien dan keluarga tentang patofisiologi sederhana ketidakstabilan glukosa darah. Mengajarkan secara detail tanda dan gejala awal hiperglikemia (poliuria, polidipsi, polifagi, lemas, pandangan kabur) dan hipoglikemia (berkeringat, gemetar, jantung berdebar, lapar, pusing, penurunan kesadaran). Melatih keterampilan mandiri: teknik pemeriksaan glukosa darah menggunakan glukometer dengan prinsip aseptik dan akurasi, teknik penyuntikan insulin yang benar (rotasi area, dosis, penyimpanan insulin), serta penanganan dini hipoglikemia (aturan 15: konsumsi 15gr karbohidrat sederhana, tunggu 15 menit, periksa ulang). Menjelaskan pentingnya identifikasi dan pemakaian gelang atau kartu diabetes. 3) **Manajemen Terapi**: Memastikan pemberian obat hipoglikemik oral atau insulin tepat waktu, dosis, dan cara sesuai resep. Bekerja sama dengan dokter untuk menyesuaikan regimen terapi berdasarkan hasil pemantauan glukosa. Pada klien yang mendapat nutrisi parenteral atau enteral, memantau glukosa darah secara ketat dan mengkoordinasikan pemberian insulin sesuai kebutuhan. 4) **Manajemen Nutrisi dan Aktivitas**: Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun rencana makan individu dengan komposisi karbohidrat, protein, dan lemak yang seimbang serta sesuai kebutuhan kalori. Mengajarkan prinsip penghitungan karbohidrat jika diperlukan. Memberikan edukasi tentang hubungan antara aktivitas fisik, makanan, dan obat/insulin. Menganjurkan aktivitas fisik teratur dengan intensitas sesuai kondisi, serta memantau glukosa darah sebelum dan setelah beraktivitas. 5) **Intervensi pada Kondisi Akut**: Untuk hipoglikemia: segera berikan sumber glukosa cepat (seperti jus, gula, atau dekstrosa intravena jika sadar menurun), kemudian diikuti dengan makanan mengandung karbohidrat kompleks dan protein. Untuk hiperglikemia berat (Ketoasidosis Diabetik atau Status Hiperglikemik Hiperosmolar), lakukan pemantauan ketat, bantu pemberian insulin dan cairan intravena sesuai protokol, serta pantau keseimbangan elektrolit dan asam-basa. 6) **Dukungan Psikososial dan Rujukan**: Memberikan dukungan emosional untuk menghadapi kondisi kronis dan mencegah burnout. Merujuk ke edukator diabetes, ahli gizi, atau kelompok dukungan sebaya (support group) untuk meningkatkan pemahaman dan motivasi. Intervensi ini bersifat holistik, berkelanjutan, dan membutuhkan kolaborasi multidisiplin untuk mencapai stabilitas glukosa darah jangka panjang dan mencegah komplikasi.
-
Article No. 24216 | 24 Feb 2026
Klinis : Pasien pro kemoterapi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien Pre-Kemoterapi
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakefektifan Manajemen Regimen Terapeutik
Kode SLKI: L.03141
Deskripsi : Pasien dan keluarga mampu menjelaskan tujuan, prosedur, efek samping, dan manajemen kemoterapi; menunjukkan kesiapan psikologis dan fisik; serta mengidentifikasi sistem pendukung yang tersedia.
Kode SIKI: I.05238
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk pasien pre-kemoterapi berfokus pada edukasi komprehensif, persiapan fisik, dan dukungan psikososial untuk meminimalkan kecemasan dan memaksimalkan keberhasilan terapi. Pertama, lakukan pengkajian mendalam terhadap pengetahuan, kepercayaan, harapan, dan kecemasan pasien serta keluarga mengenai kemoterapi. Kaji juga kondisi fisik dasar (status nutrisi, fungsi ginjal dan hati, adanya infeksi) dan sistem pendukung sosial. Kedua, berikan edukasi yang jelas, sesuai tingkat pemahaman, menggunakan media yang mudah dipahami. Materi edukasi mencakup tujuan kemoterapi dalam rencana pengobatan, mekanisme kerja obat secara sederhana, jadwal dan prosedur pemberian (misalnya melalui jalur infus, port-a-cath), durasi perkiraan setiap siklus, dan protokol keamanan (seperti handling cairan tubuh pasca kemoterapi). Ketiga, jelaskan secara rinci efek samping yang mungkin terjadi (seperti mual-muntah, mukositis, alopesia, neutropenia, kelelahan, neuropati) beserta strategi pencegahan dan penanganan praktis di rumah. Misalnya, ajarkan teknik higiene mulut untuk mencegah mukositis, manajemen diet untuk mual, dan penggunaan penutup kepala jika terjadi rambut rontok. Keempat, latih pasien dan keluarga untuk memantau dan melaporkan tanda-tanda bahaya yang memerlukan intervensi segera, seperti demam >38°C, perdarahan, sesak napas, atau kelemahan berat. Kelima, persiapkan fisik pasien dengan memastikan pemeriksaan laboratorium (darah lengkap, fungsi ginjal-hati) telah dilakukan dan hasilnya dalam batas yang diizinkan untuk kemoterapi. Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian premedikasi antiemetik sesuai protokol. Keenam, berikan dukungan psikologis dengan mendengarkan kekhawatiran pasien, menormalisasi perasaan takut atau cemas, serta menguatkan mekanisme koping positif. Libatkan keluarga sebagai sumber dukungan utama. Ketujuh, bantu pasien mengidentifikasi dan mengoptimalkan sumber daya pendukung, seperti kelompok survivor kanker, layanan konseling, atau bantuan finansial jika diperlukan. Intervensi ini bertujuan meningkatkan kepatuhan, mengurangi komplikasi, memberdayakan pasien dalam perawatan diri, dan memulai perjalanan kemoterapi dengan persiapan mental dan fisik yang lebih baik.
-
Article No. 24217 | 24 Feb 2026
Klinis : PASIEN USIA 13 TAHUN DENGAN KELUHAN DEMAM 4 HARI, BATUK, PILEK, MUAL, MUNTAH, PERUT SAKIT, TEKANAN DARAH 117/64, SUHU 38,5, NADI 106X/MENIT, RESPIRASI RATE 20 X/MENIT
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gastroenteritis Akut dan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang Tidak Ditentukan
Kode ICD-10: A09 & J06.9
Deskripsi Singkat : Pasien menunjukkan gejala gabungan dari dua kemungkinan kondisi akut. Kode A09 (Diare dan gastroenteritis yang diduga berasal dari infeksi) mewakili gejala gastrointestinal seperti mual, muntah, dan sakit perut yang sering disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau parasit. Kode J06.9 (Infeksi akut saluran pernapasan bagian atas, tidak spesifik) mewakili gejala pernapasan seperti demam, batuk, dan pilek, yang merupakan manifestasi umum dari infeksi virus pada saluran napas atas (common cold, faringitis). Kombinasi gejala ini sering terjadi, terutama pada anak-anak, di mana satu infeksi virus dapat menimbulkan gejala di berbagai sistem atau terdapat ko-infeksi. Kode ICD-10 digunakan secara bersamaan (coding multiple) karena terdapat dua diagnosis yang berbeda namun sama-sama signifikan secara klinis dalam menjelaskan kondisi pasien. Pendekatan ini memungkinkan pencatatan medis yang lebih akurat untuk kepentingan perawatan pasien, pelacakan epidemiologi, dan pembiayaan kesehatan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24218 | 24 Feb 2026
Klinis : gangguan pergi si jaringan perifer
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Perfusi Jaringan Perifer
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Penurunan sirkulasi darah ke perifer yang dapat mengancam kesehatan jaringan.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik. Tujuan dari SLKI ini adalah untuk memastikan bahwa pasien dapat mempertahankan atau mengembalikan sirkulasi darah yang adekuat ke ekstremitas, ditandai dengan nadi perifer yang teraba kuat dan simetris, warna kulit normal (tidak pucat, sianosis, atau kemerahan), suhu kulit hangat, pengisian kapiler kurang dari 3 detik, tidak ada nyeri istirahat, edema minimal atau tidak ada, serta integritas kulit yang terjaga. Perawat akan memantau tanda-tanda vital, khususnya tekanan darah dan denyut nadi perifer, menilai warna, suhu, sensasi, dan motilitas ekstremitas secara berkala. Intervensi juga mencakup memposisikan ekstremitas untuk meningkatkan aliran darah (misalnya, meninggikan atau menurunkan sesuai indikasi), menghindari tekanan langsung pada pembuluh darah, dan mendorong aktivitas atau latihan ringan sesuai toleransi. Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai tanda-tanda gangguan perfusi yang harus diwaspadai, pentingnya menghindari paparan dingin ekstrem, dan tidak merokok (karena nikotin menyebabkan vasokonstriksi) merupakan bagian kritis dari pencapaian luaran ini. Peningkatan perfusi jaringan perifer sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti ulkus, nekrosis, atau bahkan amputasi.
Kode SIKI: 2610
Deskripsi : Manajemen Perfusi Perifer. Intervensi keperawatan ini berfokus pada promosi, pemantauan, dan pemulihan sirkulasi darah yang adekuat ke ekstremitas. Aktivitas utama meliputi: 1) Pemantauan dan pengkajian menyeluruh terhadap status neurovaskuler ekstremitas (pulsasi, warna, suhu, kapilar refill, sensasi, edema, dan nyeri) secara teratur dan bandingkan antara sisi yang sakit dan sehat. 2) Mempertahankan posisi tubuh yang optimal untuk meningkatkan aliran darah, seperti meninggikan ekstremitas pada kasus edema atau menurunkannya jika pucat dan dingin, serta menghindari posisi yang menekan pembuluh darah (misalnya, menyilangkan kaki). 3) Memfasilitasi mobilisasi dan latihan rentang gerak (ROM) pasif/aktif sesuai kemampuan untuk memanfaatkan pompa otot dalam meningkatkan venous return. 4) Melindungi ekstremitas dari cedera, tekanan, dan suhu ekstrem (panas/dingin). 5) Kolaborasi dalam pemberian terapi farmakologi seperti antikoagulan, antiplatelet, atau vasodilator sesuai resep, dan memantau efek serta efek sampingnya. 6) Memberikan edukasi kesehatan yang komprehensif kepada pasien dan keluarga tentang faktor risiko (merokok, diabetes, hiperlipidemia), tanda dan gejala iskemia (kaki terasa dingin, nyer, kesemutan, perubahan warna), perawatan kaki yang tepat (memeriksa kaki setiap hari, menjaga kebersihan dan kelembaban, memakai alas kaki yang sesuai), serta pentingnya kepatuhan terhadap terapi dan kontrol penyakit penyerta (seperti hipertensi dan diabetes). Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan aspek teknis pemantauan dengan aspek edukatif dan preventif untuk mengoptimalkan hasil klinis pasien dan mencegah deteriorasi kondisi.
-
Article No. 24219 | 24 Feb 2026
Klinis : Gangguan perfusi jaringan parifer
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Perfusi Jaringan Perifer
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Penurunan nutrisi dan oksigenasi pada tingkat jaringan perifer akibat penurunan suplai darah arteri dan/atau drainase vena.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik. Kriteria hasil: 1) Kulit hangat pada ekstremitas, 2) Warna kulit normal pada ekstremitas, 3) Denyut nadi perifer teraba kuat dan simetris, 4) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 5) Tidak ada nyeri pada ekstremitas, 6) Tidak ada edema, 7) Tidak ada perubahan sensasi (kesemutan, baal), 8) Tekanan darah dalam rentang normal yang diharapkan, 9) Kualitas hidup membaik.
Kode SIKI: 4160
Deskripsi : Manajemen perfusi jaringan perifer. Intervensi: 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu). 2) Kaji kualitas dan kekuatan denyut nadi perifer (radialis, dorsalis pedis, tibialis posterior). 3) Kaji warna, suhu, kelembaban, tekstur, dan turgor kulit serta membran mukosa. 4) Kaji pengisian kapiler. 5) Kaji adanya nyeri, kram, kesemutan, baal (parestesia) pada ekstremitas. 6) Kaji tingkat edema (pitting/non-pitting) dan lakukan pengukuran lingkar ekstremitas jika diperlukan. 7) Posisikan ekstremitas lebih rendah dari jantung (kecuali jika ada kontraindikasi seperti edema berat atau kondisi arteri). 8) Anjurkan untuk menghindari menyilangkan kaki atau pergelangan kaki. 9) Anjurkan untuk menghindari paparan suhu ekstrem (dingin/panas). 10) Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan. 11) Kolaborasi pemberian terapi medikasi (vasodilator, antikoagulan, analgesik) sesuai program. 12) Ajarkan teknik relaksasi untuk mengurangi ansietas. 13) Anjurkan aktivitas fisik sesuai toleransi dan hindari imobilisasi lama. 14) Anjurkan diet seimbang, rendah garam dan rendah lemak jenuh. 15) Edukasi untuk menghindari konstriksi sirkulasi (pakaian ketat, gelang). 16) Monitor hasil pemeriksaan diagnostik (Doppler ultrasound, ABI).
-
Article No. 24220 | 24 Feb 2026
Klinis : Gangguan perfusi jaringan parifer
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Perfusi Jaringan Perifer
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Penurunan nutrisi dan oksigenasi pada tingkat kapiler yang dapat mengancam kehidupan.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik. Indikator: 1) Denyut nadi perifer teraba dan kuat, 2) Warna kulit ekstremitas normal/tidak pucat/sianosis, 3) Suhu kulit ekstremitas hangat, 4) Pengisian kapiler < 3 detik, 5) Tidak ada nyeri/kesemutan/baal pada ekstremitas, 6) Tekanan darah dalam rentang normal, 7) Tidak ada edema, 8) Turgor kulit baik.
Kode SIKI: 2610, 2620, 2630, 2640, 2650, 2660, 2670, 2680, 2690
Deskripsi : 2610 Pemantauan Hemodinamik: Mengumpulkan dan menganalisis data tentang status hemodinamik pasien untuk memandu intervensi. Meliputi pemantauan tanda-tanda vital (khususnya tekanan darah dan nadi), pengisian kapiler, warna, suhu, dan sensasi kulit ekstremitas secara berkala. 2620 Manajemen Perfusi: Meningkatkan atau mempertahankan aliran darah ke mikrosirkulasi perifer. Intervensi mencakup posisi ekstremitas yang tepat (misalnya, elevasi jika ada edema, hindari posisi menekan), menjaga kehangatan ekstremitas (hindari paparan dingin langsung, gunakan selimut), dan menghindari konstriksi sirkulasi (misalnya, pakaian ketat, pembebatan yang terlalu kencang). 2630 Manajemen Cairan/Volume: Meningkatkan atau membatasi asupan cairan untuk mempertahankan keseimbangan cairan dan tekanan perfusi yang adekuat. Dapat berupa pemberian cairan intravena sesuai resep atau pembatasan cairan, selalu dengan pemantauan ketat tanda-tanda kelebihan beban cairan atau dehidrasi. 2640 Perawatan Luka: Mencegah infeksi dan memfasilitasi penyembuhan luka iskemik atau ulkus yang mungkin terjadi akibat perfusi buruk. Meliputi perawatan luka steril, penggunaan balutan yang sesuai, dan pencegahan trauma pada area yang berisiko. 2650 Manajemen Nyeri: Meringankan atau mengurangi sensasi nyeri yang timbul akibat iskemia jaringan. Meliputi penilaian karakteristik nyeri, pemberian analgesik sesuai resep, dan teknik non-farmakologis seperti reposisi yang nyaman. 2660 Manajemen Aktivitas: Memfasilitasi pergerakan dan ambulasi untuk meningkatkan sirkulasi, sekaligus mengatur aktivitas untuk mencegah kelelahan yang dapat memperburuk perfusi. Membantu latihan rentang gerak pasif/aktif dan ambulasi bertahap sesuai toleransi. 2670 Edukasi Kesehatan: Memberikan informasi kepada pasien dan keluarga tentang kondisi, penyebab, pencegahan komplikasi, dan perawatan diri. Misalnya, edukasi tentang pentingnya berhenti merokok, perawatan kaki pada pasien diabetes, mengenali tanda-tanda memburuk (nyeri hebat, perubahan warna/warna hitam, dingin), dan kepatuhan terhadap terapi obat. 2680 Kolaborasi Pemberian Obat: Bekerja sama dengan tim medis dalam pemberian obat-obatan untuk meningkatkan perfusi, seperti vasodilator, antikoagulan, atau antiplatelet, dengan memantau efek terapi dan efek samping. 2690 Manajemen Risiko: Melindungi pasien dari cedera lebih lanjut pada jaringan yang mengalami perfusi buruk. Meliputi pencegahan trauma (hindari menggaruk, gunakan alas kaki yang aman), inspeksi kulit harian, dan menjaga kulit tetap bersih dan kering.
-
Article No. 24221 | 24 Feb 2026
Klinis : pasien mengatakan mual dan perut begah sudah 3 hari
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Mual
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman subjektif yang tidak menyenangkan berupa dorongan untuk muntah.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Mual. Kriteria hasil: 1) Mengungkapkan berkurangnya perasaan mual. 2) Mengungkapkan tidak adanya mual. 3) Menunjukkan tanda-tanda tidak adanya mual (misalnya, tidak meringis, tidak menelan berulang, tidak pucat, tidak berkeringat). 4) Mengungkapkan kemampuan untuk mengelola faktor pemicu. 5) Mempertahankan asupan nutrisi dan hidrasi yang adekuat. 6) Mempertahankan berat badan dalam rentang yang diharapkan.
Kode SIKI: 4201
Deskripsi : Manajemen Mual. Intervensi keperawatan: 1) Kaji karakteristik mual: onset, durasi, frekuensi, faktor pemicu dan penghilang, serta gejala terkait (misalnya, peningkatan air liur, pucat, berkeringat, takikardia). 2) Kaji dampak mual terhadap status nutrisi, hidrasi, dan kualitas hidup. 3) Monitor tanda-tanda dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit. 4) Kolaborasi pemberian farmakoterapi antiemetik sesuai indikasi. 5) Ajarkan teknik non-farmakologis untuk mengontrol mual: relaksasi, distraksi, aromaterapi (seperti menghirup minyak peppermint atau lemon), akupresur (titik P6/Neiguan). 6) Atur posisi untuk meminimalkan aspirasi dan meningkatkan kenyamanan (misalnya, kepala lebih tinggi). 7) Anjurkan untuk menghindari bau menyengat, suhu ekstrem, dan lingkungan bising yang dapat memicu mual. 8) Atur pola makan: porsi kecil dan sering, makanan kering dan hambar (seperti biskuit, roti panggang) saat bangun tidur, hindari makanan berlemak, berminyak, terlalu manis atau pedas. 9) Anjurkan untuk tidak langsung berbaring setelah makan. 10) Berikan perawatan mulut yang teratur untuk menghilangkan rasa tidak enak. 11) Fasilitasi dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperberat mual.
Kondisi: Ketidaknyamanan: Abdomen
Kode SDKI: 0023
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman yang dirasakan di daerah abdomen.
Kode SLKI: 1402
Deskripsi : Kontrol Ketidaknyamanan: Abdomen. Kriteria hasil: 1) Mengungkapkan penurunan atau hilangnya perasaan tidak nyaman di abdomen. 2) Menunjukkan perilaku nyaman (misalnya, ekspresi wajah rileks, postur tubuh terbuka, mampu beristirahat). 3) Mendemonstrasikan teknik untuk mengontrol ketidaknyamanan. 4) Menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal. 5) Menunjukkan fungsi gastrointestinal yang membaik (misalnya, suara bising usus normal, flatus, pola BAB teratur).
Kode SIKI: 4202
Deskripsi : Manajemen Ketidaknyamanan: Abdomen. Intervensi keperawatan: 1) Kaji karakteristik ketidaknyamanan: lokasi, kualitas, intensitas (skala 0-10), durasi, faktor yang memperberat dan meringankan. 2) Kaji tanda dan gejala terkait: distensi abdomen, perubahan bising usus, kesulitan BAB/BAK, mual, muntah, demam. 3) Monitor tanda-tanda vital dan status hidrasi. 4) Kolaborasi pemberian farmakoterapi sesuai penyebab (analgesik, antispasmodik, pencahar ringan) sesuai indikasi. 5) Ajarkan dan bantu teknik non-farmakologis: kompres hangat pada abdomen (kecuali ada tanda inflamasi akut), posisi yang nyaman (misalnya, posisi miring dengan lutut ditekuk), relaksasi napas dalam, distraksi. 6) Anjurkan mobilisasi bertahap untuk merangsang peristaltik usus. 7) Lakukan dan ajarkan pijatan abdomen lembut searah jarum jam (dari sekum ke kolon asendens, transversum, desendens). 8) Atur pola makan: hindari makanan pembentuk gas (kol, kacang-kacangan, minuman berkarbonasi), perbanyak serat secara bertahap jika terkait konstipasi, pastikan asupan cairan adekuat. 9) Bantu memenuhi kebutuhan eliminasi dengan menyediakan privasi dan posisi yang sesuai. 10) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk penyesuaian diet. 11) Edukasi pasien tentang hubungan antara stres, pola makan, aktivitas, dan ketidaknyamanan abdomen.
-
Article No. 24222 | 24 Feb 2026
Klinis : KELUHAN SESAK NAFAS KIAN MEBERAT SEJAK 3 HARI YANG LALU, TEKANAN DARAH 130 / 60 MMHG, NADI 90, PERNAFASAN 28 KALI/ MENIT, SATURASI 92, MUAL ADA, NAFSU MAKAN MENURUN, BERAT BADAN MENURUN, BELUM BUANG AIR BESAR SELAMA 7 HARI, PERASAAN GELISAH, SERING TERBANGUN. TERDAPAT BATUK LENDIR SUSAH DIKELUARKAN DAN TENGGOROKAN GATAL
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gagal Napas Akut pada Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dengan Eksaserbasi Akut dan Konstipasi Berat
Kode ICD-10: J44.1 (PPOK dengan eksaserbasi akut) dan R06.03 (Gagal napas akut)
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan perburukan akut (eksaserbasi) dari Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) yang menyebabkan gagal napas akut. PPOK adalah penyakit paru progresif yang ditandai dengan keterbatasan aliran udara persisten, biasanya disebabkan oleh paparan jangka panjang terhadap iritan seperti asap rokok. Eksaserbasi akut ditandai dengan memburuknya gejala pernapasan secara tiba-tiba di luar variasi harian yang biasa, seperti sesak napas yang memberat, batuk dengan peningkatan produksi sputum (lendir sulit dikeluarkan), dan mengi. Gagal napas akut terjadi ketika sistem pernapasan tidak mampu mempertahankan pertukaran gas yang adekuat, ditunjukkan oleh saturasi oksigen rendah (92%) dan frekuensi napas meningkat (28 kali/menit). Gejala tambahan seperti gelisah, sering terbangun, nafsu makan menurun, mual, dan penurunan berat badan dapat terkait dengan hipoksia (kekurangan oksigen) dan beban kerja pernapasan yang meningkat. Konstipasi berat (belum BAB selama 7 hari) dapat menjadi komplikasi dari imobilisasi, dehidrasi, atau efek samping pengobatan, serta memperburuk rasa tidak nyaman dan sesak. Kode J44.1 mengklasifikasikan PPOK dengan eksaserbasi akut, sementara R06.03 secara spesifik menandai adanya gagal napas akut yang mengancam jiwa dan memerlukan intervensi medis segera.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***