Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24361 | 08 Mar 2026
Klinis : Sesak, muntah, lemas, post kejang, pasien sebelumnya sudah pernah periksan ke sp.pd dengan ckd namun beum HD Riw. HT tidak rutin minum obat, CKD KU Sedang GCS E4V5M6 TD: 185/77 mmHg SB: 36,5 C HR: 83x/mnt RR: 15x/mnt SpO2 : 100% Status Generalisata Mata: CA +/+, SI -/- Leher:dbn Thorax: Simetris ka/ki Paru: Sdv +/+, Wh -/- RBH +/+ Abdomen: supel, BU (+), nyeri tekan epigastric (-) Genitalia : Tidak ada kelainan Extremitas Superior: Akral hangat +/+, CRT <2detik, edema -/- Extremitas Inferior: Akral hangat +/+, CRT <2detik,edema -/- Lab (05/03) --> (06/03) Post TRF PRC on HD I Hb 3.9 --> 7.38 AE 1.39 --> 2.66 Hmt 11.4 --> 21.1 AL 7.38 --> 7.71 AT 244 --> 120 GDS 162 Ur 365.9 --> 154.1 Kr 24.11 --> 10.58 HbsAg (-) Anti-HIV NR Anti HCV (-) Fungsi Hepar (05/03) SGOT 17 SGPT 13 GDS Stik (06/03) : 118 mg/dL
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakadekuatan volume darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Curah jantung membaik. Ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang normal yang diharapkan, 2) Denyut nadi dalam rentang normal yang diharapkan, 3) Nadi perifer teraba kuat dan simetris, 4) Kulit hangat dan kering, 5) Tidak ada edema paru, 6) Tidak ada dispneu/ortopneu, 7) Tidak ada penurunan kesadaran, 8) Haluaran urine adekuat, 9) Nilai laboratorium terkait dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : 1. Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) dan saturasi oksigen. 2. Monitor status hemodinamik (CVP, tekanan arteri jika terpasang). 3. Monitor status pernapasan (irama, kedalaman, usaha napas, bunyi napas). 4. Monitor status sirkulasi (warna, suhu, kelembaban kulit, pengisian kapiler, nadi perifer). 5. Monitor status neurologis (tingkat kesadaran, orientasi, GCS). 6. Monitor keseimbangan cairan (balance intake dan output, berat badan harian, tanda kelebihan atau kekurangan cairan). 7. Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai kebutuhan. 8. Kolaborasi pemberian terapi farmakologi (inotropik, vasodilator, diuretik) sesuai program. 9. Atur posisi pasien untuk memaksimalkan pernapasan dan kenyamanan (misalnya, semi-Fowler). 10. Batasi aktivitas fisik dan anjurkan tirah baring sesuai kondisi. 11. Berikan dukungan psikologis dan edukasi pada pasien serta keluarga tentang kondisi dan penatalaksanaannya.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau yang diinginkan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Toleransi aktivitas membaik. Ditandai dengan: 1) Mampu melakukan aktivitas sesuai kemampuan, 2) Tanda vital dalam batas normal selama dan setelah aktivitas, 3) Tidak mengeluh lemas, 4) Tidak mengalami sesak napas selama dan setelah aktivitas, 5) Tidak mengalami nyeri dada selama dan setelah aktivitas.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : 1. Monitor respons pasien terhadap aktivitas (tanda vital, keluhan sesak, lelah, nyeri dada). 2. Kaji faktor penyebab intoleransi aktivitas (kelemahan, nyeri, gangguan pola tidur, gangguan sistem pernapasan/kardiovaskular). 3. Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas yang dapat dan tidak dapat dilakukan. 4. Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan setelah aktivitas. 5. Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. 6. Anjurkan aktivitas secara bertahap (latihan rentang gerak pasif/aktif, duduk di tepi tempat tidur, ambulasi sesuai toleransi). 7. Atur lingkungan untuk memudahkan pasien dalam beraktivitas. 8. Kolaborasi pemberian terapi oksigen selama aktivitas jika diperlukan. 9. Edukasi pasien dan keluarga tentang teknik penghematan energi dan pentingnya keseimbangan aktivitas-istirahat.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Keseimbangan volume cairan membaik. Ditandai dengan: 1) Tanda vital dalam rentang normal, 2) Mukosa bibir lembab, 3) Turgor kulit baik, 4) Tidak ada edema, 5) Balance cairan seimbang, 6) Berat badan stabil, 7) Elektrolit dalam rentang normal.
Kode SIKI: I.06001
Deskripsi : 1. Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) dan suhu. 2. Monitor status hidrasi (turgor kulit, mukosa mulut, rasa haus, produksi air mata). 3. Monitor balance cairan (catat intake dan output secara akurat setiap 24 jam). 4. Monitor berat badan harian dengan timbangan yang sama, waktu yang sama, dan pakaian yang sama. 5. Monitor tanda kelebihan cairan (edema, distensi vena leher, bunyi napas crackles, sesak napas, peningkatan tekanan darah). 6. Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (elektrolit, ureum, kreatinin, hematokrit). 7. Kolaborasi pembatasan asupan cairan sesuai program terapi (pada kondisi overload cairan). 8. Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai program (jika diperlukan). 9. Kolaborasi pelaksanaan hemodialisis sesuai jadwal. 10. Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya pembatasan cairan dan diet sesuai kondisi penyakit ginjal kronik.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap cedera fisik yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: L.19001
Deskripsi : Risiko cedera menurun. Ditandai dengan: 1) Lingkungan aman dan bebas bahaya, 2) Tidak ada cedera, 3) Menggunakan alat bantu dengan tepat, 4) Keluarga memahami upaya pencegahan cedera.
Kode SIKI: I.19001
Deskripsi : 1. Identifikasi faktor risiko cedera pada pasien (riwayat kejang, lemas, penurunan kesadaran, hipotensi ortostatik pasca dialisis, gangguan penglihatan). 2. Monitor status neurologis (tingkat kesadaran, GCS) secara berkala. 3. Pastikan lingkungan aman (pagar tempat tidur terpasang, lantai tidak licin, pencahayaan cukup, barang-barang dalam jangkauan). 4. Gunakan restraint yang aman sesuai indikasi dan kebijakan. 5. Bantu pasien dalam mobilisasi dan aktivitas untuk mencegah jatuh. 6. Anjurkan pasien meminta bantuan saat akan berpindah atau beraktivitas jika merasa lemas. 7. Kolaborasi pemberian terapi antikejang jika diperlukan. 8. Edukasi pasien dan keluarga tentang faktor risiko cedera dan langkah pencegahannya. 9. Pasang tanda risiko jatuh di dekat tempat tidur pasien.
-
Article No. 24362 | 08 Mar 2026
Klinis : Nyeri paha kanan Status Lokalis_ R. Femur (D) L: Open wound (-), hiperemis (-), ekimosis (-), swelling (+), deformitas (+) F: NT (+), krepitasi (+), tidak terdapat neurovascular disturbance, CRT < 2 detik M: ROM terbatas nyeri
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang diperkirakan atau dapat diprediksi dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Pengendalian Nyeri: Tindakan untuk mengontrol dan mengurangi nyeri. SLKI ini memiliki beberapa indikator, di antaranya: 1) Melaporkan nyeri terkontrol; 2) Mendemonstrasikan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri; 3) Mematuhi regimen farmakologis yang diresepkan; 4) Fungsi fisik dan psikologis tetap terjaga; 5) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. Pada pasien dengan fraktur femur, tujuan utamanya adalah mencapai tingkat kenyamanan yang dapat diterima pasien, yang ditunjukkan dengan skala nyeri yang menurun, mampu beristirahat, dan berpartisipasi dalam terapi fisik yang diperlukan.
Kode SIKI: I.08079
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Memberikan tindakan untuk meringankan nyeri. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis yang dilakukan perawat. Pertama, Pengkajian Nyeri Komprehensif: Mengkaji karakteristik nyeri (lokasi, intensitas dengan skala, kualitas, durasi, faktor pencetus dan pereda) secara berkala. Pada kasus fraktur femur, nyeri biasanya bersifat tajam, berat, diperburuk oleh gerakan, dan disertai dengan tanda fisik seperti swelling dan deformitas. Kedua, Intervensi Farmakologis: Memberikan analgetik sesuai resep (seperti NSAID atau opioid) dengan mempertimbangkan waktu pemberian (misalnya, sebelum latihan atau perawatan) dan memantau efek samping. Ketiga, Intervensi Nonfarmakologis: Menerapkan teknik seperti imobilisasi bagian yang sakit dengan bidai atau traksi, reposisi dengan hati-hati, kompres dingin untuk mengurangi pembengkakan dan nyeri, serta teknik distraksi atau relaksasi. Keempat, Edukasi: Memberikan penjelasan tentang penyebab nyeri, perkiraan durasi, dan pentingnya melaporkan nyeri secara dini. Kelima, Evaluasi: Memantau dan mendokumentasikan respons pasien terhadap intervensi yang diberikan, termasuk perubahan skala nyeri, tanda vital, dan kemampuan mobilitas. Pendekatan multimodal (gabungan obat dan non-obat) sangat penting untuk manajemen nyeri fraktur yang efektif.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: D.0011
Deskripsi Singkat: Keterbatasan dalam pergerakan fisik secara mandiri yang disengaja.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Kemampuan Mobilisasi: Tindakan untuk mengubah atau mempertahankan posisi tubuh. Indikatornya meliputi: 1) Melakukan perubahan posisi; 2) Melakukan transfer dengan bantuan; 3) Melakukan ambulasi dengan bantuan; 4) Menggunakan alat bantu mobilisasi dengan tepat; 5) Mempertahankan posisi tubuh yang align. Pada pasien fraktur femur, tujuan realistis awal adalah pasien dapat melakukan perubahan posisi di tempat tidur dengan bantuan, melakukan transfer dari tempat tidur ke kursi roda dengan aman menggunakan alat bantu dan bantuan perawat, serta menjaga alignment ekstremitas yang cidera selama mobilisasi.
Kode SIKI: I.09023
Deskripsi : Manajemen Mobilisasi: Membantu pasien untuk mengubah posisi atau berpindah tempat. Intervensi ini dimulai dengan Pengkajian Kemampuan dan Hambatan: Menilai kekuatan otot, rentang gerak (ROM), tingkat nyeri, keseimbangan, dan faktor psikologis seperti ketakutan untuk bergerak. Pada fraktur femur, ROM terbatas dan nyeri adalah hambatan utama. Selanjutnya, Perencanaan Mobilisasi: Berkolaborasi dengan tim fisioterapi untuk membuat rencana mobilisasi bertahap, dimulai dari latihan di tempat tidur (seperti ankle pump) hingga ambulasi parsial dengan weight-bearing sesuai izin. Implementasi: Membantu pasien dalam perubahan posisi setiap 2 jam untuk mencegah dekubitus, menggunakan teknik yang aman untuk menjaga alignment tulang (misalnya, log-roll), dan menggunakan alat bantu mekanik seperti trapeze bar. Melakukan transfer dengan teknik yang benar, misalnya menggunakan gait belt dan kursi roda. Mengajarkan dan mendampingi pasien dalam penggunaan alat bantu jalan (walker atau kruk) dengan pembebanan berat badan yang ditentukan. Edukasi dan Keamanan: Memberikan instruksi tentang pembatasan gerakan, pentingnya mobilisasi dini yang aman untuk mencegah komplikasi (seperti trombosis, pneumonia, atrofi otot), serta memastikan lingkungan aman dari hambatan untuk mencegah jatuh. Evaluasi: Memantau toleransi pasien terhadap aktivitas, adanya peningkatan nyeri, dan kepatuhan terhadap protokol pembebanan berat badan.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons tubuh terhadap patogen.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Tindakan untuk mencegah dan mendeteksi dini infeksi. Indikatornya antara lain: 1) Tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi; 2) Melakukan perilaku pencegahan infeksi; 3) Mempertahankan integritas kulit; 4) Mempertahankan status nutrisi yang adekuat; 5) Suhu tubuh dalam rentang normal. Pada pasien dengan fraktur tertutup yang akan atau telah menjalani tindakan operatif (seperti ORIF), tujuan utamanya adalah mencegah terjadinya infeksi luka operasi atau infeksi sistemik, yang ditandai dengan tidak adanya demam, tidak adanya kemerahan, bengkak, hangat, atau drainase purulen di area cidera, serta nilai laboratorium (seperti leukosit) dalam batas normal.
Kode SIKI: I.15070
Deskripsi : Pengawasan Infeksi: Mengidentifikasi faktor risiko dan deteksi dini infeksi. Intervensi ini bersifat preventif dan monitoring. Pengkajian Risiko: Mengidentifikasi faktor risiko seperti prosedur invasif (pemasangan akses IV, kateter, atau operasi), kerusakan integritas kulit (walaupun open wound negatif, swelling dan deformitas menunjukkan trauma jaringan), dan status imun pasien. Pencegahan: Menerapkan prinsip aseptik ketat dalam semua prosedur perawatan luka atau invasif. Pada pasien pra-operasi, memastikan kulit area operasi bersih. Pada pasien pasca-operasi, melakukan perawatan luka sesuai protokol dengan memantau tanda infeksi. Mendorong intake nutrisi tinggi protein dan vitamin C untuk penyembuhan. Pemantauan dan Deteksi Dini: Memantau tanda-tanda vital secara teratur, terutama suhu tubuh. Mengobservasi area fraktur (walaupun tertutup) untuk mendeteksi perubahan seperti peningkatan swelling, kemerahan, rasa hangat, atau nyeri yang bertambah. Memantau hasil laboratorium seperti hitung leukosit dan LED. Mengajarkan pada pasien dan keluarga tanda-tanda infeksi yang harus dilaporkan segera. Kolaborasi: Berkolaborasi dalam pemberian antibiotik profilaksis jika diresepkan. Intervensi ini sangat kritis karena infeksi pada tulang (osteomielitis) merupakan komplikasi serius yang sulit ditangani pada fraktur.
-
Article No. 24364 | 08 Mar 2026
Klinis : pemantauan tekanan intrakranial (I.06198)
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Pemantauan Tekanan Intrakranial
Kode ICD-10: Z01.818
Deskripsi Singkat : Kode Z01.818 digunakan untuk mencatat kunjungan pasien yang menjalani pemeriksaan khusus lainnya, dalam hal ini adalah pemantauan tekanan intrakranial (TIK). Ini adalah kode faktor kontak/penyebab eksternal, bukan kode untuk penyakit atau cedera itu sendiri. Pemantauan TIK adalah prosedur medis penting yang dilakukan untuk mengukur tekanan di dalam rongga tengkorak, biasanya pada pasien dengan cedera otak traumatis berat, perdarahan intrakranial, tumor otak, atau hidrosefalus. Prosedur ini melibatkan penempatan sensor (transduser) di dalam atau di luar otak untuk memberikan pembacaan tekanan secara berkelanjutan. Data yang diperoleh sangat kritis untuk menilai keparahan kondisi, memandu pengobatan (seperti pemberian obat diuretik atau keputusan untuk operasi), dan mencegah kerusakan otak lebih lanjut akibat tekanan tinggi yang dapat mengganggu aliran darah dan fungsi otak. Kode ini dicatat dalam rekam medis untuk mendokumentasikan alasan spesifik dari kontak dengan layanan kesehatan tersebut, terlepas dari diagnosis penyakit yang mendasarinya.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24365 | 08 Mar 2026
Klinis : masyarakat masih membuang sampah di sungai ataupun dibakar
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Paparan Polusi Udara dari Sumber Komunitas
Kode ICD-10: Z58.6
Deskripsi Singkat : Kode Z58.6 mengindikasikan "Kontak dengan layanan kesehatan karena paparan polusi udara dari sumber komunitas". Kondisi ini merujuk pada situasi di mana individu atau masyarakat terpapar polutan udara yang berasal dari praktik pembuangan sampah yang tidak tepat, seperti pembakaran sampah di tempat terbuka atau pembuangan ke badan air yang menyebabkan pencemaran udara sekunder. Paparan ini dapat menyebabkan atau memperburuk berbagai masalah kesehatan, termasuk iritasi saluran pernapasan (mata, hidung, tenggorokan), eksaserbasi asma, bronkitis, dan meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular serta kanker dalam jangka panjang. Asap dari pembakaran sampah mengandung partikel halus (PM2.5/PM10), karbon monoksida, dioksin, furan, dan senyawa organik volatil berbahaya. Penggunaan kode ini tepat dalam konteks rekam medis untuk menandai alasan kontak dengan layanan kesehatan yang terkait dengan faktor risiko lingkungan ini, meskipun belum tentu ada diagnosis penyakit spesifik. Kode ini berada di bawah bab "Faktor-faktor yang mempengaruhi status kesehatan dan kontak dengan layanan kesehatan", sehingga lebih menggambarkan faktor risiko atau alasan konsultasi daripada penyakit itu sendiri.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24366 | 08 Mar 2026
Klinis : Wawancara : Hasil wawancara dengan orang tua menunjukkan bahwa anak sering bermain di tepi sungai tanpa pengawasan karena sebagian besar orang tua bekerja sebagai buruh harian hingga sore hari. Orang tua juga mengatakan beberapa anak pernah jatuh, terluka, bahkan hampir tenggelam saat bermain di sekitar sungai. Selain itu, orang tua mengaku belum mengetahui cara pencegahan cedera pada anak dan belum pernah mendapatkan penyuluhan mengenai keselamatan anak. Ketua RT menyatakan bahwa belum pernah ada program keselamatan anak di wilayah tersebut, dan kader posyandu juga menyampaikan bahwa tidak tersedia area bermain khusus yang aman bagi anak di lingkungan tersebut. Angket/Data Sekunder : Berdasarkan survei komunitas menunjukkan bahwa terdapat sekitar 60 anak usia 5–10 tahun di wilayah tersebut, dengan 70% orang tua bekerja di luar rumah pada siang hingga sore hari sehingga pengawasan terhadap anak menjadi terbatas. Hasil survei juga menunjukkan bahwa sebanyak 33% anak mengalami cedera ringan hingga sedang dalam enam bulan terakhir, lima anak pernah dirujuk ke Puskesmas akibat cedera, dan dua anak pernah hampir tenggelam saat bermain di sungai. Observasi Hasil observasi menunjukkan bahwa area sekitar sungai tidak memiliki pagar pengaman, permukaan tanah di sekitar sungai licin dan berbatu sehingga berisiko menyebabkan anak terpeleset. Tidak terdapat rambu peringatan bahaya di sekitar sungai maupun rambu lalu lintas di jalan lingkungan yang ramai kendaraan. Lingkungan juga tidak memiliki area bermain yang aman bagi anak serta tidak ditemukan media informasi atau poster mengenai keselamatan anak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera pada Anak
Kode SDKI: 00039
Deskripsi Singkat: Risiko cedera adalah keadaan rentan terhadap cedera fisik yang dapat mengancam jiwa atau mengganggu kesehatan, yang dapat terjadi karena ketidakmampuan untuk melindungi diri sendiri secara efektif dari sumber bahaya internal atau eksternal. Pada kasus ini, risiko cedera pada anak-anak di komunitas tersebut sangat tinggi karena interaksi antara faktor individu (usia anak 5-10 tahun yang aktif dan belum memiliki kesadaran bahaya yang matang), faktor pengasuhan (pengawasan terbatas karena orang tua bekerja), dan faktor lingkungan yang sangat berbahaya (sungai tanpa pagar dan rambu, jalan ramai, tidak ada area bermain aman). Data menunjukkan manifestasi nyata dari risiko ini, seperti cedera yang dialami 33% anak dan kejadian hampir tenggelam. Diagnosa ini menegaskan tanggung jawab perawat komunitas untuk melakukan intervensi yang menargetkan ketiga faktor tersebut secara holistik.
Kode SLKI: 1937
Deskripsi : SLKI 1937 berfokus pada upaya pencegahan cedera. Intervensi keperawatan yang direncanakan harus mencakup: (1) Edukasi kepada orang tua dan pengasuh tentang bahaya lingkungan spesifik (sungai, jalan) dan strategi pengawasan alternatif, meski mereka bekerja. (2) Edukasi kepada anak-anak usia sekolah tentang keselamatan diri, bahaya bermain di sungai, dan cara bermain aman menggunakan metode yang sesuai usia (misal, bermain peran, gambar). (3) Memfasilitasi dan mengadvokasi pembuatan atau penyediaan lingkungan yang lebih aman. Ini termasuk merencanakan program bersama ketua RT dan kader untuk memasang rambu peringatan sederhana di titik rawan, mengusulkan pembuatan pagar darurat atau pembatas alami, serta mengidentifikasi lahan yang bisa dijadikan area bermain sementara yang aman. (4) Memberdayakan kader posyandu dan tokoh masyarakat untuk menjadi agen penyebar informasi keselamatan anak dan melakukan pemantauan sederhana. (5) Mengembangkan dan menyebarkan media informasi (poster, selebaran) tentang pencegahan cedera yang ditempatkan di titik strategis seperti posyandu dan rumah warga. Tujuan akhir SLKI ini adalah menurunkan angka kejadian cedera pada anak di wilayah tersebut melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, dan modifikasi lingkungan.
Kode SIKI: 4601
Deskripsi : SIKI 4601 mengukur keberhasilan dari SLKI 1937 dengan menilai peningkatan pengetahuan dan perilaku keluarga serta komunitas dalam mencegah cedera. Kriteria evaluasinya meliputi: (1) Pengetahuan: Orang tua dan anak dapat menyebutkan minimal 3 sumber bahaya di lingkungan mereka dan cara menghindarinya. Orang tua memahami strategi pengawasan alternatif (misal, sistem ronda bergilir antar tetangga, penunjukan pengasuh bersama). (2) Perilaku: Terjadi penurunan frekuensi anak bermain di tepi sungai yang diamati oleh kader. Orang tua melaporkan penerapan pengawasan yang lebih ketat atau alternatif pengasuhan saat bekerja. (3) Lingkungan: Terpasangnya rambu peringatan bahaya buatan komunitas di area sungai dan jalan rawan. Tersedianya media informasi keselamatan di posyandu atau titik kumpul warga. Teridentifikasinya atau teralokasinya sebuah area yang disepakati sebagai tempat bermain yang lebih aman. (4) Kelembagaan: Terbentuknya kesepakatan atau program keselamatan anak sederhana di tingkat RT, seperti komitmen untuk patroli warga atau sosialisasi rutin. Kader posyandu aktif menyampaikan pesan keselamatan dalam setiap pertemuan. (5) Outcome: Tidak ada laporan cedera baru yang serius pada anak di wilayah tersebut dalam periode pemantauan. Indikator ini dinilai melalui wawancara ulang, observasi lingkungan, dan data sekunder dari catatan posyandu atau Puskesmas.
-
Article No. 24367 | 08 Mar 2026
Klinis : Wawancara : Hasil wawancara dengan orang tua menunjukkan bahwa anak sering bermain di tepi sungai tanpa pengawasan karena sebagian besar orang tua bekerja sebagai buruh harian hingga sore hari. Orang tua juga mengatakan beberapa anak pernah jatuh, terluka, bahkan hampir tenggelam saat bermain di sekitar sungai. Selain itu, orang tua mengaku belum mengetahui cara pencegahan cedera pada anak dan belum pernah mendapatkan penyuluhan mengenai keselamatan anak. Ketua RT menyatakan bahwa belum pernah ada program keselamatan anak di wilayah tersebut, dan kader posyandu juga menyampaikan bahwa tidak tersedia area bermain khusus yang aman bagi anak di lingkungan tersebut. Angket/Data Sekunder : Berdasarkan survei komunitas menunjukkan bahwa terdapat sekitar 60 anak usia 5–10 tahun di wilayah tersebut, dengan 70% orang tua bekerja di luar rumah pada siang hingga sore hari sehingga pengawasan terhadap anak menjadi terbatas. Hasil survei juga menunjukkan bahwa sebanyak 33% anak mengalami cedera ringan hingga sedang dalam enam bulan terakhir, lima anak pernah dirujuk ke Puskesmas akibat cedera, dan dua anak pernah hampir tenggelam saat bermain di sungai. Observasi Wawancara : Hasil wawancara dengan orang tua menunjukkan bahwa anak sering bermain di tepi sungai tanpa pengawasan karena sebagian besar orang tua bekerja sebagai buruh harian hingga sore hari. Orang tua juga mengatakan beberapa anak pernah jatuh, terluka, bahkan hampir tenggelam saat bermain di sekitar sungai. Selain itu, orang tua mengaku belum mengetahui cara pencegahan cedera pada anak dan belum pernah mendapatkan penyuluhan mengenai keselamatan anak. Ketua RT menyatakan bahwa belum pernah ada program keselamatan anak di wilayah tersebut, dan kader posyandu juga menyampaikan bahwa tidak tersedia area bermain khusus yang aman bagi anak di lingkungan tersebut. Angket/Data Sekunder : Berdasarkan survei komunitas menunjukkan bahwa terdapat sekitar 60 anak usia 5–10 tahun di wilayah tersebut, dengan 70% orang tua bekerja di luar rumah pada siang hingga sore hari sehingga pengawasan terhadap anak menjadi terbatas. Hasil survei juga menunjukkan bahwa sebanyak 33% anak mengalami cedera ringan hingga sedang dalam enam bulan terakhir, lima anak pernah dirujuk ke Puskesmas akibat cedera, dan dua anak pernah hampir tenggelam saat bermain di sungai. Observasi Hasil observasi menunjukkan bahwa area sekitar sungai tidak memiliki pagar pengaman, permukaan tanah di sekitar sungai licin dan berbatu sehingga berisiko menyebabkan anak terpeleset. Tidak terdapat rambu peringatan bahaya di sekitar sungai maupun rambu lalu lintas di jalan lingkungan yang ramai kendaraan. Lingkungan juga tidak memiliki area bermain yang aman bagi anak serta tidak ditemukan media informasi atau poster mengenai keselamatan anak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Cedera pada Anak
Kode SDKI: 0029
Deskripsi Singkat: Risiko meningkat terhadap respons fisiologis dan psikologis yang mengancam integritas seseorang akibat interaksi dengan lingkungan fisik yang berbahaya, kurangnya pengawasan, dan kurangnya pengetahuan tentang pencegahan cedera.
Kode SLKI: 4301
Deskripsi : Keamanan Lingkungan Fisik: Tindakan untuk memodifikasi lingkungan fisik untuk meminimalkan cedera dan meningkatkan keselamatan. Berdasarkan data, lingkungan fisik sangat berisiko dengan adanya sungai tanpa pagar pengaman, permukaan licin dan berbatu, tidak ada rambu peringatan, serta tidak tersedianya area bermain yang aman. SLKI ini akan fokus pada upaya kolaboratif dengan komunitas (orang tua, ketua RT, kader) untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman. Intervensi dapat mencakup advokasi untuk pemasangan pagar sementara atau rambu peringatan bahaya di area sungai, identifikasi dan pengadaan lahan untuk area bermain aman, serta sosialisasi pentingnya pengawasan terhadap bahaya lingkungan. Tujuannya adalah mengurangi akses langsung anak ke sumber bahaya (sungai) dan menyediakan alternatif tempat bermain yang lebih terkontrol.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Edukasi Keselamatan: Memberikan informasi dan pelatihan untuk mencegah, mengenali, dan merespons faktor risiko di lingkungan. Data menunjukkan defisit pengetahuan yang signifikan: orang tua belum mengetahui cara pencegahan cedera dan belum pernah mendapat penyuluhan, tidak ada program keselamatan anak di wilayah, dan tidak ada media informasi. SIKI ini akan dilaksanakan melalui penyuluhan kelompok (misalnya di posyandu atau pertemuan warga) yang membahas bahaya bermain di sungai, pentingnya pengawasan aktif dan pengawasan oleh pengganti (saat orang tua bekerja), cara pencegahan cedera domestik dan lingkungan, serta teknik pertolongan pertama dasar. Materi edukasi akan disesuaikan dengan tingkat literasi orang tua dan menggunakan media yang mudah dipahami (poster, demonstrasi). Perawat juga akan melatih kader posyandu sebagai agen perubahan yang dapat terus mengingatkan warga. Edukasi bertujuan meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan orang tua serta pengasuh dalam melindungi anak dari cedera, sehingga dapat mengubah perilaku pengasuhan dan pengawasan.
-
Article No. 24368 | 08 Mar 2026
Klinis : masyarakat masih membuang sampah di sungai ataupun dibakar
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Kesehatan Lingkungan dan Potensi Cedera pada Masyarakat akibat Praktik Pembuangan Sampah yang Tidak Aman
Kode SDKI: 0302
Deskripsi Singkat: Risiko Kerusakan Lingkungan
Kode SLKI: 4301
Deskripsi : Pengendalian Risiko Lingkungan
Kode SIKI: 4301A
Deskripsi : Mengidentifikasi faktor risiko lingkungan
Kode SIKI: 4301B
Deskripsi : Memantau faktor risiko lingkungan
Kode SIKI: 4301C
Deskripsi : Melindungi dari faktor risiko lingkungan
Kode SIKI: 4301D
Deskripsi : Mengurangi faktor risiko lingkungan
Kode SIKI: 4301E
Deskripsi : Mengevaluasi perkembangan pengendalian risiko lingkungan
Kondisi: Kurangnya Pengetahuan Masyarakat tentang Pengelolaan Sampah yang Benar dan Dampaknya terhadap Kesehatan
Kode SDKI: 0182
<>Deskripsi Singkat: Kurang Pengetahuan
Kode SLKI: 3210
Deskripsi : Peningkatan Pengetahuan
Kode SIKI: 3210A
Deskripsi : Menilai kesiapan belajar
Kode SIKI: 3210B
Deskripsi : Menentukan kebutuhan belajar
Kode SIKI: 3210C
Deskripsi : Menetapkan tujuan belajar
Kode SIKI: 3210D
Deskripsi : Melaksanakan pendidikan kesehatan
Kode SIKI: 3210E
Deskripsi : Mengevaluasi hasil belajar
Kondisi: Potensi Gangguan Pernapasan dan Iritasi pada Masyarakat akibat Polusi Udara dari Pembakaran Sampah
Kode SDKI: 0101
<>Deskripsi Singkat: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SLKI: 3101
Deskripsi : Pemeliharaan Bersihan Jalan Napas
Kode SIKI: 3101A
Deskripsi : Memantau status pernapasan
Kode SIKI: 3101B
Deskripsi : Memposisikan untuk memaksimalkan ventilasi
Kode SIKI: 3101C
Deskripsi : Mengajarkan batuk efektif dan latihan nafas dalam
Kode SIKI: 3101D
Deskripsi : Mengelola lingkungan untuk mengurangi polutan udara
Kode SIKI: 3101E
Deskripsi : Mengevaluasi perkembangan bersihan jalan napas
-
Article No. 24369 | 08 Mar 2026
Klinis : Defisit Kesehatan Komunitas (D.0110)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Kesehatan Komunitas
Kode SDKI: D.0110
Deskripsi Singkat: Suatu keadaan ketika komunitas atau kelompok masyarakat tidak mampu mencapai tingkat kesehatan yang optimal karena ketidakmampuan dalam mengidentifikasi, mengelola, dan/atau memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan kesehatan mereka. Defisit ini mencerminkan adanya kesenjangan antara status kesehatan aktual dengan potensi kesehatan yang dapat dicapai oleh komunitas tersebut.
Kode SLKI: L.01101
Deskripsi : Komunitas mampu mengidentifikasi masalah kesehatan. Perawat membantu komunitas dalam proses pengkajian untuk mengenali dan merumuskan masalah kesehatan yang mereka hadapi, termasuk faktor-faktor determinan sosial yang mempengaruhinya. Intervensi difokuskan pada peningkatan kesadaran, partisipasi dalam pengumpulan data sederhana (seperti wawancara atau observasi lingkungan), dan analisis bersama untuk memahami akar permasalahan. Tujuannya adalah membangun kesadaran kolektif bahwa suatu masalah kesehatan memang ada dan perlu ditangani secara bersama-sama.
Kode SIKI: I.01101
Deskripsi : Fasilitasi pengkajian komunitas. Perawat bertindak sebagai fasilitator dan mitra bagi komunitas. Kegiatan yang dilakukan meliputi: (1) Membangun kemitraan dan trust dengan tokoh masyarakat, kader, dan anggota komunitas. (2) Melakukan pengkajian partisipatif bersama komunitas, seperti pemetaan wilayah, transek jalan, diskusi kelompok terarah (FGD), atau wawancara mendalam. (3) Membantu komunitas mengumpulkan data tentang status kesehatan (misalnya, angka ISPA, diare, gizi kurang), lingkungan fisik (sumber air, sanitasi, pembuangan sampah), dan sumber daya yang dimiliki (manusia, kelembagaan, finansial). (4) Memfasilitasi analisis sederhana terhadap data yang terkumpul untuk mengidentifikasi pola, penyebab, dan dampak masalah kesehatan. (5) Memberikan pendidikan kesehatan tentang determinan kesehatan untuk meningkatkan pemahaman komunitas. (6) Mendokumentasikan temuan secara partisipatif sebagai bahan advokasi dan perencanaan. Intervensi ini menekankan prinsip pemberdayaan, di mana perawat tidak datang sebagai "ahli" yang memberi solusi instan, tetapi sebagai pendamping yang mengaktifkan kemampuan komunitas untuk memahami situasi mereka sendiri, sehingga proses pengkajian itu sendiri merupakan langkah awal pemberdayaan.
-
Article No. 24371 | 08 Mar 2026
Klinis : pasien dengan TBC
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien dengan Tuberkulosis (TBC)
Kode SDKI: D.0008
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: L.03104
Deskripsi : Pengendalian Infeksi
Kode SIKI: I.01224
Deskripsi : Edukasi Pasien
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI - D.0008: Risiko Infeksi):
Diagnosa keperawatan "Risiko Infeksi" dipilih untuk pasien Tuberkulosis karena penyakit ini disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Risiko infeksi dalam konteks ini memiliki dua dimensi utama. Pertama, risiko penyebaran infeksi dari pasien ke orang lain (infeksi nosokomial dan komunitas) karena kuman TBC ditularkan melalui udara (airborne). Kedua, risiko pasien mengalami infeksi sekunder atau komplikasi akibat status imunologisnya yang mungkin terganggu oleh penyakit atau faktor lain seperti malnutrisi yang sering menyertai TBC. Defisit utama yang mendasari diagnosa ini adalah ketidakmampuan tubuh untuk melawan agen patogen secara adekuat, ditambah dengan adanya agen infeksius yang virulen dan mudah menyebar. Fokus perawat adalah mencegah penularan dan melindungi pasien dari infeksi tambahan yang dapat memperburuk kondisinya.
Luaran Keperawatan (SLKI - L.03104: Pengendalian Infeksi):
Luaran "Pengendalian Infeksi" merupakan tujuan yang ingin dicapai dari intervensi keperawatan. Pada pasien TBC, luaran ini diharapkan tercapai dengan kriteria: (1) Pasien dan keluarga memahami dan menerapkan tindakan pencegahan penularan (seperti etika batuk, penggunaan masker, ventilasi udara yang baik). (2) Tidak terjadi penularan infeksi TBC kepada pengunjung, tenaga kesehatan, atau pasien lain. (3) Tanda-tanda vital pasien dalam batas normal, tidak menunjukkan tanda infeksi sekunder seperti demam yang memberat. (4) Hasil pemeriksaan dahak (BTA) menunjukkan konversi dari positif menjadi negatif setelah pengobatan fase intensif, menandakan bahwa infeksi telah terkendali. Pengukuran luaran ini dilakukan melalui observasi kepatuhan isolasi, pemeriksaan laboratorium, dan monitoring tanda klinis. Targetnya adalah memutus rantai penularan dan mencapai kesembuhan infeksi aktif.
Intervensi Keperawatan (SIKI - I.01224: Edukasi Pasien):
Intervensi utama yang krusial untuk menangani "Risiko Infeksi" pada pasien TBC adalah "Edukasi Pasien". Edukasi ini bersifat komprehensif dan meliputi beberapa aspek kunci: Pertama, edukasi tentang penyakit, meliputi penyebab, cara penularan, gejala, dan pentingnya pengobatan hingga tuntas untuk mencegah kekambuhan dan resistensi obat (TBC-MDR). Kedua, edukasi perilaku pencegahan penularan, yaitu mengajarkan etika batuk/bersin (menutup mulut dengan tisu atau lengan baju), pembuangan dahak dan tisu yang aman, pentingnya penggunaan masker terutama di tempat umum, serta menjaga ventilasi dan pencahayaan matahari di rumah. Ketiga, edukasi terkait pengobatan, yaitu penjelasan tentang jenis obat, dosis, efek samping (seperti gangguan penglihatan, hepatitis, neuropati), dan konsekuensi fatal jika berhenti minum obat sendiri. Perawat perlu memastikan pemahaman pasien tentang DOT (Directly Observed Treatment) dimana pengobatan harus disaksikan untuk memastikan kepatuhan. Keempat, edukasi tentang pola hidup sehat seperti nutrisi tinggi kalori dan protein untuk meningkatkan daya tahan tubuh, istirahat yang cukup, serta tidak merokok dan minum alkohol. Perawat juga mendukung secara psikologis untuk mengurangi stigma dan meningkatkan motivasi sembuh. Intervensi ini dilakukan secara berkelanjutan, disesuaikan dengan tingkat pendidikan pasien, dan melibatkan keluarga sebagai pendukung. Keberhasilan intervensi ini secara langsung berdampak pada pencapaian luaran Pengendalian Infeksi dan akhirnya menurunkan Risiko Infeksi.
-
Article No. 24372 | 08 Mar 2026
Klinis : • Pasien mengatakan pusing. • Pasien mengatakan pandangan agak kabur. • Pasien mengatakan merasa lemah dan letih. Data Objektif (DO): • Hb 5,9 g/dl • Konjungtiva tampak anemis • Pasien tampak pucat • TD 90/68 mmHg • Kulit tampak kering dan bersisik • Turgor kulit menurun • Kekuatan otot menurun pada ekstremitas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman ketidakcukupan energi fisik atau emosional untuk memenuhi atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diinginkan atau diperlukan.
Kode SLKI: L.03108
Deskripsi : Intoleransi aktivitas teratasi dengan kriteria hasil: 1) Pasien melaporkan peningkatan toleransi aktivitas. 2) Menunjukkan peningkatan kekuatan otot. 3) Tanda-tanda vital dalam rentang yang diharapkan selama dan setelah aktivitas. 4) Tidak mengalami kelelahan yang berlebihan setelah aktivitas. 5) Dapat melakukan aktivitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuannya. Untuk mencapai hal ini, intervensi keperawatan difokuskan pada manajemen energi, memantau respons fisiologis terhadap aktivitas, dan edukasi pasien serta keluarga tentang teknik penghematan energi dan perencanaan aktivitas yang realistis berdasarkan kondisi anemia berat.
Kode SIKI: I.01224
Deskripsi : Manajemen Energi adalah intervensi keperawatan yang terencana untuk mengatur penggunaan energi guna memperlambat kelelahan dan meningkatkan fungsi. Tindakan ini meliputi: 1) Mengkaji faktor penyebab kelelahan (seperti anemia berat dengan Hb 5,9 g/dl). 2) Memantau tanda-tanda vital sebelum, selama, dan setelah aktivitas (TD 90/68 mmHg menunjukkan risiko hipotensi). 3) Mengatur lingkungan untuk menghemat energi pasien (menempatkan barang-barang yang sering digunakan dalam jangkauan, mengurangi kebisingan). 4) Menjadwalkan periode istirahat yang cukup sebelum dan setelah aktivitas. 5) Membantu pasien dalam mengidentifikasi prioritas aktivitas dan mendelegasikan tugas jika memungkinkan. 6) Mengajarkan teknik penghematan energi (duduk saat melakukan aktivitas, istirahat teratur). 7) Kolaborasi dengan tim gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat guna mendukung produksi energi, dan dengan dokter untuk penatalaksanaan anemia (seperti pemberian transfusi darah atau suplementasi zat besi). 8) Memberikan dukungan emosional dan motivasi kepada pasien untuk meningkatkan partisipasinya dalam aktivitas secara bertahap. Intervensi ini bertujuan memutus siklus kelemahan-istirahat-kelemahan dengan meningkatkan kapasitas fungsional secara aman.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0002
Deskripsi Singkat: Risiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular.
Kode SLKI: L.03002
Deskripsi : Keseimbangan cairan dan elektrolit dipertahankan dengan kriteria hasil: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal (TD 90/68 mmHg masih menunjukkan hipotensi yang perlu dipantau). 2) Turgor kulit membaik (saat ini menurun). 3) Membran mukosa lembab. 4) Tidak ada tanda dehidrasi atau kelebihan cairan. 5) Asupan dan haluaran cairan seimbang. Intervensi keperawatan diarahkan untuk memantau status hidrasi, memberikan cairan sesuai kebutuhan, dan mencegah komplikasi lebih lanjut dari hipovolemia yang mungkin terjadi bersamaan dengan anemia.
Kode SIKI: I.08020
Deskripsi : Pemantauan Cairan adalah pengukuran dan analisis terencana terhadap status cairan pasien untuk mencegah ketidakseimbangan. Tindakan ini meliputi: 1) Memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan) secara berkala, mengingat TD 90/68 mmHg dan kondisi anemia yang dapat memperberat hipotensi. 2) Mengkaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa, dan adanya rasa haus (kulit kering, bersisik, dan turgor menurun mengindikasikan dehidrasi). 3) Memantau asupan dan haluaran cairan secara akurat. 4) Menimbang berat badan harian dengan kondisi yang sama. 5) Mengobservasi adanya edema atau tanda kelebihan cairan. 6) Kolaborasi dalam pemberian terapi cairan intravena jika diperlukan, terutama jika pasien tidak dapat memenuhi kebutuhan oral atau jika ada indikasi syok hipovolemik. 7) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya asupan cairan yang adekuat sesuai toleransi dan kondisi jantung. 8) Memantau hasil laboratorium terkait (seperti hemoglobin, hematokrit, elektrolit). Intervensi ini krusial karena anemia berat dan dehidrasi dapat bersama-sama menurunkan volume darah efektif dan memperburuk gejala pusing, lemah, dan hipotensi.
Kondisi: Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: D.0004
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: L.03060
Deskripsi : Status nutrisi membaik dengan kriteria hasil: 1) Asupan nutrisi oral meningkat sesuai kebutuhan. 2) Menunjukkan peningkatan nilai laboratorium yang terkait (seperti peningkatan kadar hemoglobin dari 5,9 g/dl). 3) Berat badan stabil atau meningkat sesuai target. 4) Tanda-tanda klinis defisiensi nutrisi berkurang (seperti konjungtiva tidak lagi anemis, kulit tidak kering dan bersisik). Intervensi keperawatan berfokus pada manajemen nutrisi, edukasi, dan kolaborasi untuk mengatasi penyebab dasar kurangnya asupan atau penyerapan nutrisi, khususnya zat besi dan vitamin.
Kode SIKI: I.01260
Deskripsi : Manajemen Nutrisi adalah intervensi untuk memantau dan meningkatkan asupan makanan dan cairan pasien. Tindakan ini meliputi: 1) Mengkaji pola makan, riwayat nutrisi, dan faktor yang menghambat asupan (misalnya, anoreksia, masalah finansial, pengetahuan). 2) Memantau berat badan dan nilai laboratorium (Hb 5,9 g/dl mengindikasikan anemia berat, seringkali terkait defisiensi besi). 3) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet tinggi kalori, tinggi protein, dan kaya zat besi serta vitamin (seperti daging merah, hati, sayuran hijau, kacang-kacangan, dan sumber vitamin C untuk meningkatkan penyerapan besi). 4) Memberikan makanan dalam porsi kecil namun sering untuk meningkatkan toleransi. 5) Menciptakan lingkungan makan yang nyaman. 6) Memberikan suplemen nutrisi oral sesuai resep (seperti tablet besi). 7) Memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya diet seimbang dan makanan sumber zat besi. 8) Memantau efek samping terapi nutrisi (seperti konstipasi akibat suplementasi besi). 9) Memberikan perawatan mulut untuk meningkatkan nafsu makan. Intervensi ini fundamental karena anemia defisiensi besi yang mendasari sebagian besar gejala pasien (pusing, lemah, pucat, konjungtiva anemis) memerlukan koreksi jangka panjang melalui perbaikan nutrisi dan terapi medis.