Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24510 | 17 Mar 2026
Klinis : pasien dengan penurunan kesadaran RPD: HT (+) tidak terkontrol KU TSB, COMA TD : 156/80 N : 89 S : 37,6 RR : 12 SPO2 : 99% Status Generalis Mata CA -/-, SI -/-, RC +/-, pupil isokor 3mm/3mm, refleks kornea (+/+) Mulut : lidah kotor (-), mukosa bibir kering (+) Thorax : SDV +/+ rhonki -/- , wheezing -/-, retraksi -/- Jantung : BJ I-II reguler (+), murmur (-) Abdomen : supel, BU (+) dbn, timpani (+), nyeri tekan (+) Eks. superior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), ikterik (-/-), CRT <2 detik Eks. inferior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), ikterik (-/-), CRT <2 detik Status Neurologis Sensorik sde Kekuatan motorik sde Refleks fisiologis: +2/+2//+3/+3 Refleks patologis: (-) Parese NC VII (-) Meningeal sign (-) LAB 16/3/26 hb 13.22 eritrosit 4.58 hmt 39.2 lekosit 8.63 trombosit 175 Na 140 K 4.1 Cl 106 Ca2+ 1.1 pH 7.47 GDS 282 (H) SGOT 19 SGPT 11 ur 27.8 kr 0.77 CT scan Kesan : - Infark cerebri di lobus temporoparietalis sinistra - Atrophy cerebri - Sinusitis maxillaris dextra Ro Thorax Kesan : - Cardiomegali dan pulmo normal - Elongatio aortae dan aortosklerosis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Otak
Kode SDKI: D.0017
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke jaringan otak yang dapat mengakibatkan ketidakpuasan kebutuhan oksigen dan nutrisi.
Kode SLKI: L.14016
Deskripsi : Perfusi jaringan otak membaik, ditandai dengan: 1) Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan, 2) Status neurologis stabil/tidak memburuk, 3) Tanda-tanda vital dalam batas normal, 4) Tidak ada keluhan sakit kepala hebat, mual, muntah, 5) Tingkat kesadaran baik.
Kode SIKI: I.14066
Deskripsi : 1) Kaji faktor risiko penurunan perfusi serebral (hipertensi, riwayat stroke, diabetes). 2) Pantau tanda-tanda neurologis (GCS, pupil, kekuatan motorik, refleks) secara berkala. 3) Pantau tanda-tanda vital (TD, N, RR, S, SpO2). 4) Kolaborasi pemberian terapi sesuai indikasi (antihipertensi, antiplatelet, neuroprotektor). 5) Atur posisi kepala tempat tidur 30 derajat (kecuali kontraindikasi). 6) Hindari manuver valsava (mengejan, batuk kuat). 7) Berikan oksigen sesuai kebutuhan. 8) Monitor hasil pemeriksaan penunjang (CT scan, laboratorium). 9) Lakukan perawatan kulit, mobilisasi pasif, range of motion exercise. 10) Kolaborasi dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan patensi jalan napas.
Kode SLKI: L.03005
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif, ditandai dengan: 1) Suara napas bersih, 2) Tidak ada sianosis, 3) Frekuensi napas dalam rentang normal, 4) Ekspansi dada simetris, 5) Tidak menggunakan otot bantu napas, 6) Gas darah arteri dalam batas normal.
Kode SIKI: I.03027
Deskripsi : 1) Kaji fungsi pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, suara napas, penggunaan otot bantu). 2) Posisikan semi fowler atau lateral sesuai kondisi. 3) Lakukan fisioterapi dada (postural drainage, perkusi, vibrasi) jika memungkinkan. 4) Lakukan penghisapan lendir (suction) jika diperlukan. 5) Ajarkan batuk efektif (jika pasien kooperatif). 6) Berikan nebulizer/terapi inhalasi sesuai kolaborasi. 7) Lakukan perawatan oral hygiene untuk mencegah infeksi. 8) Monitor saturasi oksigen (SpO2) secara berkala. 9) Berikan oksigen sesuai program. 10) Auskultasi suara napas sebelum dan setelah intervensi.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0023
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap invasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: L.11001
Deskripsi : Risiko infeksi tidak terjadi, ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam batas normal, 2) Tidak ada tanda-tanda infeksi (rubor, kalor, dolor, tumor, functio laesa), 3) Hasil laboratorium dalam batas normal, 4) Luka bersih, kering, tidak ada pus.
Kode SIKI: I.11017
Deskripsi : 1) Monitor tanda-tanda infeksi (suhu tubuh, leukosit, sekret). 2) Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan. 3) Pertahankan teknik aseptik dan antiseptik pada setiap prosedur invasif. 4) Lakukan perawatan kulit yang utuh. 5) Lakukan perawatan oral hygiene dan kebersihan diri pasien. 6) Atur sirkulasi udara yang baik di ruangan. 7) Batasi pengunjung jika diperlukan. 8) Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi. 9) Berikan nutrisi adekuat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. 10) Edukasi keluarga tentang tanda-tanda infeksi dan pencegahannya.
Kondisi: Defisit Perawatan Diri: Mandi/Berhias, Makan, Toileting
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas mandi, berhias, makan, dan toileting secara mandiri.
Kode SLKI: L.04001, L.04002, L.04003
Deskripsi : Kemandirian perawatan diri tercapai, ditandai dengan: 1) Kebutuhan mandi, berhias, makan, dan toileting dapat terpenuhi dengan bantuan sesuai kebutuhan, 2) Kebersihan diri dan lingkungan terjaga, 3) Asupan nutrisi dan hidrasi adekuat, 4) Eliminasi urine dan alvi teratasi dengan baik.
Kode SIKI: I.04001, I.04002, I.04003
Deskripsi : 1) Kaji tingkat ketergantungan pasien dalam ADL (Aktivitas Daily Living). 2) Bantu memenuhi kebutuhan kebersihan diri (mandi, ganti pakaian, oral hygiene). 3) Bantu memenuhi kebutuhan nutrisi dan hidrasi (pemberian makan via NGT sesuai program, perawatan NGT). 4) Bantu memenuhi kebutuhan eliminasi (pemasangan dan perawatan kateter jika diperlukan, penggantian popok, menjaga kebersihan area genital). 5) Libatkan keluarga dalam perawatan diri pasien. 6) Lakukan latihan rentang gerak (ROM) pasif untuk mempertahankan fungsi motorik. 7) Posisikan pasien dengan benar untuk mencegah dekubitus dan aspirasi. 8) Monitor kondisi kulit terutama area tekanan. 9) Berikan pujian untuk setiap usaha yang dilakukan pasien. 10) Rujuk ke fisioterapi atau okupasi terapi jika diperlukan.
-
Article No. 24511 | 17 Mar 2026
Klinis : Pasien tampak gelisah riw dm + ht ku: lemah , kes: cm TD; 118/95 HR: 78 S: 36,2 RR: 13 SPO2: 98 hasil Alb; 2,50 GDS 90
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Perasaan gelisah yang tidak jelas dan tidak nyaman atau takut disertai dengan respons otonom (sumber respons seringkali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan waspada karena antisipasi bahaya. Ini adalah sinyal peringatan akan ancaman yang akan datang, memungkinkan individu untuk mengambil tindakan untuk menghadapi ancaman tersebut.
Kode SLKI: 1438
Deskripsi : Tercapainya pengendalian ansietas. Kriteria hasil utama yang diharapkan adalah pasien dapat: 1) Mengenali tanda dan gejala ansietas, 2) Mengidentifikasi penyebab/pemicu ansietas, 3) Melaporkan penurunan perasaan cemas/gelisah, 4) Mendemonstrasikan teknik relaksasi untuk mengatasi ansietas, 5) Menunjukkan perilaku koping yang adaptif, dan 6) Fungsi fisiologis (seperti tanda-tanda vital) dalam rentang yang diharapkan sesuai kondisi. SLKI ini berfokus pada kemampuan pasien untuk mengelola respons ansietasnya secara mandiri dan efektif, mengurangi dampaknya terhadap kesejahteraan fisik dan psikologis.
Kode SIKI: 3540
Deskripsi : Manajemen Ansietas. Intervensi keperawatan ini meliputi: 1) Mengidentifikasi tingkat ansietas pasien (ringan, sedang, berat, panik) melalui observasi perilaku, verbalisasi, dan tanda fisiologis. 2) Menggunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan. 3) Mengakui perasaan ansietas pasien dan menyampaikan penerimaan. 4) Mendengarkan dengan penuh perhatian. 5) Menemani pasien untuk meningkatkan rasa aman. 6) Membantu pasien mengidentifikasi situasi yang memicu ansietas. 7) Mendorong pasien untuk mengekspresikan perasaan, persepsi, dan ketakutan. 8) Mengajarkan teknik relaksasi (seperti napas dalam, relaksasi otot progresif, distraksi, imajinasi terbimbing). 9) Membantu pasien mengembangkan mekanisme koping yang konstruktif. 10) Meminimalkan stimulus lingkungan yang dapat memperberat ansietas jika diperlukan. 11) Memantau tanda-tanda vital sebagai indikator fisiologis dari ansietas. Intervensi ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang suportif, meningkatkan kesadaran diri pasien terhadap kondisinya, dan membekali pasien dengan keterampilan praktis untuk mengurangi dan mengendalikan perasaan gelisah.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular. (Status ini merujuk pada status keseimbangan cairan tubuh, elektrolit, dan asam-basa yang terganggu di mana risiko lebih disorot daripada masalah aktual).
Kode SLKI: 1403
Deskripsi : Pemeliharaan keseimbangan cairan. Kriteria hasil utama yang diharapkan adalah: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal, 2) Denyut nadi perifer teraba kuat dan reguler, 3) Turgor kulit baik (kembali cepat saat dicubit), 4) Membran mukosa lembab, 5) Keseimbangan masukan dan haluan (intake dan output) seimbang, 6) Berat badan stabil, 7) Nilai laboratorium terkait (seperti albumin, elektrolit) dalam rentang normal atau menunjukkan perbaikan. SLKI ini menekankan pada pemantauan parameter fisiologis dan biokimia untuk memastikan status hidrasi dan keseimbangan cairan tubuh tetap adekuat.
Kode SIKI: 2080
Deskripsi : Manajemen Cairan/ Elektrolit. Intervensi keperawatan ini meliputi: 1) Memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) secara teratur. 2) Memantau status hidrasi (turgor kulit, membran mukosa, rasa haus, produksi urin). 3) Mengukur dan mencatat masukan dan haluan cairan secara akurat. 4) Memantau berat badan harian dengan kondisi yang sama. 5) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai indikasi. 6) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium (seperti albumin 2,50 g/dL yang menunjukkan hipoalbuminemia, elektrolit, hematokrit). 7) Memberikan edukasi pada pasien/keluarga tentang pentingnya asupan cairan dan nutrisi yang adekuat. 8) Mengatur kecepatan infus sesuai program terapi. 9) Mengidentifikasi faktor risiko yang dapat memperburuk ketidakseimbangan cairan. 10) Melakukan perawatan kulit untuk mencegah komplikasi akibat edema atau dehidrasi. Intervensi ini bersifat preventif, monitorif, dan suportif untuk mencegah terjadinya dehidrasi, overload cairan, atau gangguan elektrolit yang dapat memperburuk kondisi pasien.
Kondisi: Nutrisi Tidak Seimbang: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Status nutrisi memadai. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: 1) Berat badan mencapai atau mendekati berat badan ideal/ target, 2) Nilai laboratorium indikator nutrisi (seperti albumin, hemoglobin) dalam rentang normal, 3) Memiliki kekuatan otot dan massa tubuh yang adekuat (tidak lemah), 4) Asupan makanan dan cairan dapat memenuhi kebutuhan harian, 5) Tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi (seperti kelemahan, luka yang sulit sembuh). SLKI ini bertujuan untuk mengembalikan dan mempertahankan status gizi pasien pada tingkat yang optimal untuk mendukung penyembuhan dan fungsi tubuh.
Kode SIKI: 1100
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan ini meliputi: 1) Memantau dan mencatat asupan makanan dan cairan pasien. 2) Menimbang berat badan secara teratur. 3) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan nutrisi. 4) Memantau hasil laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin 2,50 g/dL yang rendah, menunjukkan defisit protein). 5) Memberikan makanan dengan porsi kecil namun sering sesuai toleransi. 6) Menyediakan lingkungan yang nyaman untuk makan. 7) Memberikan edukasi tentang pentingnya nutrisi dan pemilihan makanan tinggi protein dan kalori. 8) Kolaborasi pemberian suplemen nutrisi oral atau nutrisi parenteral jika diperlukan. 9) Memantau kemampuan menelan dan adanya mual/muntah. 10) Memberikan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan untuk meningkatkan nafsu makan. Intervensi ini dirancang untuk mengatasi penyebab langsung maupun tidak langsung dari kurangnya asupan nutrisi, memastikan pasien menerima dukungan nutrisi yang diperlukan untuk pemulihan, terutama dalam konteks hipoalbuminemia yang dapat mempengaruhi tekanan darah dan penyembuhan luka.
-
Article No. 24512 | 17 Mar 2026
Klinis : Kontak (-) Primary survey_ A: Clear, Stable C-Spine B: Pengembangan dada kanan kiri simetris, RR: 20 x/menit, C:TD: 117/74 mmHg HR: 106 x/menit, SpO2: 99% on NRM 10lpm D: GCS E1V1M2, pupil isokor (3mm/3mm), RC (-/-), lateralisasi (-) - GCS (17/03/26) E1V2M3 E: T: 36.7°C _Status Lokalis_ R. Midfacial I: Vulnus laceratum uk 1 x 0.2 x 0.2 cm R. Frontalis, Vulnus laceratum uk 2 x 0.2 x 0.2 cm R. Supraorbitalis (S), VL uk 0. 2 x 0.2 x 0.2 cm R. Superior Labialis, perdarahan aktif (-), deformitas (-), step off (-) P: nyeri tekan s.d.e, hipoestesi infraorbita s.d.e. R. Intraoral I : Maloklusi s.d.e, trismus s.d.e, gigi tanggal (-) P : maksila goyang (-/-), gigi goyang (-/-) R. Mandibula I : Vulnus laceratum uk 0.5 x 0.2 x 0.2 cm, perdarahan aktif (-), deformitas (-), step off (-) P : nyeri tekan s.d.e, mandibula goyang (-/-) R. Clavicula (D) L: VE (+), hiperemis (-), ekimosis (-), swelling (+), deformitas unclear F: NT (+), krepitasi (+), NVD s.d.e, CRT < 2 detik M: ROM s.d.e _Lab RSSP 16/03/26_ Hb 13.22 AE 4.45 Hmt 38.6 *AL 16.22* AT 232 Goldar O GDS 144 PT 10.8 INR 0.98 APTT 35.3 Ur 32.1 Cr 0.83 HbsAg (-) Anti HIV NR
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Berisiko mengalami penurunan suplai darah otak yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan.
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Perfusi serebral membaik yang ditandai dengan: 1) Tingkat kesadaran sesuai kapasitas, 2) Fungsi motorik sesuai kapasitas, 3) Tanda-tanda vital dalam batas normal.
Kode SIKI: 3410
Deskripsi : Pemantauan neurologis: Mengumpulkan dan menganalisis data pasien tentang status neurologis untuk menentukan rencana tindakan. Intervensi ini mencakup pemantauan ketat terhadap tingkat kesadaran (GCS), ukuran dan reaksi pupil, tanda-tanda vital (terutama tekanan darah dan nadi), serta fungsi motorik/sensorik. Pada pasien dengan trauma kepala dan maksilofasial seperti ini, pemantauan neurologis berkelanjutan sangat kritis untuk mendeteksi secara dini tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial atau deteriorasi neurologis. Perawat akan mencatat skor GCS secara serial (dari E1V1M2 menjadi E1V2M3) dan mengamati setiap perubahan sekecil apapun. Pemantauan juga termasuk mengobservasi adanya sakit kepala, muntah proyektil, atau perubahan perilaku. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa perfusi darah ke otak tetap adekuat dan intervensi dapat segera diberikan jika terjadi penurunan status neurologis.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan akhirnya.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kontrol nyeri yang ditandai dengan: 1) Mengungkapkan nyeri terkontrol, 2) Menunjukkan postur rileks, 3) Tanda vital dalam rentang normal.
Kode SIKI: 0810
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Tindakan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. Pada pasien dengan multiple vulnus laceratum di wajah, nyeri tekan pada regio midfacial dan mandibula, serta fraktur clavicula (dengan nyeri tekan dan krepitasi), manajemen nyeri menjadi prioritas. Intervensi ini meliputi penilaian nyeri komprehensif menggunakan skala yang sesuai (mengingat GCS yang menurun, digunakan skala perilaku), pemberian analgesik sesuai instruksi dokter dengan mempertimbangkan status neurologis, dan teknik non-farmakologis seperti reposisi yang nyaman, kompres dingin untuk mengurangi swelling, serta menciptakan lingkungan yang tenang. Penting untuk memantau efektivitas intervensi dan efek samping obat, serta mendokumentasikan respons nyeri pasien secara berkala untuk mengevaluasi keberhasilan manajemen nyeri.
Kondisi: Kerusakan Integritas Jaringan
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Kerusakan pada membran mukosa, kornea, integumen, atau jaringan subkutan.
Kode SLKI: 1101
Deskripsi : Penyembuhan luka yang ditandai dengan: 1) Tanda-tanda infeksi tidak ada, 2) Luka menyempit, 3) Jaringan granulasi tumbuh.
Kode SIKI: 4160
Deskripsi : Perawatan Luka: Pencegahan komplikasi luka dan mempercepat penyembuhan. Pasien memiliki beberapa luka robek (vulnus laceratum) di area frontal, supraorbital, labialis, dan mandibula. Intervensi keperawatan meliputi inspeksi dan pembersihan luka secara aseptik, perawatan balutan, dan memantau tanda-tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, panas, nyeri, atau pus. Perawat juga harus memperhatikan risiko kontaminasi dari area intraoral (meski tidak ada luka terbuka di dalam mulut, maloklusi dan trismus menunjukkan trauma) ke luka di sekitar mulut. Edukasi kepada pasien atau keluarga untuk tidak menyentuh luka dan menjaga kebersihan area wajah juga penting. Tujuannya adalah untuk mencapai penyembuhan luka tanpa infeksi dan meminimalisis jaringan parut, terutama di area wajah yang estetis.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Berisiko meningkatnya respons rentan terhadap patogen.
Kode SLKI: 0702
Deskripsi : Pengendalian infeksi yang ditandai dengan: 1) Tanda-tanda infeksi tidak ada, 2) Hasil laboratorium dalam batas normal, 3) Melakukan perilaku pencegahan infeksi.
Kode SIKI: 6550
Deskripsi : Proteksi Infeksi: Pencegahan dan deteksi dini infeksi pada pasien yang berisiko. Pasien dengan multiple luka terbuka (terutama di wajah yang dekat dengan rongga mulut dan hidung), serta trauma tulang (clavicula), memiliki risiko infeksi yang meningkat. Intervensi ini mencakup penerapan prinsip aseptik ketat selama perawatan luka, memantau tanda-tanda sistemik infeksi seperti demam, serta memantau hasil laboratorium seperti leukosit (dalam data ini AL 16.22 menunjukkan leukositosis yang dapat menjadi tanda respons stres atau awal infeksi). Perawat juga perlu memastikan status imunisasi tetanus pasien terkini dan memberikan edukasi tentang pentingnya kebersihan. Pencegahan infeksi nosokomial dengan cuci tangan yang benar juga merupakan bagian integral dari intervensi ini untuk melindungi pasien yang dalam kondisi rentan.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0002
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas paten.
Kode SLKI: 0402
Deskripsi : Pemeliharaan jalan napas yang ditandai dengan: 1) Jalan napas paten, 2) Suara napas bersih, 3) Tidak ada sianosis, 4) Pernapasan efektif.
Kode SIKI: 3140
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Memfasilitasi patensi jalan napas dan memaksimalkan pertukaran oksigen. Meski saat ini pengembangan dada simetris dan SpO2 99%, pasien dengan trauma maksilofasial (maloklusi, trismus) dan penurunan kesadaran (GCS fluktuatif) memiliki risiko tinggi obstruksi jalan napas. Sekresi darah, edema, atau lidah yang jatuh dapat menyumbat jalan napas. Intervensi meliputi pemantauan ketat bunyi napas, usaha napas, dan saturasi oksigen secara terus-menerus. Posisi semi-Fowler atau lateral dapat membantu mempertahankan jalan napas. Perawat harus siap dengan alat penghisap (suction) untuk membersihkan sekresi dari mulut atau orofaring dan memastikan ketersediaan alat bantu jalan napas darurat. Edukasi kepada keluarga untuk segera melaporkan jika pasien terlihat sesak atau bersuara grogi juga penting.
-
Article No. 24513 | 17 Mar 2026
Klinis : nyeri dada hilang timbul, sesak napas (+) KU lemah, CM TD: 118/82 HR: 86 x/m RR: 22 x/m SB: 36.4 C SpO2: 98% on O2 NK JVP 5+3 RBH -/- WHZ -/-, S1S2 irregular, BJ (+) pansistolik edem -/- CKMB 47
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut dan Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: 0026 & 0029
Deskripsi Singkat: Berdasarkan data pasien dengan nyeri dada hilang timbul, sesak napas, bunyi jantung pansistolik, dan irama irregular, dua diagnosa keperawatan utama yang sangat relevan adalah Nyeri Akut (SDKI 0026) dan Penurunan Curah Jantung (SDKI 0029). Nyeri Akut didefinisikan sebagai pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset yang tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan perkiraan akhir. Pada kasus ini, nyeri dada merupakan gejala utama yang memerlukan manajemen segera. Sementara itu, Penurunan Curah Jantung didefinisikan sebagai ketidakadekuatan darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Hal ini didukung oleh temuan klinis seperti kelemahan (KU lemah), sesak napas (dapat mencerminkan kongesti paru atau hipoksia), bunyi jantung pansistolik (mengindikasikan kemungkinan regurgitasi katup, seperti mitral atau trikuspid), dan irama jantung yang irregular (aritmia), yang semuanya dapat menurunkan efisiensi pompa jantung.
Kode SLKI: 1402 & 0402
Deskripsi : Untuk diagnosa Nyeri Akut (SDKI 0026), hasil yang diharapkan adalah Kontrol Nyeri (SLKI 1402), yang didefinisikan sebagai tindakan personal untuk mengontrol nyeri. Tujuannya adalah agar pasien dapat melaporkan penurunan intensitas nyeri, menunjukkan perilaku nyaman, dan mampu menggunakan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri. Untuk diagnosa Penurunan Curah Jantung (SDKI 0029), hasil yang diharapkan adalah Status Sirkulasi (SLKI 0402), yang didefinisikan sebagai perjalanan darah yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan tubuh. Tujuan spesifiknya termasuk tanda-tanda vital dalam rentang yang dapat diterima (TD, HR, RR), pengisian kapiler baik, haluaran urin adekuat, penurunan sesak napas, dan tidak adanya edema perifer. Pada pasien ini, targetnya adalah menstabilkan TD, mengontrol HR dan irama, mengurangi sesak napas, dan mempertahankan SpO2 yang adekuat tanpa bantuan oksigen berlebihan.
Kode SIKI: 3510 & 4201
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mencapai SLKI tersebut meliputi: Manajemen Nyeri (SIKI 3510) yang didefinisikan sebagai tindakan mencegah, mengontrol, atau mengurangi nyeri. Ini mencakup tindakan seperti: 1) Melakukan pengkajian nyeri komprehensif (PQRST), 2) Memberikan terapi farmakologis analgesik sesuai instruksi dokter dengan mempertimbangkan kondisi kardiovaskular, 3) Mengajarkan dan membantu teknik non-farmakologis seperti relaksasi napas dalam dan distraksi, 4) Memposisikan pasien untuk kenyamanan, dan 5) Memonitor efek samping terapi. Untuk mendukung Status Sirkulasi, intervensi utamanya adalah Manajemen Curah Jantung (SIKI 4201), yang didefinisikan sebagai upaya meningkatkan aliran darah dan tekanan untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Tindakannya meliputi: 1) Memonitor ketat tanda vital, status pernapasan, dan saturasi oksigen, 2) Mempertahankan pemberian oksigen sesuai kebutuhan (saat ini O2 NK), 3) Mengkaji bunyi jantung dan suara napas secara berkala, 4) Membatasi aktivitas fisik (tirah baring) untuk mengurangi beban kerja jantung sesuai kondisi KU lemah, 5) Memonitor balance cairan (masukan dan keluaran), 6) Memberikan obat-obatan kardiovaskular seperti diuretik, vasodilator, atau inotropik sesuai resep dokter, dan 7) Memberikan edukasi pada pasien untuk melaporkan segera jika nyeri dada atau sesak memberat. Intervensi ini dirancang untuk mengurangi beban jantung, meningkatkan efisiensi pompa, dan mengontrol gejala, sehingga curah jantung dapat membaik.
-
Article No. 24514 | 17 Mar 2026
Klinis : keluhan penurunan kesadaran (+) KU tampak sakit berat TD :130/85 N : 94 x/m RR : 22 x/m S : 36,1 C SPO2 : 97% DR 14/3/26 Hematokrit 35.4 Index Eritrosit MCV 86.7 MCH 29.3 MCHC 33.8 Lekosit 18.41 Trombosit 275 RDW-CV 14.28 MPV 5.41 Hitung Jenis Neutrofil 89.2 Limfosit 4.7 Monosit 5.5 Eosinofil 0.05 Basofil 0.6 Total Neutrofil 16.41 Total Lymphosit 0.86 Total Monosit 1.01 Total Eosinofil 0.01 Total Basofil 0.11 Gol. Darah (A B O) Golongan Darah O KIMIA KLINIK Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu 161 Fungsi Hati AST (SGOT) 77 ALT (SGPT) 51 Fungsi Ginjal Ureum 36.4 Kreatinin 1.02 Darah Rutin Hemoglobin 11.97 Mata: CA -/-, SI +/+,pupil isokor +/+ Leher:pembesaran kelenjar getah bening (-) Thorax: Simetris ka/ki Paru: Sdv +/+, Wh -/- Rbh +/+ Abdomen: supel, BU (+) nyeri tekan epigastrium (+) Genitalia : Tidak ada kelainan Extremitas Superior: Akral hangat +/+, CRT <2detik, edema -/- Extremitas Inferior: Akral hangat +/+, CRT <2detik,edema -/-
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah yang menyebabkan ketidakmampuan memenuhi kebutuhan metabolik otak.
Kode SLKI: L.03102
Deskripsi : Perfusi serebral membaik yang ditandai dengan: tingkat kesadaran membaik, fungsi kognitif membaik, tanda-tanda vital dalam rentang yang dapat diterima, tidak ada/tidak meningkatnya defisit neurologis fokal, dan hasil pemeriksaan diagnostik membaik.
Kode SIKI: I.01290
Deskripsi : Mempertahankan jalan napas. I.08049: Memonitor status neurologis. I.08050: Memonitor tanda-tanda vital. I.01246: Mengelola terapi oksigen. I.08048: Memonitor perfusi jaringan. I.04016: Kolaborasi pemberian terapi intravena/obat sesuai resep. I.08060: Memonitor hasil pemeriksaan laboratorium. I.09030: Melakukan pendidikan kesehatan pada pasien/keluarga.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti cedera (International Association for the Study of Pain); muncul tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dengan akhir yang dapat diperkirakan atau diperkirakan dalam waktu <3 bulan.
Kode SLKI: L.03003
Deskripsi : Kontrol nyeri yang ditandai dengan: nyeri terkontrol, nyeri menurun, skala nyeri menurun, tanda-tanda vital dalam rentang normal, tidak ada perilaku yang menunjukkan nyeri, dan mampu mengenali faktor pencetus dan cara mengatasi nyeri.
Kode SIKI: I.08047
Deskripsi : Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif. I.08044: Mengajarkan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri. I.04016: Kolaborasi pemberian terapi intravena/obat analgesik sesuai resep. I.08045: Evaluasi efektivitas penanganan nyeri. I.09030: Melakukan pendidikan kesehatan pada pasien/keluarga tentang manajemen nyeri.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap invasi patogen, yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: L.03132
Deskripsi : Perilaku pencegahan infeksi yang ditandai dengan: tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi, tanda-tanda vital dalam rentang normal, hasil laboratorium dalam rentang normal, menerapkan perilaku pencegahan infeksi, dan lingkungan bebas dari kontaminasi.
Kode SIKI: I.08026
Deskripsi : Mempertahankan teknik aseptik. I.08060: Memonitor hasil pemeriksaan laboratorium (terutama leukosit 18.41 dan neutrofil 89.2 yang sangat tinggi). I.08050: Memonitor tanda-tanda vital termasuk suhu. I.01246: Mengelola terapi oksigen jika diperlukan. I.04016: Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai resep. I.09005: Melakukan cuci tangan. I.09030: Memberikan pendidikan kesehatan tentang pencegahan infeksi.
-
Article No. 24515 | 17 Mar 2026
Klinis : pasien dengan penurunan kesadaran riw dm dan ht KU: lemah, Kes: Coma TD: 118/69 HR: 106 x/m S: 37,8 C RR: 34x/m SPO2: 99%
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Koma)
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan fungsi otak yang ditandai dengan ketidakmampuan untuk mempertahankan kesadaran terhadap diri sendiri dan lingkungan, serta ketidakmampuan untuk berinteraksi dengan orang lain.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Kesadaran kembali normal. Kriteria hasil: 1) Respon membuka mata spontan atau terhadap rangsang suara. 2) Respon motorik mengikuti perintah. 3) Respon verbal sesuai, dapat berkomunikasi dengan benar. 4) Tanda-tanda vital dalam rentang normal. 5) Fungsi kognitif dan persepsi sensorik membaik.
Kode SIKI: I.15001
Deskripsi : Manajemen penurunan kesadaran. Intervensi: 1) Kaji tingkat kesadaran secara teratur menggunakan skala Glasgow Coma Scale (GCS). 2) Monitor dan catat tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu, saturasi oksigen) setiap jam atau sesuai kondisi. 3) Pertahankan jalan napas paten, posisikan pasien dalam posisi semi atau miring untuk mencegah aspirasi dan memudahkan drainase sekret. 4) Lakukan penghisapan lendir secara teratur sesuai kebutuhan. 5) Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi dan program dokter untuk mempertahankan saturasi oksigen >95%. 6) Kaji pola pernapasan (kecepatan, irama, kedalaman) dan adanya tanda distress pernapasan seperti takipnea (RR 34x/m seperti pada pasien), retraksi, atau sianosis. 7) Lakukan perawatan kulit untuk mencegah dekubitus dengan perubahan posisi setiap 2 jam dan penggunaan alas anti dekubitus. 8) Lakukan perawatan kebersihan diri (mandi, perawatan mulut, mata, dan kuku) secara pasif. 9) Berikan nutrisi sesuai program, baik melalui NGT (Nasogastric Tube) atau parenteral, dan pantau toleransinya. 10) Monitor balance cairan, input dan output setiap 24 jam. 11) Lakukan latihan rentang gerak pasif untuk mencegah kontraktur sendi. 12) Lindungi pasien dari cedera dengan memasang pengaman tempat tidur dan menjaga lingkungan aman. 13) Berikan komunikasi terapeutik kepada keluarga, jelaskan kondisi dan perkembangan pasien. 14) Kolaborasi pemberian terapi farmakologi sesuai program dokter (misalnya, untuk mengontrol gula darah pada riwayat DM atau tekanan darah pada riwayat HT). 15) Monitor hasil pemeriksaan penunjang seperti gula darah, elektrolit, dan gas darah arteri. Penurunan kesadaran hingga koma merupakan keadaan darurat medis yang memerlukan pendekatan sistematis dan komprehensif. Pada kasus ini, pasien dengan riwayat Diabetes Mellitus (DM) dan Hipertensi (HT) berisiko tinggi mengalami penurunan kesadaran akibat komplikasi seperti ketoasidosis diabetik, ensefalopati hipertensif, atau stroke. Tanda vital menunjukkan adanya takikardia (HR 106x/m) dan takipnea (RR 34x/m) yang dapat merupakan kompensasi tubuh terhadap stres metabolik (misalnya, akibat hiperglikemia) atau gangguan asam-basa. Suhu 37.8°C mengindikasikan kemungkinan infeksi atau respons inflamasi yang dapat memperburuk kondisi. Meskipun SpO2 99%, pola pernapasan yang cepat perlu diwaspadai sebagai tanda awal distress. Tujuan utama intervensi keperawatan adalah mempertahankan fungsi vital, mencegah komplikasi imobilisasi (seperti pneumonia aspirasi, dekubitus, kontraktur), dan memberikan dukungan kepada keluarga. Pemantauan neurologis berkelanjutan dengan GCS sangat krusial untuk mendeteksi perubahan sekecil apapun. Kerja sama tim multidisiplin (dokter, perawat, ahli gizi, fisioterapi) sangat diperlukan untuk mencapai outcome yang optimal, yaitu kembalinya kesadaran pasien atau paling tidak, stabilisasi kondisi dan pencegahan komplikasi lebih lanjut.
-
Article No. 24516 | 17 Mar 2026
Klinis : pasien dengan penurunan kesadaran RPD/ DM dan HT KU: lemah, E4V1M5 TD: 145/86 HR: 98 S: 38 RR: 32 SPO2: 99% Status Generalis Mata CA -/-, SI -/-, RC +/-, pupil isokor 3mm/3mm, refleks kornea (+/+) Mulut : lidah kotor (-), mukosa bibir kering (+) Thorax : SDV +/+ rhonki -/- , wheezing -/-, retraksi -/- Jantung : BJ I-II reguler (+), murmur (-) Abdomen : supel, BU (+) dbn, timpani (+), nyeri tekan (+) Eks. superior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), ikterik (-/-), CRT <2 detik Eks. inferior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), ikterik (-/-), CRT <2 detik Status Neurologis Sensorik sde Kekuatan motorik sde Refleks fisiologis: +3/+3//+3/+3 Refleks patologis: (-) Parese NC VII (-) Meningeal sign (-) lab 16/3/26 ur 120.0 kr 1.63 albumin 3.03 lab 17/3/26 hb 10.65 eritrosit 3.85 hmt 32.1 lekosit 9.55 trombosit 243 thorax: Kesan : - Bronchitis dan besar cor normal CT scan (-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Serebral
Kode SDKI: 0009
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat mengakibatkan kerusakan neurologis.
Kode SLKI: 0901
Deskripsi : Perfusi Serebral: Tanda-tanda vital dalam rentang yang dapat diterima; Status neurologis stabil; Tekanan intrakranial dalam batas normal; Tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial; Fungsi kognitif dan sensorimotor dipertahankan.
Kode SIKI: 3901
Deskripsi : Pemantauan Neurologis: Kaji status neurologis secara teratur menggunakan skala koma Glasgow (GCS); Pantau dan catat tanda-tanda vital (TD, Nadi, RR, Suhu) setiap 1-2 jam atau sesuai protokol; Observasi ukuran, kesamaan, dan reaksi pupil terhadap cahaya; Pantau kekuatan motorik dan sensasi pada keempat ekstremitas; Kaji adanya tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial seperti sakit kepala, muntah proyektil, perubahan kesadaran, atau parese; Kaji dan dokumentasi refleks patologis dan meningeal sign; Kolaborasi dalam pemantauan tekanan intrakranial jika diperlukan; Laporkan segera setiap penurunan GCS ≥2 poin atau perubahan neurologis lainnya.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0005
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons tubuh terhadap patogen.
Kode SLKI: 0501
Deskripsi : Kontrol Infeksi: Tidak ada tanda-tanda infeksi (demam, kemerahan, panas, bengkak, nyeri, drainage purulen); Hasil laboratorium dalam batas normal; Teknik aseptik dipertahankan selama perawatan.
Kode SIKI: 3501
Deskripsi : Pengendalian Infeksi: Cuci tangan dengan teknik aseptik sebelum dan setelah melakukan tindakan; Gunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai; Lakukan perawatan luka atau area invasif dengan teknik steril; Pantau tanda-tanda vital terutama suhu tubuh secara berkala; Kaji area kulit dan membran mukosa terhadap tanda-tanda infeksi; Pantau hasil laboratorium (seperti leukosit); Ajarkan keluarga/teman untuk mencuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan pasien; Batasi pengunjung jika diperlukan; Kolaborasi pemberian terapi antibiotik sesuai program; Lakukan fisioterapi dada dan perubahan posisi untuk mencegah pneumonia; Pertahankan kebersihan area oral (mulut kering meningkatkan risiko infeksi).
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0006
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas paten.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Status Pernapasan: Pola napas dalam rentang normal; Suara napas bersih; Tidak ada sianosis; Oksigenasi adekuat (SpO2 >95%); Tidak ada retraksi otot bantu pernapasan; Gas darah arteri dalam batas normal.
Kode SIKI: 3601
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas: Kaji pola, kedalaman, dan usaha pernapasan (frekuensi 32x/menit termasuk tachypnea); Auskultasi suara napas (ronkhi, wheezing) setiap 2-4 jam; Pantau saturasi oksigen (SpO2) secara terus menerus atau berkala; Posisikan pasien dengan kepala tempat tidur ditinggikan 30-45 derajat jika tidak ada kontraindikasi; Lakukan fisioterapi dada dan suction jika diperlukan untuk mengeluarkan sekret; Ajarkan dan bantu latihan napas dalam jika pasien kooperatif; Berikan terapi oksigen sesuai program untuk mempertahankan SpO2 >95%; Kolaborasi pemberian nebulizer atau obat bronkodilator sesuai program; Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam untuk mencegah atelektasis dan memobilisasi sekret; Kaji kebutuhan alat bantu jalan napas; Monitor analisa gas darah jika diperlukan.
Kondisi: Perfusi Perifer Tidak Efektif
Kode SDKI: 0010
Deskripsi Singkat: Penurunan nutrisi dan oksigenasi pada tingkat jaringan perifer akibat penurunan suplai darah.
Kode SLKI: 1001
Deskripsi : Status Sirkulasi Perifer: Denyut nadi perifer teraba kuat dan simetris; Warna kulit normal dan hangat; Pengisian kapiler < 2 detik; Tidak ada edema, nyeri, atau ulserasi; Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan.
Kode SIKI: 3101
Deskripsi : Pemantauan Hemodinamik: Pantau dan catat tekanan darah, nadi, pernapasan, dan suhu secara teratur; Kaji kualitas denyut nadi perifer (radialis, dorsalis pedis) terhadap kekuatan dan kesamaan; Kaji warna, suhu, dan kelembaban kulit serta membran mukosa; Kaji waktu pengisian kapiler (CRT); Observasi adanya edema, ulkus, atau perubahan warna kulit (pucat, sianosis); Pantau keseimbangan cairan (intake dan output); Hindari tekanan langsung pada area yang berisiko iskemi; Anjurkan dan bantu perubahan posisi secara teratur; Lindungi ekstremitas dari cedera; Kolaborasi dalam pemberian terapi cairan atau obat-obatan untuk mengontrol tekanan darah; Edukasi keluarga tentang tanda-tanda gangguan sirkulasi yang harus dilaporkan.
-
Article No. 24517 | 17 Mar 2026
Klinis : pasien dengan penurunan kesadaran HbsAg Positif (+) KU TSB, E1V1M1 TD : 147/86 mmHg N : 148 x/mnt S : 39.7 RR : 28 SPO2 98% Status Generalis Mata CA -/-, SI -/-, RC +/-, pupil isokor 3mm/3mm, refleks kornea (+/+) Mulut : lidah kotor (-), mukosa bibir kering (+) Thorax : SDV +/+ rhonki -/- , wheezing -/-, retraksi -/- Jantung : BJ I-II reguler (+), murmur (-) Abdomen : supel, BU (+) dbn, timpani (+), nyeri tekan (+) Eks. superior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), ikterik (-/-), CRT <2 detik Eks. inferior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), ikterik (-/-), CRT <2 detik Status Neurologis Sensorik sde Kekuatan motorik sde Refleks fisiologis: +3/+3//+3/+3 Refleks patologis: (-) Parese NC VII (-) Meningeal sign (-) FUNGSI HATI SGOT 1760 (H) SGPT 340 (H) HbsAg Positif (+) lab 16/3/26 hb 10.01 eritrosit 3.59 hmt 27.8 lekosit 9.48 trombosit 22 (L) Na 128 K 4.5 Cl 97 Ca2+ 0.9 (L) pH 7.46
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran pada Pasien dengan Hepatitis Fulminan (HbsAg Positif) dan Trombositopenia Berat
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko Penurunan Perfusi Serebral berhubungan dengan peningkatan tekanan intrakranial dan gangguan koagulasi (trombosit 22).
Kode SLKI: L.14039
Deskripsi : Perfusi serebral membaik, ditandai dengan: 1) Tingkat kesadaran tidak memburuk (E1V1M1 dipertahankan atau membaik). 2) Tanda-tanda vital dalam rentang yang diharapkan (TD, Nadi, RR). 3) Tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial (refleks fisiologis normal, refleks patologis negatif, pupil isokor). 4) Nilai laboratorium terkait (trombosit, elektrolit) mendekati normal.
Kode SIKI: I.14043
Deskripsi : 1. Monitor status neurologis secara ketat dan berkelanjutan (GCS, ukuran dan reaksi pupil, refleks, tanda meningeal, kekuatan motorik) setiap 1-2 jam atau sesuai protokol. 2. Monitor tanda-tanda vital (TD, Nadi, Suhu, RR, SpO2) setiap jam atau lebih sering jika tidak stabil. 3. Pertahankan posisi kepala tempat tidur 30 derajat dengan kepala dan leher dalam posisi netral untuk memfasilitasi aliran darah vena jugularis. 4. Minimalkan stimulasi yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial (hindari suction yang tidak perlu, atur lingkungan tenang, lakukan perawatan secara terkumpul). 5. Kolaborasi pemberian terapi untuk menurunkan beban amonia dan faktor pencetus ensefalopati hepatik sesuai instruksi dokter. 6. Kolaborasi dalam pemantauan dan koreksi ketidakseimbangan elektrolit (Na 128, Ca2+ 0.9). 7. Lakukan tindakan dengan hati-hati untuk mencegah perdarahan (injeksi IM, sikat gigi) akibat trombositopenia berat. 8. Observasi tanda-tanda perdarahan spontan (petekie, ekimosis, perdarahan gusi, epistaksis). 9. Kolaborasi dalam pemberian transfusi trombosit sesuai indikasi dan instruksi dokter. 10. Edukasi keluarga tentang kondisi pasien dan pentingnya meminimalkan gangguan serta melaporkan setiap perubahan yang mereka amati.
Kondisi: Penurunan Kesadaran pada Pasien dengan Hepatitis Fulminan (HbsAg Positif) dan Trombositopenia Berat
Kode SDKI: D.0097
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi berhubungan dengan penurunan fungsi hati (SGOT/SGPT sangat tinggi) dan status imunologis yang terganggu (HbsAg +).
Kode SLKI: L.09008
Deskripsi : Risiko infeksi berkurang, ditandai dengan: 1) Tanda-tanda infeksi tidak muncul (suhu tubuh dalam rentang normal, leukosit dalam batas normal). 2) Hasil kultur negatif. 3) Tanda-tanda vital dalam batas normal. 4) Tidak ada tanda sepsis.
Kode SIKI: I.00926
Deskripsi : 1. Monitor tanda-tanda infeksi sistemik dan lokal setiap shift, termasuk suhu tubuh (saat ini 39.7°C), leukosit (9.48), karakteristik sputum, urine, dan warna/karakteristik cairan tubuh lainnya. 2. Lakukan cuci tangan dengan teknik aseptik sebelum dan setelah melakukan tindakan pada pasien. 3. Pertahankan teknik aseptik dan steril pada semua prosedur invasif (pemasangan infus, perawatan luka). 4. Lakukan perawatan kebersihan diri pasien (perawatan mulut, kulit, area perianal) secara optimal untuk mengurangi reservoir mikroorganisme. 5. Atur posisi pasien secara periodik dan lakukan fisioterapi dada pasif untuk mencegah stasis sekret dan pneumonia. 6. Tingkatkan nutrisi sesuai toleransi dan kondisi pasien untuk mendukung sistem imun. 7. Kolaborasi pemberian terapi antibiotik atau antivirus sesuai indikasi dan instruksi dokter. 8. Batasi pengunjung dan pastikan pengunjung dalam kondisi sehat serta menerapkan prosedur pencegahan infeksi. 9. Edukasi keluarga tentang pentingnya pencegahan infeksi dan tanda-tanda infeksi yang harus dilaporkan.
Kondisi: Penurunan Kesadaran pada Pasien dengan Hepatitis Fulminan (HbsAg Positif) dan Trombositopenia Berat
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik (demam 39.7°C), penurunan asupan (penurunan kesadaran), dan gangguan fungsi hati.
Kode SLKI: L.03015
Deskripsi : Kebutuhan nutrisi terpenuhi, ditandai dengan: 1) Asupan nutrisi sesuai dengan kebutuhan metabolik. 2) Status hidrasi adekuat (turgor kulit baik, mukosa bibir lembab). 3) Tidak terjadi penurunan berat badan yang signifikan. 4) Nilai laboratorium terkait nutrisi (albumin, hemoglobin) stabil atau membaik.
Kode SIKI: I.03027
Deskripsi : 1. Kaji status nutrisi pasien (BB, IMT, tanda klinis defisiensi) dan kemampuan menelan/refleks muntah. 2. Timbang berat badan pasien secara teratur jika memungkinkan. 3. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori, protein, dan nutrisi lain sesuai kondisi gagal hati dan katabolik tinggi. 4. Berikan nutrisi enteral (melalui NGT) dengan formula khusus sesuai resep, dimulai secara bertahap, dan monitor toleransi (residu lambung, distensi abdomen, diare). 5. Pertahankan kebersihan mulut sebelum dan sesudah pemberian nutrisi untuk meningkatkan kenyamanan dan mencegah infeksi. 6. Monitor status hidrasi (turgor kulit, mukosa bibir kering (+), balance cairan) dan kolaborasi pemberian cairan intravena sesuai kebutuhan. 7. Posisikan pasien dengan kepala elevasi 30-45 derajat selama dan setelah pemberian nutrisi enteral untuk mencegah aspirasi. 8. Monitor parameter laboratorium terkait (Hb 10.01, albumin, elektrolit) dan laporkan setiap kelainan. 9. Observasi tanda-tanda perbaikan status nutrisi dan laporkan setiap komplikasi terkait nutrisi.
-
Article No. 24483 | 16 Mar 2026
Klinis : Seorang bayi perempuan usia 8 hari dibawa kerumah sakit dengan keluhan badan kuning setelah perawatan. Bayi lahir spontan dari ibu G1P1A0H1 dengan bantuan bidan. Ibu dengan riwayat hepatitis A. Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan data BB bayi 2100 gram, usia pada waktu pengkajian 8 hari. Bayi terlihat kuning (Kramer 3 – 4) dengan hasil pemeriksaan bilirubin total 17,5 mg/dL. Pemeriksaan tanda vital (nadi: 132 x/menit, nafas: 40 x/menit, suhu: 37,8°C). Saat pengkajian fisik, bayi dilakukan foto terapi 2 lampu. Bayi terlihat gelisah, sering menangis dan terlihat haus ketika diberi minum. Kulit bayi terlihat terkelupas dan kering serta teraba hangat.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Tinggi Hiperbilirubinemia / Ikterus Neonatorum
Kode SDKI: D.0024
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kadar bilirubin dalam darah pada periode neonatal yang dapat menyebabkan kernikterus dan kerusakan neurologis permanen.
Kode SLKI: L.08046
Deskripsi : Penurunan kadar bilirubin. Kriteria hasil: 1) Kadar bilirubin total dalam batas normal sesuai usia, 2) Tidak ada tanda-tanda kernikterus, 3) Warna kulit dan sklera normal, 4) Asupan nutrisi adekuat, 5) Keseimbangan cairan dan elektrolit tercapai.
Kode SIKI: I.01230
Deskripsi : Manajemen Hiperbilirubinemia. Intervensi keperawatan: 1) Monitor ketat tanda vital (suhu, nadi, pernapasan) setiap 2-4 jam untuk mendeteksi dini komplikasi seperti infeksi atau dehidrasi yang dapat memperburuk ikterus. 2) Lakukan pengukuran kadar bilirubin serum secara serial sesuai protokol atau instruksi dokter (misalnya setiap 12-24 jam) untuk menilai efektivitas terapi. 3) Lakukan fototerapi dengan tepat: a. Pastikan area kulit bayi terpapar sinar maksimal dengan menanggalkan pakaian dan menggunakan penutup mata khusus untuk melindungi retina. b. Ubah posisi bayi secara berkala (telentang, tengkurap dengan pengawasan, miring) untuk memastikan paparan merata. c. Monitor suhu tubuh bayi untuk mencegah hipertermia atau hipotermia akibat paparan lampu. d. Jaga jarak aman antara bayi dan sumber cahaya sesuai spesifikasi alat. 4) Tingkatkan asupan cairan untuk meningkatkan ekskresi bilirubin: a. Berikan ASI atau susu formula lebih sering (setiap 2-3 jam). b. Observasi tanda-tanda dehidrasi seperti turgor kulit menurun, fontanel cekung, dan output urin berkurang (popok kering kurang dari 6 kali/hari). c. Catat intake dan output cairan secara akurat. 5) Lakukan perawatan kulit: a. Rawat kulit kering dan terkelupas dengan pelembab yang aman untuk bayi baru lahir. b. Hindari penggunaan losion atau minyak yang dapat menghalangi sinar fototerapi. c. Observasi integritas kulit terhadap iritasi atau ruam. 6) Berikan kenyamanan dan mengurangi stimulasi: a. Swaddling (bedong) yang longgar untuk mengurangi gelisah. b. Atur lingkungan yang tenang, redupkan cahaya ruangan di luar fototerapi. c. Lakukan sentuhan terapeutik dan gendong saat bayi keluar dari fototerapi untuk pemberian makan. 7) Edukasi orang tua: a. Jelaskan penyebab kuning pada bayi, tujuan fototerapi, dan pentingnya asupan cairan. b. Demonstrasikan perawatan bayi selama fototerapi dan cara menyusui yang efektif. c. Berikan dukungan emosional, yakinkan bahwa ikterus umum terjadi namun memerlukan penanganan serius. 8) Monitor tanda-tanda bahaya (warning signs) seperti letargi, tangisan melengking (high-pitched cry), hipotoni atau hipertoni, kejang, dan penurunan refleks hisap yang dapat mengindikasikan kernikterus, dan segera laporkan. 9) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian terapi adjuvan seperti imunoglobulin intravena (jika dicurigai inkompatibilitas darah) atau pertukaran transfusi jika kadar bilirubin sangat tinggi dan tidak responsif dengan fototerapi.
-
Article No. 24484 | 16 Mar 2026
Klinis : PAsien mengatakan adanya nyeri saat ganti perban diarea luke post operasi DO: 1. luka operasi tampak baik, kering, jahitan rapat, tidak adanya nanah maupun darah 2. tampaka lesi kemerahan di area perban 3. lesi luka soeertu kecet berwarna putih tidak ada darah namun perih 5. pasuen tampak meringis saat perban dibuka dan apabila terkena alkohol dan betadine
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah seperti cedera; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan atau antisipasi berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tindakan untuk mengontrol dan mengurangi nyeri yang dirasakan pasien. Intervensi ini meliputi pengkajian nyeri yang komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, dan intensitas), serta faktor presipitasi. Perawat mengajarkan dan menggunakan metode farmakologis (pemberian analgesik sesuai program) dan non-farmakologis (teknik distraksi, relaksasi, imajinasi terbimbing) untuk menurunkan persepsi nyeri. Selain itu, perawat mengevaluasi keefektifan intervensi yang diberikan dan memodifikasi rencana sesuai kebutuhan untuk mencapai tingkat kenyamanan yang diinginkan pasien. Dalam konteks luka, kontrol nyeri juga mencakup teknik perawatan luka yang lembut dan meminimalkan trauma selama prosedur.
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Tingkat Kontrol Nyeri. Suatu kondisi dimana nyeri dapat dikendalikan atau ditoleransi oleh individu. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: pasien mampu melaporkan berkurangnya atau hilangnya nyeri (skala nyeri menurun), menunjukkan tanda-tanda perilaku nyeri berkurang (tidak meringis, gelisah, atau menangis), mampu beristirahat dan tidur dengan cukup, serta mampu melakukan aktivitas yang diinginkan tanpa hambatan nyeri yang signifikan. Pasien juga menunjukkan pemahaman tentang faktor pemicu nyeri dan metode penanganannya. Pada kasus ini, hasil yang diharapkan adalah pasien tidak lagi meringis saat perban dibuka dan selama perawatan luka, serta melaporkan penurunan rasa perih saat larutan antiseptik diaplikasikan.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0020
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen, yang dapat mengancam kesehatan. Pada pasien dengan luka post operasi, integritas kulit yang terganggu menjadi port de entry utama bagi mikroorganisme.
Kode SLKI: 1920
Deskripsi : Pengendalian Infeksi. Tindakan untuk mencegah dan menangani infeksi. Intervensi ini mencakup pemantauan tanda-tanda infeksi lokal (seperti kemerahan yang meluas, bengkak, panas, nyeri, pus) dan sistemik (demam). Perawat menerapkan dan mengajarkan prinsip aseptik ketat selama perawatan luka, termasuk teknik cuci tangan yang benar, penggunaan alat steril, dan pembuangan balutan lama yang tepat. Perawat juga memantau dan merawat luka sesuai kondisi, memastikan luka tetap kering dan bersih, serta memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang tanda-tanda infeksi yang perlu diwaspadai dan pentingnya menjaga kebersihan. Meskipun luka tampak kering dan rapat, adanya lesi kemerahan di area perban dan luka lecet memerlukan kewaspadaan ekstra untuk mencegah infeksi sekunder.
Kode SIKI: 2820
Deskripsi : Status Pengendalian Infeksi. Suatu kondisi dimana infeksi dapat dicegah atau dikendalikan. Kriteria hasil meliputi: tidak adanya tanda-tanda infeksi pada luka (nanah, kemerahan yang bertambah, bengkak, demam). Luka menunjukkan proses penyembuhan yang normal (granulasi, epitelisasi). Pasien dan keluarga menunjukkan perilaku yang mendukung pencegahan infeksi, seperti tidak menyentuh luka dengan tangan kotor dan melaporkan segera jika ada perubahan pada luka. Pada kasus ini, hasil yang diharapkan adalah lesi kemerahan di area perban tidak berkembang menjadi infeksi dan luka operasi utama tetap dalam kondisi baik tanpa nanah.
Kondisi: Kerusakan Integritas Kulit
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Gangguan pada epidermis dan/atau dermis. Kondisi ini dapat disebabkan oleh faktor internal (seperti imobilisasi, status nutrisi buruk) atau faktor eksternal (seperti pembedahan, trauma, iritasi). Pada pasien ini, kerusakan kulit terjadi akibat insisi bedah (luka operasi) dan iritasi atau reaksi terhadap plester/perban (lesi kemerahan dan lecet).
Kode SLKI: 0903
Deskripsi : Perawatan Luka. Tindakan untuk memfasilitasi penyembuhan luka dan mencegah komplikasi. Intervensi ini meliputi pengkajian luka secara teratur (ukuran, kedalaman, drainage, jaringan sekitar), pemilihan balutan yang tepat sesuai kondisi luka (misalnya, balutan non-iritan untuk kulit yang sensitif di sekitar luka), serta teknik perawatan luka yang tepat untuk meminimalkan trauma dan nyeri. Perawat juga melindungi kulit sekitar luka dari kerusakan lebih lanjut (misalnya dengan barrier film atau skin prep) dan memberikan edukasi tentang perawatan luka di rumah. Dalam kasus ini, perawat perlu mempertimbangkan kemungkinan iritasi kontak dari perban atau antiseptik yang digunakan.
Kode SIKI: 1103
Deskripsi : Status Penyembuhan Luka: Epitelialisasi. Suatu kondisi dimana luka mengalami proses penyembuhan dengan pembentukan jaringan epitel baru. Kriteria hasil meliputi: luka menunjukkan penurunan ukuran, adanya jaringan granulasi yang sehat (berwarna merah muda), dan pembentukan jaringan epitel baru di tepi luka. Kulit di sekitar luka utuh, tidak kemerahan, atau teriritasi. Tidak ada drainage yang purulen. Pada kasus ini, tujuan jangka pendek adalah mencegah perluasan lesi kemerahan dan lecet di sekitar luka, serta memastikan luka operasi utama tetap tertutup dan kering menuju penyembuhan sempurna.