Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24518 | 18 Mar 2026
Klinis : pasien post kll tidak pakai helm, ditabrak dari belakang, cedera kepala ada perdarahan, kecelakaan tanggal 15 maret, tanggal 17 dirujuk di rs pusat CT-SCAN KEPALA KLINIS : Subgaleal hematoma di occipitalis bilateral dan parietalis sinistra Fraktur linear di frontalis dextra, temporalis sinistra, dan parietalis bilateral Cellulae mastoidea dan sinus paranasal normodens Gyri, sulci, dan fissura sylvii tidak prominent Batas cortex dan medulla mengabur Tampak lesi hiperdens di occipitalis bilateral dengan bentuk biconvex dan lesi hiperdens yang mengikuti gyris dan silcus di frontalis sinistra Tidak tampak deviasi linea mediana Sistema ventrikel dan sisterna menyempit KESAN : Fraktur linear di frontalis dextra, temporalis sinistra, dan parietalis bilateral Subgaleal hematoma di occipitalis bilateral dan parietalis sinistra SAH di frontalis sinistra Oedem cerebri Tidak tampak SDH, ICH, dan IVH pada Head CT-Scan crt kurang dari 2 detik, pola napas irreguler 25x/menit, tekanan darah 156/86 mmhg, map 105 mmhg, nadi 76 kaali per menit, akral pucat, teraba dingin, turgor kulit menuurn, tanggal 17 kondisi terpasang iv transfusi prc yang ke-4 kolf, dispnea, pasien gelisah dan tidak kooperatif, cenderung marah dan memberontak, tidak ada kejang, dispnea, curiga fraktur cervical, gcs e4m5v4
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penurunan Perfusi Jaringan Otak
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Status dimana individu berisiko mengalami penurunan nutrisi dan oksigenasi pada tingkat seluler dan jaringan otak akibat gangguan sirkulasi, yang dapat mengancam jiwa.
Kode SLKI: L.14018
Deskripsi : Perfusi jaringan otak membaik atau tetap adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Tanda-tanda vital dalam batas yang dapat diterima (tekanan darah, nadi, pernapasan), 2) Status neurologis stabil atau membaik (tingkat kesadaran, GCS, ukuran dan reaksi pupil, fungsi motorik/sensorik), 3) Tidak ada atau berkurangnya tanda peningkatan tekanan intrakranial (sakit kepala hebat, muntah proyektil, penurunan kesadaran), 4) Hasil pemeriksaan penunjang (seperti CT scan) menunjukkan tidak ada perburukan edema atau perdarahan baru.
Kode SIKI: I.14018
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk mempertahankan dan memantau perfusi serebral. Intervensi utama meliputi: 1) Memonitor dan mendokumentasikan status neurologis secara ketat dan berkala menggunakan GCS, pemeriksaan pupil, dan fungsi motorik/sensorik. 2) Memonitor dan mencatat tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) serta MAP (Mean Arterial Pressure) untuk menilai kecukupan tekanan perfusi serebral. 3) Mempertahankan posisi kepala tempat tidur 30 derajat dengan kepala dan leher dalam posisi netral (dengan memperhatikan kecurigaan fraktur servikal, sehingga imobilisasi harus ketat) untuk memfasilitasi drainase vena dan mengurangi tekanan intrakranial. 4) Memonitor pola pernapasan dan upaya pernapasan; kolaborasi dalam pemberian oksigenasi sesuai kebutuhan untuk mencegah hipoksia dan hiperkapnia yang dapat memperburuk edema serebral. 5) Meminimalkan stimulasi yang tidak perlu (suara, cahaya, manipulasi) dan memberikan lingkungan yang tenang untuk mencegah peningkatan TIK. 6) Mengatur pemberian cairan intravena dengan ketat sesuai program untuk menjaga normovolemia dan menghindari cairan berlebihan yang dapat memperberat edema. 7) Mengobservasi dan melaporkan segera tanda-tanda peningkatan TIK atau herniasi. 8) Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi medis seperti osmotik diuretik (jika diresepkan) dan transfusi untuk mengatasi anemia (PRC ke-4) guna meningkatkan kapasitas angkut oksigen.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berlangsung dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.14020
Deskripsi : Nyeri teratasi atau terkontrol. Kriteria hasil meliputi: 1) Pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri (skala nyeri menurun), 2) Tanda-tanda perilaku nyeri (gelisah, cenderung marah, memberontak) berkurang atau hilang, 3) Tanda-tanda fisiologis nyeri (tekanan darah dan frekuensi napas meningkat) menurun atau kembali ke baseline, 4) Pasien menunjukkan kemampuan untuk beristirahat dan berpartisipasi dalam perawatan secara kooperatif.
Kode SIKI: I.14020
Deskripsi : Intervensi untuk mengatasi nyeri akut. Intervensi utama meliputi: 1) Melakukan penilaian nyeri komprehensif dengan menggunakan skala yang sesuai (misalnya, FLACC atau Behavioral Pain Scale mengingat pasien tidak kooperatif), mencakup lokasi, karakteristik, intensitas, dan faktor pencetus. 2) Mengobservasi tanda-tanda nonverbal nyeri seperti gelisah, ekspresi wajah, postur tubuh, dan perubahan tanda vital (tekanan darah 156/86 mmHg, napas 25x/menit dapat terkait nyeri). 3) Memberikan lingkungan yang tenang dan nyaman, mengurangi stimulasi berlebihan. 4) Melakukan manajemen posisi yang aman dan nyaman dengan memperhatikan imobilisasi servikal dan elevasi kepala. 5) Memberikan intervensi nonfarmakologis seperti sentuhan terapeutik atau teknik distraksi sederhana jika memungkinkan. 6) Berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik sesuai resep (biasanya opioid atau non-opioid dengan pertimbangan status neurologis), dan mengevaluasi efektivitas serta efek sampingnya. 7) Mendokumentasikan respons nyeri sebelum dan setelah intervensi.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0009
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: L.03009
Deskripsi : Bersihan jalan napas efektif. Kriteria hasil meliputi: 1) Jalan napas paten, 2) Suara napas bersih, tidak ada stridor atau mengi, 3) Pola napas reguler dan dalam dengan frekuensi dalam rentang normal, 4) Tidak ada atau berkurangnya dispnea, 5) Gas darah arteri dalam batas normal, 6) Pasien mampu mengeluarkan sekresi secara efektif atau sekresi dapat dikelola.
Kode SIKI: I.03009
Deskripsi : Intervensi untuk mempertahankan dan meningkatkan bersihan jalan napas. Intervensi utama meliputi: 1) Memonitor status pernapasan: frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas (pola napas ireguler 25x/menit dan dispnea). 2) Auskultasi suara napas secara berkala untuk mendeteksi adanya penurunan atau penambahan suara abnormal. 3) Mempertahankan posisi semi-fowler atau elevasi kepala 30 derajat dengan menjaga alignment tulang servikal (dengan imobilisasi) untuk memaksimalkan ekspansi paru. 4) Melakukan suction jalan napas atas atau bawah (jika terpasang endotrakeal tube) dengan teknik steril dan hati-hati untuk menghindari peningkatan TIK. 5) Memberikan oksigenasi tambahan sesuai program dan indikasi untuk mempertahankan saturasi oksigen >95%. 6) Melakukan fisioterapi dada dengan hati-hati jika tidak terkontraindikasi (mempertimbangkan fraktur dan kondisi neurologis). 7) Memonitor warna kulit dan membran mukosa. 8) Berkolaborasi dalam pemeriksaan analisa gas darah dan persiapan tindakan intubasi jika terjadi kegagalan pernapasan.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: D.0731
Deskripsi Singkat: Kerentanan terhadap cedera fisik akibat kondisi lingkungan atau faktor internal pasien, yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: L.07331
Deskripsi : Pasien terlindungi dari cedera. Kriteria hasil meliputi: 1) Tidak terjadi cedera tambahan (jatuh dari tempat tidur, menarik selang infus/NGT, dll), 2) Integritas kulit tetap terjaga, 3) Alat bantu imobilisasi (cervical collar, bidai) tetap terpasang dengan baik dan tidak menimbulkan tekanan berlebihan, 4) Lingkungan perawatan aman dan terkontrol.
Kode SIKI: I.07331
Deskripsi : Intervensi untuk mencegah cedera pada pasien. Intervensi utama meliputi: 1) Melakukan pengawasan ketat (one on one) mengingat pasien gelisah, tidak kooperatif, dan cenderung marah. 2) Menggunakan pengaman tempat tidur (side rail) yang dipasang selalu dalam posisi terangkat dan terkunci, serta pertimbangan untuk menggunakan restrain yang lembut dan sesuai protokol jika sangat diperlukan untuk mencegah pasien menarik alat atau jatuh. 3) Memastikan lingkungan sekitar tempat tidur aman, bebas dari barang yang dapat membahayakan. 4) Mempertahankan imobilisasi servikal yang ketat sesuai protokol hingga fraktur servikal dapat disingkirkan. 5) Menjaga semua alat terapi (infus, selang oksigen) tetap terpasang dengan baik dan aman. 6) Melakukan perawatan kulit secara rutin pada area yang tertekan (tengkuk, sakrum, tumit) karena imobilisasi dan turgor kulit yang menurun. 7) Memberikan penjelasan sederhana dan persuasif kepada pasien tentang pentingnya untuk tidak banyak bergerak, meskipun respons mungkin terbatas.
-
Article No. 24519 | 18 Mar 2026
Klinis : pasien post kll tidak pakai helm, ditabrak dari belakang, cedera kepala ada perdarahan, kecelakaan tanggal 15 maret, tanggal 17 dirujuk di rs pusat CT-SCAN KEPALA KLINIS : Subgaleal hematoma di occipitalis bilateral dan parietalis sinistra Fraktur linear di frontalis dextra, temporalis sinistra, dan parietalis bilateral Cellulae mastoidea dan sinus paranasal normodens Gyri, sulci, dan fissura sylvii tidak prominent Batas cortex dan medulla mengabur Tampak lesi hiperdens di occipitalis bilateral dengan bentuk biconvex dan lesi hiperdens yang mengikuti gyris dan silcus di frontalis sinistra Tidak tampak deviasi linea mediana Sistema ventrikel dan sisterna menyempit KESAN : Fraktur linear di frontalis dextra, temporalis sinistra, dan parietalis bilateral Subgaleal hematoma di occipitalis bilateral dan parietalis sinistra SAH di frontalis sinistra Oedem cerebri Tidak tampak SDH, ICH, dan IVH pada Head CT-Scan crt kurang dari 2 detik, pola napas irreguler 25x/menit, tekanan darah 156/86 mmhg, map 105 mmhg, nadi 76 kaali per menit, akral pucat, teraba dingin, turgor kulit menuurn, tanggal 17 kondisi terpasang iv transfusi prc yang ke-4 kolf, dispnea, pasien gelisah dan tidak kooperatif, cenderung marah dan memberontak, tidak ada kejang, dispnea, curiga fraktur cervical, gcs e4m5v4, hb pada 15 maret 5,4
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral
Kode SDKI: 0025
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan suplai darah ke otak yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan otak.
Kode SLKI: 2401
Deskripsi : Perfusi jaringan serebral efektif. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: tingkat kesadaran sesuai potensi (GCS 15 atau sesuai kondisi neurologis), tanda-tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah sistolik 90-140 mmHg, MAP 70-105 mmHg, nadi 60-100x/menit), tidak ada peningkatan tekanan intrakranial (tidak ada sakit kepala hebat, muntah proyektil, penurunan kesadaran), fungsi kognitif dan sensorik sesuai potensi, serta hasil pemeriksaan diagnostik (seperti CT scan) menunjukkan tidak ada tanda iskemia atau edema yang memburuk.
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk mempertahankan dan memantau perfusi serebral. Intervensi ini mencakup: memonitor status neurologis secara ketat dan berkelanjutan (GCS, pupil, tanda-tanda vital, fungsi motorik dan sensorik) setiap jam atau sesuai protokol; memposisikan kepala pasien dengan elevasi 30-45 derajat dengan kepala dalam posisi netral (dengan tetap mempertimbangkan kecurigaan fraktur serviks, sehingga immobilisasi serviks harus dipertahankan) untuk meningkatkan drainase vena dan menurunkan tekanan intrakranial; mempertahankan tekanan darah sistemik yang adekuat (MAP target >80 mmHg) untuk menjamin tekanan perfusi serebral (CPP) yang cukup, namun tidak terlalu tinggi yang dapat memperburuk edema; menghindari dan meminimalkan faktor pemicu peningkatan TIK seperti batuk, mengejan, fleksi kepala, dan suction yang tidak perlu; memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan untuk menjaga saturasi oksigen >95%; mengatur pemberian cairan intravena dengan ketat untuk mencegah overload cairan yang memperberat edema serebral; memberikan obat-obatan sesuai instruksi dokter seperti osmotik diuretik (misal manitol), antikejang, atau antihipertensi; serta mempertahankan lingkungan yang tenang, membatasi pengunjung, dan menghindari stimulasi berlebihan untuk mencegah agitasi yang meningkatkan kebutuhan metabolik otak.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol nyeri. Kriteria hasil meliputi: pasien melaporkan penurunan intensitas nyeri (skala 0-3), menunjukkan perilaku nyaman (wajah rileks, dapat beristirahat), tanda-tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi, pernapasan tidak meningkat karena nyeri), dan mampu berpartisipasi dalam aktivitas sesuai kemampuan.
Kode SIKI: 0810
Deskripsi : Manajemen nyeri. Intervensi meliputi: menilai karakteristik nyeri (lokasi, intensitas dengan skala, kualitas, faktor pencetus dan pereda) secara komprehensif, dengan memperhatikan bahwa pasien gelisah dan tidak kooperatif sehingga observasi perilaku menjadi kunci; memberikan analgesia sesuai instruksi dokter (analgesik non-opioid atau opioid dengan pemantauan efek samping depresi pernapasan, mengingat pola napas irreguler); melakukan intervensi non-farmakologis seperti memberikan lingkungan yang tenang, mengurangi cahaya berlebihan, dan sentuhan terapeutik jika memungkinkan; memposisikan pasien dengan nyaman dengan tetap menjaga immobilisasi serviks dan elevasi kepala; memantau efektivitas dan efek samping pemberian analgesik; serta mendokumentasikan respons nyeri sebelum dan setelah intervensi.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0020
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap invasi patogen yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1801
<>Deskripsi : Kontrol infeksi. Kriteria hasil meliputi: tidak ada tanda-tanda infeksi lokal (pada area luka/hematoma kepala, area pemasangan infus) maupun sistemik (suhu tubuh dalam rentang 36-37.5°C, leukosit dalam batas normal), luka bersih dan kering, serta pemasangan alat invasif (IV line) bebas dari tanda inflamasi.
Kode SIKI: 4120
Deskripsi : Proteksi terhadap infeksi. Intervensi meliputi: mempertahankan teknik aseptik ketat pada semua prosedur invasif (perawatan luka, pemasangan dan perawatan infus); melakukan perawatan kebersihan diri pasien (mandi, perawatan mulut) secara rutin untuk mengurangi reservoir mikroorganisme; memantau tanda-tanda vital terutama suhu tubuh setiap 4-8 jam; memeriksa area kulit di sekitar hematoma subgaleal dan area pemasangan infus terhadap tanda kemerahan, bengkak, hangat, atau drainase; memberikan terapi antibiotik profilaksis jika diresepkan tepat waktu; meningkatkan nutrisi pasien untuk mendukung sistem imun (walaupun mungkin masih dalam kondisi NPO atau nutrisi parenteral); serta melakukan cuci tangan sebelum dan setelah kontak dengan pasien.
Kondisi: Ketidakseimbangan Volume Cairan: Risiko Kekurangan
Kode SDKI: 0003
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular yang dapat menyebabkan dehidrasi.
Kode SLKI: 0601
Deskripsi : Keseimbangan cairan. Kriteria hasil meliputi: tanda-tanda vital stabil (tekanan darah, nadi dalam rentang normal), turgor kulit baik, membran mukosa lembab, haluaran urine adekuat (>0.5 mL/kgBB/jam), dan nilai laboratorium (seperti hemoglobin dan hematokrit) menunjukkan perbaikan.
Kode SIKI: 2120
Deskripsi : Manajemen cairan. Intervensi meliputi: memantau status cairan secara ketat dengan mencatat balance intake dan output setiap jam; memonitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, MAP) dan tanda klinis dehidrasi (turgor kulit, kelembaban membran mukosa, akral) secara berkala; memberikan resusitasi cairan dan transfusi darah (PRC) sesuai instruksi dokter dengan ketat, seperti yang sedang dilakukan (transfusi PRC ke-4), sambil memantau tanda-tanda kelebihan beban cairan (dispnea, crackles) karena pasien juga mengalami edema cerebri; memantau hasil laboratorium serial (Hb, Ht, elektrolit) untuk mengevaluasi efektivitas resusitasi; serta menjaga akses intravena paten untuk pemberian cairan dan obat.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 0008
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan kebersihan jalan napas.
Kode SLKI: 0402
Deskripsi : Status respiratori: pertukaran gas. Kriteria hasil meliputi: pola napas reguler (12-20x/menit), suara napas bersih di semua lapang paru, saturasi oksigen >95%, gas darah arteri dalam batas normal, dan pasien tidak menunjukkan tanda distress pernapasan (dispnea, sianosis).
Kode SIKI: 3140
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Intervensi meliputi: memantau status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas, saturasi oksigen) secara ketat; melakukan auskultasi suara napas untuk mendeteksi adanya sekresi atau atelektasis; melakukan suction jalan napas atas atau endotrakeal jika diperlukan dengan teknik steril dan hati-hati (karena dapat meningkatkan TIK); memposisikan pasien dengan elevasi kepala 30 derajat dan kepala dalam posisi netral (dengan immobilisasi serviks) untuk memudahkan ekspansi paru; memberikan oksigen tambahan sesuai kebutuhan untuk mempertahankan saturasi; mendukung ventilasi mekanik jika diperlukan; serta memberikan fisioterapi dada sesuai toleransi pasien.
-
Article No. 24520 | 18 Mar 2026
Klinis : keluhan sesak nafas (+), batuk ngikil (+) pasien juga mengeluhkan batuk ngikil saat malam hari. KU: Tampak sakit berat, somnolen TD: 101/68 mmHg --> 132/85 mmHg HR: 105 x/m --> 126x/m S 36.9 C RR 24x/m --> 28-32x/' SpO2 88% --> 90% dg NRM 15 lpm qsofa: 2 (rr, gcs) NEWS: 14 (3rr, 3 satO2, 2 SupO2, 3HR, 3 gcs) Kepala : wajah bengkak (-), edem (-) konjungtiva anemis (-/-) sklera ikterik (-/-) Leher : bengkak -/-, krepitasi (-), nyeri (-) kemerahan (-) JVP tidak meningkat, pembesaran limfadenopati (-) Dada: simetris, venektasi (-), retraksi (+) Pulmo: I: pengembangan dada kanan sama dengan kiri, retraksi (-) P: fremitus raba dada kanan sama dengan kiri P: sonor / sonor A: SDV +/+, rbk +/+, rbh -/-, wh -/-, egofoni -/- Cor : S1-2 reguler, murmur -, gallop - Abdomen : supel (+) nyeri tekan (-), BU (+) dbn Genital : dbn Ext : akral hangat (+/+) oedem (-/-/-/-), CRT <2 dtk (16/3/2026) Lab: Darah Rutin Hemoglobin 11.46 Eritrosit 4.74 Hematokrit 37.9 Index Eritrosit MCV 80.1 MCH 24.2 MCHC 30.2 Lekosit 8.27 Trombosit 244 RDW-CV 14.39 MPV 6.43 Hitung Jenis *Neutrofil 92.4* Limfosit 2 Monosit 4.5 Eosinofil 0 Basofil 1.1 Total Neutrofil 7.64 Total Lymphosit 0.16 Total Monosit 0.37 Total Eosinofil 0 Total Basofil 0.09 Gol. Darah (A B O) Golongan Darah B KIMIA KLINIK ELEKTROLIT Natrium (Na) 136 Kalium (K) 4.1 Chlorida (Cl) 96 Calsium (Ca2+) 1 pH 7.49 Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu 135 Fungsi Hati *AST (SGOT) 335* *ALT (SGPT) 199* Fungsi Ginjal Ureum 40.2 Kreatinin 0.48 (16/3/26) ro..toraks: Kesan : -Efusi pleura sinistra -Besar cor tak valid dinilai
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif terkait Proses Inflamasi dan Efusi Pleura
Kode SDKI: D.0005 & D.0011
Deskripsi Singkat: Berdasarkan data pasien, dua diagnosa keperawatan utama yang sangat relevan adalah Gangguan Pertukaran Gas (D.0005) dan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0011). Gangguan pertukaran gas ditandai dengan sesak napas, takipnea (RR 24-32x/m), hipoksemia (SpO2 88-90% dengan O2), dan penggunaan otot aksesori (retraksi (+)). Data ini didukung oleh skor NEWS tinggi (14) dan temuan radiologis efusi pleura yang membatasi ekspansi paru. Bersihan jalan napas tidak efektif ditandai dengan batuk ngikil (mengi) yang mengindikasikan obstruksi jalan napas, serta peningkatan produksi sekret yang mungkin dari proses infeksi/inflamasi, ditunjukkan oleh leukositosis dan neutrofilia dominan (92.4%). Kondisi somnolen juga merupakan dampak dari hipoksia dan mungkin hiperkapnia. Peningkatan enzim hati (AST/SGPT 335, ALT/SGPT 199) dan ureum yang sedikit tinggi dapat mengindikasikan dampak sistemik dari hipoksia atau kondisi komorbid, yang memperberat beban kerja pernapasan dan status kesadaran.
Kode SLKI: L.04016 & L.04001
Deskripsi : Untuk diagnosa Gangguan Pertukaran Gas (D.0005), luaran yang diharapkan (SLKI) adalah Perbaikan Pertukaran Gas (L.04016). Kriteria luaran mencakup: frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20x/menit), saturasi oksigen (SpO2) ≥95% pada udara ruangan atau sesuai target terapi, tidak adanya sianosis atau penggunaan otot bantu pernapasan, serta gas darah arteri dalam rentang normal. Untuk diagnosa Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0011), luaran yang diharapkan adalah Bersihan Jalan Napas Efektif (L.04001). Kriteria luaran meliputi: suara napas vesikuler jelas tanpa suara tambahan (ronkhi, mengi), batuk efektif dengan sekret yang mudah dikeluarkan, tidak adanya retraksi dada, dan pola pernapasan yang teratur. Pencapaian luaran ini akan ditandai dengan penurunan frekuensi napas, peningkatan SpO2 tanpa bantuan oksigen tinggi, hilangnya batuk ngikil, serta peningkatan kesadaran dari somnolen ke kompos mentis.
Kode SIKI: I.08060, I.08064, I.08065, I.08068, I.09007
Deskripsi : Intervensi keperawatan (SIKI) yang direncanakan harus komprehensif untuk menangani kedua diagnosa. Pertama, Manajemen Jalan Napas (I.08060) dengan tindakan memastikan patensi jalan napas, mungkin dengan posisi semi-Fowler tinggi, dan siap melakukan suction jika diperlukan. Kedua, Manajemen Pernapasan (I.08064) meliputi pemberian oksigen sesuai order (saat ini NRM 15 lpm), memantau saturasi oksigen dan tanda vital secara ketat, serta mendukung upaya batuk efektif. Ketiga, Latihan Batuk Efektif (I.08065) dengan mengajarkan dan membantu pasien melakukan batuk dalam terkontrol untuk mengeluarkan sekret. Keempat, Fisioterapi Dada (I.08068) seperti perkusi, vibrasi, dan postural drainage (dengan pertimbangan efusi) untuk membantu mobilisasi sekret. Kelima, Pemantauan Vital Signs (I.09007) yang ketat terhadap RR, HR, SpO2, TD, dan status neurologis (GCS) untuk mendeteksi dini deteriorasi, mengingat skor qSOFA dan NEWS yang tinggi mengindikasikan risiko syok sepsis. Selain itu, kolaborasi untuk tindakan thorakosintesis (pengeluaran cairan pleura) sangat mungkin diperlukan sebagai penanganan kausatif efusi pleura. Pemantauan hasil laboratorium (terutama leukosit, elektrolit, dan fungsi ginjal-hati) juga bagian dari intervensi untuk menilai respons terapi dan dampak sistemik.
-
Article No. 24521 | 18 Mar 2026
Klinis : pasien dengan penurunan kesadaran RPD/ DM dan HT KU: lemah, E4V1M5 TD: 145/86 HR: 98 S: 38 RR: 32 SPO2: 99% Status Generalis Mata CA -/-, SI -/-, RC +/-, pupil isokor 3mm/3mm, refleks kornea (+/+) Mulut : lidah kotor (-), mukosa bibir kering (+) Thorax : SDV +/+ rhonki -/- , wheezing -/-, retraksi -/- Jantung : BJ I-II reguler (+), murmur (-) Abdomen : supel, BU (+) dbn, timpani (+), nyeri tekan (+) Eks. superior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), ikterik (-/-), CRT <2 detik Eks. inferior : akral hangat (+/+), oedem (-/-), ikterik (-/-), CRT <2 detik Status Neurologis Sensorik sde Kekuatan motorik sde Refleks fisiologis: +3/+3//+3/+3 Refleks patologis: (-) Parese NC VII (-) Meningeal sign (-) lab 16/3/26 ur 120.0 kr 1.63 albumin 3.03 lab 17/3/26 hb 10.65 eritrosit 3.85 hmt 32.1 lekosit 9.55 trombosit 243 thorax: Kesan : - Bronchitis dan besar cor normal CT scan (-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Serebral Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat menyebabkan kerusakan neurologis ireversibel. Kondisi ini sangat relevan pada pasien dengan penurunan kesadaran (E4V1M5/GCS 10), riwayat hipertensi (TD 145/86 mmHg), dan temuan laboratorium yang menunjukkan gangguan fungsi ginjal (ureum 120, kreatinin 1.63) serta albumin rendah (3.03). Kombinasi faktor-faktor ini (hipertensi, kemungkinan nefropati diabetik, infeksi sistemik dengan S: 38°C dan RR: 32x/menit, serta hipoalbuminemia) meningkatkan risiko terjadinya perfusi serebral yang tidak adekuat. Penurunan kesadaran itu sendiri merupakan manifestasi utama dari gangguan perfusi atau metabolisme otak.
Kode SLKI: L.14016
Deskripsi : Perfusi serebral membaik, ditandai dengan kesadaran kembali normal atau mendekati normal, tanda-tanda vital stabil dalam rentang yang dapat diterima, dan tidak ada tanda peningkatan tekanan intrakranial. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Peningkatan skor Glasgow Coma Scale (GCS) menuju 15, 2) Tekanan darah terkontrol dalam rentang target untuk mencegah hipoperfusi atau hiperperfusi, 3) Denyut jantung dan pernapasan dalam batas normal, 4) Saturasi oksigen terjaga >95%, 5) Tidak ditemukan tanda-tanda neurologis fokal baru (seperti paresis, perubahan pupil), 6) Tanda-tanda infeksi sistemik (demam, takipnea) teratasi. Pencapaian SLKI ini memerlukan manajemen komprehensif terhadap penyebab dasar (hipertensi, infeksi, gangguan metabolik) untuk memastikan suplai oksigen dan nutrisi ke jaringan otak tercukupi.
Kode SIKI: I.14066
Deskripsi : Intervensi keperawatan untuk memantau dan mempertahankan perfusi serebral. Intervensi ini meliputi: 1) Pemantauan Neurologis Ketat: Menilai GCS (E, V, M) secara berkala (setiap 1-2 jam atau sesuai protokol), ukur dan catat reaksi pupil terhadap cahaya (isokor 3mm/3mm, refleks +/+ harus dipertahankan), dan pantau kekuatan motorik serta refleks. 2) Manajemen Tekanan Darah: Memantau TD secara reguler, kolaborasi pemberian obat antihipertensi sesuai order, dan hindari manuver yang dapat menaikkan tekanan intrakranial (seperti mengejan). 3) Optimalisasi Oksigenasi dan Ventilasi: Mempertahankan jalan napas, memantau saturasi oksigen (99% harus dipertahankan), dan memberikan oksigen tambahan jika diperlukan. Pantau pola pernapasan (RR 32x/menit menunjukkan distress/kompensasi). 4) Manajemen Suhu: Memberikan tindakan untuk menurunkan suhu tubuh (38°C) seperti kompres hangat, pemberian antipiretik sesuai kolaborasi, untuk mengurangi kebutuhan metabolisme otak. 5) Manajemen Cairan dan Elektrolit: Mengatur keseimbangan cairan dengan ketat berdasarkan status ginjal (ureum & kreatinin tinggi), memantau balance cairan, dan kolaborasi pemberian cairan intravena untuk menjaga tekanan perfusi serebral yang adekuat tanpa menyebabkan overload. 6) Posisi Tubuh: Menempatkan pasien dengan posisi kepala sedikit ditinggikan (30 derajat) untuk memfasilitasi aliran balik vena serebral, kecuali ada kontraindikasi. 7) Pencegahan Komplikasi Imobilisasi: Melakukan perawatan kulit, perubahan posisi, dan latihan rentang gerak pasif untuk mencegah dekubitus, kontraktur, dan trombosis. 8) Kolaborasi dan Edukasi Keluarga: Berkolaborasi dengan tim medis untuk penanganan penyebab (infeksi/bronkitis, gagal ginjal akut/prerenal, krisis hipertensi). Memberikan penjelasan kepada keluarga tentang kondisi pasien, tujuan pemantauan, dan pentingnya melaporkan setiap perubahan status neurologis.
-
Article No. 24522 | 18 Mar 2026
Klinis : pasien datang dgn keluhan sesek napas, badan lemes, dan demam sudah sejak 1 hari SMRS. Pasien juga mengeluhkan kedua kaki bengkak sudah 1 minggu RPD: asma KU sedang, CM TD: 110/78 mmhg SB: 38,1 C HR:92 x/m RR: 22 x/m SpO2: 97% on room air Mata : cowong -/- CA -/-, SI +/+ Thorax : SDV +/+ rh -/- wh -/-, S1S2 reguler, BJ (-) Abdomen : supel, BU (+), NT (-) epigastrium Ext : Akral hangat +/+, oedem +/+,pucat -/-, CRT <2dt
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Diagnosis keperawatan ini ditegakkan berdasarkan keluhan utama pasien yaitu sesak napas, dengan data pendukung demam (SB 38.1°C) dan riwayat penyakit asma. Demam dapat meningkatkan metabolisme dan kebutuhan oksigen, sementara asma merupakan kondisi inflamasi kronis jalan napas yang dapat menyebabkan bronkospasme, edema mukosa, dan peningkatan produksi sekret, sehingga mengganggu proses difusi oksigen dan karbon dioksida di alveolus. Meskipun SpO2 97% dalam kondisi istirahat, peningkatan frekuensi napas (RR 22x/menit) menunjukkan adanya upaya kompensasi tubuh untuk mempertahankan oksigenasi. Kombinasi faktor-faktor ini mengindikasikan adanya ancaman atau gangguan aktual pada pertukaran gas.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Perbaikan Pertukaran Gas". Target luaran ini mencakup beberapa indikator kunci yang harus dipantau. Pertama, status pernapasan harus membaik, ditandai dengan frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20x/menit) tanpa penggunaan otot bantu napas, serta tidak adanya keluhan sesak napas (dispnea) atau napas pendek (ortopnea). Kedua, status oksigenasi harus optimal, dengan saturasi oksigen (SpO2) dipertahankan ≥95% pada udara ruangan dan nilai analisis gas darah (jika dilakukan) dalam batas normal. Ketiga, status neurologis harus baik, ditunjukkan dengan tingkat kesadaran compos mentis (CM) dan tidak adanya tanda hipoksia seperti gelisah, cemas, atau penurunan kesadaran. Keempat, pola napas harus efektif, dengan irama teratur dan kedalaman adekuat. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan berhasil mengatasi gangguan yang mendasari, memastikan suplai oksigen ke jaringan tubuh tercukupi.
Kode SIKI: I.08041
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama adalah "Manajemen Jalan Napas". Intervensi ini bersifat komprehensif dan meliputi serangkaian tindakan. Pertama, memantau status pernapasan secara ketat termasuk frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas, serta adanya suara napas tambahan seperti wheezing atau ronki. Kedua, memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau tinggi untuk memudahkan ekspansi dada dan mengurangi kerja napas. Ketiga, mengajarkan dan mendorong latihan napas dalam serta batuk efektif untuk membersihkan jalan napas dan meningkatkan ventilasi. Keempat, memastikan kecukupan hidrasi (baik oral atau parenteral) untuk mengencerkan sekret sehingga mudah dikeluarkan. Kelima, mengelola faktor penyebab, seperti pemberian terapi oksigen jika diperlukan sesuai order, dan memastikan kepatuhan terhadap terapi farmakologis untuk asma (seperti bronkodilator dan kortikosteroid) yang telah diresepkan. Keenam, menciptakan lingkungan yang nyaman, tenang, dan dengan sirkulasi udara baik untuk mengurangi kebutuhan oksigen dan kecemasan. Tindakan-tindakan ini bertujuan untuk mempertahankan patensi jalan napas, meningkatkan pertukaran gas, dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti hipoksemia.
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan temuan objektif edema pada kedua kaki yang sudah berlangsung satu minggu. Edema perifer merupakan manifestasi klinis klasik dari kelebihan cairan interstitial. Meskipun tanda vital seperti TD (110/78 mmHg) masih dalam batas normal dan tidak ada bunyi jantung tambahan (BJ -), akumulasi cairan sudah terlihat jelas di ekstremitas bawah. Kondisi ini dapat terkait dengan berbagai faktor, termasuk gangguan kardiovaskular, ginjal, atau hati, namun pada pasien ini perlu dieksplorasi lebih lanjut kemungkinan hubungannya dengan kondisi dasar asma atau penyakit penyerta lainnya. Kelebihan volume cairan meningkatkan beban kerja jantung dan dapat memperburuk kondisi pernapasan jika terjadi edema paru, sehingga memerlukan penanganan segera.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Keseimbangan Cairan". Target luaran ini diukur melalui beberapa parameter. Pertama, status hidrasi harus seimbang, ditandai dengan tidak adanya edema perifer (seperti pada kaki) atau edema dependen lainnya, serta tidak adanya tanda dehidrasi seperti kulit kering dan turgor menurun. Kedua, berat badan harus stabil dan kembali ke berat badan dasar (dry weight), tanpa fluktuasi yang signifikan dari hari ke hari. Ketiga, asupan dan haluaran cairan harus seimbang dalam periode 24 jam. Keempat, tanda-tanda vital harus dalam rentang normal untuk pasien, termasuk tekanan darah, nadi, dan frekuensi pernapasan. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa tubuh pasien mampu mempertahankan homeostasis cairan dan elektrolit.
Kode SIKI: I.06017
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama adalah "Manajemen Kelebihan Volume Cairan". Tindakan ini meliputi: pertama, pemantauan ketat tanda-tanda kelebihan cairan seperti edema (lokasi, derajat pitting), berat badan harian dengan timbangan yang sama di waktu yang sama, serta keseimbangan cairan (balance cairan) dengan mencatat semua asupan (oral, parenteral) dan haluaran (urine, drainase). Kedua, kolaborasi dalam pembatasan asupan cairan dan natrium sesuai instruksi dokter atau ahli gizi. Ketiga, memposisikan pasien dengan elevasi ekstremitas yang edema untuk meningkatkan venous return dan mengurangi pembengkakan. Keempat, memantau respons terhadap terapi diuretik jika diberikan (seperti peningkatan output urine, penurunan edema). Kelima, edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya pembatasan garam, pemantauan berat badan mandiri, dan tanda-tanda kelebihan cairan yang harus diwaspadai. Intervensi ini bertujuan untuk mengurangi edema, mencegah komplikasi seperti gagal jantung kongestif, dan mengembalikan keseimbangan volume cairan tubuh.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0027
Deskripsi Singkat: Diagnosis ini ditegakkan berdasarkan data suhu tubuh di atas normal, yaitu 38.1°C (demam). Hipertermia didefinisikan sebagai peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal akibat kegagalan mekanisme termoregulasi tubuh. Demam pada pasien ini kemungkinan besar terkait dengan proses infeksi atau inflamasi yang mendasari keluhan pernapasannya, mengingat ada riwayat asma yang bisa mengalami eksaserbasi akibat infeksi. Demam meningkatkan metabolisme basal, konsumsi oksigen, dan beban kerja jantung serta pernapasan, yang dapat memperburuk keluhan sesak napas dan kelemahan yang dialami pasien. Oleh karena itu, penanganan hipertermia penting untuk mengurangi ketidaknyamanan dan beban fisiologis pada tubuh.
Kode SLKI: L.07001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah "Kontrol Suhu Tubuh". Target luaran ini dicapai ketika suhu tubuh pasien kembali dalam rentang normal (36.5 - 37.5°C) yang dipertahankan secara stabil. Selain suhu aksila yang normal, tanda-tanda vital lain seperti denyut nadi dan frekuensi pernapasan juga harus menunjukkan tren penurunan menuju rentang normal seiring dengan turunnya suhu. Pasien juga harus melaporkan atau menunjukkan penurunan ketidaknyamanan yang terkait dengan demam, seperti perasaan panas, berkeringat, atau menggigil. Kulit pasien teraba hangat, tidak panas, dan tidak pucat atau kemerahan secara abnormal. Pencapaian luaran ini menunjukkan bahwa proses penyebab demam terkontrol dan mekanisme termoregulasi tubuh berfungsi kembali dengan baik.
Kode SIKI: I.07029
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama adalah "Manajemen Hipertermia". Tindakan ini mencakup: pertama, memantau suhu tubuh secara berkala (setiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan) untuk menilai tren dan respons terhadap intervensi. Kedua, melakukan tindakan pendinginan secara fisik, seperti kompres hangat (bukan dingin) pada area lipatan tubuh (aksila, lipat paha) dan dahi, serta memandikan dengan air hangat. Tindakan kompres hangat membantu vasodilatasi pembuluh darah perifer sehingga panas dapat dibuang melalui proses radiasi dan konduksi. Ketiga, meningkatkan asupan cairan untuk mencegah dehidrasi yang dapat memperparah demam dan membantu proses pengaturan suhu melalui evaporasi keringat. Keempat, memastikan lingkungan yang nyaman dengan sirkulasi udara baik dan suhu ruangan yang sejuk. Kelima, kolaborasi pemberian antipiretik (obat penurun panas) sesuai resep dokter, seperti parasetamol, dan memantau efektivitas serta efek sampingnya. Keenam, edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya istirahat, hidrasi, dan teknik kompres yang benar. Intervensi ini bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh, mengurangi ketidaknyamanan, dan mencegah komplikasi seperti kejang demam atau dehidrasi berat.
-
Article No. 24523 | 18 Mar 2026
Klinis : nyeri dada berkurang KU lemah, CM TD: 156/99 HR: 58 x/m RR: 19 x/m SpO2: 97% in O2 NK SB: 36.4 JVP 5+2 RBH -/- WHZ -/- edem -/- CKMB 90
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 00032
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah cedera tersebut (International Association for the Study of Pain); onset yang tiba-tiba atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi dan durasi ≤ 3 bulan.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Pasien mampu mengontrol nyeri. Indikator: 1) Melaporkan nyeri dapat ditoleransi; 2) Mengenali faktor pencetus; 3) Mengenali onset nyeri; 4) Menggunakan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri; 5) Menggunakan analgesik sesuai resep; 6) Melaporkan berkurangnya nyeri setelah intervensi; 7) Mempertahankan tingkat fungsi yang diinginkan; 8) Tanda vital dalam rentang yang diharapkan.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat kenyamanan yang dapat diterima oleh pasien. Aktivitas: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, onset, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor pencetus); 2) Observasi adanya tanda-tanda nonverbal dari ketidaknyamanan, terutama pada pasien yang tidak mampu berkomunikasi; 3) Tentukan dampak nyeri terhadap kualitas hidup (tidur, nafsu makan, aktivitas, hubungan, emosi, konsentrasi); 4) Gunakan pendekatan terapeutik (farmakologis dan nonfarmakologis) untuk mengatasi nyeri; 5) Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi (relaksasi, distraksi, imajinasi terbimbing, kompres hangat/dingin) sebelum, selama, dan setelah aktivitas yang menimbulkan nyeri; 6) Berikan analgetik sesuai resep, evaluasi keefektifan dan efek samping; 7) Evaluasi keefektifan intervensi pengontrolan nyeri dalam waktu yang sesuai; 8) Modifikasi rencana pengontrolan nyeri sesuai kebutuhan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 00094
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: 0001
Deskripsi : Status Energi. Pasien menunjukkan peningkatan energi. Indikator: 1) Melaporkan peningkatan energi; 2) Melakukan aktivitas sesuai kemampuan; 3) Tanda vital dalam rentang normal selama aktivitas; 4) Pernapasan dalam rentang normal selama aktivitas; 5) Nadi dalam rentang normal selama aktivitas.
Kode SIKI: 5614
Deskripsi : Manajemen Energi. Pengaturan energi untuk memperlakukan atau mencegah kelelahan dan mengoptimalkan fungsi. Aktivitas: 1) Monitor respons pasien terhadap aktivitas (nadi, tekanan darah, pernapasan, kulit, tingkat kelelahan); 2) Ajarkan teknik penghematan energi; 3) Bantu pasien untuk mengidentifikasi aktivitas yang dapat didelegasikan; 4) Rencanakan periode istirahat yang cukup; 5) Bantu melakukan aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan; 6) Tingkatkan partisipasi pasien secara bertahap dalam aktivitas sesuai toleransi; 7) Atur lingkungan untuk meminimalkan pengeluaran energi; 8) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi guna mendukung peningkatan energi.
Kondisi: Risiko Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: 00292
Deskripsi Singkat: Risiko terjadinya ketidakadekuatan darah yang dipompa oleh jantung untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Status Sirkulasi. Sirkulasi darah adekuat untuk memenuhi kebutuhan jaringan. Indikator: 1) Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan; 2) Denyut nadi dalam rentang yang diharapkan; 3) Kualitas nadi perifer normal; 4) Tidak ada edema; 5) Warna kulit normal; 6) Pengisian kapiler < 3 detik; 7) Tidak adanya distensi vena jugularis.
Kode SIKI: 4010
Deskripsi : Pemantauan Hemodinamik. Pengukuran dan interpretasi komprehensif terhadap data hemodinamik pasien untuk memastikan intervensi yang tepat. Aktivitas: 1) Kaji status hemodinamik (tekanan darah, nadi, frekuensi dan irama jantung, pengisian kapiler, suhu ekstremitas); 2) Identifikasi faktor yang mempengaruhi curah jantung (preload, afterload, kontraktilitas); 3) Pantau tanda dan gejala penurunan curah jantung (hipotensi, takikardia/bradikardia, penurunan kesadaran, penurunan output urin, dyspnea, kelelahan, edema, distensi vena jugularis); 4) Pantau hasil pemeriksaan penunjang terkait (CKMB, troponin, EKG); 5) Berikan terapi oksigen sesuai kebutuhan; 6) Atur keseimbangan cairan; 7) Berikan obat-obatan yang mempengaruhi kontraktilitas, preload, dan afterload sesuai resep (mis., nitrat, beta blocker, diuretik); 8) Edukasi pasien dan keluarga tentang tanda dan gejala penurunan curah jantung yang harus dilaporkan.
-
Article No. 24524 | 18 Mar 2026
Klinis : PEREMPUAN 48 TAHUN DIAGNOSA MEDIS HEPATITIS B, KELUHAN PASIEN MENGATAKAN LEMAH BADAN DAN TERASA PUSING
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Kelemahan dan Pusing pada Pasien Hepatitis B
Kode SDKI: B.1.1.1
Deskripsi Singkat: Intoleransi Aktivitas
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Pasien menunjukkan peningkatan toleransi aktivitas. Kriteria hasil: 1) Pasien melaporkan peningkatan energi. 2) Pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari sesuai kemampuan. 3) Tanda vital dalam rentang normal selama dan setelah aktivitas. 4) Tidak mengalami kelelahan yang berlebihan. 5) Tidak mengalami pusing atau sinkop selama beraktivitas.
Kode SIKI: I.1.1.1
<>Deskripsi : Manajemen Energi. Intervensi keperawatan: 1) Kaji faktor penyebab intoleransi aktivitas (seperti proses penyakit, nyeri, efek pengobatan, gangguan tidur, malnutrisi). 2) Monitor tanda vital sebelum, selama, dan setelah aktivitas (denyut nadi, tekanan darah, pernapasan, saturasi oksigen). 3) Ajarkan teknik penghematan energi: merencanakan aktivitas, menyelingi aktivitas dengan istirahat, duduk saat melakukan aktivitas, menghindari aktivitas berat setelah makan. 4) Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas prioritas dan mendelegasikan tugas yang tidak esensial. 5) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat sesuai kebutuhan metabolik. 6) Atur lingkungan untuk meminimalkan upaya yang dibutuhkan (misalnya, menempatkan barang-barang yang sering digunakan dalam jangkauan). 7) Anjurkan aktivitas ringan dan bertahap sesuai toleransi, hindari tirah baring total yang dapat memperburuk kelemahan. 8) Edukasi pasien dan keluarga tentang hubungan antara penyakit hepatitis, kelemahan, dan pentingnya manajemen energi. 9) Kolaborasi dalam pemberian terapi medis untuk mengatasi penyebab dasar (hepatitis B) sesuai instruksi dokter. 10) Evaluasi respons pasien terhadap aktivitas dan modifikasi rencana sesuai kebutuhan.
-
Article No. 24525 | 18 Mar 2026
Klinis : Pasien datang dengan keluhan sesak nafas, terdengar suara ronki d semua lapang paru, RR 30x/ menit
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan patensi jalan napas.
Kode SLKI: 3201
Deskripsi : Bersihan jalan napas. Tindakan untuk memfasilitasi patensi jalan napas. Intervensi keperawatan ini mencakup serangkaian tindakan yang sistematis dan berkelanjutan untuk memastikan jalan napas pasien tetap terbuka dan bersih dari hambatan. Tindakan dimulai dengan pemantauan status pernapasan secara ketat, termasuk frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha bernapas, serta suara napas tambahan seperti ronki, wheezing, atau stridor. Posisi pasien diatur untuk optimalisasi pertukaran udara, seperti posisi semi-Fowler atau Fowler tinggi, dan dilakukan teknik drainase postural jika diperlukan. Terapi nebulisasi dengan bronkodilator atau mukolitik diberikan sesuai resep untuk mengurangi bronkospasme dan mengencerkan sekret. Fisioterapi dada, termasuk perkusi, vibrasi, dan latihan batuk efektif (seperti batuk terkontrol atau huffing) diajarkan dan dibantu perawat untuk mobilisasi sekret. Suctioning jalan napas (oral, nasal, atau endotrakeal) dilakukan dengan teknik steril dan tepat indikasi untuk menghisap sekret yang tidak dapat dikeluarkan pasien sendiri. Pemberian oksigen sesuai kebutuhan untuk mengatasi hipoksia. Hidrasi adekuat, baik secara oral maupun intravena, dipantau untuk menjaga kekentalan sekret tetap encer. Edukasi kepada pasien dan keluarga mengenai pentingnya latihan napas dalam, penggunaan alat bantu seperti incentive spirometry, serta tanda-tanda gangguan jalan napas yang harus diwaspadai juga merupakan bagian integral dari intervensi ini. Seluruh tindakan didokumentasikan dengan cermat dan evaluasi efektivitasnya dilakukan secara berkala berdasarkan kriteria hasil yang ditetapkan.
Kode SIKI: 3201A
Deskripsi : Mempertahankan jalan napas paten. Kriteria hasil ini mengukur keberhasilan intervensi dalam mencapai dan mempertahankan keterbukaan jalan napas. Hal ini dievaluasi melalui beberapa indikator objektif. Pertama, suara napas bersih atau jelas di semua lapang paru, tanpa adanya ronki, wheezing, atau suara tambahan lainnya yang mengindikasikan obstruksi. Kedua, frekuensi pernapasan (RR) kembali dalam rentang normal sesuai usia (untuk dewasa biasanya 12-20 kali/menit) dengan irama yang teratur. Ketiga, pasien mampu mengeluarkan sekret secara efektif baik dengan batuk spontan maupun dengan bantuan suctioning. Keempat, tidak terdapat tanda-tanda distress pernapasan seperti penggunaan otot bantu napas, retraksi, nasal flaring, atau sianosis. Kelima, nilai saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang target yang ditetapkan (biasanya >94% pada udara ruangan atau sesuai target terapi oksigen). Keenam, analisis gas darah (jika dilakukan) menunjukkan nilai yang membaik, seperti peningkatan PaO2 dan penurunan PaCO2. Ketujuh, pasien melaporkan atau menunjukkan penurunan keluhan sesak napas dan merasa lebih nyaman saat bernapas. Pencapaian kriteria ini menunjukkan bahwa intervensi keperawatan untuk membersihkan jalan napas telah efektif dalam mengatasi masalah utama pasien.
-
Article No. 24526 | 18 Mar 2026
Klinis : Pasien datang dengan keluhan nyeri dada menyebar ke punggung bagian belakang, pasien tampak sesak, SPO2 90 %, hasil EKG yaitu st depresi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut dan Penurunan Pertukaran Gas terkait Iskemia Miokard
Kode SDKI: D.0006 & D.0012
Deskripsi Singkat: Berdasarkan data pasien (nyeri dada menyebar ke punggung, sesak, SpO2 90%, dan EKG menunjukkan depresi segmen ST), dua diagnosa keperawatan utama yang sangat relevan adalah **Nyeri Akut (D.0006)** dan **Penurunan Pertukaran Gas (D.0012)**. Nyeri dada merupakan manifestasi utama iskemia miokard akibat ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen jantung. Sementara itu, sesak napas dan SpO2 90% mengindikasikan kegagalan sistem pernapasan untuk mempertahankan pertukaran oksigen dan karbon dioksida yang adekuat, yang pada kondisi gagal jantung dapat terjadi akibat kongesti paru atau penurunan curah jantung.
Kode SLKI: L.08016 & L.04011
Deskripsi : Untuk diagnosa **Nyeri Akut (D.0006)**, luaran yang diharapkan (SLKI) adalah **Kontrol Nyeri (L.08016)**, yang didefinisikan sebagai kemampuan untuk mengendalikan dan menoleransi nyeri. Kriteria luaran mencakup pasien mampu melaporkan penurunan intensitas nyeri (misalnya, dari skala 8/10 menjadi ≤3/10), menunjukkan perilaku nyaman (wajah rileks, tidak gelisah), mampu mendemonstrasikan teknik non-farmakologis untuk mengurangi nyeri, dan mengonsumsi analgesik sesuai program. Untuk diagnosa **Penurunan Pertukaran Gas (D.0012)**, luaran yang diharapkan adalah **Status Pernapasan: Pertukaran Gas (L.04011)**, yaitu kemampuan untuk mempertahankan pertukaran oksigen dan karbon dioksida yang adekuat di tingkat alveoli. Kriteria luaran meliputi saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal (≥95%), frekuensi pernapasan dalam rentang normal, tidak ada sianosis atau dispnea, serta hasil analisis gas darah (jika tersedia) dalam batas normal.
Kode SIKI: I.08016 & I.04011
Deskripsi : Intervensi keperawatan (SIKI) untuk mencapai luaran **Kontrol Nyeri (L.08016)** adalah **Manajemen Nyeri (I.08016)**. Intervensi ini meliputi: 1) **Pengkajian Komprehensif**: menilai karakteristik nyeri (PQRST), skala intensitas, dan faktor pencetus/pereda. 2) **Pemberian Terapi Farmakologis**: kolaborasi pemberian nitrogliserin, morfin, atau analgesik lain sesuai protokol sindrom koroner akut, disertai pemantauan efek dan efek samping. 3) **Intervensi Non-Farmakologis**: menciptakan lingkungan tenang, mengajarkan teknik relaksasi napas dalam, serta memberikan dukungan emosional dan edukasi. 4) **Pemantauan**: evaluasi respons nyeri setelah intervensi dan pantau tanda vital. Untuk mencapai luaran **Status Pernapasan: Pertukaran Gas (L.04011)**, intervensinya adalah **Manajemen Pernapasan (I.04011)**. Intervensi ini mencakup: 1) **Optimalisasi Oksigenasi**: pemberian oksigen nasal kanul/masker dengan aliran sesuai kebutuhan (misal, 2-6 L/menit) untuk mempertahankan SpO2 >95%, memposisikan pasien semi-Fowler untuk memudahkan ekspansi dada. 2) **Pemantauan Fungsi Pernapasan**: memantau terus menerus SpO2, frekuensi, irama, dan usaha napas, serta auskultasi bunyi napas. 3) **Manajemen Jalan Napas**: membantu pasien batuk efektif jika ada sekret. 4) **Konservasi Energi**: mengatur aktivitas untuk mencegah kelelahan dan meningkatkan efisiensi pernapasan. 5) **Kolaborasi**: mempersiapkan dan membantu pemeriksaan penunjang seperti foto toraks, serta pemberian terapi farmakologis (seperti diuretik atau nitrogliserin) untuk mengurangi kongesti paru jika diperlukan. Kedua intervensi ini harus didokumentasikan, dievaluasi, dan disesuaikan secara dinamis sesuai respons pasien.
-
Article No. 24527 | 18 Mar 2026
Klinis : SLKI reduksi ansietas
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Ansietas (Kecemasan)
Kode ICD-10: F41.9
Deskripsi Singkat : Ansietas atau kecemasan adalah kondisi emosional yang ditandai dengan perasaan khawatir, gugup, atau takut yang berlebihan dan sulit dikendalikan, seringkali disertai gejala fisik seperti jantung berdebar, berkeringat, dan gelisah. Kode ICD-10 F41.9 mengacu pada "Gangguan kecemasan, tidak spesifik" di bawah kategori F41 (Gangguan kecemasan lainnya). Kode ini digunakan ketika manifestasi kecemasan hadir tetapi tidak memenuhi kriteria lengkap untuk gangguan kecemasan spesifik lain seperti gangguan panik (F41.0) atau gangguan kecemasan menyeluruh (F41.1). Dalam konteks SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) "Reduksi Ansietas", tujuan asuhan keperawatan adalah mengurangi tingkat kecemasan klien melalui intervensi seperti terapi relaksasi, edukasi, dan dukungan psikososial. Penggunaan kode ini dalam simulasi pelatihan menekankan pentingnya dokumentasi yang akurat untuk menilai luaran keperawatan, di mana penurunan skor ansietas menjadi indikator keberhasilan intervensi.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***