Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24558 | 24 Mar 2026
Klinis : benjolan di selangkangan, sulit BAB, mual muntah Telaahpasien datang dengan keluhan timbul benjolan di selangkangan sebelah kiri. benjolan sudah dialami sejak lama, namun sebelumnya masih dapat masuk sendiri, 5 hari ini tidak dapat masuk sendiri. timbul mual muntha, dan sulit BAB Riwayat Penyakit Dahulu- OKes : CM TD : 158/93 mmHg HR : 102 x/i RR : 20 x/i T : 36 C SpO2 : 99% on Room Air STATUS LOKALISATA Mata : CA (-/-), SI (-/-) Mulut : coated tongue (-), faring hiperemis (-), T1/T1 Leher : TVJ R-2cmHg, lymphadenopathy (-) Thoraks : sp ves (+/+), rh (-/-), wh (-/-), BJ 1,2 reg, murmur (-) Abdomen : soepel, NT (-), normoperistaltik, normothympani, H/L tidak teraba, Mcburney sign (-) Eks : akral hangat, CRT<2, t/v kuat, edem pretibial (-/-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Eliminasi Feses dan Risiko Defisit Volume Cairan pada Hernia Inguinalis Terinkarserata
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Gangguan eliminasi feses adalah keadaan dimana individu mengalami atau berisiko mengalami perubahan pada pola, kebiasaan, atau karakteristik defekasi normal yang menyebabkan ketidaknyamanan, distensi abdomen, atau kesulitan mengeluarkan feses. Pada kasus ini, kondisi didukung oleh keluhan sulit BAB dan adanya hernia inguinalis yang terinkarserata (benjolan di selangkangan yang tidak dapat masuk kembali). Hernia yang terperangkap dapat menyebabkan obstruksi usus parsial atau total, yang secara mekanis menghambat perjalanan feses dan gas di dalam usus. Selain itu, nyeri dan ketidaknyamanan di area selangkangan serta abdomen dapat menghambat keinginan untuk mengejan atau kemampuan untuk buang air besar secara efektif. Kondisi ini diperberat dengan adanya mual dan muntah yang merupakan respons tubuh terhadap obstruksi dan distensi usus. Gangguan eliminasi ini bersifat akut dan terkait langsung dengan kondisi patologis yang mendasarinya, sehingga memerlukan intervensi segera untuk mencegah komplikasi lebih lanjut seperti strangulasi usus.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Eliminasi feses efektif. Kriteria hasil ini mencakup pencapaian pola defekasi yang kembali normal dan hilangnya tanda-tanda obstruksi. Secara spesifik, pasien diharapkan dapat: 1) Mendemonstrasikan kemampuan untuk buang air besar dengan frekuensi dan konsistensi yang normal untuk dirinya, tanpa rasa sakit atau kesulitan yang berlebihan. 2) Melaporkan hilangnya perasaan kembung, penuh, atau tidak nyaman di perut. 3) Menunjukkan bunyi bising usus (peristaltik) yang normal dalam frekuensi dan karakter. 4) Tidak mengalami mual dan muntah. 5) Mempertahankan asupan nutrisi dan cairan yang adekuat. 6) Memahami faktor-faktor penyebab dan tindakan pencegahan terkait kondisi hernianya. Pencapaian SLKI ini menandakan bahwa masalah obstruksi fungsional telah teratasi, baik melalui intervensi konservatif (seperti reposisi manual) maupun pembedahan, dan fungsi gastrointestinal telah pulih.
Kode SIKI: I.05249
Deskripsi : Manajemen Konstipasi. Intervensi keperawatan ini difokuskan untuk mengatasi kesulitan BAB dan mencegah komplikasi. Implementasinya meliputi: 1) Pengkajian menyeluruh meliputi riwayat eliminasi, karakteristik feses terakhir, bunyi bising usus, distensi abdomen, dan nyeri. 2) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemeriksaan penunjang (seperti foto polos abdomen) dan pemberian terapi medis (obat analgesik, antiemetik, dan pertimbangan untuk operasi). 3) Memonitor tanda-tanda vital dan status hidrasi secara ketat mengingat adanya takikardia (HR 102x/menit) yang dapat mengindikasikan nyeri atau dehidrasi awal. 4) Memberikan edukasi pada pasien untuk menghindari mengejan yang kuat karena dapat memperburuk hernia. 5) Implementasi tindakan non-farmakologis jika aman dan sesuai instruksi dokter, seperti mobilisasi bertahap setelah tindakan reposisi atau pembedahan. 6) Memasang dan merawat nasogastric tube jika diperlukan untuk dekompresi lambung dan usus. 7) Memberikan dukungan psikologis dan informasi tentang rencana penatalaksanaan hernia. Intervensi ini bersifat kolaboratif dan kritis karena kondisi pasien berpotensi menjadi gawat darurat bedah.
Kondisi: Risiko Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: D.0002
Deskripsi Singkat: Risiko defisit volume cairan adalah keadaan dimana individu berisiko mengalami penurunan volume sirkulasi intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular. Pada pasien ini, risiko sangat tinggi terkait dengan kondisi hernia inguinalis yang terinkarserata. Mual dan muntah yang dialami pasien menyebabkan kehilangan cairan dan elektrolit secara aktif dari saluran cerna bagian atas. Selain itu, obstruksi usus yang terjadi mengakibatkan penumpukan cairan di dalam lumen usus (third spacing) yang tidak dapat diserap kembali, sehingga mengurangi volume cairan yang efektif bersirkulasi. Takikardia (HR 102x/menit) bisa menjadi tanda kompensasi awal tubuh terhadap penurunan volume cairan atau respon terhadap nyeri dan ansietas. Meskipun tekanan darah masih dalam batas normal tinggi (158/93 mmHg), hal ini perlu diwaspadai sebagai respons simpatis. Jika muntah berlanjut dan intake oral terhambat, pasien dapat dengan cepat mengalami dehidrasi dari ringan hingga berat, gangguan keseimbangan elektrolit (terutama hipokalemia dan hiponatremia), dan syok hipovolemik. Oleh karena itu, diagnosis ini menjadi prioritas untuk mencegah deteriorasi kondisi sistemik pasien.
Kode SLKI: L.03002
Deskripsi : Keseimbangan cairan. Kriteria hasil yang diharapkan adalah pasien mempertahankan status hidrasi yang adekuat. Indikatornya meliputi: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal untuk pasien (tekanan darah stabil, denyut nadi <100x/menit, suhu tubuh normal). 2) Turgor kulit baik dan membran mukosa lembab. 3) Produksi urin adekuat (output >0.5 mL/kgBB/jam) dengan berat jenis urin normal. 4) Tidak ada keluhan rasa haus yang berlebihan. 5) Keseimbangan cairan intake dan output mendekati seimbang. 6) Nilai laboratorium (seperti hematokrit, natrium, kalium) dalam batas normal. 7) Tidak menunjukkan tanda dehidrasi lebih lanjut seperti mata cekung, penurunan kesadaran, atau hipotensi. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa resusitasi cairan dan pemantauan yang dilakukan telah efektif mencegah atau mengoreksi defisit volume cairan.
Kode SIKI: I.04068
Deskripsi : Manajemen Keseimbangan Cairan. Intervensi ini bertujuan untuk mempertahankan atau mengembalikan keseimbangan cairan dan elektrolit. Tindakan yang dilakukan meliputi: 1) Memonitor ketat tanda-tanda vital (TD, Nadi, RR) dan saturasi oksigen setiap 1-4 jam atau sesuai kondisi. 2) Mengukur dan mendokumentasikan intake dan output cairan secara akurat, termasuk volume muntah. 3) Melakukan pengkajian status hidrasi secara berkala (turgor kulit, capillary refill time, mata, membran mukosa). 4) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai resep dokter, baik jenis, jumlah, maupun kecepatannya, untuk mengatasi defisit dan kebutuhan pemeliharaan. 5) Memantau hasil pemeriksaan laboratorium terkait elektrolit dan fungsi ginjal. 6) Memposisikan pasien dengan nyaman, mungkin dengan kepala agak tinggi untuk mengurangi mual, jika tidak ada kontraindikasi. 7) Memberikan perawatan mulut untuk mengurangi rasa tidak nyaman akibat muntah dan puasa. 8) Kolaborasi pemberian obat antiemetik untuk mengontrol muntah. Intervensi ini bersifat fundamental dan terus-menerus hingga risiko defisit volume cairan dapat dikelola dengan baik dan kondisi obstruksi teratasi.
-
Article No. 24559 | 24 Mar 2026
Klinis : sesak nafas Telaahsesak nafas dialami os memberat dalam 5hari ini, sesak memberat jika os tidur terlentang, gampang capek jika aktivitas, kaki bengkak (-) perut terasa begah dan mual (+) muntah (-). BAK & BAB (+) N. sebelumnya os sudah berobat, namun keluhan tdk berkurang Riwayat Penyakit DahuluHT, lambung OSens : CM TD : 177/87 HR : 89x RR : 26x Temp : 36C SPO2 : 96% VAS : 8 DOE (+) NTE (+)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Pertukaran Gas. Kriteria hasil yang diharapkan: 1. Klien menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan yang adekuat, dibuktikan dengan analisis gas darah dalam rentang normal. 2. Klien menunjukkan perilaku mempertahankan jalan napas paten. 3. Klien menunjukkan bunyi napas bersih dan jernih pada auskultasi. 4. Klien menunjukkan pola napas dalam dan teratur, dengan frekuensi dalam rentang normal. 5. Klien menunjukkan tidak adanya sianosis. 6. Klien menunjukkan tidak adanya dispnea atau ortopnea. 7. Klien menunjukkan tidak adanya kelelahan otot pernapasan. 8. Klien menunjukkan status mental dalam rentang normal. 9. Klien menunjukkan nilai saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal. 10. Klien menunjukkan tidak adanya tanda-tanda hipoksia.
Kode SIKI: 3310
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan: 1. Monitor status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, dan upaya napas). 2. Auskultasi bunyi napas, catat area penurunan atau tidak adanya ventilasi dan adanya bunyi tambahan. 3. Monitor pola batuk dan sekret. 4. Posisikan klien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, kepala tempat tidur tinggi, posisi semi-Fowler/Fowler). 5. Bantu klien latihan napas dalam dan batuk efektif. 6. Lakukan fisioterapi dada jika diindikasikan. 7. Berikan oksigen sesuai program terapi. 8. Monitor respons hemodinamik terhadap peningkatan beban kerja pernapasan. 9. Monitor status mental dan tanda-tanda awal hipoksia/hipoksemia. 10. Monitor nilai analisis gas darah (jika tersedia) dan saturasi oksigen (SpO2). 11. Kolaborasi pemberian obat bronkodilator, mukolitik, atau lainnya sesuai indikasi. 12. Ajarkan klien dan keluarga tentang teknik pernapasan dan batuk efektif. 13. Anjurkan istirahat untuk menurunkan konsumsi oksigen. 14. Atur lingkungan yang nyaman dan tenang untuk menurunkan kebutuhan oksigen.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: 0201
Deskripsi : Toleransi Aktivitas. Kriteria hasil yang diharapkan: 1. Klien melaporkan peningkatan toleransi aktivitas. 2. Klien menunjukkan penurunan keluhan sesak napas (dispnea) dan kelelahan saat aktivitas. 3. Klien menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal saat aktivitas. 4. Klien mampu melakukan aktivitas sehari-hari sesuai tingkat kemampuannya. 5. Klien menunjukkan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat. 6. Klien menggunakan teknik penghematan energi selama melakukan aktivitas. 7. Klien mengidentifikasi faktor yang menyebabkan intoleransi aktivitas. 8. Klien mematuhi program aktivitas yang telah direncanakan.
Kode SIKI: 0201
Deskripsi : Manajemen Energi. Intervensi keperawatan: 1. Monitor respons klien terhadap aktivitas (perubahan TD, nadi, pernapasan, dan kelelahan). 2. Kaji faktor yang menyebabkan kelelahan. 3. Ajarkan teknik penghematan energi. 4. Bantu klien mengidentifikasi aktivitas yang dapat dilakukan. 5. Rencanakan kemajuan aktivitas bertahap sesuai toleransi. 6. Jadwalkan periode istirahat yang cukup sebelum dan sesudah aktivitas. 7. Bantu dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. 8. Atur lingkungan untuk memudahkan aktivitas klien. 9. Kolaborasi dengan tim gizi untuk memastikan asupan nutrisi yang adekuat. 10. Anjurkan aktivitas ringan yang disukai klien. 11. Berikan motivasi untuk meningkatkan partisipasi dalam aktivitas. 12. Ajarkan keluarga untuk membantu dan mendukung klien dalam aktivitas.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, yang terjadi atau berlangsung kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Kriteria hasil yang diharapkan: 1. Klien melaporkan penurunan intensitas nyeri (skala nyeri menurun). 2. Klien menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal. 3. Klien menunjukkan ekspresi wajah rileks dan dapat beristirahat atau tidur dengan nyaman. 4. Klien mampu melakukan aktivitas sesuai tingkat kemampuan tanpa dipengaruhi nyeri. 5. Klien mendemonstrasikan penggunaan teknik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri. 6. Klien mengidentifikasi faktor pemicu dan pencetus nyeri. 7. Klien mematuhi regimen terapi nyeri yang ditentukan.
Kode SIKI: 0840
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan: 1. Kaji nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas menggunakan skala nyeri, dan faktor pencetus). 2. Observasi tanda-tanda nonverbal ketidaknyamanan atau nyeri (perubahan tanda vital, ekspresi wajah, perilaku). 3. Evaluasi pengalaman nyeri sebelumnya dan strategi penanganannya. 4. Berikan lingkungan yang nyaman dan tindakan kenyamanan (reposisi, masase). 5. Ajarkan dan bantu penggunaan teknik nonfarmakologi (relaksasi napas dalam, distraksi, imajinasi terbimbing). 6. Lakukan kolaborasi pemberian analgesik sesuai program terapi, pantau efektivitas dan efek samping. 7. Evaluasi efektivitas intervensi pengendalian nyeri. 8. Berikan informasi tentang nyeri dan penanganannya kepada klien dan keluarga. 9. Kaji dampak nyeri terhadap fungsi dan kualitas hidup. 10. Dukung dan fasilitasi klien dalam mengekspresikan perasaan tentang nyeri yang dialami.
-
Article No. 24553 | 23 Mar 2026
Klinis : abortus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Abortus
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Risiko Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik. Kriteria Hasil: 1) Kulit hangat, 2) Nadi perifer teraba, 3) Warna kulit normal, 4) Capillary refill time < 3 detik, 5) Tidak ada edema, 6) Tekanan darah dalam rentang normal, 7) Denyut nadi dalam rentang normal, 8) Tidak ada nyeri pada ekstremitas, 9) Sensasi utuh.
Kode SIKI: I.05280
Deskripsi : Manajemen Perdarahan. Tindakan Keperawatan: 1) Monitor tanda-tanda perdarahan (perdarahan aktif, perubahan warna kulit, perubahan tanda vital, penurunan kesadaran), 2) Monitor hasil pemeriksaan laboratorium (Hb, Ht, trombosit), 3) Atur posisi pasien sesuai kondisi (misalnya, trendelenburg), 4) Lakukan kompres dingin pada area perdarahan, 5) Kolaborasi pemberian cairan intravena, 6) Kolaborasi pemberian transfusi darah, 7) Kolaborasi pemberian terapi oksigen, 8) Kolaborasi pemberian terapi farmakologis (uterotonika, antibiotik), 9) Lakukan pemantauan intake dan output, 10) Berikan dukungan psikologis pada pasien dan keluarga.
Kode SDKI: D.0024
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SLKI: L.03004
Deskripsi : Keseimbangan cairan tercapai. Kriteria Hasil: 1) Tanda vital dalam rentang normal, 2) Mukosa bibir lembab, 3) Turgor kulit baik, 4) Balance cairan seimbang, 5) Tidak ada rasa haus berlebihan, 6) Produksi urine adekuat (0,5-1 ml/kgBB/jam), 7) Berat badan stabil.
Kode SIKI: I.04016
Deskripsi : Manajemen Keseimbangan Cairan. Tindakan Keperawatan: 1) Monitor tanda-tanda dehidrasi atau kelebihan cairan, 2) Monitor tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan) tiap 1-2 jam atau sesuai kondisi, 3) Monitor intake dan output cairan secara ketat, 4) Monitor turgor kulit dan keadaan mukosa mulut, 5) Kolaborasi pemberian cairan intravena sesuai program, 6) Anjurkan intake oral sesuai toleransi dan program, 7) Timbang berat badan setiap hari, 8) Monitor hasil laboratorium (elektrolit, Hb, Ht).
Kode SDKI: D.0098
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Kriteria Hasil: 1) Melaporkan nyeri berkurang/hilang (skala 0-3), 2) Ekspresi wajah rileks, 3) Dapat beristirahat/tidur dengan nyenyak, 4) Tanda vital dalam rentang normal, 5) Dapat melakukan aktivitas sesuai kemampuan.
Kode SIKI: I.09080
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Tindakan Keperawatan: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (PQRST), 2) Ajarkan teknik non-farmakologi (nafas dalam, distraksi, relaksasi), 3) Atur posisi yang nyaman, 4) Berikan kompres hangat pada abdomen bawah (kecuali ada kontraindikasi seperti perdarahan aktif), 5) Kolaborasi pemberian analgesik sesuai program, 6) Evaluasi efektivitas intervensi nyeri.
Kode SDKI: D.0125
Deskripsi Singkat: Berduka
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Koping Berduka. Kriteria Hasil: 1) Mengekspresikan perasaan kehilangan, 2) Mengidentifikasi sistem pendukung yang dimiliki, 3) Melaporkan penurunan distress emosional, 4) Melakukan aktivitas sehari-hari secara bertahap, 5) Memiliki harapan untuk masa depan.
Kode SIKI: I.14043
Deskripsi : Dukungan dalam Berduka. Tindakan Keperawatan: 1) Ciptakan lingkungan yang terapeutik dan empatik, 2) Bantu pasien/keluarga mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan kehilangan, kesedihan, dan rasa bersalah, 3) Validasi perasaan pasien sebagai respon normal, 4) Berikan informasi tentang proses berduka yang normal, 5) Anjurkan dukungan dari pasangan, keluarga, atau kelompok support jika ada, 6) Kolaborasi dengan konselor atau tenaga spiritual jika diperlukan, 7) Hargai mekanisme koping dan keyakinan budaya/spiritual pasien.
-
Article No. 24554 | 23 Mar 2026
Klinis : pasien dengan abortus
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Abortus
Kode ICD-10: O03.9
Deskripsi Singkat : Abortus (keguguran) adalah penghentian kehamilan secara spontan sebelum janin mencapai viabilitas, umumnya sebelum usia kehamilan 22 minggu. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti kelainan kromosom pada janin, masalah pada rahim atau serviks, infeksi, gangguan hormonal, atau penyakit kronis ibu. Kode ICD-10 O03.9 mengacu pada "Abortus spontan, tidak lengkap, tanpa komplikasi". Blok kode O00-O08 mencakup kehamilan yang berakhir dengan abortus. Kode ini digunakan untuk mencatat keguguran spontan di mana sebagian produk konsepsi (jaringan janin dan plasenta) masih tertinggal di dalam rahim, namun prosesnya tidak disertai komplikasi akut lain seperti infeksi berat, syok, atau perdarahan yang memerlukan transfusi. Dalam konteks pelatihan, pemilihan kode ini menekankan pentingnya ketelitian dalam membedakan jenis abortus (spontan vs. diinduksi), kelengkapannya, serta ada tidaknya komplikasi, karena setiap aspek tersebut memiliki kode ICD-10 yang berbeda dan implikasi klinis serta administratif yang spesifik.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24555 | 23 Mar 2026
Klinis : pasien dengan abortus
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Pasien dengan Abortus
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Risiko Perdarahan
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Perdarahan dapat dicegah
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Pantau tanda-tanda perdarahan (tanda vital, pengisian kapiler, warna kulit dan membran mukosa, tingkat kesadaran, keluaran urin). Pantau jumlah dan karakteristik perdarahan (warna, konsistensi, jumlah pembalut yang digunakan, ada/tidaknya gumpalan). Anjurkan tirah baring sesuai indikasi. Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai indikasi. Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai indikasi. Kolaborasi pemberian obat uterotonika sesuai indikasi. Kolaborasi persiapan tindakan kuretase jika diperlukan. Ajarkan untuk melaporkan jika terjadi peningkatan perdarahan, nyeri hebat, atau demam.
Kondisi: Pasien dengan Abortus
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Perdarahan
Kode SLKI: L.08002
Deskripsi : Perdarahan dapat dikendalikan
Kode SIKI: I.08002
Deskripsi : Pantau dan catat karakteristik perdarahan (jumlah, warna, frekuensi, ada/tidaknya gumpalan). Pantau tanda-tanda vital dan tanda-tanda syok hipovolemik (takikardia, hipotensi, pucat, kulit dingin dan lembab, penurunan kesadaran, penurunan keluaran urin). Pertahankan tirah baring. Lakukan tindakan untuk meminimalkan perdarahan (misalnya, kompres uterus). Kolaborasi pemberian terapi oksigen sesuai indikasi. Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena dan transfusi darah sesuai indikasi. Kolaborasi pemberian obat uterotonika (oksitosin, misoprostol) sesuai indikasi. Kolaborasi persiapan dan bantu tindakan kuretase atau pembedahan jika diperlukan. Berikan dukungan psikologis untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperburuk respons fisiologis.
Kondisi: Pasien dengan Abortus
Kode SDKI: D.0096
Deskripsi Singkat: Nyeri Akut
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Nyeri dapat dikendalikan
Kode SIKI: I.04001
Deskripsi : Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, intensitas, skala, karakter, durasi, faktor pencetus dan pereda). Ajarkan dan anjurkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri (teknik napas dalam, distraksi, relaksasi, posisi yang nyaman). Berikan lingkungan yang tenang dan nyaman. Kolaborasi pemberian analgesik sesuai program terapi (misalnya, antispasmodik atau analgetik sesuai indikasi). Evaluasi keefektifan intervensi pengelolaan nyeri. Pantau efek samping pemberian obat. Berikan informasi tentang penyebab nyeri dan penatalaksanaannya untuk mengurangi kecemasan.
Kondisi: Pasien dengan Abortus
Kode SDKI: D.0127
Deskripsi Singkat: Berduka
Kode SLKI: L.14001
Deskripsi : Proses berduka dapat dihadapi
Kode SIKI: I.14001
Deskripsi : Kaji respons psikologis dan emosional pasien serta pasangan/keluarga (syok, penyangkalan, marah, tawar-menawar, depresi, penerimaan). Tunjukkan sikap penerimaan, empati, dan dukungan tanpa menghakimi. Fasilitasi ekspresi perasaan (kesedihan, rasa bersalah, kemarahan) melalui komunikasi terapeutik. Validasi bahwa perasaan berduka adalah respons yang normal. Berikan kesempatan untuk melakukan ritual atau spiritual sesuai keyakinan pasien/keluarga (jika diinginkan). Kolaborasi dengan konselor spiritual atau psikolog jika diperlukan. Berikan informasi tentang kelompok pendukung (support group) jika tersedia. Lindungi dari komentar atau pertanyaan yang tidak sensitif dari orang lain. Bantu pasangan untuk berkomunikasi dan saling mendukung dalam proses berduka.
Kondisi: Pasien dengan Abortus
Kode SDKI: D.0180
Deskripsi Singkat: Risiko Infeksi
Kode SLKI: L.11001
Deskripsi : Infeksi dapat dicegah
Kode SIKI: I.11001
Deskripsi : Pantau tanda-tanda infeksi (demam, menggigil, takikardia, nyeri abdomen bertambah, cairan vagina berbau, leukositosis). Lakukan perawatan perineum dengan teknik aseptik (jika ada perdarahan). Ajarkan dan anjurkan kebersihan diri yang adekuat (cara membersihkan vulva dari arah depan ke belakang, mengganti pembalut secara teratur). Anjurkan untuk tidak melakukan hubungan seksual, douching, atau menggunakan tampon sesuai anjuran dokter. Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis atau terapi sesuai indikasi. Ajarkan untuk mengenali tanda-tanda infeksi dan segera melaporkan. Tingkatkan asupan nutrisi dan cairan untuk mendukung daya tahan tubuh.
-
Article No. 24550 | 22 Mar 2026
Klinis : Pasien umur 14th sering sakit kepala, rasa kebas di kepala sampe tegang seluruh tubuh
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat dan perkiraan akhir yang dapat diantisipasi.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Tujuan akhirnya adalah pasien dapat mengontrol nyeri secara mandiri. Kriteria hasilnya meliputi: 1) Pasien dapat mendemonstrasikan perilaku untuk mengontrol nyeri (misalnya, teknik relaksasi, distraksi, aktivitas yang sesuai). 2) Pasien melaporkan nyeri dapat dikontrol. 3) Pasien menggunakan analgesik sesuai anjuran. 4) Pasien mengidentifikasi faktor pencetus nyeri. 5) Pasien mematuhi regimen terapi nyeri. 6) Pasien menggunakan metode nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri. 7) Pasien melaporkan penurunan intensitas, durasi, dan frekuensi nyeri. 8) Pasien tampak tenang dan mampu istirahat/tidur.
Kode SIKI: 3520
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan ini mencakup tindakan kompleks untuk meringankan atau mengurangi persepsi nyeri, serta memberikan kenyamanan. Aktivitas yang dilakukan perawat meliputi: 1) Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, faktor pencetus). 2) Observasi isyarat verbal dan nonverbal ketidaknyamanan, terutama pada pasien dengan kemampuan komunikasi terbatas. 3) Gunakan pendekatan terapi farmakologis dan nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri. 4) Ajarkan dan bantu pasien menggunakan teknik nonfarmakologi (relaksasi napas dalam, imajinasi terbimbing, distraksi, masase, kompres hangat/dingin). 5) Berikan analgesik sesuai resep dan evaluasi efektivitas serta efek sampingnya. 6) Kurangi faktor pencetus nyeri dari lingkungan. 7) Atur posisi pasien untuk kenyamanan maksimal. 8) Dukung dan bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri saat nyeri berkurang. 9) Evaluasi efektivitas intervensi pengendalian nyeri secara berkala dan sesuaikan rencana. 10) Edukasi pasien dan keluarga tentang manajemen nyeri, termasuk penggunaan obat dan teknik nonfarmakologi. Pada kasus sakit kepala dengan ketegangan seluruh tubuh, intervensi seperti relaksasi, manajemen stres, dan posisi yang nyaman menjadi sangat krusial.
-
Article No. 24551 | 22 Mar 2026
Klinis : pasien pria berusia 28 tahun, tidak memiliki riwayat penyakit apapun, mengalami mual tidak muntah, BAB Cair 3-5 kali sehari, saat ditanya baru makan ayam dan bakso dengan porsi sambal lumayan banyak, belum minum obat apapun, dan tidak terdapat alergi obat apapun
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Gastroenteritis dan Kolitis Akut, Tidak Ditentukan
Kode ICD-10: A09.0
Deskripsi Singkat : Kondisi ini didiagnosis sebagai gastroenteritis akut, yang merupakan peradangan pada lapisan lambung dan usus. Gejala utama pasien berupa mual dan diare cair dengan frekuensi 3-5 kali per hari, yang sangat sesuai dengan gambaran klinis gastroenteritis. Riwayat konsumsi makanan seperti ayam, bakso, dan sambal dalam porsi banyak sangat relevan, karena sering dikaitkan dengan penyebab infeksi (bakteri seperti Salmonella, E. coli) atau iritasi non-infeksi (makanan pedas/berminyak) pada saluran cerna. Kode ICD-10 A09.0 digunakan untuk "Gastroenteritis dan kolitis yang tidak ditentukan asalnya" dan termasuk dalam kategori "Penyakit infeksi usus lainnya". Kode ini tepat diterapkan ketika etiologi spesifik (misalnya, bakteri, virus, atau parasit tertentu) belum dapat dipastikan dari anamnesis awal tanpa pemeriksaan penunjang lebih lanjut. Kode ini mencakup diagnosis seperti diare infeksius dan gastroenteritis akut yang tidak spesifik. Penggunaannya dalam konteks ini adalah sebagai saran kodifikasi awal berdasarkan informasi klinis yang tersedia, menekankan kemungkinan hubungan temporal antara konsumsi makanan dan onset gejala gastrointestinal akut.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24552 | 22 Mar 2026
Klinis : Data subjektif menunjukkan bahwa pasien mengeluhkan batuk yang disertai sesak napas sejak tiga hari terakhir. Pasien juga menyatakan bahwa batuk yang dialami menghasilkan dahak berwarna kuning kehijauan dalam jumlah sedikit, serta kesulitan dalam mengeluarkan dahak secara optimal. Data yang objektif menunjukkan bahwa Pasien tampak mengalami batuk berdahak disertai sesak napas. Pada pemeriksaan ditemukan bunyi napas tambahan berupa wheezing dan ronki yang mengindikasikan adanya penumpukan sekret atau lendir di saluran pernapasan. Frekuensi napas meningkat (takipnea) disertai dispnea, serta terlihat penggunaan otot bantu pernapasan. Pasien menggunakan terapi oksigen sebesar 2 liter per menit dan terpasang infus Ringer Laktat (RL) 20 tetes per menit pada tangan kiri. Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital menunjukkan tekanan darah 140/90 mmHg dengan kekuatan nadi baik, frekuensi nadi 78 kali per menit dengan irama reguler dan kekuatan sama kuat, frekuensi pernapasan 28 kali per menit dengan irama reguler, suhu tubuh 36,5°C, serta saturasi oksigen (SpO₂) sebesar 97%.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0400
Deskripsi : Peningkatan bersihan jalan napas. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup: 1) Jalan napas paten, ditandai dengan bunyi napas bersih, tidak ada sianosis, dan saturasi oksigen dalam rentang normal. 2) Pasien mampu mengeluarkan sekret secara efektif, ditunjukkan dengan batuk produktif atau sekret yang dapat dikeluarkan dengan bantuan. 3) Pola napas normal, dengan frekuensi dan irama pernapasan dalam rentang normal untuk usia, serta tidak ada penggunaan otot bantu napas. 4) Perilaku yang mendukung bersihan jalan napas, seperti posisi yang tepat, hidrasi adekuat, dan menghindari iritan. 5) Pengetahuan tentang manajemen sekret dan pencegahan komplikasi.
Kode SIKI: 3240
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Memposisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi (misalnya, posisi semi-Fowler atau Fowler). 2) Memonitor status pernapasan termasuk frekuensi, irama, kedalaman, dan bunyi napas. 3) Melakukan fisioterapi dada sesuai indikasi, seperti perkusi, vibrasi, dan drainase postural. 4) Memberikan bantuan batuk efektif dan latihan napas dalam. 5) Melakukan penghisapan lendir (suction) jika diperlukan dan sesuai protokol. 6) Memastikan hidrasi yang adekuat (baik oral maupun intravena) untuk mengencerkan sekret. 7) Memberikan terapi nebulizer atau obat-obatan pengencer dahak sesuai instruksi dokter. 8) Memonitor saturasi oksigen dan memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan. 9) Mengajarkan pasien dan keluarga tentang teknik batuk efektif dan pentingnya hidrasi. 10) Menciptakan lingkungan yang bebas dari alergen atau iritan yang dapat memperburuk kondisi.
-
Article No. 24547 | 21 Mar 2026
Klinis : DS : Pasien mengatakan batuk berdahak sulit dikeluarkan Pasien mengatakan pilek/hidung meler sekali-sekali DO : TD : 110/80, RR : 20 rpm, HR : 88, SPO2 : 95%, tampak batuk berdahak, hidung mampet, tidak ada sesak
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Bronkitis Akut
Kode ICD-10: J20.9
Deskripsi Singkat : Kode J20.9 mengindikasikan diagnosis Bronkitis Akut yang Tidak Spesifik. Kondisi ini adalah peradangan akut pada saluran bronkial (cabang tenggorokan) yang biasanya disebabkan oleh infeksi virus, seperti common cold atau influenza. Gejala utama yang sesuai dengan deskripsi kasus adalah batuk produktif (berdahak) yang sulit dikeluarkan, sering disertai gejala infeksi saluran pernapasan atas seperti pilek atau hidung tersumbat. Pada pemeriksaan fisik, pasien tampak batuk berdahak dan hidung mampet, namun tidak menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan berat seperti sesak napas, yang didukung oleh tanda vital yang relatif stabil (RR 20, SpO2 95%). Kode ini digunakan ketika bronkitis akut diduga kuat sebagai penyebabnya, tetapi patogen spesifiknya tidak diidentifikasi. Kode ICD-10 J20.9 berada dalam bab "Penyakit pada Sistem Pernapasan" dan lebih spesifik dibandingkan kode untuk bronkitis kronis, menekankan pada onset akut dan sifat sementara dari kondisi ini, yang biasanya berlangsung kurang dari tiga minggu.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24548 | 21 Mar 2026
Klinis : DS : Pasien mengatakan batuk berdahak sulit dikeluarkan Pasien mengatakan pilek/hidung meler sekali-sekali DO : TD : 110/80, RR : 20 rpm, HR : 88, SPO2 : 95%, tampak batuk berdahak, hidung mampet, tidak ada sesak
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: 00031
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas yang paten.
Kode SLKI: 0401
Deskripsi : Bersihan jalan napas. Tujuan keperawatan adalah pasien mampu mempertahankan atau mengembalikan bersihan jalan napas yang optimal. Indikator keberhasilan meliputi: suara napas vesikuler, tidak ada suara napas tambahan (seperti ronki atau wheezing), batuk efektif, sekret dapat dikeluarkan, frekuensi dan irama pernapasan dalam rentang normal, serta saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal. Pada kondisi pasien ini, SLKI 0401 menjadi target dimana setelah intervensi keperawatan, pasien diharapkan batuknya menjadi efektif sehingga dahak dapat dikeluarkan, suara napas bersih, dan parameter vital pernapasan stabil.
Kode SIKI: 3210
Deskripsi : Manajemen jalan napas. Intervensi keperawatan ini melibatkan serangkaian tindakan untuk memastikan jalan napas tetap terbuka dan bersih dari hambatan. Penjelasan rinci meliputi: (1) **Memantau status pernapasan**: Mengobservasi frekuensi, irama, kedalaman pernapasan, penggunaan otot bantu napas, dan adanya sianosis. Memantau suara napas dan adanya sekret. Pada pasien ini, perawat akan memantau RR, suara napas (kemungkinan ronki basah halus akibat sekret), dan upaya batuk. (2) **Posisi**: Menempatkan pasien pada posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memanfaatkan gravitasi memudahkan ekspansi paru dan pengeluaran sekret. (3) **Latihan batuk efektif**: Mengajarkan dan mendorong pasien untuk melakukan batuk dalam secara terkontrol. Teknik seperti "batuk berdahak" dengan menarik napas dalam, menahan sebentar, lalu batuk dengan kuat dua kali berturut-turut. (4) **Hidrasi adekuat**: Meningkatkan asupan cairan (kecuali kontraindikasi) untuk mengencerkan sekret sehingga lebih mudah dikeluarkan. (5) **Fisioterapi dada**: Jika diperlukan dan sesuai instruksi, dapat dilakukan perkusi, vibrasi, dan postural drainage untuk membantu mobilisasi sekret dari saluran napas kecil ke besar. (6) **Pelembaban udara**: Menyarankan penggunaan humidifier atau menghirup uap hangat untuk melembabkan saluran napas dan mengencerkan sekret. (7) **Manajemen sekret**: Membantu pasien mengeluarkan dahak dengan teknik yang benar, serta memberikan tisu dan wadah yang sesuai. (8) **Kebersihan hidung (nasal hygiene)**: Membersihkan lubang hidung dari sekret atau kerak untuk mengurangi sumbatan dan meningkatkan kenyamanan, karena pasien juga mengeluh hidung mampet. Ini dapat dilakukan dengan kapas basah atau nasal aspirator jika perlu. (9) **Edukasi**: Memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya minum air, teknik batuk yang benar, menghindari iritan (seperti asap rokok), dan tanda-tanda memburuknya kondisi (seperti sesak napas, demam tinggi, dahak berubah warna) yang harus segera dilaporkan. Intervensi-intervensi ini dilakukan secara komprehensif dan terencana untuk mengatasi masalah utama yaitu ketidakefektifan bersihan jalan napas yang ditandai dengan batuk berdahak sulit dikeluarkan dan hidung mampet.