Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 23096 | 01 Dec 2025
Klinis : Kasus: Seorang anak laki-laki, bernama Agung berusia 14 tahun. Beberapa hari ini mengalami demam tinggi 38,8 C, yang tidak turun selama 5 hari berturut-turut, lemas, pucat, mual-mual dan muntah 3 kali dalam sehari, sesak nafas ringan, banyak sariawan, dan nyeri pada kaki dan sendi makan menurun. Pasien nampak lemah, ada ruam kebiruan pada kulit, muncul bintik-bintik merah kecil di bawah kulit (petechiae), gusi mudah berdarah dan mimisan berulang. Didapatkan hasil pemeriksaan Bb/Tb: 41 kg/ 150 cm (Underweight) Denyut jantung: 110 denyut per menit Tekanan darah: 90/60 mmHG Hb: 7,8 gr/dL Trombosit: 100.000/µL Leukosit: 100.000/µL Frekuensi napas: 25 kali per menit Saturasi oksigen: 93% Ia bilang tidak ada nafsu makan dan berat badan menurun 3 kg dalam sebulan. Orang tuanya nampak cemas dan khawatir mengenai kondisi anaknya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif dan Risiko Perdarahan
Kode SDKI: D.0019 & D.0020
Deskripsi Singkat: Berdasarkan data pasien Agung (14 tahun) dengan demam tinggi persisten, lemas, pucat, sesak napas, saturasi oksigen 93%, petekie, perdarahan gusi, mimisan, dan nilai Hb 7,8 gr/dL serta trombosit 100.000/µL, diagnosis keperawatan utama yang relevan adalah Risiko Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif dan Risiko Perdarahan. Keduanya terkait erat dengan kondisi yang mendasari, yang sangat dicurigai sebagai keganasan hematologi seperti Leukemia Akut (dari anamnesis panjang dan gambaran laboratorium leukosit sangat tinggi 100.000/µL disertai anemia dan trombositopenia). Risiko perfusi jaringan berkaitan dengan anemia berat dan potensi hipoksia, sedangkan risiko perdarahan terkait langsung dengan trombositopenia dan gangguan koagulasi.
Kode SLKI: L.03115 & L.03004
Deskripsi : Untuk diagnosis Risiko Perfusi Jaringan Perifer Tidak Efektif (D.0019), luaran yang diharapkan (SLKI) adalah Perfusi Jaringan Perifer: Adekuat (L.03115). Deskripsi luaran ini mencakup kriteria seperti kulit hangat dan kering, warna kulit normal, pengisian kapiler < 3 detik, denyut nadi perifer teraba kuat dan simetris, tidak ada nyeri kaki/klaudikasio, serta tidak ada edema. Tujuan intervensi keperawatan adalah mencegah deteriorasi perfusi dengan mempertahankan saturasi oksigen >95%, menstabilkan tanda vital, dan mencegah komplikasi anoksia jaringan. Pada pasien ini, parameter seperti pucat, saturasi 93%, dan keluhan nyeri kaki menunjukkan awal gangguan perfusi yang perlu segera ditangani untuk mencegah kerusakan organ lebih lanjut.
Untuk diagnosis Risiko Perdarahan (D.0020), luaran yang diharapkan adalah Kontrol Perdarahan: Terkendali (L.03004). Luaran ini diukur dengan kriteria tidak ada tanda perdarahan aktif (seperti epistaksis, gingival bleeding, petekie baru, hematoma), nilai trombosit dalam rentang aman, dan waktu perdarahan normal. Tujuannya adalah mencegah episode perdarahan mayor, terutama perdarahan internal spontan yang dapat mengancam jiwa. Petekie, perdarahan gusi, dan mimisan pada Agung adalah tanda peringatan dini yang memerlukan intervensi protektif segera.
Kode SIKI: I.05229, I.08007, I.09004
Deskripsi : Intervensi keperawatan (SIKI) untuk mengatasi kedua risiko tersebut harus komprehensif:
1. Manajemen Perdarahan (I.05229): Intervensi ini langsung menangani risiko perdarahan. Tindakannya meliputi: memantau ketat tanda perdarahan (kulit, mukosa, feses, urin, muntahan); menghindari tindakan invasif yang tidak perlu; menggunakan sikat gigi sangat lembut atau kasa; memberikan tekanan langsung pada titik perdarahan (misal, gusi atau hidung); menghindari obat yang mempengaruhi agregasi trombosit; serta mengajarkan pada pasien dan keluarga untuk melaporkan segera tanda perdarahan baru seperti sakit kepala hebat (potensi perdarahan intrakranial). Pada kasus Agung, edukasi ini sangat penting mengingat aktivitasnya sebagai remaja perlu dibatasi untuk mencegah trauma.
2. Manajemen Hipovolemia (I.08007): Intervensi ini mendukung perfusi jaringan. Anemia (Hb 7,8) dan tanda hipotensi (TD 90/60) menunjukkan kondisi mendekati hipovolemia relatif. Tindakan meliputi: pemantauan ketat tanda vital dan saturasi oksigen; pemberian oksigen tambahan untuk mempertahankan saturasi >95%; kolaborasi pemberian transfusi komponen darah (seperti packed red cells) sesuai indikasi; mempertahankan akses intravena; serta memantau keseimbangan cairan. Pemberian nutrisi dan cairan yang adekuat juga penting, meski tantangannya adalah mual dan anoreksia pada pasien.
3. Manajemen Kecemasan (I.09004): Intervensi ini ditujukan untuk kecemasan orang tua yang terlihat. Kondisi anak yang berat dan diagnosis yang mengancam menimbulkan stres tinggi. Perawat perlu: membangun hubungan saling percaya; memberikan informasi yang jujur dan jelas tentang kondisi, prosedur, dan rencana perawatan; mendorong orang tua untuk menyatakan perasaan dan kekhawatiran; melibatkan mereka dalam perawatan sesuai kemampuan; serta merujuk pada konseling atau support group jika diperlukan. Mengurangi kecemasan keluarga akan meningkatkan kualitas dukungan mereka bagi Agung dan kepatuhan terhadap rencana terapi.
Defisit utama yang mendasari diagnosis ini adalah kegagalan sumsum tulang yang diakibatkan oleh proliferasi sel leukemik. Sel blast yang ganas mendesak produksi sel darah normal, menyebabkan: defisit sel darah merah (anemia → hipoksia → lemas, pucat, sesak, takikardia); defisit trombosit (trombositopenia → gangguan hemostasis → petekie, perdarahan); dan defisit leukosit fungsional (leukositosis tinggi namun tidak kompeten → risiko infeksi tinggi → demam, sariawan). Demam persisten, sariawan multipel, dan penurunan berat badan mendukung komplikasi infeksi dan hipermetabolik. Pendekatan keperawatan harus holistik, fokus pada pencegahan komplikasi (perdarahan, syok, sepsis), manajemen gejala, dan dukungan psikososial, sambil menunggu dan mendukung terapi definitif (kemoterapi) oleh tim medis.
-
Article No. 23097 | 01 Dec 2025
Klinis : Seorang laki-laki 26 tahun menderita DHF hari keempat mengeluh nyeri dada. Hasil pemeriksaan menunjukan kadar trombosit 16.000 per mikroliter darah. Pasien dianjurkan untuk bedrest dan mendapatkan transfusi trombosit sebanyak 5 (lima) kantong. Pemeriksaan fisik menunjukan Suhu tubuh 35.5 derajat celcius, Nadi 101x/mnt, TD 90/palpasi, respirasi 28x/menit, nampak ptekie di seluruh tubuh. Pasien mendapatkan injeksi 1 (satu) ampul dexamethasone pre transfusi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Perfusi Jaringan Tidak Efektif dan Risiko Perdarahan pada Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan Trombositopenia Berat
Kode SDKI: 0026 Risiko Perdarahan
Deskripsi Singkat: Diagnosis keperawatan utama yang paling relevan adalah "Risiko Perdarahan" yang didefinisikan sebagai keadaan rentan mengalami penurunan volume darah, yang dapat mengancam jiwa. Hal ini sangat sesuai dengan kondisi pasien DBD fase kritis (hari ke-4) dengan trombosit 16.000/µL (trombositopenia berat) dan manifestasi perdarahan kulit (ptekie di seluruh tubuh). Risiko ini diperberat oleh demam, peningkatan permeabilitas kapiler, dan potensi kebocoran plasma yang ditunjukkan oleh tekanan darah rendah (90/palpasi) dan takikardia (nadi 101x/mnt). Transfusi trombosit yang direncanakan merupakan intervensi langsung untuk mengatasi risiko ini.
Kode SLKI: 2610 Manajemen Risiko Perdarahan
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah terkendalinya risiko perdarahan, dengan kriteria: (1) Tanda-tanda vital dalam rentang yang diharapkan (peningkatan TD, penurunan frekuensi nadi dan respirasi), (2) Tidak ada tanda perdarahan baru atau bertambahnya ptekie, (3) Nilai laboratorium (terutama trombosit) menunjukkan perbaikan, (4) Mukosa membran lembab, dan (5) Pengisian kapiler < 3 detik. SLKI ini berfokus pada pemantauan ketat tanda-tanda perdarahan baik eksternal maupun internal, memantau respons terhadap transfusi trombosit, dan mencegah komplikasi lebih lanjut seperti perdarahan masif atau syok hipovolemik. Pemantauan ketat terhadap nyeri dada juga penting untuk menyingkirkan kemungkinan perdarahan atau efusi pleura.
Kode SIKI: 2610A Memantau tanda dan gejala perdarahan
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang spesifik dan kritis adalah pemantauan tanda dan gejala perdarahan. Ini meliputi: (1) Pemantauan ketat tanda vital (TD, nadi, respirasi, suhu) setiap 1-2 jam atau lebih sering sesuai kondisi untuk mendeteksi dini syok. TD 90/palpasi dan nadi 101 sudah mengindikasikan hipovolemia. (2) Inspeksi kulit dan membran mukosa setiap 4-8 jam untuk melihat perkembangan ptekie, ekimosis, atau perdarahan spontan baru (misal: epistaksis, gingival). (3) Observasi warna dan karakteristik dahak, muntahan, feses, dan urine untuk mendeteksi perdarahan internal. (4) Memantau keluhan nyeri abdomen atau dada (seperti yang dialami pasien) yang dapat mengindikasikan perdarahan organ dalam. (5) Evaluasi status neurologis (kesadaran, sakit kepala) untuk mendeteksi perdarahan intrakranial. (6) Memantau hasil laboratorium serial, khususnya hitung trombosit dan hematokrit (untuk melihat hemokonsentrasi atau perdarahan). (7) Memastikan tindakan pencegahan perdarahan dilakukan, seperti menghindari injeksi intramuskular, menggunakan sikat gigi sangat lembut, dan menghindari mengorek hidung. (8) Evaluasi respons setelah transfusi trombosit, baik secara klinis (perdarahan berhenti) maupun laboratoris (kenaikan hitung trombosit). Intervensi ini harus didokumentasikan dengan cermat untuk mengevaluasi tren kondisi pasien dan efektivitas terapi. Pemberian dexamethasone pre-transfusi juga perlu dipantau efek sampingnya, meskipun tujuannya untuk mencegah reaksi transfusi.
-
Article No. 23098 | 01 Dec 2025
Klinis : Seorang Laki-laki 24 tahun mengalami anemia kronis akibat hemoroid mengeluh lemas dan lelah. Hasil pemeriksaan menunjukan kadar Hb 7g/dl dan Ht 22%. Pasien akan menjalani pembedahan sehingga perlu memperbaiki profil hemodinamik. Pasien direncanakan akan mendapatkan transfusi PRC sebanyak 3 kantong. Pemeriksaan fisik menunjukan Suhu tubuh 36.5 derajat celcius, Nadi 101x/mnt, TD 90/70 mmHg, turgor 5 detik, akral dingin, mukosa kering, respirasi 28x/menit. Sesuai Instruksi pasien akan mendapatkan injeksi furosemide 1 (satu) ampul Pre transfusi jika sesuai indikasi.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Penurunan volume cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Kondisi ini mengacu pada dehidrasi, kehilangan cairan, dan hipovolemia.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Status hidrasi membaik. Ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang diharapkan, 2) Turgor kulit elastis, 3) Mukosa membran lembab, 4) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 5) Haluaran urine adekuat, 6) Keseimbangan cairan seimbang.
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan). 2) Monitor status hidrasi (turgor kulit, pengisian kapiler, membran mukosa, rasa haus, produksi urin, berat jenis urin). 3) Monitor intake dan output cairan. 4) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai program. 5) Atur posisi pasien untuk meningkatkan sirkulasi. 6) Lakukan perawatan kulit dan membran mukosa. 7) Berikan informasi tentang pentingnya asupan cairan. 8) Kolaborasi pemberian transfusi darah sesuai program. 9) Monitor respons dan komplikasi transfusi darah. 10) Kolaborasi pemberian diuretik sesuai indikasi.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: B.4.1
Deskripsi Singkat: Ketidakcukupan energi fisiologis atau psikologis untuk menuntaskan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau diinginkan.
Kode SLKI: L.4.1.1
Deskripsi : Toleransi aktivitas meningkat. Ditandai dengan: 1) Melaporkan peningkatan energi, 2) Melakukan aktivitas sesuai tingkat kemampuan, 3) Tanda-tanda vital dalam rentang normal saat aktivitas, 4) Tidak mengalami kelelahan yang berlebihan, 5) Kebutuhan istirahat dan aktivitas seimbang.
Kode SIKI: I.4.1.1
Deskripsi : 1) Monitor respons pasien terhadap aktivitas (tanda vital, kelelahan, sesak napas). 2) Bantu pasien mengidentifikasi aktivitas yang dapat menyebabkan kelelahan. 3) Ajarkan teknik penghematan energi. 4) Rencanakan periode istirahat yang cukup sebelum dan sesudah aktivitas. 5) Bantu pasien dalam aktivitas perawatan diri sesuai kebutuhan. 6) Tingkatkan aktivitas secara bertahap sesuai toleransi. 7) Kolaborasi pemberian terapi oksigen jika diperlukan. 8) Berikan dukungan nutrisi untuk meningkatkan energi. 9) Edukasi pasien dan keluarga tentang penjadwalan aktivitas.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: C.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko mengalami penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan dari intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Status hidrasi membaik. Ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang diharapkan, 2) Turgor kulit elastis, 3) Mukosa membran lembab, 4) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 5) Haluaran urine adekuat, 6) Keseimbangan cairan seimbang.
Kode SIKI: I.1.1.2
Deskripsi : 1) Monitor tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, suhu, pernapasan). 2) Monitor status hidrasi (turgor kulit, pengisian kapiler, membran mukosa, rasa haus, produksi urin, berat jenis urin). 3) Monitor intake dan output cairan secara ketat, terutama sebelum, selama, dan setelah transfusi. 4) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai program. 5) Kolaborasi pemberian transfusi darah sesuai program dengan mematuhi protokol. 6) Monitor respons dan komplikasi transfusi darah (reaksi alergi, kelebihan beban sirkulasi/TACO, febris). 7) Kolaborasi pemberian diuretik (seperti furosemide) sesuai indikasi sebelum/setelah transfusi untuk mencegah kelebihan beban cairan. 8) Atur kecepatan transfusi sesuai ketentuan. 9) Berikan posisi yang nyaman dan aman. 10) Edukasi pasien tentang tanda-tanda kelebihan cairan yang harus dilaporkan.
Kondisi: Risiko Syok
Kode SDKI: C.1.3
Deskripsi Singkat: Risiko terjadinya ketidakadekuatan perfusi jaringan yang mengancam jiwa.
Kode SLKI: L.1.3.1
Deskripsi : Syok teratasi. Ditandai dengan: 1) Tanda-tanda vital dalam rentang normal yang diharapkan, 2) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik, 3) Haluaran urine adekuat, 4) Kulit hangat dan kering, 5) Status mental baik.
Kode SIKI: I.1.3.1
Deskripsi : 1) Monitor terus menerus tanda-tanda vital dan status hemodinamik (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu). 2) Monitor tanda-tanda perfusi jaringan (warna kulit, kelembaban, suhu akral, pengisian kapiler, produksi urin, status mental). 3) Pertahankan jalan napas paten dan oksigenasi adekuat. 4) Kolaborasi pemberian terapi oksigen. 5) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena dan transfusi darah untuk mengoptimalkan volume intravaskuler. 6) Atur posisi pasien untuk meningkatkan sirkulasi (misalnya, posisi trendelenburg modifikasi jika diperlukan dan tidak terkontraindikasi). 7) Minimalkan gangguan dan pertahankan suhu tubuh normal. 8) Kolaborasi pemberian obat-obatan inotropik/vasoaktif jika diperlukan. 9) Siapkan alat dan obat resusitasi. 10) Lakukan edukasi pada pasien dan keluarga tentang kondisi dan penanganannya.
-
Article No. 23099 | 01 Dec 2025
Klinis : DS: Istri mengatakan pasien hanya minum obat saat kambuh, tidak kontrol rutin, menggunakan resep lama ibunya, tidak paham pencegahan. DO: Tidak ada jadwal terapi, belum patuh manajemen pengobatan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakpatuhan Terapeutik
Kode SDKI: 0118
Deskripsi Singkat: Perilaku individu dan/atau keluarga yang tidak sesuai dengan rekomendasi terapeutik atau pencegahan kesehatan yang disepakati, terkait dengan kondisi penyakit, kemampuan, dan/atau tujuan kesehatan.
Kode SLKI: 4327
Deskripsi : Kepatuhan terhadap program terapeutik. Ditandai dengan: 1) Mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan, 2) Mengungkapkan pemahaman tentang program terapeutik, 3) Mengungkapkan kesediaan untuk mematuhi program terapeutik, 4) Melaksanakan program terapeutik sesuai anjuran, 5) Memantau kemajuan sesuai program terapeutik, 6) Memanfaatkan sistem pendukung untuk meningkatkan kepatuhan.
Kode SIKI: 4327A
Deskripsi : Kaji faktor yang mempengaruhi ketidakpatuhan terhadap program terapeutik. Intervensi ini melibatkan pengkajian mendalam terhadap berbagai aspek yang menjadi penghambat kepatuhan pasien dan keluarga. Perawat perlu mengeksplorasi faktor pengetahuan, seperti tingkat pemahaman tentang penyakit, tujuan pengobatan, konsekuensi ketidakpatuhan, dan cara pencegahan kekambuhan. Pada kasus ini, jelas terdapat defisit pengetahuan dimana pasien tidak paham pencegahan dan hanya minum obat saat kambuh. Selain itu, faktor sikap dan keyakinan perlu dikaji, misalnya persepsi tentang manfaat obat, kekhawatiran akan efek samping, atau keyakinan bahwa obat hanya diperlukan saat gejala muncul. Faktor sosial-ekonomi juga berperan, seperti biaya kontrol rutin dan obat. Faktor sistem layanan kesehatan, seperti kualitas komunikasi tenaga kesehatan sebelumnya, juga mempengaruhi. Perawat harus mendengarkan secara empatik penjelasan istri dan pasien mengenai alasan menggunakan resep lama ibunya, ketidakteraturan kontrol, dan pola minum obat. Pengkajian ini tidak menghakimi tetapi bertujuan memahami akar masalah untuk merencanakan intervensi yang tepat. Hasil pengkajian ini menjadi dasar untuk menentukan intervensi selanjutnya, seperti edukasi kesehatan, modifikasi rencana terapi bersama pasien, atau memfasilitasi akses ke layanan kesehatan.
-
Article No. 23100 | 01 Dec 2025
Klinis : 1. Observasi - Identifikasi tingkat pengetahuan pasien dan keluarga terkait terapi asma. - Kaji pola konsumsi obat selama ini (frekuensi, dosis, waktu minum). - Monitor tanda kekambuhan yang sering muncul di rumah. 2. Terapeutik: - Fasilitasi pembuatan jadwal minum obat 1 minggu bersama keluarga. - Anjurkan penyediaan obat pengontrol sesuai anjuran medis (bila diresepkan ulang oleh tenaga kesehatan). - Diskusikan manajemen terapi jangka panjang merujuk pada Pedoman GINA. - Ajarkan pengenalan tanda bahaya serangan asma yang membutuhkan rujukan. 3. Edukasi: - Berikan edukasi bahwa obat reliever seperti Salbutamol harus sesuai resep dokter dan bukan hanya saat kambuh bila ada resep pengontrol. - Jelaskan pentingnya kepatuhan terapi pengontrol seperti inhaler kortikosteroid bila nanti diberikan (mis. merk umum keluarga: Ventolin bila berbentuk inhaler, sesuai resep dokter). - Edukasi penghindaran pencetus lingkungan terutama udara dingin, kelelahan, dan asap pembakaran. - Motivasi keluarga mendampingi pasien kontrol berkala ke fasilitas terdekat seperti Puskesmas Dawe.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakpatuhan Terapeutik pada Pasien Asma
Kode SDKI: 0110
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakpatuhan Terapeutik didefinisikan sebagai kondisi di mana individu, keluarga, atau komunitas rentan terhadap ketidakmampuan atau ketidakmauan untuk mengikuti rekomendasi terapeutik yang telah disepakati bersama tenaga kesehatan, yang dapat mengakibatkan hasil kesehatan yang tidak optimal atau komplikasi. Pada kasus asma, ketidakpatuhan sering terjadi pada penggunaan obat pengontrol (controller) jangka panjang, pemahaman yang keliru tentang fungsi obat reliever, dan ketidakkonsistenan dalam menghindari faktor pencetus.
Kode SLKI: 4310
Deskripsi : Manajemen Ketidakpatuhan. Deskripsi lengkap: Tindakan keperawatan untuk meningkatkan kepatuhan terhadap rejimen terapeutik. Intervensi yang dilakukan berdasarkan kondisi pasien meliputi: (1) Mengkaji tingkat pengetahuan dan persepsi pasien/keluarga tentang penyakit asma dan terapinya, termasuk pola konsumsi obat (frekuensi, dosis, waktu) dan pemantauan tanda kekambuhan di rumah. (2) Memfasilitasi pembuatan jadwal minum obat (seperti untuk satu minggu) bersama keluarga untuk meningkatkan keteraturan. (3) Menganjurkan dan memastikan ketersediaan obat pengontrol sesuai resep medis. (4) Melakukan diskusi dan edukasi mengenai manajemen terapi jangka panjang berdasarkan pedoman standar (seperti GINA), dengan menekankan perbedaan mendasar antara obat pengontrol (harus digunakan rutin) dan obat reliever (digunakan saat gejala). (5) Mengajarkan pengenalan tanda-tanda bahaya serangan asma yang memerlukan rujukan segera ke fasilitas kesehatan. (6) Memberikan edukasi spesifik tentang penghindaran pencetus lingkungan individu seperti udara dingin, kelelahan, dan asap pembakaran. (7) Memotivasi dan melibatkan keluarga untuk mendukung pasien dalam kontrol berkala ke fasilitas kesehatan terdekat (misalnya Puskesmas). Tujuan akhir intervensi ini adalah membangun pemahaman, kemauan, dan kemampuan pasien serta keluarga untuk secara konsisten menjalankan terapi, sehingga dapat mengontrol gejala asma, mencegah kekambuhan, dan meningkatkan kualitas hidup.
Kode SIKI: 4310A
Deskripsi : Kepatuhan terhadap rejimen terapeutik. Kriteria hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah: (1) Pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit asma dan terapi meningkat, yang ditunjukkan dengan kemampuan menyebutkan jenis obat (pengontrol vs pereda), fungsi, dosis, dan waktu minum yang benar. (2) Pasien dan keluarga dapat secara mandiri membuat dan mengikuti jadwal minum obat yang terstruktur. (3) Obat-obatan yang diperlukan, terutama obat pengontrol, tersedia di rumah dan digunakan sesuai resep, bukan hanya saat kambuh. (4) Pasien dan keluarga mampu mengidentifikasi faktor pencetus pribadi dan menerapkan strategi penghindaran secara konsisten. (5) Pasien dan keluarga mampu mengenali tanda-tanda peringatan dini dan tanda bahaya serangan asma yang memerlukan tindakan segera atau rujukan. (6) Terjadi peningkatan dalam keteraturan kontrol berkala ke fasilitas kesehatan yang didukung oleh keluarga. (7) Frekuensi kekambuhan asma dan penggunaan obat reliever yang tidak terencana menurun. (8) Pasien melaporkan peningkatan kualitas hidup terkait pengelolaan penyakitnya. Keberhasilan ini diukur melalui evaluasi verbal, observasi perilaku, dan pemantauan catatan kesehatan pasien.
-
Article No. 23101 | 01 Dec 2025
Klinis : Pasien usia 62 tahun dengan keluhan pusing berputar, badan lemas
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Vertigo Sentral dan Asthenia
Kode ICD-10: H81.4 (Vertigo sentral) dan R53.1 (Kelemahan)
Deskripsi Singkat : Pasien mengalami dua gejala utama yang dikodekan secara terpisah. Kode H81.4 mengacu pada Vertigo Sentral, yaitu sensasi pusing berputar yang berasal dari gangguan pada sistem saraf pusat (otak dan batang otak), berbeda dengan vertigo perifer yang berasal dari telinga bagian dalam. Kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai masalah seperti gangguan pembuluh darah otak (misalnya insufisiensi vertebrobasilar), migrain, tumor, atau penyakit degeneratif. Gejala pusing seringkali tidak disertai gangguan pendengaran atau tinitus, namun dapat disertai tanda neurologis lain. Kode R53.1 menggambarkan Kelemahan (Asthenia), yaitu keluhan subjektif badan lemas, mudah lelah, atau kurang energi tanpa kelemahan otot yang spesifik. Kelemahan ini merupakan gejala non-spesifik yang dapat berkaitan dengan berbagai kondisi, mulai dari proses infeksi, gangguan metabolik, anemia, hingga kondisi kronis atau psikologis. Dalam konteks pasien usia 62 tahun, kombinasi gejala ini memerlukan evaluasi lebih lanjut untuk menyingkirkan penyebab serius seperti gangguan sirkulasi otak atau kondisi sistemik lainnya. Pengkodean terpisah memungkinkan pelacakan yang lebih akurat untuk setiap keluhan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 23102 | 01 Dec 2025
Klinis : Pasien usia 62 tahun dengan keluhan pusing berputar, badan lemas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 0026
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau fluktuasi tekanan darah arteri sistolik dan/atau diastolik dari rentang yang dianggap normal bagi individu, yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 2401
Deskripsi : Tekanan Darah dalam Rentang Normal. Kriteria hasil: 1) Tekanan darah sistolik dalam rentang target yang ditetapkan. 2) Tekanan darah diastolik dalam rentang target yang ditetapkan. 3) Denyut nadi dalam rentang normal. 4) Melaporkan tidak adanya pusing atau sakit kepala. 5) Melaporkan tidak adanya lemas. 6) Kulit hangat dan kering. 7) Membran mukosa lembab. 8) Mengidentifikasi faktor risiko ketidakstabilan tekanan darah. 9) Melakukan tindakan untuk mengontrol tekanan darah.
Kode SIKI: 3401
Deskripsi : Pemantauan Tekanan Darah. Tindakan keperawatan: 1) Identifikasi faktor risiko perubahan tekanan darah (misal: riwayat hipertensi, hipotensi, dehidrasi, penyakit jantung, efek pengobatan). 2) Kaji tekanan darah, denyut nadi, frekuensi napas, suhu, dan saturasi oksigen. 3) Kaji keluhan pusing, sakit kepala, lemas, mual, penglihatan kabur, atau palpitasi. 4) Kaji warna, kelembaban, dan suhu kulit. 5) Kaji status hidrasi (turgor kulit, membran mukosa, balance cairan). 6) Kaji respons emosional (cemas, takut). 7) Pantau hasil pemeriksaan penunjang terkait (seperti laboratorium). 8) Ajarkan pasien/keluarga cara memantau tekanan darah dan gejala yang perlu diwaspadai. 9) Anjurkan perubahan posisi bertahap (dari tidur ke duduk, lalu berdiri). 10) Kolaborasi pemberian terapi cairan atau obat-obatan sesuai resep. 11) Evaluasi respons pasien terhadap intervensi yang diberikan.
-
Article No. 23103 | 01 Dec 2025
Klinis : Pasien usia 62 tahun dengan keluhan pusing berputar, badan lemas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: 00094
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan, peningkatan, atau fluktuasi tekanan darah sistolik dan/atau diastolik dari rentang normal yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Tekanan darah dalam rentang yang diharapkan. SLKI ini memiliki kriteria hasil: (1) Tekanan darah sistolik dan diastolik dalam rentang yang ditetapkan. (2) Nadi dalam rentang normal. (3) Tidak adanya keluhan pusing, sakit kepala, atau penglihatan kabur. (4) Kulit hangat, kering, dan warna kulit normal. (5) Keseimbangan cairan dan elektrolit adekuat. (6) Menunjukkan perilaku untuk mempertahankan tekanan darah dalam rentang normal. Pada pasien dengan keluhan pusing berputar (vertigo) dan lemas, tujuan utamanya adalah mencapai tekanan darah yang stabil dalam rentang aman untuk mengurangi gejala dan mencegah komplikasi seperti sinkop atau cedera akibat jatuh. Pemantauan tekanan darah secara berkala sangat penting untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan terapi. Stabilitas tekanan darah juga mencerminkan keseimbangan sistem kardiovaskuler, volume cairan, dan respon terhadap pengobatan.
Kode SIKI: 2610
Deskripsi : Pemantauan Tekanan Darah. Intervensi ini meliputi pengukuran dan interpretasi tekanan darah sistolik dan diastolik untuk mendeteksi adanya perubahan atau penyimpangan dari rentang normal. Penjelasan: Pada pasien usia 62 tahun dengan pusing berputar dan lemas, pemantauan tekanan darah adalah intervensi keperawatan yang fundamental dan kritis. Langkah ini dilakukan untuk mengidentifikasi apakah gejala tersebut disebabkan oleh hipotensi (misalnya ortostatik), hipertensi, atau fluktuasi tekanan darah. Teknik pengukuran harus akurat, mencakup pengukuran pada kedua lengan dan dalam berbagai posisi (berbaring, duduk, berdiri) jika dicurigai hipotensi ortostatik. Perawat harus menginterpretasikan hasil pengukuran dalam konteks riwayat kesehatan pasien, obat-obatan yang dikonsumsi (seperti antihipertensi atau diuretik), dan kondisi klinis lainnya. Data ini menjadi dasar untuk kolaborasi dengan tim medis dalam penyesuaian terapi, pemberian edukasi, dan intervensi lebih lanjut. Pemantauan yang rutin dan terdokumentasi dengan baik membantu dalam menilai tren tekanan darah, respon terhadap intervensi, dan mendeteksi dini adanya komplikasi potensial.
-
Article No. 23104 | 01 Dec 2025
Klinis : Gaya Hidup Tidak Sehat pada komunitas di kota yang menganggap begadang atau minum kopi sampai larut malam adalah tanda “Kerja keras”
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Keseimbangan Energi
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Kondisi di mana individu atau komunitas berisiko mengalami ketidakseimbangan antara asupan energi (melalui nutrisi, stimulan) dengan pengeluaran energi (melalui aktivitas, metabolisme, dan pemulihan) yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Setelah diberikan intervensi keperawatan, komunitas mampu mengidentifikasi perilaku yang menyebabkan ketidakseimbangan energi. Kriteria hasil meliputi: 1) Komunitas menyebutkan minimal tiga dampak negatif dari kebiasaan begadang dan konsumsi kafein berlebihan terhadap kesehatan fisik dan mental. 2) Komunitas mengungkapkan kesadaran akan adanya kontradiksi antara nilai "kerja keras" yang diagungkan dengan konsep produktivitas berkelanjutan yang memerlukan istirahat cukup. 3) Komunitas dapat menjelaskan hubungan antara pola tidur, asupan stimulan, dengan risiko penyakit seperti gangguan kardiovaskular, kecemasan, dan penurunan fungsi kognitif. 4) Terbentuknya kelompok diskusi dalam komunitas untuk membahas alternatif pola kerja yang lebih sehat.
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : Intervensi untuk mengatasi risiko gangguan keseimbangan energi pada komunitas dengan budaya begadang dan minum kopi berlebihan meliputi: 1) **Pendidikan Kesehatan (Health Education)**: Menyelenggarakan penyuluhan tentang fisiologi tidur dan pentingnya siklus sirkadian, menjelaskan dampak kafein terhadap kualitas tidur dan tingkat stres, serta mengajarkan teknik manajemen waktu dan prioritas tugas untuk mengurangi kebutuhan begadang. Edukasi dilakukan dengan bahasa yang relevan dengan konteks pekerjaan mereka, menggunakan contoh konkret dampak kelelahan kronis terhadap keselamatan kerja dan kualitas keputusan. 2) **Penguatan dan Dukungan (Strengthening and Support)**: Memfasilitasi pembentukan kelompok dukungan sebaya (peer support group) dalam komunitas untuk saling mengingatkan tentang pentingnya istirahat, berbagi pengalaman mengatasi kebiasaan begadang, dan menciptakan norma sosial baru yang mendukung gaya hidup sehat. Perawat berperan sebagai fasilitator dan konsultan bagi kelompok ini. 3) **Konseling (Counseling)**: Melakukan konseling individu atau kelompok untuk mengeksplorasi keyakinan dan nilai yang mengaitkan begadang dengan etos kerja, membantu merekonstruksi pemahaman bahwa kerja keras yang cerdas adalah yang disertai dengan manajemen energi dan pemulihan yang optimal. Teknik konseling motivasional dapat digunakan untuk membangkitkan keinginan intrinsik untuk berubah. 4) **Kolaborasi (Collaboration)**: Berkolaborasi dengan pemimpin komunitas, perusahaan, atau tokoh kunci yang dihormati untuk mengkampanyekan "Budaya Kerja Sehat", misalnya dengan menetapkan kebijakan tidak mengirim email kerja di luar jam kantor, menyediakan area relaksasi non-kafein, atau mengadakan seminar tentang produktivitas dan kesehatan tidur. 5) **Survei dan Pemantauan Lingkungan (Surveillance and Environmental Monitoring)**: Melakukan asesmen sederhana terhadap pola tidur dan konsumsi kafein anggota komunitas secara anonim untuk dijadikan data dasar, kemudian memantau perubahan perilaku setelah intervensi dilakukan secara berkala. Intervensi ini dirancang tidak untuk menghakimi budaya yang ada, tetapi untuk memberdayakan komunitas dengan pengetahuan dan keterampilan agar dapat membuat pilihan yang lebih sehat tanpa meninggalkan nilai produktivitas yang mereka junjung.
-
Article No. 23105 | 01 Dec 2025
Klinis : anemia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Anemia
Kode SDKI: D.0018
Deskripsi Singkat: Risiko penurunan perfusi jaringan perifer berhubungan dengan penurunan komponen sel darah merah yang membawa oksigen.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik atau dipertahankan, ditandai dengan: 1) Tanda vital dalam batas normal untuk usia; 2) Nadi perifer teraba kuat dan simetris; 3) Warna kulit dan membran mukosa normal/ tidak pucat atau sianosis; 4) Ekstremitas hangat; 5) Pengisian kapiler kurang dari 3 detik; 6) Tidak mengeluh nyeri dada, palpitasi, atau dispnea saat aktivitas; 7) Tingkat kesadaran compos mentis; 8) Produksi urin adekuat (0,5-1,5 ml/kgBB/jam); 9) Nilai laboratorium (Hb, Ht) mendekati rentang normal.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen perfusi jaringan. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan keperawatan yang komprehensif untuk memantau, meningkatkan, dan mempertahankan aliran darah yang adekuat ke jaringan perifer. Tindakan dimulai dengan pemantauan ketat tanda-tanda penurunan perfusi, seperti pucat, kulit dingin, nadi lemah, pengisian kapiler melambat (>3 detik), takikardia, hipotensi, dispnea, kelelahan, penurunan output urin, dan perubahan status mental. Pemantauan tanda vital dan oksimetri nadi dilakukan secara berkala. Pasien didorong untuk tirah baring atau membatasi aktivitas sesuai toleransi untuk mengurangi konsumsi oksigen tubuh. Posisi pasien diatur dengan elevasi kepala tempat tidur untuk memfasilitasi pernapasan dan sirkulasi, menghindari posisi yang menekan pembuluh darah. Dilakukan penjagaan suhu lingkungan agar tetap hangat untuk mencegah vasokonstriksi, menggunakan selimut jika diperlukan. Asupan nutrisi dan cairan dimonitor dan didukung, dengan mendorong konsumsi makanan kaya zat besi, asam folat, dan vitamin B12 (seperti daging merah, sayuran hijau, hati, kacang-kacangan) serta menjaga hidrasi yang adekuat sesuai kondisi jantung. Pemberian terapi oksigen sesuai indikasi dan resep untuk meningkatkan saturasi oksigen. Kolaborasi dalam pemberian transfusi darah atau produk darah sesuai protokol, dengan pemantauan ketat sebelum, selama, dan setelah transfusi terhadap reaksi transfusi. Edukasi diberikan kepada pasien dan keluarga mengenai penyebab anemia, tanda-tanda penurunan perfusi yang harus diwaspadai, pentingnya diet dan terapi obat (seperti suplemen besi), serta teknik penghematan energi. Keamanan pasien dijaga karena risiko pusing dan sinkop akibat hipoksia serebral. Seluruh intervensi didokumentasikan dengan baik dan evaluasi respons pasien terhadap terapi dilakukan secara terus-menerus untuk mencapai hasil yang diharapkan yaitu perfusi jaringan yang adekuat.