Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25140 | 16 Apr 2026
Klinis : Pasien dengan penurunan kesadaran dan sesak napas KU : lemah, kes coma TD 133/80 mmHg HR 109 x/mnt RR 37 x/mnt S 36,9 C SPO2 58 % Status generalis Mata RC +/+, isokor 3mm/3mm, CA -/- Mulut bibir kering (+) Thorax SDV +/+ RBH -/- RBK -/- WHZ -/- Abdomen supel, BU (+), NT (-) Ext atas akral hangat , CRT < 2 detik, oedem -/- Ext Bawah akral hangat , CRT < 2 detik, oedem -/- Status Neurologis Sensorik sde Kekuatan motorik : lateralisasi (-) Refleks fisiologis: +3/+3// +3/+3 Refleks patologis: (-/-//-/-) Nistagmus: (-) Parese NC. XII (-) Parese NC. VII (-) Blink to threat (-) Visual pursuit (-) Voluntary eye movement (-) Meningeal sign (-) Hasil Lab Darah Rutin (16/04/26) Darah Rutin Hemoglobin 14.58 Eritrosit 5.09 Hematokrit 44.2 Lekosit 19.85 (H) Trombosit 335 Golongan Darah B ELEKTROLIT Natrium (Na) 139 Kalium (K) 4.9 Chlorida (Cl) 104 Calsium (Ca2+) 1.3 pH 7.13 Glukosa Darah Glukosa Darah Sewaktu 361 (H) Fungsi Ginjal Ureum 32.0 Kreatinin 0.68 Hasil CT scan kepala non-kontras (16/04/26) Hasil Rontgen Thorax (16/04/26)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Penurunan Kesadaran
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kondisi di mana terjadi ketidakseimbangan antara suplai oksigen dan kebutuhan oksigen tubuh, serta ketidakmampuan untuk mengeliminasi karbon dioksida secara adekuat, yang mengakibatkan hipoksemia dan/atau hiperkapnia. Pada pasien ini, kondisi ini dimanifestasikan secara kritis dengan saturasi oksigen (SpO2) 58% dan frekuensi napas 37x/menit (takipnea kompensasi), disertai dengan penurunan kesadaran (kesadaran koma). Hipoksemia berat ini merupakan ancaman langsung terhadap fungsi sel-sel otak dan organ vital lainnya. Data pendukung yang sangat relevan adalah hasil analisis gas darah pH 7.13 yang menunjukkan asidosis metabolik berat, sering kali terkait dengan hipoksia jaringan dan kemungkinan komplikasi metabolik seperti ketoasidosis diabetik (didukung oleh glukosa darah sewaktu 361 mg/dL). Gangguan pertukaran gas pada kasus ini merupakan diagnosis keperawatan prioritas utama karena mengancam jiwa dalam hitungan menit.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : SLKI L.04001 bertujuan untuk mempertahankan atau mengembalikan pertukaran gas yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Saturasi oksigen (SpO2) dalam rentang normal (≥95%) dengan dukungan oksigen yang sesuai, (2) Frekuensi napas kembali dalam rentang normal (12-20x/menit) dan irama teratur, (3) Tidak ada tanda sianosis atau distress pernapasan, (4) Analisis gas darah menunjukkan parameter dalam batas normal (pH 7.35-7.45, PaO2 >80 mmHg, PaCO2 35-45 mmHg), dan (5) Tingkat kesadaran membaik seiring dengan terkoreksinya hipoksemia. Pada pasien ini, target utama adalah meningkatkan SpO2 dari 58% ke level yang aman (>90%) secara cepat, mengurangi kerja napas, dan mencegah kerusakan organ lebih lanjut akibat hipoksia. Pencapaian SLKI ini akan ditandai dengan stabilisasi tanda-tanda vital dan perbaikan status neurologis.
Kode SIKI: I.04090, I.09002, I.09006, I.10001
Deskripsi : Intervensi keperawatan harus segera, komprehensif, dan kolaboratif. Pertama, I.04090: Manajemen Jalan Napas, dengan tindakan memastikan patensi jalan napas, melakukan posisi semi-fowler atau lateral jika aman, dan bersiap untuk bantuan jalan napas invasif/non-invasif karena penurunan kesadaran. Kedua, I.09002: Terapi Oksigen, yaitu memberikan oksigen dengan aliran tinggi (misal, non-rebreather mask 10-15 L/menit) untuk mengatasi hipoksemia kritis, dengan pemantauan ketat SpO2 dan siap untuk ventilasi mekanik. Ketiga, I.09006: Pemantauan Status Pernapasan, meliputi pemantauan terus-menerus terhadap frekuensi, irama, kedalaman napas, penggunaan otot bantu, dan SpO2, serta mempersiapkan pemeriksaan analisis gas darah serial. Keempat, I.10001: Pemantauan Neurologis, yaitu melakukan pemantauan GCS secara ketat, reaksi pupil, dan tanda neurologis lainnya setiap 15-30 menit untuk menilai dampak hipoksia pada SSP dan mendeteksi perubahan. Selain itu, kolaborasi intensif diperlukan untuk koreksi asidosis metabolik dan hiperglikemia, serta interpretasi hasil CT scan dan rontgen thorax untuk mencari penyebab primer (misalnya, infeksi paru yang ditunjukkan oleh leukositosis 19.85, atau lesi intrakranial). Semua intervensi didokumentasikan dengan jelas dan dievaluasi respons pasien secara terus-menerus.
Kondisi: Risiko Ketidakefektifan Perfusi Jaringan Serebral
Kode SDKI: D.0020
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral adalah keadaan dimana seseorang berisiko mengalami penurunan sirkulasi darah ke otak yang dapat mengakibatkan kerusakan neurologis. Pada pasien ini, risiko ini sangat tinggi dan nyata akibat dari hipoksemia berat (SpO2 58%) dan asidosis metabolik berat (pH 7.13). Hipoksia dan asidosis dapat menyebabkan vasodilatasi atau vasokonstriksi serebral yang tidak adekuat, gangguan integritas sawar darah otak, dan akhirnya iskemia serebral. Meskipun tanda fokal neurologis seperti lateralisasi dan refleks patologis belum ada, penurunan kesadaran hingga koma itu sendiri adalah indikator utama dari gangguan fungsi serebral global. Data pendukung lain adalah takikardia (HR 109x/mnt) sebagai upaya kompensasi jantung untuk meningkatkan curah jantung dan perfusi, termasuk ke otak. Kondisi hiperglikemia (GDS 361) juga dapat memperburuk kerusakan neurologis pada keadaan iskemi. Risiko ini bersifat dinamis dan dapat berkembang menjadi kerusakan permanen jika perfusi dan oksigenasi otak tidak segera diperbaiki.
Kode SLKI: L.02004
Deskripsi : SLKI L.02004 bertujuan untuk mempertahankan perfusi serebral yang adekuat. Kriteria hasil yang diharapkan adalah: (1) Tingkat kesadaran menunjukkan perbaikan atau setidaknya tidak memburuk, (2) Tanda-tanda vital stabil dengan tekanan darah yang adekuat untuk perfusi serebral (MAP >65 mmHg), (3) Tidak muncul tanda-tanda baru peningkatan tekanan intrakranial (seperti pupil anisokor, paresis, refleks patologis), (4) Saturasi oksigen dan parameter gas darah dalam batas normal untuk mendukung metabolisme otak. Pada pasien ini, target utamanya adalah mencegah kerusakan neurologis lebih lanjut dengan memastikan suplai oksigen dan darah ke otak tercukupi. Keberhasilan SLKI ini ditandai dengan stabilnya status neurologis dan tidak munculnya defisit fokal baru selama periode kritis.
Kode SIKI: I.02006, I.09002, I.10001
Deskripsi : Intervensi keperawatan difokuskan pada mempertahankan tekanan perfusi serebral dan mencegah hipoksia. Pertama, I.02006: Pemantauan Perfusi Jaringan, khususnya perfusi serebral, dengan memantau dan mendokumentasikan status neurologis secara ketat menggunakan GCS, ukuran dan reaksi pupil, serta fungsi motorik/sensorik setiap 15-30 menit. Memantau tekanan darah (TD 133/80 mmHg masih adekuat) dan Mean Arterial Pressure (MAP) untuk memastikan cukup untuk perfusi serebral. Kedua, I.09002: Terapi Oksigen (seperti dijelaskan sebelumnya) merupakan intervensi kunci, karena koreksi hipoksemia adalah landasan utama untuk memperbaiki perfusi serebral yang efektif. Ketiga, I.10001: Pemantauan Neurologis dilakukan secara integratif untuk mendeteksi dini setiap perubahan yang mengarah pada ketidakefektifan perfusi. Selain itu, intervensi kolaboratif seperti pemberian cairan intravena untuk menjaga volume sirkulasi dan koreksi asidosis-metabolik-hiperglikemia sangat penting. Posisi kepala tempat tidur diatur 30 derajat (jika tidak kontraindikasi) untuk memfasilitasi aliran balik vena serebral. Semua tindakan dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari manuver yang dapat meningkatkan tekanan intrakranial.
-
Article No. 25141 | 16 Apr 2026
Klinis : Tn. G 28 tahun di rawat di ruang infeksius paru. Hasil pengkajian pengkajian mengeluh batuk, tampak lendir bercampur darah, pasien susah mengeluarkan dahak, sesak, hasil pemeriksaan thorax terdengar ronchi. Tanda-tanda vital T: 40 derajat Celcius, Nadi: 100x/m, TD: 120/80mmHg, nafas: 28x/m. pasien mengalami penurunan berat badan 70kg menjadi 47kg. pasien merasa mual saat makan sehingga nafsu makan menurun. Pasien seorang perokok dan menghabiskan 2 bungkus dalam sehari.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Tuberkulosis Paru dengan Konfirmasi Bakteriologis dan Histologis
Kode ICD-10: A15.0
Deskripsi Singkat : Kondisi pasien menunjukkan gambaran klinis yang sangat sugestif terhadap Tuberkulosis (TB) Paru aktif. Gejala utama berupa batuk produktif dengan dahak bercampur darah (hemoptisis), sesak napas, dan suara napas abnormal (ronchi). Demam tinggi (40°C), takipnea (28x/m), dan penurunan berat badan yang signifikan (dari 70kg ke 47kg) disertai anoreksia dan mual merupakan gejala konstitusional klasik TB. Riwayat merokok berat merupakan faktor risiko penting yang memperberat kondisi paru. Kode ICD-10 A15.0 secara spesifik mengindikasikan Tuberkulosis paru, yang dikonfirmasi melalui pemeriksaan bakteriologis dan histologis. Kode ini berada dalam kategori A15-A19 (Tuberkulosis) dan digunakan untuk kasus TB paru di mana adanya Mycobacterium tuberculosis telah dibuktikan dengan pemeriksaan mikroskopis sputum (BTA), kultur, atau biopsi jaringan. Penggunaan kode ini menekankan pada kepastian diagnosis melalui konfirmasi laboratorium, yang membedakannya dari diagnosis klinis saja. Kondisi ini sangat menular melalui droplet udara dan memerlukan pengobatan jangka panjang dengan regimen antibiotik multi-drug. Komplikasi yang mungkin terjadi termasuk kerusakan paru permanen, penyebaran infeksi ke organ lain (TB ekstrapulmoner), dan kegagalan pernapasan.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 25116 | 15 Apr 2026
Klinis : pasien baru datang dengan keluhan sesak nafas sejak sore, keringat dingin, lemasRPD: PJK (+), HT (-), DM (-) RPD asam lambung Ku lemah, Kes CM TD : 117/73 Tekanan Darah 117/73 Suhu 36 Nadi 85 x/menit Pernafasan 24 x/menit Berat Badan Kg Tinggi Badan cm Mata CA -/-, SI -/- Thorax sdv +/+ wh +/+ rh +/+ Abdomen supel, BU (+), NT (+) epigastrium, undulasi (-) Ext atas akral hangat +/+, edem +/+ Ext Bawah akral hangat +/+, edem +/+ LAB HEMATOLOGI Darah Rutin - Hemoglobin 7.44 L g/dL 12.2 ~ 18.1 - Eritrosit 3.38 L juta/µL 4.04 ~ 6.13 - Hematokrit 23.8 L % 37.7 ~ 53.7 - Glukosa Darah Sewaktu 97 mg/dL < 200 Fungsi Hati - AST (SGOT) 73 H U/l < 37 - ALT (SGPT) 25 U/l < 42 Fungsi Ginjal - Ureum 40.7 mg/dL 10 ~ 50 - Kreatinin 0.74 mg/dL 0.6 ~ 1.1 Index Eritrosit - MCV 70.4 L fL 80 ~ 97 - MCH 22.0 L pg 27 ~ 31.2 - MCHC 31.3 L g/dL 31.8 ~ 35.4 - Lekosit 6.97 ribu/µL 4.6 ~ 10.2 - Trombosit 198 ribu/µL 150 ~ 450 - RDW-CV 17.28 H % 11.5 ~ 14.5 - MPV 7.83 fL 0 ~ 99.9 Hitung Jenis - Neutrofil 92.7 H % 37 ~ 80 - Limfosit 2.5 L % 19 ~ 48 - Monosit 4.2 % 0 ~ 12 - Eosinofil 0.02 % 0 ~ 7 - Basofil 0.6 % 0 ~ 2.5 - Total Neutrofil 6.46 ribu/µL 1,5 ~ 7 - Total Lymphosit 0.18 L ribu/µL 1 ~ 3,7 - Total Monosit 0.29 ribu/µL - Total Eosinofil 0.00 ribu/µL - Total Basofil 0.04 Gol. Darah (A B O) - Golongan Darah B KIMIA KLINIK ELEKTROLIT - Natrium (Na) 124 L mmol/L 135 ~ 150 - Kalium (K) 3.9 mmol/L 3.5 ~ 5.1 - Chlorida (Cl) 93 L mmol/L 98 ~ 109 - Calsium (Ca2+) 1.0 L mmol/L 1.1 ~ 1.4 - pH 7.41 13/4/2026 Foto Ro thoraks PA Thorax :AP, supine, simetris, inspirasi dan kondisi cukup, Hasil: - Tampak infiltrat di parenkim pulmo sinistra - Tampak opasitas homogen di hemithorax dextra - Diafragma dan sinus CF sinistra normal - Cor : tak valid dinilai Kesan : - Bronchopneumonia dengan efusi pleura dextra - Besar cor tak valid dinilai USG thoraks 14/4/2026 Telah dilakukan pemeriksaan USG thorax dengan marker ,pada penderita dengan klinis efusi pleura dextra, Hasil : - Supradiafragma dextra : tampak lesi anechoic di cavum pleura dextra, septa (+), volume : 822 ml . KESAN : Efusi pleura dextra, capsulated type, volume cairan l.k : 822 ml
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas dan Keseimbangan Cairan & Elektrolit terkait Efusi Pleura dan Anemia
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Diagnosa Keperawatan "Gangguan Pertukaran Gas" didefinisikan sebagai kondisi dimana terjadi gangguan pada proses pertukaran oksigen dan karbon dioksida antara alveoli dan sistem vaskular pulmonal. Pada pasien ini, kondisi ini secara langsung terkait dengan adanya efusi pleura dekstra yang masif (volume ~822 ml) dan infiltrat pneumonia di paru kiri. Efusi pleura menyebabkan kompresi jaringan paru, mengurangi luas permukaan alveoli yang efektif untuk pertukaran gas, sehingga mengakibatkan hipoksemia. Hal ini dimanifestasikan secara klinis melalui keluhan sesak napas (dispnea) dan temuan fisik takipnea (pernapasan 24x/menit). Selain itu, hasil analisis gas darah menunjukkan pH normal (7.41) namun data elektrolit dan hematologi mengarah pada kompleksitas kondisi. Gangguan pertukaran gas ini diperberat oleh kondisi anemia (Hb 7.44 g/dL) yang mengurangi kapasitas pengangkutan oksigen darah, menciptakan lingkaran setan dimana jantung harus bekerja lebih keras (nadi 85x/menit) untuk mengirimkan oksigen yang tidak adekuat ke jaringan, yang menjelaskan gejala lemas dan keringat dingin. Riwayat PJK juga menjadi faktor komorbid yang memperburuk toleransi tubuh terhadap kondisi hipoksia ini.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Luaran yang diharapkan (SLKI) "Perbaikan Pertukaran Gas" dengan kriteria: frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20x/menit), tidak ada dispnea atau penggunaan otot bantu pernapasan, dan saturasi oksigen (SpO2) >94% pada udara ruangan. Target spesifik untuk pasien ini adalah penurunan frekuensi pernapasan dari 24x/menit mendekati rentang normal, hilangnya keluhan sesak napas, serta peningkatan saturasi oksigen yang stabil setelah intervensi drainase efusi dan terapi oksigen. Selain itu, luaran terkait status sirkulasi dan kenyamanan juga penting, seperti nadi dalam rentang normal (60-100x/menit), kulit hangat dan kering (mengatasi keringat dingin), serta penurunan kecemasan yang sering menyertai perasaan sesak napas. Pencapaian luaran ini akan menunjukkan keberhasilan dalam mengatasi hambatan mekanik (efusi) dan meningkatkan difusi gas.
Kode SIKI: I.08229, I.08002, I.09005
Deskripsi : Intervensi keperawatan (SIKI) yang utama adalah: I.08229: Manajemen Jalan Napas - Meliputi pemantauan pola, frekuensi, dan usaha pernapasan; pemberian oksigen sesuai indikasi; serta memposisikan pasien dalam posisi semi-Fowler atau miring ke sisi yang sehat (jika mungkin) untuk memaksimalkan ekspansi paru yang tidak terkena efusi. I.08002: Manajemen Nyeri - Meski tidak disampaikan keluhan nyeri, adanya nyeri tekan (NT +) di epigastrium dan ketidaknyamanan akibat sesak memerlukan manajemen nyeri non-farmakologis seperti teknik relaksasi napas untuk mengurangi konsumsi oksigen dan kecemasan. I.09005: Manajemen Keseimbangan Cairan dan Elektrolit - Ini adalah intervensi kritis mengingat hasil laboratorium: hiponatremia (Na 124 mmol/L), hipokloremia (Cl 93 mmol/L), dan hipokalsemia (Ca 1.0 mmol/L). Intervensi mencakup pemantauan ketat tanda vital dan status hidrasi, kolaborasi pemberian terapi cairan dan koreksi elektrolit secara intravena dengan kecepatan yang hati-hati (karena ada efusi dan risiko overload cairan), serta memonitor output urin. Penting juga untuk mengidentifikasi penyebab ketidakseimbangan ini, apakah terkait asupan, efek samping terapi, atau kondisi lain. Intervensi tambahan yang relevan adalah I.06020: Edukasi Kesehatan untuk menjelaskan prosedur tindakan (seperti torakosintesis jika diperlukan), proses penyakit, dan pentingnya melaporkan setiap perburukan sesak. Seluruh intervensi dilakukan dengan pendekatan holistik, mempertimbangkan kelemahan pasien (ku lemah) dan riwayat penyakit penyerta (PJK, asam lambung).
-
Article No. 25117 | 15 Apr 2026
Klinis : Seorang laki-laki berusia 57 tahun dirawat dengan keluhan perut membesar dan terasa tidak nyaman. Hasil pengkajian: mual sejak 2 minggu yang lalu, nafsu makan menurun, BB menurun 5 kg (dalam 1 bulan), frekuensi napas 21 x/menit, frekuensi nadi 89 x/menit, TD 100/75 mmHg. Pasien riwayat minum alkohol sejak 20 tahun yang lalu.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Diagnosa keperawatan ini merujuk pada keadaan di mana individu mengalami atau berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada pasien ini, faktor risiko utama adalah riwayat konsumsi alkohol kronis (selama 20 tahun), yang merupakan penyebab umum sirosis hepatis dan gangguan penyerapan nutrisi. Manifestasi klinis yang mendukung adalah penurunan berat badan yang signifikan (5 kg dalam 1 bulan), penurunan nafsu makan, mual, serta perut membesar yang mengindikasikan kemungkinan asites akibat penyakit hati. Tekanan darah yang cenderung rendah (100/75 mmHg) juga dapat menjadi tanda dari status nutrisi yang buruk. Kondisi ini berisiko memperburuk fungsi hati, menurunkan kekebalan tubuh, menghambat penyembuhan, dan meningkatkan morbiditas.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : Luaran yang diharapkan adalah status nutrisi klien membaik. Secara spesifik, tujuan dari intervensi keperawatan adalah untuk mencapai asupan nutrisi yang adekuat sesuai dengan kebutuhan dan toleransi klien. Indikator pencapaian luaran ini dapat meliputi: berat badan klien stabil atau mengalami peningkatan bertahap menuju berat badan ideal, keluhan mual dan tidak nyaman pada perut berkurang, nafsu makan klien membaik yang ditandai dengan kemampuan menghabiskan porsi makanan yang disajikan, serta nilai-nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin dan hemoglobin) menunjukkan perbaikan. Pencapaian luaran ini memerlukan waktu dan tergantung pada tingkat keparahan penyakit hati yang mendasarinya. Perawat akan memantau parameter tersebut secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas intervensi yang diberikan.
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama adalah Manajemen Nutrisi. Intervensi ini meliputi serangkaian tindakan yang komprehensif. Pertama, perawat akan berkolaborasi dengan ahli gizi untuk melakukan pengkajian kebutuhan nutrisi yang mendetail, menghitung kebutuhan kalori, protein, dan mikronutrien berdasarkan kondisi pasien. Kedua, perencanaan diet disesuaikan, biasanya dengan diet tinggi kalori dan tinggi protein, namun hati-hati pada kondisi ensefalopati hepatikum (dibatasi protein). Diet diberikan dalam porsi kecil namun sering (small frequent feeding) untuk mengatasi mual dan perut kembung. Ketiga, memodifikasi lingkungan makan yang nyaman, bebas bau yang memicu mual, dan mendukung posisi yang tepat saat makan. Keempat, memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi, jenis makanan yang dianjurkan dan dihindari (terutama pantang alkohol mutlak), serta cara mengatasi mual. Kelima, memantau dan mencatat asupan makanan dan cairan setiap hari, serta memantau berat badan secara teratur. Keenam, kolaborasi pemberian suplemen nutrisi (enteral atau parenteral) jika asumsi oral sangat tidak adekuat, serta pemberian obat antiemetik sesuai resep untuk mengendalikan mual. Seluruh tindakan ini dilakukan dengan pendekatan holistik, mempertimbangkan kondisi psikologis pasien dan dukungan keluarga, untuk mencapai tujuan perbaikan status nutrisi.
-
Article No. 25118 | 15 Apr 2026
Klinis : Anak usia 9 bulan 10 hari panjang badan dan berat badan sulit naik
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 00002
Deskripsi Singkat: Keadaan di mana individu berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Status Nutrisi: Asupan nutrisi dan cairan adekuat sesuai kebutuhan tubuh. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Berat badan sesuai dengan usia, jenis kelamin, dan potensi pertumbuhan (misalnya, berada dalam kurva pertumbuhan yang sesuai). 2) Tanda-tanda klinis nutrisi adekuat (misalnya, kulit kenyal, turgor baik, rambut berkilau, membran mukosa lembab). 3) Asupan makanan dan cairan sesuai dengan kebutuhan yang direkomendasikan. 4) Tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi seperti kelelahan, apatis, atau penurunan berat badan yang tidak diinginkan. 5) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin, hemoglobin) dalam rentang normal. Pada bayi dan anak, parameter khusus termasuk kenaikan berat badan dan panjang/tinggi badan yang adekuat sesuai kurva standar WHO, perkembangan psikomotor yang sesuai usia, serta kepatuhan terhadap jadwal imunisasi sebagai indikator kesehatan secara keseluruhan.
Kode SIKI: 0801
Deskripsi : Manajemen Nutrisi: Tindakan untuk memfasilitasi atau memberikan nutrisi yang seimbang. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Mengkaji status nutrisi secara komprehensif, termasuk riwayat diet, pola makan, alergi, kebiasaan, dan faktor penghambat asupan. 2) Memantau asupan dan output nutrisi serta cairan secara berkala. 3) Menimbang berat badan secara teratur dan memplotkan pada kurva pertumbuhan (misalnya, Kartu Menuju Sehat/KMS). 4) Berkolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan kebutuhan kalori dan nutrisi spesifik serta merencanakan diet. 5) Memberikan pendidikan kesehatan kepada orang tua/pengasuh tentang pentingnya nutrisi seimbang, pemberian ASI/MPASI yang tepat, frekuensi, dan porsi sesuai usia. 6) Mendemonstrasikan dan mengajarkan teknik pemberian makan yang tepat untuk bayi dan anak. 7) Menciptakan lingkungan yang nyaman dan bebas stres selama waktu makan. 8) Memodifikasi tekstur dan jenis makanan sesuai dengan kemampuan dan perkembangan anak (misalnya, MPASI sesuai tahap). 9) Memantau tanda-tanda klinis dehidrasi atau malnutrisi (turgor kulit, ubun-ubun, mata cekung). 10) Memberikan dukungan emosional dan motivasi kepada orang tua terkait kesulitan pemberian makan. 11) Mengidentifikasi dan mengatasi faktor penyebab sulit makan, seperti infeksi, gangguan pencernaan, atau masalah psikososial. 12) Merujuk ke tenaga kesehatan lain (dokter, gizi) jika ditemukan masalah medis yang mendasari (seperti gagal tumbuh/failure to thrive). 13) Mendorong dan mendukung pemberian ASI eksklusif hingga 6 bulan dan dilanjutkan dengan MPASI yang adekuat. 14) Memantau perkembangan dan pencapaian milestone anak sebagai indikator tidak langsung kecukupan nutrisi.
Kondisi: Gangguan Pertumbuhan dan Perkembangan
Kode SDKI: 00113
Deskripsi Singkat: Penyimpangan dari norma pertumbuhan dan perkembangan sesuai usia.
Kode SLKI: 1301
Deskripsi : Status Perkembangan: Kemampuan mencapai tonggak perkembangan (milestone) sesuai usia. Kriteria hasil meliputi: 1) Mencapai milestone perkembangan sesuai usia dalam area motorik kasar, motorik halus, bahasa, dan sosialisasi. 2) Menunjukkan perilaku dan keterampilan yang sesuai dengan tahap perkembangan. 3) Berat badan, panjang/tinggi badan, dan lingkar kepala sesuai dengan kurva pertumbuhan standar. 4) Interaksi sosial yang sesuai usia dengan pengasuh dan lingkungan. 5) Eksplorasi lingkungan secara aktif dan aman sesuai usia. 6) Orang tua/pengasuh memahami tahap perkembangan anak dan mampu merangsangnya dengan tepat.
Kode SIKI: 1301
Deskripsi : Promosi Perkembangan: Memfasilitasi pencapaian milestone perkembangan yang optimal. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Melakukan skrining perkembangan menggunakan alat yang terstandar (seperti Kuesioner Pra Skrining Perkembangan/KPSP). 2) Mengkaji riwayat prenatal, natal, dan postnatal yang dapat memengaruhi perkembangan. 3) Memantau dan mendokumentasikan pertumbuhan fisik (berat, panjang, lingkar kepala) secara berkala pada kurva standar. 4) Mengobservasi dan mendokumentasikan pencapaian milestone perkembangan (misalnya, tengkurap, duduk, merangkak, babbling, mengenali orang tua). 5) Memberikan stimulasi perkembangan yang sesuai usia (stimulasi motorik, sensorik, kognitif, dan sosial) melalui bermain dan interaksi. 6) Mendidik dan mendemonstrasikan kepada orang tua cara memberikan stimulasi yang tepat di rumah. 7) Mengidentifikasi faktor risiko dan hambatan perkembangan (misalnya, nutrisi tidak adekuat, penyakit kronis, kurang stimulasi). 8) Berkolaborasi dengan tim kesehatan (dokter, terapis) jika ditemukan keterlambatan perkembangan. 9) Mendorong lingkungan yang aman dan mendukung untuk eksplorasi. 10) Memberikan dukungan emosional dan informasi kepada orang tua tentang perkembangan normal dan cara mengoptimalkannya. 11) Menekankan pentingnya nutrisi yang adekuat sebagai dasar untuk pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. 12) Merujuk ke program intervensi dini atau layanan spesialis jika diperlukan. 13) Memantau perkembangan secara berkelanjutan untuk mendeteksi penyimpangan secara dini.
Kondisi: Ansietas (pada Orang Tua/Pengasuh)
Kode SDKI: 00146
Deskripsi Singkat: Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar-samar atau ancaman yang tidak jelas diketahui asalnya, disertai dengan respons otonom (sumbernya sering tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu).
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Kontrol Ansietas: Kemampuan mengelola perasaan gugup, khawatir, atau ancaman. Kriteria hasil meliputi: 1) Mengenali dan mengungkapkan perasaan ansietas. 2) Menunjukkan perilaku koping yang adaptif untuk mengurangi ansietas. 3) Tanda-tanda fisiologis ansietas (seperti takikardia, tremor, berkeringat) berkurang atau terkontrol. 4) Fungsi sehari-hari tidak terganggu secara signifikan oleh ansietas. 5) Mampu mengidentifikasi sumber ansietas dan mencari solusi atau bantuan. 6) Menunjukkan relaksasi dan ketenangan dalam menghadapi situasi yang menegangkan.
Kode SIKI: 1401
Deskripsi : Pengurangan Ansietas: Meminimalkan perasaan khawatir, takut, dan gelisah. Intervensi keperawatan meliputi: 1) Mengkaji tingkat ansietas orang tua, termasuk tanda verbal dan nonverbal, serta dampaknya terhadap perawatan anak. 2) Menciptakan lingkungan yang terapeutik dan mendukung untuk mengekspresikan perasaan. 3) Mendengarkan secara aktif dan empatik terhadap kekhawatiran orang tua. 4) Memberikan informasi yang akurat, jelas, dan jujur tentang kondisi anak, rencana perawatan, dan prognosis. 5) Melibatkan orang tua dalam perencanaan dan pemberian perawatan kepada anak untuk meningkatkan rasa kontrol. 6) Mengajarkan teknik relaksasi sederhana (seperti napas dalam, distraksi). 7) Membantu orang tua mengidentifikasi sumber dukungan sosial (keluarga, teman). 8) Memvalidasi perasaan orang tua bahwa kekhawatiran mereka adalah hal yang wajar. 9) Meningkatkan rasa percaya diri orang tua dalam merawat anak dengan memberikan pendidikan kesehatan dan pelatihan keterampilan perawatan. 10) Membantu orang tua menetapkan harapan yang realistis terkait pertumbuhan dan perkembangan anak. 11) Merujuk pada konseling atau dukungan psikososial jika ansietas berat atau menetap. 12) Memantau dan mendukung interaksi positif antara orang tua dan anak untuk mengurangi kecemasan kedua belah pihak.
-
Article No. 25121 | 15 Apr 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi dan Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya respons inflamasi terhadap mikroorganisme patogen.
Kode SLKI: L.03114
Deskripsi : Pasien bebas dari infeksi. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5 – 37,5°C). 2) Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, nyeri, atau drainase pus. 3) Hasil pemeriksaan laboratorium (seperti leukosit) dalam batas normal. 4) Mampu mendemonstrasikan perilaku pencegahan penularan infeksi (misalnya, menutup mulut saat batuk, membuang dahak di tempat yang aman). 5) Menunjukkan kepatuhan terhadap regimen terapi obat anti-tuberkulosis (OAT) jangka panjang. Pada pasien tuberkulosis, SLKI ini sangat krusial karena penyakit ini bersifat infeksius dan memerlukan pengobatan yang tuntas. Perawat berperan dalam edukasi untuk mencegah penularan kepada orang lain dan memastikan keberhasilan terapi, yang pada akhirnya akan menghilangkan risiko infeksi. Pencapaian SLKI ini ditandai dengan terkendalinya pertumbuhan bakteri Mycobacterium tuberculosis, hilangnya gejala sistemik seperti demam, dan negatifnya hasil pemeriksaan dahak secara berulang.
Kode SIKI: I.05080
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Memantau tanda-tanda vital, terutama suhu, secara teratur untuk mendeteksi demam sebagai tanda respons infeksi. 2) Mengajarkan dan memastikan pasien menerapkan etika batuk (menggunakan masker, menutup mulut dengan tisu atau lengan atas) dan kebersihan tangan. 3) Menginstruksikan cara pembuangan dahak yang aman (dibakar atau ditimbun) untuk memutus rantai penularan. 4) Memastikan isolasi droplet di awal pengobatan sampai dinyatakan tidak menular. 5) Memantau kepatuhan minum OAT dan efek sampingnya, serta memberikan edukasi tentang pentingnya pengobatan lengkap meskipun gejala sudah membaik. 6) Kolaborasi dalam pengambilan spesimen dahak untuk pemeriksaan laboratorium. 7) Meningkatkan asupan nutrisi pasien untuk mendukung sistem imun. 8) Mengatur sirkulasi udara yang baik di ruangan. Intervensi ini bersifat komprehensif, tidak hanya berfokus pada aspek klinis mikrobiologis, tetapi juga pada aspek perilaku dan lingkungan untuk mengendalikan sumber infeksi dan meningkatkan daya tahan tubuh pasien.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0093
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolus-kapiler.
Kode SLKI: L.03015
Deskripsi : Pertukaran gas efektif. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Saturasi oksigen (SpO2) ≥ 95% dalam udara ruangan. 2) Frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20 kali/menit). 3) Tidak mengeluh sesak napas (dispnea) baik saat istirahat maupun aktivitas ringan. 4) Tidak ditemukan sianosis. 5) Suara napas bersih (clear) atau kembali normal di seluruh lapang paru seiring pengobatan. 6) Hasil analisis gas darah dalam batas normal. Pada pasien dengan lesi di paru akibat TB, proses pertukaran gas terganggu karena konsolidasi jaringan dan peradangan yang mengurangi luas permukaan alveoli yang efektif. SLKI ini bertujuan memulihkan fungsi pernapasan hingga pasien dapat mempertahankan keseimbangan oksigen dan karbon dioksida tanpa distress pernapasan. Pencapaiannya bersifat bertahap, seiring dengan respons terapi OAT yang mengurangi inflamasi dan kerusakan jaringan.
Kode SIKI: I.08013
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Mengatur posisi pasien semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi paru. 2) Memantau status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, penggunaan otot bantu), saturasi oksigen, dan tanda sianosis. 3) Melakukan fisioterapi dada dan latihan batuk efektif untuk membantu pengeluaran sekret/dahak yang menghambat jalan napas. 4) Mengajarkan teknik pernapasan dalam dan bibir mengerucut (pursed-lip breathing) untuk meningkatkan ventilasi. 5) Memastikan asupan cairan yang adekuat (kecuali kontraindikasi) untuk mengencerkan dahak. 6) Kolaborasi pemberian terapi oksigen jika diperlukan berdasarkan hasil pemeriksaan saturasi atau gas darah. 7) Memonitor respons terapi dan melaporkan jika ada perburukan sesak. Intervensi ini bertujuan mempertahankan jalan napas paten, mengoptimalkan ventilasi, dan memfasilitasi pengeluaran sekret sehingga pertukaran gas dapat berlangsung lebih efektif.
Kondisi: Ketidakseimbangan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh terkait Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0030
Deskripsi Singkat: Asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
Kode SLKI: L.02032
Deskripsi : Status nutrisi membaik. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: 1) Peningkatan berat badan menuju berat badan ideal secara bertahap. 2) Nilai indeks massa tubuh (IMT) dalam kategori normal (18,5 – 25,0 kg/m²). 3) Asupan makanan dan cairan dapat memenuhi kebutuhan harian yang dianjurkan. 4) Nilai laboratorium terkait nutrisi (seperti albumin dan hemoglobin) dalam batas normal. 5) Tidak menunjukkan tanda-tanda malnutrisi seperti kelemahan, kulit kering, atau rambut tipus. Pada pasien TB, anoreksia (kehilangan nafsu makan), demam, dan proses infeksi yang meningkatkan metabolisme basal menyebabkan katabolisme protein dan penurunan berat badan yang signifikan. Pencapaian SLKI ini sangat penting karena status nutrisi yang baik mendukung sistem imun dan mempercepat proses penyembuhan, serta meningkatkan toleransi terhadap pengobatan.
Kode SIKI: I.01280
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: 1) Melakukan pengukuran antropometri (berat badan, IMT) secara berkala. 2) Memantau asupan dan output cairan serta kalori harian. 3) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menyusun diet tinggi kalori dan tinggi protein sesuai kemampuan dan preferensi pasien. 4) Memberikan makanan dalam porsi kecil namun sering untuk mengatasi anoreksia. 5) Menciptakan lingkungan makan yang nyaman dan bebas bau yang dapat memicu mual. 6) Memberikan edukasi tentang pentingnya nutrisi dalam proses penyembuhan TB. 7) Memantau hasil laboratorium seperti albumin dan hemoglobin. 8) Kolaborasi pemberian suplemen nutrisi atau vitamin jika diperlukan. Intervensi ini bersifat holistik, menggabungkan aspek monitoring, terapi diet, dan edukasi untuk mengatasi masalah nutrisi yang merupakan komorbid umum dan faktor prognostik penting dalam kesembuhan tuberkulosis.
-
Article No. 25122 | 15 Apr 2026
Klinis : Ny.H usia 50 tahun datang ke IRD dengan keluhan nyeri dada kiri yang tidak berkurang dengan istirahat sejak tadi pagi. Berdasarkan pengkajian didapatkan data: nyeri menjalar ke lengan dan punggung kiri, skala nyeri 7, pasien tampak gelisah, diaphoresis dan wajah gerimis. Berdasarkan pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan tekanan 140/90 mmHg, Nadi=120x/menit, Respiratory rate (RR)= 28x/menit dan suhu tubuh 37,6°C.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Sindrom Koroner Akut (Infark Miokard Akut dengan elevasi segmen ST - IMAEST)
Kode ICD-10: I21.9
Deskripsi Singkat : Kondisi ini menggambarkan infark miokard akut (serangan jantung) yang tidak spesifik, dengan kecurigaan kuat mengarah ke IMA dengan elevasi segmen ST (STEMI) berdasarkan presentasi klinis. Gejala khas meliputi nyeri dada kiri yang tidak membaik dengan istirahat, menjalar ke lengan dan punggung kiri, dengan skala nyeri tinggi (7). Tanda-tanda otonom seperti gelisah, diaphoresis (keringat berlebihan), dan wajah gerimis sangat menonjol. Tanda vital menunjukkan respons stres sistemik: takikardia (nadi 120x/menit), takipnea (RR 28x/menit), hipertensi ringan (140/90 mmHg), dan demam ringan yang dapat terjadi pada infark miokard. Kombinasi nyeri dada iskemik yang berkepanjangan dengan gejala sistemik yang berat sangat mengindikasikan oklusi akut arteri koroner yang menyebabkan kerusakan otot jantung. Kode I21.9 digunakan dalam konteks pelatihan ini sebagai placeholder awal, mewakili Infark Miokard Akut yang belum ditentukan lokasi pastinya. Dalam praktik kodifikasi resmi, kode yang lebih spesifik (seperti I21.0 untuk dinding anterior atau I21.1 untuk inferior) harus ditetapkan setelah konfirmasi elektrokardiografi (EKG) dan biomarker jantung.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 25123 | 15 Apr 2026
Klinis : Ny.H usia 50 tahun datang ke IRD dengan keluhan nyeri dada kiri yang tidak berkurang dengan istirahat sejak tadi pagi. Berdasarkan pengkajian didapatkan data: nyeri menjalar ke lengan dan punggung kiri, skala nyeri 7, pasien tampak gelisah, diaphoresis dan wajah gerimis. Berdasarkan pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan tekanan 140/90 mmHg, Nadi=120x/menit, Respiratory rate (RR)= 28x/menit dan suhu tubuh 37,6°C.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri: Tindakan untuk mencegah, mengurangi, atau menghilangkan nyeri. Pada kasus Ny. H, kondisi klinis yang mendasari (diduga sindrom koroner akut/infark miokard) menyebabkan nyeri dada hebat dengan skala 7, menjalar, dan tidak berkurang dengan istirahat. SLKI ini menjadi tujuan utama dimana perawat berkolaborasi untuk mencapai pengurangan hingga penghilangan nyeri. Intervensi keperawatan diarahkan untuk memastikan nyeri dapat dikendalikan, ditandai dengan penurunan skala nyeri (misalnya menjadi ≤3), pasien tampak tenang, tanda-tanda vital kembali ke rentang normal, dan pasien melaporkan peningkatan kenyamanan. Pencapaian SLKI ini sangat kritis karena nyeri yang tidak terkontrol tidak hanya menyebabkan penderitaan tetapi juga memperberat beban kerja jantung melalui peningkatan aktivitas sistem saraf simpatis, yang dapat memperluas area kerusakan jantung.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Manajemen Nyeri: Serangkaian intervensi sistematis yang dilakukan perawat untuk mengatasi nyeri akut pada Ny. H. Intervensi ini bersifat komprehensif dan segera. Pertama, Pengkajian Nyeri Komprehensif: Melakukan pengkajian nyeri secara mendetail menggunakan metode PQRST (Provocation/Palliation, Quality, Region/Radiation, Severity, Time) atau skala numerik (0-10) secara berkala untuk memantau perkembangan. Kedua, Intervensi Farmakologis: Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik yang sesuai (seperti nitrogliserin, morfin) sesuai protokol, memantau efektivitas, dan mengawasi efek samping (seperti hipotensi, depresi pernapasan). Ketiga, Intervensi Non-Farmakologis: Memberikan lingkungan yang tenang, melakukan teknik relaksasi napas dalam, memposisikan pasien dengan nyaman (biasanya semi-Fowler), serta memberikan penjelasan dan dukungan emosional untuk mengurangi kecemasan yang dapat memperberat persepsi nyeri. Keempat, Monitoring Respons Fisiologis: Memantau tanda-tanda vital (TD, Nadi, RR) dan gejala lain (diaphoresis, gelisah) sebagai indikator tidak langsung dari respons terhadap nyeri dan pengobatan. Kelima, Edukasi: Menjelaskan penyebab nyeri, tujuan pengobatan, dan pentingnya melaporkan nyeri dengan segera. Seluruh intervensi ini didokumentasikan dengan baik dan dievaluasi secara terus-menerus untuk menilai keberhasilan manajemen nyeri dan menentukan kebutuhan modifikasi intervensi. Pendekatan holistik ini penting karena nyeri pada kondisi jantung bersifat kompleks, melibatkan komponen fisik dan psikologis.
-
Article No. 25124 | 15 Apr 2026
Klinis : Pasangan suami istri Tn. A (34 tahun) dan Ny. M (30 tahun) datang ke klinik VCT untuk melakukan konseling. Hasil pemeriksaan menunjukkan Tn. A positif HIV (diagnosis 3 bulan lalu) sedangkan Ny. M negatif HIV, lama usia pernikahan 6 bulan dan belum memiliki anak Pasangan tersebut merencanakan kehamilan dalam 1 tahun ke depan. Tn. A sedang menjalani terapi ARV rutin sejak 2 bulan lalu dengan hasil viral load terakhir: 1.200 copies/mL (belum supresi). Dari hasil anamnesa didapat Ny. M merasa cemas tertular, Tn. A merasa bersalah dan takut ditolak dan mereka jarang menggunakan kondom karena ingin segera memiliki anak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: 0028
Deskripsi Singkat: Risiko Penularan Infeksi
Kode SLKI: 4305
Deskripsi : Perilaku penularan infeksi dicegah.
Kode SIKI: 4501
<>Deskripsi : Edukasi kesehatan dilakukan.
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: 0016
Deskripsi Singkat: Kecemasan
Kode SLKI: 1306
<>Deskripsi : Tingkat kecemasan menurun.
Kode SIKI: 1401
<>Deskripsi : Lingkungan terapeutik dipertahankan.
Kondisi: Risiko Penularan Infeksi dan Kecemasan pada Pasangan Serodiskordan HIV dengan Rencana Kehamilan
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Ketidakefektifan Koping
Kode SLKI: 1501
<>Deskripsi : Koping efektif.
Kode SIKI: 1601
<>Deskripsi : Hubungan saling percaya dibina.
-
Article No. 25125 | 15 Apr 2026
Klinis : Pasangan suami istri Tn. A (34 tahun) dan Ny. M (30 tahun) datang ke klinik VCT untuk melakukan konseling. Hasil pemeriksaan menunjukkan Tn. A positif HIV (diagnosis 3 bulan lalu) sedangkan Ny. M negatif HIV, lama usia pernikahan 6 bulan dan belum memiliki anak Pasangan tersebut merencanakan kehamilan dalam 1 tahun ke depan. Tn. A sedang menjalani terapi ARV rutin sejak 2 bulan lalu dengan hasil viral load terakhir: 1.200 copies/mL (belum supresi). Dari hasil anamnesa didapat Ny. M merasa cemas tertular, Tn. A merasa bersalah dan takut ditolak dan mereka jarang menggunakan kondom karena ingin segera memiliki anak.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas pada Pasangan (Ny. M) terkait Risiko Penularan HIV
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah perasaan khawatir, gelisah, atau tidak nyaman yang terkait dengan antisipasi ancaman atau peristiwa yang akan datang. Pada kasus ini, Ny. M mengalami kecemasan yang spesifik terkait ketakutannya tertular HIV dari suaminya (Tn. A) yang positif HIV dengan viral load yang belum tersupresi. Kecemasan ini diperparah oleh keinginan mereka untuk segera memiliki anak, yang berpotensi meningkatkan risiko penularan melalui hubungan seksual tanpa kondom. Ansietas ini dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis Ny. M, kualitas hubungan pernikahan, dan kepatuhan terhadap rencana pencegahan penularan yang aman.
Kode SLKI: L.07114
Deskripsi : Tercapainya tingkat kecemasan yang terkendali. Intervensi keperawatan diarahkan untuk membantu Ny. M: (1) Mengidentifikasi dan mengekspresikan perasaan cemas serta sumber ketakutannya secara verbal. (2) Mendemonstrasikan teknik relaksasi sederhana (seperti napas dalam) untuk mengelola gejala cemas saat muncul. (3) Menyatakan pemahaman tentang cara penularan HIV dan metode pencegahan yang efektif, termasuk PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) dan konsep U=U (Undetectable = Untransmittable) sebagai tujuan pengobatan suaminya. (4) Berpartisipasi aktif dalam diskusi dengan konselor atau tenaga kesehatan mengenai perencanaan kehamilan yang aman (contohnya dengan program bayi tabung/inseminasi buatan untuk menghindari penularan). (5) Melaporkan penurunan tingkat kecemasan yang subyektif setelah mendapatkan edukasi dan konseling yang komprehensif.
Kode SIKI: I.01239
Deskripsi : Intervensi untuk mengurangi ansietas meliputi: (1) Menciptakan lingkungan yang tenang dan mendukung untuk konseling. (2) Mendengarkan secara aktif dan empatik kekhawatiran yang diungkapkan oleh Ny. M tanpa menghakimi. (3) Memberikan edukasi kesehatan yang akurat dan spesifik tentang HIV, cara penularan, dan langkah pencegahan berbasis bukti, termasuk pentingnya penggunaan kondom secara konsisten hingga viral load Tn. A mencapai supresi (tidak terdeteksi) dan opsi PrEP untuk Ny. M. (4) Mengajarkan teknik manajemen stres dan relaksasi. (5) Melibatkan Tn. A dalam sesi konseling bersama untuk membangun komunikasi terbuka dan dukungan pasangan. (6) Berkolaborasi dengan dokter untuk membahas rencana pengobatan ARV Tn. A agar mencapai supresi viral load dan merujuk ke layanan kesehatan reproduksi untuk konseling perencanaan kehamilan yang aman bagi pasangan serodiskordan. (7) Memberikan informasi tentang kelompok dukungan (support group) bagi pasangan yang menghadapi situasi serupa.
Kondisi: Risiko Cedera (Penularan HIV) pada Pasangan Negatif (Ny. M)
Kode SDKI: D.0079
Deskripsi Singkat: Risiko cedera di sini secara spesifik merujuk pada risiko penularan infeksi HIV dari Tn. A yang positif kepada Ny. M yang masih negatif. Risiko ini meningkat secara signifikan karena beberapa faktor: (1) Viral load Tn. A masih terdeteksi (1.200 copies/mL) yang menunjukkan risiko penularan masih ada. (2) Pasangan jarang menggunakan kondom karena keinginan untuk segera hamil, sehingga menghilangkan metode barrier pelindung utama. (3) Adanya rencana kehamilan dalam waktu dekat yang mungkin mendorong perilaku berisiko jika tidak diarahkan dengan strategi yang aman. Diagnosis keperawatan ini menekankan pada potensi terjadinya cedera/biologis (infeksi) dan perlunya intervensi preventif segera.
Kode SLKI: L.15021
Deskripsi : Pasangan bebas dari penularan HIV. Tujuan keperawatan adalah: (1) Ny. M tetap mempertahankan status HIV negatif. (2) Pasangan (Tn. A dan Ny. M) mampu menyebutkan minimal tiga strategi pencegahan penularan HIV dalam konteks hubungan pasangan serodiskordan yang menginginkan keturunan. (3) Pasangan menyatakan komitmen untuk menerapkan strategi pencegahan yang disepakati (seperti konsisten menggunakan kondom hingga viral load supresi, atau penggunaan PrEP). (4) Tn. A menunjukkan kepatuhan yang tinggi terhadap terapi ARV untuk mencapai dan mempertahankan viral load tidak terdeteksi (U=U). (5) Pasangan telah mendapatkan rujukan dan informasi lengkap mengenai layanan kesehatan reproduksi untuk program kehamilan aman (seperti inseminasi atau bayi tabung) guna meminimalkan risiko penularan.
Kode SIKI: I.05042
Deskripsi : Intervensi untuk mencegah penularan infeksi meliputi: (1) Melakukan edukasi komprehensif kepada kedua pasangan tentang cara penularan HIV dan faktor yang meningkatkan risiko. (2) Memfasilitasi diskusi terbuka antara suami-istri mengenai kekhawatiran, tanggung jawab, dan rencana bersama untuk mencegah penularan. (3) Mendorong dan memantau kepatuhan Tn. A terhadap terapi ARV, serta menjelaskan konsep U=U sebagai tujuan yang dapat menghilangkan risiko penularan seksual. (4) Merekomendasikan dan memfasilitasi akses Ny. M ke layanan PrEP sebagai perlindungan tambahan selama periode menuju supresi viral load suami atau jika ada pertimbangan lain. (5) Menekankan pentingnya penggunaan kondom secara konsisten dan benar sebagai metode barrier utama hingga tercapai viral load tidak terdeteksi selama minimal 6 bulan. (6) Merujuk pasangan ke klinik kesehatan reproduksi atau spesialis kandungan yang berpengalaman menangani pasangan serodiskordan untuk membahas opsi kehamilan aman (seperti sperm washing dan inseminasi intrauterin). (7) Menjadwalkan tes HIV berkala untuk Ny. M sesuai protokol.
Kondisi: Harga Diri Rendah Situasional pada Tn. A (Perasaan Bersalah dan Takut Ditolak)
Kode SDKI: D.0012
Deskripsi Singkat: Harga diri rendah situasional adalah perkembangan perasaan negatif terhadap diri sendiri sebagai respons terhadap suatu peristiwa atau situasi tertentu (dalam hal ini, diagnosis HIV dan dampaknya terhadap pasangan). Tn. A melaporkan perasaan bersalah (mungkin karena merasa telah membahayakan atau mengecewakan istri) dan takut ditolak (kekhawatiran akan ditinggalkan atau tidak diterima karena status HIV-nya). Perasaan ini dapat menghambat komunikasi terbuka dengan istri, memengaruhi kesehatan mental, dan berpotensi mengurangi motivasi untuk patuh berobat. Situasi ini diperberat oleh keinginan memiliki anak yang mungkin terasa terancam.
Kode SLKI: L.07016
Deskripsi : Meningkatnya harga diri. Tujuan keperawatan untuk Tn. A adalah: (1) Dapat mengungkapkan perasaan bersalah dan takutnya secara verbal kepada perawat atau konselor. (2) Menyatakan penerimaan terhadap kondisi dirinya (status HIV) sebagai bagian dari hidup yang dapat dikelola dengan pengobatan. (3) Menunjukkan perilaku proaktif dalam pengobatan (kepatuhan ARV) dan perlindungan pasangan sebagai bentuk tanggung jawab. (4) Melaporkan penurunan perasaan takut ditolak setelah melakukan komunikasi yang konstruktif dengan istrinya. (5) Berpartisipasi dalam perencanaan kehamilan aman bersama istri sebagai bentuk kontribusi positif dan harapan untuk masa depan.
Kode SIKI: I.05230
Deskripsi : Intervensi untuk meningkatkan harga diri meliputi: (1) Pendekatan terapeutik dengan menerima kondisi klien tanpa syarat (unconditional positive regard). (2) Membantu Tn. A mengidentifikasi kekuatan dan sumber dukungan yang dimiliki (misalnya, istri yang masih mendampingi, akses pengobatan). (3) Memfasilitasi komunikasi antara Tn. A dan Ny. M dalam lingkungan yang aman untuk menyampaikan perasaan dan mendengarkan respons pasangan. (4) Memberikan reinforcement positif atas keputusannya untuk segera memulai ARV dan datang untuk konseling. (5) Menormalisasi perasaan yang dialami sebagai respons yang wajar, namun diarahkan pada penyelesaian yang konstruktif. (6) Mengedukasi bahwa dengan pengobatan yang baik, ia dapat hidup sehat, produktif, dan memiliki keturunan tanpa menularkan virus kepada pasangan dan anak (konsep U=U dan program PPTCT - Prevention of Parent-To-Child Transmission). (7) Mendorong keterlibatan dalam kelompok dukungan sebaya (ODHA) untuk berbagi pengalaman dan mengurangi perasaan terisolasi.