Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24992 | 09 Apr 2026
Klinis : nyeri
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: NOS (Not Otherwise Specified)
Kode ICD-10: R52
Deskripsi Singkat : Kode R52 dalam ICD-10 mengklasifikasikan nyeri yang tidak dapat dikategorikan lebih spesifik sebagai nyeri akut atau kronis, dan tidak terlokalisasi pada bagian tubuh tertentu yang memiliki kode tersendiri. Istilah "NOS" (Not Otherwise Specified) menunjukkan bahwa deskripsi gejala hanya berupa "nyeri" tanpa informasi tambahan mengenai durasi (akut atau kronis), karakteristik (seperti tajam, tumpul, berdenyut), atau lokalisasi yang lebih rinci (misalnya nyeri kepala, nyeri punggung). Kode ini digunakan dalam situasi sementara atau awal ketika dokumentasi klinis belum lengkap. Penggunaan kode ini menekankan pentingnya dokumentasi medis yang detail dan akurat, karena nyeri adalah gejala dari berbagai kondisi yang mendasarinya. Kodifikasi yang tepat memerlukan spesifikasi lebih lanjut untuk memastikan perawatan yang akurat, penagihan yang benar, dan analisis data kesehatan yang bermakna.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24993 | 09 Apr 2026
Klinis : perfusi perifer tidak efektif
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Perfusi Perifer Tidak Efektif
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Penurunan nutrisi dan oksigenasi pada tingkat jaringan perifer akibat penurunan suplai darah.
Kode SLKI: 0801
Deskripsi : Perfusi jaringan perifer membaik. Tujuan akhir dari SLKI ini adalah pasien menunjukkan tanda-tanda perfusi perifer yang adekuat, yang ditandai dengan: kulit hangat dan kering, warna kulit normal (tidak pucat, sianosis, atau kemerahan), pengisian kapiler kurang dari 3 detik, denyut nadi perifer teraba kuat dan simetris, tidak ada keluhan nyeri, kesemutan, atau baal, serta ekstremitas tidak edema. Perawat akan memantau tanda-tanda vital, khususnya tekanan darah dan denyut nadi, menilai warna, suhu, kelembaban, dan turgor kulit, serta memeriksa pengisian kapiler dan denyut nadi perifer. Selain itu, perawat akan mendorong mobilisasi bertahap sesuai toleransi untuk meningkatkan sirkulasi, menjaga posisi ekstremitas yang tidak menekan pembuluh darah, dan memastikan lingkungan yang hangat untuk mencegah vasokonstriksi. Edukasi pada pasien dan keluarga mengenai tanda-tanda gangguan perfusi dan pentingnya menghindari posisi yang menghambat aliran darah juga merupakan intervensi kunci untuk mencapai hasil ini.
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Manajemen Perfusi Perifer. Intervensi keperawatan ini merupakan serangkaian tindakan sistematis untuk meningkatkan atau mempertahankan aliran darah ke ekstremitas. Intervensi dimulai dengan pengkajian komprehensif yang meliputi: memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan), menilai karakteristik nadi perifer (kuat/lemah, ritmis/tidak), mengobservasi warna, suhu, kelembaban, dan turgor kulit pada ekstremitas, memeriksa pengisian kapiler, serta mengevaluasi ada tidaknya nyeri, kesemutan, mati rasa, atau edema. Perawat akan memposisikan pasien untuk optimalisasi aliran darah, misalnya dengan meninggikan ekstremitas yang edema atau menghindari posisi yang menekan pembuluh darah (seperti menyilangkan kaki). Tindakan untuk menjaga kehangatan lingkungan dan menghindari paparan dingin langsung dilakukan untuk mencegah vasokonstriksi. Perawat akan mendorong dan membantu mobilisasi aktif atau pasif sesuai kondisi pasien untuk memanfaatkan pompa otot dalam meningkatkan venous return. Jika diperlukan, kolaborasi dalam pemberian terapi obat-obatan seperti vasodilator, antikoagulan, atau analgesik dilakukan sesuai resep. Edukasi pasien dan keluarga merupakan bagian integral, meliputi pentingnya berhenti merokok (karena nikotin menyebabkan vasokonstriksi), perawatan kaki yang hati-hati untuk mencegah cedera, mengenali tanda-tanda memburuknya perfusi (seperti kulit menjadi dingin, biru, nyeri hebat), serta pentingnya kontrol penyakit penyebab (seperti diabetes mellitus atau hipertensi). Dokumentasi yang akurat tentang semua temuan dan tindakan dilakukan untuk evaluasi berkelanjutan. Intervensi ini bersifat dinamis dan disesuaikan dengan respons pasien serta etiologi dari gangguan perfusi yang mendasarinya.
-
Article No. 24994 | 09 Apr 2026
Klinis : demam
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Demam
Kode ICD-10: R50.9
Deskripsi Singkat : Demam, yang dikodekan sebagai R50.9, adalah peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal (biasanya di atas 38°C). Ini merupakan gejala umum dari berbagai kondisi, terutama infeksi (bakteri, virus, parasit), penyakit inflamasi, reaksi terhadap obat, atau keganasan. Kode R50.9 termasuk dalam Bab XVIII (Gejala, Tanda dan Temuan Klinis serta Laboratorium yang Abnormal, Tidak Diklasifikasikan di Tempat Lain) dan lebih spesifik berada di bawah kategori R50 (Demam yang Tidak Dijelaskan Asalnya). Kode ini digunakan ketika demam tidak memiliki karakteristik spesifik yang memungkinkan penempatan kode yang lebih tepat, seperti demam periodik (R50.0) atau demam pasca-prosedur (R50.82). Penggunaan kode ini dalam rekam medis menandakan bahwa demam adalah gejala utama yang dilaporkan, namun penyebab pastinya belum ditentukan atau tidak disebutkan dalam diagnosis saat itu. Oleh karena itu, kode ini sering bersifat sementara dan memerlukan investigasi lebih lanjut untuk menemukan penyebab yang mendasarinya dan mengalihkannya ke kode diagnosis yang lebih definitif.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24995 | 09 Apr 2026
Klinis : demam
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Demam
Kode SDKI: 00007
Deskripsi Singkat: Peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Suhu tubuh dalam rentang normal.
Kode SIKI: 3510
Deskripsi : Pemantauan tanda-tanda vital. 3610: Manajemen lingkungan terapeutik: termoregulasi. 3820: Manajemen medikasi.
Penjelasan Lengkap: Diagnosa Keperawatan "Demam" dengan kode SDKI 00007 didefinisikan sebagai peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal yang merupakan respons fisiologis terhadap proses patologis, paling sering disebabkan oleh infeksi, inflamasi, atau kondisi lain yang mengganggu set point termoregulasi di hipotalamus. Demam bukanlah penyakit, melainkan mekanisme pertahanan tubuh untuk meningkatkan respons imun dan menghambat pertumbuhan mikroorganisme. Rentang suhu normal tubuh bervariasi, tetapi umumnya demam dianggap ketika pengukuran suhu oral melebihi 38°C atau suhu rektal melebihi 38.3°C. Manifestasinya dapat meliputi perasaan panas atau dingin (menggigil), berkeringat, sakit kepala, mialgia, dan malaise. Pada pasien, kondisi ini memerlukan asesmen menyeluruh untuk mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya, memantau pola demam (misalnya kontinyu, intermiten, atau remiten), serta menilai dampaknya terhadap status hidrasi, kenyamanan, dan status mental.
Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yang ditetapkan untuk diagnosa ini adalah kode 1401: "Suhu tubuh dalam rentang normal". Luaran ini menjadi tujuan utama dari intervensi keperawatan. Pencapaian luaran ini ditandai dengan parameter evaluasi seperti suhu tubuh terukur antara 36,5°C – 37,5°C (dengan variasi tergantung lokasi pengukuran), tidak adanya menggigil atau perasaan panas yang berlebihan, kulit teraba hangat dan kering, serta denyut nadi dan pernapasan dalam rentang normal sesuai usia. Perawat akan memantau parameter ini secara berkala untuk mengevaluasi efektivitas intervensi dan perkembangan kondisi pasien. Penting untuk dicapai bahwa normalisasi suhu tubuh harus diiringi dengan penanganan penyebab yang mendasari.
Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang relevan untuk menangani demam mencakup beberapa intervensi kunci. Pertama, SIKI 3510: Pemantauan Tanda-Tanda Vital, yang melibatkan pengukuran suhu tubuh secara teratur dan akurat dengan metode yang tepat (oral, aksila, timpani, atau rektal), serta memantau denyut nadi, pernapasan, dan tekanan darah. Pemantauan ini penting untuk menentukan pola demam, respons terhadap terapi, dan mendeteksi dini komplikasi seperti takikardia atau dehidrasi. Kedua, SIKI 3610: Manajemen Lingkungan Terapeutik: Termoregulasi. Intervensi ini berfokus pada upaya untuk memfasilitasi tubuh dalam mengembalikan set point suhu ke normal. Tindakannya meliputi memberikan lingkungan yang nyaman (ruangan berventilasi baik, suhu ruangan sejuk), menggunakan pakaian dan selimut yang tipis dan menyerap keringat, serta melakukan tindakan pendinginan fisik seperti kompres hangat (bukan dingin) di daerah lipatan tubuh (aksila, lipat paha) atau mandi air hangat. Kompres hangat memungkinkan pembuluh darah perifer melebar sehingga memfasilitasi pelepasan panas tanpa memicu respons menggigil yang justru meningkatkan produksi panas. Pemberian cairan yang adekuat juga merupakan bagian integral dari manajemen termoregulasi untuk mengganti kehilangan cairan melalui evaporasi dan berkeringat. Ketiga, SIKI 3820: Manajemen Medikasi. Intervensi ini melibatkan pemberian obat antipiretik (seperti parasetamol atau ibuprofen) sesuai resep dokter dengan tepat, termasuk memperhatikan dosis, interval pemberian, dan rute pemberian. Perawat harus memiliki pengetahuan tentang mekanisme kerja, efek yang diharapkan (penurunan suhu dalam 1-2 jam), serta efek samping potensial dari obat tersebut. Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang tujuan pemberian obat, cara pemberian, dan pentingnya tidak menggabungkan antipiretik tanpa konsultasi juga termasuk dalam intervensi ini. Selain ketiga intervensi utama, intervensi pendukung seperti SIKI 4410: Manajemen Cairan untuk mencegah atau menangani dehidrasi dan SIKI 1340: Edukasi Kesehatan untuk menjelaskan proses demam dan perawatan di rumah juga sangat penting dalam penatalaksanaan yang komprehensif. Pendekatan holistik dengan menggabungkan pemantauan, tindakan fisik non-farmakologis, dan terapi farmakologis yang tepat merupakan kunci dalam menangani diagnosa keperawatan demam secara efektif.
-
Article No. 24996 | 09 Apr 2026
Klinis : Di sebuah Sekolah Dasar (SD) "Y” seorang perawat komunitas melakukan pengkajian kesehatan pada 100 siswa kelas 4-6. Hasil pengkajian menunjukkan data sebagai berikut: 60% siswa jarang mencuci tangan dengan sabun sebelum makan. 50% siswa sering membeli jajanan di luar sekolah yang terbuka dan banyak lalat. 70% siswa tidak membawa bekal dari rumah. Hasil wawancara dengan guru: "Hampir setiap bulan terdapat laporan siswa yang izin tidak masuk karena diare atau sakit perut". Kondisi kantin sekolah tidak memiliki tempat cuci tangan (wastafel) yang memadai dan tempat sampah terbuka.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap invasi oleh patogen yang dapat mengganggu kesehatan.
Kode SLKI: 1801
Deskripsi : Perilaku pencegahan infeksi dipertahankan.
Kode SIKI: 6730
Deskripsi : Edukasi pencegahan infeksi.
Kondisi: Risiko Cedera
Kode SDKI: 0021
Deskripsi Singkat: Risiko meningkatnya kerentanan terhadap cedera fisik yang dapat menyebabkan kerusakan jaringan.
Kode SLKI: 2101
Deskripsi : Perilaku pencegahan cedera dipertahankan.
Kode SIKI: 6540
Deskripsi : Pengawasan lingkungan.
Kondisi: Ketidakefektifan Perilaku Kesehatan
Kode SDKI: 0009
Deskripsi Singkat: Pola perilaku atau tindakan yang tidak mampu mengidentifikasi, mengelola, dan/atau mencari bantuan untuk mempertahankan kesehatan.
Kode SLKI: 0902
Deskripsi : Perilaku hidup sehat dipertahankan.
Kode SIKI: 5510
Deskripsi : Edukasi kesehatan.
-
Article No. 24997 | 09 Apr 2026
Klinis : Di sebuah Sekolah Dasar (SD) "Y” seorang perawat komunitas melakukan pengkajian kesehatan pada 100 siswa kelas 4-6. Hasil pengkajian menunjukkan data sebagai berikut: 60% siswa jarang mencuci tangan dengan sabun sebelum makan. 50% siswa sering membeli jajanan di luar sekolah yang terbuka dan banyak lalat. 70% siswa tidak membawa bekal dari rumah. Hasil wawancara dengan guru: "Hampir setiap bulan terdapat laporan siswa yang izin tidak masuk karena diare atau sakit perut". Kondisi kantin sekolah tidak memiliki tempat cuci tangan (wastafel) yang memadai dan tempat sampah terbuka.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Risiko Wabah Penyakit Diare dan Keracunan Makanan di Lingkungan Sekolah
Kode ICD-10: A09.9
Deskripsi Singkat : Berdasarkan data pengkajian, terdapat kumpulan faktor risiko yang signifikan untuk kejadian diare dan penyakit lain yang ditularkan melalui makanan (foodborne diseases) di lingkungan sekolah. Kode A09.9 mengacu pada "Gastroenteritis dan kolitis yang tidak diketahui asalnya," yang merupakan kategori untuk mencatat kasus diare atau sakit perut tanpa identifikasi patogen spesifik. Situasi di SD "Y" menunjukkan potensi wabah dengan temuan: perilaku higiene yang buruk (jarang cuci tangan pakai sabun), paparan terhadap makanan jajanan yang tidak higienis (terbuka, banyak lalat), ketergantungan pada makanan dari luar, serta dukungan lingkungan yang tidak memadai (tidak ada wastafel, tempat sampah terbuka). Kombinasi faktor perilaku dan lingkungan ini menciptakan siklus penularan penyakit, sebagaimana dilaporkan guru mengenai seringnya siswa izin sakit. Kode ini merepresentasikan sindrom klinis (diare/sakit perut) yang kemungkinan besar disebabkan oleh infeksi bakteri atau virus dari makanan/air terkontaminasi atau penularan fecal-oral akibat kebersihan tangan yang buruk, dalam sebuah setting komunitas (sekolah).
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24998 | 09 Apr 2026
Klinis : Di sebuah Sekolah Dasar (SD) "Y” seorang perawat komunitas melakukan pengkajian kesehatan pada 100 siswa kelas 4-6. Hasil pengkajian menunjukkan data sebagai berikut: 60% siswa jarang mencuci tangan dengan sabun sebelum makan. 50% siswa sering membeli jajanan di luar sekolah yang terbuka dan banyak lalat. 70% siswa tidak membawa bekal dari rumah. Hasil wawancara dengan guru: "Hampir setiap bulan terdapat laporan siswa yang izin tidak masuk karena diare atau sakit perut". Kondisi kantin sekolah tidak memiliki tempat cuci tangan (wastafel) yang memadai dan tempat sampah terbuka.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Peningkatan Kerentanan terhadap Infeksi
Kode SDKI: 0004
Deskripsi Singkat: Risiko peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen, yang dapat membahayakan kesehatan.
Kode SLKI: 1800
Deskripsi : Manajemen Infeksi. Tujuan: Infeksi dapat dicegah atau dikendalikan. Kriteria Hasil: 1801. Menunjukkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). 1802. Menunjukkan teknik mencuci tangan yang benar. 1803. Menggunakan sumber makanan dan minuman yang aman. 1804. Lingkungan bebas dari sumber infeksi. 1805. Tidak menunjukkan tanda dan gejala infeksi.
Kode SIKI: 4020
Deskripsi : Edukasi Pencegahan Infeksi. Tindakan: 4021. Identifikasi risiko infeksi pada individu, keluarga, kelompok, dan komunitas. 4022. Monitor tanda dan gejala infeksi. 4023. Anjurkan mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan aktivitas. 4024. Demonstrasikan teknik mencuci tangan yang benar. 4025. Anjurkan menjaga kebersihan perorangan. 4026. Anjurkan menjaga kebersihan lingkungan. 4027. Anjurkan menggunakan alat makan dan minum yang bersih. 4028. Anjurkan mengkonsumsi makanan dan minuman yang dimasak dengan benar. 4029. Kolaborasi pemberian imunisasi sesuai kebutuhan. 4030. Anjurkan menghindari kontak dengan individu yang terinfeksi. 4031. Anjurkan istirahat yang cukup. 4032. Anjurkan nutrisi yang adekuat.
Kondisi: Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: 0002
Deskripsi Singkat: Risiko asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: 1400
Deskripsi : Status Nutrisi. Tujuan: Kebutuhan nutrisi terpenuhi. Kriteria Hasil: 1401. Asupan makanan dan cairan sesuai kebutuhan. 1402. Berat badan dalam rentang normal. 1403. Menunjukkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). 1404. Menggunakan sumber makanan dan minuman yang aman.
Kode SIKI: 1400
Deskripsi : Manajemen Nutrisi. Tindakan: 1401. Identifikasi faktor yang mempengaruhi pemenuhan nutrisi. 1402. Timbang berat badan dan ukur tinggi badan. 1403. Identifikasi preferensi makanan. 1404. Anjurkan makan dengan porsi kecil dan sering. 1405. Anjurkan membawa bekal makanan dari rumah. 1406. Anjurkan mengkonsumsi makanan bergizi seimbang. 1407. Anjurkan mengkonsumsi buah dan sayur. 1408. Anjurkan membatasi konsumsi makanan cepat saji. 1409. Anjurkan mengkonsumsi makanan yang dimasak dengan benar. 1410. Kolaborasi dengan ahli gizi.
Kondisi: Risiko Keracunan
Kode SDKI: 0018
Deskripsi Singkat: Risiko paparan atau konsumsi zat berbahaya yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: 1900
Deskripsi : Manajemen Keracunan. Tujuan: Keracunan dapat dicegah atau ditangani. Kriteria Hasil: 1901. Mengenali sumber yang berisiko menyebabkan keracunan. 1902. Menunjukkan perilaku untuk mencegah keracunan. 1903. Menggunakan sumber makanan dan minuman yang aman. 1904. Lingkungan bebas dari sumber keracunan. 1905. Tidak menunjukkan tanda dan gejala keracunan.
Kode SIKI: 6530
Deskripsi : Edukasi Pencegahan Keracunan. Tindakan: 6531. Identifikasi risiko keracunan pada individu, keluarga, kelompok, dan komunitas. 6532. Monitor tanda dan gejala keracunan. 6533. Anjurkan mengkonsumsi makanan dan minuman yang aman dan terbebas dari kontaminasi. 6534. Anjurkan mencuci tangan sebelum makan. 6535. Anjurkan mencuci bahan makanan sebelum diolah. 6536. Anjurkan mengolah makanan dengan benar. 6537. Anjurkan menyimpan makanan dengan benar. 6538. Anjurkan memeriksa tanggal kedaluwarsa makanan. 6539. Anjurkan menghindari jajan di tempat yang tidak terjamin kebersihannya. 6540. Anjurkan menjaga kebersihan lingkungan dari sumber kontaminasi.
-
Article No. 24999 | 09 Apr 2026
Klinis : DS: Pasien mengatakan tidak nafsu makan Pasien mengatakan tidak tertarik dengan lauk yang disediakan Pasien mengatakan lebih sering minum kopi gula aren dibanding makan DO: Porsi makan pasien tampak tidak habis Pasien beberapa kali tidak makan dan memberikan makanannya pada teman sewismanya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Risiko Gangguan Nutrisi: Kurang dari Kebutuhan Tubuh
Kode SDKI: B.1.1
Deskripsi Singkat: Risiko gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh adalah kondisi di mana individu berisiko mengalami asupan nutrisi yang tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh, yang dapat mengakibatkan penurunan berat badan, kelemahan, dan gangguan fungsi tubuh lainnya.
Kode SLKI: L.1.1.1
Deskripsi : SLKI L.1.1.1 adalah "Status nutrisi membaik". Tujuan akhir dari intervensi keperawatan untuk kondisi ini adalah agar status nutrisi pasien mencapai dan mempertahankan tingkat yang adekuat sesuai dengan kebutuhan tubuhnya. Kriteria hasil yang diharapkan mencakup peningkatan berat badan menuju rentang ideal, peningkatan asupan makanan dan cairan sesuai dengan rencana yang ditetapkan, peningkatan nafsu makan, serta tanda-tanda klinis seperti kulit yang lembap, turgor kulit baik, dan kadar albumin serum dalam batas normal. Pencapaian SLKI ini menunjukkan bahwa risiko gangguan nutrisi telah diminimalkan atau diatasi, dan pasien mampu mempertahankan pola makan yang sehat. Perawat akan memantau parameter antropometri (seperti berat badan, IMT), asupan diet, dan hasil laboratorium untuk mengevaluasi kemajuan menuju tujuan ini. Peningkatan status nutrisi juga berkontribusi pada peningkatan energi, penyembuhan luka yang lebih baik, dan peningkatan fungsi sistem imun.
Kode SIKI: I.1.1.1
Deskripsi : SIKI I.1.1.1 adalah "Manajemen nutrisi". Intervensi ini melibatkan serangkaian tindakan sistematis yang dilakukan perawat untuk membantu pasien dalam mencapai dan mempertahankan asupan nutrisi yang optimal. Penjelasan detailnya mencakup: Pertama, **Pengkajian Komprehensif**: Perawat akan melakukan pengkajian mendalam terhadap faktor penyebab kurang nafsu makan, seperti faktor psikologis (misalnya, kondisi emosional di rumah sakit), sosial (kebiasaan minum kopi aren sebagai pengganti makan), persepsi terhadap makanan, dan faktor fisik (misalnya, nyeri mulut, mual). Pengkajian juga mencakup pola makan biasa, preferensi makanan, alergi, dan kemampuan menelan. Kedua, **Kolaborasi dalam Perencanaan Diet**: Berdasarkan pengkajian, perawat akan berkolaborasi dengan ahli gizi dan dokter untuk menyusun rencana diet yang sesuai dengan kebutuhan kalori, protein, dan mikronutrien pasien, dengan mempertimbangkan preferensi pasien (misalnya, memasukkan elemen makanan yang disukai). Ketiga, **Modifikasi Lingkungan dan Penyajian Makanan**: Perawat menciptakan lingkungan makan yang nyaman, bebas bau tidak sedap, dan menyajikan makanan dalam porsi kecil namun sering dengan tampilan yang menarik untuk merangsang nafsu makan. Mengatur posisi pasien yang nyaman untuk makan juga penting. Keempat, **Edukasi dan Motivasi**: Memberikan pendidikan kesehatan tentang pentingnya nutrisi bagi penyembuhan dan konsekuensi dari asupan yang tidak adekuat. Memotivasi pasien untuk mengurangi kebiasaan minum kopi aren sebelum makan karena dapat menekan nafsu makan, serta menjelaskan pentingnya mengonsumsi makanan utama terlebih dahulu. Kelima, **Monitoring dan Evaluasi**: Memantau dan mencatat asupan makanan dan cairan pasien secara akurat (misalnya, dengan metode food recall atau intake-output chart), memantau berat badan secara teratur, dan mengobservasi tanda-tanda klinis kekurangan nutrisi. Keenam, **Intervensi Tambahan**: Jika diperlukan, perawat dapat mengkolaborasikan pemberian suplemen nutrisi oral atau, dalam kondisi tertentu, merujuk untuk pemberian nutrisi enteral atau parenteral sesuai instruksi tim medis. Inti dari SIKI ini adalah pendekatan holistik yang menggabungkan aspek teknis, edukatif, dan psikososial untuk mengatasi hambatan nutrisi yang dialami pasien.
-
Article No. 25000 | 09 Apr 2026
Klinis : Tn. I dirawat pada tanggal 03 April 2026 setelah masuk melalui IGD dengan keluhan utama nyeri dada dan sesak napas. Nyeri dada dirasakan sejak malam hari, bersifat berat, tembus ke belakang, menjalar ke lengan, disertai sesak dan tidak dapat berbaring. Keluhan sering muncul terutama setelah Idul Fitri. Saat evaluasi, sesak napas berkurang dan nyeri dada hilang, namun masih terdapat nyeri ulu hati hilang timbul, nafsu makan menurun, istirahat kurang, serta batuk berdahak tanpa mual, muntah, atau demam. Riwayat penyakit jantung disangkal, namun pasien menjalani terapi DAPT sejak Oktober 2024. Pemeriksaan fisik menunjukkan keadaan umum sakit sedang dengan tekanan darah 83/66 mmHg, nadi 101 x/menit, suhu 36,5°C, frekuensi napas 23 x/menit, dan SpO₂ 91%. Evaluasi selanjutnya didapatkan tekanan darah 85/69 mmHg, nadi 108 x/menit, suhu 36,7°C, frekuensi napas 20 x/menit, dan SpO₂ 94% dengan oksigen nasal kanul 3 lpm. Kesadaran compos mentis (GCS E4V5M6) dengan asupan makan sekitar ½ porsi. Pemeriksaan laboratorium menunjukkan Hb 11,4 g/dL, troponin I 0,6, ureum 45,3 mg/dL, kreatinin 0,9 mg/dL, kolesterol total 104 mg/dL, trigliserida 71 mg/dL, GDP 97 mg/dL, dan GD 2 jam PP 138 mg/dL. Monitoring cairan didapatkan intake 800 cc dan output 1700 cc (balance -900 cc), dengan berat badan 45 kg. Berdasarkan hasil pemeriksaan, pasien didiagnosis efusi pleura kiri. Telah dilakukan evakuasi cairan pleura sebanyak ±1100 cc berwarna kuning jernih dan direncanakan evakuasi ulang. Terapi meliputi atorvastatin, bisoprolol, ISDN, diazepam, dan clopidogrel. Seftriakson dibatalkan dan diganti cefixime oral. Terapi dilanjutkan sesuai tatalaksana jantung dengan pemantauan kondisi pasien.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Curah jantung tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Curah jantung membaik.
Kode SIKI: I.08001
Deskripsi : Monitor tanda vital dan status hemodinamik.
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0028
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, yang timbul secara tiba-tiba atau lambat, dengan intensitas ringan hingga berat, dan diperkirakan berakhir dalam waktu 3 bulan.
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Kontrol nyeri.
Kode SIKI: I.03001
Deskripsi : Lakukan pengkajian nyeri komprehensif.
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran pernapasan untuk mempertahankan jalan napas paten.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Bersihan jalan napas.
Kode SIKI: I.04001
Deskripsi : Kaji status pernapasan.
Kondisi: Pola Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0013
Deskripsi Singkat: Inspirasi dan/atau ekspirasi yang tidak memberikan ventilasi adekuat.
Kode SLKI: L.04002
Deskripsi : Ventilasi.
Kode SIKI: I.04002
Deskripsi : Monitor pola, frekuensi, kedalaman, dan usaha pernapasan.
Kondisi: Ketidakseimbangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Penurunan, peningkatan, atau perpindahan cepat cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler dari satu kompartemen ke kompartemen lain.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Keseimbangan cairan.
Kode SIKI: I.06001
Deskripsi : Monitor status cairan.
Kondisi: Intoleransi Aktivitas
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Kekurangan energi fisiologis atau psikologis untuk mempertahankan atau menyelesaikan aktivitas sehari-hari yang diperlukan atau yang diinginkan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Toleransi aktivitas.
Kode SIKI: I.09001
Deskripsi : Kaji faktor yang menyebabkan intoleransi aktivitas.
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Peningkatan risiko untuk diinvasi oleh patogen.
Kode SLKI: L.15001
Deskripsi : Kontrol infeksi.
Kode SIKI: I.15001
Deskripsi : Monitor tanda dan gejala infeksi.
-
Article No. 25001 | 09 Apr 2026
Klinis : PASIEN DATANG SEDNIRI DENGAN KELUHAN PANAS SEJAK 4 HARI YLL +,MUAL +, MUNTAH -, NYERI ULU HATI +, PERUT TERASA KEMBUNG +, TIDAK BAB SEJAK 2 HARI YLL , BADAN TERASA LEMAS RIW INFUS SELAMA 3 HARI DI RUMAH
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia dan Gangguan Eliminasi Feses (Konstipasi) terkait dengan Proses Penyakit dan Pola Defekasi yang Tidak Adekuat
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal sebagai respons terhadap faktor-faktor patogen. Pada kasus ini, ditandai dengan keluhan panas sejak 4 hari yang lalu, yang merupakan gejala utama. Hipertermia terjadi karena adanya proses infeksi atau inflamasi (diduga dari keluhan nyeri ulu hati dan kembung) yang memicu respon pirogenik dari tubuh, menggeser set point hipotalamus. Kondisi ini meningkatkan metabolisme basal, menyebabkan kehilangan cairan yang signifikan melalui evaporasi dan berkontribusi pada perasaan lemas serta risiko dehidrasi. Hipertermia juga dapat memperburuk rasa mual dan ketidaknyamanan abdominal. Intervensi keperawatan difokuskan pada pemantauan suhu, upaya penurunan panas, dan pemenuhan kebutuhan cairan.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Standar Luaran ini bertujuan agar suhu tubuh pasien kembali dalam rentang normal dan gejala terkait teratasi. Target luaran mencakup: (1) Suhu tubuh turun mencapai 36-37,5°C, (2) Kulit teraba hangat dan tidak berkeringat berlebihan, (3) Nadi dan pernapasan dalam rentang normal, (4) Pasien melaporkan perasaan nyaman dan penurunan perasaan panas, serta (5) Tidak ada komplikasi seperti kejang atau dehidrasi berat. Pencapaian luaran ini dinilai melalui pemantauan tanda-tanda vital secara berkala, pengamatan kondisi kulit, dan laporan subjektif pasien mengenai kenyamanannya. Pengelolaan hipertermia yang efektif juga akan membantu mengurangi keluhan sistemik seperti lemas dan mual.
Kode SIKI: 2010
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Intervensi sistematis ini meliputi: (1) Memantau suhu tubuh, nadi, pernapasan, dan tekanan darah secara teratur (setiap 2-4 jam atau sesuai kebutuhan). (2) Memberikan terapi pendinginan secara fisik seperti kompres hangat/tepid sponge di area aksila dan lipatan paha, mempertahankan suhu ruangan yang sejuk, serta menggunakan pakaian yang tipis dan menyerap keringat. (3) Menganjurkan dan memfasilitasi asupan cairan yang adekuat secara oral atau intravena (mengingat ada riwayat infus dan mual) untuk mengganti kehilangan cairan. (4) Kolaborasi pemberian antipiretik sesuai resep dokter. (5) Memberikan pendidikan kesehatan pada pasien dan keluarga tentang penyebab demam, tanda-tanda yang perlu diwaspadai, dan cara penanganan di rumah. Intervensi ini dilakukan untuk mencapai luaran yang ditetapkan dalam SLKI 1401.
Kondisi: Konstipasi
Kode SDKI: 00011
Deskripsi Singkat: Konstipasi didefinisikan sebagai penurunan frekuensi defekasi dari biasanya disertai dengan pengeluaran feses yang keras, kering, dan upaya mengejan. Pada pasien ini, ditandai dengan tidak BAB sejak 2 hari yang lalu, perut terasa kembung, dan nyeri ulu hati. Kondisi ini dapat disebabkan oleh multiple faktor: (1) Asupan cairan dan serat yang tidak adekuat akibat mual dan demam, (2) Peningkatan suhu tubuh yang menyebabkan dehidrasi dan absorbsi air dari feses di kolon berlebihan, (3) Imobilisasi atau penurunan aktivitas fisik karena badan lemas, dan (4) Kemungkinan efek dari proses penyakit dasar (misalnya dispepsia atau infeksi gastrointestinal). Konstipasi memperberat keluhan kembung dan nyeri ulu hati, menurunkan nafsu makan, dan berkontribusi pada perasaan tidak nyaman secara keseluruhan. Diagnosa ini memerlukan intervensi untuk memfasilitasi eliminasi yang normal.
Kode SLKI: 0407
Deskripsi : Status Eliminasi Feses. Standar Luaran ini bertujuan agar pasien dapat mencapai pola eliminasi feses yang normal dan teratur. Target luaran mencakup: (1) Pasien mampu defekasi dengan frekuensi sesuai pola normal individu (minimal 3 kali/minggu), (2) Konsistensi feses lunak dan berbentuk, mudah dikeluarkan, (3) Tidak ada keluhan mengejan berlebihan, nyeri, atau perasaan tidak tuntas setelah defekasi, (4) Bunyi usus dalam rentang normal (5-35 kali/menit), dan (5) Pengurangan atau hilangnya keluhan kembung dan ketidaknyamanan abdominal. Pencapaian luaran dinilai melalui anamnesis, observasi, dan pemeriksaan fisik abdomen.
Kode SIKI: 0580
Deskripsi : Manajemen Konstipasi. Intervensi keperawatan yang komprehensif meliputi: (1) Mengkaji pola defekasi biasa, kebiasaan, dan karakteristik feses terakhir. (2) Memantau bunyi usus, distensi abdomen, dan keluhan terkait. (3) Meningkatkan asupan cairan secara bertahap jika tidak ada kontraindikasi (target 1.5-2 L/hari) untuk melunakkan feses. (4) Menganjurkan peningkatan asupan serat secara bertahap ketika nafsu makan membaik (buah, sayur, sereal). (5) Mendukung mobilisasi atau aktivitas fisik ringan sesuai toleransi untuk merangsang peristaltik usus. (6) Melakukan kolaborasi pemberian laksatif, pelunak feses, atau supositoria sesuai resep dokter jika diperlukan. (7) Memberikan edukasi tentang hubungan asupan cairan, serat, aktivitas, dan eliminasi, serta pentingnya tidak menahan defekasi. Intervensi ini ditujukan untuk mengatasi faktor penyebab dan mencapai luaran pada SLKI 0407.