Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 26631 | 14 Aug 2026
Klinis : hipertermia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah kondisi di mana suhu tubuh seseorang meningkat melebihi kisaran normal (36,5–37,5°C) akibat kegagalan mekanisme pengaturan panas di hipotalamus atau karena produksi panas yang berlebihan, transfer panas dari lingkungan, atau penurunan kemampuan untuk berkeringat. Dalam konteks keperawatan, hipertermia didefinisikan sebagai peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal secara terus-menerus, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti infeksi (bakteri, virus, jamur), paparan panas lingkungan yang ekstrem (heat stroke), aktivitas fisik berlebihan, dehidrasi, efek samping obat (misalnya anestesi, antikolinergik), gangguan metabolisme (misalnya tirotoksikosis), atau kerusakan pada pusat pengaturan suhu di otak (misalnya trauma kepala, tumor, atau infeksi sistem saraf pusat). Kondisi ini berbeda dengan demam (febris) yang merupakan respons fisiologis tubuh terhadap pirogen internal maupun eksternal yang mengatur ulang set point hipotalamus; hipertermia justru terjadi ketika set point hipotalamus tetap normal tetapi mekanisme pembuangan panas gagal atau produksi panas berlebihan, sehingga suhu tubuh meningkat tanpa terkendali. Pada hipertermia, intervensi farmakologis seperti antipiretik (parasetamol) seringkali tidak efektif karena tidak ada perubahan set point; penanganan utama adalah pendinginan fisik (evaporasi, konduksi, konveksi) dan koreksi penyebab dasar. Gejala klinis yang menyertai hipertermia meliputi kulit teraba hangat dan kemerahan, takikardia, takipnea, penurunan kesadaran (dari bingung hingga koma), kejang, oliguria, dan mual. Jika tidak ditangani segera, hipertermia dapat menyebabkan kerusakan organ multipel, rhabdomyolysis, disseminated intravascular coagulation (DIC), hingga kematian. Diagnosis keperawatan hipertermia ditegakkan berdasarkan data subjektif (pasien mengeluh panas, haus, lemah) dan data objektif (suhu tubuh >37,5°C, kulit kemerahan dan hangat, denyut nadi cepat, pernapasan cepat, penurunan kesadaran, produksi urin menurun). Faktor yang berhubungan yang lazim digunakan dalam SDKI meliputi: dehidrasi, paparan lingkungan panas, proses penyakit (infeksi, keganasan), ketidakseimbangan elektrolit, aktivitas berlebihan, dan efek agen farmakologis. Kondisi ini memerlukan asuhan keperawatan yang komprehensif, dimulai dari pengkajian yang akurat, penetapan diagnosis, perencanaan luaran yang terukur, hingga implementasi intervensi yang berbasis bukti. Perawat perlu membedakan hipertermia dengan demam dan hipotermia untuk menentukan strategi penanganan yang tepat. Pada pasien kritis, hipertermia sering menjadi indikator keparahan penyakit dan memerlukan monitoring ketat terhadap tanda-tanda vital, status hemodinamik, keseimbangan cairan dan elektrolit, serta fungsi organ. Penatalaksanaan keperawatan yang tepat dapat mencegah komplikasi serius seperti kerusakan otak permanen, gagal ginjal akut, dan koagulopati. Oleh karena itu, diagnosis keperawatan hipertermia harus disusun dengan benar menggunakan terminologi standar SDKI agar dapat dihubungkan dengan luaran (SLKI) dan intervensi (SIKI) yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan berbatas waktu.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Luaran utama yang diharapkan untuk diagnosis hipertermia adalah "Termoregulasi" yang membaik. Termoregulasi didefinisikan sebagai kemampuan individu untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36,5–37,5°C) melalui keseimbangan antara produksi panas dan kehilangan panas, serta respons fisiologis yang adaptif terhadap perubahan lingkungan internal dan eksternal. Luaran ini diukur melalui beberapa kriteria hasil yang spesifik dan dapat dievaluasi secara objektif, yaitu: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal, dengan target penurunan suhu secara bertahap dan tidak menyebabkan menggigil berlebihan; (2) Nadi dalam rentang normal (60–100 x/menit pada dewasa), menunjukkan tidak ada takikardia kompensatorik; (3) Pernapasan dalam rentang normal (16–20 x/menit), menunjukkan tidak ada takipnea akibat peningkatan metabolisme; (4) Warna kulit normal (tidak kemerahan atau pucat), serta kulit teraba hangat tetapi tidak panas; (5) Tidak ada penurunan kesadaran, pasien mampu merespons stimulus verbal dengan tepat; (6) Produksi urin adekuat (≥0,5 ml/kgBB/jam), menunjukkan perfusi ginjal baik dan tidak ada dehidrasi berat; (7) Tidak ada kejang atau tremor; (8) Kemampuan berkeringat normal, yang menunjukkan fungsi kelenjar keringat berjalan baik; (9) Pasien melaporkan rasa nyaman, tidak mengeluh haus berlebihan atau lemah; (10) Nilai laboratorium elektrolit dan fungsi ginjal dalam batas normal. Kriteria hasil ini diintegrasikan dalam skala luaran yang lazim digunakan, misalnya skala 1 (memburuk) hingga 5 (membaik), dengan target luaran minimal pada skala 4 (cukup membaik) atau 5 (membaik) dalam waktu yang ditentukan, misalnya dalam 3x24 jam setelah intervensi. Luaran "Termoregulasi" memiliki definisi operasional yang mencakup aspek fisiologis, perilaku, dan kognitif. Perawat perlu menetapkan luaran yang realistis sesuai kondisi pasien, komorbid, dan penyebab hipertermia. Misalnya, pada pasien dengan heat stroke, target penurunan suhu harus dicapai dalam 30 menit pertama untuk mencegah kerusakan organ, sedangkan pada infeksi ringan, target dapat dicapai dalam 24-48 jam. Luaran ini juga harus disesuaikan dengan usia (anak lebih rentan terhadap fluktuasi suhu), status imunitas, dan lingkungan perawatan. Evaluasi luaran dilakukan secara berkala (setiap 2-4 jam pada fase akut) dengan menggunakan instrumen pengukuran suhu yang akurat (termometer rektal, oral, aksila, atau timpani) dan observasi klinis. Jika kriteria hasil belum tercapai, perawat harus memodifikasi intervensi, mengkaji ulang penyebab hipertermia, atau berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lain. Luaran yang terukur dan terdokumentasi dengan baik akan memastikan kontinuitas asuhan keperawatan dan menjadi dasar untuk evaluasi kualitas pelayanan. Selain itu, luaran ini juga mencakup aspek edukasi, yaitu pasien dan keluarga mampu menjelaskan cara pengukuran suhu, tanda-tanda bahaya hipertermia, serta langkah-langkah pendinginan yang aman. Dengan demikian, luaran "Termoregulasi" bukan hanya berfokus pada angka suhu, tetapi juga pada pemulihan fungsi fisiologis secara menyeluruh dan pencegahan rekurensi.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Intervensi keperawatan utama untuk diagnosis hipertermia adalah "Manajemen Hipertermia" yang didefinisikan sebagai serangkaian tindakan keperawatan untuk menurunkan suhu tubuh ke rentang normal dan mencegah komplikasi akibat peningkatan suhu, melalui pendekatan non-farmakologis dan kolaborasi farmakologis. Intervensi ini memiliki komponen aktivitas yang terstruktur, meliputi: (1) Observasi: perawat melakukan pengukuran suhu tubuh secara berkala (minimal setiap 4 jam, atau lebih sering jika suhu >38,5°C atau jika terjadi perubahan status neurologis), mengidentifikasi tanda-tanda hipertermia seperti kulit kemerahan, takikardia, takipnea, penurunan kesadaran, kejang, dan produksi urin; memantau tanda-tanda vital lainnya (nadi, pernapasan, tekanan darah) serta status hemodinamik; memantau asupan dan keluaran cairan untuk menilai status hidrasi; mengobservasi efek samping intervensi pendinginan seperti menggigil, hipotermia, atau iritasi kulit. (2) Terapeutik: perawat menyediakan lingkungan yang sejuk dengan mengatur suhu ruangan (20-22°C), menggunakan kipas angin atau pendingin ruangan, serta mengurangi penggunaan selimut atau pakaian yang tebal; memberikan kompres hangat (tepid sponge) pada area pembuluh darah besar (leher, aksila, inguinal) selama 15-20 menit, hindari kompres dingin atau alkohol karena dapat menyebabkan vasokonstriksi dan menggigil yang justru meningkatkan produksi panas; menggunakan alat pendingin eksternal seperti cooling blanket atau ice pack jika diperlukan, terutama pada hipertermia maligna atau heat stroke; memberikan cairan oral yang cukup (air putih, oralit) sesuai toleransi, atau kolaborasi pemberian cairan intravena (Ringer Laktat, NaCl 0,9%) jika pasien tidak dapat minum atau mengalami dehidrasi berat; mengatur posisi pasien dengan nyaman, kepala sedikit ditinggikan untuk memudahkan ventilasi; melakukan pembasahan kulit secara berkala dengan air hangat untuk mempercepat evaporasi; memastikan pasien tidak menggigil karena menggigil akan meningkatkan produksi panas secara signifikan. (3) Edukasi: perawat memberikan penjelasan kepada pasien dan keluarga tentang penyebab hipertermia, pentingnya menjaga hidrasi, cara mengukur suhu tubuh di rumah, cara melakukan kompres hangat yang benar, tanda-tanda bahaya yang memerlukan perhatian medis segera (misalnya, suhu >40°C, kejang, penurunan kesadaran, dan tidak berkeringat), serta kapan harus datang ke fasilitas kesehatan. (4) Kolaborasi: perawat berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian antipiretik (misalnya parasetamol) hanya jika penyebabnya adalah demam (bukan hipertermia murni), pemberian obat antipiretik tidak efektif pada hipertermia karena tidak melibatkan perubahan set point hipotalamus; berkolaborasi dalam pemberian terapi cairan intravena, elekt
Article No. 26632 | 14 Aug 2026
Klinis : defisit nutrisi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Nutrisi
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Defisit nutrisi adalah keadaan di mana individu mengalami asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Kondisi ini ditandai dengan penurunan berat badan yang signifikan, kelemahan fisik, penurunan massa otot, dan ketidakmampuan untuk mempertahankan keseimbangan energi. Pada pasien dengan defisit nutrisi, terdapat ketidakseimbangan antara asupan makanan dan kebutuhan tubuh, yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti gangguan pencernaan, malabsorpsi, kesulitan menelan, mual, muntah, atau faktor psikologis seperti depresi dan anoreksia. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) mendefinisikan defisit nutrisi sebagai diagnosis keperawatan yang menggambarkan asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan fisiologis. Gejala mayor yang sering muncul meliputi penurunan berat badan minimal 10% dalam 3-6 bulan, nafsu makan yang menurun secara signifikan, dan kelemahan otot. Gejala minor meliputi membran mukosa pucat, rambut rontok berlebihan, kulit kering dan bersisik, serta pemeriksaan laboratorium yang menunjukkan penurunan albumin, transferin, atau prealbumin serum. Faktor-faktor yang berhubungan dengan defisit nutrisi antara lain: ketidakmampuan menelan atau mengunyah, gangguan absorbsi nutrisi, peningkatan kebutuhan metabolik (misalnya pada sepsis atau luka bakar), faktor ekonomi yang membatasi akses makanan, serta efek samping pengobatan seperti kemoterapi. Diagnosa ini bersifat aktual, artinya masalah sudah terjadi dan memerlukan intervensi segera untuk mencegah komplikasi lebih lanjut seperti imunodefisiensi, gangguan penyembuhan luka, dan kegagalan organ.
Kode SLKI: L.03030 (Status Nutrisi)
Deskripsi : Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan pada pasien dengan defisit nutrisi adalah tercapainya status nutrisi yang adekuat. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) menetapkan kriteria luaran utama untuk diagnosis defisit nutrisi adalah "Status Nutrisi" dengan kode L.03030. Status nutrisi didefinisikan sebagai kondisi tercukupinya asupan nutrisi dan terpenuhinya kebutuhan metabolik tubuh. Kriteria luaran yang dapat diukur meliputi: (1) Asupan makanan dan cairan per oral yang meningkat secara progresif, (2) Berat badan meningkat dalam rentang normal sesuai indeks massa tubuh, (3) Tidak terjadi penurunan massa otot atau lemak yang signifikan, (4) Nilai laboratorium seperti albumin, transferin, dan prealbumin dalam batas normal, (5) Pasien menunjukkan nafsu makan yang membaik dan mampu menghabiskan porsi makanan yang disediakan, (6) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi seperti kelemahan fisik, rambut rontok, atau kulit kering, (7) Pasien dapat mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit. Luaran ini diukur dengan skala lima tingkat, mulai dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik). Target minimal yang diharapkan adalah mencapai level 4 (cukup membaik) atau 5 (membaik) dalam waktu 3-7 hari tergantung kondisi klinis pasien. Selain itu, terdapat luaran tambahan seperti "Berat Badan" (L.03031) dan "Asupan Nutrisi" (L.03032) yang dapat digunakan sebagai indikator spesifik. Penetapan luaran ini penting untuk mengevaluasi efektivitas intervensi keperawatan secara objektif dan berkelanjutan.
Kode SIKI: I.03114 (Manajemen Nutrisi)
Deskripsi : Intervensi utama yang direkomendasikan dalam SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk mengatasi defisit nutrisi adalah "Manajemen Nutrisi" dengan kode I.03114. Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk mengoptimalkan asupan nutrisi pasien melalui berbagai strategi. Tindakan utama dalam manajemen nutrisi meliputi: (1) Identifikasi faktor penyebab defisit nutrisi, seperti pemeriksaan riwayat makan, gangguan menelan, atau efek samping obat; (2) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang dibutuhkan sesuai kondisi pasien; (3) Penyediaan makanan yang disukai pasien dengan memperhatikan tekstur, suhu, dan porsi yang sesuai; (4) Pemberian makanan secara bertahap dan sering (misalnya 6-8 kali sehari dalam porsi kecil) untuk meningkatkan toleransi pencernaan; (5) Monitoring asupan makanan dan cairan setiap hari, termasuk pencatatan intake-output; (6) Pemberian suplemen nutrisi jika diperlukan, seperti vitamin, mineral, atau formula enteral; (7) Manajemen gejala yang menghambat makan, seperti memberikan obat antiemetik sebelum makan untuk mengatasi mual, atau melakukan latihan menelan untuk pasien disfagia; (8) Edukasi kepada pasien dan keluarga tentang pentingnya nutrisi seimbang dan cara mengolah makanan yang higienis; (9) Penciptaan lingkungan yang nyaman saat makan, seperti posisi duduk yang tegak, suasana tenang, dan tidak terburu-buru. Selain manajemen nutrisi, intervensi pendukung yang dapat ditambahkan adalah "Pemberian Makanan" (I.03115) untuk pasien yang tidak mampu makan sendiri, "Dukungan Nutrisi" (I.03116) yang mencakup pemberian nutrisi enteral atau parenteral jika asupan oral tidak mencukupi, serta "Edukasi Diet" (I.03117) untuk meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga tentang pola makan sehat. Semua intervensi ini dilakukan secara kolaboratif dengan tenaga kesehatan lain seperti dokter, ahli gizi, dan terapis wicara. Evaluasi dilakukan setiap hari dengan memantau perkembangan berat badan, asupan kalori, dan perbaikan gejala klinis. Jika dalam 3 hari tidak ada perbaikan, intervensi perlu dimodifikasi, misalnya dengan meningkatkan frekuensi makan atau mengubah metode pemberian nutrisi.
Article No. 26633 | 14 Aug 2026
Klinis : Pasien usia 69 tahun datang dengan keluhan : tidak mau makan sudah 3 hari, susah menelan, badan lemas, batuk dahak susah keluar, nyeri tenggorokan, sesak napas, tidak bisa mobilisasi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Nutrisi berhubungan dengan ketidakmampuan menelan (Disfagia) dan anoreksia
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Defisit Nutrisi adalah kondisi di mana individu mengalami asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada pasien usia 69 tahun dengan keluhan tidak mau makan selama 3 hari, susah menelan (disfagia), badan lemas, dan nyeri tenggorokan, kondisi ini sangat relevan. Disfagia menyebabkan ketidakmampuan untuk menelan makanan secara efektif, sehingga asupan oral berkurang drastis. Anoreksia yang ditandai dengan tidak mau makan memperberat kondisi. Badan lemas merupakan manifestasi klinis dari defisiensi energi dan protein akibat asupan yang tidak mencukupi. Pada lansia, cadangan nutrisi tubuh lebih rendah, sehingga defisit nutrisi dapat dengan cepat menyebabkan penurunan berat badan, kelemahan otot, penurunan imunitas, dan gangguan penyembuhan luka. Faktor lain seperti batuk berdahak yang susah keluar dan sesak napas juga meningkatkan kebutuhan metabolik tubuh, sehingga memperburuk ketidakseimbangan antara asupan dan kebutuhan. Disfagia pada lansia sering disebabkan oleh gangguan neuromuskular, obstruksi mekanik, atau efek penuaan pada faring dan esofagus. Kondisi ini memerlukan intervensi segera untuk mencegah malnutrisi berat, dehidrasi, dan komplikasi sistemik. Penilaian status nutrisi meliputi pengukuran berat badan, indeks massa tubuh (IMT), kadar albumin serum, dan pengkajian asupan makanan harian. Defisit nutrisi yang berkepanjangan dapat menyebabkan sarkopenia, penurunan fungsi organ, dan peningkatan risiko infeksi karena sistem imun melemah. Oleh karena itu, diagnosis keperawatan ini menjadi prioritas utama dalam rencana asuhan keperawatan pasien.
Kode SLKI: L.03030
Deskripsi : Status Nutrisi adalah Luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan, dengan definisi kemampuan individu untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat. Indikator yang dinilai meliputi: (1) Asupan makanan dan cairan oral, (2) Asupan protein, (3) Asupan kalori, (4) Berat badan, (5) Indeks massa tubuh (IMT), (6) Kemampuan menelan, (7) Kelelahan, (8) Nilai laboratorium (albumin, prealbumin, transferin, hemoglobin), (9) Turgor kulit, dan (10) Ketebalan lipatan kulit. Setiap indikator dinilai dengan skala Likert dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik). Target luaran yang diharapkan untuk pasien ini adalah: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, asupan makanan dan cairan oral meningkat, dengan skor indikator mencapai minimal 4 (cukup membaik). Pasien mampu menghabiskan minimal 50% porsi makanan yang disajikan, tidak terjadi penurunan berat badan lebih dari 5% dalam 1 minggu, nilai albumin serum dalam batas normal (3,5-5,0 g/dL), dan pasien melaporkan kemampuan menelan meningkat tanpa tersedak. Luaran ini juga mencakup peningkatan energi untuk melakukan aktivitas sehari-hari, perbaikan turgor kulit, dan tidak ada tanda-tanda dehidrasi. Evaluasi dilakukan setiap hari untuk memantau progres. Jika target belum tercapai, intervensi perlu dimodifikasi, misalnya dengan pemberian nutrisi enteral melalui selang nasogastrik jika disfagia berat persisten. SLKI ini menjadi acuan dalam mengukur keberhasilan asuhan keperawatan secara objektif dan terukur.
Kode SIKI: I.03114
Deskripsi : Manajemen Nutrisi adalah tindakan keperawatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi pasien yang mengalami defisit. Intervensi utama yang dilakukan meliputi: (1) Identifikasi status nutrisi pasien melalui pengukuran antropometri (berat badan, tinggi badan, lingkar lengan atas), pemeriksaan fisik (turgor kulit, membran mukosa), dan laboratorium (albumin, elektrolit); (2) Identifikasi penyebab defisit nutrisi, seperti disfagia, nyeri saat menelan, mual, atau faktor psikologis; (3) Monitor asupan makanan dan cairan secara ketat setiap kali makan, dengan mencatat jumlah yang dihabiskan; (4) Monitor berat badan setiap hari atau sesuai indikasi; (5) Monitor hasil laboratorium terkait nutrisi; (6) Lakukan kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan jenis nutrisi yang tepat, misalnya makanan lunak atau bubur, tinggi protein dan kalori; (7) Berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering (misalnya 6-8 kali sehari) untuk mengurangi beban lambung dan meningkatkan toleransi; (8) Berikan makanan yang mudah ditelan dengan tekstur lembek atau cair, sesuai kemampuan menelan pasien; (9) Lakukan modifikasi posisi saat makan, yaitu posisi duduk tegak 90 derajat dan kepala sedikit fleksi ke depan untuk memudahkan proses menelan dan mencegah aspirasi; (10) Berikan makanan dan minuman pada suhu yang nyaman, tidak terlalu panas atau dingin untuk mengurangi iritasi tenggorokan; (11) Ajarkan pasien teknik menelan yang aman, seperti menelan dengan konsentrasi penuh, menelan dua kali untuk setiap suapan, atau teknik mendongakkan dagu (chin tuck) saat menelan; (12) Berikan analgesik sebelum makan jika nyeri tenggorokan mengganggu, sesuai advis dokter; (13) Lakukan oral hygiene sebelum dan sesudah makan untuk meningkatkan nafsu makan dan mencegah infeksi; (14) Kolaborasi pemberian obat antiemetik jika ada mual; (15) Jika asupan oral tidak mencukupi, rekomendasikan pemberian nutrisi enteral melalui selang nasogastrik (NGT) atau parenteral sesuai indikasi dan kolaborasi medis; (16) Berikan edukasi kepada keluarga tentang pentingnya nutrisi dan cara menyajikan makanan yang menarik dan bernutrisi; (17) Libatkan keluarga dalam proses pemberian makan untuk memberikan dukungan psikologis. Intervensi ini dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan, dengan evaluasi harian terhadap asupan dan respons pasien. Tindakan observasi meliputi pengecekan tanda-tanda aspirasi (batuk, tersedak, perubahan suara) saat makan, serta monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit menurun, membran mukosa kering, output urin berkurang).
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan (dahak sulit keluar)
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekresi atau obstruksi pada jalan napas untuk mempertahankan kepatenan jalan napas. Pada pasien dengan keluhan batuk berdahak yang susah keluar dan sesak napas, diagnosis ini sangat tepat. Sekresi yang kental dan banyak dapat menyumbat bronkus dan bronkiolus, sehingga menghambat aliran udara masuk dan keluar paru-paru. Hal ini menyebabkan penurunan ventilasi, gangguan pertukaran gas, dan peningkatan kerja napas yang ditandai dengan sesak napas. Pada lansia, refleks batuk sering melemah akibat penuaan otot pernapasan dan silia yang kurang efektif, sehingga sekresi lebih sulit dikeluarkan. Faktor lain seperti nyeri tenggorokan membuat pasien enggan batuk karena memperberat rasa sakit. Kondisi ini dapat menyebabkan hipoksemia, atelektasis, dan pneumonia jika tidak ditangani. Penumpukan sekresi juga menjadi media pertumbuhan bakteri, meningkatkan risiko infeksi paru. Batuk yang tidak efektif ditandai dengan suara napas tambahan seperti ronkhi atau wheezing pada auskultasi, penggunaan otot bantu pernapasan, dan perubahan frekuensi serta kedalaman napas. Pasien mungkin tampak gelisah, sianosis pada tahap lanjut, dan penurunan kesadaran jika hipoksia berat. Diagnosis ini menjadi prioritas karena gangguan pernapasan dapat mengancam jiwa, terutama pada lansia dengan cadangan fungsional paru yang menurun.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas adalah luaran yang diharapkan setelah intervensi, dengan definisi kepatenan jalan napas yang terjaga dengan baik. Indikator yang dinilai meliputi: (1) Produksi sputum (jumlah, warna, konsistensi), (2) Kemampuan batuk efektif (mampu mengeluarkan sekresi tanpa bantuan), (3) Suara napas tambahan (ronkhi, wheezing) yang menghilang, (4) Frekuensi napas dalam rentang normal (16-20 kali per menit pada lansia), (5) Kedalaman napas (tidak dangkal), (6) Irama napas teratur, (7) Penggunaan otot bantu napas yang menurun, (8) Saturasi oksigen (SpO2) ≥ 95%, (9) Tidak ada sianosis, (10) Kemampuan mengeluarkan dahak secara mandiri. Target yang diharapkan untuk pasien ini adalah: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, kepatenan jalan napas membaik dengan skor indikator minimal 4. Pasien mampu batuk efektif dan mengeluarkan sputum, frekuensi napas kembali normal, suara napas bersih tanpa ronkhi/wheezing, SpO2 meningkat menjadi ≥95%, dan sesak napas berkurang. Evaluasi dilakukan setiap 4 jam untuk memantau status pernapasan akut. Jika tidak terjadi perbaikan, perlu dipertimbangkan tindakan lebih lanjut seperti fisioterapi dada, suction, atau bronkodilator sesuai kolaborasi medis. Luaran ini juga mencakup peningkatan kenyamanan pasien dan penurunan kecemasan akibat sesak napas.
Kode SIKI: I.010
Article No. 26634 | 14 Aug 2026
Klinis : Kasus 3 – Asuhan Keperawatan pada Pasien COVID-19 Tn. C, laki-laki berusia 60 tahun, datang ke IGD dengan keluhan demam, batuk, lemas, dan sesak napas sejak 4 hari yang lalu. Pasien mengatakan bahwa sejak dua hari terakhir kemampuan mencium dan merasakan makanan berkurang. Pasien memiliki riwayat diabetes melitus dan hipertensi. Pasien mengatakan selama beberapa hari terakhir nafsu makannya menurun karena merasa makanan tidak memiliki rasa seperti biasanya. Pasien juga mengatakan tubuhnya terasa sangat lemah dan lebih banyak berbaring di tempat tidur. Hasil pemeriksaan menunjukkan pasien tampak lemah dan cemas. Suhu tubuh 38,7°C, tekanan darah 150/90 mmHg, nadi 106 kali/menit, frekuensi napas 28 kali/menit, dan SpO₂ 90% tanpa oksigen. Pasien tampak bernapas lebih cepat dan menggunakan otot bantu pernapasan ringan. Hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan pasien positif COVID-19, sedangkan foto toraks menunjukkan gambaran pneumonia. Pasien mengatakan: “Saya takut penyakit saya semakin parah karena saya juga mempunyai diabetes. Saya merasa sulit bernapas dan sangat lemas.” Pasien kemudian dirawat untuk mendapatkan pemantauan kondisi pernapasan, suhu tubuh, status cairan, nutrisi, dan kondisi umum. .
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Asuhan Keperawatan pada Pasien COVID-19 (Tn. C, 60 tahun, dengan demam, batuk, sesak napas, hipoksemia, kelelahan, penurunan nafsu makan, ansietas, dan komorbid DM serta hipertensi)
Kode SDKI: D.0005 (Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif) ; D.0001 (Pola Napas Tidak Efektif) ; D.0014 (Gangguan Pertukaran Gas) ; D.0007 (Defisit Nutrisi) ; D.0065 (Ansietas) ; D.0054 (Intoleransi Aktivitas) ; D.0012 (Hipertermia)
Deskripsi Singkat: Berdasarkan kasus Tn. C, terdapat beberapa diagnosa keperawatan utama yang saling berkaitan. **Pertama, Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (D.0005)** ditegakkan karena pasien mengalami batuk produktif akibat pneumonia COVID-19, ditandai dengan data subjektif "batuk" dan objektif adanya gambaran pneumonia pada foto toraks, serta frekuensi napas meningkat (28x/menit) yang mengindikasikan upaya tubuh membersihkan sekret. **Kedua, Pola Napas Tidak Efektif (D.0001)** ditegakkan karena pasien menunjukkan sesak napas, penggunaan otot bantu pernapasan ringan, dan frekuensi napas 28x/menit (takipnea), yang merupakan respons fisiologis terhadap hipoksemia dan inflamasi paru. **Ketiga, Gangguan Pertukaran Gas (D.0014)** merupakan diagnosis kritis karena pasien memiliki SpO₂ 90% tanpa oksigen, yang menunjukkan hipoksemia. Hal ini diperberat oleh pneumonia COVID-19 yang mengganggu difusi gas di alveoli, serta riwayat hipertensi yang memengaruhi perfusi jaringan. **Keempat, Defisit Nutrisi (D.0007)** ditegakkan karena pasien mengalami penurunan nafsu makan akibat anosmia (penurunan kemampuan mencium dan merasakan makanan) yang dilaporkan sejak 2 hari terakhir, ditambah dengan kelemahan fisik dan kondisi demam yang meningkatkan kebutuhan metabolik. **Kelima, Ansietas (D.0065)** muncul dari pernyataan pasien "Saya takut penyakit saya semakin parah karena saya juga mempunyai diabetes" dan "Saya merasa sulit bernapas dan sangat lemas", yang menunjukkan ketakutan terhadap prognosis penyakit dan komplikasi komorbid. **Keenam, Intoleransi Aktivitas (D.0054)** ditegakkan karena pasien mengeluh tubuh sangat lemah, lebih banyak berbaring di tempat tidur, dan tampak lemah, yang disebabkan oleh hipoksemia, demam, dan kelelahan akibat infeksi sistemik. **Ketujuh, Hipertermia (D.0012)** ditegakkan karena suhu tubuh 38,7°C, yang merupakan respons inflamasi sistemik terhadap infeksi COVID-19, dan dapat menyebabkan peningkatan kebutuhan oksigen serta dehidrasi. Semua diagnosis ini saling memengaruhi; misalnya, hipertermia dan gangguan pertukaran gas memperberat intoleransi aktivitas, sementara ansietas dapat meningkatkan kerja napas dan memperburuk pola napas.
Kode SLKI: L.01001 (Bersihan Jalan Napas) ; L.01003 (Pola Napas) ; L.01002 (Pertukaran Gas) ; L.03024 (Status Nutrisi) ; L.09093 (Tingkat Ansietas) ; L.05047 (Toleransi Aktivitas) ; L.14134 (Termoregulasi)
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan adalah: **Untuk Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif (L.01001)**, kriteria hasil meliputi: batuk efektif, tidak ada dispnea, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan, frekuensi napas dalam rentang normal (16-20x/menit), dan suara napas bersih. **Untuk Pola Napas Tidak Efektif (L.01003)**, luaran yang diharapkan adalah: frekuensi napas normal, kedalaman napas adekuat, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan, dan tidak ada sianosis. **Untuk Gangguan Pertukaran Gas (L.01002)**, hasil yang diharapkan adalah: SpO₂ ≥95% dengan atau tanpa oksigen, PaO₂ dalam rentang normal, tidak ada sianosis, tidak ada gelisah, dan pasien melaporkan sesak napas berkurang. **Untuk Defisit Nutrisi (L.03024)**, hasil yang diharapkan adalah: nafsu makan meningkat, asupan oral adekuat (≥80% dari kebutuhan), berat badan stabil, pasien dapat merasakan rasa makanan secara bertahap, dan tidak ada tanda malnutrisi. **Untuk Ansietas (L.09093)**, hasil yang diharapkan adalah: pasien melaporkan perasaan takut/khawatir menurun, ekspresi wajah rileks, pasien mampu menggunakan teknik relaksasi, dan tanda vital stabil (tekanan darah dan nadi menurun ke rentang normal). **Untuk Intoleransi Aktivitas (L.05047)**, hasil yang diharapkan adalah: pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara bertahap, kelelahan berkurang, tidak ada dispnea saat beraktivitas ringan, dan pasien menunjukkan peningkatan toleransi terhadap latihan (misalnya, duduk di tepi tempat tidur). **Untuk Hipertermia (L.14134)**, hasil yang diharapkan adalah: suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5°C), tidak ada menggigil, kulit tidak hangat saat dipalpasi, dan tanda-tanda dehidrasi tidak ada.
Kode SIKI: I.01011 (Manajemen Jalan Napas) ; I.01004 (Pemantauan Respirasi) ; I.01001 (Manajemen Oksigenasi) ; I.03114 (Manajemen Nutrisi) ; I.09326 (Reduksi Ansietas) ; I.05138 (Manajemen Energi) ; I.15624 (Manajemen Hipertermia)
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang direncanakan untuk Tn. C adalah sebagai berikut: **Untuk Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif**, lakukan **Manajemen Jalan Napas (I.01011)** dengan tindakan: posisikan semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi paru, ajarkan batuk efektif, lakukan fisioterapi dada jika tidak kontraindikasi, berikan bronkodilator sesuai advis dokter, dan pantau karakteristik sekret. **Untuk Pola Napas Tidak Efektif dan Gangguan Pertukaran Gas**, lakukan **Pemantauan Respirasi (I.01004)** dan **Manajemen Oksigenasi (I.01001)**. Tindakannya meliputi: pantau frekuensi, kedalaman, dan irama napas setiap 2-4 jam; pantau SpO₂ secara kontinu; berikan oksigen sesuai target SpO₂ ≥92% (pada pasien dengan komorbid, target mungkin ≥94%); gunakan nasal kanul atau masker oksigen sesuai kebutuhan; posisikan pasien dengan elevasi kepala 30-45 derajat; dan kolaborasi untuk pemeriksaan analisis gas darah (AGD) jika diperlukan. **Untuk Defisit Nutrisi**, lakukan **Manajemen Nutrisi (I.03114)** dengan tindakan: kaji pola makan, toleransi makanan, dan status nutrisi; berikan makanan dalam porsi kecil tapi sering (misalnya 6x sehari); pilih makanan dengan tekstur yang mudah dikunyah dan ditelan; tingkatkan cita rasa makanan dengan bumbu yang aman (misalnya, tambahan garam atau gula sedikit) untuk mengompensasi anosmia; libatkan keluarga dalam penyediaan makanan yang disukai pasien; dan kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian suplementasi nutrisi jika asupan oral tidak mencukupi. **Untuk Ansietas**, lakukan **Reduksi Ansietas (I.09326)** dengan tindakan: berikan informasi yang akurat tentang kondisi pasien dan rencana perawatan; gunakan pendekatan tenang dan empati; ajarkan teknik relaksasi napas dalam; berikan kesempatan pasien untuk mengekspresikan perasaan; libatkan keluarga sebagai sistem pendukung; dan pantau tanda-tanda ansietas (tekanan darah, nadi, ekspresi wajah). **Untuk Intoleransi Aktivitas**, lakukan **Manajemen Energi (I.05138)** dengan tindakan: kaji tingkat kelelahan dan toleransi aktivitas; bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan aktivitas sehari-hari; atur jadwal aktivitas dan istirahat yang seimbang; tingkatkan aktivitas secara bertahap (misalnya, dari berbaring → duduk → berdiri → berjalan pendek); dan pantau respons pasien terhadap aktivitas (denyut nadi, frekuensi napas, SpO₂). **Untuk Hipertermia**, lakukan **Manajemen Hipertermia (I.15624)** dengan tindakan: pantau suhu tubuh setiap 2-4 jam; berikan kompres hangat pada area pembuluh darah besar (leher, ketiak, selangkangan); anjurkan pasien untuk banyak minum air putih (jika tidak ada kontraindikasi cairan); pertahankan suhu ruangan yang sejuk; berikan antipiretik sesuai advis dokter (misalnya parasetamol); dan ganti linen jika pasien berkeringat banyak untuk mencegah ketidaknyamanan dan menggigil. Semua intervensi ini harus didokumentasikan secara akurat, dievaluasi setiap 4-8 jam, dan disesuaikan dengan respons pasien. Kolaborasi dengan tim medis (dokter, fisioterapis, ahli gizi) sangat penting, terutama untuk manajemen oksigenasi, pengobatan antivirus, kontrol gula darah (karena DM), dan kontrol tekanan darah (karena hipertensi).
Article No. 26635 | 14 Aug 2026
Klinis : Tn. C, laki-laki berusia 60 tahun, datang ke IGD dengan keluhan demam, batuk, lemas, dan sesak napas sejak 4 hari yang lalu. Pasien mengatakan bahwa sejak dua hari terakhir kemampuan mencium dan merasakan makanan berkurang. Pasien memiliki riwayat diabetes melitus dan hipertensi. Pasien mengatakan selama beberapa hari terakhir nafsu makannya menurun karena merasa makanan tidak memiliki rasa seperti biasanya. Pasien juga mengatakan tubuhnya terasa sangat lemah dan lebih banyak berbaring di tempat tidur. Hasil pemeriksaan menunjukkan pasien tampak lemah dan cemas. Suhu tubuh 38,7°C, tekanan darah 150/90 mmHg, nadi 106 kali/menit, frekuensi napas 28 kali/menit, dan SpO₂ 90% tanpa oksigen. Pasien tampak bernapas lebih cepat dan menggunakan otot bantu pernapasan ringan. Hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan pasien positif COVID-19, sedangkan foto toraks menunjukkan gambaran pneumonia. Pasien mengatakan: “Saya takut penyakit saya semakin parah karena saya juga mempunyai diabetes. Saya merasa sulit bernapas dan sangat lemas.” Pasien kemudian dirawat untuk mendapatkan pemantauan kondisi pernapasan, suhu tubuh, status cairan, nutrisi, dan kondisi umum.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada Tn. C, kondisi ini ditandai dengan batuk produktif, demam (38,7°C), frekuensi napas meningkat (28 kali/menit), penggunaan otot bantu pernapasan ringan, dan SpO₂ 90% tanpa oksigen. Pneumonia yang menyertai COVID-19 menyebabkan peningkatan produksi sekret dan inflamasi pada saluran napas, sehingga pasien kesulitan membersihkan lendir secara efektif. Batuk yang dialami pasien merupakan mekanisme tubuh untuk mengeluarkan sekret, namun karena kelemahan fisik akibat demam dan penyakit kronis (diabetes melitus), upaya batuk menjadi tidak efektif. Hipoksemia ringan (SpO₂ 90%) menunjukkan adanya gangguan pertukaran gas akibat akumulasi sekret di jalan napas. Kondisi ini diperberat oleh riwayat hipertensi yang dapat mempengaruhi perfusi jaringan, serta imunitas yang menurun akibat diabetes melitus, sehingga proses inflamasi pada paru berlangsung lebih berat. Ketidakefektifan bersihan jalan napas jika tidak ditangani dapat menyebabkan atelektasis, pneumonia lebih luas, gagal napas, dan perburukan kondisi klinis secara keseluruhan.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan bersihan jalan napas membaik dengan kriteria hasil: (1) Batuk efektif meningkat, (2) Produksi sputum menurun, (3) Wheezing menurun, (4) Frekuensi napas membaik dalam rentang 16-20 kali/menit, (5) Kemampuan membersihkan jalan napas meningkat, (6) Suara napas tambahan menurun, (7) SpO₂ membaik dalam rentang 95-100%, (8) Penggunaan otot bantu napas menurun. Luaran ini diukur menggunakan skala dari 1 (memburuk) sampai 5 (membaik). Target yang diharapkan adalah skala 5 untuk batuk efektif dan SpO₂, serta skala 4 untuk indikator lainnya. Keberhasilan luaran ini memerlukan kolaborasi pemberian bronkodilator, mukolitik, dan terapi oksigen sesuai indikasi, serta edukasi teknik batuk efektif dan positioning. Pada pasien dengan diabetes melitus, kontrol gula darah juga penting karena hiperglikemia dapat memperberat inflamasi dan menghambat proses penyembuhan.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi: Intervensi utama yang diberikan adalah Latihan Batuk Efektif (I.01006) dan Manajemen Jalan Napas (I.01002). Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Identifikasi kemampuan batuk pasien, (2) Auskultasi bunyi napas sebelum dan sesudah batuk, (3) Monitor karakteristik sputum (warna, jumlah, konsistensi), (4) Monitor saturasi oksigen, (5) Berikan posisi semi-Fowler atau Fowler (30-45 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru, (6) Ajarkan teknik batuk efektif: tarik napas dalam melalui hidung, tahan 2-3 detik, kemudian batukkan dengan kuat dari dalam paru, (7) Lakukan fisioterapi dada (clapping dan vibration) jika tidak ada kontraindikasi, (8) Kolaborasi pemberian bronkodilator (misalnya salbutamol nebulizer) dan mukolitik sesuai advis dokter, (9) Berikan oksigen sesuai indikasi untuk mempertahankan SpO₂ ≥ 95%, (10) Anjurkan minum air hangat 1500-2000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi cairan, (11) Edukasi keluarga untuk membantu pasien dalam melakukan batuk efektif dan memberikan dukungan psikologis. Observasi tanda-tanda gagal napas seperti penurunan kesadaran, sianosis, dan retraksi dada harus dilakukan setiap 2 jam. Intervensi ini juga mencakup pemantauan tanda-tanda vital dan status pernapasan secara berkala, serta dokumentasi respons pasien terhadap terapi.
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah keadaan suhu tubuh meningkat di atas rentang normal (≥ 38°C) akibat kegagalan mekanisme pengaturan panas. Pada Tn. C, suhu tubuh 38,7°C menunjukkan hipertermia yang disebabkan oleh infeksi COVID-19 dengan pneumonia. Virus SARS-CoV-2 memicu respons imun tubuh yang melepaskan pirogen endogen (interleukin-1, interleukin-6, dan tumor necrosis factor-alpha) yang kemudian mempengaruhi hipotalamus untuk menaikkan set point suhu tubuh. Demam merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk melawan infeksi, namun demam tinggi yang berkepanjangan dapat menyebabkan peningkatan kebutuhan metabolik, kehilangan cairan, dan ketidaknyamanan. Pada pasien dengan diabetes melitus, hipertermia dapat menyebabkan dehidrasi dan ketidakseimbangan elektrolit yang memperburuk kontrol glukosa darah. Demam juga menyebabkan peningkatan frekuensi napas dan denyut jantung, yang pada pasien ini sudah meningkat (nadi 106 kali/menit, napas 28 kali/menit). Hipertermia yang tidak ditangani dapat menyebabkan kejang demam, gangguan kesadaran, dan kerusakan organ. Pasien mengeluh lemas yang diperberat oleh demam, karena peningkatan suhu tubuh menyebabkan vasodilatasi perifer dan penurunan tekanan darah efektif. Penanganan hipertermia harus dilakukan secara komprehensif, termasuk pemberian antipiretik, kompres hangat, dan pemenuhan kebutuhan cairan.
Kode SLKI: L.01034
Deskripsi: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan termoregulasi membaik dengan kriteria hasil: (1) Suhu tubuh membaik dalam rentang 36,5-37,5°C, (2) Suhu kulit membaik (tidak teraba panas), (3) Frekuensi napas membaik (16-20 kali/menit), (4) Frekuensi nadi membaik (60-100 kali/menit), (5) Menggigil menurun, (6) Warna kulit membaik (tidak kemerahan), (7) Tingkat kesadaran membaik (compos mentis). Skala pengukuran dari 1 (memburuk) sampai 5 (membaik), dengan target skala 5 untuk suhu tubuh dan skala 4 untuk indikator lainnya. Keberhasilan luaran ini memerlukan monitoring suhu secara berkala setiap 4 jam, manajemen cairan yang adekuat, serta kolaborasi pemberian antipiretik (parasetamol) dan antibiotik untuk mengatasi infeksi. Pada pasien diabetes, pemantauan kadar gula darah juga penting karena demam dapat menyebabkan hiperglikemia yang memperlambat penyembuhan.
Kode SIKI: I.01306
Deskripsi: Intervensi utama yang diberikan adalah Manajemen Hipertermia (I.01306). Tindakan yang dilakukan meliputi: (1) Identifikasi penyebab hipertermia (infeksi COVID-19), (2) Monitor suhu tubuh setiap 4 jam atau lebih sering jika demam tinggi, (3) Monitor tanda-tanda dehidrasi seperti turgor kulit menurun, membran mukosa kering, dan output urine menurun, (4) Monitor kadar elektrolit dan gula darah sesuai indikasi, (5) Berikan kompres hangat pada area lipatan tubuh (aksila, inguinal) selama 15-20 menit, (6) Anjurkan pasien untuk banyak minum air putih 1500-2000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi, (7) Berikan pakaian tipis yang menyerap keringat, (8) Atur suhu ruangan agar tetap sejuk (22-24°C), (9) Kolaborasi pemberian antipiretik (parasetamol 500-1000 mg setiap 6 jam sesuai advis) dan antibiotik untuk pneumonia, (10) Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya menjaga hidrasi dan mengenali tanda-tanda dehidrasi, (11) Anjurkan istirahat total untuk mengurangi produksi panas metabolik, (12) Monitor respons pasien terhadap terapi antipiretik. Observasi tanda-tanda syok septik seperti penurunan kesadaran, hipotensi, dan takikardi harus dilakukan secara ketat. Intervensi ini juga mencakup pemantauan intake dan output cairan setiap shift, serta dokumentasi respons pasien terhadap tindakan.
Kondisi: Defisit Nutrisi
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Defisit nutrisi adalah asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh. Pada Tn. C, kondisi ini ditandai dengan penurunan nafsu makan karena gangguan penciuman dan pengecapan akibat COVID-19. Pasien mengatakan makanan terasa tidak memiliki rasa seperti biasanya, sehingga asupan makanan menurun secara signifikan. Selain itu, demam meningkatkan kebutuhan metabolik basal tubuh (setiap kenaikan suhu 1°C meningkatkan kebutuhan kalori sekitar 10-12%), sementara pasien juga mengalami kelemahan fisik yang membatasi kemampuan untuk makan. Diabetes melitus yang diderita pasien memperberat kondisi ini karena gangguan metabolisme glukosa menyebabkan tubuh tidak dapat menggunakan energi secara efisien. Penurunan asupan nutrisi pada pasien dengan infeksi berat dapat menyebabkan malnutrisi, penurunan massa otot, dan imunosupresi yang memperlambat proses penyembuhan. Pasien yang lebih banyak berbaring di tempat tidur juga mengalami penurunan motilitas gastrointestinal yang dapat menyebabkan konstipasi dan kembung, semakin memperburuk nafsu makan. Defisit nutrisi yang berkepanjangan dapat menyebabkan penurunan berat badan, kelem
Article No. 26636 | 14 Aug 2026
Klinis : manajemen hipertermia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Manajemen Hipertermia
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah keadaan suhu tubuh seseorang meningkat melebihi batas normal (>37,5°C) akibat kegagalan mekanisme pengaturan panas tubuh atau paparan lingkungan yang berlebihan. Dalam konteks SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), hipertermia didefinisikan sebagai peningkatan suhu tubuh inti yang persisten di atas rentang normal (36,5-37,5°C) karena ketidakmampuan tubuh untuk melakukan termoregulasi. Kondisi ini berbeda dengan demam (yang merupakan respons fisiologis terhadap pirogen), karena hipertermia terjadi ketika produksi panas melebihi pengeluaran panas, atau ketika pusat pengaturan suhu di hipotalamus gagal berfungsi optimal. Etiologi hipertermia meliputi: dehidrasi, paparan lingkungan panas, proses penyakit (infeksi, inflamasi, keganasan), aktivitas berlebihan, penggunaan obat-obatan tertentu (seperti anestesi, antikolinergik), serta gangguan pada sistem saraf pusat. Faktor risiko yang memperberat meliputi usia ekstrem (bayi dan lansia), obesitas, penyakit kardiovaskular, dan gangguan fungsi ginjal. Jika tidak ditangani, hipertermia dapat menyebabkan kerusakan organ multisistem, rhabdomyolysis, koagulopati, hingga kematian. Oleh karena itu, diagnosis ini memerlukan intervensi yang cepat dan tepat untuk menurunkan suhu tubuh secara bertahap, mencegah komplikasi, serta mengatasi penyebab yang mendasarinya. Pada SDKI, diagnosis hipertermia memiliki karakteristik mayor berupa suhu tubuh di atas normal, dan karakteristik minor seperti kulit teraba hangat, takikardia, takipnea, serta perubahan warna kulit (kemerahan). Kondisi ini berhubungan dengan peningkatan laju metabolisme, penyakit, trauma, atau ketidakseimbangan cairan dan elektrolit.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi: SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) untuk hipertermia menetapkan luaran utama yang diharapkan setelah intervensi keperawatan. Luaran yang ditetapkan oleh PPNI adalah "Termoregulasi" dengan kode L.14134. Definisi luaran ini adalah kemampuan individu untuk mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5°C) serta mengelola respons fisiologis terhadap perubahan suhu lingkungan dan internal. Kriteria hasil yang terukur meliputi: (1) Suhu tubuh dalam rentang normal (36,5-37,5°C) – diukur dengan termometer, (2) Nadi dan frekuensi pernapasan dalam rentang normal (nadi 60-100x/menit, napas 16-20x/menit), (3) Tidak adanya menggigil, (4) Kulit tidak kemerahan dan hangat, (5) Kemampuan beraktivitas tanpa kelelahan berlebihan, (6) Hidrasi adekuat (turgor kulit baik, membran mukosa lembab, output urine normal). Luaran ini berskala dari 1 (sangat buruk) hingga 5 (sangat baik), dengan target yang diharapkan adalah peningkatan skala menjadi 4-5 setelah dilakukan intervensi. SLKI juga mencakup luaran tambahan seperti "Keseimbangan Cairan" (L.03020) dan "Perfusi Perifer" (L.02011) sebagai luaran yang terkait, karena hipertermia sering disertai dehidrasi dan gangguan sirkulasi. Penetapan luaran ini penting untuk mengevaluasi efektivitas asuhan keperawatan, memandu perencanaan tindak lanjut, dan memastikan keselamatan pasien. Luaran ini harus diukur secara berkala, misalnya setiap 2-4 jam selama fase akut, dan didokumentasikan secara objektif dalam catatan keperawatan.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi: SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) untuk hipertermia menetapkan intervensi utama yang disebut "Manajemen Hipertermia" dengan kode I.15506. Intervensi ini didefinisikan sebagai serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk menurunkan suhu tubuh ke rentang normal, mengidentifikasi dan mengatasi penyebab, serta mencegah komplikasi. Tindakan yang termasuk dalam intervensi ini, berdasarkan panduan PPNI, meliputi:
(1) Observasi: - Monitor suhu tubuh (setiap 2 jam atau lebih sering jika tidak stabil) - Monitor warna, suhu, dan kelembaban kulit - Monitor tanda-tanda vital (nadi, pernapasan, tekanan darah) - Monitor asupan dan keluaran cairan - Identifikasi penyebab hipertermia (infeksi, dehidrasi, paparan panas, dll) - Monitor kadar elektrolit dan tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, rasa haus)
(2) Terapeutik: - Berikan kompres hangat pada area pembuluh darah besar (leher, ketiak, selangkangan) dengan suhu 30-35°C, hindari kompres dingin karena dapat menyebabkan vasokonstriksi dan menggigil - Berikan cairan oral atau intravena sesuai indikasi (misalnya, 2-3 liter/hari untuk dewasa, disesuaikan kondisi) - Gunakan selimut pendingin atau kipas angin untuk meningkatkan evaporasi - Atur suhu lingkungan yang nyaman (20-22°C) dan pastikan ventilasi baik - Anjurkan pasien untuk berbaring dengan pakaian tipis dan menyerap keringat - Berikan obat antipiretik sesuai order dokter (misalnya parasetamol 500-1000 mg setiap 6 jam) jika penyebabnya demam, namun pada hipertermia murni karena lingkungan, antipiretik tidak efektif - Lakukan tepid sponge (spons air hangat) jika diperlukan
(3) Edukasi: - Jelaskan penyebab hipertermia dan pentingnya menjaga hidrasi - Ajarkan pasien dan keluarga cara mengukur suhu tubuh yang benar - Anjurkan untuk menghindari aktivitas berat di lingkungan panas - Ajarkan tanda-tanda bahaya yang perlu dilaporkan (misalnya, kebingungan, kejang, penurunan kesadaran)
(4) Kolaborasi: - Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian cairan parenteral, elektrolit, atau obat - Rujuk ke fisioterapi jika diperlukan untuk latihan fisik yang aman.
Intervensi ini dilakukan secara bertahap, dengan evaluasi setiap 2-4 jam untuk melihat respons terhadap tindakan. Dokumentasi harus mencakup suhu sebelum dan sesudah intervensi, respons pasien, serta komplikasi yang mungkin timbul. Tindakan ini harus disesuaikan dengan kondisi individual pasien, usia, dan penyakit penyerta.
Article No. 26637 | 14 Aug 2026
Klinis : Tn. C, laki-laki berusia 60 tahun, datang ke IGD dengan keluhan demam, batuk, lemas, dan sesak napas sejak 4 hari yang lalu. Pasien mengatakan bahwa sejak dua hari terakhir kemampuan mencium dan merasakan makanan berkurang. Pasien memiliki riwayat diabetes melitus dan hipertensi. Pasien mengatakan selama beberapa hari terakhir nafsu makannya menurun karena merasa makanan tidak memiliki rasa seperti biasanya. Pasien juga mengatakan tubuhnya terasa sangat lemah dan lebih banyak berbaring di tempat tidur. Hasil pemeriksaan menunjukkan pasien tampak lemah dan cemas. Suhu tubuh 38,7°C, tekanan darah 150/90 mmHg, nadi 106 kali/menit, frekuensi napas 28 kali/menit, dan SpO₂ 90% tanpa oksigen. Pasien tampak bernapas lebih cepat dan menggunakan otot bantu pernapasan ringan. Hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan pasien positif COVID-19, sedangkan foto toraks menunjukkan gambaran pneumonia. Pasien mengatakan: “Saya takut penyakit saya semakin parah karena saya juga mempunyai diabetes. Saya merasa sulit bernapas dan sangat lemas.” Pasien kemudian dirawat untuk mendapatkan pemantauan kondisi pernapasan, suhu tubuh, status cairan, nutrisi, dan kondisi umum.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada Tn. C, kondisi ini ditandai dengan batuk produktif, sesak napas, frekuensi napas 28 kali/menit, penggunaan otot bantu pernapasan ringan, SpO₂ 90% tanpa oksigen, dan gambaran pneumonia pada foto toraks akibat infeksi COVID-19 yang menyebabkan peningkatan produksi sekret dan inflamasi pada saluran pernapasan. Pasien juga mengalami kelemahan fisik (lemas) yang mengurangi kemampuan batuk efektif untuk mengeluarkan sekret, sehingga sekret tertahan dan memperberat gangguan pertukaran gas.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas Efektif. Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan jalan napas pasien paten dengan kriteria hasil: (1) batuk efektif meningkat, (2) produksi sputum menurun, (3) dispnea menurun, (4) frekuensi napas membaik dalam rentang 16-20 kali/menit, (5) penggunaan otot bantu pernapasan menurun, (6) SpO₂ meningkat menjadi ≥95% dengan atau tanpa oksigen, (7) suara napas tambahan (ronki/wheezing) menurun, (8) kemampuan membersihkan jalan napas meningkat. Pasien mampu menunjukkan teknik batuk efektif, mampu mengeluarkan sekret secara mandiri atau dengan bantuan, dan tidak menunjukkan tanda-tanda distress pernapasan.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Latihan Batuk Efektif. Tindakan melatih pasien melakukan batuk efektif untuk mengeluarkan sekret. Intervensi utama: (1) Identifikasi kemampuan batuk pasien; (2) Identifikasi risiko aspirasi; (3) Berikan posisi semi-fowler atau fowler (tinggikan kepala tempat tidur 30-45 derajat) untuk memudahkan ekspansi paru; (4) Anjurkan pasien menarik napas dalam melalui hidung selama 3-4 detik, tahan 2 detik, lalu hembuskan perlahan melalui mulut; (5) Anjurkan batuk efektif dengan menahan napas singkat dan batuk kuat dari dalam paru; (6) Ajarkan teknik napas dalam (deep breathing) sebelum batuk; (7) Kolaborasikan pemberian mukolitik atau ekspektoran sesuai indikasi; (8) Monitor tanda-tanda hipoksia (sianosis, gelisah, penurunan kesadaran); (9) Berikan air hangat untuk membantu mengencerkan sekret. Tindakan observasi: monitor frekuensi, irama, kedalaman napas; monitor bunyi napas tambahan; monitor sputum (warna, jumlah, konsistensi). Tindakan edukasi: jelaskan tujuan dan prosedur batuk efektif; ajarkan keluarga cara membantu pasien batuk efektif (misalnya menepuk punggung dengan telapak tangan membentuk mangkuk).
Kondisi: Hipertermia
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Suhu tubuh inti meningkat di atas rentang normal (>37,5°C) akibat kegagalan mekanisme termoregulasi. Pada Tn. C, suhu tubuh 38,7°C menunjukkan hipertermia yang disebabkan oleh respons inflamasi sistemik terhadap infeksi COVID-19 dan pneumonia. Demam merupakan manifestasi dari pelepasan pirogen endogen (seperti interleukin-1, interleukin-6, dan tumor necrosis factor) yang merangsang hipotalamus untuk meningkatkan set point suhu. Kondisi ini diperberat oleh dehidrasi dan kelemahan umum yang mengurangi kemampuan tubuh untuk melakukan termoregulasi efektif. Demam juga meningkatkan kebutuhan metabolisme basal dan konsumsi oksigen, yang dapat memperburuk kondisi pernapasan pasien yang sudah mengalami hipoksemia.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Termoregulasi Membaik. Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 1x24 jam, diharapkan suhu tubuh pasien kembali normal dengan kriteria hasil: (1) suhu tubuh membaik dalam rentang 36,5-37,5°C, (2) suhu kulit membaik (tidak teraba panas), (3) frekuensi napas membaik (tidak takipnea akibat demam), (4) frekuensi nadi membaik (dalam rentang 60-100 kali/menit), (5) menggigil menurun, (6) pucat menurun, (7) konsumsi oksigen menurun, (8) tanda-tanda dehidrasi menurun. Pasien tidak mengalami komplikasi akibat demam tinggi, seperti kejang atau penurunan kesadaran, dan mampu mempertahankan hidrasi yang adekuat.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Manajemen Hipertermia. Tindakan untuk mengendalikan suhu tubuh pasien. Intervensi utama: (1) Identifikasi penyebab hipertermia (infeksi COVID-19, pneumonia); (2) Monitor suhu tubuh setiap 2-4 jam atau sesuai indikasi; (3) Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit menurun, mukosa mulut kering, urine pekat); (4) Longgarkan atau lepaskan pakaian pasien yang tebal; (5) Berikan kompres hangat pada aksila, lipatan paha, dan dahi selama 15-20 menit; (6) Anjurkan pasien untuk minum air hangat 1500-2000 ml/hari sesuai toleransi (jika tidak ada kontraindikasi); (7) Berikan selimut tipis atau gunakan kipas untuk meningkatkan evaporasi; (8) Kolaborasikan pemberian antipiretik (parasetamol) sesuai indikasi; (9) Kolaborasikan pemberian cairan intravena jika pasien tidak mampu minum oral; (10) Monitor tanda-tanda syok atau komplikasi demam. Tindakan edukasi: jelaskan tentang penyebab demam dan pentingnya hidrasi; ajarkan pasien dan keluarga cara mengukur suhu tubuh dan melakukan kompres hangat di rumah. Tindakan observasi: monitor tanda-tanda vital lengkap, monitor input dan output cairan.
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbon dioksida pada membran alveolar-kapiler. Pada Tn. C, kondisi ini ditandai dengan SpO₂ 90% tanpa oksigen, frekuensi napas 28 kali/menit (takipnea), sesak napas, dan gambaran pneumonia pada foto toraks. Infeksi COVID-19 menyebabkan kerusakan alveoli, edema interstisial, dan pembentukan membran hialin yang mengganggu difusi oksigen dari alveolus ke kapiler darah. Pneumonia menambah luas area konsolidasi paru, sehingga terjadi ketidakseimbangan ventilasi-perfusi (shunt). Hipoksemia yang terjadi dapat menyebabkan kerusakan sel lebih lanjut dan disfungsi multi organ jika tidak ditangani. Pasien juga memiliki riwayat diabetes melitus yang memperburuk fungsi imun dan penyembuhan jaringan paru.
Kode SLKI: L.01003
Deskripsi : Pertukaran Gas Membaik. Setelah dilakukan intervensi keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan oksigenasi pasien adekuat dengan kriteria hasil: (1) SpO₂ meningkat menjadi ≥95% dengan atau tanpa oksigen tambahan, (2) PaO₂ membaik (80-100 mmHg), (3) PaCO₂ membaik (35-45 mmHg), (4) dispnea menurun, (5) frekuensi napas membaik (16-20 kali/menit), (6) bunyi napas tambahan menurun, (7) gelisah menurun, (8) kesadaran membaik (GCS 15), (9) sianosis menurun, (10) kemampuan melakukan aktivitas fisik meningkat tanpa mengalami sesak. Pasien mampu mempertahankan jalan napas paten, tidak menunjukkan tanda-tanda hipoksia, dan dapat beraktivitas secara bertahap tanpa distress pernapasan.
Kode SIKI: I.01003
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas dan Pemberian Oksigen. Tindakan untuk memastikan kepatenan jalan napas dan memberikan oksigenasi yang adekuat. Intervensi utama: (1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman, dan usaha napas; (2) Monitor saturasi oksigen (SpO₂) secara kontinu; (3) Monitor analisa gas darah (AGD) sesuai indikasi; (4) Berikan posisi semi-fowler atau fowler (elevasi kepala 30-45 derajat) untuk meningkatkan ekspansi paru dan mengurangi kerja napas; (5) Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi dan titrasi untuk mencapai SpO₂ target ≥94% (gunakan nasal kanul 2-6 liter/menit atau masker rebreathing sesuai kebutuhan); (6) Anjurkan pasien untuk melakukan napas dalam dan perlahan; (7) Ajarkan teknik relaksasi napas (pursed-lip breathing) untuk mengurangi sesak; (8) Kolaborasikan pemberian bronkodilator dan kortikosteroid sesuai indikasi medis; (9) Kolaborasikan fisioterapi dada (postural drainase, perkusi, dan vibrasi) jika tidak kontraindikasi; (10) Monitor tanda-tanda gagal napas (penurunan kesadaran, retraksi dada, sianosis sentral) dan laporkan segera ke dokter. Tindakan edukasi: jelaskan pentingnya oksigenasi dan tanda-tanda yang harus dilaporkan; ajarkan pasien teknik napas dalam
Article No. 26638 | 14 Aug 2026
Klinis : Tn. C, laki-laki berusia 60 tahun, datang ke IGD dengan keluhan demam, batuk, lemas, dan sesak napas sejak 4 hari yang lalu. Pasien mengatakan bahwa sejak dua hari terakhir kemampuan mencium dan merasakan makanan berkurang. Pasien memiliki riwayat diabetes melitus dan hipertensi. Pasien mengatakan selama beberapa hari terakhir nafsu makannya menurun karena merasa makanan tidak memiliki rasa seperti biasanya. Pasien juga mengatakan tubuhnya terasa sangat lemah dan lebih banyak berbaring di tempat tidur. Hasil pemeriksaan menunjukkan pasien tampak lemah dan cemas. Suhu tubuh 38,7°C, tekanan darah 150/90 mmHg, nadi 106 kali/menit, frekuensi napas 28 kali/menit, dan SpO₂ 90% tanpa oksigen. Pasien tampak bernapas lebih cepat dan menggunakan otot bantu pernapasan ringan. Hasil pemeriksaan penunjang menunjukkan pasien positif COVID-19, sedangkan foto toraks menunjukkan gambaran pneumonia. Pasien mengatakan: “Saya takut penyakit saya semakin parah karena saya juga mempunyai diabetes. Saya merasa sulit bernapas dan sangat lemas.” Pasien kemudian dirawat untuk mendapatkan pemantauan kondisi pernapasan, suhu tubuh, status cairan, nutrisi, dan kondisi umum.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif berhubungan dengan sekresi yang tertahan (pneumonia COVID-19)
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekresi atau obstruksi jalan napas untuk mempertahankan kepatenan jalan napas. Pada kondisi Tn. C, hal ini disebabkan oleh pneumonia COVID-19 yang menyebabkan produksi sekret berlebih dan inflamasi pada saluran napas. Pasien menunjukkan frekuensi napas 28 kali/menit (takipnea), penggunaan otot bantu pernapasan ringan, dan SpO₂ 90% yang mengindikasikan hipoksemia. Batuk produktif yang dialami pasien merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkan sekret, namun karena kelemahan umum (lemas) dan tirah baring, kemampuan batuk efektif menurun. Hal ini diperberat oleh riwayat diabetes melitus yang mengganggu fungsi imun dan memperlambat resolusi inflamasi. Gejala klinis seperti sesak napas, peningkatan frekuensi napas, dan penurunan saturasi oksigen merupakan manifestasi dari akumulasi sekret yang menyumbat jalan napas, sehingga ventilasi dan oksigenasi terganggu. Kondisi ini memerlukan intervensi segera untuk mencegah komplikasi lebih lanjut seperti gagal napas.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan bersihan jalan napas membaik dengan kriteria hasil: (1) Batuk efektif meningkat dari skala 2 menjadi 5 (skala 1-5, 5=baik), (2) Produksi sputum menurun dari skala 4 menjadi 2, (3) Frekuensi napas membaik dalam rentang normal 16-20 kali/menit, (4) Penggunaan otot bantu napas menurun dari skala 3 menjadi 1, (5) Suara napas tambahan (ronki) menurun, (6) Dispnea menurun dari skala 4 menjadi 2, (7) Saturasi oksigen meningkat dari 90% menjadi ≥95% dengan atau tanpa oksigen tambahan. Luaran ini mengacu pada kemampuan pasien untuk mempertahankan kepatenan jalan napas, menunjukkan kemampuan batuk efektif, dan mencapai ventilasi yang adekuat. Indikator-indikator tersebut diukur menggunakan skala Likert yang tersedia dalam SLKI, dengan target peningkatan yang realistis mengingat kondisi akut pneumonia COVID-19 dan komorbid diabetes melitus serta hipertensi. Pemantauan dilakukan setiap shift untuk mengevaluasi progresivitas perbaikan.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Intervensi utama yang dilakukan adalah Latihan Batuk Efektif (I.01006) dan Manajemen Jalan Napas (I.01002). Tindakan meliputi: (1) Monitor pola napas (frekuensi, kedalaman, usaha napas) setiap 2 jam, (2) Monitor bunyi napas tambahan (ronki, wheezing) setiap 4 jam, (3) Monitor sputum (jumlah, warna, konsistensi) setiap shift, (4) Pertahankan kepatenan jalan napas dengan posisi semi-Fowler (30-45 derajat) untuk memudahkan ekspansi paru dan drainase sekret, (5) Ajarkan teknik batuk efektif: tarik napas dalam melalui hidung, tahan 2-3 detik, kemudian batuk dengan kuat dan singkat, dilakukan 3-5 kali setiap sesi, diulang setiap 2 jam saat pasien terjaga, (6) Lakukan fisioterapi dada (postural drainase dan perkusi/vibrasi) jika tidak ada kontraindikasi (misalnya hipoksia berat), dengan hati-hati karena pasien memiliki komorbid, (7) Berikan bronkodilator (jika diresepkan) melalui nebulizer sesuai indikasi, (8) Kolaborasi pemberian mukolitik (N-asetilsistein) dan ekspektoran sesuai advis dokter, (9) Anjurkan minum air hangat 1500-2000 ml/hari jika tidak ada kontraindikasi gagal jantung, untuk mengencerkan sekret, (10) Monitor saturasi oksigen kontinu dan berikan oksigen nasal kanul 2-4 liter/menit untuk mencapai SpO₂ ≥95%, (11) Evaluasi efektivitas intervensi setiap 8 jam dan dokumentasikan respon pasien.
Kondisi: Hipertermia berhubungan dengan proses infeksi (COVID-19)
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal (36,5-37,5°C) akibat kegagalan mekanisme termoregulasi. Pada Tn. C, suhu tubuh 38,7°C menunjukkan hipertermia yang disebabkan oleh respons inflamasi sistemik terhadap infeksi virus SARS-CoV-2. Virus ini memicu pelepasan pirogen endogen (IL-1, IL-6, TNF-α) yang mengaktivasi pusat termoregulasi di hipotalamus, sehingga meningkatkan set point suhu tubuh. Demam merupakan mekanisme pertahanan tubuh untuk menghambat replikasi virus, namun demam yang berkepanjangan dapat meningkatkan kebutuhan metabolisme basal, konsumsi oksigen, dan memperberat kerja jantung. Pada pasien dengan diabetes melitus, hipertermia dapat menyebabkan dehidrasi dan ketidakstabilan glukosa darah. Demam juga berkontribusi pada penurunan nafsu makan dan kelemahan fisik yang dialami pasien. Hipertermia yang tidak ditangani dapat menyebabkan komplikasi seperti kejang demam (pada lansia berisiko), dehidrasi, dan perburukan fungsi organ. Oleh karena itu, pemantauan suhu dan intervensi penurunan suhu menjadi prioritas.
Kode SLKI: L.01034
Deskripsi : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan termoregulasi membaik dengan kriteria hasil: (1) Suhu tubuh membaik dalam rentang 36,5-37,5°C, (2) Suhu kulit membaik (tidak teraba hangat/panas), (3) Frekuensi napas membaik dalam rentang normal, (4) Frekuensi nadi membaik dalam rentang 60-100 kali/menit, (5) Warna kulit membaik (tidak kemerahan), (6) Menggigil menurun dari skala 3 menjadi 1, (7) Kadar glukosa darah stabil dalam rentang 80-180 mg/dL (karena komorbid diabetes). Luaran ini menargetkan tercapainya normotermia dan tidak adanya tanda-tanda hipermetabolisme. Pemantauan suhu dilakukan setiap 4 jam, dan target dicapai secara bertahap. Perlu diperhatikan bahwa pada pasien lansia dengan diabetes, respons demam mungkin tidak setinggi populasi umum, namun suhu 38,7°C tetap memerlukan intervensi aktif. Indikator tambahan seperti hidrasi (turgor kulit, membran mukosa) juga dievaluasi untuk mencegah dehidrasi akibat demam.
Kode SIKI: I.01506
Deskripsi : Intervensi utama yang dilakukan adalah Manajemen Hipertermia (I.01506). Tindakan meliputi: (1) Monitor suhu tubuh setiap 4 jam atau lebih sering jika demam tinggi (≥39°C) atau jika terjadi menggigil, (2) Monitor suhu lingkungan dan pertahankan ruangan dengan ventilasi baik, suhu ruangan 20-24°C, (3) Berikan kompres hangat pada area pembuluh darah besar (leher, aksila, lipat paha) selama 15-20 menit, hindari kompres dingin karena dapat menyebabkan menggigil dan meningkatkan produksi panas, (4) Anjurkan pasien memakai pakaian tipis yang menyerap keringat, (5) Berikan cairan oral 2000-2500 ml/hari (air putih, jus hangat) jika tidak ada kontraindikasi, untuk mengganti cairan yang hilang akibat demam, dengan pemantauan ketat status cairan karena hipertensi dan diabetes, (6) Kolaborasi pemberian antipiretik (parasetamol 500-1000 mg setiap 6 jam sesuai advis dokter) jika suhu >38,5°C atau pasien merasa tidak nyaman, (7) Monitor tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, membran mukosa, produksi urine), (8) Anjurkan tirah baring untuk mengurangi produksi panas metabolik, (9) Evaluasi efektivitas intervensi setelah 30-60 menit pemberian antipiretik dan dokumentasikan respon suhu, (10) Kolaborasi pemeriksaan kultur darah/jika dicurigai infeksi sekunder, dan pantau hasil laboratorium (leukosit, prokalsitonin) untuk mengevaluasi respons infeksi.
Kondisi: Defisit Nutrisi berhubungan dengan penurunan nafsu makan sekunder akibat perubahan sensori penciuman dan pengecapan
Kode SDKI: D.0019
Deskripsi Singkat: Defisit nutrisi adalah asupan nutrisi yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolisme. Pada Tn. C, kondisi ini disebabkan oleh anoreksia akibat penurunan kemampuan mencium (anosmia) dan merasakan makanan (ageusia) yang merupakan gejala khas COVID-19. Pasien menyatakan bahwa makanan terasa tidak memiliki rasa, sehingga nafsu makan menurun drastis. Selain itu, demam meningkatkan kebutuhan kalori basal sekitar 13% setiap kenaikan suhu 1°C, dan proses infeksi memerlukan energi tambahan untuk respons imun. Pasien juga mengalami kelemahan fisik yang membatasi aktivitas, namun asupan oral tidak adekuat. Riwayat diabetes melitus memperberat kondisi karena gangguan metabolisme glukosa, dan asupan yang kurang dapat menyebabkan hipoglikemia atau ketidakstabilan gula darah. Malnutrisi pada pasien COVID-19 meningkatkan risiko perburukan klinis, perpan
Article No. 26617 | 14 Aug 2026
Klinis : pasien datang dengan kel penurunan kesadaran mulai tadi pagi ,demam , pusing mual - gds 137 pasien post rawat inap di rs ibnu sina dan rs hermina dengan peradangan otak RPS: penkes KU lemah, somnolen TD: 154/95 mmHg HR: 108 x/m RR: 29 x/m SB: 36 C SpO2: 100% Mata RC +/+ isokor 3mm/3mm JVP kesan tidak meningkat Thorax SDV +/+ RBH -/- WHZ -/-, S1S2 regular Abd BU (+), NT (-) Ext atas akral hangat, crt <2s, edema (-/-) Ext Bawah akral hangat, crt <2s, edema (-/-) Sensorik : sde Motorik : sde Refleks fisiologis: +2 || +2 +2 || +2 Refleks patologis : - || - - || - kaki kuduk: + Komplikasi tirah baring: - Infeksi: - - Stress ulcer: - - DVT: - - Disfagia: - - Cemas: - Hematologi Hemoglobin 12,93 Eritrosit 5,59 Leukosit 21,21 ↑ Trombosit 437 Kimia Klinik Fungsi Hati AST (SGOT) 79 ↑ ALT (SGPT) 131 ↑ Fungsi Ginjal Ureum 42,8 Kreatinin 0,70 Glukosa Darah GDS 127 Elektrolit Natrium 126 ↓ Kalium 3,3 ↓ Chlorida 88 ↓ Calsium 1,1 pH 7,425 RO Thorax Kesan : -Pulmo dan besar cor normal CT Kepala (PLAN) Kesan :
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Somnolen) pada Pasien dengan Peradangan Otak (Ensefalitis) disertai Demam, Defisit Neurologis, dan Gangguan Elektrolit
Kode SDKI: D.0005 (Penurunan Kesadaran) / D.0001 (Hipertermia) / D.0018 (Defisit Nutrisi) / D.0085 (Risiko Cedera)
Deskripsi Singkat: Penurunan kesadaran adalah kondisi di mana pasien mengalami penurunan tingkat kesadaran dari normal menjadi somnolen (mengantuk berlebihan, mudah tertidur, tetapi masih dapat dibangunkan dengan rangsangan). Pada kasus ini, penurunan kesadaran disebabkan oleh peradangan otak (ensefalitis) yang ditandai dengan demam tinggi (SB 36°C), leukositosis (21.210), peningkatan enzim hati (AST/ALT), serta gangguan elektrolit (hiponatremia, hipokalemia, hipokloremia). Penurunan kesadaran ini merupakan manifestasi dari disfungsi serebral akibat proses inflamasi, edema serebral, dan ketidakseimbangan elektrolit yang mengganggu fungsi neuron. Pasien juga menunjukkan tanda-tanda meningitis (kaku kuduk positif) yang memperberat kondisi neurologis. Penurunan kesadaran berdampak pada ketidakmampuan pasien untuk mempertahankan jalan napas, menelan, makan/minum, serta melakukan aktivitas perawatan diri, sehingga memerlukan intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mencegah komplikasi lebih lanjut seperti aspirasi, malnutrisi, cedera, dan kerusakan integritas kulit.
Kode SLKI: L.13014 (Tingkat Kesadaran) / L.13015 (Status Neurologis) / L.14134 (Termoregulasi) / L.03035 (Status Nutrisi)
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan adalah: (1) Tingkat kesadaran membaik, dengan kriteria: pasien mampu membuka mata spontan, merespon perintah verbal, orientasi terhadap waktu, tempat, dan orang membaik, Glasgow Coma Scale (GCS) meningkat dari E3V4M5 menjadi E4V5M6. (2) Status neurologis membaik, ditandai dengan penurunan refleks patologis, kaku kuduk berkurang, tidak ada defisit motorik/sensorik baru, dan fungsi saraf kranial normal. (3) Termoregulasi membaik, dengan kriteria: suhu tubuh dalam rentang normal (36-37°C), tidak menggigil, kulit tidak kemerahan. (4) Status nutrisi membaik, ditandai dengan asupan oral adekuat, tidak ada tanda malnutrisi, berat badan stabil, dan kadar elektrolit dalam rentang normal (Natrium 135-145 mmol/L, Kalium 3.5-5.0 mmol/L, Chlorida 98-106 mmol/L). Selain itu, luaran lain yang diharapkan adalah tidak terjadi cedera, tidak terjadi aspirasi, dan tidak terjadi komplikasi tirah baring seperti ulkus dekubitus, DVT, atau infeksi nosokomial.
Kode SIKI: I.06217 (Manajemen Kesadaran) / I.06182 (Manajemen Hipertermia) / I.03119 (Manajemen Nutrisi) / I.06186 (Manajemen Cairan dan Elektrolit)
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: (1) Manajemen Kesadaran: pantau tingkat kesadaran menggunakan GCS setiap 1-2 jam, kaji respon pupil (ukuran, simetris, refleks cahaya), monitor tanda-tanda vital setiap 1 jam, posisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat) untuk menurunkan tekanan intrakranial, hindari manuver valsava, batasi stimulus eksternal (cahaya, suara), kolaborasi pemberian obat antipiretik (paracetamol) dan antibiotik sesuai indikasi, serta siapkan alat resusitasi jika terjadi penurunan kesadaran lebih lanjut. (2) Manajemen Hipertermia: pantau suhu tubuh setiap 1-2 jam, berikan kompres hangat pada area pembuluh darah besar (leher, aksila, inguinal), berikan cairan intravena sesuai program, anjurkan keluarga untuk membantu memberikan cairan per oral jika pasien mampu menelan, kolaborasi pemberian antipiretik dan kultur darah untuk mengetahui patogen penyebab. (3) Manajemen Nutrisi: kaji kemampuan menelan (tes refleks menelan) sebelum memberikan makanan oral, berikan makanan melalui selang nasogastrik jika pasien tidak mampu menelan (disfagia), berikan diet tinggi kalori dan protein sesuai kebutuhan (30-35 kkal/kgBB/hari), monitor asupan dan keluaran (intake-output) setiap 8 jam, timbang berat badan setiap hari, kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian nutrisi parenteral jika asupan oral tidak adekuat. (4) Manajemen Cairan dan Elektrolit: pantau nilai laboratorium elektrolit (Natrium, Kalium, Chlorida, Calsium) setiap 6-8 jam, monitor tanda-tanda dehidrasi atau overhidrasi, berikan cairan intravena (NaCl 0.9% atau Ringer Laktat) sesuai program dengan kecepatan yang tepat (jangan terlalu cepat untuk mencegah edema serebral), koreksi hiponatremia secara bertahap (tidak lebih dari 8-10 mmol/L per 24 jam untuk mencegah osmotic demyelination syndrome), berikan suplementasi kalium (KCl) secara intravena dengan pengenceran yang tepat dan pantau EKG jika perlu, serta dokumentasikan balance cairan setiap shift. (5) Intervensi tambahan: manajemen risiko cedera dengan memasang side rail tempat tidur, posisikan pasien sesuai kebutuhan, lakukan ROM pasif setiap 4 jam, berikan terapi oksigen sesuai indikasi (meskipun SpO2 100%), monitor komplikasi tirah baring (inspeksi kulit setiap shift, gunakan matras anti-dekubitus), dan edukasi keluarga tentang kondisi pasien serta cara perawatan di rumah setelah pulang.
Article No. 26618 | 14 Aug 2026
Klinis : pasien datang dengan kel penurunan kesadaran mulai tadi pagi ,demam , pusing mual - gds 137 pasien post rawat inap di rs ibnu sina dan rs hermina dengan peradangan otak RPS: penkes KU lemah, somnolen TD: 154/95 mmHg HR: 108 x/m RR: 29 x/m SB: 36 C SpO2: 100% Mata RC +/+ isokor 3mm/3mm JVP kesan tidak meningkat Thorax SDV +/+ RBH -/- WHZ -/-, S1S2 regular Abd BU (+), NT (-) Ext atas akral hangat, crt <2s, edema (-/-) Ext Bawah akral hangat, crt <2s, edema (-/-) Sensorik : sde Motorik : sde Refleks fisiologis: +2 || +2 +2 || +2 Refleks patologis : - || - - || - kaki kuduk: + Komplikasi tirah baring: - Infeksi: - - Stress ulcer: - - DVT: - - Disfagia: - - Cemas: - Hematologi Hemoglobin 12,93 Eritrosit 5,59 Leukosit 21,21 ↑ Trombosit 437 Kimia Klinik Fungsi Hati AST (SGOT) 79 ↑ ALT (SGPT) 131 ↑ Fungsi Ginjal Ureum 42,8 Kreatinin 0,70 Glukosa Darah GDS 127 Elektrolit Natrium 126 ↓ Kalium 3,3 ↓ Chlorida 88 ↓ Calsium 1,1 pH 7,425 RO Thorax Kesan : -Pulmo dan besar cor normal CT Kepala (PLAN) Kesan :
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran (Somnolen) pada Pasien dengan Peradangan Otak (Ensefalitis) disertai Demam, Defisit Neurologis, dan Gangguan Elektrolit
Kode SDKI: D.0005 (Penurunan Kesadaran) / D.0001 (Hipertermia) / D.0018 (Defisit Nutrisi) / D.0085 (Risiko Cedera)
Deskripsi Singkat: Penurunan kesadaran adalah kondisi di mana pasien mengalami penurunan tingkat kesadaran dari normal menjadi somnolen (mengantuk berlebihan, mudah tertidur, tetapi masih dapat dibangunkan dengan rangsangan). Pada kasus ini, penurunan kesadaran disebabkan oleh peradangan otak (ensefalitis) yang ditandai dengan demam tinggi (SB 36°C), leukositosis (21.210), peningkatan enzim hati (AST/ALT), serta gangguan elektrolit (hiponatremia, hipokalemia, hipokloremia). Penurunan kesadaran ini merupakan manifestasi dari disfungsi serebral akibat proses inflamasi, edema serebral, dan ketidakseimbangan elektrolit yang mengganggu fungsi neuron. Pasien juga menunjukkan tanda-tanda meningitis (kaku kuduk positif) yang memperberat kondisi neurologis. Penurunan kesadaran berdampak pada ketidakmampuan pasien untuk mempertahankan jalan napas, menelan, makan/minum, serta melakukan aktivitas perawatan diri, sehingga memerlukan intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mencegah komplikasi lebih lanjut seperti aspirasi, malnutrisi, cedera, dan kerusakan integritas kulit.
Kode SLKI: L.13014 (Tingkat Kesadaran) / L.13015 (Status Neurologis) / L.14134 (Termoregulasi) / L.03035 (Status Nutrisi)
Deskripsi : Luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan adalah: (1) Tingkat kesadaran membaik, dengan kriteria: pasien mampu membuka mata spontan, merespon perintah verbal, orientasi terhadap waktu, tempat, dan orang membaik, Glasgow Coma Scale (GCS) meningkat dari E3V4M5 menjadi E4V5M6. (2) Status neurologis membaik, ditandai dengan penurunan refleks patologis, kaku kuduk berkurang, tidak ada defisit motorik/sensorik baru, dan fungsi saraf kranial normal. (3) Termoregulasi membaik, dengan kriteria: suhu tubuh dalam rentang normal (36-37°C), tidak menggigil, kulit tidak kemerahan. (4) Status nutrisi membaik, ditandai dengan asupan oral adekuat, tidak ada tanda malnutrisi, berat badan stabil, dan kadar elektrolit dalam rentang normal (Natrium 135-145 mmol/L, Kalium 3.5-5.0 mmol/L, Chlorida 98-106 mmol/L). Selain itu, luaran lain yang diharapkan adalah tidak terjadi cedera, tidak terjadi aspirasi, dan tidak terjadi komplikasi tirah baring seperti ulkus dekubitus, DVT, atau infeksi nosokomial.
Kode SIKI: I.06217 (Manajemen Kesadaran) / I.06182 (Manajemen Hipertermia) / I.03119 (Manajemen Nutrisi) / I.06186 (Manajemen Cairan dan Elektrolit)
Deskripsi : Intervensi keperawatan yang dilakukan meliputi: (1) Manajemen Kesadaran: pantau tingkat kesadaran menggunakan GCS setiap 1-2 jam, kaji respon pupil (ukuran, simetris, refleks cahaya), monitor tanda-tanda vital setiap 1 jam, posisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat) untuk menurunkan tekanan intrakranial, hindari manuver valsava, batasi stimulus eksternal (cahaya, suara), kolaborasi pemberian obat antipiretik (paracetamol) dan antibiotik sesuai indikasi, serta siapkan alat resusitasi jika terjadi penurunan kesadaran lebih lanjut. (2) Manajemen Hipertermia: pantau suhu tubuh setiap 1-2 jam, berikan kompres hangat pada area pembuluh darah besar (leher, aksila, inguinal), berikan cairan intravena sesuai program, anjurkan keluarga untuk membantu memberikan cairan per oral jika pasien mampu menelan, kolaborasi pemberian antipiretik dan kultur darah untuk mengetahui patogen penyebab. (3) Manajemen Nutrisi: kaji kemampuan menelan (tes refleks menelan) sebelum memberikan makanan oral, berikan makanan melalui selang nasogastrik jika pasien tidak mampu menelan (disfagia), berikan diet tinggi kalori dan protein sesuai kebutuhan (30-35 kkal/kgBB/hari), monitor asupan dan keluaran (intake-output) setiap 8 jam, timbang berat badan setiap hari, kolaborasi dengan ahli gizi untuk pemberian nutrisi parenteral jika asupan oral tidak adekuat. (4) Manajemen Cairan dan Elektrolit: pantau nilai laboratorium elektrolit (Natrium, Kalium, Chlorida, Calsium) setiap 6-8 jam, monitor tanda-tanda dehidrasi atau overhidrasi, berikan cairan intravena (NaCl 0.9% atau Ringer Laktat) sesuai program dengan kecepatan yang tepat (jangan terlalu cepat untuk mencegah edema serebral), koreksi hiponatremia secara bertahap (tidak lebih dari 8-10 mmol/L per 24 jam untuk mencegah osmotic demyelination syndrome), berikan suplementasi kalium (KCl) secara intravena dengan pengenceran yang tepat dan pantau EKG jika perlu, serta dokumentasikan balance cairan setiap shift. (5) Intervensi tambahan: manajemen risiko cedera dengan memasang side rail tempat tidur, posisikan pasien sesuai kebutuhan, lakukan ROM pasif setiap 4 jam, berikan terapi oksigen sesuai indikasi (meskipun SpO2 100%), monitor komplikasi tirah baring (inspeksi kulit setiap shift, gunakan matras anti-dekubitus), dan edukasi keluarga tentang kondisi pasien serta cara perawatan di rumah setelah pulang.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596