Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 9566 | 21 Dec 2024
Klinis : 2. Seorang anak perempuan bernama An.A berusia 11 tahun dirawat di ruang PICU diagnosa masuk yaitu DHF Grade III dengan kekuhan muntah dengan warna cairan hitam kemerahan lebih dari 3 kali sejak pagi, pasien juga mengeluhkan batuk, sesak dan nyeri dada. Pasien sempat mimisan 1 kali. Kondisi umum klien lemah, GCS E4V5M6, TD: 86/50 mmHg, N: 60x/menit, RR: 26x/menit, SPO2 awal: 47%, SpO2: 80% dengan O2 NRBM 15 lpm, suhu: 36,50C, sianosis pada bibir, ditemukan gallop, suara napas ronkhi, terdapat clubbing finger. Apakah masalah keperawatan utama pada kasus tersebut?
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi yang dideskripsikan, diagnosis dan tindakan medis yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A97.1
- Deskripsi: Demam berdarah dengue dengan tanda-tanda kebocoran plasma
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 93.90
- Deskripsi: Pemberian oksigen, tidak lain
Penjelasan:
Pasien An.A, seorang anak perempuan berusia 11 tahun, dirawat di ruang PICU dengan diagnosis masuk Demam Berdarah Dengue (DBD) Grade III. Pasien menunjukkan gejala utama berupa muntah dengan cairan berwarna hitam kemerahan, batuk, sesak napas, dan nyeri dada. Pemeriksaan fisik menunjukkan tanda-tanda kekurangan oksigen (sianosis pada bibir), penurunan tekanan darah, takikardia, takipnea, dan penurunan saturasi oksigen yang signifikan. Temuan klinis lainnya, seperti gallop, ronki napas, dan clubbing finger, mengindikasikan adanya komplikasi perdarahan dan gangguan kardiovaskular.
Berdasarkan kriteria diagnosis DBD WHO, pasien memenuhi kriteria DBD Grade III, yang ditandai dengan kebocoran plasma, hemokonsentrasi, dan penurunan trombosit. Oleh karena itu, kode ICD-10 yang sesuai adalah A97.1, yaitu Demam Berdarah Dengue dengan tanda-tanda kebocoran plasma.
Terkait tindakan medis, deskripsi yang paling sesuai berdasarkan kode ICD-9-CM adalah 93.90, yaitu Pemberian oksigen. Hal ini dikarenakan pasien membutuhkan terapi oksigen untuk mengatasi hipoksemia yang ditunjukkan oleh penurunan saturasi oksigen.
Masalah keperawatan utama yang dapat diidentifikasi dalam kasus ini adalah Gangguan Pertukaran Gas yang berhubungan dengan penurunan curah jantung, kebocoran plasma, dan perdarahan pada DBD Grade III. -
Article No. 9567 | 21 Dec 2024
Klinis : 2. Seorang anak perempuan bernama An.A berusia 11 tahun dirawat di ruang PICU diagnosa masuk yaitu DHF Grade III dengan kekuhan muntah dengan warna cairan hitam kemerahan lebih dari 3 kali sejak pagi, pasien juga mengeluhkan batuk, sesak dan nyeri dada. Pasien sempat mimisan 1 kali. Kondisi umum klien lemah, GCS E4V5M6, TD: 86/50 mmHg, N: 60x/menit, RR: 26x/menit, SPO2 awal: 47%, SpO2: 80% dengan O2 NRBM 15 lpm, suhu: 36,50C, sianosis pada bibir, ditemukan gallop, suara napas ronkhi, terdapat clubbing finger. Apakah masalah keperawatan utama pada kasus tersebut?
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi yang diderita oleh An.A, masalah keperawatan utama yang dapat diidentifikasi adalah:
Diagnosa Keperawatan: Penurunan Curah Jantung
Penjelasan:
- Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI): Penurunan Curah Jantung adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik tubuh.
- Standar Label Keperawatan Indonesia (SLKI): Tanda dan gejala yang muncul pada An.A seperti takikardi, tekanan darah rendah, sianosis, gallop, dan ronkhi menunjukkan adanya penurunan curah jantung.
- Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI): Intervensi yang dapat dilakukan untuk mengatasi penurunan curah jantung antara lain memantau tanda-tanda vital, mengatur posisi pasien, pemberian oksigen, pemberian obat-obatan, serta pemantauan output urine.
Dengan demikian, masalah keperawatan utama yang dapat diidentifikasi pada kasus An.A adalah Penurunan Curah Jantung, yang ditandai dengan tanda-tanda vital yang tidak stabil, sianosis, serta adanya gallop dan ronkhi. -
Article No. 9568 | 21 Dec 2024
Klinis : 3. Seorang anak perempuan berusia 8 tahun didiagnosis dengan Leukimia Limfoblastik Akut (LLA) dan sedang menjalani siklus kemoterapi. Selama perawatan, anak ini mengalami penurunan nafsu makan, mual, dan muntah yang sering, serta merasa sangat lemas. Orang tua melaporkan bahwa anaknya tidak ingin makan apa pun dan hanya menginginkan makanan manis. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan penurunan kadar hemoglobin, serta penurunan fungsi hati dan ginjal. Anak ini juga terlihat cemas dan khawatir tentang pengobatan yang dijalaninya. Apa masalah keperawatan utama dari kasus tersebut? *
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Sebagai seorang perawat profesional, saya dapat mengidentifikasi beberapa masalah keperawatan utama pada kasus seorang anak perempuan berusia 8 tahun yang didiagnosis dengan Leukemia Limfoblastik Akut (LLA) dan sedang menjalani siklus kemoterapi, berdasarkan standar Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) yang terdiri dari SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia).
Masalah Keperawatan Utama:
1. Ketidakseimbangan Nutrisi: Berhubungan dengan penurunan nafsu makan, mual, muntah, dan preferensi hanya untuk makanan manis, yang ditandai dengan penurunan berat badan, penurunan kadar hemoglobin, dan penurunan fungsi hati dan ginjal.
2. Kecemasan: Berhubungan dengan kondisi penyakit dan proses pengobatan yang dijalani, yang ditandai dengan ekspresi kekhawatiran anak terhadap pengobatannya.
3. Intoleransi Aktivitas: Berhubungan dengan kelemahan yang dirasakan anak, yang ditandai dengan penurunan kemampuan dalam melakukan aktivitas sehari-hari.
Penjelasan Singkat Standar dari PPNI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Merupakan standar yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan atau respons individu terhadap masalah kesehatan, yang dapat digunakan sebagai dasar untuk menentukan intervensi keperawatan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Merupakan standar yang digunakan untuk menentukan hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan yang diberikan, sehingga dapat diukur dan dievaluasi keberhasilannya.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Merupakan standar yang digunakan untuk menentukan tindakan atau aktivitas keperawatan yang harus dilakukan untuk mencapai hasil yang diharapkan.
Dengan menggunakan standar PPNI ini, perawat dapat memberikan asuhan keperawatan yang terstruktur, terukur, dan sesuai dengan praktik keperawatan yang berpusat pada pasien. -
Article No. 9569 | 21 Dec 2024
Klinis : pasien mengalami sesak nafas dan henti jantung
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan kondisi yang Anda deskripsikan, yaitu pasien mengalami sesak nafas dan henti jantung, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis yang sesuai:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R06.0
- Deskripsi: Dispnea (sesak nafas)
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.60
- Deskripsi: Resusitasi kardiopulmonar, tidak dijelaskan lebih lanjut
Penjelasan:
Kode ICD-10 R06.0 (Dispnea) adalah kode yang sesuai untuk menggambarkan gejala sesak nafas yang dialami oleh pasien. Henti jantung, atau dalam istilah medis dikenal sebagai "Cardiac Arrest", biasanya akan dikode secara terpisah menggunakan kode ICD-10 I46.9 (Henti jantung, tidak dijelaskan lebih lanjut).
Kode ICD-9-CM 99.60 (Resusitasi kardiopulmonar, tidak dijelaskan lebih lanjut) merupakan kode prosedur yang dapat digunakan untuk mendokumentasikan tindakan medis yang dilakukan untuk menangani kondisi henti jantung pada pasien, yang meliputi upaya-upaya untuk memulihkan fungsi jantung dan pernapasan.
Sebagai catatan, kode ICD-9-CM digunakan untuk mengkodekan tindakan medis di negara-negara yang masih menggunakan sistem klasifikasi ICD-9-CM, sedangkan kode ICD-10 digunakan untuk mengkodekan diagnosis di negara-negara yang telah beralih ke sistem klasifikasi ICD-10. -
Article No. 9570 | 21 Dec 2024
Klinis : pasien datang ke IGD dengan keluhan lemah dan apabila Berjalan jauh Cepat lelah
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan keluhan pasien, yang datang ke IGD dengan keluhan lemah dan cepat lelah saat berjalan jauh, diagnosis yang sesuai adalah:
1. Kode ICD-10:
- Kode: R53.1
- Deskripsi: Kelelahan
Penjelasan:
- Kode ICD-10 R53.1 menggambarkan kondisi kelelahan (fatigue) yang dialami oleh pasien. Kelelahan dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti aktivitas fisik yang berlebihan, kondisi medis tertentu, atau masalah gaya hidup.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: Tidak ada kode prosedur yang spesifik
- Deskripsi: Tidak ada tindakan medis yang spesifik diperlukan untuk kondisi ini, selain evaluasi klinis dan manajemen gejala.
Penjelasan:
- Untuk kondisi kelelahan, tidak ada kode prosedur ICD-9-CM yang spesifik. Penanganan biasanya melibatkan evaluasi klinis untuk mengidentifikasi penyebab dan memberikan perawatan yang sesuai, seperti istirahat, perbaikan gaya hidup, atau pengobatan jika diperlukan.
Secara keseluruhan, kode ICD-10 yang sesuai untuk diagnosis pasien ini adalah R53.1 (Kelelahan), dan tidak ada kode prosedur ICD-9-CM yang spesifik, karena penanganan umumnya berfokus pada evaluasi dan manajemen gejala. -
Article No. 9571 | 21 Dec 2024
Klinis : pasien datang ke IGD dengan keluhan lemah dan apabila Berjalan jauh Cepat lelah pasien datang ke IGD dengan keluhan lemah dan apabila Berjalan jauh Cepat lelah pasien datang ke IGD dengan keluhan lemah dan apabila Berjalan jauh Cepat lelah pasien datang ke IGD dengan keluhan lemah dan apabila Berjalan jauh Cepat lelah pasien datang ke IGD dengan keluhan lemah dan apabila Berjalan jauh Cepat lelah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan serta penjelasan singkat SDKI, SLKI, dan SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Intoleransi Aktivitas
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Intoleransi Aktivitas adalah ketidakmampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas rutin yang diinginkan atau dibutuhkan akibat keterbatasan fisik dan psikologis.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan pada pasien dengan intoleransi aktivitas adalah pasien dapat meningkatkan toleransi terhadap aktivitas, meningkatkan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari, dan menunjukkan peningkatan kemampuan fisik.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain: Manajemen energi, Latihan aktivitas, Manajemen fatigue, dan Edukasi manajemen aktivitas.
Kesimpulan:
Pasien mengalami intoleransi aktivitas yang ditandai dengan keluhan lemah dan cepat lelah saat berjalan jauh. Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah manajemen energi, latihan aktivitas, manajemen fatigue, dan edukasi manajemen aktivitas untuk meningkatkan toleransi aktivitas dan kemampuan fisik pasien. -
Article No. 9572 | 21 Dec 2024
Klinis : ca ovarium
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat berdasarkan SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi kanker ovarium.
Diagnosa Keperawatan:
1. Nyeri Kronis
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
- Penyebab: Kondisi patologis seperti kanker ovarium.
- Gejala: Rasa sakit atau tidak nyaman yang terus-menerus atau berulang di daerah abdomen.
2. Gangguan Citra Tubuh
- Definisi: Persepsi negatif atau terganggu terhadap penampilan fisik dan fungsi tubuh.
- Penyebab: Perubahan struktur dan fungsi tubuh akibat penyakit atau pengobatan.
- Gejala: Perasaan tidak nyaman dengan perubahan tubuh, merasa malu, dan kurang percaya diri.
3. Kelelahan
- Definisi: Ketidakmampuan berkelanjutan untuk mempertahankan tingkat energi yang dibutuhkan untuk aktivitas sehari-hari.
- Penyebab: Penyakit kronis seperti kanker ovarium.
- Gejala: Merasa lelah, lemah, dan mudah capek.
Penjelasan Singkat:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) adalah standar yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan yang dialami oleh pasien dan merumuskan diagnosa keperawatan yang sesuai.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah standar yang digunakan untuk menentukan hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan yang diberikan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah standar yang digunakan untuk menentukan tindakan keperawatan yang perlu dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan.
Penerapan SDKI, SLKI, dan SIKI ini penting untuk memastikan kualitas asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien, termasuk pada pasien dengan kanker ovarium, sesuai dengan standar profesi keperawatan di Indonesia. -
Article No. 9573 | 21 Dec 2024
Klinis : ca ovarium
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis terkait kondisi kanker ovarium:
1. Kode ICD-10:
- Kode: C56
- Deskripsi: Keganasan pada ovarium
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 65.4x
- Deskripsi: Ovarektomi (pengangkatan ovarium), termasuk: salpingo-ovarektomi (pengangkatan ovarium dan saluran telur), ooforektomi (pengangkatan ovarium), omentektomi (pengangkatan omentum atau lipatan peritoneum), prosedur staging (pembukaan rongga abdomen untuk memeriksa penyebaran penyakit).
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 C56 merupakan kode diagnosis untuk kanker ovarium, yang mencakup semua jenis keganasan pada ovarium, termasuk epitelial, germ cell, dan stroma-thecal cell tumor.
2. Kode ICD-9-CM 65.4x mencakup berbagai prosedur operatif terkait pengangkatan ovarium, baik secara unilateral maupun bilateral, serta tindakan staging untuk menentukan luasnya penyebaran penyakit. Prosedur-prosedur ini umumnya dilakukan sebagai bagian dari penanganan kanker ovarium.
Dalam praktik klinis, kode-kode ini digunakan oleh dokter, perekam medis, dan petugas kesehatan lainnya untuk dokumentasi dan penagihan terkait kondisi dan penanganan kanker ovarium. -
Article No. 9574 | 21 Dec 2024
Klinis : o Gambaran Diri Sebelum Sakit pasien menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang mandiri, aktif, dan sehat. Ia mampu menjalankan berbagai aktivitas tanpa hambatan, termasuk mengurus keluarga dengan baik. Penampilan fisik yang terawat dan kesehatan yang stabil membuat pasien merasa percaya diri.sesudah sakit pasien merasakan perubahan besar dalam dirinya setelah sakit. Perubahan fisik yang disebabkan oleh pengobatan dan penyakit membuat pasien merasa bahwa dirinya tidak lagi seperti dulu. Rambut yang rontok, kebutuhan akan bantuan untuk aktivitas, dan penggunaan implan port membuat pasien merasa sangat berbeda dari dirinya yang dulu. o Ideal Diri Sebelum sakit pasien mengatakan seorang yang bisa melakukan apapun dengan mandiri, produktif dan aktif namun setelah sakit Pasien mengatakan tidak lagi berfokus pada fisik namun pasien mengatakan fokusnya sekarang penerimaan dan kenyamanan dalam menjalani kehidupan, dengan harapan untuk tetap merasa berarti, meskipun tidak lagi sehat atau sempurna seperti sebelumnya. o Peran Diri Sebelum sakit pasien menjalan peran sebagai orangtua tunggal yang memiliki cucu yang berperan mengurus keluarganya, sesudah sakit, pasien mengatakan setelah mengalami serangkaian tindakan medis yang dijalaninya pasien merasa sudah sangat berbeda sebelum dia sakit dia bisa mengurus keluraganya dengan baik, namun sekarang pasien mengatakan sudah sangat bergantung dengan orang lain dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi, dia tidak bisa mengurus diri atau mengurus keluarganya lagi o Harga Diri Harga diri pasien mengalami penurunan yang signifikan akibat perubahan fisik dan keterbatasan yang disebabkan oleh penyakit dan prosedur medis yang dijalani. Pasien mengatakan saya dulu bisa melakukan apa-apa sendiri namun sekarang hanya menjadi beban bagi anak-anak saya. o Identitas diri Pasien mengatakan dirinya sebagai orangtua yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa tapa bantuan orang lain 3) Pola asuh Pasien mengatakan saat dia sakit memang yang mengasuh dia adalah penjaganya ada empat orang yang setiap hari selalu bergantian menjaganya, anaknya sibuk untuk bekerja namun kadang ketika tidak bekerja, anaknya selalu menjenguknya, namun yang selalu setia mengasuh pasien adalah penjaganya 4) Koping mekanisme (jelaskan sebelum dan sesudah sakit) o Cara yang digunakan untuk menyelesaikan masalah Pasien mengatakn cara menyelesaikan masalah biasanya menyendiri dan dengan cara berdoa Kebiasaan saat marah (Tebalkan yang sesuai dengan klien) • Mendengarkan music • Berdoa • Mengobrol / diskusi dengan orang lain • Menyendiri • Membanting barang • Minum minuman keras • Merokok • Lari dari rumah 5) Pengalaman traumatis Pasien mengatakan pengalaman traumatis ketika dia baru pertama terdiagnosis kanker itu membuat pasien merasa tidak percaya dan takut, berbagai jenis tindakan medis yang sudah pasien lewati membuat dirinya traumatis dimana pasien mengatakan dia tidak mengerti dan tak pernah berpikir akan melewati hal ini, Ini menunjukkan bahwa pengalaman medis yang dialami pasien sangat mempengaruhi perasaan dan gambaran dirinya. Meskipun pasien mencoba untuk menerima perubahan yang terjadi, efek dari perawatan dan perubahan fisik tetap membuatnya merasa kesulitan dan cemas. 6) Pola komunikasi dalam keluarga Keluarga pasien mengatakan komunikasi dalam keluarga terbuka, seperti tindakan yang akan dijalani oleh pasien akan didiskusikan didalam keluarga dengan persetujuan bersama, pasien juga mengatakan komunikasi keluarganya baik-baik saja, pasien mengatakan setiap tindakan yang dilakukan kepada pasien selalu diberitahu 7) Pola komunikasi di dalam keluarga Keluarga pasien mengatakan komunikasi dalam keluarga terbuka, seperti tindakan yang akan dijalani oleh pasien akan didiskusikan didalam keluarga dengan persetujuan bersama, pasien juga mengatakan komunikasi keluarganya baik-baik saja, pasien mengatakan setiap tindakan yang dilakukan kepada pasien selalu diberitahu 8) Proses pengambilan keputusan di dalam keluarga Pasien mengatakan untuk keputusan terkait pengobatan yang dilakukan pasien diambil alih oleh anaknya namun tetap diinformasikan kepada pasien tindakan yang dilakukan, keluarga pasien juga mengatakan proses pengambilan keputusan dilakukan bersama dengan anak- anaknya. 9) Kegiatan Rekreasi Keluarga Pasien mengatakan biasanya rekreasi dirumah berkumpul bersama keluarga dan cucunya, kadang-kadang juga pergi jalan-jalan bersama anak-anaknya, pasien mengatakan setelah pualng dari rumah sakit akan pergi jalan-jalan dengan anak-anaknya dan juga cucunya kebandung, sehingga pasien sangat semangat untuk cepat pulang. 10) Proses Berduka a. Jenis kehilangan kehilangan suaminya b. Waktu terjadi pasien mengatakan sudah lama c. Tahap kehilangan: Menyangkal / Marah / Tawar menawar / Depresi/ Menerima d. Respons berduka……………………………………………………………………… Pasien sudah menerima atas kehilangan suamninya, pasien mengatakan dia selalu semangat karena kedua anak-anaknya yang selalu ada dan juga cucunya sebagai penambah semanga hidup pasien c. Sosial 1) Hubungan Dengan Lingkungan (jelaskan sebelum dan sesudah sakit) o Kegiatan bermasyarakat yang diikuti oleh keluarga Keluarga mengatakan Sebelum sakit, pasien aktif dalam berbagai kegiatan sosial, seperti menghadiri saat ada pengajian, berkumpul dengan teman-teman, dan sering mengikuti kegiatan di lingkungan sekitar. Namun, setelah sakit, terutama dengan keterbatasan fisik akibat penyakit dan pengobatan yang dijalani, pasien lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan jarang terlibat dalam kegiatan sosial. o Kegiatan keagamaan yang diikuti oleh keluarga Keluarga pasien sebelumnya rutin mengikuti kegiatan keagamaan di masjid dan mengikuti pertemuan pengajian. Namun, setelah sakit, pasien merasa keterbatasan fisik membuatnya kesulitan untuk hadir dalam kegiatan keagamaan secara rutin, meskipun ia tetap berusaha menjaga ibadahnya dengan cara yang bisa dilakukan di rumah, seperti berdoa dan membaca doa. 2) Tokoh-tokoh Yang Dijadikan Panutan Keluarga/ Didengar Saran Dan Nasehatnya Pasien mengatakan bahwa dirinya dan keluarganya banyak mendengarkan saran dari orang- orang terdekat, seperti anak-anak, saudara, dan juga teman-teman dekat yang memberikan dukungan. 3) Pengelolaan Keuangan Keluarga (jelaskan sebelum dan sesudah sakit) Sebelum sakit, pasien mengelola keuangan dengan baik, meskipun dengan penghasilan yang terbatas. Namun, setelah pasien jatuh sakit dan harus menjalani serangkaian perawatan medis, pengeluaran diambil oleh anaknya dan semua biaya pengobatan yang dilakukan anaknya yang mengurus. 4) Pencapaian dalam pendidikan Pasien mengatakan menempuh pendidikan sampai SMA 5) Pencapaian dalam pekerjaan Pasien mengatakan bekerja sebagai IRT, namun pasiem memiliki kebun, pasien suka berkebun dan sekarang sedang menanam singkong namun singkong belum bisa dipanen 6) Adakah nilai-nilai yang dianut dalam agama yang menguatkan diri dalam menghadapi kesulitan hidup Pasien beragama islam, pasien mengatakan bahwa keyakinan dalam agama memberinya ketenangan dan harapan, serta dorongan untuk tetap bersyukur meskipun kondisi kesehatannya menurun. Pasien merasa bahwa doa dan pengharapan kepada allah menjadi kekuatan utama dalam menghadapi penyakit yang dialaminya. 7) Adakah nilai-nilai yang dianut dalam agama yang membuat diri menjadi tertekan Pasien dan keluarga mengatakan tidak ada nilai-nilai yang dianut dalam agama yang membuat tertekan 8) Adakah norma-norma sosial yang membuat diri menjadi tertekan Pasien mengatakan tidak ada norma sosial yang membuat dirinya tertekan 9) Apakah tuntutan perekonomian keluarga kerap kali membuat Anda merasa tertekan Pasien mengatakan bahwa tuntutan perekonomian keluarga, terutama dengan biaya pengobatan yang tinggi, memang membuatnya merasa tertekan. pasien merasa khawatir tentang masa depan keuangan keluarga karena pengeluaran untuk perawatan yang semakin meningkat, meskipun keluarga selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk dirinya namun merasa cemas karena merepotkan anaknya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat terkait SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi pasien tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Citra Tubuh (SDKI)
Penjelasan: Pasien mengalami perubahan dalam gambaran dirinya setelah sakit, yang ditandai dengan perubahan fisik akibat pengobatan dan penyakit, seperti kerontokan rambut, ketergantungan dalam aktivitas, dan penggunaan implan port. Hal ini menyebabkan pasien merasa dirinya tidak lagi seperti sebelumnya, sehingga berdampak pada penerimaan diri dan kepercayaan diri pasien.
2. Perubahan Konsep Diri (SDKI)
Penjelasan: Pasien mengalami perubahan dalam ideal dirinya, dimana sebelum sakit pasien merasa mandiri, produktif, dan aktif, namun setelah sakit, pasien fokus pada penerimaan dan kenyamanan dalam menjalani kehidupan, meskipun tidak lagi sehat atau sempurna seperti sebelumnya.
3. Perubahan Peran (SDKI)
Penjelasan: Pasien mengalami perubahan dalam peran dirinya, dimana sebelum sakit pasien berperan sebagai orang tua tunggal yang dapat mengurus keluarganya dengan baik, namun setelah sakit, pasien merasa sangat bergantung pada orang lain dan tidak dapat melakukan aktivitas seperti sebelumnya.
4. Harga Diri Rendah (SDKI)
Penjelasan: Harga diri pasien mengalami penurunan yang signifikan akibat perubahan fisik dan keterbatasan yang disebabkan oleh penyakit dan prosedur medis yang dijalani. Pasien merasa menjadi beban bagi anak-anaknya.
5. Identitas Diri yang Terganggu (SDKI)
Penjelasan: Pasien menggambarkan dirinya sebagai orang tua yang sudah tidak dapat melakukan apa-apa tanpa bantuan orang lain.
Penjelasan SLKI dan SIKI:
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) merupakan standar yang dikembangkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk memastikan kualitas dan keamanan praktik keperawatan. Berikut adalah penjelasan singkat terkait SLKI dan SIKI yang dapat digunakan untuk menangani diagnosa keperawatan di atas:
1. Untuk diagnosa Gangguan Citra Tubuh, intervensi keperawatan yang sesuai dapat meliputi: Terapi Acceptance and Commitment Therapy (ACT) untuk membantu pasien menerima perubahan fisik, Edukasi tentang perubahan fisik akibat penyakit dan pengobatan, serta Konseling untuk meningkatkan penerimaan diri.
2. Untuk diagnosa Perubahan Konsep Diri, intervensi keperawatan yang sesuai dapat meliputi: Psikoterapi untuk membantu pasien mengeksplorasi perubahan identitas diri, Dukungan emosional untuk meningkatkan penerimaan diri, serta Aktivitas untuk mempertahankan kemampuan dan peran yang masih dapat dilakukan.
3. Untuk diagnosa Perubahan Peran, intervensi keperawatan yang sesuai dapat meliputi: Aktivitas Pelatihan Aktivitas Kehidupan Sehari-hari (ADL) untuk meningkatkan kemandirian, Edukasi kepada keluarga tentang peran baru yang dapat dilakukan, serta Fasilitasi Pengambilan Keputusan bersama keluarga.
4. Untuk diagnosa Harga Diri Rendah, intervensi keperawatan yang sesuai dapat meliputi: Terapi Kelompok untuk membangun harga diri, Konseling Individual untuk mengeksplorasi sumber-sumber harga diri yang masih ada, serta Aktivitas Pengembangan Kemampuan untuk meningkatkan kepercayaan diri.
5. Untuk diagnosa Identitas Diri yang Terganggu, intervensi keperawatan yang sesuai dapat meliputi: Terapi Perilaku Kognitif untuk membantu pasien mengeksplorasi dan memahami perubahan identitas diri, Aktivitas Pengembangan Kemampuan untuk membantu pasien menemukan peran dan aktivitas yang masih dapat dilakukan, serta Konseling Keluarga untuk membantu keluarga memahami perubahan identitas pasien. -
Article No. 9575 | 21 Dec 2024
Klinis : o Gambaran Diri Sebelum Sakit pasien menggambarkan dirinya sebagai seseorang yang mandiri, aktif, dan sehat. Ia mampu menjalankan berbagai aktivitas tanpa hambatan, termasuk mengurus keluarga dengan baik. Penampilan fisik yang terawat dan kesehatan yang stabil membuat pasien merasa percaya diri.sesudah sakit pasien merasakan perubahan besar dalam dirinya setelah sakit. Perubahan fisik yang disebabkan oleh pengobatan dan penyakit membuat pasien merasa bahwa dirinya tidak lagi seperti dulu. Rambut yang rontok, kebutuhan akan bantuan untuk aktivitas, dan penggunaan implan port membuat pasien merasa sangat berbeda dari dirinya yang dulu. o Ideal Diri Sebelum sakit pasien mengatakan seorang yang bisa melakukan apapun dengan mandiri, produktif dan aktif namun setelah sakit Pasien mengatakan tidak lagi berfokus pada fisik namun pasien mengatakan fokusnya sekarang penerimaan dan kenyamanan dalam menjalani kehidupan, dengan harapan untuk tetap merasa berarti, meskipun tidak lagi sehat atau sempurna seperti sebelumnya. o Peran Diri Sebelum sakit pasien menjalan peran sebagai orangtua tunggal yang memiliki cucu yang berperan mengurus keluarganya, sesudah sakit, pasien mengatakan setelah mengalami serangkaian tindakan medis yang dijalaninya pasien merasa sudah sangat berbeda sebelum dia sakit dia bisa mengurus keluraganya dengan baik, namun sekarang pasien mengatakan sudah sangat bergantung dengan orang lain dan tidak bisa melakukan apa-apa lagi, dia tidak bisa mengurus diri atau mengurus keluarganya lagi o Harga Diri Harga diri pasien mengalami penurunan yang signifikan akibat perubahan fisik dan keterbatasan yang disebabkan oleh penyakit dan prosedur medis yang dijalani. Pasien mengatakan saya dulu bisa melakukan apa-apa sendiri namun sekarang hanya menjadi beban bagi anak-anak saya. o Identitas diri Pasien mengatakan dirinya sebagai orangtua yang sudah tidak bisa melakukan apa-apa tapa bantuan orang lain 3) Pola asuh Pasien mengatakan saat dia sakit memang yang mengasuh dia adalah penjaganya ada empat orang yang setiap hari selalu bergantian menjaganya, anaknya sibuk untuk bekerja namun kadang ketika tidak bekerja, anaknya selalu menjenguknya, namun yang selalu setia mengasuh pasien adalah penjaganya 4) Koping mekanisme (jelaskan sebelum dan sesudah sakit) o Cara yang digunakan untuk menyelesaikan masalah Pasien mengatakn cara menyelesaikan masalah biasanya menyendiri dan dengan cara berdoa Kebiasaan saat marah (Tebalkan yang sesuai dengan klien) • Mendengarkan music • Berdoa • Mengobrol / diskusi dengan orang lain • Menyendiri • Membanting barang • Minum minuman keras • Merokok • Lari dari rumah 5) Pengalaman traumatis Pasien mengatakan pengalaman traumatis ketika dia baru pertama terdiagnosis kanker itu membuat pasien merasa tidak percaya dan takut, berbagai jenis tindakan medis yang sudah pasien lewati membuat dirinya traumatis dimana pasien mengatakan dia tidak mengerti dan tak pernah berpikir akan melewati hal ini, Ini menunjukkan bahwa pengalaman medis yang dialami pasien sangat mempengaruhi perasaan dan gambaran dirinya. Meskipun pasien mencoba untuk menerima perubahan yang terjadi, efek dari perawatan dan perubahan fisik tetap membuatnya merasa kesulitan dan cemas. 6) Pola komunikasi dalam keluarga Keluarga pasien mengatakan komunikasi dalam keluarga terbuka, seperti tindakan yang akan dijalani oleh pasien akan didiskusikan didalam keluarga dengan persetujuan bersama, pasien juga mengatakan komunikasi keluarganya baik-baik saja, pasien mengatakan setiap tindakan yang dilakukan kepada pasien selalu diberitahu 7) Pola komunikasi di dalam keluarga Keluarga pasien mengatakan komunikasi dalam keluarga terbuka, seperti tindakan yang akan dijalani oleh pasien akan didiskusikan didalam keluarga dengan persetujuan bersama, pasien juga mengatakan komunikasi keluarganya baik-baik saja, pasien mengatakan setiap tindakan yang dilakukan kepada pasien selalu diberitahu 8) Proses pengambilan keputusan di dalam keluarga Pasien mengatakan untuk keputusan terkait pengobatan yang dilakukan pasien diambil alih oleh anaknya namun tetap diinformasikan kepada pasien tindakan yang dilakukan, keluarga pasien juga mengatakan proses pengambilan keputusan dilakukan bersama dengan anak- anaknya. 9) Kegiatan Rekreasi Keluarga Pasien mengatakan biasanya rekreasi dirumah berkumpul bersama keluarga dan cucunya, kadang-kadang juga pergi jalan-jalan bersama anak-anaknya, pasien mengatakan setelah pualng dari rumah sakit akan pergi jalan-jalan dengan anak-anaknya dan juga cucunya kebandung, sehingga pasien sangat semangat untuk cepat pulang. 10) Proses Berduka a. Jenis kehilangan kehilangan suaminya b. Waktu terjadi pasien mengatakan sudah lama c. Tahap kehilangan: Menyangkal / Marah / Tawar menawar / Depresi/ Menerima d. Respons berduka……………………………………………………………………… Pasien sudah menerima atas kehilangan suamninya, pasien mengatakan dia selalu semangat karena kedua anak-anaknya yang selalu ada dan juga cucunya sebagai penambah semanga hidup pasien c. Sosial 1) Hubungan Dengan Lingkungan (jelaskan sebelum dan sesudah sakit) o Kegiatan bermasyarakat yang diikuti oleh keluarga Keluarga mengatakan Sebelum sakit, pasien aktif dalam berbagai kegiatan sosial, seperti menghadiri saat ada pengajian, berkumpul dengan teman-teman, dan sering mengikuti kegiatan di lingkungan sekitar. Namun, setelah sakit, terutama dengan keterbatasan fisik akibat penyakit dan pengobatan yang dijalani, pasien lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan jarang terlibat dalam kegiatan sosial. o Kegiatan keagamaan yang diikuti oleh keluarga Keluarga pasien sebelumnya rutin mengikuti kegiatan keagamaan di masjid dan mengikuti pertemuan pengajian. Namun, setelah sakit, pasien merasa keterbatasan fisik membuatnya kesulitan untuk hadir dalam kegiatan keagamaan secara rutin, meskipun ia tetap berusaha menjaga ibadahnya dengan cara yang bisa dilakukan di rumah, seperti berdoa dan membaca doa. 2) Tokoh-tokoh Yang Dijadikan Panutan Keluarga/ Didengar Saran Dan Nasehatnya Pasien mengatakan bahwa dirinya dan keluarganya banyak mendengarkan saran dari orang- orang terdekat, seperti anak-anak, saudara, dan juga teman-teman dekat yang memberikan dukungan. 3) Pengelolaan Keuangan Keluarga (jelaskan sebelum dan sesudah sakit) Sebelum sakit, pasien mengelola keuangan dengan baik, meskipun dengan penghasilan yang terbatas. Namun, setelah pasien jatuh sakit dan harus menjalani serangkaian perawatan medis, pengeluaran diambil oleh anaknya dan semua biaya pengobatan yang dilakukan anaknya yang mengurus. 4) Pencapaian dalam pendidikan Pasien mengatakan menempuh pendidikan sampai SMA 5) Pencapaian dalam pekerjaan Pasien mengatakan bekerja sebagai IRT, namun pasiem memiliki kebun, pasien suka berkebun dan sekarang sedang menanam singkong namun singkong belum bisa dipanen 6) Adakah nilai-nilai yang dianut dalam agama yang menguatkan diri dalam menghadapi kesulitan hidup Pasien beragama islam, pasien mengatakan bahwa keyakinan dalam agama memberinya ketenangan dan harapan, serta dorongan untuk tetap bersyukur meskipun kondisi kesehatannya menurun. Pasien merasa bahwa doa dan pengharapan kepada allah menjadi kekuatan utama dalam menghadapi penyakit yang dialaminya. 7) Adakah nilai-nilai yang dianut dalam agama yang membuat diri menjadi tertekan Pasien dan keluarga mengatakan tidak ada nilai-nilai yang dianut dalam agama yang membuat tertekan 8) Adakah norma-norma sosial yang membuat diri menjadi tertekan Pasien mengatakan tidak ada norma sosial yang membuat dirinya tertekan 9) Apakah tuntutan perekonomian keluarga kerap kali membuat Anda merasa tertekan Pasien mengatakan bahwa tuntutan perekonomian keluarga, terutama dengan biaya pengobatan yang tinggi, memang membuatnya merasa tertekan. pasien merasa khawatir tentang masa depan keuangan keluarga karena pengeluaran untuk perawatan yang semakin meningkat, meskipun keluarga selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk dirinya namun merasa cemas karena merepotkan anaknya.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan beserta penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) untuk kondisi pasien tersebut:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Citra Tubuh (SDKI: Gangguan Citra Tubuh)
Definisi: Persepsi negatif terhadap penampilan fisik sebagai akibat dari perubahan bentuk atau fungsi tubuh.
Faktor yang Berhubungan: Perubahan pada tubuh atau penampilan akibat penyakit atau pengobatan.
Gejala dan Tanda: Ekspresi verbal atau non-verbal tentang ketidakpuasan terhadap penampilan fisik, menghindari kontak dengan orang lain, mengubah gaya hidup.
2. Gangguan Konsep Diri (SDKI: Gangguan Konsep Diri)
Definisi: Persepsi negatif tentang diri sendiri yang dipengaruhi oleh pengalaman, pikiran, dan perasaan.
Faktor yang Berhubungan: Perubahan fisik atau fungsional, diagnosa penyakit kronis, kehilangan peran, dan harga diri rendah.
Gejala dan Tanda: Pernyataan negatif tentang diri sendiri, ketidakpuasan terhadap penampilan fisik, perilaku menghindar, dan rendahnya kepercayaan diri.
3. Perubahan Peran (SDKI: Perubahan Peran)
Definisi: Ketidakmampuan untuk melaksanakan peran yang diharapkan oleh lingkungan.
Faktor yang Berhubungan: Perubahan status kesehatan, keterbatasan fungsi, dan ketergantungan pada orang lain.
Gejala dan Tanda: Ekspresi verbal atau non-verbal tentang kesulitan melaksanakan peran, perubahan dalam perilaku peran, dan ketidakpuasan terhadap peran yang dijalankan.
4. Koping Keluarga Tidak Efektif (SDKI: Koping Keluarga Tidak Efektif)
Definisi: Ketidakmampuan keluarga untuk beradaptasi dan menyelesaikan masalah dalam memenuhi tugas-tugas keluarga.
Faktor yang Berhubungan: Perubahan dalam fungsi keluarga, krisis situasional, dan keterbatasan sumber daya.
Gejala dan Tanda: Ekspresi verbal atau non-verbal tentang kesulitan beradaptasi dengan perubahan, perilaku maladaptif dalam keluarga, dan ketidakpuasan anggota keluarga.
Penjelasan singkat terkait SDKI, SLKI, dan SIKI:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) merupakan standar diagnosa keperawatan yang dikeluarkan oleh PPNI untuk mengidentifikasi masalah kesehatan pasien.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) merupakan standar luaran atau hasil yang diharapkan dari intervensi keperawatan.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) merupakan standar intervensi atau tindakan keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah kesehatan pasien.