Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25281 | 24 Apr 2026
Klinis : Pasien laki-laki, usia 65 tahun, datang ke IGD dengan keluhan utama sesak napas sejak ±1 minggu yang lalu dan memberat dalam 2 hari terakhir. Sesak dirasakan terutama saat beraktivitas ringan dan saat berbaring, sehingga pasien mengatakan harus tidur dengan 2–3 bantal (orthopnea). Pasien juga mengeluh sering terbangun malam hari karena sesak napas (paroxysmal nocturnal dyspnea). Selain itu, pasien mengeluhkan kedua kaki bengkak sejak ±5 hari yang lalu, dimulai dari pergelangan kaki dan semakin meluas hingga betis. Bengkak tidak hilang setelah istirahat. Pasien memiliki riwayat hipertensi sejak 10 tahun yang lalu, namun tidak terkontrol dengan baik dan tidak rutin minum obat. Pasien juga memiliki riwayat penyakit jantung koroner sejak 3 tahun yang lalu. Tidak ada riwayat diabetes melitus. Riwayat merokok (+) selama ±30 tahun. Pemeriksaan Fisik: • Keadaan umum: tampak lemah, sesak • Kesadaran: compos mentis • Tanda vital: o Tekanan darah: 160/95 mmHg o Nadi: 110 x/menit (takikardia) o RR: 28 x/menit (takipnea) o Suhu: 36,8°C o SpO₂: 90% tanpa oksigen Pemeriksaan Sistem: • Kardiovaskular: o Bunyi jantung tambahan (S3 gallop) o Distensi vena jugularis (+) • Respirasi: o Ronki basah halus di kedua lapang paru (terutama basal) • Ekstremitas: o Edema pitting (+) derajat 2–3 pada kedua tungkai o CRT > 3 detik Pemeriksaan Penunjang: • Foto toraks: kardiomegali, kongesti paru • EKG: tanda hipertrofi ventrikel kiri • Laboratorium: o Hb: normal o BNP meningkat o Elektrolit dalam batas normal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas berhubungan dengan Perubahan Membran Alveolus-Kapiler pada Pasien Gagal Jantung Kongestif (CHF) dengan Edema Paru
Kode SDKI: D.0003
Deskripsi Singkat: Gangguan pertukaran gas adalah kondisi di mana terjadi ketidakseimbangan antara ventilasi dan perfusi paru, sehingga mengakibatkan penurunan kadar oksigen (hipoksemia) dan/atau peningkatan kadar karbon dioksida (hiperkapnia) dalam darah arteri. Pada pasien ini, kondisi gangguan pertukaran gas disebabkan oleh kongesti paru akibat gagal jantung kiri. Peningkatan tekanan hidrostatik kapiler paru akibat disfungsi ventrikel kiri menyebabkan transudasi cairan ke interstisium dan alveolus, mengganggu difusi oksigen dan karbon dioksida. Manifestasi klinis yang mendukung meliputi sesak napas saat aktivitas ringan, ortopnea, paroxysmal nocturnal dyspnea (PND), takipnea (RR 28x/menit), penurunan saturasi oksigen (SpO2 90%), ronki basah halus di basal paru, dan hasil foto toraks yang menunjukkan kongesti paru. Pasien juga memiliki faktor risiko seperti hipertensi tidak terkontrol, penyakit jantung koroner, dan riwayat merokok lama, yang memperburuk fungsi ventrikel kiri dan memicu akumulasi cairan paru. Gangguan pertukaran gas ini bersifat akut dan memerlukan intervensi segera untuk mencegah hipoksia jaringan yang lebih berat, termasuk kerusakan organ vital.
Kode SLKI: J.00004
Deskripsi : Pertukaran gas membaik. Definisi: suatu kondisi yang menunjukkan peningkatan efektivitas pertukaran oksigen dan karbon dioksida di tingkat alveolus-kapiler paru, yang ditandai dengan tercapainya nilai gas darah arteri dalam rentang normal dan tidak adanya tanda-tanda hipoksia atau hiperkapnia. Kriteria hasil yang diharapkan pada pasien ini meliputi: (1) Dispnea menurun, dengan skala 1-5 dari yang berat (5) menjadi ringan (1) atau tidak ada; (2) Frekuensi napas membaik dalam rentang normal (16-20x/menit); (3) Saturasi oksigen (SpO2) meningkat ≥95% dengan atau tanpa oksigen tambahan; (4) Pola napas menjadi efektif, tidak ada penggunaan otot bantu napas; (5) Ronki basah berkurang atau hilang pada auskultasi; (6) Pasien mampu tidur dengan posisi datar tanpa ortopnea; (7) Tidak ada sianosis atau gelisah; (8) Hasil analisis gas darah (AGD) menunjukkan PaO2 ≥80 mmHg dan PaCO2 35-45 mmHg; (9) BNP plasma menurun mendekati normal; (10) Foto toraks menunjukkan berkurangnya kongesti paru. Intervensi keperawatan dianggap berhasil apabila dalam waktu 3x24 jam setelah terapi, pasien menunjukkan perbaikan pada minimal 5 kriteria hasil tersebut di atas, terutama perbaikan SpO2 dan frekuensi napas.
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Manajemen Gangguan Pertukaran Gas. Definisi: serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk mengoptimalkan difusi oksigen dan karbon dioksida di alveolus serta mempertahankan ventilasi dan perfusi paru yang adekuat. Intervensi utama pada pasien ini meliputi: (1) Monitor frekuensi, irama, kedalaman napas, dan pola napas setiap 1-2 jam; (2) Monitor saturasi oksigen dengan pulse oximeter secara kontinu, target SpO2 ≥92%; (3) Monitor adanya tanda-tanda hipoksia seperti gelisah, sianosis, penurunan kesadaran, dan aritmia; (4) Berikan oksigen sesuai indikasi, dimulai dengan nasal kanul 2-4 L/menit atau masker sederhana untuk mencapai target SpO2; (5) Posisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat) atau high-Fowler (80-90 derajat) untuk mengurangi kongesti paru dan memudahkan ekspansi paru; (6) Ajarkan teknik napas dalam dan batuk efektif untuk membersihkan sekret jika ada; (7) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian diuretik (misalnya furosemid) untuk mengurangi volume cairan paru; (8) Kolaborasi pemberian vasodilator (misalnya nitrogliserin) untuk mengurangi afterload dan preload jantung; (9) Kolaborasi pemberian inotropik (misalnya dobutamin) jika ada tanda-tanda syok kardiogenik; (10) Monitor keseimbangan cairan ketat (intake-output) dan berat badan harian; (11) Edukasi pasien untuk melaporkan sesak napas yang memberat, batuk, atau nyeri dada; (12) Siapkan alat resusitasi dan ventilasi mekanik jika terjadi perburukan. Intervensi ini dilakukan secara kontinu dengan evaluasi setiap 1-2 jam pada fase akut, kemudian diperpanjang intervalnya sesuai respons pasien.
Kondisi: Kelebihan Volume Cairan berhubungan dengan Gangguan Mekanisme Regulasi (Gagal Jantung Kongestif)
Kode SDKI: D.0022
Deskripsi Singkat: Kelebihan volume cairan adalah kondisi di mana terjadi peningkatan retensi cairan dan natrium dalam tubuh akibat penurunan curah jantung dan aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS) pada gagal jantung. Pada pasien ini, disfungsi ventrikel kiri akibat hipertensi kronis dan penyakit jantung koroner menyebabkan penurunan fraksi ejeksi, sehingga curah jantung menurun. Tubuh merespons dengan aktivasi RAAS, peningkatan hormon antidiuretik (ADH), dan peningkatan tonus simpatis, yang semuanya meningkatkan retensi natrium dan air. Akumulasi cairan ini bermanifestasi sebagai edema tungkai (pitting edema derajat 2-3 yang meluas hingga betis), distensi vena jugularis (JVP meningkat), dan kongesti paru yang menyebabkan sesak napas. Tanda-tanda klinis lain yang mendukung meliputi peningkatan tekanan darah (160/95 mmHg) akibat vasokonstriksi perifer, takikardia, dan ronki basah di paru. Pasien juga melaporkan edema yang tidak hilang dengan istirahat, menunjukkan bahwa retensi cairan sudah signifikan. Hasil foto toraks menunjukkan kardiomegali dan kongesti paru, serta BNP yang meningkat mengonfirmasi adanya gagal jantung dengan kelebihan volume. Kondisi ini memerlukan manajemen ketat untuk mengembalikan keseimbangan cairan dan mencegah komplikasi seperti edema paru akut dan syok kardiogenik.
Kode SLKI: J.00007
Deskripsi : Keseimbangan cairan membaik. Definisi: suatu kondisi yang menunjukkan tercapainya keseimbangan antara asupan dan keluaran cairan tubuh, serta tidak adanya tanda-tanda retensi cairan atau dehidrasi. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Edema perifer menurun, dengan skala edema berkurang dari derajat 2-3 menjadi derajat 0-1 (tidak ada atau minimal); (2) Distensi vena jugularis tidak terlihat (JVP < 5 cmH2O); (3) Berat badan harian stabil atau menurun sesuai target (misalnya penurunan 0,5-1 kg/hari); (4) Keseimbangan cairan (intake-output) dalam 24 jam mencapai nilai negatif (output > intake) sesuai target terapi diuretik; (5) Tekanan darah dalam rentang normal (sistolik 100-130 mmHg, diastolik 60-80 mmHg); (6) Tidak ada ronki basah atau kongesti paru pada auskultasi; (7) Frekuensi napas normal (16-20x/menit); (8) Saturasi oksigen ≥95%; (9) Turgor kulit kembali normal; (10) Pasien tidak mengeluh sesak napas saat berbaring. Target hasil pada pasien ini adalah dalam 3x24 jam setelah intervensi, edema tungkai berkurang minimal satu derajat, berat badan turun 1-2 kg, dan tanda-tanda kongesti paru menghilang.
Kode SIKI: I.03118
Deskripsi : Manajemen Kelebihan Volume Cairan. Definisi: serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk mengurangi retensi cairan, memulihkan keseimbangan cairan tubuh, dan mencegah komplikasi akibat kelebihan volume. Intervensi utama meliputi: (1) Monitor tanda-tanda vital setiap 1-2 jam, terutama tekanan darah, nadi, dan frekuensi napas; (2) Monitor berat badan harian pada waktu yang sama (pagi hari setelah buang air kecil, sebelum sarapan) dengan timbangan yang sama; (3) Monitor intake dan output cairan secara ketat setiap shift, termasuk asupan oral, infus, obat-obatan, dan output urine; (4) Monitor adanya edema perifer dengan menilai pitting edema pada ekstremitas bawah (skala 1-4) setiap 4-8 jam; (5) Monitor distensi vena jugularis dengan posisi pasien semi-Fowler 30-45 derajat; (6) Monitor bunyi napas tambahan (ronki basah) setiap 2-4 jam; (7) Batasi asupan cairan sesuai instruksi dokter (biasanya 1500-2000 mL/hari) dan edukasi pasien untuk mematuhi pembatasan ini; (8) Batasi asupan natrium (diet rendah garam <2 gram/hari) untuk mengurangi retensi cairan; (9) Berikan posisi semi-Fowler atau high-Fowler untuk mengurangi kongesti paru dan memudahkan pernapasan; (10) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian diuretik loop (misalnya furosemid IV) dan pantau respons di
Article No. 25282 | 24 Apr 2026
Klinis : Pasien perempuan, 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak sejak 5 hari yang lalu, disertai demam tinggi dan sesak napas yang semakin berat sejak 2 hari terakhir. Dahak berwarna kuning kehijauan. Pasien juga mengeluh nyeri dada saat menarik napas dalam. Tidak ada riwayat asma, tetapi pasien memiliki riwayat merokok ringan dan sering kelelahan. Pemeriksaan Fisik: • Keadaan umum: tampak sakit sedang, sesak • TD: 130/80 mmHg • Nadi: 102 x/menit • RR: 30 x/menit • Suhu: 38,5°C • SpO₂: 88% tanpa oksigen Pemeriksaan Sistem: • Inspeksi: penggunaan otot bantu napas • Palpasi: fremitus meningkat • Auskultasi: ronki basah kasar pada paru kanan bawah Pemeriksaan Penunjang: • Foto toraks: infiltrat paru lobus bawah • Leukosit: meningkat
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas tetap paten. Pada pasien ini, kondisi tersebut disebabkan oleh akumulasi sekret kental (dahak kuning kehijauan) akibat infeksi bakteri pada parenkim paru (pneumonia lobaris bawah). Data objektif yang mendukung meliputi: batuk produktif dengan sputum purulen, sesak napas berat (RR 30x/menit), penggunaan otot bantu napas, SpO₂ 88% (hipoksemia), ronki basah kasar pada auskultasi paru kanan bawah, dan foto toraks yang menunjukkan infiltrat. Pasien juga memiliki faktor risiko seperti riwayat merokok ringan yang dapat mengiritasi mukosa saluran napas dan kelelahan yang menurunkan kemampuan batuk efektif. Demam tinggi (38,5°C) dan leukositosis menunjukkan proses infeksi aktif yang mempercepat produksi sekret. Nyeri dada saat inspirasi dalam (pleuritik) juga menghambat pasien untuk batuk efektif karena rasa sakit, sehingga sekret semakin tertahan. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini dapat memperburuk ventilasi dan oksigenasi, menyebabkan gagal napas, atelektasis, atau perluasan infeksi.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan jalan napas adalah kemampuan mempertahankan jalan napas tetap paten dan bebas dari sekret atau obstruksi. Luaran yang diharapkan pada pasien ini meliputi: (1) Batuk efektif meningkat dengan skala 5 (mampu mengeluarkan sekret tanpa bantuan), (2) Produksi sputum menurun dengan skala 5 (tidak ada sekret atau sangat sedikit), (3) Suara napas tambahan (ronki) menurun dengan skala 5 (tidak ada suara napas tambahan), (4) Dispnea menurun dengan skala 5 (tidak ada sesak napas saat istirahat atau aktivitas ringan), (5) Frekuensi napas membaik dalam rentang 16-20 x/menit, (6) Pola napas membaik (tidak menggunakan otot bantu napas, irama teratur), (7) Saturasi oksigen membaik ≥95% pada udara ruangan, (8) Kemampuan mengeluarkan sekret meningkat, dan (9) Nyeri dada saat bernapas menurun. Indikator-indikator ini diukur menggunakan skala Likert 1 (memburuk) hingga 5 (membaik). Target utama dalam 3x24 jam adalah pasien menunjukkan peningkatan kemampuan batuk efektif dan penurunan tanda-tanda obstruksi jalan napas, yang ditandai dengan SpO₂ stabil di atas 94%, frekuensi napas normal, dan tidak ada retraksi otot bantu napas.
Kode SIKI: I.01001
Deskripsi : Latihan batuk efektif adalah tindakan keperawatan yang bertujuan mengajarkan dan melatih pasien teknik batuk yang benar untuk mengeluarkan sekret dari saluran napas secara optimal dengan energi minimal dan tanpa meningkatkan komplikasi. Intervensi ini sangat relevan karena pasien mengalami nyeri dada saat batuk dan napas dalam, sehingga cenderung menahan batuk. Tindakan meliputi: (1) Identifikasi kemampuan pasien untuk batuk efektif melalui observasi kekuatan batuk dan warna/volume sputum. (2) Monitor tanda-tanda retensi sputum seperti gelisah, takipnea, dan penurunan SpO₂. (3) Berikan posisi semi-Fowler atau high Fowler (duduk dengan sandaran 45-90 derajat) untuk memaksimalkan ekspansi paru dan gravitasi membantu pengeluaran sekret. (4) Ajarkan teknik napas dalam (deep breathing) 3-5 kali secara perlahan melalui hidung dan keluarkan melalui mulut dengan bibir mengerucut (pursed-lip breathing) untuk meregangkan alveoli dan memobilisasi sekret. (5) Instruksikan pasien untuk melakukan batuk efektif: tarik napas dalam, tahan 2-3 detik, lalu batukkan 2-3 kali berturut-turut dengan kuat dari diafragma sambil sedikit membungkuk ke depan. (6) Demonstrasikan teknik splinting (menekan area nyeri dada dengan bantal atau tangan) saat batuk untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah penekanan berlebihan pada pleura. (7) Kolaborasi pemberian mukolitik (seperti asetilsistein atau ambroksol) untuk mengencerkan dahak kental dan bronkodilator (seperti salbutamol nebulizer) jika ada bronkospasme. (8) Anjurkan minum air hangat minimal 1,5-2 liter per hari (kecuali kontraindikasi) untuk mengencerkan sekret. (9) Ajarkan teknik postural drainase dan perkusi/vibrasi dada (dapat dilakukan oleh perawat atau keluarga terlatih) untuk area paru kanan bawah yang terinfiltrat, dengan posisi pasien miring ke kiri dan bagian dada kanan bawah lebih tinggi, lalu lakukan perkusi dengan tangan menangkup selama 3-5 menit. (10) Evaluasi efektivitas batuk dengan mengauskultasi penurunan ronki, peningkatan SpO₂, dan volume sputum yang berhasil dikeluarkan. Intervensi ini dilakukan setiap 2-4 jam atau sesuai toleransi pasien, dengan prioritas menghilangkan nyeri dada terlebih dahulu (menggunakan teknik relaksasi atau analgesik sesuai kolaborasi) agar pasien kooperatif saat latihan batuk.
Article No. 25283 | 24 Apr 2026
Klinis : Pasien perempuan, 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak sejak 5 hari yang lalu, disertai demam tinggi dan sesak napas yang semakin berat sejak 2 hari terakhir. Dahak berwarna kuning kehijauan. Pasien juga mengeluh nyeri dada saat menarik napas dalam. Tidak ada riwayat asma, tetapi pasien memiliki riwayat merokok ringan dan sering kelelahan. Pemeriksaan Fisik: • Keadaan umum: tampak sakit sedang, sesak • TD: 130/80 mmHg • Nadi: 102 x/menit • RR: 30 x/menit • Suhu: 38,5°C • SpO₂: 88% tanpa oksigen Pemeriksaan Sistem: • Inspeksi: penggunaan otot bantu napas • Palpasi: fremitus meningkat • Auskultasi: ronki basah kasar pada paru kanan bawah Pemeriksaan Penunjang: • Foto toraks: infiltrat paru lobus bawah • Leukosit: meningkat
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Pneumonia, lobus bawah paru kanan dengan hipoksemia ringan
Kode ICD-10: J15.9 (Pneumonia bakterial, tidak terspesifikasi)
Deskripsi Singkat : Pasien perempuan 45 tahun dengan gejala klasik pneumonia bakterial akut, ditandai dengan batuk berdahak purulen (kuning kehijauan), demam tinggi (38,5°C), sesak napas progresif, dan nyeri dada pleuritik. Pemeriksaan fisik menunjukkan takipnea (RR 30x/menit), takikardia (nadi 102x/menit), penggunaan otot bantu napas, peningkatan fremitus, dan ronki basah kasar di paru kanan bawah. Saturasi oksigen 88% tanpa oksigen mengindikasikan hipoksemia ringan. Foto toraks mengonfirmasi infiltrat di lobus bawah paru kanan, dan leukositosis mendukung infeksi bakteri. Kode ICD-10 J15.9 dipilih karena tidak ada spesifikasi agen penyebab dari data yang tersedia. Kondisi ini memerlukan penanganan segera dengan antibiotik empiris, oksigenasi, dan terapi suportif untuk mencegah perburukan seperti sepsis atau gagal napas. Faktor risiko termasuk riwayat merokok ringan dan kelelahan yang dapat menurunkan daya tahan tubuh.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 25284 | 24 Apr 2026
Klinis : Pasien perempuan, 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak sejak 5 hari yang lalu, disertai demam tinggi dan sesak napas yang semakin berat sejak 2 hari terakhir. Dahak berwarna kuning kehijauan. Pasien juga mengeluh nyeri dada saat menarik napas dalam. Tidak ada riwayat asma, tetapi pasien memiliki riwayat merokok ringan dan sering kelelahan. Pemeriksaan Fisik: • Keadaan umum: tampak sakit sedang, sesak • TD: 130/80 mmHg • Nadi: 102 x/menit • RR: 30 x/menit • Suhu: 38,5°C • SpO₂: 88% tanpa oksigen Pemeriksaan Sistem: • Inspeksi: penggunaan otot bantu napas • Palpasi: fremitus meningkat • Auskultasi: ronki basah kasar pada paru kanan bawah Pemeriksaan Penunjang: • Foto toraks: infiltrat paru lobus bawah • Leukosit: meningkat Apa penyebab sesak?
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Pneumonia lobaris (lobus bawah kanan)
Kode ICD-10: J18.1
Deskripsi Singkat : Pasien perempuan 45 tahun dengan batuk berdahak kuning kehijauan, demam tinggi (38,5°C), sesak napas progresif, dan nyeri dada pleuritik. Pemeriksaan fisik menunjukkan takipnea (RR 30x/menit), takikardia (nadi 102x/menit), hipoksemia (SpO₂ 88%), penggunaan otot bantu napas, fremitus meningkat, dan ronki basah kasar pada paru kanan bawah. Foto toraks mengonfirmasi infiltrat di lobus bawah, disertai leukositosis. Temuan ini konsisten dengan pneumonia lobaris, yaitu infeksi akut yang mengenai satu lobus paru, biasanya disebabkan oleh bakteri seperti Streptococcus pneumoniae. Proses inflamasi menyebabkan konsolidasi alveolar (pengisian kantung udara oleh eksudat purulen), sehingga area paru menjadi padat dan tidak elastis. Hal ini mengganggu pertukaran gas (ventilasi-perfusi mismatch), menyebabkan hipoksemia dan sesak napas. Fremitus meningkat karena getaran suara lebih mudah merambat melalui jaringan yang terkonsolidasi. Ronki basah kasar terjadi akibat udara melewati sekret di bronkus besar. Nyeri dada pleuritik menandakan iritasi pleura yang sering menyertai pneumonia. Riwayat merokok ringan dan kelelahan merupakan faktor predisposisi. Kode ICD-10 J18.1 digunakan untuk pneumonia yang disebabkan oleh agen yang tidak terspesifikasi, namun dengan gambaran lobaris. Kode ini tepat karena pada kasus tidak disebutkan agen penyebab spesifik (misalnya hasil kultur atau PCR). Jika agen diketahui, kode akan disesuaikan (misal J13 untuk pneumokokus).
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
Article No. 25269 | 23 Apr 2026
Klinis : bayi usia 7 hari, kulit warna kuning . HR 158
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Hiperbilirubinemia (Ikterus Neonatorum) dengan Tanda Tachycardia
Kode SDKI: 0014
Deskripsi Singkat: Risiko tinggi atau aktual peningkatan kadar bilirubin serum di atas rentang normal yang dapat menyebabkan toksisitas pada sistem saraf pusat neonatus.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Intervensi Keperawatan untuk Mengatasi Hiperbilirubinemia. Fokus intervensi adalah memantau, mencegah komplikasi, dan menurunkan kadar bilirubin. Pertama, lakukan pemantauan ketat tanda-tanda klinis ikterus dengan menilai warna kulit dan sklera secara sistematis (dari kepala ke kaki) setidaknya setiap 8-12 jam, dan catat progresinya. Pantau tanda vital, khususnya denyut jantung dan suhu, karena tachycardia dapat mengindikasikan stres atau infeksi yang memperburuk ikterus, dan hipotermia dapat meningkatkan ikterus. Kedua, tingkatkan asupan untuk meningkatkan eliminasi bilirubin melalui feses dan urine dengan mendorong pemberian ASI atau susu formula yang adekuat, minimal 8-12 kali per hari, dan evaluasi kecukupan asupan (output urine 6-8 popok basah/hari, feses lembek kuning). Ketiga, kolaborasi untuk terapi fototerapi sesuai indikasi dengan memastikan bayi mendapat paparan cahaya yang optimal (mata dan genitalia terlindungi, posisi diubah secara berkala), memantau suhu tubuh, dan meningkatkan asupan cairan karena fototerapi meningkatkan kehilangan cairan insensibel. Keempat, edukasi orang tua tentang penyebab ikterus, pentingnya pemberian makan yang sering, cara mengenali tanda bahaya (ikterus hingga telapak kaki, bayi lemas, tidak mau menyusu, menangis melengking), dan prosedur fototerapi jika diperlukan. Kelima, pantau tanda-tanda kemungkinan kernikterus seperti letargi, hipotonia, tangisan melengking, kejang, dan opistotonus, serta segera laporkan. Intervensi ini bertujuan menurunkan kadar bilirubin serum ke rentang aman dan mencegah komplikasi neurologis.
Kode SIKI: 140101, 140102, 140103, 140104, 140105
Deskripsi : Kriteria Hasil yang Diharapkan untuk Manajemen Hiperbilirubinemia. Kriteria hasil dievaluasi untuk memastikan efektivitas intervensi. Pertama (140101), Kadar Bilirubin Serum dalam Batas Aman: Kadar bilirubin total serum menunjukkan tren penurunan dan berada di bawah ambang batas yang memerlukan intervensi intensif (sesuai kurva usia dalam jam dan faktor risiko). Kedua (140102), Status Hidrasi dan Nutrisi Adekuat: Bayi menunjukkan tanda-tanda hidrasi yang baik seperti turgor kulit elastis, mukosa bibir lembab, dan output urine 6-8 kali per hari dengan urine jernih/kuning muda. Asupan nutrisi cukup dengan frekuensi menyusu 8-12 kali, bayi tampak puas setelah menyusu, dan berat badan mulai stabil/meningkat. Ketiga (140103), Tidak Ada Komplikasi dari Terapi: Bayi tidak mengalami komplikasi fototerapi seperti ruam kulit, diare, dehidrasi, atau hipertermia. Area mata dan genitalia tetap terlindungi dengan baik tanpa iritasi. Keempat (140104), Tanda Vital Stabil: Denyut jantung berada dalam rentang normal untuk usia baru lahir (120-160 x/menit), menunjukkan penurunan dari tachycardia (158 x/menit) yang mungkin terkait stres atau dehidrasi. Suhu tubuh aksila tetap dalam rentang 36,5-37,5°C. Kelima (140105), Orang Tua Berpengetahuan dan Berpartisipasi: Orang tua mampu menjelaskan penyebab ikterus, pentingnya pemberian makan yang sering, mengenali tanda-tanda bahaya yang memerlukan pelaporan segera, dan berpartisipasi aktif dalam perawatan bayi selama fototerapi (jika diberikan) seperti memberikan ASI/susu, menenangkan bayi, dan melaporkan perubahan kondisi. Pencapaian kriteria hasil ini menunjukkan keberhasilan manajemen keperawatan dalam mengendalikan hiperbilirubinemia dan mencegah kernikterus.
Article No. 25270 | 23 Apr 2026
Klinis : ansietas
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ansietas
Kode SDKI: D.0080
Deskripsi Singkat: Ansietas adalah kondisi emosional subjektif yang ditandai dengan perasaan tidak nyaman, kekhawatiran, atau ketakutan yang tidak spesifik dan menyebar, seringkali terkait dengan persepsi ancaman yang tidak jelas atau tidak diketahui. Dalam konteks keperawatan, ansietas merupakan respons psikologis dan fisiologis terhadap stresor internal maupun eksternal yang dirasakan oleh individu. Menurut Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), ansietas didefinisikan sebagai perasaan tidak nyaman, khawatir, atau ketakutan yang samar-samar, seringkali disertai respons otonom (sumber tidak diketahui atau tidak spesifik), dan merupakan pengalaman subjektif individu terhadap ancaman yang tidak dapat diidentifikasi secara jelas. Diagnosis ini dapat dibedakan dari rasa takut, di mana rasa takut memiliki objek ancaman yang spesifik dan jelas. Ansietas memiliki rentang dari ringan hingga berat (panik) dan dapat memengaruhi fungsi kognitif, afektif, dan psikomotor seseorang. Manifestasi klinis yang sering muncul meliputi gelisah, sulit tidur, peningkatan frekuensi denyut nadi dan pernapasan, diaforesis (keringat dingin), tremor, mulut kering, palpitasi, peningkatan tekanan darah, serta gangguan konsentrasi. Pasien mungkin melaporkan perasaan "cemas tanpa sebab", "seperti ada sesuatu yang buruk akan terjadi", atau sulit untuk rileks. Faktor-faktor yang berhubungan dengan ansietas meliputi ancaman terhadap konsep diri, ancaman terhadap fungsi peran, ancaman terhadap kesejahteraan fisiologis, perubahan status kesehatan, krisis situasional, kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan kurangnya pengetahuan. Ansietas juga dapat dipicu oleh lingkungan yang asing, prosedur medis, diagnosis penyakit serius, atau perubahan hidup yang signifikan. Diagnosis ini sangat penting untuk diidentifikasi secara dini karena ansietas yang tidak tertangani dapat memperburuk kondisi fisik pasien, menghambat proses penyembuhan, dan mengurangi kualitas hidup. Perawat memiliki peran krusial dalam mengkaji tingkat ansietas, mengidentifikasi penyebabnya, dan memberikan intervensi yang tepat untuk membantu pasien mengelola kecemasannya.
Kode SLKI: L.09093
Deskripsi : Tingkat Ansietas (L.09093) adalah luaran keperawatan yang menggambarkan kemampuan pasien dalam mengelola dan mengurangi respons terhadap ansietas. Menurut Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI) yang ditetapkan oleh PPNI, luaran ini diukur melalui lima indikator utama yang mencakup aspek psikologis, fisiologis, dan perilaku. Indikator pertama adalah "Kontrol terhadap situasi," yang mengukur sejauh mana pasien merasa mampu mengendalikan faktor-faktor yang memicu kecemasan. Indikator kedua adalah "Perasaan khawatir," yang menilai penurunan frekuensi dan intensitas perasaan cemas yang dilaporkan pasien. Indikator ketiga adalah "Perilaku gelisah," yang mengamati penurunan aktivitas motorik yang tidak bertujuan, seperti mondar-mandir atau mengepalkan tangan. Indikator keempat adalah "Respons fisiologis," yang mengevaluasi penurunan tanda-tanda vital yang meningkat (seperti nadi cepat, pernapasan dangkal, dan tekanan darah tinggi) serta gejala fisik lainnya seperti tremor dan diaforesis. Indikator kelima adalah "Kemampuan berkonsentrasi," yang mengukur peningkatan fokus dan perhatian pasien terhadap lingkungan sekitarnya. Setiap indikator dinilai menggunakan skala Likert 1-5, di mana skor 1 menunjukkan ansietas berat (sangat terganggu) dan skor 5 menunjukkan ansietas ringan atau tidak ada ansietas (tidak terganggu). Target luaran ini adalah tercapainya peningkatan skor pada setiap indikator setelah diberikan intervensi keperawatan. Luaran ini bersifat dinamis dan dapat dievaluasi secara berkala untuk menyesuaikan rencana intervensi. Keberhasilan luaran ini tidak hanya diukur dari hilangnya gejala, tetapi juga dari kemampuan pasien untuk mengidentifikasi pemicu ansietas, menggunakan teknik relaksasi secara mandiri, dan menunjukkan mekanisme koping yang adaptif. Perawat perlu mendokumentasikan skor awal dan skor setelah intervensi untuk memantau progres pasien. Luaran ini saling terkait erat dengan diagnosis ansietas dan intervensi yang diberikan, membentuk suatu siklus asuhan keperawatan yang holistik dan berpusat pada pasien.
Kode SIKI: I.09326
Deskripsi : Reduksi Ansietas (I.09326) adalah intervensi keperawatan yang dirancang untuk menurunkan tingkat kecemasan pasien melalui pendekatan yang komprehensif, mencakup aspek psikologis, fisik, dan lingkungan. Menurut Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang ditetapkan oleh PPNI, intervensi ini terdiri dari serangkaian aktivitas keperawatan yang terstruktur dan berbasis bukti. Tujuan utama dari reduksi ansietas adalah membantu pasien mencapai keadaan tenang, meningkatkan kemampuan koping, dan mengurangi dampak negatif ansietas terhadap fungsi sehari-hari. Aktivitas keperawatan dalam intervensi ini meliputi: (1) Identifikasi tingkat ansietas, termasuk mengkaji tanda verbal dan nonverbal, serta menggunakan alat ukur yang valid (seperti kuesioner HARS atau skala analog visual); (2) Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman, seperti mengurangi kebisingan, mengatur pencahayaan yang lembut, dan memastikan privasi pasien; (3) Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan, dengan berbicara perlahan, menggunakan nada suara yang rendah, dan menunjukkan empati; (4) Berikan informasi faktual mengenai diagnosis, prosedur, atau situasi yang tidak diketahui, karena informasi yang jelas dapat mengurangi ketidakpastian yang menjadi sumber ansietas; (5) Ajarkan teknik relaksasi, seperti napas dalam (deep breathing), relaksasi otot progresif, guided imagery, atau meditasi mindfulness; (6) Libatkan pasien dalam perawatan dan pengambilan keputusan, sehingga pasien merasa memiliki kontrol terhadap situasinya; (7) Bantu pasien mengidentifikasi pikiran negatif atau distorsi kognitif dan ganti dengan pikiran yang lebih realistis dan positif (terapi kognitif sederhana); (8) Anjurkan pasien untuk mengekspresikan perasaan dan kekhawatirannya, dan dengarkan secara aktif tanpa menghakimi; (9) Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain, seperti psikolog atau psikiater, jika ansietas sangat berat atau memerlukan terapi farmakologis; (10) Monitor respons pasien terhadap intervensi, termasuk perubahan tanda-tanda vital, perilaku, dan laporan subjektif pasien. Intervensi ini dapat dilakukan secara bertahap, dimulai dari teknik yang paling sederhana seperti mengatur napas, hingga teknik yang lebih kompleks. Perawat juga perlu mengedukasi keluarga atau orang terdekat pasien tentang cara mendukung pasien yang mengalami ansietas. Dokumentasi yang akurat mengenai respons pasien terhadap setiap aktivitas intervensi sangat penting untuk evaluasi dan perencanaan asuhan selanjutnya. Reduksi ansietas bukan hanya sekadar menenangkan pasien, tetapi juga memberdayakan pasien dengan keterampilan untuk mengelola kecemasannya secara mandiri di masa depan.
Article No. 25271 | 23 Apr 2026
Klinis : slki nyeri kronis karena kondisi muskuloskeletal kronis
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Kronis pada Kondisi Muskuloskeletal Kronis
Kode SDKI: D.0078
Deskripsi Singkat: Nyeri kronis adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial yang dialami secara terus-menerus atau berulang dalam waktu yang lama (lebih dari 3 bulan). Pada kondisi muskuloskeletal kronis, nyeri ini seringkali berasal dari proses degeneratif, inflamasi kronis (seperti pada osteoartritis, rheumatoid arthritis), atau cedera berulang pada tulang, sendi, ligamen, tendon, dan otot. Nyeri bersifat persisten, dapat berfluktuasi intensitasnya, dan seringkali tidak sepenuhnya hilang meskipun telah mendapatkan terapi. Dampaknya meluas ke aspek fisik (keterbatasan gerak, kelelahan), psikologis (cemas, depresi, frustrasi), sosial (isolasi, penurunan peran), dan spiritual (kehilangan makna hidup). Diagnosis ini ditegakkan ketika pasien melaporkan nyeri yang berlangsung lebih dari 3 bulan, dengan skala nyeri yang mungkin tidak berubah secara signifikan, disertai tanda-tanda adaptasi seperti perubahan postur tubuh, ekspresi wajah yang tegang, gangguan tidur, penurunan nafsu makan, serta ketidakmampuan menjalankan aktivitas sehari-hari secara mandiri. Pada kondisi muskuloskeletal kronis, nyeri seringkali menjadi siklus yang memperburuk kondisi fisik karena pasien cenderung menghindari gerakan (kinesiofobia) yang justru menyebabkan kekakuan dan kelemahan otot lebih lanjut.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri (Kronis) adalah kriteria hasil yang diharapkan setelah intervensi keperawatan, yang menggambarkan penurunan atau terkontrolnya pengalaman nyeri yang dialami pasien. Deskripsi ini dijabarkan dalam indikator-indikator spesifik yang dapat diukur dan diamati. Indikator utamanya meliputi: 1) Keluhan nyeri menurun (frekuensi, durasi, dan intensitas nyeri berkurang, misalnya dari skala 7/10 menjadi 3/10). 2) Ekspresi wajah rileks (tidak meringis, tidak mengerutkan dahi). 3) Kemampuan untuk beristirahat atau tidur dengan nyenyak (durasi tidur meningkat, frekuensi terbangun karena nyeri menurun). 4) Kemampuan melakukan aktivitas fisik meningkat (rentang gerak sendi bertambah, pasien mampu melakukan perawatan diri seperti mandi, berpakaian, atau berjalan tanpa bantuan). 5) Penggunaan analgetik berkurang (frekuensi dan dosis obat nyeri menurun). 6) Nafsu makan membaik (porsi makan bertambah). 7) Kemampuan mengontrol nyeri meningkat (pasien dapat menggunakan teknik nonfarmakologis seperti relaksasi napas dalam, distraksi, atau kompres hangat/dingin secara mandiri). 8) Kualitas hidup meningkat (pasien melaporkan peningkatan partisipasi dalam aktivitas sosial, pekerjaan, atau hobi). Skala penilaian untuk setiap indikator biasanya menggunakan skala 1-5 (1=sangat memburuk, 5=membaik). Tujuan akhir dari SLKI ini adalah pasien mampu beradaptasi dengan nyeri kronisnya sehingga fungsi fisik dan psikososialnya dapat optimal, meskipun nyeri mungkin tidak sepenuhnya hilang.
Kode SIKI: I.08223
Deskripsi : Manajemen Nyeri Kronis adalah serangkaian intervensi keperawatan yang komprehensif, sistematis, dan berkesinambungan yang bertujuan untuk mengurangi intensitas nyeri, meningkatkan fungsi fisik, serta meningkatkan kualitas hidup pasien yang mengalami nyeri berkepanjangan. Intervensi ini tidak hanya berfokus pada pemberian obat, tetapi juga pada pendekatan biopsikososial. Tindakan utama meliputi: 1) Identifikasi komprehensif: kaji karakteristik nyeri (lokasi, kualitas, intensitas, durasi, frekuensi, faktor pencetus dan faktor yang meringankan), riwayat penyakit muskuloskeletal, pengobatan sebelumnya, dampak nyeri terhadap aktivitas sehari-hari, tidur, nafsu makan, dan suasana hati. 2) Kolaborasi pemberian analgetik: berikan obat pereda nyeri sesuai resep dokter (misalnya NSAID, asetaminofen, atau opioid) dengan prinsip "by the clock" (tepat waktu) untuk menjaga kadar obat tetap stabil, serta pantau efek samping seperti gangguan lambung, konstipasi, atau sedasi. 3) Edukasi teknik nonfarmakologis: ajarkan dan latih pasien teknik relaksasi napas dalam, guided imagery (bayangan terbimbing), distraksi (mendengarkan musik, menonton film), kompres hangat untuk mengurangi kekakuan otot, atau kompres dingin untuk mengurangi inflamasi akut. 4) Terapi fisik dan latihan: instruksikan latihan rentang gerak sendi (range of motion) secara bertahap, peregangan ringan, dan penguatan otot yang disesuaikan dengan kondisi pasien, serta ajarkan teknik body mechanics yang benar untuk mencegah cedera saat beraktivitas. 5) Manajemen aktivitas dan istirahat: bantu pasien menyeimbangkan periode aktivitas dan istirahat (pacing activity), buat jadwal harian yang realistis, dan anjurkan posisi tidur yang nyaman (misalnya menggunakan bantal penyangga lutut atau leher). 6) Dukungan psikologis: berikan kesempatan pasien untuk mengekspresikan perasaan frustrasi, marah, atau sedih terkait nyeri kronisnya, serta lakukan terapi kognitif-perilaku sederhana untuk mengubah pikiran negatif tentang nyeri (misalnya "nyeri ini tidak akan pernah hilang" menjadi "saya bisa belajar mengelolanya"). 7) Edukasi dan konseling: berikan informasi tentang perjalanan penyakit muskuloskeletal kronis, pentingnya kepatuhan berobat, serta cara mengenali tanda-tanda perburukan. Libatkan keluarga dalam proses perawatan untuk memberikan dukungan emosional dan bantuan fisik. 8) Rujukan dan kolaborasi: rujuk pasien ke fisioterapis, psikolog, atau spesialis nyeri jika diperlukan untuk penanganan yang lebih spesifik seperti akupunktur, terapi okupasi, atau intervensi farmakologis lanjutan. Evaluasi intervensi dilakukan secara berkala dengan memantau perkembangan indikator pada SLKI, serta menyesuaikan rencana asuhan berdasarkan respons pasien.
Article No. 25251 | 22 Apr 2026
Klinis : a. Keluhan Utama Sesak napas, lemas, mual dan muntah 5x b. Riwayat Kesehatan Saat Ini Alasan Masuk Rumah Sakit: Pasien dibawa anaknya ke IGD RSD K.R.M.T Wongsonegoro Kota Semarang pada Jum’at, 17 April 2026 Pukul 14.15 WIB dengan keluhan sesak napas, lemas, mual dan muntah 5x. Keadaan umum lemah, kesadaran somnolen (E3,V4,M5), tekanan darah: 110/57 mmHg; heart rate: 84x/menit; respiratory rate: 28x/menit; suhu: 36,4oC; dan SpO2: 98% (nasal kanul 5 lpm) serta gula darah sewaktu: 147 mg/dL c. Riwayat Kesehatan Dahulu Keluarga pasien mengatakan pasien memiliki riwayat penyakit diabetes melitus, hipertensi, ginjal dan glaukoma sejak tahun 2021. Pasien juga memiliki alergi seafood. d. Riwayat Kesehatan Keluarga Keluarga pasien mengatakan dikeluarganya tidak ada yang menderita penyakit menurun atau menular seperti diabetes melitus, hipertensi, ginjal, glaukoma serta alergi seafood. a. Airway Pasien sesak nafas, tidak ada sumbatan jalan nafas, suara napas: wheezing, terpasang oksigen nasal kanul 3 lpm. b. Breathing Pasien sesak napas, frekuensi napas: 28x/menit (takipnea), irama napas tidak teratur, terdapat retraksi dada. c. Circulation Akral hangat, tidak ada tanda sianosis, capillary refill time: >2 detik, heart rate: 73x/menit, irama nadi: irreguler, nadi teraba kuat, tekanan darah: 103/57 mmHg. d. Disability Keadaan umum lemah, kesadaran somnolen (E3, V3, M4), adanya gangguan penglihatan, tidak ada kelemahan ekstremitas, kekuatan otot kanan atas:5; kiri atas:5; kanan bawah:5; kiri bawah:5. e. Exposure Terpasang DC GT, terpasang oksigen nasal kanul 3 lpm, terpasang infus iv ditangan kiri, tidak aja jejas/luka pada tubuh. 4. Pengkajian Fisik a. B1 (Breathing) 1) Inspeksi Pasien sesak napas, frekuensi napas: 28x/menit (takipnea), irama napas tidak teratur, terdapat retraksi dada. 2) Palpasi Tidak terdapat krepitasi dan nyeri tekan pada area dada, p: saat digunakan aktivitas ringan; q: seperti tertindih, r: area dada; s: skala 4 (VAS); t: hilang timbul. 3) Perkusi: pekak 4) Auskultasi: wheezing b. B2 (Blood) 1) Inspeksi Bentuk dada normal simetris, tidak terdapat lesi, warna kulit merata, 2) Palpasi Nadi teraba kuat, HR : 73x/menit, CRT >2 detik, akral hangat, tidak ada benjolan. 3) Perkusi Batas jantung terdorong kebawah dan lateral kekiri, suara pekak 4) Auskultasi Bunyi jantung S1 dan S2 terdengar jelas, tidak terdengar murmur dan gallop c. B3 (Brain) 1) Keadaan umum : lemah 2) Kesadaran : (E3, V3, M4) 3) Tidak ada paralise 4) Penglihatan a) Pupil : mid-dilatasi (melebar sebagian) b) Reflek pupil : -/- (tidak bisa melihat) 5) Penciuman a) Bentuk simetris b) Tidak ada kelainan penciuman c) Tidak ada polip hidung 6) Pendengaran a) Aurikel normal b) Membran timpani terang c) Tidak ada gangguan pendengaran d. B4 (Bladder) 1. Terpasang DC, ukuran 16 2. Produksi urine 400cc/ 8 Jam, warna kuning, bau khas urine 3. Kandung kemih tidak terjadi perbesaran, tidak ada nyeri tekan 4. Intake dan Output Cairan: IWL: (15×60x24 jam):8 jam=270 cc Urine : 400cc Intake : 243cc 509−(270+400)= 509-670= -161cc Balance Cairan: -161cc e. B5 (Bowel) 1. TB: 155 cm, BB: 60 kg 2. Mukosa bibir lembab 3. Bibir tidak sianosis 4. Tidak ada nyeri menelan 5. Gigi sedikit kuning 6. Tidak ada lesi pada perut 7. Bising usus 12×/menit 8. Tidak terpasang colostomy f. B6 (Sistem Muskulooskeletal dan Integumen) 1) Pergerakan sendi bebas 2) Tidak ada kelainan esktermitas 3) ADL tergantung total karena gangguna penglihatan dan lemas 4) ROM miring kanan dan kiri mandiri 5) Kekuatan otot ekstermitas atas kanan 5/ kiri 5, ekatermitas bawah kanan 5/ kiri 5 g. Personal Hygiene 1) Selama di rumah sakit pasien sibin dan oral hygiene 2 kali sehari dengan di bantu perawat 2) Mengganti pampers setiap kali kotor a. Pemeriksaan Laboratorium (17/04/2026) 15.30 WIB Nama Pemeriksaan Nilai Hasil Satuan Nilai Rujukan GDS H 392 Mg/dl 70-140 Kalium H 6.50 mmol/L 3.50-5.0 Natrium L 123.0 mmol/L 135.0-147.0 Calsium H 1.21 mmol/L 1.00-1.15 Creatinin H 5.53 mg/dl 0.5-0.8 Ureum H 194.2 mg/dl 17.0-43.0 Hemoglobin L 8.6 g/dl 11.7-15.5 Hematokrit L 26.20 % 35-47 Jumlah Trombosit L 171 /uL 150-400 Jumlah Eritrosit L 2.94 /uL 4.2-5.4 Jumlah Leukosit H 26.4 /uL 3.6-11.0 SGPT H 139 U/L 0-35 SGOT H 176 U/L 0-35 b. Hasil Thorax Tanggal: 117/04/2026 18.30 WIB Cor: Apeks melebaar ke laterokauda, pinggang mendatar Pulmo: Corakan vaskuler meningkat. Tampak bercak padaperihiler kiri dan parakardial kanan Diafragma dan sinus kostofrenikus kanan kiri normal. Tulang dan soft tissue baik Kesan: Cardiomegaly LVH, LAH Gambaran bronkopeneuonia
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Pertukaran Gas
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana terjadi kelebihan atau kekurangan oksigenasi dan/atau eliminasi karbondioksida pada membran alveolus-kapiler. Pada pasien ini, kondisi ini dimanifestasikan oleh sesak napas, takipnea (RR 28x/menit), irama napas tidak teratur, retraksi dada, dan suara napas wheezing. Meskipun SpO2 98% dengan oksigen, ini merupakan kondisi terkoreksi dengan pemberian oksigen. Gangguan pertukaran gas didukung oleh hasil radiologi yang menunjukkan gambaran bronkopneumonia, di mana proses inflamasi dan konsolidasi di alveolus mengganggu difusi gas. Selain itu, kondisi kelemahan umum dan somnolen juga dapat menjadi tanda hipoksia serebral. Riwayat DM dan hasil laboratorium (leukositosis) yang mengindikasikan infeksi memperberat kondisi ini.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : Pertukaran gas membaik. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: frekuensi pernapasan dalam rentang normal (16-20x/menit), irama napas teratur, tidak ada retraksi otot bantu pernapasan, tidak ada keluhan sesak napas, dan suara napas bersih (tidak ada wheezing atau ronki). Selain itu, saturasi oksigen (SpO2) dipertahankan >94% dengan oksigenasi yang semakin minimal atau tanpa bantuan. Status kesadaran juga menunjukkan perbaikan menuju kompos mentis. Pencapaian SLKI ini memerlukan intervensi keperawatan untuk mempertahankan jalan napas, memberikan terapi oksigen sesuai kebutuhan, serta memantau status pernapasan dan gas darah secara berkala.
Kode SIKI: I.08010
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas. Intervensi ini mencakup serangkaian tindakan untuk memastikan patensi jalan napas dan memperbaiki pertukaran gas. Tindakan spesifik yang relevan untuk pasien ini meliputi: (1) Mempertahankan posisi semi-Fowler atau Fowler untuk memudahkan ekspansi paru; (2) Memantau status pernapasan (frekuensi, irama, kedalaman, usaha napas, dan suara napas) setiap 1-2 jam atau sesuai kondisi; (3) Melakukan fisioterapi dada dan latihan napas dalam jika kondisi pasien memungkinkan; (4) Memberikan terapi oksigen sesuai order (nasal kanul) dan memantau efektivitasnya melalui SpO2 dan tanda klinis; (5) Melakukan suction jika terdapat sekret yang tidak dapat dibatukkan; (6) Kolaborasi pemberian bronkodilator atau antibiotik sesuai program terapi medis untuk menangani pneumonia dan wheezing; serta (7) Memonitor hasil analisis gas darah jika tersedia. Intervensi ini harus didokumentasikan dengan jelas dan dievaluasi respons pasien secara terus-menerus.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: D.0090
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami variasi kadar glukosa darah dari rentang normal. Pada pasien ini, kondisi ini merupakan diagnosa aktual yang diperkuat oleh data riwayat Diabetes Melitus dan hasil pemeriksaan Gula Darah Sewaktu (GDS) yang sangat tinggi yaitu 392 mg/dL (nilai rujukan 70-140 mg/dL). Hiperglikemia berat ini berkontribusi besar terhadap kondisi pasien, menyebabkan diuresis osmotik yang dapat memperburuk status cairan (balance cairan negatif -161cc) dan elektrolit (hiperkalemia 6.50 mmol/L), serta memperberat kondisi infeksi (leukositosis). Hiperglikemia juga dapat menyebabkan ketoasidosis diabetik yang memperburuk sesak napas (napas Kussmaul) dan penurunan kesadaran (somnolen). Kondisi ini memerlukan penanganan segera untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Kode SLKI: L.09002
Deskripsi : Kadar glukosa darah dalam rentang terkontrol. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: kadar glukosa darah mendekati atau dalam rentang target yang ditetapkan (biasanya 140-180 mg/dL dalam kondisi akut), tidak ada tanda dan gejala hipoglikemia atau hiperglikemia berat (seperti lemas, mual, penurunan kesadaran, dehidrasi), serta keseimbangan cairan dan elektrolit menunjukkan perbaikan. Pasien dan keluarga (jika memungkinkan) juga dapat menyebutkan tanda-tanda hipo/hiperglikemia dan tindakan yang harus dilakukan. Pencapaian SLKI ini memerlukan pemantauan ketat dan intervensi farmakologis serta non-farmakologis.
Kode SIKI: I.08321
Deskripsi : Manajemen Hiperglikemia. Intervensi ini meliputi tindakan untuk mengontrol dan memantau kadar glukosa darah tinggi. Tindakan spesifik untuk pasien ini meliputi: (1) Memantau kadar glukosa darah secara berkala (setiap 1-6 jam sesuai order dan kondisi); (2) Mengobservasi tanda dan gejala hiperglikemia (poliuria, polidipsi, lemas, mual, penurunan kesadaran) dan hipoglikemia; (3) Kolaborasi pemberian insulin sesuai protokol atau order dokter (biasanya insulin drip atau subkutan) dengan memeriksa gula darah sebelum pemberian; (4) Memastikan intake cairan yang adekuat untuk koreksi dehidrasi akibat diuresis osmotik, dengan memantau balance cairan ketat; (5) Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan diet yang sesuai (biasanya diet DM dengan kalori terkontrol); serta (6) Memberikan pendidikan kesehatan singkat kepada keluarga mengenai kondisi pasien. Keamanan pemberian insulin harus menjadi prioritas, termasuk memastikan pasien menerima makanan setelah insulin kerja cepat untuk mencegah hipoglikemia.
Kondisi: Penurunan Curah Jantung
Kode SDKI: D.0029
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana volume darah yang dipompa oleh jantung per menit (curah jantung) tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan metabolisme tubuh. Pada pasien ini, kondisi ini didukung oleh beberapa data: tekanan darah cenderung rendah (110/57 turun menjadi 103/57 mmHg), capillary refill time (CRT) memanjang >2 detik (mengindikasikan perfusi perifer yang menurun), dan hasil radiologi yang menunjukkan kardiomegali dengan LVH dan LAH (Left Ventricular Hypertrophy dan Left Atrial Hypertrophy). Riwayat hipertensi dan penyakit ginjal kronis (dilihat dari creatinin 5.53 mg/dL) merupakan faktor penyebab utama disfungsi jantung. Gangguan ginjal menyebabkan retensi cairan dan uremia yang dapat memperberat kerja jantung dan menyebabkan miokardiopati. Curah jantung yang tidak adekuat dapat memperburuk perfusi ke ginjal (memperparah gagal ginjal) dan ke otak (berkontribusi pada somnolen).
Kode SLKI: L.03001
Deskripsi : Curah jantung membaik. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: tanda-tanda vital dalam rentang normal yang dapat diterima untuk pasien (terutama tekanan darah dan nadi), CRT ≤ 2 detik, akral hangat, produksi urine adekuat (>0.5 cc/kgBB/jam), tidak ada keluhan nyeri dada atau palpitasi, serta status mental baik. Pada pasien ini, target tekanan darah mungkin disesuaikan dengan riwayat hipertensi dan kondisi ginjalnya. Pemantauan ketat terhadap tanda-tanda kelebihan cairan (edema, crackles paru) juga bagian dari evaluasi SLKI ini.
Kode SIKI: I.08005
Deskripsi : Pemantauan Hemodinamik. Intervensi ini meliputi pengukuran dan interpretasi terus-menerus terhadap data hemodinamik untuk menilai fungsi jantung dan respons terhadap terapi. Tindakan spesifik untuk pasien ini meliputi: (1) Memantau tanda-tanda vital (tekanan darah, nadi, pernapasan, suhu) setiap 1-2 jam atau lebih sering jika tidak stabil; (2) Memantau CRT, warna dan kehangatan kulit, serta kualitas nadi perifer; (3) Memantau balance cairan intake-output secara ketat setiap 8 jam (saat ini balance negatif, tetapi perlu waspada kelebihan cairan jika fungsi jantung sangat buruk); (4) Memantau status neurologis (kesadaran) sebagai indikator perfusi serebral; (5) Melakukan auskultasi jantung dan paru untuk mendeteksi adanya gallop, murmur, atau crackles; (6) Kolaborasi pemberian terapi obat-obatan kardiovaskuler dan renal sesuai order (seperti antihipertensi, diuretik, pengikat fosfat); serta (7) Membatasi aktivitas pasien (tirah baring) untuk mengurangi beban kerja jantung. Data pemantauan harus dicatat dan dilaporkan untuk evaluasi lebih lanjut.
Kondisi: Gangguan Eliminasi Urine
Kode SDKI: D.0035
Deskripsi Singkat: Keadaan dimana seorang individu mengalami atau berisiko mengalami gangguan dalam pengeluaran urine. Pada pasien ini, kondisi ini merupakan diagnosa aktual terkait fungsi ginjal. Data yang mendukung adalah riwayat penyakit ginjal, hasil laboratorium yang
Article No. 25252 | 22 Apr 2026
Klinis : pasien baru datang rujukan dari RS Amal Sehat dengan kelemahan anggota gerak tangan dan kaki kiri sudah sejak 1 minggu SMRS. Pasien tidak dapat berbicara namun dapat berkomunikasi dengan baik. Mual (-) muntah (-) . Di RS Amal Sehat sempat mengalami penurunan kesadaran RPD : jantung, HT KU lemah, Kes : E2VaffM4 TD: 114/59 N: 55 S: 36.2 RR : 14 SpO2: 99 Mata : CA -/- SI -/-, reflek cahaya +/+, isokor 3mm/3mm, reflek kornea +/+, DEP +/+ Mulut : dbn Thorax : Simetris ka/ki BJ I-II, reguler, bising (-) Paru : SDV (+/+) rbh -/- rbk -/-whz -/- Abdomen :supel, BU (+) lemah, NT (-) Genatalia : tidak ada kelainan Ekstremitas Superior : akral hangat +/+, CRT <2s detik, udem -/- Ekstremitas Inferior : akral hangat +/+, CRT <2s, udem -/- Sensorik : sde Motorik : lateralisasi sinistra Refleks fisiologis: +2 ||+2 +2 || +2 Refleks patologis: - || - - || - NIHSS : 30 Komplikasi tirah baring: - Infeksi: - - Stress ulcer: - - DVT: - - Disfagia: - - Cemas: - Lab 17/04 Darah Rutin Hemoglobin 11.36 Eritrosit 3.79 Hematokrit 34.3 Lekosit 10.08 Trombosit 239 Neutrofil 68.7 Limfosit 18.1 ELEKTROLIT Natrium (Na) 135 Kalium (K) 4.2 Chlorida (Cl) 95 Calsium (Ca2+) 1.1 pH 7.54 Glukosa Darah Sewaktu 96 Ureum 30.0 Kreatinin 0.70 NC HCTS di RS amal sehat -> stroke infark
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Gangguan Mobilitas Fisik adalah keadaan ketika seseorang mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan pergerakan fisik secara mandiri. Pada kasus ini, kondisi ini ditetapkan berdasarkan data pasien yang menunjukkan kelemahan anggota gerak tangan dan kaki kiri (lateralisasi sinistra) sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit, dengan hasil pemeriksaan motorik yang mengonfirmasi lateralisasi ke kiri. Kelemahan ini menyebabkan pasien tidak dapat bergerak secara mandiri, memerlukan bantuan untuk aktivitas perawatan diri dan perpindahan posisi. Faktor penyebab utama adalah stroke infark yang dialami pasien, sebagaimana disebutkan dalam riwayat NCCT di RS rujukan. Gangguan mobilitas ini berisiko tinggi menimbulkan komplikasi sekunder seperti kontraktur sendi, atrofi otot, nyeri, dan meningkatkan risiko komplikasi tirah baring seperti dekubitus dan pneumonia. Status neurologis dengan NIHSS 30 menunjukkan defisit yang sangat berat, memperkuat diagnosis ini. Tujuan keperawatan adalah mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi otot yang tersisa, mencegah komplikasi imobilisasi, dan memfasilitasi kemandirian seoptimal mungkin.
Kode SLKI: L.04001
Deskripsi : SLKI L.04001 adalah Luaran Keperawatan dengan kriteria "Mobilitas fisik meningkat". Pencapaian luaran ini pada pasien akan ditandai dengan beberapa kemajuan yang dapat diobservasi dan diukur. Pertama, terjadi peningkatan kekuatan otot pada ekstremitas yang terkena, dari kondisi lemah (seperti saat ini) menjadi memiliki kekuatan yang lebih baik, meskipun mungkin belum normal sempurna. Kedua, pasien mampu melakukan rentang gerak (Range of Motion/ROM) secara aktif atau dengan bantuan minimal pada sendi-sendi ekstremitas kiri, mencegah terjadinya kekakuan dan kontraktur. Ketiga, pasien dapat berpartisipasi dalam aktivitas perpindahan (misalnya dari tempat tidur ke kursi) dengan tingkat bantuan yang semakin berkurang, dari ketergantungan total menuju bantuan sebagian. Keempat, tidak terjadi komplikasi akibat imobilisasi seperti ulkus dekubitus, atelektasis paru, atau trombosis vena dalam (DVT). Peningkatan mobilitas ini akan sangat dipengaruhi oleh program rehabilitasi medik dini yang terstruktur, konsistensi latihan, dan dukungan dari keluarga serta tim kesehatan. Pencapaian luaran ini bersifat bertahap dan memerlukan waktu yang panjang pada kasus stroke dengan defisit berat.
Kode SIKI: I.04058
Deskripsi : SIKI I.04058 adalah Intervensi Keperawatan "Latihan Rentang Gerak". Intervensi ini merupakan tindakan mendasar dan krusial untuk pasien dengan gangguan mobilitas. Pelaksanaannya meliputi beberapa aktivitas terencana. Perawat akan melakukan latihan rentang gerak pasif, aktif asistif, atau aktif pada semua sendi ekstremitas (baik yang terkena maupun yang sehat) secara rutin, minimal 2-3 kali sehari. Gerakan dilakukan perlahan dan lembut hingga titik nyeri, meliputi fleksi, ekstensi, abduksi, adduksi, dan rotasi. Pada ekstremitas kiri yang lemah, latihan awal lebih difokuskan pada gerakan pasif untuk mempertahankan integritas sendi dan aliran darah. Perawat juga akan mengajarkan dan mendukung keluarga untuk melakukan latihan ini, sehingga terapi dapat berlanjut di luar waktu kunjungan perawat. Selain itu, intervensi ini mencakup penempatan posisi ekstremitas dalam posisi anatomi/fungsional menggunakan bantal atau penyangga untuk mencegah kontraktur, khususnya pada bahu, pergelangan tangan, dan kaki. Perawat akan memantau respons pasien terhadap latihan, termasuk adanya nyeri, kelelahan, atau spasme otot. Dokumentasi kekuatan otot dan rentang gerak sebelum dan sesudah intervensi dilakukan untuk mengevaluasi kemajuan. Intervensi ini sinergis dengan intervensi lain seperti manajemen nyeri dan perubahan posisi, yang kesemuanya bertujuan untuk mencapai luaran mobilitas fisik yang meningkat.
Kondisi: Gangguan Komunikasi Verbal
Kode SDKI: D.0010
Deskripsi Singkat: Gangguan Komunikasi Verbal adalah keadaan berkurangnya, tertundanya, atau tidak adanya kemampuan untuk menerima, memproses, mengirim, dan/atau menggunakan simbol-sistem bahasa. Pada pasien ini, diagnosis ditegakkan berdasarkan data "tidak dapat berbicara" (afasia motorik/ekspresif) namun "dapat berkomunikasi dengan baik", yang mengindikasikan bahwa fungsi pemahaman (reseptif) mungkin masih relatif terjaga. Ketidakmampuan berbicara ini merupakan akibat langsung dari stroke infark yang merusak area Broca atau jalur motorik bicara di hemisfer dominan (biasanya kiri, sesuai dengan lateralisasi gejala motorik ke sisi kanan tubuh; namun pada pasien ini lateralisasi ke kiri, sehingga perlu pertimbangan lebih lanjut mengenai dominansi otak). Gangguan ini menghambat pasien dalam mengekspresikan kebutuhan, pikiran, dan perasaan secara lisan, yang berpotensi menimbulkan frustrasi, isolasi sosial, dan menghambat partisipasi dalam proses asuhan keperawatan. Kemampuan komunikasi non-verbal yang masih baik (seperti kontak mata, ekspresi wajah, atau gerakan) menjadi modal penting untuk membangun metode komunikasi alternatif. Tujuan keperawatan adalah memfasilitasi pasien untuk dapat berkomunikasi kebutuhan dasar dan terlibat dalam interaksi sosial secara efektif dengan metode yang sesuai.
Kode SLKI: L.06008
Deskripsi : SLKI L.06008 adalah Luaran Keperawatan dengan kriteria "Komunikasi verbal efektif". Mengingat kondisi pasien yang tidak dapat berbicara, luaran "efektif" dalam konteks ini lebih diartikan sebagai tercapainya komunikasi yang bermakna dan fungsional menggunakan modalitas alternatif. Kriteria luaran yang diharapkan meliputi: pertama, pasien mampu memahami instruksi dan percakapan sederhana yang disampaikan oleh perawat atau keluarga, yang ditunjukkan dengan respons non-verbal yang tepat seperti mengangguk, menggeleng, atau melakukan perintah. Kedua, pasien dapat mengekspresikan kebutuhan dasar (seperti rasa sakit, haus, ingin BAB/BAK) secara konsisten menggunakan alat bantu yang disepakati, misalnya gambar, papan komunikasi, gerakan mata, atau tulisan sederhana jika memungkinkan. Ketiga, pasien menunjukkan penurunan tanda-tanda frustrasi atau ketidakberdayaan saat berkomunikasi. Keempat, terbina hubungan saling percaya antara perawat, keluarga, dan pasien melalui komunikasi non-verbal yang empatik. Luaran ini tidak selalu berarti pemulihan bicara sempurna, tetapi lebih pada terciptanya sistem komunikasi yang memadai untuk memenuhi kebutuhan pasien dan mendukung proses rehabilitasi.
Kode SIKI: I.06030
Deskripsi : SIKI I.06030 adalah Intervensi Keperawatan "Komunikasi Terapeutik: Defisit Bicara/Bahasa". Intervensi ini dirancang khusus untuk membantu pasien dengan afasia. Langkah-langkahnya meliputi: menciptakan lingkungan yang tenang dan minim gangguan untuk memfokuskan perhatian pasien. Perawat akan selalu menyapa, memperkenalkan diri, dan menjelaskan prosedur sebelum melakukan tindakan, menggunakan bahasa yang sederhana, kalimat pendek, dan intonasi yang jelas. Karena fungsi reseptif mungkin masih baik, penting untuk tetap berbicara kepada pasien secara normal tanpa berteriak. Perawat akan mengajak pasien dan keluarga untuk bersama-sama memilih dan mengembangkan metode komunikasi alternatif yang paling nyaman, seperti menggunakan papan gambar dengan simbol kebutuhan dasar (gelas, toilet, bantal), alat tulis, atau aplikasi pada tablet. Perawat akan memberikan waktu yang cukup dan sabar bagi pasien untuk merespons, tidak menyela atau menyelesaikan kalimat untuknya. Validasi terhadap setiap upaya komunikasi dari pasien sangat penting untuk memberikan motivasi. Perawat juga akan melatih pasien secara sederhana untuk mengucapkan kata-kata kunci jika memungkinkan, bekerja sama dengan terapis wicara. Selain itu, perawat akan mengedukasi keluarga tentang teknik komunikasi yang efektif dan pentingnya kesabaran, sehingga komunikasi dapat berlanjut dengan optimal di semua waktu.
Kondisi: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah
Kode SDKI: D.0128
Deskripsi Singkat: Risiko Ketidakstabilan Tekanan Darah adalah keadaan dimana seseorang rentan mengalami variasi tekanan darah dari rentang yang diinginkan, yang dapat mengancam kesehatan. Pada pasien ini, diagnosis risiko ditegakkan berdasarkan riwayat penyakit (RPD) Hipertensi (HT) dan penyakit jantung yang tidak spesifik. Meskipun saat pengukuran tekanan darah (114/59 mmHg) berada dalam rentang normal bahkan cenderung rendah, riwayat hipertensi menjadikan pasien rentan mengalami fluktuasi tekanan darah, baik hipotensi maupun kembalinya tekanan darah ke tingkat hipertensi. Tekanan darah yang terlalu rendah (hipotensi) pada fase akut stroke iskemik dapat berisiko memperluas area infark karena menurunnya perfusi darah ke jaringan otak yang masih viable (penumbra). Sebaliknya, tekanan darah yang terlalu tinggi dapat meningkatkan risiko perdarahan transformasi atau edema serebral. Faktor seperti nyeri, kecemasan, atau distensi kandung kemih juga dapat memicu ketidakstabilan. Oleh karena itu, pemantauan yang ketat dan manajemen tekanan darah yang tepat sangat penting untuk optimasi perfusi serebral dan mencegah komplikasi neurologis lebih lanjut.
Article No. 25253 | 22 Apr 2026
Klinis : Subjective Keluhan Utama Nyeri Area Post OP RPS Pasien datang dengan keluhan perut membesar dan nyeri sejak semalam. Keluhan disertai dengan penurunan nafsu makan (+) sejak 1 bulan yang lalu, mual (+), muntah (+) , sulit BAK, sulit BAB sejak 3 hari yang lalu, Kentut (+), BAB terakhir sore ini. Status Generalis Kepala: Normocephal Mata: Konjungtiva anemis (-/-), Sklera Ikterik (-/-) Hidung: Terpasang NGT (+) produk hijau kecoklatan 200 cc Mulut: mukosa kering (-) Leher : Pembesaran KGB (-) Toraks: Simetris (+), Retraksi (-), SDV (+/+), S1/S2 (+) S3 (-) Abdomen :Tertutup verban, Colostomy produk (+), drain (+) produk 350 cc serohemorrhage Genital : Terpasang DC (+) produk kuning 150 cc Ekstremitas atas: Edema (-/-), akral hangat (+/+), crt <2s Ekstremitas bawah: Edema (-/-), akral hangat (+/+), crt <2s Status Lokalis R. Abdomen I: distended (-), area OP tertutup verban A: BU (+) P: timpani (+) P: NT (+), defans muskular (-) RT: TMSA (+), Ampula recti tidak kolaps, Feses (+), STLD (-), Nyeri tekan (-)
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Nyeri Akut
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat cedera jaringan aktual atau potensial, atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut; onset mendadak atau lambat dengan intensitas ringan hingga berat, diperkirakan atau antisipasi berakhir dalam waktu kurang dari 3 bulan.
Kode SLKI: L.08001
Deskripsi : Kontrol Nyeri. Pasien mampu mengontrol nyeri dengan kriteria hasil: 1) Menyatakan nyeri terkontrol, 2) Mengenali faktor penyebab, 3) Melaporkan tidak adanya perilaku yang menunjukkan nyeri (seperti menangis, menggeliat), 4) Mendemonstrasikan teknik nonfarmakologis untuk mengatasi nyeri, 5) Mematuhi regimen pengobatan nyeri, dan 6) Fungsi fisik dan psikologis tetap terjaga.
Kode SIKI: I.08060
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi keperawatan yang dilakukan untuk meringankan atau mengurangi nyeri hingga tingkat yang dapat ditoleransi pasien. Tindakan meliputi: 1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif (lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas, dan faktor pencetus), 2) Observasi isyarat verbal dan non-verbal ketidaknyamanan, 3) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman nyeri pasien, 4) Berikan analgetik sesuai program terapi, 5) Evaluasi efektivitas dan efek samping analgetik, 6) Ajarkan teknik nonfarmakologis (napas dalam, distraksi, relaksasi, posisi nyaman), 7) Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri, 8) Berikan informasi tentang nyeri dan penanganannya, 9) Kolaborasi dengan tim kesehatan lain jika diperlukan, dan 10) Dokumentasi respons pasien terhadap intervensi.
Kondisi: Gangguan Eliminasi Feses
Kode SDKI: D.0015
Deskripsi Singkat: Kondisi dimana individu mengalami atau berisiko mengalami perubahan pada pola, frekuensi, dan konsistensi pengeluaran feses.
Kode SLKI: L.03002
Deskripsi : Eliminasi Feses. Pasien mencapai eliminasi feses yang adekuat dengan kriteria hasil: 1) Menyatakan pengeluaran feses sesuai kebiasaan, 2) Feses lunak dan terbentuk, 3) Tidak mengalami nyeri atau ketidaknyamanan saat defekasi, 4) Tidak menggunakan bantuan obat atau tindakan untuk defekasi, 5) Mengenali faktor yang mempengaruhi eliminasi feses, dan 6) Melakukan tindakan untuk mempertahankan eliminasi feses normal.
Kode SIKI: I.03019
Deskripsi : Manajemen Konstipasi. Intervensi keperawatan untuk mencegah dan menangani konstipasi atau retensi feses. Tindakan meliputi: 1) Kaji pola eliminasi feses biasa dan perubahan yang terjadi, 2) Auskultasi bising usus, 3) Observasi karakteristik feses (frekuensi, jumlah, konsistensi, warna), 4) Anjurkan asupan cairan yang adekuat jika tidak terkontraindikasi, 5) Anjurkan peningkatan asupan serat sesuai toleransi, 6) Anjurkan aktivitas fisik atau mobilisasi sesuai kemampuan, 7) Ajarkan teknik pijat abdomen, 8) Berikan privasi selama eliminasi, 9) Kolaborasi pemberian laksatif, supositoria, atau enema sesuai indikasi, 10) Ajarkan tentang faktor risiko dan pencegahan konstipasi, dan 11) Lakukan perawatan kolostomi jika ada (pada kasus ini, kolostomi berfungsi sehingga perlu perawatan khusus).
Kondisi: Risiko Infeksi
Kode SDKI: D.0068
Deskripsi Singkat: Peningkatan kerentanan terhadap invasi dan multiplikasi patogen, yang dapat mengancam kesehatan.
Kode SLKI: L.09001
Deskripsi : Kontrol Infeksi. Pasien terhindar dari infeksi dengan kriteria hasil: 1) Tidak menunjukkan tanda dan gejala infeksi (demam, kemerahan, drainase purulen, dll), 2) Menunjukkan perilaku untuk mencegah infeksi (cuci tangan, menjaga kebersihan luka), 3) Nilai leukosit dalam batas normal, 4) Luka bersih, kering, dan menunjukkan proses penyembuhan, dan 5) Mempertahankan integritas kulit dan membran mukosa.
Kode SIKI: I.09024
Deskripsi : Proteksi Infeksi. Intervensi keperawatan untuk mencegah dan mengurangi risiko infeksi. Tindakan meliputi: 1) Lakukan cuci tangan sebelum dan sesudah tindakan, 2) Pertahankan teknik aseptik dan steril selama perawatan luka, drain, NGT, DC, dan kolostomi, 3) Monitor tanda vital terutama suhu, 4) Inspeksi area luka/insisi, drain, dan sekitar kateter/NGT/kolostomi terhadap tanda infeksi, 5) Lakukan perawatan luka dan penggantian balutan sesuai protokol, 6) Pantau karakteristik dan jumlah drainase dari luka, NGT, dan DC, 7) Anjurkan intake nutrisi dan cairan yang adekuat untuk mendukung sistem imun, 8) Ajarkan pasien dan keluarga tanda-tanda infeksi, 9) Kolaborasi pemberian antibiotik profilaksis atau terapi jika diperlukan, dan 10) Tingkatkan upaya pencegahan infeksi nosokomial.
Kondisi: Kekurangan Volume Cairan
Kode SDKI: D.0027
Deskripsi Singkat: Penurunan volume cairan intravaskular, interstisial, dan/atau intraselular. Hal ini mengacu pada dehidrasi, kehilangan cairan saja, dan kehilangan cairan dan elektrolit.
Kode SLKI: L.06001
Deskripsi : Keseimbangan Cairan. Pasien mempertahankan keseimbangan cairan dengan kriteria hasil: 1) Tanda vital dalam batas normal, 2) Turgor kulit baik, membran mukosa lembab, 3) Balance cairan seimbang (intake dan output), 4) Berat badan stabil, 5) Elektrolit dalam batas normal, dan 6) Tidak ada tanda dehidrasi atau kelebihan cairan.
Kode SIKI: I.06012
Deskripsi : Manajemen Cairan. Intervensi keperawatan untuk mempromosikan keseimbangan cairan dan mencegah komplikasi akibat kekurangan atau kelebihan cairan. Tindakan meliputi: 1) Monitor tanda vital (terutama nadi dan tekanan darah) sebagai indikator volume cairan, 2) Kaji turgor kulit, kelembaban membran mukosa, dan rasa haus, 3) Lakukan pengukuran balance cairan yang akurat (catat intake oral, parenteral, output urine, drainase NGT, kolostomi, drain luka, dll), 4) Timbang berat badan harian dengan prosedur yang konsisten, 5) Anjurkan dan bantu peningkatan intake cairan per oral jika tidak ada kontraindikasi (mual/muntah/obstruksi), 6) Kolaborasi pemberian terapi cairan intravena sesuai program, 7) Monitor hasil laboratorium (hematokrit, elektrolit, BUN, kreatinin), 8) Observasi komplikasi ketidakseimbangan cairan (syok hipovolemik), 9) Atur posisi untuk optimalkan sirkulasi, dan 10) Ajarkan pentingnya menjaga keseimbangan cairan.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596