Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 13400 | 06 Mar 2025
Klinis : Proses pengkajian dilakukan pada klien 1 yaitu Tn. J dengan menggunakan metode wawancara, observasi serta studi dokumentasi dengan hasil Tn. J (27 tahun) dibawa ke RSJD Surakarta dikarenakan pasien mengamuk, marahmarah kurang lebih 3 hari, dan memukul kaca jendela. Klien marah jika keinginannya tidak terpenuhi, pasien juga melihat bayangan yang orang lain tidak bisa lihat dan pasien merasa bahwa dirinya seperti ada yang mengendalikan, tidak bisa tidur. Pasien mengatakan kesal jika ada keinginannya yang tidak terpenehi dan ingin memukul sesuatu untuk melampiaskannya. Penampilan pasien rapi, kooperatif saat diajak komunikasi. Pasie mengatakan ada anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa seperti dirinya yaitu ayahnya yang juga dirawat di RSJD Surakarta, pasien merupakan rujukan dari puskesmas geman harjo, pasien sudah 3x masuk ke RSJD Surakarta. Obat yang dikonsumsi Risperidone 2x2 mg, Trihexiphenidil 2x2 mg, Clozapine 1x50 mg.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai dengan kondisi Tn. J.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Risiko Perilaku Kekerasan
- Definisi: Ketidakmampuan individu untuk mengendalikan perilaku agresif secara verbal atau fisik.
- Karakteristik Definisi: Ekspresi kemarahan yang tidak terkendali, ancaman verbal atau fisik, perilaku merusak properti.
2. Halusinasi
- Definisi: Persepsi sensori palsu yang tampak nyata bagi individu, tetapi tidak dialami oleh orang lain.
- Karakteristik Definisi: Mendengar suara, melihat bayangan, mencium bau yang tidak ada, merasakan sentuhan yang tidak ada.
3. Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah
- Definisi: Evaluasi negatif individu terhadap dirinya sendiri.
- Karakteristik Definisi: Menyatakan diri negatif, merasa rendah diri, menolak pujian, tidak dapat menerima kelemahan diri.
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Risiko Perilaku Kekerasan
- Kontrol Perilaku Kekerasan: Pasien mampu mengendalikan perilaku kekerasan secara verbal dan fisik.
- Keamanan Diri: Pasien terhindar dari bahaya yang disebabkan oleh perilaku kekerasan.
2. Halusinasi
- Kontrol Halusinasi: Pasien mampu mengendalikan halusinasi yang dialaminya.
- Pemulihan Gejala: Pasien menunjukkan penurunan frekuensi, durasi, dan/atau intensitas halusinasi.
3. Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah
- Harga Diri: Pasien menunjukkan penerimaan diri yang positif.
- Integritas Diri: Pasien menunjukkan penerimaan terhadap kelebihan dan kekurangan diri.
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Risiko Perilaku Kekerasan
- Manajemen Perilaku Kekerasan
- Terapi Perilaku
- Terapi Kognitif
2. Halusinasi
- Manajemen Halusinasi
- Terapi Realitas
- Terapi Aktivitas Terapeutik
3. Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah
- Peningkatan Harga Diri
- Terapi Kelompok
- Terapi Reminissensi
Penjelasan lebih rinci:
1. Risiko Perilaku Kekerasan:
- Manajemen Perilaku Kekerasan: Mengidentifikasi pemicu perilaku kekerasan, mengajarkan teknik relaksasi, dan memfasilitasi pemecahan masalah.
- Terapi Perilaku: Membantu pasien untuk mengenali dan mengganti perilaku maladaptif dengan perilaku yang lebih adaptif.
- Terapi Kognitif: Membantu pasien untuk mengidentifikasi dan mengubah pola pikir yang maladaptif.
2. Halusinasi:
- Manajemen Halusinasi: Mengajarkan pasien teknik pengalihan perhatian, realitas orientasi, dan memonitor efektivitas obat.
- Terapi Realitas: Membantu pasien untuk membedakan antara realitas dan halusinasi serta mengembangkan keterampilan dalam menghadapi halusinasi.
- Terapi Aktivitas Terapeutik: Melibatkan pasien dalam kegiatan yang dapat mengalihkan perhatian dari halusinasi.
3. Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah:
- Peningkatan Harga Diri: Membantu pasien untuk mengidentifikasi kekuatan dan potensi diri, serta memfasilitasi penerimaan diri.
- Terapi Kelompok: Memfasilitasi interaksi dengan orang lain untuk meningkatkan kepercayaan diri dan harga diri.
- Terapi Reminissensi: Membantu pasien untuk mengingat dan menghargai pengalaman positif di masa lalu.
Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif untuk Tn. J. Jangan ragu untuk bertanya jika ada hal yang perlu klarifikasi. -
Article No. 13401 | 06 Mar 2025
Klinis : Proses pengkajian dilakukan pada klien 1 yaitu Tn. J dengan menggunakan metode wawancara, observasi serta studi dokumentasi dengan hasil Tn. J (27 tahun) dibawa ke RSJD Surakarta dikarenakan pasien mengamuk, marahmarah kurang lebih 3 hari, dan memukul kaca jendela. Klien marah jika keinginannya tidak terpenuhi, pasien juga melihat bayangan yang orang lain tidak bisa lihat dan pasien merasa bahwa dirinya seperti ada yang mengendalikan, tidak bisa tidur. Pasien mengatakan kesal jika ada keinginannya yang tidak terpenehi dan ingin memukul sesuatu untuk melampiaskannya. Penampilan pasien rapi, kooperatif saat diajak komunikasi. Pasie mengatakan ada anggota keluarganya yang mengalami gangguan jiwa seperti dirinya yaitu ayahnya yang juga dirawat di RSJD Surakarta, pasien merupakan rujukan dari puskesmas geman harjo, pasien sudah 3x masuk ke RSJD Surakarta. Obat yang dikonsumsi Risperidone 2x2 mg, Trihexiphenidil 2x2 mg, Clozapine 1x50 mg.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan informasi yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia untuk kondisi Tn. J:
Diagnosa Keperawatan:
1. Halusinasi Pendengaran dan Penglihatan
2. Perilaku Kekerasan
Penjelasan Singkat:
1. Halusinasi Pendengaran dan Penglihatan
- SDKI: Halusinasi adalah persepsi sensori yang terjadi tanpa ada rangsangan eksternal yang sesuai.
- SLKI: Tujuan intervensi keperawatan adalah klien dapat mengenali dan mengontrol halusinasi yang dialami.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain; Terapi Realitas, Terapi Reminiscence, Terapi Kognitif, Terapi Penghentian Halusinasi, Terapi Aktivitas Kelompok.
2. Perilaku Kekerasan
- SDKI: Perilaku Kekerasan adalah perilaku mencederai atau membahayakan orang lain secara fisik.
- SLKI: Tujuan intervensi keperawatan adalah klien dapat mengontrol perilaku kekerasan yang ditampilkan.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain; Manajemen Marah, Teknik Relaksasi, Terapi Aktivitas Kelompok, Pencegahan Bunuh Diri, dan Strategi Adaptif.
Dalam kasus Tn. J, intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah halusinasi dan perilaku kekerasan meliputi Terapi Realitas, Terapi Reminiscence, Terapi Kognitif, Terapi Penghentian Halusinasi, Manajemen Marah, Teknik Relaksasi, dan Terapi Aktivitas Kelompok. Selain itu, pemberian obat-obatan sesuai resep dokter juga merupakan bagian penting dari penanganan kasus ini. -
Article No. 13404 | 06 Mar 2025
Klinis : HIPERTENSI PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS Tatalaksana hipertensi pada ibu hamil membutuhkan penanganan khusus ya, Dok. Terutama jika pasien sudah memiliki riwayat hipertensi sebelumnya. Di FKTP, beberapa terapi yang bisa dipertimbangkan yaitu Nifedipin atau metildopa sebagai pilihan antihipertensi. Kalsium juga dapat diberikan untuk mencegah preeklamsia (PE) Tantangannya, tentu ada dalam pemantauan ketat kondisi pasien di fasilitas primer. Dokter ada pengalaman saat terapi hipertensi ibu hamil? Ada tips menjaga ketersediaan obat di Puskesmas? .
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: 1. Kode ICD-10:
- Kode: O13
- Deskripsi: Hipertensi gestasional (hipertensi induksi kehamilan) tanpa proteinuria signifikan
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 99.28
- Deskripsi: Pemberian obat antihipertensi
Penanganan hipertensi pada ibu hamil memang membutuhkan perhatian khusus, terutama jika pasien sudah memiliki riwayat hipertensi sebelumnya. Di tingkat Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) seperti Puskesmas, beberapa terapi yang dapat dipertimbangkan yaitu pemberian nifedipin atau metildopa sebagai pilihan obat antihipertensi, serta pemberian kalsium untuk mencegah terjadinya preeklamsia.
Tantangan utama dalam penanganan hipertensi pada ibu hamil di FKTP adalah pemantauan yang ketat terhadap kondisi pasien. Dokter di Puskesmas perlu melakukan pemantauan yang saksama, serta berkoordinasi dengan fasilitas rujukan yang lebih lengkap apabila diperlukan.
Dalam menjaga ketersediaan obat di Puskesmas, beberapa tips yang dapat dilakukan antara lain:
- Melakukan perencanaan dan pengadaan obat yang cermat berdasarkan pola penyakit dan kebutuhan pasien.
- Menjalin kerja sama yang baik dengan Dinas Kesehatan setempat untuk memastikan pasokan obat yang memadai.
- Melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala terhadap ketersediaan dan penggunaan obat di Puskesmas.
- Mengoptimalkan peran Instalasi Farmasi dalam pengelolaan obat di Puskesmas. -
Article No. 13405 | 06 Mar 2025
Klinis : TERAPI ABNORMAL UTERINE BLEEDING (AUB) Kalau ada keluhan abnormal uterine bleeding 1. cek PPtest. 2. klo negatif skrining PALM 3. Klo PALM ga ada, ke COEIN Polip Adenomiosis Leimioma Malignancy VT, USG, Palpasi, Inspekulo buat liat PALM kalau bagus semua COEIN disorder Coagulation - anamnesis pembekuan darah Ovulatory - gangguan ovulasi. paling sering. Endometrial Iatrogenic - misal KB Non specified
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang sesuai dengan kondisi TERAPI ABNORMAL UTERINE BLEEDING (AUB):
1. Kode ICD-10:
- Kode: N92.0
- Deskripsi: Menorrhagia (perdarahan uterus yang berlebihan)
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 68.16
- Deskripsi: Ablasi endometrium, tanpa histerektomi
Dalam tata laksana abnormal uterine bleeding (AUB), langkah-langkah yang disarankan adalah:
1. Melakukan pemeriksaan PPtest untuk mengevaluasi kemungkinan kehamilan.
2. Jika PPtest negatif, lakukan skrining PALM (Polip, Adenomiosis, Leimioma, Malignancy) melalui pemeriksaan VT, USG, palpasi, dan inspekulo.
3. Jika tidak ditemukan kelainan PALM, maka dapat didiagnosis sebagai COEIN disorder (Coagulation, Ovulatory, Endometrial, Iatrogenic, Non-specified).
4. Penatalaksanaan selanjutnya akan disesuaikan dengan penyebab AUB yang ditemukan, misalnya:
- Coagulation: Anamnesis riwayat pembekuan darah
- Ovulatory: Gangguan ovulasi, yang merupakan penyebab terbanyak
- Endometrial: Pemeriksaan histologis endometrium
- Iatrogenic: Terkait penggunaan kontrasepsi atau obat-obatan
- Non-specified: Diagnosis per eliminasi setelah pemeriksaan lainnya
Pemberian terapi untuk AUB akan disesuaikan dengan diagnosis spesifik yang ditemukan pada pasien. -
Article No. 13406 | 06 Mar 2025
Klinis : TERAPI ABNORMAL UTERINE BLEEDING (AUB) Kalau ada keluhan abnormal uterine bleeding 1. cek PPtest. 2. klo negatif skrining PALM 3. Klo PALM ga ada, ke COEIN Polip Adenomiosis Leimioma Malignancy VT, USG, Palpasi, Inspekulo buat liat PALM kalau bagus semua COEIN disorder Coagulation - anamnesis pembekuan darah Ovulatory - gangguan ovulasi. paling sering. Endometrial Iatrogenic - misal KB Non specified apa bisa dirawat inapkan
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, untuk kondisi Abnormal Uterine Bleeding (AUB), dapat digunakan kode ICD-10 dan ICD-9-CM sebagai berikut:
1. Kode ICD-10:
- Kode: N92.0
- Deskripsi: Menorrhagia (Perdarahan menstruasi berlebihan)
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 68.16
- Deskripsi: Dilation and curettage (D&C) of uterus
Penjelasan:
- Kode ICD-10 N92.0 (Menorrhagia) digunakan untuk mendiagnosis Abnormal Uterine Bleeding (AUB) yang ditandai dengan perdarahan menstruasi berlebihan.
- Jika diperlukan tindakan medis, kode ICD-9-CM 68.16 (Dilation and curettage (D&C) of uterus) dapat digunakan untuk prosedur kuretase rahim.
- Dalam penatalaksanaan AUB, langkah-langkah yang dapat dilakukan adalah:
1. Pemeriksaan Pap test untuk mengevaluasi adanya kelainan pada serviks.
2. Jika hasil Pap test negatif, dilakukan skrining PALM (Polip, Adenomiosis, Leiomioma, Malignitas) melalui pemeriksaan Vaginal Touch, USG, Palpasi, dan Inspekulo.
3. Jika tidak ditemukan kelainan PALM, maka dilanjutkan pemeriksaan untuk COEIN (Coagulopathy, Ovulatory dysfunction, Endometrial, Iatrogenic, dan Not yet specified).
- Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kelainan COEIN, dapat dilakukan penatalaksanaan secara konservatif atau pembedahan, tergantung dari penyebab AUB.
- Tindakan rawat inap dapat dipertimbangkan jika diperlukan intervensi medis yang lebih intensif, seperti kuretase, pemberian obat-obatan, atau tindakan bedah. -
Article No. 13407 | 06 Mar 2025
Klinis : Risiko Disfungsi Motalitas Gastrointestinal
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur/tindakan medis yang sesuai dengan kondisi "Risiko Disfungsi Motalitas Gastrointestinal":
1. Kode ICD-10:
- Kode: R11.0
- Deskripsi: Mual
Penjelasan:
- Kode ICD-10 R11.0 mewakili diagnosis "Mual", yang merupakan salah satu gejala utama dari risiko disfungsi motilitas gastrointestinal.
- Disfungsi motilitas gastrointestinal dapat menyebabkan berbagai gejala, termasuk mual, perut kembung, rasa penuh, dan masalah dalam pencernaan makanan.
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 86.41
- Deskripsi: Pemeriksaan endoskopi saluran cerna atas, tanpa biopsi
Penjelasan:
- Kode ICD-9-CM 86.41 mewakili prosedur "Pemeriksaan endoskopi saluran cerna atas, tanpa biopsi", yang dapat dilakukan untuk mengevaluasi kondisi motilitas gastrointestinal dan mendeteksi adanya gangguan.
- Prosedur ini dapat membantu dalam diagnosis dan pengelolaan risiko disfungsi motilitas gastrointestinal dengan mengidentifikasi adanya kelainan struktural atau fungsional dalam saluran cerna atas.
Dalam menentukan kode ICD-10 dan ICD-9-CM yang tepat, dokter atau perekam medis harus mempertimbangkan riwayat pasien, gejala yang dialami, dan hasil pemeriksaan yang dilakukan untuk memastikan diagnosis dan tindakan medis yang sesuai. -
Article No. 13408 | 06 Mar 2025
Klinis : kanker buli
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Baik, dengan senang hati saya akan memberikan kode ICD-10 untuk diagnosis kanker buli, serta kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang terkait, dengan penjelasan yang terstruktur.
1. Kode ICD-10:
- Kode: C67
- Deskripsi: Kanker buli
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 57.49
- Deskripsi: Prosedur lainnya pada kandung kemih, termasuk biopsi.
Penjelasan detail:
Kode ICD-10 C67 digunakan untuk menggambarkan berbagai jenis kanker yang terjadi pada kandung kemih (buli). Kanker buli dapat terjadi pada lapisan dalam (epitel) kandung kemih, atau dapat juga menyebar ke bagian lain dari organ ini. Gejala yang sering muncul pada kanker buli adalah hematuria (darah dalam urine), nyeri saat berkemih, serta infeksi saluran kemih yang berulang.
Untuk tindakan medis yang terkait, kode ICD-9-CM 57.49 mencakup prosedur lainnya pada kandung kemih, termasuk biopsi. Biopsi dapat dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis kanker buli dan menentukan stadium penyakit. Prosedur ini dapat dilakukan dengan teknik reseksi transurethral (TURBT) atau dengan teknik laparoskopi.
Kode-kode ini digunakan oleh profesional kesehatan, seperti dokter dan perekam medis, untuk mengkodekan dan mendokumentasikan diagnosis serta tindakan medis yang dilakukan dalam penanganan pasien dengan kanker buli. -
Article No. 13409 | 06 Mar 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan penjelasan yang rinci dan terperinci mengenai diagnosa keperawatan, luaran/output yang diharapkan, dan intervensi keperawatan yang diperlukan berdasarkan kondisi pasien yang Anda sampaikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Berdasarkan kondisi pasien pria, usia 45 tahun, dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan serta hasil pemeriksaan yang menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas dan lesi di paru, maka diagnosa keperawatan yang sesuai adalah:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
Definisi: Ketidakmampuan untuk membersihkan sekresi atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang terbuka.
Karakteristik Definisi: Batuk tidak efektif, sputum berlebihan, suara napas tambahan, hipoksemia, dispnea saat aktivitas.
2. Gangguan Pertukaran Gas
Definisi: Ketidakmampuan mempertahankan oksigenasi atau eliminasi karbon dioksida yang adekuat.
Karakteristik Definisi: Dispnea, sianosis, takipnea, perubahan frekuensi napas, penurunan saturasi oksigen, perubahan warna membran mukosa.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
Setelah diberikan asuhan keperawatan, diharapkan pasien dapat mencapai luaran/output sebagai berikut:
1. Bersihan Jalan Napas Membaik
Indikator:
- Bebas dari sputum berlebih
- Batuk efektif
- Suara napas tambahan menurun
- Pernapasan terdengar bersih
2. Pertukaran Gas Membaik
Indikator:
- Dispnea menurun
- Saturasi oksigen meningkat
- Frekuensi napas normal
- Warna membran mukosa normal
Intervensi Keperawatan (SIKI):
Untuk mencapai luaran/output yang diharapkan, intervensi keperawatan yang diperlukan antara lain:
1. Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif
- Monitor pola napas, bunyi napas, dan sputum
- Auskultasi suara napas
- Posisikan pasien untuk memaksimalkan ventilasi
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan
- Berikan terapi inhalasi (bronkodilator, mukolitik) sesuai resep
- Ajarkan teknik batuk efektif dan latihan pernapasan
2. Gangguan Pertukaran Gas
- Monitor tanda-tanda vital, saturasi oksigen, dan perubahan warna membran mukosa
- Berikan oksigen sesuai kebutuhan
- Berikan posisi semi-fowler untuk memaksimalkan ventilasi
- Ajarkan teknik pernapasan diafragmatik
- Kolaborasi dengan tim kesehatan lain (dokter, fisioterapis) untuk mengatasi gangguan pertukaran gas
Penjelasan di atas didasarkan pada perspektif seorang perawat yang berpengalaman dan memahami kondisi pasien serta standar asuhan keperawatan yang berlaku. Saya berharap informasi ini dapat membantu Anda dalam memberikan perawatan yang komprehensif bagi pasien. -
Article No. 13410 | 06 Mar 2025
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10: Berdasarkan informasi yang diberikan, diagnosis pasien adalah tuberkulosis paru. Berikut adalah kode ICD-10 untuk diagnosis dan kode ICD-9-CM untuk prosedur atau tindakan medis yang mungkin dilakukan:
1. Kode ICD-10:
- Kode: A15.0
- Deskripsi: Tuberkulosis paru dengan konfirmasi bakteriologis dan histologis
2. Kode ICD-9-CM Procedure (jika ada):
- Kode: 33.24
- Deskripsi: Bronkoskopi diagnostik, termasuk pemotretan bila dilakukan
Penjelasan:
1. Kode ICD-10 A15.0 menunjukkan diagnosis tuberkulosis paru dengan konfirmasi bakteriologis dan histologis. Kode ini digunakan untuk pasien dengan gejala batuk berdahak, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan, serta pemeriksaan fisik dan radiologis yang mendukung diagnosis tuberkulosis paru.
2. Kode ICD-9-CM 33.24 menunjukkan prosedur bronkoskopi diagnostik, yang mungkin dilakukan untuk mengkonfirmasi diagnosis dan mengevaluasi lesi di paru. Bronkoskopi dapat digunakan untuk mengambil sampel sputum atau jaringan paru untuk pemeriksaan mikrobiologis dan histologis.
Dalam praktik klinis, selain diagnosis dan prosedur, kode tambahan mungkin diperlukan untuk mencatat komplikasi, komorbiditas, atau faktor risiko yang terkait dengan kondisi pasien. -
Article No. 13411 | 06 Mar 2025
Klinis : Seorang perempuan berusia 25 tahun dirawat di ruang penyakit dalam dengan diagnosa SLE. Wajah pasien terdapat butterfly rush dan bercak kemerahan (rush) di ekstremitas atas dan dada. Pasien mengaku dirinya malu jika bertemu orang. Makanan dari rumah sakit tidak dihabiskan karena pasien kesulitan makan sebab terdapat lesi di area bibir pasien dan dirasa perih. Proteinuria (+); alergi daging (+); alergi levofloxacin (+); Hb 9 g/dl; WBC 12,88 x 103/ µL; HCT 35,07%; PLT 400 K/µL; TD 120/7
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kondisi pasien yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI standar dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan Citra Tubuh (SDKI: Gangguan Citra Tubuh)
- Definisi: Persepsi negatif terhadap penampilan fisik atau fungsi tubuh.
- Faktor Terkait: Perubahan pada penampilan fisik akibat penyakit (butterfly rush, bercak kemerahan).
- Gejala/Tanda Klinik: Pasien merasa malu jika bertemu orang.
2. Gangguan Makan (SDKI: Gangguan Makan)
- Definisi: Intake nutrisi yang tidak adekuat.
- Faktor Terkait: Kesulitan makan karena adanya lesi di area bibir.
- Gejala/Tanda Klinik: Pasien tidak menghabiskan makanan dari rumah sakit.
3. Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh (SDKI: Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan Tubuh)
- Definisi: Asupan nutrisi yang tidak adekuat untuk memenuhi kebutuhan metabolik.
- Faktor Terkait: Alergi daging, kesulitan makan, dan anemia (Hb 9 g/dl).
- Gejala/Tanda Klinik: Pasien tidak menghabiskan makanan dari rumah sakit.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
1. Citra Tubuh Positif (SLKI: Citra Tubuh Positif)
2. Tingkat Kecemasan Menurun (SLKI: Tingkat Kecemasan Menurun)
3. Status Gizi Membaik (SLKI: Status Gizi Membaik)
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
1. Terapi Perilaku Kognitif (SIKI: Terapi Perilaku Kognitif)
- Intervensi untuk membantu pasien mengidentifikasi dan mengubah pola pikir negatif terkait penampilan fisik.
2. Manajemen Makan (SIKI: Manajemen Makan)
- Intervensi untuk membantu pasien meningkatkan asupan makanan dan mengatasi kesulitan makan.
3. Manajemen Nutrisi (SIKI: Manajemen Nutrisi)
- Intervensi untuk membantu memenuhi kebutuhan nutrisi pasien sesuai kondisi kesehatan.
Penjelasan singkat: Pasien dengan SLE mengalami perubahan penampilan fisik dan kesulitan makan yang dapat memengaruhi citra tubuh, status nutrisi, dan kecemasan. Intervensi keperawatan berfokus pada terapi perilaku kognitif, manajemen makan, dan manajemen nutrisi untuk membantu pasien mencapai luaran keperawatan yang positif.