Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 25720 | 18 May 2026
Klinis : Tn. A, laki-laki usia 58 tahun, datang ke IGD diantar istrinya pada tanggal 12 April 2026 dengan keluhan luka pada kaki kanan yang tidak kunjung sembuh sejak 3 minggu terakhir. Pasien mengatakan awalnya kaki kanan terkena goresan kayu saat bekerja di kebun, namun luka semakin membesar, berbau, mengeluarkan cairan kekuningan, dan terasa nyeri. Pasien mengatakan nyeri pada area luka dengan skala 5/10 dan nyeri bertambah saat berjalan atau saat luka disentuh. Pasien juga mengeluh sulit tidur karena nyeri, badan terasa lemas, cepat capek, nafsu makan menurun, sering haus, dan sering buang air kecil terutama pada malam hari. Pasien mengatakan dirinya sudah menderita diabetes sejak 8 tahun lalu, namun tidak rutin kontrol ke fasilitas kesehatan, sering lupa minum obat, dan jarang memeriksakan gula darah. Pasien juga mengaku masih sering mengonsumsi makanan manis seperti teh manis dan kue. Pasien belum memahami pentingnya perawatan kaki diabetik. Sejak luka muncul, pasien lebih sering duduk dan berbaring karena takut bergerak akibat nyeri. Aktivitas sehari-hari sebagian besar dibantu oleh istrinya. Pasien mengatakan khawatir lukanya tidak sembuh dan takut jika harus diamputasi. Saat dilakukan pemeriksaan, keadaan umum pasien tampak lemah dengan kesadaran compos mentis. Tanda-tanda vital didapatkan tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 96 x/menit, respirasi 22 x/menit, suhu 38,1°C. Berat badan pasien 70 kg, tinggi badan 165 cm, dan IMT 25,7 kg/m2. Gula darah sewaktu pasien 320 mg/dL. Pada pemeriksaan fisik ditemukan ulkus diabetikum pada kaki kanan ukuran 5 x 4 cm. Luka tampak merah kehitaman, mengeluarkan pus, berbau, dengan area sekitar luka tampak edema, kemerahan, dan hangat. CRT lebih dari 3 detik, kaki kanan tampak bengkak, dan pasien tampak meringis saat luka disentuh. Mukosa bibir tampak kering dan pasien tampak lebih banyak berbaring di tempat tidur. Pasien tinggal bersama istri dan anaknya. Istri pasien selalu mendampingi dan membantu memenuhi kebutuhan pasien. Pasien beragama Hindu dan percaya bahwa penyakitnya dapat sembuh dengan pengobatan dan doa.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi (SDKI - SLKI - SIKI)
Article No. 25721 | 18 May 2026
Klinis : Tn. A, laki-laki usia 58 tahun, datang ke IGD diantar istrinya pada tanggal 12 April 2026 dengan keluhan luka pada kaki kanan yang tidak kunjung sembuh sejak 3 minggu terakhir. Pasien mengatakan awalnya kaki kanan terkena goresan kayu saat bekerja di kebun, namun luka semakin membesar, berbau, mengeluarkan cairan kekuningan, dan terasa nyeri. Pasien mengatakan nyeri pada area luka dengan skala 5/10 dan nyeri bertambah saat berjalan atau saat luka disentuh. Pasien juga mengeluh sulit tidur karena nyeri, badan terasa lemas, cepat capek, nafsu makan menurun, sering haus, dan sering buang air kecil terutama pada malam hari. Pasien mengatakan dirinya sudah menderita diabetes sejak 8 tahun lalu, namun tidak rutin kontrol ke fasilitas kesehatan, sering lupa minum obat, dan jarang memeriksakan gula darah. Pasien juga mengaku masih sering mengonsumsi makanan manis seperti teh manis dan kue. Pasien belum memahami pentingnya perawatan kaki diabetik. Sejak luka muncul, pasien lebih sering duduk dan berbaring karena takut bergerak akibat nyeri. Aktivitas sehari-hari sebagian besar dibantu oleh istrinya. Pasien mengatakan khawatir lukanya tidak sembuh dan takut jika harus diamputasi. Saat dilakukan pemeriksaan, keadaan umum pasien tampak lemah dengan kesadaran compos mentis. Tanda-tanda vital didapatkan tekanan darah 140/90 mmHg, nadi 96 x/menit, respirasi 22 x/menit, suhu 38,1°C. Berat badan pasien 70 kg, tinggi badan 165 cm, dan IMT 25,7 kg/m2. Gula darah sewaktu pasien 320 mg/dL. Pada pemeriksaan fisik ditemukan ulkus diabetikum pada kaki kanan ukuran 5 x 4 cm. Luka tampak merah kehitaman, mengeluarkan pus, berbau, dengan area sekitar luka tampak edema, kemerahan, dan hangat. CRT lebih dari 3 detik, kaki kanan tampak bengkak, dan pasien tampak meringis saat luka disentuh. Mukosa bibir tampak kering dan pasien tampak lebih banyak berbaring di tempat tidur. Pasien tinggal bersama istri dan anaknya. Istri pasien selalu mendampingi dan membantu memenuhi kebutuhan pasien. Pasien beragama Hindu dan percaya bahwa penyakitnya dapat sembuh dengan pengobatan dan doa.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Integritas Kulit/Jaringan berhubungan dengan faktor mekanis (goresan) dan faktor metabolik (hiperglikemia kronis)
Kode SDKI: D.0129
Deskripsi Singkat: Gangguan integritas kulit/jaringan adalah kerusakan pada kulit dan jaringan subkutan yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk faktor mekanis (seperti trauma, goresan, tekanan) dan faktor metabolik (seperti hiperglikemia kronis pada diabetes melitus). Pada kondisi Tn. A, luka awal akibat goresan kayu tidak kunjung sembuh dan memburuk karena kondisi hiperglikemia yang tidak terkontrol. Hiperglikemia menyebabkan gangguan mikrovaskuler, neuropati perifer, dan penurunan fungsi imun, sehingga proses penyembuhan luka terhambat. Luka menjadi ulkus diabetikum dengan ukuran 5x4 cm, tampak merah kehitaman, mengeluarkan pus, berbau, edema, kemerahan, dan hangat di sekitarnya, yang menandakan adanya infeksi dan inflamasi. CRT >3 detik menunjukkan gangguan perfusi jaringan. Kondisi ini diperberat oleh kebiasaan pasien yang tidak rutin kontrol, lupa minum obat, dan masih mengonsumsi makanan manis, sehingga kadar gula darah sewaktu mencapai 320 mg/dL. Dampaknya, pasien mengalami nyeri skala 5/10, sulit tidur, lemas, cepat capek, nafsu makan menurun, dan aktivitas sehari-hari sebagian besar dibantu istri karena takut bergerak. Pasien juga khawatir lukanya tidak sembuh dan takut amputasi. Diagnosis ini menjadi prioritas karena jika tidak ditangani, dapat menyebabkan infeksi sistemik, sepsis, hingga amputasi.
Kode SLKI: L.13023
Deskripsi : Integritas Kulit dan Jaringan Meningkat. SLKI ini merupakan luaran yang diharapkan setelah dilakukan intervensi keperawatan. Luaran ini mencakup beberapa kriteria hasil yang terukur, yaitu: (1) Perfusi jaringan meningkat, ditandai dengan CRT <3 detik, warna kulit sekitar luka kembali normal (tidak merah kehitaman), suhu sekitar luka normal (tidak hangat), dan edema berkurang. (2) Kerusakan jaringan menurun, ditandai dengan ukuran luka mengecil (dari 5x4 cm), kedalaman luka berkurang, jumlah eksudat (pus) berkurang, bau luka berkurang/hilang, dan tampak jaringan granulasi (jaringan baru berwarna merah muda) di dasar luka. (3) Nyeri menurun, ditandai dengan skala nyeri menurun dari 5/10 (misal menjadi 1-2/10) dan pasien tidak meringis saat luka disentuh. (4) Tanda-tanda vital membaik: suhu tubuh normal (36-37°C), nadi normal (60-100 x/menit), tekanan darah mendekati normal (target <130/80 mmHg pada diabetesi). (5) Kadar gula darah terkontrol, ditandai dengan gula darah sewaktu menurun (target <200 mg/dL) dan pasien patuh minum obat serta kontrol rutin. (6) Pengetahuan meningkat, pasien dan keluarga memahami perawatan kaki diabetik, pentingnya kontrol gula darah, diet rendah gula, dan kapan harus segera ke fasilitas kesehatan. (7) Mobilisasi fisik meningkat, pasien mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri tanpa bantuan penuh. Luaran ini dievaluasi secara bertahap, misalnya dalam 3x24 jam diharapkan tanda-tanda infeksi mulai berkurang dan dalam 1 minggu ukuran luka mulai mengecil.
Kode SIKI: I.14543
Deskripsi : Perawatan Luka (Ulkus Diabetikum). Intervensi ini adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk membersihkan luka, mengoptimalkan lingkungan luka, mencegah infeksi, dan mempercepat penyembuhan. Tindakan utama meliputi: (1) Kaji karakteristik luka secara komprehensif: ukuran, kedalaman, warna dasar luka, eksudat, bau, tepi luka, dan jaringan sekitar. (2) Lakukan pembersihan luka dengan teknik aseptik menggunakan NaCl 0,9% atau cairan pembersih luka khusus (antiseptik non-toksik seperti povidone-iodine encer atau chlorhexidine jika diindikasikan) untuk menghilangkan debris, jaringan nekrotik, dan pus. (3) Lakukan debridemen jika ada jaringan nekrotik (misal jaringan hitam/kehitaman) sesuai kewenangan perawat (debridemen autolitik menggunakan hidrogel atau enzimatik) atau rujuk ke dokter untuk debridemen tajam. (4) Pilih balutan yang sesuai dengan kondisi luka: misalnya hidrogel untuk luka kering/nekrotik, hidrokoloid untuk luka dengan eksudat ringan, alginat atau busa untuk luka dengan eksudat sedang-berat, dan kasa steril yang dibasahi NaCl untuk luka terinfeksi. (5) Berikan terapi topikal sesuai indikasi: misalnya salep antibiotik (mupirosin, gentamisin) atau silver sulfadiazine jika ada infeksi bakteri. (6) Lakukan perawatan luka setiap hari atau sesuai kebutuhan (misal 2x sehari jika eksudat banyak) dengan teknik aseptik. (7) Anjurkan pasien untuk tidak membebani kaki kanan (off-loading) dengan menggunakan alas kaki khusus atau kruk, serta menjaga kaki tetap elevasi untuk mengurangi edema. (8) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antibiotik sistemik jika ada tanda infeksi sistemik (demam, leukositosis) dan untuk kontrol gula darah (insulin atau OHO). (9) Edukasi pasien dan keluarga tentang perawatan luka di rumah: cara mengganti balutan, tanda bahaya (luka membesar, bau bertambah, demam), pentingnya kontrol gula darah, diet rendah gula, dan perawatan kaki diabetik (memeriksa kaki setiap hari, menjaga kebersihan, memakai sepatu yang nyaman). (10) Libatkan keluarga dalam perawatan luka untuk meningkatkan dukungan dan kepatuhan. Intervensi ini juga mencakup manajemen nyeri (kolaborasi analgetik jika diperlukan) dan manajemen nutrisi (kolaborasi dengan ahli gizi untuk diet tinggi protein dan rendah gula). Tujuan akhir dari intervensi ini adalah tercapainya luaran integritas kulit dan jaringan yang meningkat.
Kondisi: Nyeri Akut berhubungan dengan agen pencedera fisik (ulkus diabetikum dan inflamasi jaringan)
Kode SDKI: D.0077
Deskripsi Singkat: Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, dengan onset mendadak atau lambat, dan berlangsung kurang dari 3 bulan. Pada Tn. A, nyeri bersumber dari ulkus diabetikum yang mengalami inflamasi dan infeksi. Proses inflamasi melepaskan mediator nyeri seperti prostaglandin, bradikinin, dan histamin yang merangsang ujung saraf nosiseptor di sekitar luka. Pasien melaporkan skala nyeri 5/10, nyeri bertambah saat berjalan atau saat luka disentuh (nyeri tekan), dan nyeri mengganggu tidur. Pasien juga tampak meringis saat luka disentuh saat pemeriksaan fisik. Nyeri ini menyebabkan pasien takut bergerak, lebih banyak duduk dan berbaring, sehingga aktivitas sehari-hari terganggu dan dibantu istri. Nyeri yang tidak tertangani dapat memperburuk kondisi hiperglikemia karena stres meningkatkan kadar kortisol dan glukagon, yang selanjutnya menghambat penyembuhan luka. Oleh karena itu, diagnosis ini perlu diatasi secara holistik, baik dengan farmakologi maupun non-farmakologi.
Kode SLKI: L.08066
Deskripsi : Tingkat Nyeri Menurun. Luaran ini mengukur keberhasilan intervensi manajemen nyeri. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Kemampuan mengontrol nyeri meningkat: pasien mampu mengidentifikasi faktor pencetus nyeri (misal berjalan, menyentuh luka) dan mampu menggunakan teknik non-farmakologi (misal napas dalam, distraksi) saat nyeri muncul. (2) Skala nyeri menurun: dari skala 5/10 menjadi skala ringan (1-2/10) atau bahkan 0/10. (3) Ekspresi nyeri menurun: pasien tidak lagi meringis, tidak mengerang, dan wajah tampak rileks. (4) Tanda-tanda vital membaik: nadi normal (60-100 x/menit), tekanan darah normal (target <130/80 mmHg), dan frekuensi napas normal (16-20 x/menit). (5) Pola tidur membaik: pasien dapat tidur nyenyak tanpa terbangun akibat nyeri, durasi tidur meningkat. (6) Aktivitas fisik meningkat: pasien mampu melakukan mobilisasi ringan (misal duduk di kursi, berjalan ke kamar mandi dengan bantuan) tanpa keluhan nyeri yang berarti. Luaran ini dievaluasi setiap shift dan diharapkan dalam 1x24 jam skala nyeri turun menjadi <3/10.
Kode SIKI: I.08238
Deskripsi : Manajemen Nyeri. Intervensi ini bertujuan untuk mengurangi atau menghilangkan nyeri melalui pendekatan farmakologis dan non-farmakologis. Tindakan yang dilakukan: (1) Kaji nyeri secara komprehensif: lokasi (kaki kanan), karakteristik (tajam, perih), durasi (terus-menerus), frekuensi (bertambah saat digerakkan/disentuh), skala (5/10), dan faktor yang memperberat/memperingan. (2) Berikan teknik non-farmakologis: ajarkan teknik relaksasi napas dalam (tarik napas melalui hidung, tahan 3 detik, hembuskan melalui mulut), distraksi (mendengarkan musik, mengobrol dengan keluarga), dan kompres dingin pada area
Article No. 25722 | 18 May 2026
Klinis : pasien datang dengan keluhan penurunan kesadaran sejak tadi malam -+ 20.00 keluhan lain lemas nafsu makan turun RPD : stroke KU lemah, GCS E3V2M2 TD: 114/77 mmHg N: 61x/menit RR; 20x/menit S; 38'C SpO2; 99% canul Mata : CA -/- SI -/-, pupil isokor 3mm/3mm Mulut : dbn Thorax : Simetris ka/ki BJ I-II, reguler, bising (-) Paru : SDV +/+ ronkhi (+/+) whz -/- Abdomen :supel, BU (+) Normal, NT (-) Genatalia : tidak ada kelainan Ekstremitas Superior : akral hangat +/+, CRT <2detik, edema (-/-)motoric 111/333 Ekstremitas Inferior : akral hangat +/+, CRT <2 detik, edema (+/+)motoric 111/333 Status Neurologis Nervus cranialis II visual pursuit : +/+ (lambat ke arah kiri) voluntary eye novement : +/+ blink to treat : -/- III pupil : dolls eye movement + deviasi conjugae + ke kanan posisi pupil : isokor Refleks cornea +/+ Refleks pupil +/+ diameter ± 3 mm / 3 mm VII eye lid release : lateralisasi ke kanan Hasil Lab 16/05 ELEKTROLIT Natrium (Na) 173 [H] Kalium (K) 3.7 Chlorida (Cl) 139 [H] Calsium (Ca2+) 1.1 pH 7.61 [H] GDS 84 Fungsi Ginjal Ureum 83.3 Kreatinin 1.32 [H] Darah Rutin Hemoglobin 10.07 [L] Eritrosit 3.89[L] Hematokrit 32.4 [L] MCV 83.2 MCH 25.9 [L] Lekosit 15.48 [H] Trombosit 96 [L] Neutrofil 89.4 [H] Limfosit 7.5 [L] NC HCTS Kesan : - Infark cerebri di parietalis sinistra dan lacunar infark cerebri di parietalis dextra - Atrofi cerebri - Tak tampak perdarahan intracerebri maupun intracerebelli Thorax PA Kesan : Pulmo dan besar cor normal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran pada Pasien Stroke dengan Hipernatremia dan Gangguan Elektrolit
Kode SDKI: D.0005
Deskripsi Singkat: Penurunan kesadaran adalah kondisi di mana terjadi penurunan tingkat kesadaran dari kondisi normal, yang dapat bermanifestasi sebagai somnolen, stupor, hingga koma. Pada pasien ini, penurunan kesadaran sejak pukul 20.00 malam dengan GCS E3V2M2 (total 7) menunjukkan gangguan fungsi serebral yang signifikan. Kondisi ini berkaitan dengan infark cerebri di parietalis sinistra dan lacunar infark di parietalis dextra, serta atrofi cerebri yang terlihat pada hasil CT scan. Hipernatremia berat (Na 173 mEq/L) dan alkalisis metabolik (pH 7.61) memperburuk fungsi neurologis karena menyebabkan dehidrasi intraseluler dan perubahan osmolaritas cairan otak, yang mengganggu transmisi impuls saraf dan metabolisme neuron. Penurunan kesadaran juga diperparah oleh anemia (Hb 10.07 g/dL) yang mengurangi suplai oksigen ke otak, serta trombositopenia (96.000/µL) yang meningkatkan risiko perdarahan intrakranial. Manifestasi klinis seperti lemah, penurunan nafsu makan, dan respons motorik yang lambat (motoric 111/333) menegaskan adanya gangguan integritas neurologis yang memerlukan intervensi segera untuk mencegah kerusakan otak lebih lanjut dan komplikasi sistemik.
Kode SLKI: L.01010
Deskripsi : Tingkat kesadaran adalah status kemampuan pasien untuk merespons rangsang internal dan eksternal secara sadar. Tujuan intervensi keperawatan adalah meningkatkan kesadaran pasien dari status GCS 7 menuju tingkat kesadaran yang lebih baik, seperti mampu membuka mata spontan, mengikuti perintah verbal, dan respons motorik yang tepat. Kriteria hasil yang diharapkan meliputi: (1) Peningkatan GCS secara bertahap, misalnya dari E3V2M2 menjadi E4V3M5 dalam 3-5 hari, (2) Respons pupil yang normal (isokor, reflek cahaya positif) tanpa deviasi konjugasi, (3) Kemampuan menelan dan batuk yang membaik untuk mencegah aspirasi, (4) Stabilitas tanda-tanda vital, terutama tekanan darah, nadi, dan suhu, serta (5) Perbaikan status elektrolit, khususnya penurunan natrium serum menuju rentang normal (135-145 mEq/L) dalam 48-72 jam. Evaluasi dilakukan setiap shift dengan menggunakan skala GCS dan pemantauan neurologis serial. Keberhasilan intervensi juga diukur dari tidak adanya penurunan kesadaran lebih lanjut, tidak terjadi kejang, dan pasien mampu mempertahankan jalan napas paten tanpa bantuan alat.
Kode SIKI: I.06114
Deskripsi : Manajemen penurunan kesadaran adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan mempertahankan fungsi vital, mencegah cedera sekunder, dan meningkatkan tingkat kesadaran pasien. Intervensi utama meliputi: (1) Pemantauan neurologis ketat dengan menilai GCS setiap 1-2 jam, ukuran dan reaksi pupil, serta kekuatan motorik ekstremitas. Pada pasien ini, deviasi konjugasi ke kanan dan visual pursuit lambat ke kiri menunjukkan lesi hemisfer kiri, sehingga perlu dicatat perubahan lateralitas. (2) Manajemen jalan napas dengan posisi kepala sedikit ditinggikan (30 derajat) untuk menurunkan tekanan intrakranial, serta melakukan suction jika ada sekret karena pasien memiliki ronkhi positif di kedua lapang paru. (3) Monitoring tanda-tanda vital termasuk suhu (38°C menunjukkan hipertermia yang perlu diturunkan dengan kompres hangat atau antipiretik), tekanan darah (114/77 mmHg relatif stabil namun perlu diwaspadai fluktuasi), dan saturasi oksigen (SpO2 99% dengan kanul nasal). (4) Koreksi hipernatremia secara bertahap dengan kolaborasi pemberian cairan hipotonik (NaCl 0,45% atau dekstrosa 5%) melalui infus, dengan kecepatan koreksi tidak melebihi 0,5 mEq/L per jam untuk mencegah edema serebral osmotik. (5) Manajemen nutrisi dan hidrasi karena pasien mengalami penurunan nafsu makan; dapat diberikan nutrisi enteral melalui NGT jika pasien tidak mampu menelan dengan aman, mengingat refleks batuk dan menelan perlu dievaluasi lebih lanjut. (6) Pencegahan komplikasi imobilisasi seperti luka tekan, kontraktur, dan deep vein thrombosis dengan melakukan reposisi setiap 2 jam, latihan rentang gerak pasif (ROM), dan penggunaan alas anti-dekubitus. (7) Kolaborasi dengan tim medis untuk pemberian terapi antikoagulan atau antiplatelet (mengingat riwayat stroke iskemik) dan koreksi trombositopenia jika perlu. (8) Edukasi keluarga mengenai kondisi pasien, tanda bahaya (misalnya penurunan GCS mendadak, kejang, atau muntah), serta cara melakukan perawatan dasar seperti oral hygiene dan perawatan mata karena pasien mungkin mengalami lagoftalmus. Semua intervensi didokumentasikan secara terperinci dan dievaluasi setiap 6 jam untuk menyesuaikan rencana asuhan keperawatan sesuai respons klinis pasien.
Article No. 25723 | 18 May 2026
Klinis : pasien datang dengan keluhan penurunan kesadaran sejak tadi malam -+ 20.00 keluhan lain lemas nafsu makan turun RPD : stroke KU lemah, GCS E3V2M2 TD: 114/77 mmHg N: 61x/menit RR; 20x/menit S; 38'C SpO2; 99% canul Mata : CA -/- SI -/-, pupil isokor 3mm/3mm Mulut : dbn Thorax : Simetris ka/ki BJ I-II, reguler, bising (-) Paru : SDV +/+ ronkhi (+/+) whz -/- Abdomen :supel, BU (+) Normal, NT (-) Genatalia : tidak ada kelainan Ekstremitas Superior : akral hangat +/+, CRT <2detik, edema (-/-)motoric 111/333 Ekstremitas Inferior : akral hangat +/+, CRT <2 detik, edema (+/+)motoric 111/333 Status Neurologis Nervus cranialis II visual pursuit : +/+ (lambat ke arah kiri) voluntary eye novement : +/+ blink to treat : -/- III pupil : dolls eye movement + deviasi conjugae + ke kanan posisi pupil : isokor Refleks cornea +/+ Refleks pupil +/+ diameter ± 3 mm / 3 mm VII eye lid release : lateralisasi ke kanan Hasil Lab 16/05 ELEKTROLIT Natrium (Na) 173 [H] Kalium (K) 3.7 Chlorida (Cl) 139 [H] Calsium (Ca2+) 1.1 pH 7.61 [H] GDS 84 Fungsi Ginjal Ureum 83.3 Kreatinin 1.32 [H] Darah Rutin Hemoglobin 10.07 [L] Eritrosit 3.89[L] Hematokrit 32.4 [L] MCV 83.2 MCH 25.9 [L] Lekosit 15.48 [H] Trombosit 96 [L] Neutrofil 89.4 [H] Limfosit 7.5 [L] NC HCTS Kesan : Infark cerebri di parietalis sinistra dan lacunar infark cerebri di parietalis dextra Atrofi cerebri Tak tampak perdarahan intracerebri maupun intracerebelli Thorax PA Kesan : Pulmo dan besar cor normal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Penurunan Kesadaran pada Pasien Stroke dengan Hipernatremia dan Asidosis Metabolik
Kode SDKI: D.0006
Deskripsi Singkat: Penurunan kesadaran merupakan kondisi dimana individu mengalami penurunan tingkat kesadaran dari keadaan normal, yang disebabkan oleh gangguan pada fungsi serebral, metabolik, atau struktural. Pada pasien ini, penurunan kesadaran terjadi akibat infark cerebri di parietalis sinistra dan lacunar infark di parietalis dextra yang mengganggu jaras retikularis aktivasi (RAS) serta ketidakseimbangan elektrolit berupa hipernatremia (Na 173) dan alkalosis metabolik (pH 7.61). GCS E3V2M2 menunjukkan respons verbal dan motorik yang sangat terbatas, menandakan disfungsi neurologis berat.
Kode SLKI: L.08010
Deskripsi : Tingkat kesadaran adalah status kemampuan individu untuk merespons stimulus internal dan eksternal secara optimal. Pada pasien ini, tingkat kesadaran ditargetkan meningkat dengan kriteria: GCS membaik (E4V3M4), respons terhadap rangsang verbal dan nyeri lebih adekuat, serta kemampuan mempertahankan siklus tidur-bangun. Indikator yang diukur meliputi: respons membuka mata, respons motorik terhadap perintah, respons verbal, orientasi terhadap waktu dan tempat, serta refleks batuk dan menelan. Target capaian dalam 3x24 jam adalah pasien mampu membuka mata spontan, menggerakkan ekstremitas sesuai perintah sederhana, dan mengeluarkan suara yang bermakna.
Kode SIKI: I.06117
Deskripsi : Manajemen penurunan kesadaran adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan mempertahankan fungsi neurologis dan mencegah komplikasi sekunder. Intervensi utama meliputi: monitor GCS setiap 2 jam, monitor tanda-tanda vital (TD, N, RR, S, SpO2), monitor tekanan intrakranial (TIK) secara non-invasif melalui penilaian pupil dan posisi kepala, pertahankan kepala elevasi 30 derajat untuk memfasilitasi drainase vena serebral, berikan oksigenasi adekuat (SpO2 >95%), lakukan penilaian pupil (ukuran, bentuk, reaksi cahaya) setiap jam, monitor intake dan output cairan ketat untuk mengoreksi hipernatremia, kolaborasi pemberian cairan hipotonik (NaCl 0.45%) sesuai advis medis, monitor elektrolit serial, lakukan fisioterapi dada untuk mencegah atelektasis akibat immobilisasi, lakukan oral care setiap 2 jam untuk mencegah aspirasi, pasang NGT untuk nutrisi enteral jika reflek menelan terganggu, dan lakukan reposisi setiap 2 jam untuk mencegah dekubitus.
Kondisi: Gangguan Mobilitas Fisik pada Pasien Stroke Hemiparese
Kode SDKI: D.0054
Deskripsi Singkat: Gangguan mobilitas fisik adalah keterbatasan dalam pergerakan fisik dari satu atau lebih ekstremitas secara mandiri. Pada pasien ini, ditemukan motorik ekstremitas superior 111/333 dan inferior 111/333, yang menunjukkan hemiparese sisi kanan (deviasi conjugae ke kanan, lateralisasi ke kanan) akibat infark cerebri di parietalis sinistra. Kelemahan motorik ini menyebabkan ketidakmampuan pasien untuk mengubah posisi, berjalan, atau melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri. Faktor risiko meliputi: gangguan neuromuskular, nyeri, dan penurunan kesadaran yang membatasi inisiatif gerak.
Kode SLKI: L.05010
Deskripsi : Mobilitas fisik adalah kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, terkoordinasi, dan bertujuan dalam lingkungan. Target luaran yang diharapkan dalam 3x24 jam adalah pasien menunjukkan peningkatan kekuatan otot minimal grade 3 pada ekstremitas kanan, mampu melakukan latihan rentang gerak (ROM) pasif dengan bantuan perawat, dan mampu duduk di tepi tempat tidur dengan bantuan minimal. Indikator yang diukur meliputi: kekuatan otot (skala 0-5), rentang gerak sendi, keseimbangan duduk, kemampuan transfer, dan toleransi terhadap aktivitas. Kriteria hasil: tidak terjadi kontraktur, tidak terjadi atrofi otot, dan pasien dapat mempertahankan posisi duduk selama 5 menit dengan bantuan.
Kode SIKI: I.06102
Deskripsi : Latihan mobilitas dan rehabilitasi fisik adalah intervensi untuk mempertahankan atau meningkatkan fungsi muskuloskeletal dan neuromuskular. Intervensi meliputi: lakukan latihan rentang gerak pasif (ROM pasif) pada semua sendi ekstremitas kanan yang mengalami kelemahan sebanyak 2 kali sehari masing-masing 15 menit, lakukan latihan rentang gerak aktif pada ekstremitas kiri yang masih kuat, bantu pasien melakukan latihan duduk di tepi tempat tidur (dangling) dengan posisi kepala elevasi 60 derajat, monitor toleransi aktivitas (TD, N, RR, SpO2) sebelum dan sesudah latihan, ajarkan teknik pernapasan diafragma selama latihan untuk mencegah dispnea, kolaborasi dengan fisioterapis untuk program latihan fungsional, gunakan alat bantu seperti side rail dan bantal untuk mencegah jatuh, lakukan reposisi setiap 2 jam dengan teknik log roll untuk melindungi tulang belakang, dan dokumentasikan perkembangan kekuatan otot setiap shift.
Kondisi: Risiko Aspirasi pada Pasien Stroke dengan Penurunan Kesadaran
Kode SDKI: D.0007
Deskripsi Singkat: Risiko aspirasi adalah kerentanan terhadap masuknya sekret, makanan, cairan, atau benda asing ke dalam saluran napas bawah akibat gangguan mekanisme perlindungan jalan napas. Pada pasien ini, risiko aspirasi sangat tinggi karena: GCS rendah (E3V2M2) yang menghambat refleks batuk dan menelan, ditemukan reflek blink to threat (-/-) yang menandakan gangguan proteksi jalan napas, dan adanya ronkhi positif di kedua lapang paru yang mengindikasikan kemungkinan sekret berlebih. Pasien juga memiliki riwayat stroke yang dapat menyebabkan disfagia neurogenik. Hipernatremia dan dehidrasi yang mendasari juga memperburuk konsistensi sekret menjadi kental, sehingga lebih mudah masuk ke saluran napas.
Kode SLKI: L.08012
Deskripsi : Status jalan napas adalah kemampuan individu untuk mempertahankan jalan napas tetap terbuka dan bersih dari obstruksi. Target luaran: dalam 1x24 jam pasien tidak menunjukkan tanda aspirasi seperti batuk tiba-tiba, sianosis, atau penurunan SpO2. Indikator yang diukur: frekuensi napas dalam rentang normal (16-20x/menit), bunyi napas tambahan (ronkhi) berkurang, kemampuan batuk efektif, reflek menelan kembali, dan saturasi oksigen >95%. Kriteria hasil: tidak ada suara napas tambahan, tidak ada retraksi dada, dan pasien mampu mengeluarkan sekret secara spontan atau dengan suction minimal.
Kode SIKI: I.01011
Deskripsi : Manajemen jalan napas dan pencegahan aspirasi adalah intervensi keperawatan untuk mempertahankan kepatenan jalan napas dan mencegah masuknya material asing. Intervensi meliputi: posisikan pasien semi-Fowler (30-45 derajat) untuk mengurangi risiko refluks dan aspirasi, lakukan suction endotrakeal secara aseptik jika terdengar ronkhi atau sekret jelas setiap 2 jam atau sesuai kebutuhan, monitor reflek batuk dan menelan sebelum memberikan makanan atau minuman, lakukan oral care dengan chlorhexidine 0.12% setiap 4 jam untuk mengurangi koloni bakteri di orofaring, pastikan NGT terpasang dengan benar dan posisi ujung NGT di lambung sebelum memberikan nutrisi enteral, berikan nutrisi enteral secara perlahan dengan posisi kepala elevasi 30-45 derajat dan pertahankan posisi tersebut minimal 30 menit setelah pemberian, monitor residu lambung setiap 4 jam (waspada jika >200 ml), kolaborasi dengan dokter untuk pemeriksaan videofluoroskopi menelan jika pasien sadar penuh, dan dokumentasikan karakteristik sekret serta respons pasien terhadap suction.
Kondisi: Risiko Ketidakseimbangan Elektrolit (Hipernatremia)
Kode SDKI: D.0037
Deskripsi Singkat: Risiko ketidakseimbangan elektrolit adalah kerentanan terhadap perubahan kadar elektrolit dalam serum yang dapat mengganggu fungsi seluler dan homeostatis. Pada pasien ini, ditemukan hipernatremia berat (Na 173, nilai normal 135-145 mEq/L) dan alkalosis metabolik (pH 7.61, nilai normal 7.35-7.45). Hipernatremia disebabkan oleh defisit cairan relatif terhadap natrium, diperparah oleh penurunan kesadaran yang menghambat asupan cairan oral. Kondisi ini sangat berbahaya karena dapat menyebabkan edema serebral, kejang, dan kerusakan neurologis ireversibel. Pasien juga memiliki riwayat stroke yang membuat otak lebih rentan terhadap perubahan osmolaritas. Kreatinin yang meningkat (1.32) mengind
Article No. 25724 | 18 May 2026
Klinis : Seorang laki-laki berusia 78 tahun, tinggal satu rumah bersama anak dan cucunya. Klien sering keluar rumah tanpa tujuan, lupa jalan kembali ke rumah, pernah dikembalikan polisi ke rumah, karena tidak mampu mengingat. Saat ini pasien tidak lagi ditinggal sendiri di rumah karena sering lupa mematikan kompor dan pernah tersesat di sekitar rumah. Keluarga meminta kunjungan perawat karena pasien semakin sering lupa, sulit mengenali cucunya, dan kadang gelisah terutama sore hari. Anak pasien mengatakan: “Bapak sering mengulang pertanyaan yang sama.” “Kalau sore kadang marah tanpa sebab.” “Sekarang harus dibantu mandi dan berpakaian.” Keadaan umum: tampak tenang, kadang bingung Kesadaran: compos mentis, orientasi waktu dan tempat menurun TD: 130/80 mmHg Nadi: 80 x/menit RR: 18 x/menit Suhu: 36,5°C Skor MMSE: 18/30 (gangguan kognitif sedang) Memori jangka pendek: terganggu Aktivitas: dibantu mandi, berpakaian Pola tidur: sering terbangun malam Perilaku: gelisah saat sore (sundowning) Lingkungan rumah: aman, namun belum ada pengaman pintu tambahan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Perawatan Diri pada Lansia dengan Demensia Vaskular/Gangguan Kognitif Sedang
Kode SDKI: D.0100
Deskripsi Singkat: Defisit perawatan diri adalah kondisi ketika individu mengalami penurunan kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri, seperti mandi, berpakaian, makan, dan toileting, yang disebabkan oleh faktor kognitif, fisik, atau psikologis. Pada pasien ini, skor MMSE 18/30 menunjukkan gangguan kognitif sedang, memori jangka pendek terganggu, dan ketergantungan pada bantuan mandi serta berpakaian. Kondisi ini diperparah oleh gejala sundowning (gelisah sore hari) dan disorientasi waktu-tempat, sehingga pasien tidak mampu merawat diri secara aman dan efektif. Defisit perawatan diri pada lansia dengan demensia sering kali progresif dan memerlukan intervensi keperawatan yang komprehensif untuk mempertahankan martabat, keamanan, dan kualitas hidup pasien. Keluarga melaporkan bahwa pasien harus dibantu mandi dan berpakaian, yang menandakan penurunan signifikan dalam kemampuan fungsional dasar. Faktor risiko utama adalah proses neurodegeneratif yang mempengaruhi area otak yang mengontrol fungsi eksekutif, memori prosedural, dan kesadaran diri. Tanpa intervensi yang tepat, kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi seperti infeksi kulit, hipotermia, cedera akibat jatuh, dan isolasi sosial. Perawat perlu melakukan pengkajian menyeluruh terhadap kemampuan fungsional pasien menggunakan instrumen seperti Katz Index atau Barthel Index, serta melibatkan keluarga dalam perencanaan perawatan. Intervensi difokuskan pada modifikasi lingkungan, pemberian bantuan bertahap, dan stimulasi kognitif untuk memaksimalkan kemandirian yang tersisa. Pasien dengan demensia sering mengalami frustrasi saat tidak mampu melakukan aktivitas yang dulu mudah, sehingga pendekatan komunikasi terapeutik dan validasi emosi sangat penting. Defisit perawatan diri juga berdampak pada beban caregiver, sehingga edukasi dan dukungan psikososial bagi keluarga menjadi komponen krusial dalam asuhan keperawatan. Tujuan jangka pendek adalah memastikan kebersihan dan keamanan pasien selama aktivitas harian, sementara tujuan jangka panjang adalah mempertahankan fungsi fisik yang tersisa dan mencegah penurunan lebih lanjut. Perawat harus memonitor tanda-tanda infeksi, luka tekan, dan malnutrisi yang sering menyertai defisit perawatan diri pada lansia. Kolaborasi dengan ahli gizi, fisioterapis, dan pekerja sosial diperlukan untuk pendekatan multidisiplin. Pada kasus ini, lingkungan rumah sudah aman namun belum ada pengaman pintu tambahan, sehingga risiko wandering (berjalan tanpa tujuan) masih tinggi. Oleh karena itu, intervensi keamanan seperti pemasangan alarm pintu atau sistem identifikasi harus segera diimplementasikan. Defisit perawatan diri bukan hanya masalah fisik tetapi juga psikososial, karena pasien mungkin kehilangan rasa percaya diri dan otonomi. Perawat harus menghormati privasi pasien saat membantu perawatan diri dan memberikan pilihan sederhana untuk meningkatkan rasa kontrol. Evaluasi dilakukan setiap hari untuk menyesuaikan tingkat bantuan sesuai dengan fluktuasi kondisi kognitif pasien. Keluarga perlu diajarkan teknik perawatan yang benar, seperti mandi dengan air hangat, memilih pakaian yang mudah dipakai, dan memberikan instruksi satu langkah sederhana. Dokumentasi perkembangan sangat penting untuk memantau efektivitas intervensi dan mendeteksi perubahan status kesehatan secara dini. Defisit perawatan diri yang tidak ditangani dapat mempercepat penurunan fungsional dan meningkatkan risiko rawat inap. Dengan pendekatan yang holistik dan berpusat pada pasien, kualitas hidup lansia dengan demensia dapat ditingkatkan meskipun terdapat keterbatasan kognitif yang signifikan.
Kode SLKI: L.01002
Deskripsi : Perawatan Diri: Kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan diri secara mandiri atau dengan bantuan minimal. Luaran yang diharapkan pada pasien ini adalah peningkatan kemandirian dalam mandi, berpakaian, dan menjaga kebersihan diri yang diukur dengan skala 1 (membutuhkan bantuan total) hingga 5 (mandiri penuh). Indikator yang dievaluasi meliputi: (1) Kemampuan mandi: pasien dapat duduk stabil di kursi mandi, menggosok tubuh dengan waslap, dan membilas dengan bimbingan verbal. Target: meningkat dari level 2 (bantuan sebagian) menjadi level 3 (bantuan minimal) dalam 1 minggu. (2) Kemampuan berpakaian: pasien dapat memilih pakaian yang sesuai (disediakan 2 pilihan), memasukkan lengan ke baju, dan mengancingkan kancing besar dengan bantuan taktil minimal. Target: level 3 dalam 10 hari. (3) Kebersihan mulut: pasien dapat memegang sikat gigi dan menggosok gigi depan dengan arahan satu langkah. Target: level 2 menjadi level 3 dalam 1 minggu. (4) Toileting: pasien dapat mengomunikasikan kebutuhan ke toilet dengan bantuan prompt verbal setiap 2 jam. Target: level 3 dalam 2 minggu. (5) Perawatan rambut: pasien dapat menyisir rambut dengan bantuan cermin dan instruksi sederhana. Target: level 3 dalam 10 hari. Indikator tambahan yang relevan adalah penurunan perilaku gelisah saat sore hari, yang diukur dengan skala agitasi Cohen-Mansfield. Luaran ini dicapai melalui intervensi keperawatan yang konsisten, modifikasi lingkungan (seperti pegangan tangan di kamar mandi, kursi toilet tinggi), dan jadwal rutin harian yang dipasang di dinding. Keluarga juga diajarkan untuk memberikan pujian verbal setiap kali pasien berhasil melakukan langkah perawatan diri, guna meningkatkan motivasi. Monitoring dilakukan setiap hari dengan menggunakan lembar observasi sederhana yang diisi oleh caregiver. Jika dalam 3 hari tidak ada kemajuan, perawat akan merevisi strategi, misalnya dengan membagi aktivitas menjadi langkah yang lebih kecil atau menggunakan alat bantu seperti sikat gigi elektrik. Luaran ini juga terkait dengan pencegahan komplikasi seperti infeksi saluran kemih (akibat toileting yang tidak adekuat) dan dermatitis (akibat mandi yang tidak bersih). Perawat juga mengevaluasi beban caregiver menggunakan Zarit Burden Interview, karena peningkatan kemandirian pasien akan mengurangi stres keluarga. Target akhir setelah 1 bulan adalah pasien dapat melakukan perawatan diri dengan bantuan minimal (level 3) pada 4 dari 5 indikator, serta penurunan skor agitasi sundowning dari 7 menjadi 4. Dokumentasi luaran dilakukan dalam format SOAP dengan fokus pada respons pasien terhadap intervensi. Jika luaran tidak tercapai, perawat akan melakukan konferensi kasus dengan tim multidisiplin untuk menyesuaikan rencana perawatan. Penting untuk diingat bahwa pada demensia, tujuan utama bukanlah kemandirian penuh, tetapi mempertahankan fungsi yang tersisa dan meningkatkan kenyamanan serta keamanan pasien. Oleh karena itu, SLKI ini bersifat realistis dan berfokus pada kualitas hidup. Setiap pencapaian kecil dirayakan bersama keluarga untuk membangun optimisme. Evaluasi formal dilakukan setiap minggu dengan melibatkan pasien (sejauh mungkin) dan keluarga dalam diskusi kemajuan. Perawat juga memastikan bahwa lingkungan rumah telah dimodifikasi untuk mendukung kemandirian, seperti meletakkan handuk di tempat yang mudah dijangkau dan menggunakan pakaian tanpa kancing rumit. Dengan pendekatan ini, diharapkan pasien merasa lebih berdaya dan keluarga lebih percaya diri dalam merawat.
Kode SIKI: I.01002
Deskripsi : Dukungan Perawatan Diri: Mandi dan Berpakaian. Intervensi ini bertujuan untuk membantu pasien mempertahankan atau meningkatkan kemampuan dalam perawatan diri melalui bimbingan, demonstrasi, dan modifikasi lingkungan. Tindakan keperawatan yang dilakukan meliputi: (1) Identifikasi faktor yang mempengaruhi kemampuan perawatan diri, seperti tingkat kognitif, kelelahan, nyeri, dan lingkungan. Pada pasien ini, faktor utama adalah gangguan memori jangka pendek dan disorientasi waktu-tempat, sehingga intervensi harus disesuaikan dengan jadwal rutin. (2) Sediakan alat bantu yang aman: kursi mandi anti-slip, handuk hangat, pakaian dengan kancing velcro atau elastis, sikat gigi bergagang besar, dan sisir bergagang panjang. (3) Berikan instruksi satu langkah sederhana dengan suara tenang, misalnya "Ambil handuk, Bapak" bukan "Sekarang mandi". Gunakan teknik redirection jika pasien bingung. (4) Bantu pasien mandi dengan teknik bertahap: mulai dari membasuh wajah, tangan, lalu tubuh bagian bawah. Berikan privasi dengan menutup pintu dan menggunakan tirai. Suhu air diatur 37-38°C untuk mencegah luka bakar karena sensasi kulit yang menurun. (5) Saat berpakaian, letakkan pakaian dalam urutan pemakaian (celana di bawah, baju di atas). Bantu pasien memasukkan lengan ke baju dari sisi yang lemah (jika ada hemiparesis) atau sisi dominan. Gunakan pakaian longgar dan hindari tali sepatu. (6) Lakukan toileting terjadwal setiap 2 jam untuk mencegah inkontinensia dan kegelisahan. Pandu pasien ke toilet dengan kalimat "Waktunya ke kamar kecil". Pasang lampu redup di malam hari untuk memudahkan orientasi. (7) Berikan stimulasi kognitif selama perawatan, seperti menyebutkan nama benda yang digunakan ("Ini sabun, wanginya enak") untuk melatih memori. (8) Kelola sundowning dengan memajukan jadwal mandi ke sore hari (pukul 15.00) agar pasien lebih tenang, dan gunakan aromaterapi lavender di kamar mandi. (9) Libatkan keluarga: ajari anak pasien cara memberikan bantuan yang tepat, yaitu dengan sikap sabar dan tidak terburu-buru. Berikan jadwal harian tertulis yang dipasang di dinding
Article No. 25725 | 18 May 2026
Klinis : SLKI dari diagnosa
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: ```html
Diagnosa Keperawatan, Luaran, dan Intervensi Berdasarkan SDKI, SLKI, SIKI (PPNI)
Sebagai seorang perawat profesional, pemahaman dan penerapan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI), Standar Luaran Keperawatan Indonesia (SLKI), dan Standar Intervensi Keperawatan Indonesia (SIKI) yang diterbitkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) adalah krusial. Ketiga standar ini membentuk kerangka kerja yang sistematis dan terintegrasi dalam memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas, terukur, dan berpusat pada pasien.
Pendekatan ini memastikan bahwa setiap langkah dalam proses keperawatan, mulai dari ident
Article No. 25688 | 17 May 2026
Klinis : seorang perempuan usia 27 tahun, dirawat dengan keluhan BAB lebih dari 5 kali sehari, konsistensi cair. hasil pemeriksaan turgor kulit menurun, mukosa kering, pasien mengeluh haus terus. buat analisa data, diagnosa kep, dan intervensi keperawatannya
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Defisit Volume Cairan
Kode SDKI: D.0036
Deskripsi Singkat: Defisit volume cairan adalah keadaan individu yang mengalami atau berisiko mengalami penurunan cairan intravaskuler, interstisial, dan/atau intraseluler. Kondisi ini mengacu pada dehidrasi yang terjadi akibat kehilangan cairan secara aktif atau kegagalan mekanisme regulasi. Pada pasien ini, diare cair lebih dari 5 kali sehari menyebabkan kehilangan air dan elektrolit secara signifikan, yang bermanifestasi sebagai turgor kulit menurun, mukosa kering, dan rasa haus yang terus-menerus. Defisit volume cairan dapat mengganggu perfusi jaringan, keseimbangan elektrolit, dan fungsi organ vital jika tidak ditangani dengan segera.
Kode SLKI: L.03020
Deskripsi : Keseimbangan Cairan adalah luaran keperawatan yang menggambarkan status hidrasi pasien setelah diberikan intervensi. Luaran ini mencakup indikator seperti: (1) Membran mukosa lembab, (2) Turgor kulit elastis, (3) Intake cairan adekuat (sesuai kebutuhan), (4) Output cairan seimbang (urin, feses, keringat), (5) Tidak ada rasa haus berlebihan, (6) Tanda-tanda vital stabil (tekanan darah, nadi, suhu), (7) Berat badan stabil, (8) Konsentrasi urin normal, (9) Hematokrit dalam batas normal. Pada pasien ini, target luaran yang diharapkan dalam waktu 3x24 jam adalah: membran mukosa kembali lembab, turgor kulit elastis, rasa haus berkurang, dan frekuensi BAB menurun menjadi kurang dari 3 kali sehari dengan konsistensi lebih padat. Skala luaran diukur dari 1 (memburuk) hingga 5 (membaik), dengan target minimal skala 4 (cukup membaik) pada setiap indikator. Keseimbangan cairan yang optimal akan mendukung fungsi ginjal, sirkulasi, dan termoregulasi tubuh.
Kode SIKI: I.03116
Deskripsi : Manajemen Cairan adalah serangkaian intervensi keperawatan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan cairan pasien, mencegah defisit lebih lanjut, dan mengembalikan keseimbangan cairan tubuh. Intervensi ini dilakukan secara kolaboratif dan mandiri. Berikut adalah penjabaran detail intervensi yang sesuai untuk pasien dengan diare dan dehidrasi:
1. Observasi dan Monitoring (I.03116.a):
- Monitor tanda-tanda dehidrasi: turgor kulit, membran mukosa, rasa haus, dan tanda vital (tekanan darah, nadi, frekuensi napas, suhu). Pada pasien ini, perawat perlu menilai turgor kulit setiap 4 jam dengan mencubit kulit abdomen atau punggung tangan; jika kulit kembali lambat (>2 detik), ini menandakan dehidrasi sedang hingga berat.
- Monitor intake dan output cairan secara ketat (balance cairan) setiap 8 jam. Catat jumlah minum, infus, dan output melalui feses (konsistensi dan volume), urin (warna, jumlah, frekuensi). Output cairan abnormal melalui diare harus diperhitungkan sebagai kehilangan cairan patologis.
- Monitor berat badan setiap hari pada waktu yang sama, menggunakan timbangan yang sama, untuk menilai perubahan cairan tubuh secara objektif.
- Monitor elektrolit serum (natrium, kalium, klorida) dan hematokrit sesuai instruksi dokter, terutama jika diare berlangsung lebih dari 24 jam atau pasien menunjukkan gejala hipokalemia (lemah otot, aritmia).
2. Tindakan Mandiri (I.03116.b):
- Berikan cairan oral rehidrasi (oralit) dengan dosis sesuai kebutuhan. Untuk dewasa, berikan 200-400 ml oralit setiap kali BAB cair, atau sesuai toleransi. Oralit mengandung glukosa dan elektrolit yang membantu penyerapan air di usus.
- Anjurkan pasien untuk minum air putih secara bertahap, sedikit-sedikit tetapi sering (misal 100-150 ml setiap 15-30 menit) untuk mencegah muntah dan memaksimalkan absorpsi.
- Bantu pasien dengan posisi semi-Fowler atau duduk saat minum untuk memudahkan menelan dan mencegah aspirasi.
- Berikan perawatan mulut (mouth care) setiap 2-4 jam dengan menggunakan sikat gigi lembut atau kasa basah untuk melembabkan mukosa mulut dan bibir yang kering. Oleskan lip balm atau petroleum jelly pada bibir untuk mencegah fisura.
- Atur lingkungan yang nyaman, suhu ruangan tidak terlalu panas, dan berikan pakaian tipis untuk mengurangi kehilangan cairan melalui keringat.
- Edukasi pasien dan keluarga tentang pentingnya minum oralit, tanda-tanda dehidrasi yang perlu dilaporkan (haus hebat, pusing, urin sedikit), serta cara menyiapkan oralit yang benar (1 sachet dilarutkan dalam 200 ml air matang, bukan air mineral kemasan yang sudah mengandung mineral).
3. Tindakan Kolaboratif (I.03116.c):
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian cairan intravena (IV) jika dehidrasi berat atau pasien tidak toleran terhadap oral. Cairan yang sering digunakan adalah Ringer Laktat (RL) atau NaCl 0,9% dengan kecepatan sesuai derajat dehidrasi. Pada pasien ini, karena turgor kulit menurun dan mukosa kering, kemungkinan diperlukan infus RL 20 ml/kgBB/jam pada 1 jam pertama (fase resusitasi), kemudian dilanjutkan dengan maintenance.
- Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat antidiare (misal loperamide) atau probiotik jika diare disebabkan oleh infeksi bakteri, serta suplemen zinc untuk mempercepat penyembuhan mukosa usus.
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk memberikan diet rendah serat, mudah cerna, dan tinggi kalium (misal pisang, kentang rebus, sup ayam tanpa lemak) untuk mengganti elektrolit yang hilang. Hindari susu dan produk olahan laktosa karena dapat memperburuk diare.
4. Edukasi dan Discharge Planning (I.03116.d):
- Ajarkan pasien cara memantau status hidrasi sendiri di rumah, seperti memeriksa warna urin (warna kuning jernih menandakan hidrasi baik) dan frekuensi buang air kecil (minimal 4-6 kali sehari).
- Berikan informasi tentang tanda bahaya dehidrasi yang memerlukan kunjungan ulang ke fasilitas kesehatan: pusing saat berdiri, denyut nadi cepat, penurunan kesadaran, atau tidak bisa minum sama sekali.
- Sarankan untuk menyediakan oralit di rumah sebagai persediaan darurat, terutama jika pasien memiliki riwayat diare berulang.
5. Evaluasi (I.03116.e):
- Evaluasi efektivitas intervensi setiap 8 jam dengan membandingkan data subjektif (rasa haus, keluhan pusing) dan objektif (turgor kulit, mukosa, tanda vital, balance cairan). Jika dalam 24 jam tidak ada perbaikan, laporkan ke dokter untuk penyesuaian terapi.
Intervensi manajemen cairan ini harus dilaksanakan secara komprehensif dan berkesinambungan hingga pasien mencapai keseimbangan cairan yang optimal. Dokumentasikan semua tindakan dan respons pasien dalam catatan keperawatan untuk memantau perkembangan dan memudahkan komunikasi antar tenaga kesehatan.
Article No. 25689 | 17 May 2026
Klinis : Ny. C sudah 3 hari ini Badan terasa gatal gatal dan Nafsu makan menurun Hasil TTV semuanya normal Sebelum nya sudah periksa ke dokter tetapi efek obat blm ada perubahan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gangguan Integritas Kulit/Jaringan (Gatal-gatal pada badan) dan Defisit Nutrisi (Nafsu Makan Menurun)
Kode SDKI: D.0029 (Gangguan Integritas Kulit/Jaringan)
Deskripsi Singkat: Gangguan integritas kulit/jaringan adalah suatu kondisi di mana kulit mengalami perubahan atau kerusakan yang dapat bersifat akut atau kronis, yang ditandai dengan rasa gatal (pruritus), kemerahan, kering, bersisik, atau adanya lesi. Pada pasien Ny. C, keluhan gatal-gatal yang menetap selama 3 hari meskipun telah mendapatkan terapi obat menunjukkan adanya gangguan pada lapisan epidermis dan dermis yang dapat dipicu oleh reaksi alergi, infeksi, atau kondisi dermatologis lainnya. Rasa gatal yang intens seringkali mengakibatkan garukan berulang, yang selanjutnya dapat memperparah kerusakan jaringan, menyebabkan luka lecet, ekskoriasi, hingga meningkatkan risiko infeksi sekunder. Gangguan ini tidak hanya berdampak pada fisik, tetapi juga pada psikologis dan sosial pasien, seperti gangguan tidur akibat gatal, kecemasan, dan penurunan kualitas hidup. Secara patofisiologis, gatal dipicu oleh pelepasan histamin dan mediator inflamasi lainnya dari sel mast di kulit sebagai respons terhadap antigen atau iritan. Pada pasien yang sudah mendapatkan pengobatan namun belum ada perubahan, perlu dipertimbangkan faktor seperti resistensi obat, dosis yang tidak adekuat, atau adanya penyebab lain yang belum teridentifikasi. Tanda-tanda vital yang normal menunjukkan bahwa kondisi ini belum menyebabkan respons sistemik seperti demam atau takikardia, namun bukan berarti tidak memerlukan intervensi keperawatan yang komprehensif. Perawatan kulit yang tepat, manajemen gatal, dan edukasi tentang pencegahan garukan menjadi fokus utama dalam diagnosis ini.
Kode SLKI: L.14101 (Integritas Kulit dan Jaringan Meningkat)
Deskripsi : Integritas kulit dan jaringan meningkat adalah suatu luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan, yang menggambarkan perbaikan kondisi kulit dari segi struktural dan fungsional. Kriteria utama yang digunakan untuk mengevaluasi luaran ini meliputi: (1) Elastisitas kulit membaik, ditandai dengan kulit yang tidak kering dan mudah kembali saat dicubit; (2) Hidrasi kulit optimal, tidak tampak kering, bersisik, atau pecah-pecah; (3) Perfusi jaringan baik, dengan warna kulit merata dan tidak pucat atau sianosis; (4) Tidak ada lesi baru, seperti eritema, papula, atau vesikel; (5) Tidak ada pruritus (rasa gatal) yang mengganggu aktivitas dan istirahat; (6) Tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus, bau tidak sedap, atau peningkatan suhu lokal. Selain itu, luaran ini juga mencakup aspek subjektif seperti penurunan skala gatal yang dilaporkan pasien (misalnya dari skala 8/10 menjadi 2/10) dan peningkatan kenyamanan. Untuk pasien Ny. C, target luaran ini adalah tercapainya perbaikan integritas kulit dalam waktu 3-5 hari setelah intervensi, dengan indikator utama berkurangnya rasa gatal, tidak ada ekskoriasi baru, dan kulit tampak lebih lembab serta sehat. Pemantauan dilakukan setiap hari melalui inspeksi kulit dan wawancara tentang intensitas gatal. Jika luaran ini tercapai, maka risiko infeksi sekunder dan komplikasi lain dapat diminimalkan, serta kualitas tidur dan nafsu makan pasien diharapkan ikut membaik karena gangguan fisik dan psikologis berkurang.
Kode SIKI: I.11326 (Perawatan Integritas Kulit)
Deskripsi : Perawatan integritas kulit adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk mempertahankan dan memperbaiki kondisi kulit serta mencegah kerusakan lebih lanjut. Intervensi ini bersifat holistik, mencakup aspek preventif, kuratif, dan edukatif. Tindakan utama yang dilakukan meliputi: (1) Identifikasi penyebab atau faktor pencetus gatal, seperti alergen (makanan, debu, kosmetik), iritan (sabun keras, deterjen), atau kondisi medis lain; (2) Anjurkan pasien untuk mandi dengan air hangat (bukan air panas) dan menggunakan sabun yang lembut, bebas pewangi, serta memiliki pH seimbang; (3) Oleskan pelembab (emolien) segera setelah mandi saat kulit masih setengah basah untuk mengunci kelembaban, minimal 2-3 kali sehari; (4) Gunakan kompres dingin pada area yang gatal untuk memberikan efek anestesi lokal dan mengurangi sensasi gatal; (5) Potong kuku pasien pendek dan haluskan ujungnya untuk meminimalkan kerusakan kulit akibat garukan; (6) Anjurkan pasien untuk mengenakan pakaian longgar, lembut, dan berbahan katun yang menyerap keringat; (7) Hindari penggunaan produk yang mengandung alkohol atau parfum pada kulit; (8) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian antihistamin atau kortikosteroid topikal sesuai resep, serta evaluasi efektivitas obat yang sedang dikonsumsi; (9) Lakukan edukasi tentang pentingnya tidak menggaruk, melainkan menepuk-nepuk area gatal atau menggunakan tekanan ringan; (10) Monitor tanda-tanda infeksi seperti kemerahan yang meluas, bengkak, atau keluar cairan. Intervensi ini dilakukan setiap hari dengan frekuensi disesuaikan kondisi pasien. Dokumentasi meliputi respons pasien terhadap terapi, perubahan kondisi kulit, dan kepatuhan terhadap rencana perawatan. Dengan intervensi yang konsisten, diharapkan integritas kulit Ny. C dapat pulih dan kualitas hidupnya meningkat.
Article No. 25690 | 17 May 2026
Klinis : Pasien pria, usia 45 tahun, datang dengan keluhan batuk berdahak selama 2 minggu, demam, sesak napas, dan kehilangan nafsu makan. Hasil pemeriksaan menunjukkan suara napas bronkial di paru kanan atas, hasil rontgen menunjukkan adanya lesi di paru. Diagnosis awal adalah tuberkulosis paru.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif pada Pasien Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0001
Deskripsi Singkat: Bersihan jalan napas tidak efektif adalah ketidakmampuan membersihkan sekret atau obstruksi dari saluran napas untuk mempertahankan jalan napas yang paten. Pada pasien dengan tuberkulosis paru, kondisi ini terjadi akibat akumulasi sekret yang kental dan purulen dari proses inflamasi dan nekrosis jaringan paru (kavitas). Lesi di paru kanan atas yang terlihat pada rontgen menunjukkan area infeksi aktif yang memproduksi eksudat. Suara napas bronkial mengindikasikan konsolidasi atau pemadatan jaringan paru, yang menghambat pergerakan silia dan refleks batuk efektif. Demam dan kehilangan nafsu makan memperburuk kondisi karena dehidrasi ringan dapat mengentalkan sekret, sementara kelemahan fisik akibat malnutrisi menurunkan kekuatan otot pernapasan untuk batuk. Batuk berdahak selama 2 minggu merupakan respons alami tubuh untuk mengeluarkan sekret, namun jika tidak efektif, sekret akan menumpuk dan meningkatkan risiko penyebaran infeksi ke lobus paru lain serta menyebabkan hipoksemia. Intervensi keperawatan difokuskan pada pengenceran sekret, teknik batuk efektif, dan posisi postural drainase untuk mengoptimalkan ventilasi dan oksigenasi.
Kode SLKI: L.01001
Deskripsi : Bersihan Jalan Napas Meningkat adalah luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan. Definisi luaran ini adalah kemampuan pasien untuk mempertahankan jalan napas yang paten dengan mengeluarkan sekret secara efektif. Indikator yang dapat diukur meliputi: (1) Produksi sputum berkurang dari kental menjadi encer dan mudah dikeluarkan; (2) Frekuensi batuk menurun dari terus-menerus menjadi sesekali; (3) Suara napas tambahan seperti ronki atau wheezing menghilang; (4) Irama dan kedalaman pernapasan kembali normal dalam 18-24 kali per menit; (5) Saturasi oksigen (SpO2) di atas 95% pada udara ruangan; (6) Pasien mampu mendemonstrasikan teknik batuk efektif tanpa bantuan. Pada pasien TB paru dengan lesi di lobus kanan atas, target luaran ini sangat penting karena sekret yang mengandung Mycobacterium tuberculosis harus dikeluarkan untuk mengurangi beban bakteri dan mencegah penyebaran. Peningkatan bersihan jalan napas juga akan mengurangi sesak napas, meningkatkan nafsu makan secara bertahap, dan memperbaiki kualitas tidur. Evaluasi dilakukan dalam 3x24 jam setelah intervensi, dengan kriteria utama pasien melaporkan napas terasa lebih lega dan mampu mengeluarkan dahak tanpa paksaan berlebihan. Jika dalam 2 hari tidak ada perbaikan, perlu dikaji ulang kemungkinan obstruksi mekanis atau efek samping obat anti-tuberkulosis (OAT) yang dapat menyebabkan hepatotoksisitas atau neuropati perifer yang memengaruhi otot pernapasan.
Kode SIKI: I.01006
Deskripsi : Manajemen Jalan Napas adalah serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk membuka dan mempertahankan jalan napas paten dengan mengeluarkan sekret dan mengatasi obstruksi. Intervensi ini terdiri dari beberapa aktivitas utama yang diterapkan pada pasien TB paru: (1) Kaji frekuensi, kedalaman, dan irama pernapasan setiap 4 jam, serta auskultasi suara napas untuk mendeteksi adanya ronki basah halus atau kasar di area lesi; (2) Berikan posisi semi-Fowler (30-45 derajat) atau posisi miring ke sisi yang sehat untuk memanfaatkan gravitasi dalam mengalirkan sekret dari lobus kanan atas ke trakea; (3) Lakukan fisioterapi dada berupa perkusi (clapping) dan vibrasi pada area posterior kanan atas selama 5-10 menit setiap 6 jam untuk melonggarkan sekret yang melekat; (4) Ajarkan teknik batuk efektif: tarik napas dalam 3 kali, tahan napas 2 detik, kemudian batuk kuat dari diafragma dengan mulut terbuka; (5) Berikan nebulizer dengan bronkodilator (misal salbutamol) atau mukolitik (misal N-asetilsistein) sesuai resep dokter untuk mengencerkan dahak yang kental; (6) Anjurkan minum air hangat minimal 1500-2000 ml per hari jika tidak ada kontraindikasi (gagal jantung atau edema paru) untuk mengencerkan sekret secara sistemik; (7) Lakukan suction (pengisapan lendir) hanya jika pasien tidak mampu batuk efektif dan terdapat sumbatan yang menyebabkan penurunan saturasi oksigen di bawah 90%; (8) Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat anti-tuberkulosis (OAT) fase intensif (isoniazid, rifampisin, pirazinamid, etambutol) yang tepat waktu untuk mengeliminasi bakteri penyebab inflamasi; (9) Edukasi pasien dan keluarga tentang bahaya menekan batuk dan pentingnya membuang dahak dalam wadah tertutup berisi desinfektan (karbol 5%) untuk mencegah penularan; (10) Monitor efek samping OAT seperti kuning pada sklera (ikterus) atau urin berwarna merah kecoklatan yang normal akibat rifampisin, serta laporkan segera jika terjadi sesak napas mendadak yang menandakan kemungkinan efusi pleura atau pneumotoraks. Intervensi ini dilakukan secara kontinu selama 24 jam dengan dokumentasi setiap shift. Keberhasilan manajemen jalan napas diukur dari penurunan skala sesak napas (skala Borg) dari 4-5 menjadi 1-2, serta pasien mampu mengeluarkan sputum sebanyak 10-20 ml per hari dengan konsistensi lebih encer. Jika setelah 3 hari intervensi intensif tidak ada perbaikan, perawat harus segera mengkaji ulang kemungkinan resistensi OAT, adanya abses paru, atau obstruksi mekanis akibat massa granuloma yang besar.
Kondisi: Hipertermia pada Pasien Tuberkulosis Paru
Kode SDKI: D.0130
Deskripsi Singkat: Hipertermia adalah kondisi peningkatan suhu tubuh di atas rentang normal (>37,5°C) akibat kegagalan mekanisme termoregulasi atau respons inflamasi sistemik. Pada tuberkulosis paru, demam terjadi sebagai respons imun tubuh terhadap infeksi Mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini memicu pelepasan pirogen endogen (sitokin seperti interleukin-1, interleukin-6, dan tumor necrosis factor-alpha) dari makrofag yang teraktivasi. Sitokin-sitokin ini bekerja di hipotalamus untuk meningkatkan set point suhu tubuh. Demam pada TB paru sering bersifat intermiten, terutama pada sore atau malam hari, disertai keringat malam (night sweats). Suhu tubuh dapat mencapai 38-39°C. Kehilangan nafsu makan yang dialami pasien memperburuk kondisi karena asupan kalori dan cairan berkurang, sehingga meningkatkan risiko dehidrasi yang dapat mempertahankan demam lebih lama. Demam yang berkepanjangan juga meningkatkan metabolisme basal, mempercepat katabolisme protein, dan memperburuk penurunan berat badan. Oleh karena itu, intervensi keperawatan tidak hanya berfokus pada penurunan suhu, tetapi juga pada pemenuhan kebutuhan cairan dan nutrisi serta pemantauan tanda-tanda dehidrasi.
Kode SLKI: L.14134
Deskripsi : Termoregulasi Membaik adalah luaran yang diharapkan dengan indikator suhu tubuh kembali ke rentang normal (36,5-37,5°C) dalam 3x24 jam setelah intervensi. Indikator spesifik meliputi: (1) Suhu aksila turun secara bertahap dari >38°C menjadi <37,5°C; (2) Frekuensi nadi kembali normal (60-100 kali/menit) tanpa tanda-tanda takikardia; (3) Kulit teraba hangat dan kering, tidak lagi panas dan kemerahan; (4) Pasien melaporkan berkurangnya rasa menggigil dan keringat malam; (5) Turgor kulit elastis dan membran mukosa lembab sebagai tanda hidrasi adekuat; (6) Produksi urin >0,5 ml/kgBB/jam. Pada pasien TB paru, pencapaian luaran ini penting karena demam yang menetap dapat mengindikasikan kegagalan respons terhadap OAT atau adanya komplikasi seperti efusi pleura atau milier TB. Evaluasi dilakukan setiap 6 jam selama fase akut, dengan target penurunan suhu 0,5-1°C per hari tanpa penggunaan antipiretik berlebihan yang dapat menutupi respons pengobatan. Jika suhu tidak turun setelah 48 jam pemberian OAT, perawat perlu waspada terhadap kemungkinan resistensi obat atau infeksi sekunder.
Kode SIKI: I.15506
Deskripsi : Manajemen Hipertermia adalah intervensi keperawatan untuk menurunkan suhu tubuh dan mempertahankan termoregulasi normal. Aktivitas yang dilakukan meliputi: (1) Monitor suhu tubuh setiap 4 jam atau lebih sering jika demam tinggi (>39°C), gunakan termometer yang sama untuk konsistensi data; (2) Observasi tanda-tanda dehidrasi: turgor kulit menurun, mata cekung, bibir kering, dan penurunan produksi urin; (3) Berikan kompres hangat (tepid water sponge) pada area lipatan tubuh (leher, ketiak, selangkangan) selama 15-20 menit, hindari kompres dingin karena dapat menyebabkan menggigil dan peningkatan produksi panas; (4) Anjurkan pasien memakai pakaian tipis dan menyerap keringat, serta gunakan selimut tipis jika menggigil; (5) Tingkatkan asupan cairan oral minimal 2000-2500 ml per hari (
Article No. 25692 | 17 May 2026
Klinis : berikan obat gatal
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Gatal pada kulit (Pruritus)
Kode SDKI: D.0134
Deskripsi Singkat: Pruritus atau gatal adalah sensasi subjektif yang tidak nyaman pada kulit yang memicu keinginan untuk menggaruk. Dalam konteks keperawatan, kondisi ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti reaksi alergi, kulit kering (xerosis), penyakit dermatologis (misalnya dermatitis atopik, psoriasis, urtikaria), efek samping obat, penyakit sistemik (misalnya penyakit hati, gagal ginjal kronis, diabetes melitus), atau faktor lingkungan. Gatal yang persisten dapat mengganggu tidur, konsentrasi, aktivitas sehari-hari, dan kualitas hidup pasien secara keseluruhan. Ketidakmampuan untuk mengendalikan sensasi gatal sering kali menyebabkan siklus garuk-gatal yang memperburuk kondisi kulit, meningkatkan risiko infeksi sekunder, dan menimbulkan lesi seperti likenifikasi, ekskoriasi, atau erosi. Secara patofisiologis, gatal melibatkan aktivasi serabut saraf C di kulit yang kemudian mentransmisikan sinyal ke medula spinalis dan talamus, lalu ke korteks serebri. Mediator kimia seperti histamin, serotonin, prostaglandin, dan sitokin (misalnya IL-31) berperan penting dalam memicu dan mempertahankan sensasi ini. Pada pasien yang menerima obat gatal (antihistamin, kortikosteroid topikal, atau emolien), intervensi keperawatan harus berfokus pada pengelolaan efek samping obat, pemantauan respons terapi, edukasi tentang penggunaan obat yang benar, serta pencegahan komplikasi akibat garukan. Dampak psikologis seperti kecemasan, frustrasi, dan gangguan citra tubuh juga perlu menjadi perhatian perawat karena dapat memperburuk persepsi gatal. Diagnosa keperawatan ini ditegakkan ketika pasien melaporkan sensasi gatal yang mengganggu dan/atau terdapat tanda-tanda objektif seperti garukan, kulit kemerahan, atau lesi akibat garukan. Perawat perlu mengkaji karakteristik gatal (onset, frekuensi, durasi, faktor pencetus dan faktor yang memperburuk), lokasi, intensitas (menggunakan skala numerik atau deskriptif), serta dampaknya terhadap aktivitas dan tidur pasien. Pada pasien yang tidak dapat berkomunikasi verbal (misalnya bayi, pasien dengan gangguan kognitif), perawat dapat mengamati perilaku seperti menggosokkan tubuh ke tempat tidur, gelisah, atau sering menggaruk area tertentu. Pencegahan primer meliputi edukasi tentang perawatan kulit yang tepat, penggunaan pelembap secara teratur, menghindari pemicu (misalnya sabun keras, kain wol, suhu ekstrem), dan teknik distraksi untuk mengurangi frekuensi garukan.
Kode SLKI: L.08071
Deskripsi : Kontrol Gatal (Pruritus). SLKI ini mendefinisikan luaran yang diharapkan setelah intervensi keperawatan, yaitu kemampuan pasien untuk mengelola sensasi gatal dan mencegah komplikasi. Kriteria hasil yang terukur meliputi: (1) Keluhan gatal menurun, yang dapat diukur dengan skala intensitas gatal (misalnya skala 0-10), frekuensi episode gatal per hari, dan durasi gatal; (2) Perilaku menggaruk menurun, ditandai dengan berkurangnya frekuensi garukan, tidak adanya lesi baru akibat garukan, dan perbaikan kondisi kulit (misalnya penurunan eritema, ekskoriasi, atau likenifikasi); (3) Kualitas tidur membaik, diukur dari laporan pasien tentang kemudahan tidur, frekuensi terbangun karena gatal, dan perasaan segar saat bangun; (4) Tingkat kenyamanan meningkat, yang mencakup penurunan sensasi tidak nyaman dan peningkatan kemampuan relaksasi; (5) Pengetahuan tentang perawatan kulit dan penggunaan obat meningkat, diukur dari kemampuan pasien menyebutkan cara penggunaan obat (dosis, frekuensi, teknik aplikasi), mengenali efek samping, dan mengidentifikasi faktor pencetus gatal; (6) Tidak ada tanda infeksi sekunder pada kulit, seperti pus, peningkatan kemerahan, hangat lokal, atau pembengkakan. Luaran ini bersifat individual dan dapat disesuaikan dengan kondisi spesifik pasien. Misalnya, pada pasien dengan gagal ginjal kronis yang menjalani hemodialisis, kontrol gatal juga mencakup kepatuhan terhadap terapi dialisis dan pengelolaan kadar fosfor. Pada pasien dengan dermatitis atopik, luaran juga mencakup perbaikan skor SCORAD (Scoring Atopic Dermatitis) atau EASI (Eczema Area and Severity Index). Waktu pencapaian luaran bergantung pada etiologi dan keparahan gatal, namun umumnya dievaluasi dalam 1-3 hari untuk gatal akut dan 1-2 minggu untuk gatal kronis. Perawat perlu mendokumentasikan perkembangan pasien secara berkala dan memodifikasi intervensi jika target tidak tercapai. Indikator lain yang mungkin relevan termasuk penurunan penggunaan obat antipruritus tambahan (misalnya antihistamin oral) dan peningkatan partisipasi dalam aktivitas sosial. Pada pasien dengan gangguan mobilitas atau keterbatasan kognitif, luaran difokuskan pada pengamatan perawat terhadap penurunan tanda-tanda garukan dan perbaikan integritas kulit.
Kode SIKI: I.08257
Deskripsi : Manajemen Gatal (Pruritus). Intervensi ini merupakan serangkaian tindakan keperawatan yang bertujuan untuk mengidentifikasi, mengurangi, dan mengendalikan sensasi gatal serta mencegah komplikasi. Aktivitas keperawatan meliputi: (1) Identifikasi penyebab gatal, meliputi pengkajian riwayat alergi, paparan iritan, penyakit sistemik, dan efek obat; (2) Monitor tanda dan gejala gatal, seperti intensitas, lokasi, frekuensi, faktor pencetus, dan dampak pada tidur atau aktivitas; (3) Anjurkan pasien untuk menghindari faktor pencetus gatal, misalnya penggunaan sabun dengan pewangi dan alkohol, pakaian berbahan kasar (wol, sintetis), mandi air panas, keringat berlebih, dan stres emosional; (4) Ajarkan teknik non-farmakologis untuk mengurangi gatal, seperti kompres dingin (menggunakan handuk basah dingin atau kantung es yang dibungkus kain), penggunaan pelembap (emolien) segera setelah mandi saat kulit masih lembap, teknik relaksasi napas dalam, distraksi (mendengarkan musik, membaca, menonton film), dan menjaga kuku tetap pendek dan bersih; (5) Kolaborasi pemberian obat antipruritus, seperti antihistamin topikal atau oral, kortikosteroid topikal (sesuai resep dokter), krim anestesi lokal (misalnya pramoksin), atau kapsaisin topikal untuk gatal neuropatik; (6) Edukasi tentang penggunaan obat yang benar, termasuk cara aplikasi (oles tipis, jangan digosok), frekuensi, dosis, efek samping (misalnya kantuk pada antihistamin generasi pertama), dan tanda-tanda yang perlu dilaporkan (misalnya ruam baru, infeksi); (7) Perawatan kulit secara umum: mandi dengan air hangat (tidak panas) menggunakan sabun yang lembut dan pH seimbang, keringkan tubuh dengan menepuk-nepuk handuk (jangan digosok), aplikasikan pelembap dalam 3 menit setelah mandi untuk mengunci kelembapan; (8) Pencegahan infeksi: observasi adanya tanda infeksi sekunder (pus, eritema meluas, nyeri, demam), ajarkan pasien untuk tidak menggaruk dan jika terpaksa, garuk dengan telapak tangan atau gunakan kuku palsu yang lembut; (9) Manajemen lingkungan: pertahankan suhu ruangan sejuk (20-22°C), gunakan humidifier jika udara kering, dan hindari penggunaan selimut berbahan tebal atau sintetis; (10) Dukungan psikologis: berikan kesempatan pasien untuk mengekspresikan perasaan frustrasi atau cemas akibat gatal, validasi pengalaman pasien, dan berikan penguatan positif saat pasien berhasil mengendalikan keinginan menggaruk. Intervensi ini juga mencakup koordinasi dengan tenaga kesehatan lain, seperti dokter spesialis kulit untuk kasus yang kompleks, atau psikolog jika terdapat komponen psikosomatik yang signifikan. Frekuensi pemberian intervensi disesuaikan dengan keparahan kondisi, misalnya pada pasien dengan gatal akut pasca penggunaan obat, monitor dapat dilakukan setiap 2-4 jam, sedangkan pada gatal kronis, edukasi dan pengawasan penggunaan pelembap dapat dilakukan setiap hari. Dokumentasi harus mencakup respons pasien terhadap setiap tindakan, perubahan pada kulit, dan pencapaian luaran yang telah ditetapkan. Pada pasien rawat inap, perawat juga perlu mengatur posisi tidur yang nyaman, menggunakan seprai katun yang lembut, dan memastikan lingkungan bebas dari debu atau tungau yang dapat memicu alergi. Edukasi tentang perawatan di rumah sangat penting untuk keberhasilan jangka panjang, termasuk jadwal aplikasi pelembap, cara mengenali tanda alergi obat, dan kapan harus kembali ke fasilitas kesehatan.
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 155 156 157 158 159 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 177 178 179 180 181 182 183 184 185 186 187 188 189 190 191 192 193 194 195 196 197 198 199 200 201 202 203 204 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 238 239 240 241 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 261 262 263 264 265 266 267 268 269 270 271 272 273 274 275 276 277 278 279 280 281 282 283 284 285 286 287 288 289 290 291 292 293 294 295 296 297 298 299 300 301 302 303 304 305 306 307 308 309 310 311 312 313 314 315 316 317 318 319 320 321 322 323 324 325 326 327 328 329 330 331 332 333 334 335 336 337 338 339 340 341 342 343 344 345 346 347 348 349 350 351 352 353 354 355 356 357 358 359 360 361 362 363 364 365 366 367 368 369 370 371 372 373 374 375 376 377 378 379 380 381 382 383 384 385 386 387 388 389 390 391 392 393 394 395 396 397 398 399 400 401 402 403 404 405 406 407 408 409 410 411 412 413 414 415 416 417 418 419 420 421 422 423 424 425 426 427 428 429 430 431 432 433 434 435 436 437 438 439 440 441 442 443 444 445 446 447 448 449 450 451 452 453 454 455 456 457 458 459 460 461 462 463 464 465 466 467 468 469 470 471 472 473 474 475 476 477 478 479 480 481 482 483 484 485 486 487 488 489 490 491 492 493 494 495 496 497 498 499 500 501 502 503 504 505 506 507 508 509 510 511 512 513 514 515 516 517 518 519 520 521 522 523 524 525 526 527 528 529 530 531 532 533 534 535 536 537 538 539 540 541 542 543 544 545 546 547 548 549 550 551 552 553 554 555 556 557 558 559 560 561 562 563 564 565 566 567 568 569 570 571 572 573 574 575 576 577 578 579 580 581 582 583 584 585 586 587 588 589 590 591 592 593 594 595 596 597 598 599 600 601 602 603 604 605 606 607 608 609 610 611 612 613 614 615 616 617 618 619 620 621 622 623 624 625 626 627 628 629 630 631 632 633 634 635 636 637 638 639 640 641 642 643 644 645 646 647 648 649 650 651 652 653 654 655 656 657 658 659 660 661 662 663 664 665 666 667 668 669 670 671 672 673 674 675 676 677 678 679 680 681 682 683 684 685 686 687 688 689 690 691 692 693 694 695 696 697 698 699 700 701 702 703 704 705 706 707 708 709 710 711 712 713 714 715 716 717 718 719 720 721 722 723 724 725 726 727 728 729 730 731 732 733 734 735 736 737 738 739 740 741 742 743 744 745 746 747 748 749 750 751 752 753 754 755 756 757 758 759 760 761 762 763 764 765 766 767 768 769 770 771 772 773 774 775 776 777 778 779 780 781 782 783 784 785 786 787 788 789 790 791 792 793 794 795 796 797 798 799 800 801 802 803 804 805 806 807 808 809 810 811 812 813 814 815 816 817 818 819 820 821 822 823 824 825 826 827 828 829 830 831 832 833 834 835 836 837 838 839 840 841 842 843 844 845 846 847 848 849 850 851 852 853 854 855 856 857 858 859 860 861 862 863 864 865 866 867 868 869 870 871 872 873 874 875 876 877 878 879 880 881 882 883 884 885 886 887 888 889 890 891 892 893 894 895 896 897 898 899 900 901 902 903 904 905 906 907 908 909 910 911 912 913 914 915 916 917 918 919 920 921 922 923 924 925 926 927 928 929 930 931 932 933 934 935 936 937 938 939 940 941 942 943 944 945 946 947 948 949 950 951 952 953 954 955 956 957 958 959 960 961 962 963 964 965 966 967 968 969 970 971 972 973 974 975 976 977 978 979 980 981 982 983 984 985 986 987 988 989 990 991 992 993 994 995 996 997 998 999 1000 1001 1002 1003 1004 1005 1006 1007 1008 1009 1010 1011 1012 1013 1014 1015 1016 1017 1018 1019 1020 1021 1022 1023 1024 1025 1026 1027 1028 1029 1030 1031 1032 1033 1034 1035 1036 1037 1038 1039 1040 1041 1042 1043 1044 1045 1046 1047 1048 1049 1050 1051 1052 1053 1054 1055 1056 1057 1058 1059 1060 1061 1062 1063 1064 1065 1066 1067 1068 1069 1070 1071 1072 1073 1074 1075 1076 1077 1078 1079 1080 1081 1082 1083 1084 1085 1086 1087 1088 1089 1090 1091 1092 1093 1094 1095 1096 1097 1098 1099 1100 1101 1102 1103 1104 1105 1106 1107 1108 1109 1110 1111 1112 1113 1114 1115 1116 1117 1118 1119 1120 1121 1122 1123 1124 1125 1126 1127 1128 1129 1130 1131 1132 1133 1134 1135 1136 1137 1138 1139 1140 1141 1142 1143 1144 1145 1146 1147 1148 1149 1150 1151 1152 1153 1154 1155 1156 1157 1158 1159 1160 1161 1162 1163 1164 1165 1166 1167 1168 1169 1170 1171 1172 1173 1174 1175 1176 1177 1178 1179 1180 1181 1182 1183 1184 1185 1186 1187 1188 1189 1190 1191 1192 1193 1194 1195 1196 1197 1198 1199 1200 1201 1202 1203 1204 1205 1206 1207 1208 1209 1210 1211 1212 1213 1214 1215 1216 1217 1218 1219 1220 1221 1222 1223 1224 1225 1226 1227 1228 1229 1230 1231 1232 1233 1234 1235 1236 1237 1238 1239 1240 1241 1242 1243 1244 1245 1246 1247 1248 1249 1250 1251 1252 1253 1254 1255 1256 1257 1258 1259 1260 1261 1262 1263 1264 1265 1266 1267 1268 1269 1270 1271 1272 1273 1274 1275 1276 1277 1278 1279 1280 1281 1282 1283 1284 1285 1286 1287 1288 1289 1290 1291 1292 1293 1294 1295 1296 1297 1298 1299 1300 1301 1302 1303 1304 1305 1306 1307 1308 1309 1310 1311 1312 1313 1314 1315 1316 1317 1318 1319 1320 1321 1322 1323 1324 1325 1326 1327 1328 1329 1330 1331 1332 1333 1334 1335 1336 1337 1338 1339 1340 1341 1342 1343 1344 1345 1346 1347 1348 1349 1350 1351 1352 1353 1354 1355 1356 1357 1358 1359 1360 1361 1362 1363 1364 1365 1366 1367 1368 1369 1370 1371 1372 1373 1374 1375 1376 1377 1378 1379 1380 1381 1382 1383 1384 1385 1386 1387 1388 1389 1390 1391 1392 1393 1394 1395 1396 1397 1398 1399 1400 1401 1402 1403 1404 1405 1406 1407 1408 1409 1410 1411 1412 1413 1414 1415 1416 1417 1418 1419 1420 1421 1422 1423 1424 1425 1426 1427 1428 1429 1430 1431 1432 1433 1434 1435 1436 1437 1438 1439 1440 1441 1442 1443 1444 1445 1446 1447 1448 1449 1450 1451 1452 1453 1454 1455 1456 1457 1458 1459 1460 1461 1462 1463 1464 1465 1466 1467 1468 1469 1470 1471 1472 1473 1474 1475 1476 1477 1478 1479 1480 1481 1482 1483 1484 1485 1486 1487 1488 1489 1490 1491 1492 1493 1494 1495 1496 1497 1498 1499 1500 1501 1502 1503 1504 1505 1506 1507 1508 1509 1510 1511 1512 1513 1514 1515 1516 1517 1518 1519 1520 1521 1522 1523 1524 1525 1526 1527 1528 1529 1530 1531 1532 1533 1534 1535 1536 1537 1538 1539 1540 1541 1542 1543 1544 1545 1546 1547 1548 1549 1550 1551 1552 1553 1554 1555 1556 1557 1558 1559 1560 1561 1562 1563 1564 1565 1566 1567 1568 1569 1570 1571 1572 1573 1574 1575 1576 1577 1578 1579 1580 1581 1582 1583 1584 1585 1586 1587 1588 1589 1590 1591 1592 1593 1594 1595 1596 1597 1598 1599 1600 1601 1602 1603 1604 1605 1606 1607 1608 1609 1610 1611 1612 1613 1614 1615 1616 1617 1618 1619 1620 1621 1622 1623 1624 1625 1626 1627 1628 1629 1630 1631 1632 1633 1634 1635 1636 1637 1638 1639 1640 1641 1642 1643 1644 1645 1646 1647 1648 1649 1650 1651 1652 1653 1654 1655 1656 1657 1658 1659 1660 1661 1662 1663 1664 1665 1666 1667 1668 1669 1670 1671 1672 1673 1674 1675 1676 1677 1678 1679 1680 1681 1682 1683 1684 1685 1686 1687 1688 1689 1690 1691 1692 1693 1694 1695 1696 1697 1698 1699 1700 1701 1702 1703 1704 1705 1706 1707 1708 1709 1710 1711 1712 1713 1714 1715 1716 1717 1718 1719 1720 1721 1722 1723 1724 1725 1726 1727 1728 1729 1730 1731 1732 1733 1734 1735 1736 1737 1738 1739 1740 1741 1742 1743 1744 1745 1746 1747 1748 1749 1750 1751 1752 1753 1754 1755 1756 1757 1758 1759 1760 1761 1762 1763 1764 1765 1766 1767 1768 1769 1770 1771 1772 1773 1774 1775 1776 1777 1778 1779 1780 1781 1782 1783 1784 1785 1786 1787 1788 1789 1790 1791 1792 1793 1794 1795 1796 1797 1798 1799 1800 1801 1802 1803 1804 1805 1806 1807 1808 1809 1810 1811 1812 1813 1814 1815 1816 1817 1818 1819 1820 1821 1822 1823 1824 1825 1826 1827 1828 1829 1830 1831 1832 1833 1834 1835 1836 1837 1838 1839 1840 1841 1842 1843 1844 1845 1846 1847 1848 1849 1850 1851 1852 1853 1854 1855 1856 1857 1858 1859 1860 1861 1862 1863 1864 1865 1866 1867 1868 1869 1870 1871 1872 1873 1874 1875 1876 1877 1878 1879 1880 1881 1882 1883 1884 1885 1886 1887 1888 1889 1890 1891 1892 1893 1894 1895 1896 1897 1898 1899 1900 1901 1902 1903 1904 1905 1906 1907 1908 1909 1910 1911 1912 1913 1914 1915 1916 1917 1918 1919 1920 1921 1922 1923 1924 1925 1926 1927 1928 1929 1930 1931 1932 1933 1934 1935 1936 1937 1938 1939 1940 1941 1942 1943 1944 1945 1946 1947 1948 1949 1950 1951 1952 1953 1954 1955 1956 1957 1958 1959 1960 1961 1962 1963 1964 1965 1966 1967 1968 1969 1970 1971 1972 1973 1974 1975 1976 1977 1978 1979 1980 1981 1982 1983 1984 1985 1986 1987 1988 1989 1990 1991 1992 1993 1994 1995 1996 1997 1998 1999 2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 2025 2026 2027 2028 2029 2030 2031 2032 2033 2034 2035 2036 2037 2038 2039 2040 2041 2042 2043 2044 2045 2046 2047 2048 2049 2050 2051 2052 2053 2054 2055 2056 2057 2058 2059 2060 2061 2062 2063 2064 2065 2066 2067 2068 2069 2070 2071 2072 2073 2074 2075 2076 2077 2078 2079 2080 2081 2082 2083 2084 2085 2086 2087 2088 2089 2090 2091 2092 2093 2094 2095 2096 2097 2098 2099 2100 2101 2102 2103 2104 2105 2106 2107 2108 2109 2110 2111 2112 2113 2114 2115 2116 2117 2118 2119 2120 2121 2122 2123 2124 2125 2126 2127 2128 2129 2130 2131 2132 2133 2134 2135 2136 2137 2138 2139 2140 2141 2142 2143 2144 2145 2146 2147 2148 2149 2150 2151 2152 2153 2154 2155 2156 2157 2158 2159 2160 2161 2162 2163 2164 2165 2166 2167 2168 2169 2170 2171 2172 2173 2174 2175 2176 2177 2178 2179 2180 2181 2182 2183 2184 2185 2186 2187 2188 2189 2190 2191 2192 2193 2194 2195 2196 2197 2198 2199 2200 2201 2202 2203 2204 2205 2206 2207 2208 2209 2210 2211 2212 2213 2214 2215 2216 2217 2218 2219 2220 2221 2222 2223 2224 2225 2226 2227 2228 2229 2230 2231 2232 2233 2234 2235 2236 2237 2238 2239 2240 2241 2242 2243 2244 2245 2246 2247 2248 2249 2250 2251 2252 2253 2254 2255 2256 2257 2258 2259 2260 2261 2262 2263 2264 2265 2266 2267 2268 2269 2270 2271 2272 2273 2274 2275 2276 2277 2278 2279 2280 2281 2282 2283 2284 2285 2286 2287 2288 2289 2290 2291 2292 2293 2294 2295 2296 2297 2298 2299 2300 2301 2302 2303 2304 2305 2306 2307 2308 2309 2310 2311 2312 2313 2314 2315 2316 2317 2318 2319 2320 2321 2322 2323 2324 2325 2326 2327 2328 2329 2330 2331 2332 2333 2334 2335 2336 2337 2338 2339 2340 2341 2342 2343 2344 2345 2346 2347 2348 2349 2350 2351 2352 2353 2354 2355 2356 2357 2358 2359 2360 2361 2362 2363 2364 2365 2366 2367 2368 2369 2370 2371 2372 2373 2374 2375 2376 2377 2378 2379 2380 2381 2382 2383 2384 2385 2386 2387 2388 2389 2390 2391 2392 2393 2394 2395 2396 2397 2398 2399 2400 2401 2402 2403 2404 2405 2406 2407 2408 2409 2410 2411 2412 2413 2414 2415 2416 2417 2418 2419 2420 2421 2422 2423 2424 2425 2426 2427 2428 2429 2430 2431 2432 2433 2434 2435 2436 2437 2438 2439 2440 2441 2442 2443 2444 2445 2446 2447 2448 2449 2450 2451 2452 2453 2454 2455 2456 2457 2458 2459 2460 2461 2462 2463 2464 2465 2466 2467 2468 2469 2470 2471 2472 2473 2474 2475 2476 2477 2478 2479 2480 2481 2482 2483 2484 2485 2486 2487 2488 2489 2490 2491 2492 2493 2494 2495 2496 2497 2498 2499 2500 2501 2502 2503 2504 2505 2506 2507 2508 2509 2510 2511 2512 2513 2514 2515 2516 2517 2518 2519 2520 2521 2522 2523 2524 2525 2526 2527 2528 2529 2530 2531 2532 2533 2534 2535 2536 2537 2538 2539 2540 2541 2542 2543 2544 2545 2546 2547 2548 2549 2550 2551 2552 2553 2554 2555 2556 2557 2558 2559 2560 2561 2562 2563 2564 2565 2566 2567 2568 2569 2570 2571 2572 2573 2574 2575 2576 2577 2578 2579 2580 2581 2582 2583 2584 2585 2586 2587 2588 2589 2590 2591 2592 2593 2594 2595 2596