Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 14341 | 17 Mar 2025
Klinis : Anak D, perempuan berusia 2,5 tahun, tinggal bersama kedua orangtuanya. Ia sering diajak oleh ibunya bermain dengan permainan yang menarik seperti bermain air atau tanah di halaman rumah. Menurut ibunya, ia cenderung untuk berusaha memenuhi apa yang diminta oleh anak D namun kadang-kadang ia pun dapat tegas untuk menolak keinginan anaknya tersebut. Ibunya juga mengatakan bahwa ia belum memiliki pengalaman mengenai cara mengasuh yang tepat untuk anak usia 2,5 tahun.
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan, luaran, dan intervensi keperawatan yang sesuai dengan kondisi yang Anda deskripsikan.
Diagnosa Keperawatan SDKI:
Defisit Pengetahuan Orang Tua: Pengasuhan Anak
Definisi: Kurangnya atau ketidaktahuan orang tua mengenai informasi atau kemampuan yang diperlukan untuk mengasuh anak secara efektif.
Penyebab: Kurangnya pengalaman dalam mengasuh anak usia 2,5 tahun.
Gejala/Tanda: Orang tua memiliki kesulitan dalam menentukan cara pengasuhan yang tepat untuk anak usia 2,5 tahun.
Luaran/Output yang Diharapkan (SLKI):
1. Pengetahuan Orang Tua: Pengasuhan Anak
Definisi: Tingkat pemahaman orang tua mengenai informasi dan kemampuan yang diperlukan untuk mengasuh anak secara efektif.
Kriteria Hasil:
- Orang tua dapat menjelaskan tahap perkembangan anak usia 2,5 tahun.
- Orang tua dapat menjelaskan strategi pengasuhan yang efektif untuk anak usia 2,5 tahun.
- Orang tua dapat menjelaskan cara memenuhi kebutuhan perkembangan anak usia 2,5 tahun.
2. Perilaku Pengasuhan Orang Tua
Definisi: Tindakan atau respons orang tua dalam mengasuh anak.
Kriteria Hasil:
- Orang tua dapat menerapkan strategi pengasuhan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak usia 2,5 tahun.
- Orang tua dapat memenuhi kebutuhan perkembangan anak usia 2,5 tahun secara konsisten.
- Orang tua dapat bersikap tegas dan konsisten dalam menentukan batas-batas yang sesuai untuk anak.
Intervensi Keperawatan (SIKI):
1. Pendidikan Kesehatan: Pengasuhan Anak
Tujuan: Meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai pengasuhan anak usia 2,5 tahun.
Kegiatan:
- Menjelaskan tahap perkembangan anak usia 2,5 tahun.
- Mengajarkan strategi pengasuhan yang efektif untuk anak usia 2,5 tahun.
- Memberikan contoh cara memenuhi kebutuhan perkembangan anak usia 2,5 tahun.
2. Bimbingan: Perilaku Pengasuhan
Tujuan: Membantu orang tua dalam menerapkan strategi pengasuhan yang sesuai dengan tahap perkembangan anak usia 2,5 tahun.
Kegiatan:
- Mendiskusikan batas-batas yang sesuai untuk anak usia 2,5 tahun.
- Membantu orang tua dalam menerapkan strategi pengasuhan yang konsisten.
- Memberikan umpan balik positif saat orang tua menerapkan strategi pengasuhan yang efektif.
Penjelasan:
Diagnosa keperawatan "Defisit Pengetahuan Orang Tua: Pengasuhan Anak" dipilih karena orang tua memiliki keterbatasan pengalaman dalam mengasuh anak usia 2,5 tahun, sehingga mereka membutuhkan peningkatan pengetahuan dan kemampuan dalam mengasuh anak pada tahap perkembangan tersebut.
Luaran/output yang diharapkan adalah peningkatan pengetahuan orang tua mengenai pengasuhan anak usia 2,5 tahun, serta perubahan perilaku pengasuhan orang tua yang lebih sesuai dengan tahap perkembangan anak.
Intervensi keperawatan yang diperlukan adalah pendidikan kesehatan mengenai pengasuhan anak usia 2,5 tahun, serta bimbingan kepada orang tua dalam menerapkan strategi pengasuhan yang efektif dan konsisten. -
Article No. 14342 | 17 Mar 2025
Klinis : Seorang pasien, laki-laki, usia 65 tahun, pekerjaan pensiunan, dirawat di rumah sakit dengan keluhan sulit buang air kecil sejak 6 bulan terakhir. Pengkajian lebih lanjut pada pasien yaitu: sering buang air kecil di malam hari (nokturia), aliran urin lemah dan terputus-putus, perasaan tidak lampias setelah buang air kecil, harus mengejan saat berkemih, kadang-kadang ada episode retensi urin akut, frekuensi buang air kecil meningkat, terutama pada malam hari menyebabkan tidur terganggu. Akibatnya pasien sering merasa mengantuk di siang hari. Pasien tidak memiliki keluhan demam, nyeri pinggang, atau hematuria. Riwayat Penyakit terdahulu hipertensi terkontrol, tidak ada riwayat diabetes atau penyakit ginjal, tetapi tidak memiliki kebiasaan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan prostat sebelumnya serta edukasi tentang BPH dan pengobatannya. Pasien tidak ada mengalami konstipasi atau diare. Saat dirumah bafsu makan normal, tidak ada perubahan berat badan yang signifikan. Pasien mengonsumsi makanan tinggi protein dan lemak, kurang serat, serta sering minum teh/kopi di malam hari. Asupan cairan cukup, tetapi pasien sering menahan buang air kecil karena kesulitan berkemih. Selam aini pasien masih bisa melakukan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan, tidak ada aktivitas olahraga rutin, namun sering merasa lelah karena gangguan tidur akibat nocturia. Saat dikaji pasien menjawab pertanyaan dengan benar, namun selalu khawatir dan takut mungkinkah akan mengalami kanker prostat serta takut menjalani tindakan medis invasif seperti operasi prostat. Pasien merasa cemas dan malu karena sering ke kamar mandi, dan mengeluh menurunnya kualitas hidup karena keterbatasan dalam aktivitas sosial akibat gangguan berkemih. Saat ini pasien tinggal bersama istri dan anak-anaknya Pasien tidak memiliki mekanisme koping yang jelas, tetapi mendapatkan dukungan dari istri. Tidak ada konflik dalam keluarga, tetapi pasien merasa kurang nyaman ketika harus sering ke toilet saat berkumpul dengan keluarga. Pasien mengatakan tidak ada riwayat disfungsi ereksi yang jelas atau riwayat penyakit menular seksual atau masalah reproduksi lainnya, tetapi pasien merasa kurang percaya diri dalam hubungan seksual karena masalah BPH. Untuk mengurangi kecemasan pasien memiliki keyakinan agama yang kuat dan mengandalkan doa dan menganggap penyakitnya adalah proses penuaan. Pada pemeriksaan fisik tidak tampak tanda infeksi atau nyeri spontan, pada palpasi abdomen ditemukan distensi kandung kemih (+), pemeriksaan Digital Rektal (DRE) ditemukan prostat teraba membesar, berbatas jelas, kenyal, tanpa nodul atau nyeri tekan. Pasien didiagnosa Benigna Hipertrofi Prostat (BPH) dengan Retensi Urin Parsial. Pasien direncanakan untuk operasi Transurethral Resection of the Prostate (TURP). Pemeriksaan Laboratorium ✔ Urinalisis: • Leukosit sedikit meningkat • Eritrosit (-) • Bakteri (-) ✔ Darah Lengkap: • Hb: 14 g/dL • Leukosit: 7.500/mm³ • Trombosit: 250.000/mm³ ✔ Fungsi Ginjal: • Kreatinin: 1,2 mg/dL ✔ Prostate-Specific Antigen (PSA): • PSA total: 4,5 ng/mL. Pemeriksaan Radiologi & Penunjang Lainnya ✔ USG Prostat & Kandung Kemih: Volume prostat: 45 mL. Sisa urin setelah berkemih (post-void residual volume): 150 mL. Tidak ada batu atau massa dalam kandung kemih. ✔ Uroflowmetri: Aliran urin lambat (Qmax: 8 mL/detik). Waktu berkemih lebih lama. ✔ Sistoskopi (jika perlu): Menunjukkan obstruksi leher kandung kemih akibat prostat yang membesar.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan memberikan diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengenai standar SDKI, SLKI, dan SIKI berdasarkan kondisi pasien yang Anda berikan.
Diagnosa Keperawatan:
1. Gangguan eliminasi urin berhubungan dengan pembesaran prostat yang menyebabkan obstruksi aliran urin, ditandai dengan nokturia, aliran urin lemah dan terputus-putus, perasaan tidak lega setelah berkemih, harus mengejan saat berkemih, dan retensi urin akut.
2. Cemas berhubungan dengan persepsi ancaman terhadap kesehatan (kemungkinan kanker prostat) dan ketakutan terhadap tindakan medis invasif, ditandai dengan kekhawatiran dan rasa takut.
3. Hambatan mobilitas berhubungan dengan gangguan pola tidur akibat nokturia, ditandai dengan sering merasa lelah di siang hari.
4. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan fungsi eliminasi urin, ditandai dengan perasaan malu dan kurang nyaman saat berkumpul dengan keluarga.
5. Risiko disfungsi seksual berhubungan dengan penyakit Benigna Hipertrofi Prostat (BPH), ditandai dengan rasa kurang percaya diri dalam hubungan seksual.
Penjelasan Singkat SDKI - SLKI - SIKI:
1. SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
- Merupakan kerangka acuan standar diagnosis keperawatan yang diterbitkan oleh PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia).
- Terdiri dari 6 domain diagnosis keperawatan yang mencakup respons manusia terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan.
- Membantu perawat dalam mengidentifikasi, merumuskan, dan menegakkan diagnosis keperawatan yang tepat.
2. SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
- Merupakan kerangka acuan standar luaran keperawatan yang diterbitkan oleh PPNI.
- Terdiri dari berbagai luaran yang diharapkan dapat dicapai oleh pasien sebagai hasil intervensi keperawatan.
- Membantu perawat dalam menentukan tujuan atau hasil yang ingin dicapai dari asuhan keperawatan yang diberikan.
3. SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
- Merupakan kerangka acuan standar intervensi keperawatan yang diterbitkan oleh PPNI.
- Terdiri dari berbagai intervensi keperawatan yang dapat dilakukan untuk mencapai luaran yang diharapkan.
- Membantu perawat dalam merencanakan dan melaksanakan tindakan keperawatan yang tepat dan efektif.
Penggunaan SDKI, SLKI, dan SIKI dalam praktik keperawatan dapat membantu perawat dalam memberikan asuhan keperawatan yang terstandar, sistematis, dan berpusat pada pasien. Hal ini dapat meningkatkan kualitas dan keamanan pelayanan keperawatan yang diberikan. -
Article No. 14343 | 17 Mar 2025
Klinis : sebagian besar mahasiswa mengatakan jika sering sakit perut akibat jajan sembarangan
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Diagnosa Keperawatan:
Risiko Diare Akut
Penjelasan:
Berdasarkan kondisi yang dipaparkan, sebagian besar mahasiswa mengeluhkan sering sakit perut akibat jajan sembarangan. Hal ini menunjukkan adanya risiko terjadinya diare akut pada mahasiswa.
Diare akut adalah kondisi di mana seseorang mengalami defekasi (buang air besar) dengan frekuensi yang lebih sering dari normal, disertai dengan konsistensi tinja yang encer. Diare akut biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau parasit yang diperoleh dari makanan atau minuman yang terkontaminasi.
Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan intervensi keperawatan yang berfokus pada pencegahan dan penanganan diare akut. Berikut adalah penjelasan singkat mengenai standar SDKI, SLKI, dan SIKI yang dapat diterapkan:
SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia):
Risiko Diare Akut adalah diagnosis keperawatan yang tepat untuk kondisi ini. Risiko Diare Akut didefinisikan sebagai kerentanan individu untuk mengalami diare akut yang dapat mengganggu kesehatan.
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia):
Luaran yang diharapkan dari intervensi keperawatan adalah Pemulihan Diare Akut, di mana pasien dapat menunjukkan tanda-tanda perbaikan dalam kondisi diare akut, seperti frekuensi buang air besar yang menurun, konsistensi tinja yang semakin normal, dan tidak ada tanda-tanda dehidrasi.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia):
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan meliputi:
1. Manajemen Diare Akut: Memberikan edukasi kepada mahasiswa tentang penyebab diare akut, pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, serta cara penanganan diare akut yang tepat.
2. Monitoring Tanda Vital: Memantau tanda-tanda vital mahasiswa, seperti suhu tubuh, denyut nadi, dan laju napas, untuk mendeteksi komplikasi yang mungkin terjadi.
3. Edukasi Kesehatan: Memberikan edukasi kepada mahasiswa tentang pentingnya menjaga pola makan yang sehat, menghindari jajan sembarangan, dan meningkatkan kebersihan diri.
Dengan menerapkan standar SDKI, SLKI, dan SIKI yang sesuai, diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam mengatasi masalah diare akut dan mencegah terjadinya komplikasi lebih lanjut. -
Article No. 14344 | 17 Mar 2025
Klinis : tapi sesuaikan dengan data ini 19 responden (22%) tidak pernah berolahraga dan 27 responden (39%) olahraga <1x/minggu 26 responden (30%) adalah konsumsi sayur <1 kali/minggu, 52 responden (60%) adalah 3 kali/minggu 30 responden (35%) merokok di luar dan di dalam rumah, 14 responden (16%) merokok di dalam rumah, 15 responden (17%) merokok di luar rumah 38 responden (44%) adalah tidak memiliki asuransi kesehatan Berdasarkan hasil kuisioner didapatkan bahwa, 2 responden (2%) adalah Asuransi Swasta, 40 responden (46%) adalah BPJS, 7 responden (8%) adalah KIS, dan 38 responden (44%) adalah tidak memiliki asuransi kesehatan Berdasarkan laporan puskesmas dan pskesdes didapatkan bahwa sebanyak 15% dari 87 warga Langlang mengalami hipertensi. Berdasarkan kuesioner didapatkan 12 responden (14%) adalah hipertensi Berdasarkan hasil wawancara dengan kader kesehatan RW 4, di wilayah tersebut biasanya dilakukan senam jantung sehat 2 kali dalam seminggu dengan peserta ibu-ibu dengan penyakit hipertensi atau penyakit lainnya yang berisiko terkena penyakit jantung. Program ini biasanya dilaksanakan setiap hari Rabu dan Minggu. Namun, sejak pandemic program ini tidak dilanjutkan. Berdasarkan hasil kuisioner didapatkan bahwa, 72 responden (83%) adalah 1- 3 kali, 13 responden (15%) adalah 4-6 kali dan 2 responden (2%) adalah Tidak pernah menguras penampungan air dalam sebulan. Berdasarkan hasil kuisioner didapatkan bahwa, 1 responden (1%) adalah tidak memiliki jamban dan 86 responden (99%) adalah memiliki jamban. Menurut hasil survey, jenis transportasi yang dimiliki masyarakat yaitu sepeda motor, mobil, atau sepeda kayuh. Sebanyak 75 responden memiliki motor, 2 memiliki sepeda kayuh, 1 responden memiliki mobil, 9 responden tidak memiliki kendaraan transportasi (1 responden memilih untuk naik angkutan umum). Hasil wawancara didapatkan bahwa biasanya menyampaikan berita atau undangan melalui WA, mulut ke mulut, atau secara langsung. Terdapat ToA di masjid yang bisa digunakan warga untuk memberikan pengumuman. Menurut hasil survey, sebanyak 50 responden menggunakan radio/TV, sebanyak 47 responden mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan, sebanyak 35 responden mendapatkan informasi dari internet, 1 responden mendapatkan informasi dari koran, dan 8 responden memilih jawaban lainnya Menurut hasil survey, sebanyak 36 responden tidak pernah melakukan rekreasi, 44 responden jarang berekreasi, dan 7 responden rutin melakukan rekreasi. Menurut hasil survey, sebanyak 24 responden berekreasi di taman, sebanyak 7 responden memilih ke wisata sumber air, 28 responden memilih pergi ke rumah saudaranya, dan 28 responden memilih berdiam diri di rumah untuk menonton TV atau bermain media sosial. Menurut hasil survey, dalam 1 bulan sebanyak 37 responden tidak pernah melakukan rekreasi dan 50 responden memilih 1-3 kali pergi rekreasi dalam 1 bulan. Dari 60 responden, mayoritas berpendapat bahwa hipertensi tidak bisa disembuhkan, hanya dapat dikontrol dengan rutin minum obat dan menjaga pola hidup. Sebanyak 23 responden ragu karena tekanan darah tetap tinggi meski rutin minum obat, sementara 4 responden meyakini hipertensi tidak dapat disembuhkan karena merupakan takdir Allah. Berdasarkan hasil survey mengenai penyakit hipertensi, didapatkan bahwa sebanyak 4 responden memiliki tingkat pengetahuan rendah, sebanyak 44 responden memiliki tingkat pengetahuan cukup, dan sebanyak 39 responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. Sehingga didapatkan hasil mean (rata-rata) 6,41 dengan hasil interpretasi responden memiliki tingkat pengetahuan tinggi
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan dan penjelasan singkat mengacu pada standar SDKI - SLKI - SIKI dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
1. Diagnosa Keperawatan: Gaya Hidup Tidak Sehat
Definisi: Pola perilaku, kebiasaan, dan pilihan yang dapat berdampak negatif pada kesehatan individu.
Data Pendukung:
- Tidak pernah berolahraga (22%) dan olahraga <1x/minggu (39%)
- Konsumsi sayur <1 kali/minggu (30%) dan 3 kali/minggu (60%)
- Merokok di luar dan di dalam rumah (35%), di dalam rumah (16%), di luar rumah (17%)
2. Diagnosa Keperawatan: Ketidakpatuhan Pengobatan
Definisi: Perilaku individu yang tidak sesuai dengan rencana pengobatan yang disepakati dengan penyedia layanan kesehatan.
Data Pendukung:
- 14% responden mengalami hipertensi, namun program senam jantung sehat tidak dilanjutkan selama pandemi
3. Diagnosa Keperawatan: Kurang Pengetahuan
Definisi: Kurangnya informasi kognitif yang terkait dengan kondisi/masalah kesehatan, perawatan kesehatan, atau sumber daya kesehatan.
Data Pendukung:
- Masih terdapat responden dengan tingkat pengetahuan rendah (4%) dan cukup (44%) tentang hipertensi
- Sebagian responden ragu bahwa hipertensi dapat disembuhkan meskipun rutin minum obat
4. Diagnosa Keperawatan: Risiko Infeksi
Definisi: Rentan terhadap invasi dan pertumbuhan organisme patogen yang dapat berpotensi membahayakan kesehatan.
Data Pendukung:
- Terdapat 1% responden yang tidak memiliki jamban
- 83% responden menguras penampungan air 1-3 kali dalam sebulan
5. Diagnosa Keperawatan: Kesejahteraan Psikologis Terganggu
Definisi: Gangguan dalam kemampuan individu untuk menikmati kehidupan, mencapai potensi diri, dan berfungsi dengan baik secara emosional.
Data Pendukung:
- 83% responden jarang atau tidak pernah melakukan rekreasi/liburan
Penjelasan singkat SDKI - SLKI - SIKI:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia) adalah kumpulan diagnosis keperawatan yang disusun berdasarkan karakteristik definisi, faktor yang berhubungan, dan gejala/tanda.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia) adalah kumpulan hasil yang diharapkan dari asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) adalah kumpulan tindakan keperawatan yang dilakukan untuk mencapai luaran keperawatan yang telah ditetapkan. -
Article No. 14345 | 17 Mar 2025
Klinis : tapi sesuaikan dengan data ini 19 responden (22%) tidak pernah berolahraga dan 27 responden (39%) olahraga <1x/minggu 26 responden (30%) adalah konsumsi sayur <1 kali/minggu, 52 responden (60%) adalah 3 kali/minggu 30 responden (35%) merokok di luar dan di dalam rumah, 14 responden (16%) merokok di dalam rumah, 15 responden (17%) merokok di luar rumah 38 responden (44%) adalah tidak memiliki asuransi kesehatan Berdasarkan hasil kuisioner didapatkan bahwa, 2 responden (2%) adalah Asuransi Swasta, 40 responden (46%) adalah BPJS, 7 responden (8%) adalah KIS, dan 38 responden (44%) adalah tidak memiliki asuransi kesehatan Berdasarkan laporan puskesmas dan pskesdes didapatkan bahwa sebanyak 15% dari 87 warga Langlang mengalami hipertensi. Berdasarkan kuesioner didapatkan 12 responden (14%) adalah hipertensi Berdasarkan hasil wawancara dengan kader kesehatan RW 4, di wilayah tersebut biasanya dilakukan senam jantung sehat 2 kali dalam seminggu dengan peserta ibu-ibu dengan penyakit hipertensi atau penyakit lainnya yang berisiko terkena penyakit jantung. Program ini biasanya dilaksanakan setiap hari Rabu dan Minggu. Namun, sejak pandemic program ini tidak dilanjutkan. Berdasarkan hasil kuisioner didapatkan bahwa, 72 responden (83%) adalah 1- 3 kali, 13 responden (15%) adalah 4-6 kali dan 2 responden (2%) adalah Tidak pernah menguras penampungan air dalam sebulan. Berdasarkan hasil kuisioner didapatkan bahwa, 1 responden (1%) adalah tidak memiliki jamban dan 86 responden (99%) adalah memiliki jamban. Menurut hasil survey, jenis transportasi yang dimiliki masyarakat yaitu sepeda motor, mobil, atau sepeda kayuh. Sebanyak 75 responden memiliki motor, 2 memiliki sepeda kayuh, 1 responden memiliki mobil, 9 responden tidak memiliki kendaraan transportasi (1 responden memilih untuk naik angkutan umum). Hasil wawancara didapatkan bahwa biasanya menyampaikan berita atau undangan melalui WA, mulut ke mulut, atau secara langsung. Terdapat ToA di masjid yang bisa digunakan warga untuk memberikan pengumuman. Menurut hasil survey, sebanyak 50 responden menggunakan radio/TV, sebanyak 47 responden mendapatkan informasi dari tenaga kesehatan, sebanyak 35 responden mendapatkan informasi dari internet, 1 responden mendapatkan informasi dari koran, dan 8 responden memilih jawaban lainnya Menurut hasil survey, sebanyak 36 responden tidak pernah melakukan rekreasi, 44 responden jarang berekreasi, dan 7 responden rutin melakukan rekreasi. Menurut hasil survey, sebanyak 24 responden berekreasi di taman, sebanyak 7 responden memilih ke wisata sumber air, 28 responden memilih pergi ke rumah saudaranya, dan 28 responden memilih berdiam diri di rumah untuk menonton TV atau bermain media sosial. Menurut hasil survey, dalam 1 bulan sebanyak 37 responden tidak pernah melakukan rekreasi dan 50 responden memilih 1-3 kali pergi rekreasi dalam 1 bulan. Dari 60 responden, mayoritas berpendapat bahwa hipertensi tidak bisa disembuhkan, hanya dapat dikontrol dengan rutin minum obat dan menjaga pola hidup. Sebanyak 23 responden ragu karena tekanan darah tetap tinggi meski rutin minum obat, sementara 4 responden meyakini hipertensi tidak dapat disembuhkan karena merupakan takdir Allah. Berdasarkan hasil survey mengenai penyakit hipertensi, didapatkan bahwa sebanyak 4 responden memiliki tingkat pengetahuan rendah, sebanyak 44 responden memiliki tingkat pengetahuan cukup, dan sebanyak 39 responden memiliki tingkat pengetahuan yang tinggi. Sehingga didapatkan hasil mean (rata-rata) 6,41 dengan hasil interpretasi responden memiliki tingkat pengetahuan tinggi
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI, luaran/output yang diharapkan setelah asuhan keperawatan (SLKI), dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan luaran (SIKI):
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Gaya Hidup Sedenter berhubungan dengan kurangnya aktivitas fisik dan olahraga
2. Ketidakpatuhan Minum Obat berhubungan dengan persepsi bahwa hipertensi tidak dapat disembuhkan
3. Defisit Pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang hipertensi
4. Risiko Infeksi berhubungan dengan kondisi sanitasi lingkungan yang kurang baik
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Gaya Hidup Sehat: Aktivitas Fisik
- Indikator: Frekuensi aktivitas fisik, Durasi aktivitas fisik, Jenis aktivitas fisik
- Target: Pasien dapat meningkatkan aktivitas fisik dan olahraga secara teratur
2. Kepatuhan Minum Obat
- Indikator: Ketepatan waktu minum obat, Kepatuhan minum obat sesuai aturan
- Target: Pasien patuh dalam minum obat-obatan untuk mengontrol tekanan darah
3. Pengetahuan: Penyakit Kronis
- Indikator: Pengetahuan tentang penyakit, Pengetahuan tentang pengelolaan penyakit
- Target: Pasien memahami dengan baik tentang penyakit hipertensi dan cara pengelolaannya
4. Kontrol Infeksi
- Indikator: Kebersihan lingkungan, Kepemilikan fasilitas sanitasi
- Target: Lingkungan rumah dan sanitasi terjaga dengan baik untuk mencegah risiko infeksi
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Gaya Hidup Sehat: Aktivitas Fisik
- Identifikasi faktor-faktor yang menghambat aktivitas fisik dan olahraga
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan untuk menyusun rencana aktivitas fisik yang sesuai
- Motivasi pasien untuk menjalankan program aktivitas fisik secara teratur
- Evaluasi kemajuan pasien dalam meningkatkan aktivitas fisik dan olahraga
2. Kepatuhan Minum Obat
- Asesmen pemahaman pasien tentang penyakit hipertensi dan pentingnya minum obat
- Edukasi tentang penyakit hipertensi, manfaat minum obat, dan risiko jika tidak patuh
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan untuk menyusun regimen obat yang sesuai
- Monitoring kepatuhan pasien dalam minum obat sesuai aturan
3. Peningkatan Pengetahuan: Penyakit Kronis
- Asesmen tingkat pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi
- Edukasi komprehensif tentang patofisiologi, faktor risiko, komplikasi, dan pengelolaan hipertensi
- Fasilitasi diskusi dan tanya jawab untuk meningkatkan pemahaman pasien
- Evaluasi peningkatan pengetahuan pasien secara berkala
4. Pencegahan Infeksi
- Asesmen kondisi sanitasi dan kebersihan lingkungan rumah
- Edukasi tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan penggunaan jamban yang benar
- Kolaborasi dengan pihak terkait untuk memperbaiki kondisi sanitasi yang kurang baik
- Monitoring dan evaluasi kondisi sanitasi dan kebersihan lingkungan secara berkala
Penjelasan rinci dan terperinci di atas diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif tentang diagnosa keperawatan, luaran/output, dan intervensi keperawatan yang diperlukan untuk menangani masalah kesehatan di wilayah tersebut. -
Article No. 14346 | 17 Mar 2025
Klinis : Ny. B masuk rumah sakit dengan keluhan merasakan nyeri pinggang sejak 1 hari SMRS. Nyeri pinggang hilang timbul, namun tidak kunjung membaik. Selain itu pasien mengatakan BAK nyeri, nyeri yang dirasakan seperti melilit. Pasien memiliki kebiasaan minum-minuman bersoda dan jarang meminum air putih serta tidak diimbangi dengan kegiatan olah raga rutin. Pengkajian pre operasi: Pasien mengeluh nyeri pinggang kiri, kolik dan disertai hematuria, nyeri dirasakan menjalar hingga ke bagian depan. Pasien juga mengatakan BAK sering tidak tuntas, anyang-anyang, BAK nyeri. Pasien direncanakan untuk tindakan PCNL yang akan dijadwalkan 2 hari mendatang. Pasien sedikit cemas karena akan dilakukan operasi. Ini merupakan operasi yang pertama pasien. Pasien mengatakan mual muntah (+), konjungtiva tidak anemis sklera tidak ikterik. Pasien masih mampu melakukan aktivitas seperti ke kamar mandi meskipun kadang harus menahan nyeri pinggang. Pengkajian post operasi hari pertama pasien mengeluh nyeri hilang timbul, nyeri pinggang kiri, bertambah saat digerakkan, rasa seperti di tusuk-tusuk, skala 4-5 selama 5-10 menit. Terdapat luka post operasi di area PCNL di pinggang kiri yang tertutup verban. Pasien merupakan ibu rumah tangga dengan 2 orang anak. Ketika sakit peran sebagai ibu sedikit terhambat, namun keluarga memberi support penuh untuk kesembuhan klien. Pasien kooperatif saat perawat dan dokter melakukan perawatan dan mendukung tindakan medis dan keperawatan untuk kesembuhan. Hasil pemeriksaan TTV: TD 140/70 mmHg, N 72 x/menit nadi teraba kuat dan teratur, RR 18 x/menit, irama nafas teratur, vesikuler ki =ka. Pemeriksaan Penunjang Pre-Op: Hasil urinalisa (21/6/17): Albumin: +2, kristal kalsium oksalat +. Hasil CT Scan abdomen hidronefrosis grade IV kiri dan hidroureter proximal sampai distal e.c. batu ureter distal ukuran ± 1,26 x 1,79 x 4,21 Hasil laboratotium → Hb = 10 gr/dl, Ht 30%.Data Subjektif: a. Keluhan Nyeri: • Nyeri pinggang sejak 1 hari SMRS. • Nyeri pinggang hilang timbul, tidak kunjung membaik. • Nyeri dirasakan seperti melilit. • Nyeri menjalar hingga ke bagian depan. • Nyeri pinggang kiri, kolik, dan bertambah saat digerakkan. • Rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk, skala 4-5 selama 5-10 menit. b. Gejala Lain: • BAK nyeri, sering tidak tuntas, dan anyang-anyangan. • Mual muntah (+). • Pasien cemas karena akan dilakukan operasi (ini merupakan operasi pertama pasien). c. Kebiasaan: • Kebiasaan minum minuman bersoda dan jarang meminum air putih. • Tidak diimbangi dengan kegiatan olahraga rutin. d. Peran dalam Keluarga: • Peran sebagai ibu sedikit terhambat karena sakit, namun keluarga memberi dukungan penuh. Data Objektif: a. Pemeriksaan Fisik: • TTV: o TD: 140/70 mmHg o Nadi: 72 x/menit, teraba kuat dan teratur. o RR: 18 x/menit, irama nafas teratur, vesikuler. • Konjungtiva tidak anemia, sklera tidak ikterik. • Luka post operasi di area PCNL di pinggang kiri yang tertutup verban. b. Pemeriksaan Penunjang Pre-Operasi: • Hasil urinalisa: o Albumin: +2 o Kristal kalsium oksalat: + • Hasil CT Scan abdomen: o Hidronefrosis grade IV kiri dan hidroureter proximal sampai distal e.c. batu ureter distal ukuran ± 1,26 x 1,79 x 4,21. • Hasil laboratorium: o Hb: 10 gr/dl o Ht: 30%. tentukan diagnosa aktual keperawatan dari kasus diatas berdasarkan masalah b.d penyebab d.d tanda/ gejala
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data yang diberikan, diagnosa keperawatan aktual yang sesuai untuk Ny. B adalah:
1. Nyeri akut b.d batu ginjal d.d nyeri pinggang, nyeri menyebar ke bagian depan, nyeri saat bergerak, skala nyeri 4-5.
Penjelasan:
SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia): Nyeri akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah kerusakan jaringan semacam itu (International Association for the Study of Pain, 1994).
SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Pasien akan melaporkan berkurangnya nyeri, menunjukkan tanda-tanda vital dalam rentang normal, dan mampu beradaptasi dengan nyeri.
SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi yang dapat dilakukan adalah manajemen nyeri, terapi relaksasi, pemberian analgetik, dan pendidikan kesehatan.
Berdasarkan data subjektif dan objektif yang diperoleh, Ny. B mengalami nyeri akut yang disebabkan oleh batu ginjal. Gejala yang dialami Ny. B adalah nyeri pinggang yang menyebar ke bagian depan, nyeri saat bergerak, dan skala nyeri 4-5. Hal ini sesuai dengan definisi dan karakteristik dari diagnosa keperawatan Nyeri akut. -
Article No. 14347 | 17 Mar 2025
Klinis : Ny. B masuk rumah sakit dengan keluhan merasakan nyeri pinggang sejak 1 hari SMRS. Nyeri pinggang hilang timbul, namun tidak kunjung membaik. Selain itu pasien mengatakan BAK nyeri, nyeri yang dirasakan seperti melilit. Pasien memiliki kebiasaan minum-minuman bersoda dan jarang meminum air putih serta tidak diimbangi dengan kegiatan olah raga rutin. Pengkajian pre operasi: Pasien mengeluh nyeri pinggang kiri, kolik dan disertai hematuria, nyeri dirasakan menjalar hingga ke bagian depan. Pasien juga mengatakan BAK sering tidak tuntas, anyang-anyang, BAK nyeri. Pasien direncanakan untuk tindakan PCNL yang akan dijadwalkan 2 hari mendatang. Pasien sedikit cemas karena akan dilakukan operasi. Ini merupakan operasi yang pertama pasien. Pasien mengatakan mual muntah (+), konjungtiva tidak anemis sklera tidak ikterik. Pasien masih mampu melakukan aktivitas seperti ke kamar mandi meskipun kadang harus menahan nyeri pinggang. Pengkajian post operasi hari pertama pasien mengeluh nyeri hilang timbul, nyeri pinggang kiri, bertambah saat digerakkan, rasa seperti di tusuk-tusuk, skala 4-5 selama 5-10 menit. Terdapat luka post operasi di area PCNL di pinggang kiri yang tertutup verban. Pasien merupakan ibu rumah tangga dengan 2 orang anak. Ketika sakit peran sebagai ibu sedikit terhambat, namun keluarga memberi support penuh untuk kesembuhan klien. Pasien kooperatif saat perawat dan dokter melakukan perawatan dan mendukung tindakan medis dan keperawatan untuk kesembuhan. Hasil pemeriksaan TTV: TD 140/70 mmHg, N 72 x/menit nadi teraba kuat dan teratur, RR 18 x/menit, irama nafas teratur, vesikuler ki =ka. Pemeriksaan Penunjang Pre-Op: Hasil urinalisa (21/6/17): Albumin: +2, kristal kalsium oksalat +. Hasil CT Scan abdomen hidronefrosis grade IV kiri dan hidroureter proximal sampai distal e.c. batu ureter distal ukuran ± 1,26 x 1,79 x 4,21 Hasil laboratotium → Hb = 10 gr/dl, Ht 30%.Data Subjektif: a. Keluhan Nyeri: • Nyeri pinggang sejak 1 hari SMRS. • Nyeri pinggang hilang timbul, tidak kunjung membaik. • Nyeri dirasakan seperti melilit. • Nyeri menjalar hingga ke bagian depan. • Nyeri pinggang kiri, kolik, dan bertambah saat digerakkan. • Rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk, skala 4-5 selama 5-10 menit. b. Gejala Lain: • BAK nyeri, sering tidak tuntas, dan anyang-anyangan. • Mual muntah (+). • Pasien cemas karena akan dilakukan operasi (ini merupakan operasi pertama pasien). c. Kebiasaan: • Kebiasaan minum minuman bersoda dan jarang meminum air putih. • Tidak diimbangi dengan kegiatan olahraga rutin. d. Peran dalam Keluarga: • Peran sebagai ibu sedikit terhambat karena sakit, namun keluarga memberi dukungan penuh. Data Objektif: a. Pemeriksaan Fisik: • TTV: o TD: 140/70 mmHg o Nadi: 72 x/menit, teraba kuat dan teratur. o RR: 18 x/menit, irama nafas teratur, vesikuler. • Konjungtiva tidak anemia, sklera tidak ikterik. • Luka post operasi di area PCNL di pinggang kiri yang tertutup verban. b. Pemeriksaan Penunjang Pre-Operasi: • Hasil urinalisa: o Albumin: +2 o Kristal kalsium oksalat: + • Hasil CT Scan abdomen: o Hidronefrosis grade IV kiri dan hidroureter proximal sampai distal e.c. batu ureter distal ukuran ± 1,26 x 1,79 x 4,21. • Hasil laboratorium: o Hb: 10 gr/dl o Ht: 30%. tentukan diagnosa aktual keperawatan dari kasus diatas berdasarkan masalah b.d penyebab d.d tanda/ gejala
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data yang diberikan, berikut adalah diagnosa keperawatan SDKI, Luaran/Output SLKI, dan Intervensi Keperawatan SIKI yang sesuai:
Diagnosa Keperawatan SDKI:
1. Nyeri Akut b.d. batu ginjal dan saluran kemih dan prosedur pembedahan (PCNL) d.d. laporan pasien tentang nyeri pinggang yang menjalar hingga ke bagian depan, nyeri seperti ditusuk-tusuk, skala 4-5 selama 5-10 menit.
2. Cemas b.d. prosedur pembedahan (PCNL) yang pertama kali d.d. laporan pasien merasa cemas karena akan menjalani operasi pertama kalinya.
3. Gangguan Pola Eliminasi Urin b.d. obstruksi saluran kemih d.d. keluhan BAK nyeri, sering tidak tuntas, dan anyang-anyangan.
Luaran/Output SLKI:
1. Nyeri Akut:
- Tujuan: Pasien akan melaporkan penurunan nyeri hingga skala 2-3 dalam waktu 2-3 hari setelah intervensi keperawatan.
- Kriteria Hasil: Pasien dapat mengenali faktor yang mempengaruhi nyeri, melaporkan nyeri berkurang, dan menunjukkan perilaku yang mengindikasikan penurunan nyeri.
2. Cemas:
- Tujuan: Pasien akan melaporkan penurunan tingkat kecemasan dalam waktu 2-3 hari setelah intervensi keperawatan.
- Kriteria Hasil: Pasien dapat mengidentifikasi strategi koping yang efektif, melaporkan penurunan gejala kecemasan, dan menunjukkan perilaku yang mengindikasikan penurunan kecemasan.
3. Gangguan Pola Eliminasi Urin:
- Tujuan: Pasien akan melaporkan perbaikan dalam pola eliminasi urin dalam waktu 2-3 hari setelah intervensi keperawatan.
- Kriteria Hasil: Pasien dapat melaporkan frekuensi dan karakteristik urin yang normal, serta menunjukkan perilaku yang mengindikasikan perbaikan pola eliminasi urin.
Intervensi Keperawatan SIKI:
1. Nyeri Akut:
- Manajemen Nyeri
- Terapi Analgesik
- Terapi Farmakologis
- Relaksasi
- Distraksi
2. Cemas:
- Manajemen Kecemasan
- Terapi Suportif
- Terapi Kognitif
- Terapi Relaksasi
- Konseling
3. Gangguan Pola Eliminasi Urin:
- Manajemen Eliminasi
- Pengaturan Intake dan Output
- Pemberian Cairan dan Elektrolit
- Terapi Farmakologis
- Perawatan Saluran Kemih
Setiap intervensi keperawatan harus dilaksanakan dengan mempertimbangkan kondisi pasien, prinsip-prinsip keperawatan, dan kolaborasi dengan tim kesehatan lainnya untuk mencapai hasil yang optimal bagi pasien. -
Article No. 14348 | 17 Mar 2025
Klinis : Ny. B masuk rumah sakit dengan keluhan merasakan nyeri pinggang sejak 1 hari SMRS. Nyeri pinggang hilang timbul, namun tidak kunjung membaik. Selain itu pasien mengatakan BAK nyeri, nyeri yang dirasakan seperti melilit. Pasien memiliki kebiasaan minum-minuman bersoda dan jarang meminum air putih serta tidak diimbangi dengan kegiatan olah raga rutin. Pengkajian pre operasi: Pasien mengeluh nyeri pinggang kiri, kolik dan disertai hematuria, nyeri dirasakan menjalar hingga ke bagian depan. Pasien juga mengatakan BAK sering tidak tuntas, anyang-anyang, BAK nyeri. Pasien direncanakan untuk tindakan PCNL yang akan dijadwalkan 2 hari mendatang. Pasien sedikit cemas karena akan dilakukan operasi. Ini merupakan operasi yang pertama pasien. Pasien mengatakan mual muntah (+), konjungtiva tidak anemis sklera tidak ikterik. Pasien masih mampu melakukan aktivitas seperti ke kamar mandi meskipun kadang harus menahan nyeri pinggang. Pengkajian post operasi hari pertama pasien mengeluh nyeri hilang timbul, nyeri pinggang kiri, bertambah saat digerakkan, rasa seperti di tusuk-tusuk, skala 4-5 selama 5-10 menit. Terdapat luka post operasi di area PCNL di pinggang kiri yang tertutup verban. Pasien merupakan ibu rumah tangga dengan 2 orang anak. Ketika sakit peran sebagai ibu sedikit terhambat, namun keluarga memberi support penuh untuk kesembuhan klien. Pasien kooperatif saat perawat dan dokter melakukan perawatan dan mendukung tindakan medis dan keperawatan untuk kesembuhan. Hasil pemeriksaan TTV: TD 140/70 mmHg, N 72 x/menit nadi teraba kuat dan teratur, RR 18 x/menit, irama nafas teratur, vesikuler ki =ka. Pemeriksaan Penunjang Pre-Op: Hasil urinalisa (21/6/17): Albumin: +2, kristal kalsium oksalat +. Hasil CT Scan abdomen hidronefrosis grade IV kiri dan hidroureter proximal sampai distal e.c. batu ureter distal ukuran ± 1,26 x 1,79 x 4,21 Hasil laboratotium → Hb = 10 gr/dl, Ht 30%.Data Subjektif: a. Keluhan Nyeri: • Nyeri pinggang sejak 1 hari SMRS. • Nyeri pinggang hilang timbul, tidak kunjung membaik. • Nyeri dirasakan seperti melilit. • Nyeri menjalar hingga ke bagian depan. • Nyeri pinggang kiri, kolik, dan bertambah saat digerakkan. • Rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk, skala 4-5 selama 5-10 menit. b. Gejala Lain: • BAK nyeri, sering tidak tuntas, dan anyang-anyangan. • Mual muntah (+). • Pasien cemas karena akan dilakukan operasi (ini merupakan operasi pertama pasien). c. Kebiasaan: • Kebiasaan minum minuman bersoda dan jarang meminum air putih. • Tidak diimbangi dengan kegiatan olahraga rutin. d. Peran dalam Keluarga: • Peran sebagai ibu sedikit terhambat karena sakit, namun keluarga memberi dukungan penuh. Data Objektif: a. Pemeriksaan Fisik: • TTV: o TD: 140/70 mmHg o Nadi: 72 x/menit, teraba kuat dan teratur. o RR: 18 x/menit, irama nafas teratur, vesikuler. • Konjungtiva tidak anemia, sklera tidak ikterik. • Luka post operasi di area PCNL di pinggang kiri yang tertutup verban. b. Pemeriksaan Penunjang Pre-Operasi: • Hasil urinalisa: o Albumin: +2 o Kristal kalsium oksalat: + • Hasil CT Scan abdomen: o Hidronefrosis grade IV kiri dan hidroureter proximal sampai distal e.c. batu ureter distal ukuran ± 1,26 x 1,79 x 4,21. • Hasil laboratorium: o Hb: 10 gr/dl o Ht: 30%. tentukan diagnosa aktual keperawatan dari kasus diatas berdasarkan masalah b.d penyebab d.d tanda/ gejala
ICD-SDKI: SDKI (+)
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan data yang diberikan, Diagnosa Keperawatan SDKI yang sesuai untuk kondisi Ny. B adalah:
1. Nyeri Akut
- Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau dijelaskan dalam istilah seperti kerusakan.
- Penyebab: Batu ureter yang menyebabkan obstruksi perkemihan
- Tanda dan Gejala:
- Nyeri pinggang hilang timbul, tidak kunjung membaik
- Nyeri dirasakan seperti melilit
- Nyeri menjalar hingga ke bagian depan
- Nyeri pinggang kiri, kolik, dan bertambah saat digerakkan
- Rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk, skala 4-5 selama 5-10 menit
Luaran/Output yang diharapkan setelah Asuhan Keperawatan (SLKI):
1. Kontrol Nyeri
- Definisi: Kemampuan untuk mengontrol rasa nyeri.
- Indikator:
- Melaporkan nyeri yang dapat ditoleransi
- Mengenali dan menggunakan teknik penanganan nyeri
- Mendemonstrasikan teknik penanganan nyeri yang efektif
- Mengungkapkan kepuasan dengan manajemen nyeri
Intervensi Keperawatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan Luaran (SIKI):
1. Manajemen Nyeri
- Tujuan: Pasien dapat mengendalikan nyeri yang dialami.
- Aktivitas:
- Kaji intensitas, karakteristik, lokasi, dan durasi nyeri
- Bantu pasien mengidentifikasi faktor pencetus nyeri
- Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri, seperti relaksasi, distraksi, kompres hangat/dingin
- Kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain untuk pemberian analgesik yang sesuai
- Evaluasi efektivitas intervensi dalam mengurangi nyeri
2. Manajemen Kecemasan
- Tujuan: Pasien dapat mengurangi kecemasan yang dialami.
- Aktivitas:
- Kaji tingkat kecemasan pasien
- Berikan informasi yang akurat tentang prosedur operasi dan perawatan postoperatif
- Libatkan keluarga untuk memberikan dukungan
- Ajarkan teknik relaksasi dan manajemen stres
- Evaluasi efektivitas intervensi dalam mengurangi kecemasan
3. Peningkatan Nutrisi
- Tujuan: Pasien dapat memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat.
- Aktivitas:
- Kaji asupan dan pola makan pasien
- Berikan edukasi tentang pentingnya konsumsi air putih yang cukup dan membatasi minuman bersoda
- Kolaborasi dengan ahli gizi untuk perencanaan diet yang sesuai
- Pantau intake dan output cairan pasien
- Evaluasi perubahan status nutrisi pasien
Dengan penerapan intervensi keperawatan yang komprehensif, diharapkan dapat membantu Ny. B mencapai luaran keperawatan yang diharapkan, yaitu mampu mengendalikan nyeri, mengurangi kecemasan, dan memenuhi kebutuhan nutrisi yang adekuat. -
Article No. 14349 | 17 Mar 2025
Klinis : Ny. B masuk rumah sakit dengan keluhan merasakan nyeri pinggang sejak 1 hari SMRS. Nyeri pinggang hilang timbul, namun tidak kunjung membaik. Selain itu pasien mengatakan BAK nyeri, nyeri yang dirasakan seperti melilit. Pasien memiliki kebiasaan minum-minuman bersoda dan jarang meminum air putih serta tidak diimbangi dengan kegiatan olah raga rutin. Pengkajian pre operasi: Pasien mengeluh nyeri pinggang kiri, kolik dan disertai hematuria, nyeri dirasakan menjalar hingga ke bagian depan. Pasien juga mengatakan BAK sering tidak tuntas, anyang-anyang, BAK nyeri. Pasien direncanakan untuk tindakan PCNL yang akan dijadwalkan 2 hari mendatang. Pasien sedikit cemas karena akan dilakukan operasi. Ini merupakan operasi yang pertama pasien. Pasien mengatakan mual muntah (+), konjungtiva tidak anemis sklera tidak ikterik. Pasien masih mampu melakukan aktivitas seperti ke kamar mandi meskipun kadang harus menahan nyeri pinggang. Pengkajian post operasi hari pertama pasien mengeluh nyeri hilang timbul, nyeri pinggang kiri, bertambah saat digerakkan, rasa seperti di tusuk-tusuk, skala 4-5 selama 5-10 menit. Terdapat luka post operasi di area PCNL di pinggang kiri yang tertutup verban. Pasien merupakan ibu rumah tangga dengan 2 orang anak. Ketika sakit peran sebagai ibu sedikit terhambat, namun keluarga memberi support penuh untuk kesembuhan klien. Pasien kooperatif saat perawat dan dokter melakukan perawatan dan mendukung tindakan medis dan keperawatan untuk kesembuhan. Hasil pemeriksaan TTV: TD 140/70 mmHg, N 72 x/menit nadi teraba kuat dan teratur, RR 18 x/menit, irama nafas teratur, vesikuler ki =ka. Pemeriksaan Penunjang Pre-Op: Hasil urinalisa (21/6/17): Albumin: +2, kristal kalsium oksalat +. Hasil CT Scan abdomen hidronefrosis grade IV kiri dan hidroureter proximal sampai distal e.c. batu ureter distal ukuran ± 1,26 x 1,79 x 4,21 Hasil laboratotium → Hb = 10 gr/dl, Ht 30%.Data Subjektif: a. Keluhan Nyeri: • Nyeri pinggang sejak 1 hari SMRS. • Nyeri pinggang hilang timbul, tidak kunjung membaik. • Nyeri dirasakan seperti melilit. • Nyeri menjalar hingga ke bagian depan. • Nyeri pinggang kiri, kolik, dan bertambah saat digerakkan. • Rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk, skala 4-5 selama 5-10 menit. b. Gejala Lain: • BAK nyeri, sering tidak tuntas, dan anyang-anyangan. • Mual muntah (+). • Pasien cemas karena akan dilakukan operasi (ini merupakan operasi pertama pasien). c. Kebiasaan: • Kebiasaan minum minuman bersoda dan jarang meminum air putih. • Tidak diimbangi dengan kegiatan olahraga rutin. d. Peran dalam Keluarga: • Peran sebagai ibu sedikit terhambat karena sakit, namun keluarga memberi dukungan penuh. Data Objektif: a. Pemeriksaan Fisik: • TTV: o TD: 140/70 mmHg o Nadi: 72 x/menit, teraba kuat dan teratur. o RR: 18 x/menit, irama nafas teratur, vesikuler. • Konjungtiva tidak anemia, sklera tidak ikterik. • Luka post operasi di area PCNL di pinggang kiri yang tertutup verban. b. Pemeriksaan Penunjang Pre-Operasi: • Hasil urinalisa: o Albumin: +2 o Kristal kalsium oksalat: + • Hasil CT Scan abdomen: o Hidronefrosis grade IV kiri dan hidroureter proximal sampai distal e.c. batu ureter distal ukuran ± 1,26 x 1,79 x 4,21. • Hasil laboratorium: o Hb: 10 gr/dl o Ht: 30%. tentukan diagnosa aktual keperawatan dari kasus diatas berdasarkan masalah b.d penyebab d.d tanda/ gejala
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Baik, saya akan mencoba memberikan diagnosa keperawatan aktual berdasarkan kasus Ny. B yang Anda paparkan, dengan mengacu pada standar SDKI (Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia), SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia), dan SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia) yang ditetapkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI).
Diagnosa Keperawatan Aktual:
1. Nyeri Akut
Definisi: Pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial, atau dijelaskan dalam istilah seperti kerusakan tersebut.
Penyebab: Batu ureter distal yang menyebabkan obstruksi pada saluran kemih dan hidronefrosis.
Tanda dan Gejala:
- Nyeri pinggang hilang timbul, seperti melilit, menjalar hingga ke bagian depan, skala 4-5 (5-10 menit)
- Nyeri pinggang kiri, kolik, dan bertambah saat digerakkan
- Nyeri seperti ditusuk-tusuk
2. Gangguan Eliminasi Urin
Definisi: Perubahan pola BAK yang ditandai dengan adanya keluhan atau kesulitan dalam mengosongkan kandung kemih secara lengkap.
Penyebab: Batu ureter distal yang menyebabkan obstruksi pada saluran kemih.
Tanda dan Gejala:
- BAK nyeri, sering tidak tuntas, dan anyang-anyangan
- Hasil urinalisa: Albumin +2, kristal kalsium oksalat +
3. Cemas
Definisi: Kekhawatiran, kegelisahan, atau ketakutan yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya.
Penyebab: Akan menjalani operasi PCNL yang pertama kali.
Tanda dan Gejala:
- Pasien cemas karena akan menjalani operasi pertama kali
Melalui pemaparan kasus Ny. B, diagnosa keperawatan aktual yang dapat diidentifikasi adalah Nyeri Akut, Gangguan Eliminasi Urin, dan Cemas. Ketiga diagnosa ini dirumuskan berdasarkan data subjektif dan objektif yang disajikan, serta sesuai dengan standar SDKI, SLKI, dan SIKI yang ditetapkan oleh PPNI. -
Article No. 14350 | 17 Mar 2025
Klinis : Ny. B masuk rumah sakit dengan keluhan merasakan nyeri pinggang sejak 1 hari SMRS. Nyeri pinggang hilang timbul, namun tidak kunjung membaik. Selain itu pasien mengatakan BAK nyeri, nyeri yang dirasakan seperti melilit. Pasien memiliki kebiasaan minum-minuman bersoda dan jarang meminum air putih serta tidak diimbangi dengan kegiatan olah raga rutin. Pengkajian pre operasi: Pasien mengeluh nyeri pinggang kiri, kolik dan disertai hematuria, nyeri dirasakan menjalar hingga ke bagian depan. Pasien juga mengatakan BAK sering tidak tuntas, anyang-anyang, BAK nyeri. Pasien direncanakan untuk tindakan PCNL yang akan dijadwalkan 2 hari mendatang. Pasien sedikit cemas karena akan dilakukan operasi. Ini merupakan operasi yang pertama pasien. Pasien mengatakan mual muntah (+), konjungtiva tidak anemis sklera tidak ikterik. Pasien masih mampu melakukan aktivitas seperti ke kamar mandi meskipun kadang harus menahan nyeri pinggang. Pengkajian post operasi hari pertama pasien mengeluh nyeri hilang timbul, nyeri pinggang kiri, bertambah saat digerakkan, rasa seperti di tusuk-tusuk, skala 4-5 selama 5-10 menit. Terdapat luka post operasi di area PCNL di pinggang kiri yang tertutup verban. Pasien merupakan ibu rumah tangga dengan 2 orang anak. Ketika sakit peran sebagai ibu sedikit terhambat, namun keluarga memberi support penuh untuk kesembuhan klien. Pasien kooperatif saat perawat dan dokter melakukan perawatan dan mendukung tindakan medis dan keperawatan untuk kesembuhan. Hasil pemeriksaan TTV: TD 140/70 mmHg, N 72 x/menit nadi teraba kuat dan teratur, RR 18 x/menit, irama nafas teratur, vesikuler ki =ka. Pemeriksaan Penunjang Pre-Op: Hasil urinalisa (21/6/17): Albumin: +2, kristal kalsium oksalat +. Hasil CT Scan abdomen hidronefrosis grade IV kiri dan hidroureter proximal sampai distal e.c. batu ureter distal ukuran ± 1,26 x 1,79 x 4,21 Hasil laboratotium → Hb = 10 gr/dl, Ht 30%.Data Subjektif: a. Keluhan Nyeri: • Nyeri pinggang sejak 1 hari SMRS. • Nyeri pinggang hilang timbul, tidak kunjung membaik. • Nyeri dirasakan seperti melilit. • Nyeri menjalar hingga ke bagian depan. • Nyeri pinggang kiri, kolik, dan bertambah saat digerakkan. • Rasa nyeri seperti ditusuk-tusuk, skala 4-5 selama 5-10 menit. b. Gejala Lain: • BAK nyeri, sering tidak tuntas, dan anyang-anyangan. • Mual muntah (+). • Pasien cemas karena akan dilakukan operasi (ini merupakan operasi pertama pasien). c. Kebiasaan: • Kebiasaan minum minuman bersoda dan jarang meminum air putih. • Tidak diimbangi dengan kegiatan olahraga rutin. d. Peran dalam Keluarga: • Peran sebagai ibu sedikit terhambat karena sakit, namun keluarga memberi dukungan penuh. Data Objektif: a. Pemeriksaan Fisik: • TTV: o TD: 140/70 mmHg o Nadi: 72 x/menit, teraba kuat dan teratur. o RR: 18 x/menit, irama nafas teratur, vesikuler. • Konjungtiva tidak anemia, sklera tidak ikterik. • Luka post operasi di area PCNL di pinggang kiri yang tertutup verban. b. Pemeriksaan Penunjang Pre-Operasi: • Hasil urinalisa: o Albumin: +2 o Kristal kalsium oksalat: + • Hasil CT Scan abdomen: o Hidronefrosis grade IV kiri dan hidroureter proximal sampai distal e.c. batu ureter distal ukuran ± 1,26 x 1,79 x 4,21. • Hasil laboratorium: o Hb: 10 gr/dl o Ht: 30%. tentukan diagnosa aktual keperawatan dari kasus diatas berdasarkan masalah b.d penyebab d.d tanda/ gejala
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: Berdasarkan kasus Ny. B yang dipaparkan, berikut adalah diagnosa keperawatan aktual beserta penjelasan singkat menggunakan format SDKI - SLKI - SIKI yang dikeluarkan oleh Persatuan Perawat Nasional Indonesia:
Diagnosa Keperawatan Aktual:
1. Nyeri Akut b.d prosedur pembedahan (PCNL) d.d laporan pasien tentang nyeri pinggang kiri, kolik, nyeri menjalar ke depan, skala nyeri 4-5 selama 5-10 menit, serta temuan adanya luka post operasi.
Penjelasan:
- SDKI (Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia): Nyeri Akut adalah pengalaman sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan akibat kerusakan jaringan yang aktual atau potensial atau digambarkan dalam istilah kerusakan tersebut.
- SLKI (Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Kriteria hasil yang diharapkan meliputi pasien melaporkan nyeri berkurang, pasien dapat mengontrol nyeri, dan pasien mengatasi nyeri dengan coping yang efektif.
- SIKI (Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain manajemen nyeri, manajemen analgesik, dan terapi komplementer.
2. Kecemasan b.d perubahan status kesehatan d.d laporan pasien yang merasa cemas karena akan dilakukan operasi pertama kalinya.
Penjelasan:
- SDKI: Kecemasan adalah respon emosional dan psikologis individu terhadap sumber ancaman yang tidak jelas dan non spesifik.
- SLKI: Kriteria hasil yang diharapkan meliputi pasien menunjukkan penurunan kecemasan, pasien menggunakan teknik koping yang efektif, dan pasien mengatasi kecemasan.
- SIKI: Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan antara lain manajemen kecemasan, terapi suportif, dan pendidikan kesehatan.