Daftar Diagnosa Terbaru
-
Article No. 24118 | 17 Feb 2026
Klinis : Tidak ada denyut nadi dan tidak ada pernapasan Pada pukul 10:25 pagi, seorang pria berusia 48 tahun dengan riwayat hipertensi mengunjungi rumah sakit setempat dengan keluhan nyeri dada dan sesak napas yang dimulai 3 hari sebelumnya. Saat tiba di ruang gawat darurat, ia dalam kondisi hemodinamik tidak stabil (tekanan darah: 70/30 mmHg, denyut jantung: sulit diukur, laju pernapasan: 35 napas per menit). Pada pukul 10:33 pagi, pasien mengalami takikardia ventrikular berkelanjutan dan kehilangan kesadaran, E1V1M1, yang menyebabkan henti jantung dalam 10 detik. Ia tidak memiliki denyut nadi karotis atau femoral yang teraba, dan tidak ada pernapasan spontan. Selanjutnya, resusitasi dilakukan; fibrilasi ventrikular (VF) terdeteksi setelah 5 menit CPR. Resusitasi dilakukan dengan mematuhi secara ketat pedoman dukungan hidup kardiak lanjutan (ACLS) dari American Heart Association/American College of Cardiology hingga ECMO dapat dipasang, kemungkinan dilakukan CPR, defibrilasi, dan injeksi obat darurat. ECMO veno-veno-arterial (VA) dimulai 80 menit setelah dimulainya CPR, dan kembalinya sirkulasi spontan tercapai 10 menit kemudian.
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Henti Jantung
Kode SDKI: D.0016
Deskripsi Singkat: Berhentinya aktivitas jantung yang efektif.
Kode SLKI: L.03115
Deskripsi : Tercapainya sirkulasi spontan (Return of Spontaneous Circulation/ROSC).
Kode SIKI: I.01266
Deskripsi : Resusitasi jantung paru (RJP) dilakukan.
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI D.0016 - Henti Jantung): Henti jantung didefinisikan sebagai penghentian mendadak fungsi jantung yang efektif, yang ditandai dengan tidak adanya respons, tidak adanya napas (atau hanya megap-megap), dan tidak adanya denyut nadi. Pada kasus ini, kondisi pasien memenuhi kriteria definisi ini secara sempurna: kehilangan kesadaran (E1V1M1), tidak ada denyut nadi karotis/femoral, dan tidak ada pernapasan spontan. Henti jantung merupakan keadaan darurat medis absolut yang membutuhkan intervensi segera untuk mencegah kematian biologis. Penyebab mendasarnya pada kasus ini adalah gangguan irama jantung yang fatal (takikardia ventrikular yang berlanjut menjadi fibrilasi ventrikel) pada seorang pasien dengan kemungkinan sindrom koroner akut, yang diperberat oleh riwayat hipertensi. SDKI ini menjadi fokus utama perawat dalam mengarahkan semua tindakan keperawatan dan kolaborasi.
Luaran Keperawatan (SLKI L.03115 - Tercapainya Sirkulasi Spontan/ROSC): Luaran yang ditetapkan dan realistis dalam situasi henti jantung adalah kembalinya sirkulasi spontan (ROSC). ROSC didefinisikan sebagai kembalinya denyut nadi dan tekanan darah yang dapat diukur secara berkelanjutan tanpa perlu kompresi dada eksternal. Pada skenario ini, ROSC tercapai 90 menit setelah dimulainya kejadian (80 menit CPR + 10 menit setelah ECMO VA dipasang). Pencapaian luaran ini merupakan tujuan kritis dari serangkaian tindakan resusitasi. SLKI ini mengukur keberhasilan langsung dari intervensi yang dilakukan. Penting untuk dicatat bahwa meskipun ROSC tercapai, kondisi pasien masih sangat kritis dan membutuhkan penanganan pasca-resusitasi intensif untuk menstabilkan kondisi dan mencegah kerusakan organ lebih lanjut akibat hipoksia dan iskemia yang berkepanjangan.
Intervensi Keperawatan (SIKI I.01266 - Resusitasi Jantung Paru/RJP dilakukan): Intervensi ini merupakan tindakan inti dan mendesak untuk menangani henti jantung. RJP adalah serangkaian tindakan yang dilakukan untuk mengembalikan sirkulasi darah dan oksigenasi pada pasien yang mengalami henti jantung. Pada kasus ini, intervensi dilakukan secara komprehensif dan sesuai standar tinggi, meliputi: (1) Kompresi Dada: Memberikan pompa jantung eksternal untuk mempertahankan aliran darah minimal ke otak dan jantung. (2) Bantuan Pernapasan/ Ventilasi: Memastikan pertukaran oksigen dan karbon dioksida. (3) Defibrilasi: Menghentikan irama kacau (VF) dengan kejutan listrik untuk memungkinkan jantung mengembalikan irama normalnya, yang dalam kasus ini dilakukan sesuai protokol ACLS. (4) Pemberian Obat-Obatan: Seperti epinefrin/ adrenalin untuk meningkatkan tekanan perfusi koroner dan serebral, yang juga disebut sebagai bagian dari protokol ACLS. (5) Penanganan Lanjutan: Dalam skenario ini, RJP diperluas dengan tindakan kolaboratif canggih yaitu pemasangan ECMO VA. ECMO VA mengambil alih fungsi pompa jantung dan pertukaran gas paru-paru, memberikan dukungan sirkulasi dan oksigenasi mekanis yang memungkinkan jantung dan paru "beristirahat" sekaligus menjaga perfusi organ vital. Tindakan RJP yang berkepanjangan (80 menit) dengan kualitas tinggi merupakan faktor kunci yang menjaga viabilitas organ hingga ECMO dapat dipasang dan akhirnya mencapai ROSC. Intervensi ini menuntut kerja tim yang terkoordinasi, keterampilan teknis tinggi, dan penerapan pedoman evidence-based seperti ACLS.
Keterkaitan: Ketiga komponen ini membentuk siklus proses keperawatan yang jelas pada situasi gawat darurat. SDKI D.0016 (Henti Jantung) menegaskan masalah. SIKI I.01266 (RJP dilakukan) adalah tindakan utama yang diimplementasikan untuk mengatasi masalah tersebut. Kemudian, SLKI L.03115 (ROSC) menjadi indikator keberhasilan langsung dari implementasi intervensi tersebut. Pencatatan yang akurat terhadap waktu kejadian, durasi CPR, respons terhadap defibrilasi, dan waktu tercapainya ROSC merupakan dokumentasi kritis yang merefleksikan kualitas asuhan keperawatan dan kepatuhan terhadap standar.
-
Article No. 24087 | 16 Feb 2026
Klinis : Pasien mengatakan demam naik turun dan kedua kaki bengkak disertai BAK berbusa dan keruh. Mengeluh perut terasa begah, sesak hilang timbul, sesak bertambah saat perut terasa begah, Riwayat mengonsumsi alkohol dan obat keras sejak lama, SpO2 93%, hippalbumin
ICD-SDKI: ICD
Diagnosa:
Kode ICD-10:
Kondisi: Sindrom Nefrotik dengan Gagal Ginjal Kronik dan Malnutrisi, disertai Gagal Jantung Kongestif dan Ketergantungan Zona
Kode ICD-10: N04.9 (Sindrom Nefrotik, tidak ditentukan) & N18.9 (Penyakit ginjal kronik, tidak ditentukan) & E43 (Malnutrisi energi-protein berat tidak ditentukan) & I50.9 (Gagal jantung, tidak ditentukan) & F19.20 (Gangguan mental dan perilaku akibat penggunaan multipel obat dan penggunaan zat psikoaktif lainnya, sindrom ketergantungan, tidak ditentukan)
Deskripsi Singkat : Deskripsi klinis mengarah pada komplikasi ginjal dan sistemik berat akibat penyakit ginjal kronik yang diperburuk oleh faktor toksik (alkohol/obat keras) dan malnutrisi. Gejala utama seperti edema (kaki bengkak), proteinuria berat (BAK berbusa), hipoalbuminemia, dan sesak (kemungkinan akibat efusi pleura atau gagal jantung) sangat khas untuk Sindrom Nefrotik (N04.9). Kondisi ini telah berkembang menjadi Penyakit Ginjal Kronik stadium lanjut (N18.9). Perut begah dan sesak yang memburuk bersamaan mengindikasikan kemungkinan asites dan gagal jantung kongestif (I50.9) sebagai komplikasi. Status gizi buruk (E43) ditunjukkan oleh temuan hippalbumin (hipoalbuminemia). Riwayat penggunaan alkohol dan obat keras yang lama menunjukkan sindrom ketergantungan zat (F19.20) sebagai faktor penyebab atau komorbid signifikan. Kode-kode ini merepresentasikan spektrum penyakit sistemik yang saling terkait, dimulai dari kerusakan ginjal yang menyebabkan kebocoran protein masif, penurunan albumin darah, edema, dan beban volume yang berujung pada komplikasi kardiovaskular dan nutrisi.
***PERINGATAN: Informasi dan kode ini adalah SARAN untuk tujuan DIKLAT/SIMULASI dan BUKAN pengganti kodifikasi resmi oleh profesional medis.***
-
Article No. 24089 | 16 Feb 2026
Klinis : ketidakstabilan kadar glukosa darah
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI:
Kondisi: Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
Kode SDKI: 0007
Deskripsi Singkat: Risiko fluktuasi kadar glukosa darah dari rentang normal.
Kode SLKI: 1401
Deskripsi : Pengendalian Glukosa Darah
Kode SIKI: 4410
Deskripsi : Pemantauan Glukosa Darah
Penjelasan Lengkap SDKI, SLKI, dan SIKI:
Diagnosa Keperawatan (SDKI - Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia): Kode SDKI 0007 dengan label "Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah" didefinisikan sebagai suatu kondisi di mana individu berisiko atau sedang mengalami variasi kadar glukosa darah yang tidak terkendali, baik ke arah hiperglikemia (gula darah tinggi) maupun hipoglikemia (gula darah rendah), yang dapat mengancam kesehatan. Defisinya merujuk pada faktor-faktor yang menyebabkan kondisi ini, seperti pengetahuan yang kurang tentang manajemen diabetes, ketidakpatuhan terhadap terapi (diet, obat, aktivitas fisik), proses penyakit (misalnya infeksi, stres), atau ketidakmampuan dalam memantau tanda dan gejala fluktuasi glukosa. Diagnosa ini bersifat aktual atau risiko, dan menjadi fokus utama perawat untuk mencegah komplikasi akut seperti ketoasidosis diabetik, sindrom hiperglikemik hiperosmolar, atau syok hipoglikemik yang dapat berakibat fatal.
Luaran Keperawatan (SLKI - Standar Luaran Keperawatan Indonesia): Kode SLKI 1401 "Pengendalian Glukosa Darah" adalah luaran yang diharapkan dimana pasien mampu mencapai dan mempertahankan kadar glukosa darah dalam rentang target yang ditetapkan. Indikator luaran ini mencakup perilaku dan kondisi klinis, seperti: kadar glukosa darah puasa dan 2 jam postprandial dalam rentang normal/target, tidak adanya episode hipoglikemia atau hiperglikemia berat, pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi glukosa darah, serta kepatuhan terhadap rencana terapi. Tujuan akhir dari SLKI ini adalah stabilitas metabolik, pencegahan komplikasi, dan peningkatan kualitas hidup pasien. Pencapaian luaran ini dinilai secara bertahap, dari status yang memburuk, berat, sedang, ringan, hingga tercapai dengan baik.
Intervensi Keperawatan (SIKI - Standar Intervensi Keperawatan Indonesia): Kode SIKI 4410 "Pemantauan Glukosa Darah" merupakan intervensi inti untuk menangani diagnosa ketidakstabilan glukosa darah. Deskripsi intervensi ini mencakup serangkaian tindakan sistematis yang dilakukan perawat, antara lain: (1) Mengajarkan dan memfasilitasi pasien/keluarga untuk melakukan pemantauan glukosa darah mandiri dengan teknik yang benar, termasuk cara menggunakan glukometer, pencatatan hasil, dan penanganan alat. (2) Memantau dan mencatat tanda-tanda vital serta gejala-gejala hipoglikemia (lemas, berkeringat, gemetar, lapar, penurunan kesadaran) dan hiperglikemia (poliuria, polidipsi, polifagi, lemas, mual). (3) Melakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan glukosa darah sesuai indikasi dan protokol. (4) Menginterpretasikan hasil pemantauan glukosa darah dan melaporkan temuan yang abnormal kepada tim kesehatan. (5) Mengkorelasikan hasil glukosa darah dengan asupan makanan, aktivitas fisik, dan pengobatan yang diterima pasien. (6) Memberikan pendidikan kesehatan tentang penyesuaian pola makan, aktivitas, dan obat berdasarkan hasil pemantauan. (7) Memastikan ketersediaan dan kesiapan alat penanganan darurat hipoglikemia (seperti glucagon kit atau makanan sumber gula sederhana). Intervensi ini bersifat kolaboratif dan edukatif, bertujuan tidak hanya untuk memantau tetapi juga memberdayakan pasien menjadi mitra aktif dalam mengelola kondisinya, sehingga ketidakstabilan dapat dikendalikan dan luaran pengendalian glukosa darah (SLKI 1401) dapat tercapai.
-
Article No. 24090 | 16 Feb 2026
Klinis : kESIAPAN PERSALINAN
ICD-SDKI: SDKI
Diagnosa:
DIAGNOSE SDKI: